Naruto Belong's To Masashi Kishimoto
IMPOSSIBLE TO RUN AWAY FROM ME
By Hinata Uzumaki Heartfilia
Call me Hiuzulia
Rate - M
This fanfic not for adolescent even children
"Can I Call This LOVE?"
Chapter 9
.
.
.
Mengejar atau Dikejar? Berusaha atau Menyerah? Membujuk atau Memaksa? Bersedia atau Terpaksa? Terkadang jika menyangkut soal perasahaan, ya kau bisa menyebutnya soal Cinta, tentu saja akan menemukan beberapa pilihan tersebut. Dan sesuatu yang negative dapat berujung positif jika mengenai Cinta, atau bahkan sesuatu yang positif dapat berujung negative. Kau dapat menjadi seorang monster atau seorang pelindung.
Ambisi mu atau keinginan hati mu?
.
.
Sejenak lelaki itu menatap pintu apartemennya, enggan masuk karena dia tahu dia akan bertemu dengan mereka. Dengan perasaan jengah dia memasuki istananya, derap langkah tidak sabaran itu menyapa indera pendengarannya.
"Okaeri Naru-chan!" sapaan riang itu menyambut kedatangannya.
Tidak ada jawaban dari lelaki rambut kuning itu, hanya menatap bergantian kepada sepasang suami istri yang berdiri menyambut kedatangannya.
"Kau sudah makan sayang? Kau mau Kaa-san buatkan ramen?" senyum wanita itu menghiasi wajah cantiknya, meskipun wajah lelah tercetak jelas di wajahnya.
"Pulanglah aku ingin beristirahat!" dia menolak tawaran baik Kaa-san nya dan hanya melewati begitu saja kedua orang paruh baya itu yang kini memandang sendu punggung anak tunggal mereka.
"Baiklah, kami akan kembali besok dan kit—." dia tidak sempat melanjutkan perkataannya karena putra kesayanganya dengan cepat menutup pintu kamarnya. "Huh… sepertinya dia masih marah dengan ku!" pria itu bersuara sedih dan kecewa dengan senyum muram.
"Tidak, aku rasa dia juga marah dengan ku Minato-kun, kita akan membahas ini besok. Ku harap Naruto mau mendengarkan kita." mencoba menenangkan suaminya, Kushina mengusap lembut punggung suaminya.
Setelah menutup pintu kamarnya dan mengakhiri perkataannya Tou-san dengan sepihak, Naruto duduk bersandar pada pintu kamarnya. Diakui dia merindukan dua wajah itu, bahkan sangat-sangat merindukan orangtuanya. Hanya saja dia masih jengkel serta belum siap bicara serius dengan kedua orangtuanya. Masih segar diingatannya bagaimana Tou-san nya menampar keras pipinya dan bagaimana Kaa-san nya tidak memberikan pembelaan untuknya. Dan alasannya juga mengenai gadis itu.
Lihat betapa idiot dan gilanya dia, bertahun-tahun dia terpuruk karena ulah gadis itu. Marah, kecewa dan sedih karena gadis itu. Lalu bagaimana dengan gadis itu? Dengan bangga dan angkuhnya dia menunjukkan dirinya di depannya setelah bertahun-tahun menghilang. Lebih menakjubkannya lagi dia membawa tunangan brengseknya, seakan mengejek dirinya saat ini. Lantas… haruskah dia membiarkan gadis itu melayang diatas langit dan meninggalkan dia di bumi dengan kekecewaan? Tidak… kau pasti sedang bercanda…
Drrttt…drrttt…
Getaran pada saku jasnya menarik minat lelaki itu.
'Aku menemukan profil lelaki itu, hanya saja tidak ada hal yang spesifik bagaimana dia bisa bertemu dengan Hinata. Jika kau menginginkannya aku dapat mengirimkannya untuk mu.'
Setelah membaca pesan singkat Shikamaru, Naruto melempar asal handphonenya keatas ranjang dan berjalan menuju kamar mandinya.
Satu persatu dia melepaskan benda yang melekat pada tubuhnya, saat merogoh saku celananya.
"Ini…!" ujarnya menatap benda mengkilat itu."Aku rasa kita akan bertemu kembali Hinata-chan!" dengan riang Naruto memainkan liontin milik Hinata di depan wajahnya. Dia hampir saja lupa bahwa dia mencuri… tunggu dulu, dia tidak mencuri benda terkutuk ini, dia hanya… ya…yang penting sekarang liontin ini berada di tangannya saat dia berciuman dengan Hinata.
Iris birunya memfrontal bulat, dia baru saja berciuman dengan Hinata, tanpa sadar dia meraba bibirnya dengan dua jarinya, mengusap dan menekan pelan seakan ingin meresapinya kembali. "Khuu… aku seperti remaja bodoh yang sedang kasmaran saja!" kekehannya seolah mengejek betapa menyedihkannya dia saat ini. Memutar kran, air mengalir deras membasahi setengah tubuh telanjangnya, dia masih setia menggenggam liontin itu. Jika diingat lagi ini adalah ketiga kalinya dia berciuman dengan Hinata. Pertama karena insiden bodoh itu, kedua saat pesta dansa menjijikan itu dan terakhir adalah hari ini. Tunggu Dulu….! Kuso…. ! Dia hampir saja lupa saat kejadian itu, dia dan Hinata juga berciuman.
"Hah….!" Helaan nafasnya terdengar kecewa.
"Khuu… Sepertinya kami tidak pernah melakukannya disaat timing yang bagus!"
Dibawah guyuran deras air Naruto mendudukan diri menyandar dan membiarkan dinginnya dinding menyapa punggung telanjangnya. Sambil mengayunkan liontin itu dengan lembut, dia meneliti bentuk liontin itu, terlihat sederhana tapi bila dilihat lebih jelas lagi ukiran pada liontin ini terlihat detail dan tidak diragukan lagi ini benda mahal.
"Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membiarkan dia bersama lelaki itu?"
"Bukankah dia berhak bahagia juga?"
"Bodoh… Sekarang aku bicara dengan siapa?" ujarnya melemah yang hanya menatap kosong lantai putih kamar mandi miliknya.
Entah sudah berapa lama dia duduk muram dibawah guyuran dinginnya air itu. Semangatnya yang tadi membara untuk memiliki Hinata menurun drastis, pikirannya kembali menerawang. Bagaimana mungkin dia mengabaikan reaksi Hinata saat acara tadi, kebahagiaan yang begitu jelas antara Hinata bersama tunangannya. Mata gadis itu seakan langit malam yang ditaburi jutaan bintang saat melihat lelaki itu, bahkan rona wajahnya terlihat manis dan lucu hanya dengan ungkapan kecil yang diberikan lelaki itu. Lalu bagaimana untuknya? Tatapan gadis itu kosong namun terlihat mengancam akan kehadirannya. Seakan memberitahukan bahwa kehadirannya hanya sebuah masalah yang harus dihindari.
Pandangannya kembali fokus pada liontin yang saat ini digenggamnya dengan lemah, ukiran kecil pada liontin Hinata tercetak halus nama lelaki itu. Apa yang diharapkannya? Namanya yang seharusnya berada di liontin ini? Apa arti memiliki Hinata bagi hidupnya? Apa Hinata adalah tujuan hidupnya atau hanya sebatas pelampiasan amarah atas kekejaman gadis itu? Terlalu lama dibayah guyuran air kulit tan lelaki itu memutih sempurna. Lelaki itu menengadahkan kepalanya dan membiarkan tetesan air menyakiti matanya. Ngilu didadanya kembali menghampirinya.
Semakin …. dan semakin…. sakit saja.
Otot rahangnya mengeras bersamaan dengan kepalan tangannya. Tanpa sadar lelaki yang dikenal dengan julukan tak terkalahkan itu menekan keras dadanya dan menyembunyikan manik biru lautnya dibalik kelopak matanya, tanpa ada yang mengetahui bahwa selama tujuh tahun sejak kepergian Hinata, dia…
Kembali menitikkan air mata….
"Hinataaa….!" Lirihnya lemah memilukan.
.
.
.
.
.
Sementara di kediaman Hyuuga.
Bulir-bulir air mengalir dari rambut kelam gadis itu, hanya duduk termenung di dalam bathtub besarnya enggan untuk beranjak meskipun suhu tubuhnya sudah mencapai batas karena terlalu lama berendam dalam air panas.
Ketukan pintu menyadarkan lamunannnya. "Tunggu sebentar Ino, aku berpakaian dulu!" jawabnya beranjak dari bathtubnya. Gadis atau yang sebentar lagi menyandang gelar nyonya Ootsutsuki itu menatap kosong cermin dengan pantulan tubuh berbalut jubah mandi putih.
Menghembuskan nafas dengan perlahan sambil menyisipkan beberapa helain rambut basahnya. Perlahan dia menyentuh leher putihnya, mengusap lembut lalu berubah kasar.
Kedua tangannya mengepal bersamaan dengan nafas memburu dikarenakan amarah yang kini mencapai tingkat tertinggi.
"Hinata…! Hinata…! Kau lama sekali!" teriak Ino sambil mengetuk kasar pintu kamar mandi Hinata. Dia takut Hinata tertidur di dalam bathtub.
"Sebentar Ino…!" teriak Hinata juga. "Ino-chan…! Bisakah kau mengambil pakaian ku yang diatas ranjang?" pinta Hinata.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino meneliti tubuh Hinata dari atas ke bawah.
"Hanya kedinginan saja, sepertinya aku tidak sengaja tertidur tadi." Dusta Hinata.
"Kau ini! Bagaimana jika kau sampai pingsan! Mau kubuatkan teh bagaimana dengan coklat panas!" tawar Ino mencoba beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu repot-repot Ino-chan, aku baik-baik saja. Aku hanya perlu beristirahat sebentar. Ah… Apa kau melihat Toneri-kun tadi?" memperbaiki sweaternya Hinata mendekati meja riasnya. Ia memilih sweater kerah tinggi untuk menutupi bercak pada lehernya, belum lagi soal liontinnnya yang hilang.
"Terakhir kulihat dia bersama Hiashi-san minum teh di gazebo Utara. Biar ku bantu!" Ino mengambil ahli hair drayer dari Hinata. "Ne… Hinata! Bolehkan aku bertanya sesuatu?" menghentikan sejenak, Ino menatap Hinata dari pantulan cermin.
"Soal Naruto?" tebak Hinata yang ikut menatap dari pantulan cermin.
"Ya… Mmmng, bagaimana aku menyebutnya ya?" Ino menimang apakah dia harus melanjutkan ucapannya. "Kau baru bertemu dengannya lalu dia… ya kau tahu…!" takut salah ucap Ino meminta izin melalui senyum kikuk.
Anggukan kepala Hinata sebagai tanda dia mengizinkan sahabat kuningnya untuk melanjutkannya.
"Apa kau masih memiliki perasaan untuknya? Kulihat Naruto begitu kecewa dengan pertunangan mu tadi." Lama berteman dengan Hinata, dia sedikitnya tahu bagaimana tingkah gadis itu. Sekilas dia melihat wajah senang Hinata saat Naruto mengamuk tadi, sesaat Naruto pergi meninggalkan taman…. Dia menangkap pantulan wajah sedih dari Hinata meskipun hanya seperti bayangan singkat saja.
Hinata memilih bungkam, dia hanya menatap lewat cermin.
Sebelum membuka suara Hinata menarik nafas dalam. "Menurut mu?" tanyanya membalas pertanyaan Ino. Dengusan halus Hinata menimbulkan pertanyaan di wajah Ino. "Jangan khawatir Ino, aku tidak memiliki perasaan pada Naruto lagi, kau tahu Toneri-kun adalah perioritas hidupku saat ini." mata Hinata menunjukkan dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Ha'i-Ha'i… wakatta-wakatta ne…!kau berhak bahagia. Jangan sakiti dirimu lagi dengan memikirkannya. Apa besok kita bisa memulainya?" tatapan serius Ino dibalas anggukan serius oleh Hinata.
.
.
.
.
"Kau sudah menemukannya?"
Gelengan Shikamaru mengalihkan pandangan Kakashi ke arah pasangan paruh baya yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Mungkin dia hanya ingin sendiri untuk saat ini, berita pertunangan Hinata mungkin membuat Naruto sedikit shock."
Merasa ini sudah diluar kapasitasnya, Shikamaru undur diri dari hadapan keluarga Naruto. Jari-jarinya dengan lihai mengetik baris-baris kata untuk Naruto. Memohon hingga mengumpat atas tingkah kekanak-kanakan Naruto.
"Apa Hiashi mengatakan sesuatu?" jujur Kakashi tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga Naruto. Namun bocah itu selalu membuat dia harus turut campur dengan apapun tingkah bocah itu. Dan kini dia harus kembali mengurusi perusahaan akibat ulah kekanakan bocah itu. "Jangan terlalu mengkhawatirkan Naruto, dia sudah dewasa saat ini. Dan kalian jangan menambah beban pikirannya! " Kakashi kembali menasehati pasangan itu lagi, jangan sampai mereka membuat kesalahan lagi lalu pada akhirnya Naruto semakin tidak mempercayai mereka.
"Naruto putra kami satu-satunya, ucapanmu seperti mengatakan kami tidak menyayanginya!" Kushina menaikkan nada suaranya. Dia benci disudutkan seperti ini.
"Sayangnya yang kulihat saat ini seperti itu! Kalian terlalu sering merahasiakan hal yang dicarinya! Dan sebagian ini akibat kalian berdua juga!" balas Kakashi menatap Kushina dan Minato bergantian.
Kesabaran Kushina mencapai batasnya, dia mengebrakkan meja nyaris menarik kemeja Kakashi jika tidak dihalangi Minato.
"Jaga amarahmu Kushina!" Minato membujuk istrinya untuk kembali duduk. "Kau terlalu berlebihan menuduh kami Kakashi! Sudahlah! Kita bahas hal ini lain kali. Yang penting bagaimana dengan Naruto dan perusahaan ini." mereka harus fokus saat ini.
"Lalu, apa tanggapan Hiashi?" Kakashi menyodorkan beberapa dokumen kehadapan Kushina. Wanita paruh baya itu bertugas menghandle bagian keuangan, krisis perusahaan membuat dia harus kembali turun tangan.
Minato menggeleng sebagai jawabannya."Hiashi tidak memiliki hak lagi atas kepemimpinan Hyuuga, bahkan saat ini dia akan meninggalkan Jepang lalu menetap di Inggris bersamaan dengan Hanabi yang melanjutkan studynya." Terang Minato ikut memeriksa tumpukan dokumen perusahaan.
Menemui Hiashi pun tidak mampu memberikan mereka harapan. Mantan pemimpin Klan Hyuuga itu hanya meminta maaf, bahwa dia tidak memiliki wewenang atas perusahaan Hyuuga lagi. Hinata dan Neji lah yang berhak sepenuhnya.
Deretan kata pada kertas itu menambah beban usia mereka bertiga, lama mereka tidak berurusan dengan masalah perusahaan membuat kepala mereka diputar. Selama ini Naruto menghandle seluruh perusahaan dengan benar, pusat hingga cabang semua terkendali. Namun tidak ada yang tahu kejutan di masa depan.
Niatan awal Minato dan Kushina datang ke Jepang hanya ingin menghibur putra tunggal mereka. Pertunangan Hinata adalah kunci kesedihan Naruto, pasangan itu berharap mampu mengurangi sedikit beban Naruto, setidaknya itu yang ada dipikiran mereka. Menghargai perasaan putra mereka, pasangan itu membatalkan menghadiri pertunangan Hinata. Tahu…! dari awal Minato dan Kushina mengetahui pertunangan Hinata bersama lelaki itu. Bujukan serta permohonan Hiashi membuat mereka merahasiakan semua dari Naruto. Pasangan itu juga harus mengembalikan keutuhan hubungan mereka dengan Naruto. Nekat menemui Naruto serta mencoba meminta maaf sempat berlaku kasar pada putra kesayangan mereka.
Hingga saat ini Minato bahkan Kushina sebagai Kaa-san Naruto tidak dapat membongkar masalah Naruto. Kakashi sebagai orang kepercayaan mereka pun tidak mampu. Sahabat Naruto? Mereka seperti lemari baja menyimpan rahasia Naruto. Selama beberapa tahun terakhir hubungan orangtua anak itu semakin renggang saja. Dan puncaknya saat Naruto begitu gigih memohon untuk membantu mencari Hinata. Ancaman dari mulut Naruto menyulut emosi Minato hingga akhirnya melukai Naruto. Itulah hari terakhir Naruto mengunjungi mereka hingga akhirnya Naruto selalu mengabaikan semua perhatian mereka.
Arah angin kini berubah menantang mereka, Naruto menghilang selama lebih dari tiga bulan. Tidak ada jejak atau pesan yang ditinggalkan. Klan yang selalu berada di puncak kejayaan perlahan runtuh. Bukan ulah musuh baru atau musuh lama, melainkan sekutu lama yang kini entah kawan atau lawan. Sang pemimpin baru klan Hyuuga sepihak memutus semua hubungan antar perusahaan. Kolega-kolega mereka satu persatu berubah haluan ke kubu Hinata. Proyek yang seharusnya di tangan Hokage Group beralih tangan ke Hyuuga Corp., ini berarti kebangkrutan yang tertunda. Tidak ada proyek tidak ada pendapatan. Begitu singkat Hinata menguasai pasar Jepang hingga dunia. Kemampuan sang pemimpin klan Hyuuga yang baru tidak dapat diprediksi.
Berulang kali melakukan pertemuan dengan Hinata. Dan selalu hanya menghasilkan adu mulut serta kelelahan mental. Gadis itu berdiri di puncak tertinggi dengan ideologi sekeras baja.
"Serahkan seluruh aset Hokage Group kepada kami, jangan khwatir kami memberikan kompensasi yang menguntungkan. Bukalah cabang di tempat lain, namun untuk Jepang… aku menginginkan Hyuuga Corp. tidak memiliki saingan berat seperti Hokage Group!"
Ucapan gadis itu seperti kutukan yang selalu terngiang di seluruh jajaran pemimpin Hokage Group. Sama saja Hinata menyuruh menjual pusat kepemimpinan Hokage Group, menjualnya sama hal dengan bunuh diri dengan tangan kosong. Mungkinkah ada perusahaan lain yang mau bermitra lagi dengan mereka jika pusat kepemimpinan saja bisa jatuh ketangan orang lain? Dengan jangka waktu begitu singkat pula?
Hanya satu bantuan yang dapat menolong krisis perusahaan, Naruto. Berharap dia kembali dari tempat pertapaan atau persembunyiannya, serta berharap Naruto memiliki serangan balasan untuk mempertahankan warisan turun-temurun keluarga Naruto.
Semoga… semoga saja Naruto memiliki rencana untuk mengalahkan Hinata. Jika tidak….
Tamatlah sudah…!
.
.
.
.
.
"Hyuuga-sama, ada surat untuk anda..."
"Mou… sudah berapa kali ku peringatkan untuk tidak memanggilku seperti itu! Kau seperti memanggil Otou-sama ku Ino!" meskipun demi menghormati jabatannya, Hinata tidak ingin dipanggil seperti itu oleh sahabat baiknya.
"Ayolah Hyuuga-sa— maksudku Hinata-chan, kau harus memahaminya. Aku tidak ingin menjadi pembicaraan jika sampai aku salah memanggilmu di depan karyawan lain." Setelah meletakkan sebuah surat, Ino beranjak duduk di sofa ruangan sang CEO. "Bukankah, sudah bukan zamannya lagi berkirim surat seperti ini? Kalian berdua pasangan aneh.!" Pukas Ino kemudian.
Gadis itu begitu matang mengambil ahli seluruh kepemimpin Hiashi dulu. Ide cemerlang serta strategi gerilya bisnisnya sungguh diluar ekspektasi, mengingat bahwa dia hanya seorang perempuan. Sehari setelah acara pertunangannya para tetua klan tanpa keraguan sedikit pun melantik Hinata menjadi CEO langsung Hyuuga Corp. bahkan tanpa memberi training pada Hinata.
Wajah serius Hinata beralih riang hanya karena nama sang kekasih tertera di sudut surat berwarna tosca. Jika mengenai Toneri, pekerjaan dapat menjadi urutan terakhir buat Hinata. Dia membaca antusias sambil cekikikan sesekali. "Ino-chan! Apa aku masih bisa membalas surat Toneri-kun?" Hinata tergesa-gesa mencari kertas warna dari laci meja miliknya.
Ino melirik jam tangannya, lalu menggeleng. "Besok saja! Aku yang akan mengantarnya langsung. Sebaiknya kau istirahat sebentar Hinata, ini sudah petang. Setidaknya makan sianglah!" nasihat Ino beranjak merapikan satu-persatu berkas yang menumpuk di meja Hinata, lalu beralih mematikan layar computer Hinata. "Kudengar orangtua Naruto datang menemui Hiashi-san?"
Hinata membalikkan kursinya menghadap jendela kaca dengan wallpaper pemandangan langit sore. "Otou-sama tidak ingin menceritakan secara detail, hanya saja Tou-sama menginginkan aku bijaksana dalam setiap keputusanku. Secara tidak langsung dia menginginkan Hokage Group dan Hyuuga Corp. tetap akur." Hinata menghela lelah. Ini urusannya dengan Naruto tapi tidak ingin sampai keluarga mereka sampai ikut campur.
Hinata ingin menunjukkan bahwa dia bukan gadis lemah yang selalu dapat ditindas. Dia juga ingin menunjukkan taringnya, lalu berbalik menyerang.
"Lalu apa tindakan kita selanjutnya?"
"Aku masih penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi sebaiknya kita jangan berhenti di tengah jalan. Lagi pula…" Hinata beranjak dari duduknya lalu menatap mantap pada Ino. "Dia mencuri sesuatu yang berharga dariku, Namikaze Naruto harus membayar setimpal atas perbuatannya." Gadis itu menggenggam erat liontin yang bertengger manis di lehernya.
.
.
.
.
Villa, pulau pribadi, hingga tempat yang kemungkinan akan dikunjungi Naruto pun tidak membuat mereka menemukan lelaki itu. Ponsel lelaki itu bahkan tidak pernah aktif barang sedetik atau sekedar memberi pesan bahwa dia masih hidup atau tidak.
Cukup egois, bodoh dan sangat keterlaluan mengingat jabatannya saat ini. Shikamaru kembali mengirimi e-mail atau voice mail kepada Naruto. Berharap Naruto dapat terpancing dengan e-mail umpatannya.
"Kemana kau Naruto bodoh!" Shikamaru kembali mengumpat di sela-sela kesibukannya. Tidak hanya dua kali lipat bahkan sekarang empat kali lipat tumpukan berkas yang harus diurusnya. Setiap saat kepalanya berdenyut keras mendengar deringan telepon. Baik dari orangtua Naruto, hingga semua kolega yang menanyakan….
"Apa Naruto sudah kembali?" rasanya dia ingin berteriak membalas mereka. Jika Naruto kembali semua pasti juga akan tahu, lalu apa ini? Mereka seperti bayi bodoh merengek menanyakan dimana Okaa-san mereka.
Drrttt…drrtttt….
Getaran ponselnya membuat Shikamaru bersemangat, semoga saja itu adalah…!
Kegembiraannya menguap seketika. "Ya, Gaara! Menurutmu jika melihat harga saham menurun dratis adalah hal biasa, ya aku baik-baik saja. Sekarang aku begitu merindukan wajah pemarahnya." kekehan dari seberang terdengar jelas di telinga Shikamaru. "Ada tanda-tanda darinya?"
Jawaban dari Gaara pun masih juga nihil. Mungkin jika dia menjadi Naruto dia juga akan menenangkan diri. Mungkin jika tidak memiliki mental kuat bisa saja Naruto menjadi gila.
"Shikamaru! Kau sudah menyiapkan semua berkas yang kita butuhkan?" panggilan itu menyentak Shikamaru dari lamunannya.
"Ha'i! Hatake-sama!"
"Kuharap Hinata mau mengubah pikirannya!" berjalan berbarengan, kedua lelaki ini menghapal doa yang sama.
Ini adalah musyawarah kesekian kalinya untuk mempertahankan perusahaan. Jika sampai ini juga gagal terpaksa mereka harus meyerahkannya kepada Hinata.
.
Shikamaru mempresentasikan ide baru Hokage Group lugas dan lancar. Berusaha meyakinkan bahwa kerja sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
Tampilan proyeksi telah dimatikan, lampu kembali dinyalakan. Wajah Minato memandang gugup Hinata yang duduk di hadapannya, gadis itu membaca teliti sambil sesekali melirik Minato. Bersamaan dengan Minato seluruh jajaran direksi juga memperhatikan wajah kaku Hinata, semua pergerakan gadis itu membuat nafas mereka tercekat. Aura ini adalah aura yang sama saat Naruto memimpin rapat. Mencekam…!
Genggaman Kushina yang duduk disamping Minato mengerat di balik meja. Dia cukup terkejut dengan perubahan sikap Hinata. Ini bukan Hinatanya yang dulu lagi, kemana perginya Hinata lugu yang selalu tersipu malu? Jika saling berhadapan mereka seperti tidak pernah terikat hubungan apapun dulu.
"Menarik! Saya cukup terkesan dengan proposal anda Namikaze-sama."
Helaan nafas lega serempak mengalir.
"Tapi…!" Hinata menutup proposal itu. Dilain pihak mereka kembali menahan nafas.
"Ini akan menimbulkan masalah baru. Lahan luas dan konsep asri selau akan menarik minat, saya akui konsep ini jauh lebih baik dibanding dengan perusahaan lain yang mengusung tema sama. Keakuratan perincian biaya pun sangat memuaskan. Hanya saja, lahan ini dulunya bekas pabrik cat." Ujar Hinata memberikan pendapat.
"Pencemaran tanah dan sisa limbah, maksud anda?" selidik Shikamaru yang masih berdiri di depan.
Anggukan singkat Hinata memacu pikiran jenius Shikamaru bertindak pengantisipasian.
"Kami sudah melakukan riset dan pembersihan secara keseluruh pada setiap inci lahan pun saat ini telah berlangsung. Hasil yang kami dapat pun cukup memuaskan, aman untuk dihuni." Menyerahkan map kepada Hinata. "Ini adalah hasil riset dari laboratorium Konoha." Lanjut Shikamaru.
"Bagaimana dengan questioner? Apa anda sudah melakukan wawancara kepada masyarakat langsung?" tanya Hinata menatap seluruh jajaran direksi. "Pertanyaan akan selalu timbul bagi calon konsumen kita. Meskipun penyaluran air kita berkualias tinggi, mereka pasti akan menanyakan bagaimana kualitas tanah untuk taman bermain anak mereka. Tidak hanya itu, kita membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembersihan.? Dan masih banyak lagi kendala yang harus kita hadapi."
Shikamaru memejamkan matanya erat, bagaimana mungkin dia lupa dengan wawancara langsung. Ini karena dia harus menangani persolan yang ikut merembet ke anak perusahaan dan beberapa cabang di luar Jepang. Akibatnya, dia kurang fokus mengurusi proposal ini.
"Kami menghargai semua usaha anda, hanya saja jika terlalu lama mempertahankan perusahaan ini. Itu dapat berakibat lebih buruk lagi!" Ino mengambil ahli dan mencoba membujuk kembali. "Kami dapat meningkatkan biaya kompensasi jika anda mengingikannya."
Persentase kepemilikan saham Hokage Group lebih besar pada Hinata. Ini diakibatkan karena kolega mereka menjual saham milik Hokage Group kepada Hinata. Dan sayangnya Hinata tidak ingin bekerja sama seperti Hiashi, melainkan mengambil ahli Hokage Group yang berada di Konoha.
"Apa anda ingin kami menaikkan biay—"
"Bahkan jika seluruh aset Hyuuga jual pun tidak akan pernah dapat membeli Hokage Group! Hyuuga-san!
Suara lantang menggema di ruang rapat, hingga membuat semua orang menoleh pada asal suara tersebut. Lelaki itu berdiri angkuh menyandar sambil bersidekap dada pada ambang pintu. Pakaian non formal itu menunjukkan dia tergesa-gesa atau sengaja memakainya. Kaos lengan tanggung dipadu celana jeans dan sepatu kets. Mereka yang melihat lelaki itu megeluarkan ekspresi kelegaan yang besar bersamaan dengan sorakan kemenangan.
"Namikaze-sama!"
"Naruto…!"
"Aku tidak ingin membuang waktu berbicara dengan orang yang tidak berwenang disini. Jadi… siapa orang yang paling berewenang saat ini." Hinata masih mempertahankan duduk tenangnya, tanpa menoleh sedikit pun kearah Naruto.
Seringai lelaki itu terlihat jelas, dia suka sikap angkuh gadis ini.
"Ah…! Gomennasai, saya yang bertanggung jawab sepenuhnya." Lelaki itu berjalan menghampiri Hinata dan berdiri tepat disamping tempat duduk Hinata.
Dia mencoba bersikap ramah.
"Namikaze Naruto, saya Direktur utama Hokage Group!" tangannya terjulur ingin menyalam gadis ini.
Sementara Hinata hanya memandang sekilas tangan Naruto lalu beralih ke wajah lelaki itu. Hinata memandang wajah Naruto lalu menyisipkan helainnya rambutnya kebelakang telinga, kemudian memandang lurus. Dia mengabaikan sapaan Naruto.
Kening Naruto berkerut keatas, tangannya yang tadi terjulur kini bersembunyi di balik saku celananya. Mencoba mempertahankan harga dirinya.
"Sepertinya kau sudah selesai dengan acara berliburmu Namikaze-san?" kalimat sinis itu membuat mereka yang bergabung dalam rapat ikut merasakan aura kemarahan gadis itu.
"Bukankah anda baru melangsungkan pertunangan. Apa liburan romantis anda juga sudah selesai Hyuuga-san? Atau kalian tidak membutuhkan liburan karena selalu melakukan hal itu setiap saat?" Balas Naruto tidak kalah sengit. Naruto menangkap sekilas wajah terkejut Hinata.
Rasanya Hinata ingin menjahit mulut kotor Naruto. "Anda terlalu lancang membahas masalah pribadi seseorang di muka umum, Namikaze-san!" geram Hinata tersenyum kearah Naruto.
"Kau yang memulainya!"
"Pertanyaan ku wajar jika melihat pakaianmu Namikaze-san!"
Tidak berani menyela, mereka hanya menyaksikan Hinata dan Naruto dengan bungkam.
"Jadi, bagai—" kalimat Naruto terputus saat Hinata berdiri dan membungkuk kearah Minato dan Kushina.
"Maaf, Namikaze-san. Saya tidak ingin berbicara dengan orang yang tidak menghargai waktu serta melupakan etika saat bertemu dengan rekan bisnis seperti anda." Pukas Hinata menunjukkan kekuatan kepemimpinannya. "Temui kami jika anda sudah siap dengan mental anda, Namikaze-san." Gadis itu berjalan angkuh melewati setiap orang.
Terlalu jauh, ini sudah diluar kapasitas kesabarannya. Otot rahangnya menekan kuat, manik sapphirenya berkilat marah. Diremehkan adalah hal yang paling dibencinya. "Takut atau kau telah menyerah untuk mendapakatkan perusahaan ku, Hyuuga!" suara berat Naruto bagaikan auman kemarahan. Mata lelaki itu bahkan memicing tajam pada punggung Hinata.
Hinata memutar tubuhnya, mengerjap beberapa kali meneliti wajah lelaki yang berdiri membalas gertakannya. Mudah terpancing dan tidak paham situasi. "Apa kau menyadari ucapan mu barusan Namikaze-san." Tenang dan datar, Hinata berusaha menutupi emosinya.
"Merendahkan seseorang bukan sikap bijaksana. Hyuuga-san!"
"Kulihat anda sendirilah yang merendahkan saya Namikaze-san, anda juga merendahkan orangtua anda bahkan seluruh bawahan anda sendiri dengan arogansi anda, sadarkah anda?" sesaat Hinata menangkap raut terkejut Naruto, bersamaan dengan orangtua Naruto dan seluruh bawahannya.
Suasana dalam ruangan mendadak hening, beberapa dari antara mereka menghentikan bisikan kecil. Hinata melirik jam pada pergelangan tangannya, lalu mengalihkan pandangan kepada Ino.
"Berdua! Aku ingin kita membahas ini empat mata!" permohonan Naruto membuat situasi sedikit tenang.
Gadis itu kini menjadi sorotan semua orang, menunggu reaksi Hinata.
Menoleh pada Ino, Hinata bertanya melalui tatapan. Anggukan mantap Ino sebagai penasehatnya membuat dia yakin.
Ketukan sol sepatu yang beradu dengan lantai membuat mereka mengikuti suara itu. Hinata mendudukkan diri. Menyadari bahwa Hinata memberi kesempatan lagi, satu persatu mereka meninggalkan ruangan rapat. Sebelum beranjak keluar Minato menepuk pelan pundak putranya memberi dukungan.
.
Tik… tik… tik…
Dentingan jarum jam mengiringi kebungkaman mereka.
Naruto membaca kembali seluruh presentasi pembahasan tadi, lalu beralih dengan perjanjian pengalihan aset. Meneliti dengan seksama setiap baris kalimat. Cukup besar dan tidak merugikan.
Plaakk…. Ia melemparkan map itu kehadapan Hinata, lembaran-lembaran surat perjanjian berhambur keluar dari dalam map. Beberapa nyaris jatuh di sisi meja.
"Aku menolak tawaran bodoh ini."
"Sepertinya kau juga tidak membutuhkan ini lagi!" tak disangka Naruto melempar asal liontin dari saku celananya kehadapan Hinata. Hinata masih mempertahankan posisi duduk menyilangnya. Melirik sekilas, menjulurkan tangannya meraih liontin pertunangannya yang asli. Selama ini dia memakai liontin duplikat untuk mengelabui semua orang terutama Toneri. "Kau membohonginya dengan liontin palsu itu!" Naruto menyeringai kecil meremehkan.
Hinata masih mengabaikan Naruto, sambil meneliti liontin yang ada pada genggamannya dia merogoh tas meraih sapu tangan putih. Mengelap setiap inci bagian liontin. Melepaskan liontin tiruannya yang diapakainya kemudian mengganti dengan yang asli.
Mata mereka kini saling bertemu, menyalurkan aliran kemarahan dari masing-masing pihak.
"Tidak diragukan kau bisa membohonginya, selama tujuh tahun kau juga berdusta dengan menggugurkan kandunganmu." Naruto bersuara memulai adu mulut. "Apa ini tabiat mu selama ini, berbohong seolah kau menjadi satu-satunya korban di sini? Mungkin saja kau memang menggurkannya." ia kembali memancing Hinata.
Dari seberang dada Hinata naik turun menahan ledakan emosi. Ia berusaha membendung, masuk kedalam perangkap Naruto tidak menguntungkannya. Dominasi ketenangan pikiran adalah kunci menang adu mulut.
Hinata hanya menanggapinya dengan tertawa sinis. "Jadi kau ingin mengatakan kaulah korban disini. Terlalu munafik menurutku untuk membalikkan fakta. Kau yang terlalu bodoh untuk menyadarinya atau ini memang sifat aslimu." Giliran Hinata membalik posisi. "Lelaki brengsek seperti mu tidak pantas menuduhku seperti itu. Jangan lupakan kau memperkosa ku Naruto!" ada genangan air mata pada pelupuk Hinata, ia nyaris gagal mempertahankan ketenangannya.
Lidah Naruto keluh untuk membalas, tenggorokkannya mengering singkat. Ingin rasanya Naruto berlari memeluk gadis itu. Meminta maaf menuduh dia dengan kasar.
.
Namun, decihan gadis itu menjungkir balikkan semua persepsinya dengan kilat.
"Cih… Sial! Riasan ku jadi berantakan." Hinata mengusap perlahan jejak air mata di pelupuk matanya.
Hinata memiringkan kepalanya dengan reaksi Naruto, tertawa sinis merendahkan betapa konyolnya wajah Naruto saat ini. "Kha..ha…!? Ah… ! Apa kau mengharapkan aku bereaksi seperti itu Naruto? Merengek meminta pertanggung jawaban?"
Reaksi Naruto masih sama, bungkam seribu bahasa akan keterkejutan.
"Kau mengharapkan aku seperti apa? Jangan kira setelah kau melecehkanku dan mencuri liontinku kau bisa membuat ku menderita. Liontin? Jangan kira hanya dengan masalah sepele seperti liontin ini merusak hubunganku dengan Toneri-kun. Dia lelaki bertanggung jawab, tidak seperti kau Naruto." setiap kata Hinata memberikan penekanan. Ia ingin menunjukkan siapa dia sekarang.
"Membohongiku, tidak-tidak… membodohi ku selama ini, apa ini cara pembalasanmu untukku?" teriak Naruto kasar memukul meja. Kursi yang sedari tadi di dudukinya terjungkal kebelakang.
Gadis itu melirik kesembarang arah lalu menantang tatapannya. "Kaulah yang bodoh dan ingin menyalahkanku?!"
"Jangan Hinata! Jangan sampai kau menyesal seumur hidupmu! Tarik kembali kata-kata mu?" Naruto bersuara nyaring mengancam. "Ini yang terakhir kali Hinata! Apa kau benar-benar menggugurkan kandunganmu?!" dengan mata tertutup, mengepal tangan ia berusaha bersabar. Ia harus mengetahui kebenarannya.
"Mungkin jika dia lahir, usianya sekitar enam tahun. Jika dia benar-benar lahir!" Hinata menikmati semua reaksi kaget Naruto. Tubuh lelaki tegap itu bergetar menahan serangan Hinata. "Menurutmu, anak laki-laki atau anak perempuam—"
Set….
Secepat kilat Naruto menghampiri Hinata, menarik erat kerah kemejanya. Tarikan kuat seakan membelunggu erat leher Hinata secara tidak langsung. "Dengar kau sialan, selama tujuh tahun aku seperti orang gila mencarimu. Kau kira siapa kau berani mempermainkanku?! Hah..!" teriak Naruto tepat diwajah Hinata, ia semakin mempererat remasannya.
Gadis itu masih tetap bertahan dengan sikap tenangnya. Tak terintimidasi bahkan tak gentar sedikit pun menghadapi lelaki buas dihadapannya. Berusaha melawan tatapan garang lelaki itu, meskipun kakinya hampir tidak menyentuh lantai lagi.
"Dasar kau pecundang busuk! Pecundang menjijikkan! Lepaskan tangan kotormu dari diriku!" teriak Hinata tidak kalah. Lama mereka beradu pandangan menusuk. Hingga Naruto melepaskan kasar tangannya, perbedaan kekuatan membuat Hinata terhuyung kebelakang saat Naruto melepaskannya kasar.
Keduanya menetralisir pernafasan, Hinata memperbaiki pakaiannya cepat. Berdiri kokoh menatap nyalang Naruto. "Betapa lancangnya kau! Beginikah cara mu menghadapi Otou-sama ku tujuh tahun lalu? Hah?!" nafas gadis Hyuuga ini memburu kencang.
Naruto meringis, ucapan Hinata mengiris ulu hatinya. Kata-kata Hinata mengoyak harga dirinya, tidak berharga dan dia memang pecundang. Lututnya mendadak lemas, tenggorokannya tiba-tiba kering tidak mampu membalas bahkan bersuara memberikan setitik pembelaan.
"Tangan dan kepalamu mungkin sudah melayang saat ini, ingat itu Naruto! Kau hanya pecundang dibalik tubuh besarmu." Melewati tubuh ringkih Naruto, Hinata berjalan memungut perjanjian kontrak mereka lalu mengoyak-oyak kasar kertas itu. "Sebaiknya kau punya alasan kuat dibalik arogansimu ini!" Hinata kembali memperbaiki penampilannya.
Sebelum beranjak keluar meninggalkan Naruto yang kini berdiri seperti batu rapuh, Hinata menoleh kearah Naruto. "Stelan mu cocok dengan mu Naruto, terlihat menyedihkan seperti keadaanmu sekarang!" bantingan pintu itu mengakhiri perdebatan mereka.
Sekelabat Hinata menutup pintu, teriakan amukan terdengar jelas dari dalam ruangan itu. Mereka yang menunggu Hinata dan Naruto tersentak dengan teriakan itu, menyusul dengan bunyi dentuman keras.
Ino mengekori Hinata cepat. "Kau memenangkannya Hinata!" ujar Ino yang ikut tersenyum bersama Hinata.
"Hubungi Neji! Kita akan menaikkan levelnya!"
Hinata membalikkan tubuhnya sesaat sambil memandang datar pintu ruang pertemuan itu dari kejauhan.
Genderang perang telah ditabuh.
.
.
.
.
To be continue
Penjelasan singkat:
Maaf…. Sekali atas keterlambatan saya…..
#Topik kali ini mengenai dilema yang dihadapi Naruto, dia telah memutuskan tindakan apa yang akan dilakukannya untuk Hinata saat dia pergi sejenak. dan tentu rahasia...
#Jika kalian bertanya mengapa Hinata begitu berbeda. Jawabannya cukup jelas. "hanya seorang wanita yang tahu betapa sakitnya dilecehkan" dan beberapa alasan lain yang akan saya kemukakan di ch depan.
#Saya tidak ingin membuat tokoh dalam ff saya terkesan kotor, tapi saya harus mengikuti tema dari awal.
#Saya kurang mahir membuat persoalan mengenai masalah perusahaan. Jika berkenan saya mohon bantuannya.
#Chapter ini dimenangkan oleh Hinata. seperti janji saya yang membuat peperangan mereka. Mungkin ch depan akan berubah scor atau mungkin juga seimbang. Tergantung reaksi kalian juga.
Terakhir….
Peluk dan cium bagi kalian yang mengharapkan kelanjutan ff ini. Terima kasih banyak atas semua review dan semangatnya, kalian membuat saya begitu bahagia.
Terimakasih banyak atas PM yang menggugah hati saya.
Berikan pendapat kalian atas ch ini, pemikiran kalian akan sangat membantu kelanjutan ff ini.
Jangan lupa gunakan bahasa sopan dan baik.
Sampai jumpa….
