Naruto Belong's To Masashi Kishimoto

Impossible To Run Away From Me

Original Story By Hinata Kuchiki Heartfilia

Rate- M

This fanfic not for adolescent even children

"Love and Ex-Love"

Chapter 8


Penting untuk diingat: OOC, alur kacau, perlahanlah dalam membaca, bingung mendadak, serangan marah tak terkendali.


Apa kabar? Sehat semuakan. Saya harap kalian semua juga sehat, agar kita sama-sama menikmati fanfic ini, saya menerima kritik dan saran, pembaca menikmati akur ceritanya (mungkin).

Tidak terasa sudah satu bulan saya tidak update, pertama saya ingin mengucapkan maaf karena saya tidak bisa menepati janji update cepat kepada semuanya, saya baru menyelesaikan UAS.

Selama itu saya harus focus belajar agar IP tidak turun ke jurang, dan jika IP terjun ke jurang, saya bisa kena rasengan orangtua saya, meskipun pikiran bercabang ke fanfic ini juga.

Cukup dengan cuap-cuap saya….

Selamat menikmati…

Saya ingatkan kembali, perlahanlah membaca ff ini agar kalian tidak tersesat dan bertemu serigala buas…

Ini hanya perkenalan mereka, perang di mulai chapter depan


Namikaze Naruto Penthouse.

"Namikaze-san…..!"

"Namikaze-san…..!"

Suara halus dan lembut terdengar seperti simponi musik yang indah dan menenangkan.

"Naruto-kun….!"

"Naruto-kun….!"

Kembali, suara itu seakan menariknya dari kegelapan yang dalam.

"Aku membencimu...!"

"Aku harap kau menghilang Namikaze…..!"

"Hinataaa….!"

Lelaki itu tersentak dan membuka paksa kelopak matanya dan menampilkan iris biru laut yang menawan. Mengusap wajah nya kasar, lelaki itu menarik nafas dalam.

Tik… tik… tik…..

Dentingan jarum jam mengiringi setiap helaan nafas panjang lelaki itu.

Dengan langkah panjang dia menuju kamar mandinya, menyalakan shower dan memulai aktivitas rutin membersihkan diri.

Senandung kecil mengiringi kegiatan lelaki itu, ada suasana bahagia disekelilingnya, seakan menghiraukan mimpi buruk yang baru dialaminya.

Krieett….

Membuka closet pakaiannya, tangan berotot miliknya menelusuri jajaran kemeja mewah yang ditata rapi, pilihannya jatuh pada kemeja hitam dengan kerah putih, tidak lupa dengan jas double breasted hitam dan celana senada, dipadu dengan dasi biru. Dan berakhir dengan sepasang sepatu hitam mengkilat.

Meneliti kembali penampilannya di cermin persegi panjang berukuran besar. Lelaki itu merasa puas dengan penampilannya. Salahkan tubuh tinggi dan atletisnya yang membuat dia berkali lipat lebih maskulin serta elegan dengan stelan apa pun.

Tap… tap… tap…

Hentakan kaki bersama senandu ringan menggema di tempat parkir, menelusuri jalan, lelaki itu berhenti pada sebuah mobil hitam metalik dengan simbol seekor banteng.

.

Ada alasan khusus dibalik mengapa lelaki surai kuning dengan potongan pendek itu memulai paginya dengan senyum dan senandu ceria di sela-sela aktivitas paginya.

.

.

.

Flashback untuk alasan kebahagian Naruto.

"Apa kau yakin?" tanya Naruto memastikan.

"Hn….! Anggota ku berhasil memasuki sistem komando situs Hyuuga, dari informasi yang ku terima, akan ada penyelenggaraan besar untuk menggantikan posisi Hiashi-san. Dan kau tahu artinya, bukan?!" jelas Sasuke.

"Entah itu Neji atau Hinata yang akan menggantikannya, satu hal yang pasti bahwa Hinata turut hadir. Tetua klan Hyuuga sudah menentukan siapa yang akan menjadi tonggak klan itu." jelas Shikamaru.

Saat ini Naruto dan para sahabatnya mendiskusikan kepulangan Hinata. Mereka berkumpul di ruangan peribadi miliknya.

"Apa kau tahu Naruto? Aku rutin mengunjungi Amsterdam. Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda Hinata, Hyuuga benar-benar hebat." Ujar Sai kemudian.

"Hmm…! Terima kasih banyak, kalian benar-benar yang terbaik!" Naruto masih setia membaca berkas yang diberikan Sasuke.

"Apa rencana mu selanjutnya Naruto? Kau tidak akan melakukan hal burukkan?" tanya Gaara.

Naruto hanya tersenyum sebagai jawaban. Tidak ada yang mengerti dengan pikiran Naruto sekarang. Terkadang dia akan tersenyum jika marah, atau bahkan menatap marah jika dia senang. Perubahan padanya memang mengerikan.

"Dengar Naruto!" panggil Shikamaru menyadarkan Naruto dari ketertarikan membaca riwayat sekolah Hinata. "Dua minggu lagi acara itu akan diadakan, dan jika kita tidak mendapat undangan untuk menghadirinya, kau juga tidak boleh menghadirinya. Jangan membuat masalah dan ingat status dan jabatan mu." Nasihat Shikamaru, dia yang tahu bagaimana tempramen lelaki itu sekarang, sangat mungkin Naruto melakukan hal gegabah mengingat dia sangat ingin bertemu dengan Hinata.

.

Menunggu beberapa hari, Dewi Fortuna ternyata memihak pada Naruto, seorang suruhan Hyuuga datang mengantarkan undangan untuk nya. Tinggal beberapa hari lagi dia akan bertemu dengan sang Rubah salju.

Rubah salju adalah julukan yang diberikan Naruto kepada Hinata, jika dia adalah Rubah Api maka Hinata adalah Rubah Salju. Dia pun bingung dari mana dia mendapatkan julukan itu, namun satu yang dia yakini bahwa Hinata cocok dengan sebutan itu.

Sebentar lagi, sebentar lagi mimpi buruk ini akan berakhir. Cepatlah datang Rubah Salju ku….

End of flasback

.

.

.

Hokage Group Building.

Sesaat setelah melewati pintu lobi, Shikamaru memandang aneh tubuh belakang Naruto. Dari gerak-gerik lelaki penyandang gelar CEO Hokage Group itu, sepertinya kebahagiaan sedang menghampirinya, lihat saja para karwayan wanita yang meleleh dengan balasan senyum yang diberikan Naruto saat mereka menyapa Naruto. Biasanya Naruto hanya menatap lurus dengan arogan dan mengabaikan semua sapaan yang ditujukan untuknya.

Merasa ada yang aneh, dengan cepat Shikamaru menghampirinya.

"Ada apa dengan mu! Jangan katakan kau sangat menantikan kedatangan Hinata!"

"Tentu saja!" Naruto memberikan senyum terbaik miliknya kepada Shikamaru.

Rasa bahagia seharusnya yang dirasakan Shikamaru saat ini, kenapa tidak senang coba? Selama ini dia berharap Naruto dapat kembali tersenyum. Namun ini? Dia tidak dapat mengungkapkan kebahagiaannya, melainkan rasa takut dengan senyuman itu.

.

Braaakkk….

Naruto melempar dokumen mengenai Laporan Keuangan ke atas meja, membuat beberapa berkas berserakan di atas meja.

"Apa ini yang kalian sebut bekerja profesional, hah?! Lalu, bagaimana bisa seperti ini?!" murka Naruto.

"Hontouni Go-Gomennasai Namikaze-san, ka-kami akan memperbaikinya kembali." Takut-takut lelaki dengan ikatan rambut itu memunguti berkas yang dilempar Naruto.

Melihat kelakuan Naruto, Shikamaru hanya menggeleng-gelengkan kepala dan sesekali memijit pelipisnya. Dilihat dari grafik yang ditampilkan, bagaimana pun jawabannya adalah kenaikan Laba yang signifikan. Hanya karena kurang 0.3% dari target yang di janjikan, Naruto mengamuk dan kembali membuat takut seluruh bawahannya.

Inilah dia Naruto si gila kerja, gila akan kesempurnaan.

.

"Hahhh!"

"Jangan menghela nafas di ruangan ku Shikamaru! Jangan menebar sifat pemalas mu itu di ruangan ku!"

"Bagaimana aku tidak melakukannya? Sudah seminggu kau berulang kali membaca undangan itu. Kau membuat umur ku pendek setiap melihat mu. Bersabarlah, besok kau akan bertemu dengannya."

Tidak peduli dengan perkataan Shikamaru, Naruto kembali larut dengan urusannya. Urusan membaca riwayat sekolah Hinata dan undangan pemberian Hyuuga. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, tujuh tahun dia menunggu, dan esok akan bertemu….! Bagaimana bisa dia mengabaikan undangan itu!

.

.

.

Amsterdam, flashback untuk kepulangan Hinata.

Seorang gadis dengan rambut indigo lurus dan panjang, tengah sibuk mempersiapkan semua kebutuhannya. Semua kebutuhan untuk meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Konoha. Sesaat akan memasukkan buku-buku ke sayangannya, seorang wanita datang menghampirinya.

"Bedankt!" ujar gadis indigo itu.

"Ik zal echt mis je Hinata!" ungkap seorang wanita tua, yang kini memeluk Hinata erat, air mata bahkan sudah mengalir deras dari pipi keriputnya.

"Ik zal je missen!" jawab Hinata membalas pelukan wanita itu, yang kini ikut menangis. Inilah bumi, ada perjumpaan dan ada perpisahan.

.

Semua mengenai kota ini tidak akan pernah dia lupakan, perjalanan yang mendebarkan, sahabat baru. CINTA BARU, pengalaman baru, dan tekat untuk MELUPAKAN CINTA LAMA.

"Hinata-chan!" tegur seorang gadis dengan surai kuning panjang menyadarkan lamunan Hinata.

"Ah! Ino-chan, kau mengagetkan ku!" jawab gadis itu berdiri dan beranjak melanjutkan kegiatannya.

"Aku sempat berpapasan dengan nyonya pemilik apertemen ini. Dia bilang dia akan merindukan mu dan tingkah konyol ku. Hi… hi…. dia sangat menyayangimu Hinata."

"Hmm, aku juga menyayanginya, tidak terasa sudah dua tahun aku disini. Dan dia memanjakanku seperti Okaa-sama ku." Terang gadis itu.

"Soal memanjakanmu, kau tidak ingin aku memanjakanmu juga kan?"

Hinata menatap aneh dengan pertanyaan sahabat baru nya itu.

"Sedari tadi kau melamun, sampai kau tidak menyadari kedatangan ku. Kau tidak berniat membuat aku memberesi ini semua kan!?" menjulurkan kedua tangannya ke depan, Ino menghampiri Hinata yang sudah berdiri bersiap siaga.

"I-Ino-chan jangan! Aku ma-masih sibu— bwaha… ha-ha…" ucapan gadis itu terhenti dengan tawa menggelegar. Inilah mengapa sang pemilik apertemen mengatakan akan merindukan tingkah konyol Ino. Dia memiliki kebiasaan menggelitiki tubuh Hinata. Tidak jarang Hinata berlari menemui nyonya pemilik apertemen untuk berlindung dari kenakalan Ino.

Yamanaka Ino adalah sahabat baru Hinata, dia mengenal gadis itu saat melanjutkan studinya di Universitas Amsterdam. Gadis keturunan Belanda Jepang itu, membuat kehidupan Hinata yang menjenuhkan berubah ceria. Saat Hinata mengatakan akan kembali ke Jepang, dengan tegas Ino mengatakan akan ikut menemaninya. Dengan begini Hinata tidak perlu repot mencari asisten nantinya, kebetulan Ino mengambil jurusan Ekonomi juga.

.

"Ne… Ne…. Hinata!"

"Nanni?"

"Aku dengar saat kau kembali nanti, akan diadakan perayaan besar?" tanya Ino sambil meminum ice tea miliknya.

"Ah…. Aku akan merindukan suasana café ini. Bukan begitu Ino-chan?"

"Aku bertanya disini Hinata-chan! Apa kau mendengar ku? Lagi pula Konoha juga punya café yang bagus. Dan sekarang jawab aku!" seru Ino.

"Baiklah, aku minta maaf, seperti yang kau katakan. Dan perayaan ini akan sangat menyenangkan" jawab Hinata bersemu merah.

"Lihatlah nona yang satu ini, kau pasti sangat bahagia. Lalu bagaimana dengan Naruto?!"

"Aku sudah melupakannya, lagi pula—" sebelum melanjutkan ucapannya Hinata berdiri dari duduknya dan menghampiri seorang lelaki tampan di luar Café.

"Dia meninggalkan aku lagi. Dasar… ya nanti akan ku telpon" ujar Ino memberikan isyarat dengan tangan, lalu melambaikan tangan pada Hinata melalui kaca Café.

"Romantis sekali mereka….!"

Meskipun dia baru mengenal Hinata selama 2 tahun, dia dapat langsung mempercayai gadis malang itu. Malang… ya dia mengakui betapa malang gadis itu. Kisah cinta tragis, perlakuan tragis, lepas dari keterpurukan hingga sekarang mampu bahagia dengan orang yang dia cintai. Kisah yang mengharukan. Dan mengenai Naruto, dia belum pernah bertemu dengan lelaki pecundang itu, tapi setelah mendengar kisah Hinata, entah apa dia jadi sangat membenci Naruto. Bahkan dia mungkin akan menghajar Naruto jika mereka bertemu nanti.

.

"Hinata! " tegur seorang lelaki menyadarkan Hinata, lalu menyodorkan secangkir coklat panas.

"Arigatou…" balas Hinata dan menerima pemberian lelaki itu.

"Kau sangat menyukai lukisan-lukisan Van Gogh, ya Hinata?!"

"Tentu saja, sayang dia tidak bisa menikmati semua hasil karya nya sendiri. Lihat lukisan itu!" tunjuk Hinata pada sebuah lukisan.

"Irises, cantik sekali" ujar Hinata menatap kagum.

Sementara lelaki yang bersama dengan Hinata setuju dengan pernyataan Hinata. Dia memang bukan orang yang di besarkan dari keluarga pecinta seni. Namun, dia mengerti dengan keindahan dari sebuah lukisan, begitu juga dengan keindahan gadis nya.

"Ah… kau benar, indah sekali."

"Lukisan tuan, aku membicarakan lukisan disini bukan membahas wajah ku" gugup Hinata menunduk menyembunyikan rona wajahnya.

"Ya, aku juga setuju dan begitu juga dengan mu, kau indah sekali Hinata!" tukas lelaki itu, lalu menyentuh wajah Hinata yang bersemu merah.

"Aku memberikan waktu sepuluh menit lagi Hinata! Aku menunggu di parkiran, kau ingatkan kau ada utang makan malam dengan ku." Mencium kening Hinata dengan sayang, lelaki itu berlalu meninggalkan Hinata.

"Arigatou… aku sangat menyayangi mu" ucap Hinata selepas kepergian kekasihnya.

.

.

.

Amsterdam terkenal dengan kanal-kanalnya yang indah, jalanan, pertokoan dengan dekorasi jendela serta lampu jalan yang elok yang memantulkan cahaya kuning keemasan yang menawan, dan tentu saja restoran yang dibalut dengan suasana romantis saat malam hari.

"Kau menyukai tempat ini Hinata!? Ini adalah hari terakhir kita bersama disini, aku ingin membuat kenangan manis untuk mu. Bagaimana menurut mu?" tanya lelaki itu kepada Hinata yang sibuk kagum dengan restoran pilihan nya.

"Aku sangat menyukainya, dan ini benar-benar indah." ungkap Hinata menatap lembut lelaki itu.

"Syukurlah kau menyukainya, aku sangat bahagia bersama mu Hinata" menggenggam tangan Hinata. "Aku janji akan membahagiakan mu selamanya Hyuuga Hinata!" ungkap lelaki itu.

Sementara Hinata yang ditatap seperti, menjadi malu dan senang secara bersamaan. Bukan sekali lelaki itu menyatakan kata-kata kebersamaan seperti ini, lelaki itu selalu mampu membuat Hinata nyaman, lelaki itu tidak pernah membuat nya takut bahkan menyakitinya sekalipun. Bersama dengannya selamanya sudah menjadi tujuan akhir Hinata.

Hinata memberikan senyum dan anggukan senang sebagai jawaban.

End of flashback.

.

.

.

.

Kehilangan….! Apakah ada benda atau sesuatu yang sangat berharga hilang begitu saja? Dan jawabannya adalah tidak. Kehilangan karena dicuri? Apakah menurut kalian itu sebuah kebetulan? Jawabannya juga tidak! Kehilangan sesuatu yang berharga bagi mu pasti memiliki alasan. Dan kembali… Bagaimana bisa kau sampai kehilangan sesuatu yang berharga bagi mu?

.

Back to Hokage Group Building.

"Naruto!" panggil Shikamaru dan meletakkan sebuah amplop pada meja Naruto.

Menoleh pada amplop itu, Naruto menghela nafas dan kembali sibuk dengan berkas perusahaan.

"Gantikan aku!"

"Kau yakin? Bacalah, mungkin kau akan senang."

Menghentikan kegiatannya Naruto membuka dan membaca isi amplop berisi undangan itu.

Invitation to Namikaze Naruto

Tuesday , 21st October 20xx

20.00 in residence Hyuuga

Hyuuga expecting your arrival

Paham akan raut wajah Naruto, Shikamaru mendudukkan diri di sofa bersamaan dengan Naruto yang ikut duduk di sofa ruangannya.

"Undangan kedua untuk acara setelah pengangkatan pengganti Hiashi-san " jelas Shikamaru menyamankan diri.

Naruto meletakkan undang itu, menyandarkan diri lalu menatap Shikamaru.

"Hah….!" Menghela nafas, Shikamaru bersabar dengan sifat baru Naruto.

"Aku tidak bisa memastikannya Naruto, bahkan Sasuke dan Kiba juga tidak bisa menembus sistem Hyuuga lagi, tidak hanya sistem, mereka juga memperketat penjagaan di sekitar kediaman Hyuuga."

"Menurut mu?" tanya Naruto.

"Mungkin hanya acara penyambutan kecil atas kepulangan Hinata. Satu hal lagi, kau tahu dia termasuk siswa yang tidak memiliki teman di Senior High School."

Mendengar ucapan Shikamaru, mendadak wajah Naruto terlihat murung, dia tahu bahwa dia adalah penyebab Hinata kekurangan seorang teman.

"Sudahlah!" Shikamaru paham dengan raut wajah Naruto. "Dia mengundang semua seangkatannya dan juga seangkatan kita. Begitu juga dengan mu dan aku, yang lain juga menerima undangan ini. Perlu aku menyelediki kembali Naruto?"

Naruto mengalihkan pandangannya kepada jam tangan miliknya.

20 oktober 20xx

"Tidak perlu! Besok aku akan mengetahui dengan jelas. Persiapkan semua kebutuhan ku."

Berjalan menuju meja kerja miliknya, Naruto terhenti dengan ucapan Shikamaru.

"Apa arti kepulangan Hinata untuk mu Naruto? Apakah sekarang kau mengakui bahwa kau menginginkan Hinata?"

Mengepalkan kedua tangannya, Naruto berbalik dan menatap tajam Shikamaru.

"Ini bukan urusanmu!" desis Naruto marah.

Mengangkat rendah kedua tangannya "Baik-baik, gomen… aku terlalu ikut campur." ujar Shikamaru, dan pergi meninggalkan ruangan Naruto.

Braaakkkk…

Seluruh barang yang berada di atas meja Naruto jatuh dan berserakan.

Menjambak surai kuning pendek miliknya, Naruto membenturkan kepalanya ke meja kerja miliknya.

Dulu dia melupakan Hinata, dia mengakui dia sangat salah.

Lalu, bagaimana dengan Hinata, mengapa gadis itu tidak langsung mengatakannya?

Dulu dia melukai hati Hinata, dia mengakui dia sangat salah.

Lalu, bagaimana dengan Hinata, mengapa gadis itu tidak jujur atas perbuatan Shion waktu itu? Bukankah ini juga salah Hinata?

Dia terlambat menghentikan kepergian Hinata. Dan dia mengakui bahwa itu bukan kesalahan Hinata, tetapi mutlak kesalahannya.

Dia mengakui telah merebut paksa sesuatu yang berharga bagi gadis itu.

Lalu, bagaimana dengan Hinata, membohonginya dengan kehamilan palsu serta membohongi telah menggugurkan kandungannya, bagaimana dengan nya? Tujuh tahun, tujuh tahun dia menderita.

Arti kepulangannya? Menginginkannya?

Tentu saja untuk membalas perbuatan gadis itu. Tentu saja untuk membuat dia merasakan penderitaan atas kebohongan gadis itu.

Dan untuk mengikat Hinata selamanya di sisi nya. Selamanya… tidak akan membiarkan dia lari. Dia akan membuat gadis itu menderita selamanya di sisi nya.

Cinta, perasaan dan harga diri menjadi taruhan atas nama Cinta yang egois.

.

.

.

Hari pengangkatan pemimpin Klan Hyuuga yang baru.

Baik wanita dan pria, mengenakan pakaian formal. Beberapa pria dan wanita berlalu lalang membawa nampan yang berisi minuman serta makanan untuk ditawarkan kepada para tamu.

Ruangan atau tepatnya aula di dalam gedung ditata dan dirias semewah dan seelegan mungkin. Mereka yang hadir tidak henti-hentinya membicarakan siapa yang akan menjadi penerus Klan selanjutnya, dan tidak jarang dari mereka memasang taruhan untuk Hinata dan Neji.

Naruto dan sahabatnya telah tiba di ballroom gedung Hyuuga. Sesuai dengan perkiraan, semua yang diundang orang-orang dari kalangan yang berpengaruh di Jepang.

"Selamat datang tuan-tuan dan nona-nona, bisakah saya melihat undangan anda?" tanya seorang lelaki.

Setelah mengecek seluruh undangan milik Naruto dan sahabatnya, mereka di perbolehkan untuk masuk.

Mengedarkan seluruh pandangnya, Naruto terhenti dan membungkuk memberikan salam kepada kedua orangtua Hinata dari kejauhan. Tidak lupa membalas Hanabi dengan lambaian tangan. Namun, tidak untuk rubah putihnya, dia belum menemukan rubah putihnya.

Dia mengenali semua yang ada di sekitar tempat duduk anggota Hyuuga, namun dia tidak mengenali sosok lelaki yang sedari tadi tersenyum dan menyapa seluruh anggota Hyuuga. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia salah satu orang terpandang juga, dan anehnya dia merasa pernah bertemu dengan lelaki itu.

"Terimakasih banyak kepada seluruh tamu yang terhormat atas pemenuhan undangan kami!" seru seseorang di atas podium.

Sementara Naruto, dia sama sekali tidak memedulikan rentetan kata dari pria yang di depan, dan memilih menatap smartphone miliknya.

"Saya Hyuuga Hiashi selaku pemimpin klan Hyuuga merasa tersanjung atas kehadiran anda semua, saya tahu anda semua sibuk dan tentu memiliki sejuta hal yang perlu dikerjakan dengan cepat. Maka dari itu saya akan memperkenalkan pengganti sekaligus sebagai Pemimpin Hyuuga yang baru." Ungkap Hiashi.

Mendengar suara Hiashi, dengan cepat Naruto membalikkan tubuh dan berdiri seperti tamu yang lain.

"Kemarilah Neji…!" Panggil Hiashi.

Deg…. Deg…. Deg…..

Degup jantung Naruto memacu lebih cepat, Hingga apa yang dinantikannya kini tiba.

"Begitu juga denganmu Hinata…!"

Seakan waktu berputar dengan lambat, Naruto menatap serius seorang gadis atau tepatnya wanita muda yang berjalan anggun. Rambut indahnya yang kian memanjang, garis tubuh seorang wanita anggun, kulit mulusnya, hingga senyum tulus yang di berikan wanita itu kepada seluruh tamu. Dan iris Lavender nya yang menatap iris Saphire nya dengan tenang.

DEG…..

Naruto seakan merasakan nyeri luar biasa pada jantungnya hingga tanpa sadar dia memegang dadanya, apakah ini efek merindukan selama tujuh tahun.

Sahabat Naruto tidak terlalu memedulikan Hinata, objek penglihatan mereka hanya focus pada Naruto. Menatap sendu pada sahabat Pemarahnya, rasa sedih terpancar pada wajah mereka.

Sasuke yang tidak tahan dengan wajah Naruto datang menghampirinya.

"Ya Naruto, dia sudah ada disini. Apa pun keputusanmu aku akan mendukung mu."

Naruto menyeringai dengan ungkapan Sasuke, dengan cepat dia menormalkan diri dan kembali angkuh seperti biasa.

Sebodoh apa pun dan sepecundang apa pun Sasuke menganggap Naruto saat mendengar pernyataan Naruto mengenai Hinata. Dia akan tetap membela Naruto, bagaimana pun Hinata tidak berhak menipu Naruto sejahat itu.

Kita lihat siapa yang jahat disini? Apakah setimpal atau kurang?

"Hyuuga Hinata adalah penerus klan Hyuuga yang baru. Saya sebagai pemimpin klan Hyuuga terdahulu sekaligus ayah Hyuuga Hinata berharap agar anda semua mau membimbing dan menjaga Hyuuga Hinata di kemudian hari." Ujar Hiashi sambil membungkuk.

Para tamu yang hadir ikut membungkuk lalu bertepuk tangan meriah sebagai ungkapan menerima pemimpin Hyuuga yang baru.

"Minna-sama Hontouni Arigatou Gozaimasu, atas kehadiran anda semua. Saya Hyuuga Hinata akan melanjutkan dan akan berusaha lebih baik lagi dalam meneruskan apa yang telah di perjuangkan pendahulu saya. Saya akan berusaha dengan baik untuk memberikan kenyamanan dan kebaikan bagi anda semua, maka dari itu saya mohon bimbingannya."

Semua mata tidak henti-hentinya kagum dengan sosok Hinata, tidak hanya cantik, sekarang dia telah menjadi Pemimpin Hyuuga yang baru. Tidak mudah untuk menjadi penerus klan, semua orang juga tahu tidak banyak penerus dari klan Hyuuga yang berhasil melewati ujian yang diberikan. Dan jika kandidat yang dituju tidak mampu, maka sang pemimpin tidak boleh mundur sebelum mendapatkan penerus yang pantas. Dan kini…. disinilah Hinata berdiri.

Setelah acara perkenalan diri yang begitu singkat, Hinata mendadak menghilang di tengah pesta, dan hanya ada Neji yang mewakili Hinata untuk menemui kolega bisnis yang lain.

"Pesta yang meriah Neji!"

"Arigatou Namikaze-san. Aku tersanjung atas kehadiranmu atas nama Hinata aku ucapkan—."

"Kenapa harus kau, bukankah tidak sopan tuan rumah meninggalkan tamu terhormatnya?" potong Naruto.

"Apakah undangan yang baru belum sampai kepada anda Namikaze-san?" tanya Neji santai.

"Oh… tentu, lalu ap—"

"Hinata sibuk dengan urusannya saat ini, sebagai tuan rumah anda tentu tahu tidak sopan membiarkan tamu terhormat tidak nyaman atas pelayanan yang diberikan bukan!?" potong Neji kemudian.

"Aku bisa mengoyak mulutmu saat ini Neji jika kau berani memotong ucapan ku lagi."

"Begitu juga dengan ku Naruto sialan! aku bisa membunuh mu saat ini, kau tentu tahu aku ikut menyembunyikan keberadaan Hinata selama ini. Aku sudah berjanji kepada adik kecilku yang baik untuk menahan emosi ku agar tidak menguliti mu saat ini. Jadi bertingkah sopanlah bajingan."

"Onii-sama, Naruto-nii! Kalian tidak sedang bertengkarkan?"

Kedua lelaki itu tersenyum dengan kedatangan seorang gadis, seakan tidak terjadi apa-apa.

"Tentu tidak Hanabi, tolong temani Namikaze-san! Nii-san ada urusan lain." Setelah mengatakannya Neji menatap marah kepada Naruto dan berlalu pergi

"Biarkan Onii-sama, Naruto-nii, dia selalu seperti itu. Maafkan Onee-sama ku Naruto-nii, selama ini Naruto-nii menantikan kepulangan Onee-sama, tapi…."

Tepukan lembut pada puncak kepalanya membuat Hanabi mendongak dan bingung.

"Daijoubu, aku sudah melihatnya itu sudah lebih dari cukup. Bukankah kami bisa bertemu nanti."

Senyuman menjadi jawaban bagi mereka berdua.

.

.

.

Namikaze Naruto Penthouse.

"Sempurna!"

Naruto kagum dengan penampilannya saat ini.

Stelan Tuxedo hitam dan kemeja putih, dengan dasi kupu-kupu hitam, rambut yang ditata rapi, jam tangan Rolex hitamnya. Terakhir dengan sepatu pantofel hitam.

'aku bisa membunuh mu saat ini Naruto!' teringat dengan perkataan Neji, Naruto mengepalkan tangan, tidak peduli apa pun yang terjadi, Hinata harus berada disisinya selamanya.

Dbrummm…. Bruummmm….

Menjalankan mobil Lamborgini miliknya, Naruto tidak sabar bertemu empat mata dengan rubah saljunya.

.

.

.

To Be Continue…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Maaf… bercandaaaa… bercandaaaaa…. Ho….ho…

.

.

.

Hyuuga Mansion.

Penyelenggaraan pesta kedua….

Jika suatu saat ada kemungkinan kau sangat menginginkanku dan aku mencintai lelaki lain dan menyuruhmu untuk menjauhi dan melupakanku, apakah kau akan melakukannya?"

Dan jawaban Naruto adalah….

.

Suasana di sekitar kediaman Hyuuga di penuhi dengan mobil-mobil mewah yang terparkir di dalam mansion maupun di luar mansion yang di tata di bahu jalan.

"Selamat datang Namikaze-sama, bisa saya melihat undangan anda?" tanya penjaga pintu.

"Ini! Bisakah aku mendapatkan parkiran di dalam mansion?" tanya Naruto sambil menyerahkan undangan.

"Tentu saja Namikaze-sama, anda adalah tamu VIP Hiashi-sama. Anda boleh masuk!"

Berjalan santai di setiap lorong mansion Hyuuga, Naruto melangkahkan kaki nya menuju lantai dua, atau lebih tepatnya ruangan pribadi Hinata. Tidak satupun maid menegur Naruto karena memasuki lantai dua, mereka semua sudah sangat wajar melihat Naruto mengunjungi kamar nona mereka.

Sesaat akan mencapai ruangan pribadi Hinata.

'Siapa pria itu, beraninya dia keluar dari kamar Hinata?' batin Naruto.

Marah….. benar-benar marah. Bagaimana dia bisa mengabaikan penglihatannya saat ini, tidak ada satupun lelaki lain yang bisa memasuki kamar Hinata kecuali dia tentunya. Dan ini, mengapa ada lelaki lain yang memasuki kamar Hinata?

Saat berpapasan dengan lelaki asing itu, Naruto menatap aneh dengan stelan lelaki itu. 'Apa dia salah kostum?' tanya Naruto dalam hati. Mereka memang sama-sama mengenakan Tuxedo, tapi pria itu seperti akan melangsungkan pernikahan saja, padahal ini hanya perayaan kecil saja, dasar bodoh.

Naruto masih setia berdiri di depan pintu kamar Hinata, dia masih mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan Hinata. Membuka pintu dengan pelan, Naruto mendengar pembicaraan dua orang wanita dengan canda tawa…

"Kau sangat cantik Hinata….! Aku yakin dia akan senang dengan penampilanmu hari ini." puji seorang wanita.

"Arigatou Ino-chan….." balas Hinata.

Menndengar suara Hinata membuat perasaan Naruto menghangat, dia berlalu pergi dan mengurungkan niatnya menemui Hinata. Namun… 'siapa maksud mereka berdua, apakah Hinata sudah memiliki kekasih?' Batin Naruto kini berkecambuk marah.

.

"Kau darimana saja Naruto? Kami menghubungimu sedari tadi!" seru Shiakamaru, dia takut Naruto melakukan hal di luar kendali.

"Aku menemui tetua klan Hyuuga, aku menonaktifkannya." Berjalan santai, Naruto memilih duduk diantara sahabatnya.

"Jangan melakukan hal gegabah Naruto, dia akan tetap menjadi milikmu, bersabarlah!" nasihat Sasuke.

Acara yang diselenggarakan oleh Hyuuga benar-benar menunjukkan kehebatan mereka, tidak hanya seniman Jepang, seniman mancanegara juga ikut memeriahkan acara itu. Semua kalangan yang datang pun ikut memeriahkan acara. Pengusaha terkenal, kalangan selebritis hingga pejabat tertinggi Jepang.

Dan anehnya, seperti perkataan Shikamaru, banyak diantara tamu yang hadir adalah alumni Konaha High School.

Tak satupun dari acara itu yang membuat Naruto terkesan, sementara para sahabatnya sibuk dengan urusan menyapa kolega-kolega mereka, berdansa, menikmati hidangan hingga menggoda wanita-wanita muda.

Naruto masih setia mengamati lelaki asing itu. Ya dia akui lelaki itu juga tampan, namun dia masih kalah jauh dengan Naruto. Ayolah, siapa yang tidak kenal dengan Namikaze Naruto, CEO muda dengan sejuta pesona. Jika sahabat harus menyapa duluan, berbeda dengannya yang didatangi koleganya serta digoda duluan oleh para wanita.

Ketika kedua mata mereka bertemu, lelaki itu memberikan senyuman perkenalan lalu menundukkan kepala sebagai isyarat mengucapkan salam. Sementara Naruto, dia hanya menatap datar sambil meneguk wine miliknya kemudian mengalihkan pandangan kesembarang arah. Dia benci dengan lelaki itu.

"Terimakasih kembali atas kedatangan anda di kediaman sederhana kami!" sapa Hiashi. "Saya sangat menghargai kedatangan anda semua. Acara ini saya selenggarakan bukan atas keberhasilan putri saya, melainkan ucapan syukur atas kepulangan putri saya Hinata, serta untuk melangsungkan pertunangan putri saya."

Bagai tersambar petir yang ketiga kalinya, Naruto membulatkan penglihatannya. Pertunangan?

Naruto mengepalkan kedua tangannya dan mendengar semua penjelasan Hiashi.

'Apa maksud ini semua?' kesal… Naruto terlihat sangat kesal.

"Sebelumnya saya akan memperkenalkan calon menantu saya, Toneri Ootsutsuki."

Lelaki yang di kenal sebagai Toneri itu, berjalan santai menemui Hiashi tidak lupa dengan senyum mengembang. Ketika Toneri berdiri diatas podium bersama dengan Hiashi, Naruto tidak henti-hentinya menatap marah, seakan mampu melubangi jantung Hiashi dan Toneri.

Hiashi paham akan tatapan Naruto, tetapi acara harus tetap berlangsung. Sementara Hanabi dan Mikoto hanya bisa diam melihat kemarahan Naruto.

Semua undangan menyambut hangat Toneri, berbeda jauh dengan Naruto dan sahabatnya. Mereka lebih memilih duduk diam, menjaga Naruto agar tidak melakukan hal memalukan. Kedua tangan Naruto digenggam Sakura dan Sasuke di kedua sisi Naruto, seakan ikut merasakan amarah Naruto dan untuk membuatnya agar tetap tenang.

Seketika tatapan marah Naruto digantikan dengan tatapan kagum pada sosok gadis yang berjalan anggun menuju podium.

Dadanya tiba-tiba sesak akan kehadiran gadis itu, ya gadisnya… Hyuuga Hinata dengan sejuta pesona.

Hinata mengenakan Kimono Furisode oburisode berwarna ungu muda dengan motif bunga lavender dan bunga mawar ungu menghiasi setiap kimino yang dia kenakan. Rambut kelamnya disanggul sepenuhnya dengan jepitan seekor merak di bagian belakang. Wajah porselinnya di make up sederhana dan diberi perona bibir berwarna merah mencolok. Hinata sederhana berubah menjadi seorang Hime-sama.

Cara gadis itu tersenyum menyapa setiap orang serta cara gadisnya tersenyum manis untuk lelaki brengsek itu, sanggup membuat seluruh darah Naruto mengalir cepat ke ubun-ubun.

"Jangan Naruto, ingat dimana posisi mu." Sakura mencoba menengkan Naruto yang akan beranjak pergi sambil menggenggam erat tangan Naruto.

Acara pertunangan antara Hinata dan Toneri berlangsung dengan sakral. Sebagai bukti pertunangan, mereka tidak menggunakan cincin pertunangan melainkan sepasang liontin perak berbentuk bulan.

Sesaat setelah Toneri memberikan kecupan pada kening Hinata, mereka dikagetkan dengan….

BRAAAKKKK….. BRRUKKK….. TRAAANGGG…..

Naruto membalikkan meja dan melempar kursi kearah depan. Beruntung tidak ada korban jiwa atas tindakkan Naruto.

Masih dengan amarah yang memuncak, Naruto mencoba menetralisir pernafasannya kemudian berlalu pergi meninggalkan taman tempat berlangsungnya pertunangan sial itu.

Tanpa di sadari seluruh orang, seulas senyum terpantri dari wajah cantik Hinata.

Seluruh tamu dan seluruh keluarga Hinata kaget dengan perlakuan Naruto. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang CEO terkenal seperti Naruto mampu merusak pesta seperti ini.

"Maaf atas kejadian ini. Saya harap anda mau melupakannya dan kembali menikmati acara ini kembali!" Merasa suasana berubah tegang, dengan cepat Neji menaiki podium dan menyuruh untuk memainkan music untuk berdansa. Sepertinya tindakkan cepat Neji berbuah manis, para undangan kini sibuk mencari pasangan dan mulai berdansa.

.

.

"Kau yakin ingin tetap disini?" tanya Shikamaru.

Naruto hanya menatap lurus yang kini duduk manis di bagian depan mobilnya.

"Hah…! Baiklah, terserah padamu."

Sasuke menepuk bahu Naruto, kemudian pamit untuk pulang, begitu juga dengan Sai, Gaara, dan Kiba yang pamit meninggalkan Naruto. Mereka malas berlama-lama di acara itu, acara yang menyakiti hati sahabat mereka.

"Bajingan! Beraninya mereka semua mempermainkan ku! Kita lihat seberapa jauh kau akan melangkah Hinata?"

Naruto beranjak memasuki kembali mansion Hyuuga dengan luapan emosi, seolah wajahnya mengisyaratkan untuk tidak mengganggunya jika masih ingin hidup.

.

"Selamat atas pertunangan mu Toneri-san dan Hinata-san!" ucap seorang menghampiri Hinata dan Toneri yang kini saling bergandengan menyapa tamu undangan.

"Kalian pasangan yang serasi!" puji yang lain.

Seluruh tamu undangan tidak henti-hentinya memberikan pujian dan selamat atas pertunangan Hinata dan Toneri.

Mereka berdua terlihat sebagai pasangan serasi yang sangat bahagia.

.

"Bagaimana ini Anata, Naruto-kun pasti sangat kecewa dengan ini?!"

Sebagai seorang Ibu tentu Mikoto senang atas pertunangan putrinya, dilain pihak dia merasa kasihan dengan Naruto. Selama ini Naruto selalu mengunjungi mereka dan tidak henti-hentinya menanyakan keadaan Hinata meskipun hasil yang dia dapatkan selalu nihil. Naruto juga selalu menjaga Hanabi dan selalu membantu Hiashi ketika menghadapi masalah di perusahaan. Mereka sempat mengharapkan Naruto sebagai menantu mereka, namun Kami-sama berkehendak lain.

"Hah…." Menghela Nafas, Hiashi mendekap Mikoto dari samping dan mengusap lengan istrinya dengan lembut. "Aku juga paham dengan perasaan Naruto, tapi kau tahu ini adalah keinginan Hinata dari dulu, betapa dia memuji dan menyayangi Toneri."

"Tapi Naruto juga sepertinya menyayangi Hinata, Anata! Dia tidak pernah marah atas perbuatan kita yang menutupi semua mengenai Hianta." jujur Mikoto.

"Kau benar! Tapi ini juga demi kebaikan Hinata, biarkan mereka menyelesaikan masalah ini. Lagi pula mereka sudah dewasa dan mereka harus menerima satu sama lain."

.

"Shikamaru! Cari tahu latar belakang si bajingan itu." Setelah menghubungi Shikamaru, Naruto beranjak pergi dari duduknya setelah menguping pembicaraan kedua orangtua Hinata.

Tanpa menanyakan siapa maksud Naruto, Shikamaru sudah paham siapa bajingan yang dimaksud Naruto. Sepertinya Shikamaru harus bekerja lembur lagi.

.

.

"Toneri-kun! Aku ingin memperbaiki ikatan obi ku, sepertinya Ino-chan tidak mengikatnya dengan kuat." bisik Hinata tepat di telinga Toneri.

"Baiklah! Aku akan menyapa tamu yang lain, sebaiknya kau harus beristirahat sebentar, kau terlihat kelelehan, kimono yang kau kenakan pun terlihat berat. Pergilah!"

Hanya dengan perlakuan pengertian Toneri membuat degup jantung Hinata berpacu lebih cepat, rona di pipi nya bahkan lebih terlihat jelas. Dia menyukai setiap momen bersama dengan Toneri.

"Hinata-chan! Kau ingin pergi kemana?" Ino menahan tangan Hinata yang tengah berjalan menjauhi taman.

"Aku ingin memperbaiki ikatan obi ku Ino-chan!" tunjuk Hinata pada tali obi yang dikenakannya.

"Ah…! Gomen Hinata-chan, sepertinya aku tidak mengikatnya dengan benar." Sesal Ino lalu menarik tangan Hinata menuju salah satu ruangan kosong.

"Aku bisa meminta tolong dengan maid di sini Ino-chan, bagaimana pun juga kau tamu ku saat ini, jadi bersenang-senanglah dan cari seseorang yang berharga untuk mu. Siapa tahu kita bisa melakukan kencan ganda nantinya." Ujar Hinata mendorong pelan tubuh Ino agar pergi meninggalkannya.

"Baiklah! Huh….!" Ino mendengus, dia juga berencana seperti itu, tapi belum ada lelaki yang bisa mencuri minatnya. Meskipun ada satu, lelaki dengan surai kuning dengan wajah rupawannya, sesaat setelah mengetahui bahwa lelaki itu adalah Naruto, dia membuang jauh pikirannya dan memusatkan kembali kebencian pada sosok penghancur kehidupan Hinata dulu. Ya biarpun tidak bisa dipungkiri pesona Naruto seperti magnet bagi setiap wanita, tidak salah Hinata pernah menyukai lelaki itu.

.

.

"Hisashiburi na Hinata!"

Belum selesai memperbaiki ikatan obi nya di sebuah ruangan kosong, Hinata kaget dengan sapaan seorang lelaki. Dia tahu bahwa itu adalah suara Naruto, berbeda dengan suara Naruto dulu, kini lebih terdengar maskulin dan berat. Dengan cepat Hinata membalikan tubuh sambil menggenggam ikatan obi nya dari belakang.

"Ah…! Namikaze-san! Senang berjuma dengan mu." Balas Hinata santai, tidak ada rasa gugup maupun takut lagi.

"Huh…..!" dengus Naruto. "SELAMAT ATAS PERTUNANGAN MU HYUU-GA!" Naruto sengaja memberikan penekanan pada setiap kata, dia ingin menunjukkan bahwa dia kesal dengan pertunangan itu.

"Hontouni Arigatou gozaimasu Namikaze-san!" jawab Hinata, dia mengabaikan wajah tegang Naruto.

"Hah…." Naruto menghela nafas lelah.

Naruto meneliti tiap inci tubuh Hinata, dia tahu bahwa gadis yang dihadapannya kini bukan Hinata dulu, melainkan Hinata yang mampu menaikkan tingkat emosi nya. Dia memang seorang rubah.

"Selama tujuh tahun tidak bertemu, kau terlihat lebih tampan Namikaze-san!" puji Hinata meneliti Naruto dari bawah ke atas.

Naruto menatap diam wajah Hinata, pikirannya kini benar-benar berantakan.

"Baiklah! Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Permisi Namikaze-san." Hinata beranjak keluar dari ruangan itu dan menapaki lorong mansion dengan cepat.

"Apa yang—"

Hinata kaget dengan Naruto membekap mulutnya, lalu menyeretnya memasuki ruangan gelap dengan pencahayaan minim yang berasal dari luar jendela.

Hinata berusaha memberontak dengan kekuatan seadanya dia sudah sangat lelah, belum lagi dia harus menahan agar ikatan obi nya tidak lepas.

"Berhenti memberontak atau aku akan menelanjangi mu disini!." Ancam Naruto menggenggam tangan Hinata yang menggenggam ikatan obi miliknya.

Merasa Hinata tidak akan memberontak, Naruto melepaskan bekapannya lalu membalikkan tubuh Hinata menghadapnya.

Plakkk...

Tamparan keras mendarat di pipi mulus Naruto.

Naruto yang mendapat perlakuan seperti hanya mengelus wajahnya sebentar, kembali menatap marah Hinata.

"Hah…! Hah…!" menetaralisir pernafasannya, Hinata berniat untuk pergi.

"Penjelasan! Aku butuh penjelasan Hinata!" Naruto menahan lengan Hinata yang hendak pergi.

"Penjelasan apa? Sepertinya urusan kita tidak ada lagi NAMIKAZE-SAN!" Hinata memberikan penekanan pada nama Naruto.

"Akh…" ringis Hinata sakit, genggaman tangan Naruto pada pergelangannya semakin kuat. "Kau menyakiti ku Namikaze!" gadiss itu mencoba melepaskan tangan Naruto.

"Tujuh tahun Hinata! Tujuh tahun kau menghancurkan hidup ku!"

"Hinata? Apa aku tidak salah dengar? Kemana panggilan Hyuuga selam—"

Naruto menarik tubuh Hinata dalam rengkuhannya dan memeluk erat Hinata.

Diam… keduanya masih tetap diam mempertahankan posisi mereka tanpa ada niat melepaskan diri. Apakah ini ungkapan rindu antara keduanya?

"Tolong lepaskan pelukan mu! Bagaimana jika Toneri-kun menemukan kita, Namikaze-san!"

"Jangan sebut nama bajingan itu di hadapan ku." Geram Naruto yang membenturkan tubuh Hinata ke tembok lalu mengurung gadis itu diantara lengannya.

"Akh….! Ringis Hinata lagi. "Kau masih sama! Kau selalu berlaku kasar pada ku dan kau hampir menghancurkan pertunangan ku tadi. Aku membenci mu….!"

"AHhkk…." Naruto meninju tembok tepat disamping wajah Hinata.

"Kau melukai diri mu sendiri, kau masih tetap bodoh dan naif. Berhenti menjadi bodoh Namikaze." tatap Hinata tepat pada iris Naruto.

"Hah…!" mendesah lelah, Hinata mencari sapu tangan yang disimpan di tamoto Kimono nya. "Lihat! Kau mengeluarkan banyak darah!" ujar Hinata membalut luka Naruto perlahan.

Sementara Naruto, atensi lelaki itu tertuju pada wajah Hinata, cara gadis itu membalut lukanya, ocehan gadis itu yang terdengar manis di telinganya, digantikan dengan tatapan datar….

"Berhenti menatap ku seperti itu Hinata!" kesal Naruto, dia benci ditatap dingin oleh Hinata.

Hening… Keduanya saling beradu pandang satu sama lain. Hembusan nafas keduanya menjadi satu-satu nya suara di ruangan kosong itu.

"Aku harus pergi Namikaze! Tolong lepaskan tangan ku! Toneri-kun membutuhkan ku, aku harus—"

Tanpa aba-aba Naruto menempelkan bibirnya pada Hinata, Naruto memagut bibir Hinata dengan lembut dan perlahan, seakan takut Hinata tersakiti.

"Na-mi—mhmm-hentih-kanhh…." ucap Hinata setengah putus asa, dia tidak bisa melepaskan diri dari Naruto. Pegangan Naruto terlalu kuat di pergelangan tangannya.

Naruto memagut dan mengecap rasa bibir Hinata lama, dia meluapkan rasa rindu dan amarah yang ditahannya selama tujuh tahun. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya, otak nya tidak bisa mengendalikan gerakan tubuhnya. Dia bergerak berdasarkan insting.

Lama mereka melakukannnya, akhirnya Naruto melepaskan untuk kebutuhan oksigen.

Hinata terlihat berantakan dengan nafas yang memburu, lipstick yang berantakan, dan wajah memerah menahan amarah.

"Seberapa sering dia menyentuh mu Hinata?" tanya Naruto menatap dalam Hinata.

"Huh….!" Dengus Hinata. "CIUMAN MU MENJIJIKAN!" menantang tatapan Naruto.

"Huh…! Menjijikan kau bilang!?" cibir Naruto tidak mau kalah. "Aku tahu kau menikmatinya nona naif!" Naruto sengaja mengatakannya tepat di telinga Hinata dan menghembuskan nafas hangatnya.

"Jangan salah paham dengan desahan ku tadi Namikaze, tidak dengan sentuhan mu, bibir mu bahkan seluruh tubuh mu. Tidak satu pun yang mampu membuat ku terangsang dan menikmati setiap tindakan menjijikan mu ini!" sengit Hinata, pancaran wajah Hinata kembali dalam mode santai.

"Pfuhffttt…! Tidak satu pun? Jangan bodoh Hinata! Jangan bilang kau menyukai sentuhan si bajingan itu?"

"Ah…! Ck… ck… Namikaze-san! Menurut, kenapa aku harus repot-repot bertunangan dengan lelaki yang tidak dapat memuaskan ku?" mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto, Hinata memandang iris biru Naruto lekat. " Ku beri tahu sedikit alasan mengapa aku harus memilihnya." Hinata memberikan jeda sambil tersenyum bangga. "Dia mampu membuat ku melayang di setiap sentuhan nya."

Degup jantung Naruto berdetak menggebu, dia berharap Hinata akan mengatakan hal lain. Namun, apa yang dia dapatkan, bukannya tenang dengan ungkapan Hinata melainkan rasa marah karena Hinata telah di sentuh lelaki lain selainnya. Naruto mencoba manahan emosinya, jangan sampai dia lepas kendali dan menyakiti gadis ini lebih dalam lagi.

"Lepaskan dia! Aku bisa lebih memuaskan mu nona!" Naruto mengusap bibir Hinata dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan yang lain menahan pergelangan Hinata.

"Hah! Sentuhan mu saja membuat aku jijik, bagaimana bisa kau memuaskan ku?" sengit Hinata. "Apa kau ingat Namikaze?" Hinata membentuk sebuah pola dengan jari tangannya di dada bidang Naruto. Membuat Naruto merasakan sengatan listrik hanya dengan gerakan jari Hinata.

Naruto mengkerutkan dahi tanda tidak mengerti.

"Malam ketika kau menyentuh ku!"

Menelan ludah susah payah, Naruto merutuki kebodohannya. Sekeras apa pun dia berusaha, dia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian malam pertama mereka.

"Kau tahu! Itu pertama kali nya bagi ku?"

Ada rasa bangga pada Naruto mendengar ucapan Hinata, meskipun Hinata kini miliki orang lain. 'Tidak! Hinata hanya milik nya seorang' tolak Naruto tegas. Dia tidak akan membiarkan lelaki lain memiliki tubuh gadisnya, dia harus menghapus semua sentuhan lelaki bajingan itu.

"Dan itu juga pertama kali bagi ku." aku Naruto jujur pada Hinata.

Entah apa, hati Hinata menghangat dengan pengakuan Naruto, tapi dengan cepat ditepisnya. Bagaimana pun juga dia tidak mencintai Naruto lagi, dan dia kini sangat mencintai Toneri lebih dari apa pun.

"Huh…! Jangan bilang kau tidak mengingatnya?"

Naruto memberi jarak, rasa malu datang menghampirinya seperti kilatan petir. Ayolah! Lelaki mana yang tidak malu dengan pertanyaan itu, dia kembali merutuki kebodohannya.

"Dasar, baiklah aku akan memberitahu mu. Tidak sedikit pun aku menikmati setiap sentuhan mu Naruto!" jika dia adalah Hinata yang dulu, maka dia akan menangis sejadi-jadi ketika mengingat kembali. Tapi, kini dia adalah Hinata yang berbeda.

"Berbeda dengan mu Namikaze, Toneri-kun selalu memanjakan ku. Bahkan di setiap malam panas yang kami lalui."

"Sudah kubilang jangan menyebut nama bajingan itu!" teriak Naruto mencengkram pundak Hinata.

Hembusan nafas Naruto menerpa wajah Hinata.

"Jangan lagi! Jangan biarkan bajingan itu kembali menyentuh mu!"

"Apa kau gila! Dia tunangan ku dan dia berhak memiliki tubuh ku!"

"AKU BILANG JANGAN…..!" teriak Naruto.

"Kau kira aku akan menuruti mu?" habis sudah kesabaran Hinata.

"Kau benar! Kau tidak mungkin menuruti ku kan!?"

Hinata menatap nanar Naruto, lelaki gila itu menarik-narik kerah kimono yang dia kenakan.

"Apa yang kau lakukan?" pekik Hinata Histeris, Hinata mencoba menghentikan Naruto, perbedaan kekuatan membuat dia hanya bisa melawan seadanya.

Sial bagi Hinata, ikatan obi nya yang longgar membuat Naruto dengan cepat menyingkap Kimono Hinata dan menampilkan bahu putih Hinata.

"Ja-jangan Namikaze-san!" mohon Hinata.

Hinata memejamkan erat matanya, Naruto menggigit dan menjilat sekitar leher Hinata. Memberikan tanda di tubuh mulus Hinata.

"Akhh… Cu-Cukupphh…Hen-tikanhh… Naruto!" jerit Hinata tertahan.

Panggilan lembut Hinata menyadarkan Naruto, memberikan jarak pada Hinata. Naruto puas dengan perbuatannnya. Dia memang menginginkan Hinata saat ini belum lagi dengan wajah memelas gadis itu, tapi dia juga sadar gadis ini belum siap untuk disentuh.

Tidak ada unsur cinta dalam setiap perbuatan Naruto, melainkan rasa dendam yang meluber keluar. Dia akui dia sangat menginnginkan tubuh Hinata. Ayolah! Dia pria dewasa yang sehat dan normal, dia membutuhkan belaian wanita di setiap malamnya. Tidak sulit baginya mencari wanita secara acak untuk dinikmati setiap malam.

Dan hasilnya sama sekali tidak pernah. Tidak sekalipun Naruto mencari wanita lain untuk diajak bercinta, dia masih memiliki pikiran waras untuk tidak merendahkan wanita. Belum lagi dengan urusan mimpi buruk dan sulit tidur akibat surat sialan yang diberikan Hinata. Lagi pula dia memiliki prinsip untuk tidak merendahkan wanita, karena semua wanita nantinya akan menjadi seorang Ibu, dan dia juga memiliki Ibu yang sangat dia sayangi. Melukai wanita secara tidak langsung dia melukai Kaa-chan nya, tapi untuk Hinata dia memberikan pengecualian.

Dan untuk memuaskannya diatas ranjang nantinya jawabannya hanya satu, Hinata. Hanya Hinata yang boleh merasakan tubuhnya. Wajar saja jika nafsu nya sudah memuncak, tujuh tahun dia menantikan Hinata.

'Hanya menginginkan Hinata, dan tidak ingin wanita lain. Apakah ini masih bisa disebut tanpa unsur cinta?'

"Khuu…! Sepertinya kalian tidak bisa melakukan malam panas untuk sementara Hinata!" Naruto membelai wajah Hinata dan menyisipkan helain rambut Hinata yang berantakan.

Dia memang sengaja memberikan tanda pada Hinata. Dengan begini dia bisa tenang untuk beberapa hari jika bajingan itu ingin menyentuh gadisnya. Tidak mungkin Hinata menunjukkan kissmark yang diberikan Naruto.

"Aku membenci mu!" Hinata menatap nyalang Naruto sambil menggenggam erat kerah kimononya.

"Begitu juga dengan ku."

Setelah memberikan kecupan pada kening Hinata, Naruto meninggalkan Hinata, dia juga memanggil seorang maid untuk membantu Hinata.

Saat melewati lorong mansion Naruto berpapasan dengan Toneri, sepertinya dia mencari Hinata. Toneri yang melihat Naruto menunduk sedikit dengan senyum. Naruto hanya menatap datar sebagai balasan.

Naruto membalikkan tubuhnya menatap punggung Toneri 'Kau tidak akan bisa memilikinya' ujar Naruto menyeringai.

Sementara keadaan Hinata.

Setelah kepergian Naruto, kaki Hinata mendadak lemas dan membuat dia terduduk dilantai.

"Jangan menganggap remeh Pemimpin Klan Hyuuga, Naruto!" desis Hinata murka.

Awalnya Hinata hanya ingin membuat Naruto marah dengan berbohong mengenai dia dan Toneri. Naas baginya, Naruto mengamuk diluar perkiraanya.

Tidak seorang pun yang menyentuh Hinata selain Naruto, dia masih menjaga kehormatanya meskipun Naruto telah merebutnya dulu. Hinata menanamkan prinsip untuk tidak memberikan tubuhnya pada lelaki lain selain suaminya kelak, dan kini Naruto si bajingan kembali menodainya.

Dan untuk tunangannya,Toneri adalah lelaki baik-baik, lelaki itu sama sekali tidak pernah menyentuh Hinata lebih jauh, lelaki itu menyentuh Hinata hanya sebatas ciuman bibir.

T.B.C.

Maaf… otak saya sudah buntu…

Jadi segini aja dulu, chapter depan akan saya perbaiki…

No comment untuk chapter ini -_-

Info:

Kimono furisode ooburisode – kimono ini adalah jenis furisode terbesar pada bagian lengannya

Agar Lebih Jelas Lihat Saja Go—Gle

Tamoto – kantong pada Kimono yang terletak di bagian lengan.

Obi – tali pengikat pada kimono

'Bedankt' – terima kasih dalam bahasa Belanda

'Ik zal echt mis je' – aku akan merindukanmu dalam bahasa Belanda

'Ik zal je missen' – aku juga akan merindukanmu dalam bahasa Belanda

'IRISES' lukisan bunga iris oleh Vincent Van Gogh

Museum Van Gogh berada di kota Amsterdam, Belanda

Sumber: Go—gle

Saya sangat terharu dan berterima kasih kepada:

Shonia, Hoshizawahime, Maura Raira, Luluk-Chan473, Hikarishe, Fushimi Yuuna, Harumi Tsubaki, Koretsuhi Mangetsu, Chikuma Yafa-Damselfly, Windar Nataswift, .777, Anishl, Lisna Wati716, Kurumi Keiko, Rechi, Hinata Lovers From Tl, Narunata, Guest, Orochimaru-Chan, Dewi, Yui, Genie Luciana, Sarinaga12, Melanie535, Winda289 (Maaf Saya Tidak Tahu, Saya Termasuk Galtek), Tiaprifree, Jo No Yume, Nao Vermillion, Naomi, San-San, Ana(Terima Kasih Sarannya), Anonym, Oortaka, Lililala249, Sarah, Megahinata, Namikaze S, Hyuuga R, Name Ababil, Yumi Ishiyama, Oh See Na, Mrsmarina81, Namelia, Xiexie312, Lovely Lany, Himarura Kiimaru.

Dan untuk yang berbaik hati memfollow dan memfavourite fanfic ini saya sangat berterima kasih, saya ingin menuliskan nama kalian semua, tapi saya bingung nama mana yang baru dan yang lama. Jadi….. Arigatou Gozaimasu…

Stalker reader juga terima kasih banyak….

Kembali, Hikuhlia minta saran dan kritik….

Jangan lupa dengan kata-kata sopan.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter depan…