Naruto Belong's To Masashi Kishimoto
IMPOSSIBLE TO RUN AWAY FROM ME
By Hinata Uzumaki Heartfilia
Rate - M
This fanfic not for adolescent even children
Whether It's Too Late To Apologize?
And
That Should Be Me!
.
Chapter 10
.
.
.
.
Tolong diabaikan bagi yang tidak bersangkutan, saya mohon…
My beloved friend Kyubi, as I Know.
Kau tahu?! Saat pertama kali membaca review kamu. Ya ampun, saya begitu takjub.
Takjub dengan keberanian dan ketidaksopanan kamu, dan kamu tahu sumpah serapah kamu begitu manis. Bahkan sampai membuat seluruh serangga penyuka rasa manis mati bertebaran dimana-dimana. Oh…!
Jangan lupakan, tantangan kamu saya terima. Saya tidak takut sama sekali. Toh! Mau kamu sampai jungkir balik mengancam saya, harga BBM dan Sembako tak akan pernah turun.
Saya ingin kamu membaca ini pertama kali, karena jika sampai kamu mereview alur ch ini, tandanya kamu mencintai ff ini dan tak tega melepaskan.
Dari comment kamu saya tahu kamu begitu terbawa alur dan jujur saya senang.
Saya masih berharap kamu masih mau membaca sampai akhir.
Namun jika kamu masih tetap keras kepala, ya itu terserahmu.
Lebih baik kamu memberi saran apa kemauanmu. Toh semua saran saya tampung.
Ok, itu saja sih…..
Saat dia yang kau inginkan dan kau impikan selama ini telah ada dihadapan mu, apa yang akan kau lakukan?!
Memeluknya erat dan tak akan pernah melepaskannya selamanya!
Berjanji akan membahagiakan dia selamanya dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk seumur hidup!
Menjaganya untuk tetap berada disisi ku untuk selamanya!
Bahkan aku akan mengikat dia disisi ku, membatasi semua gerakkannya tak akan, tak akan kubiarkan lari lagi!
Namun, bagaimana jika ini semua berawal dari kesalahan fatal yang kau lakukan, begitu menyakitinya hingga membuat air matanya tak dapat mengalir lagi?!
Bagaimana jika dia memberimu kesempatan kedua, bukan untuk cinta melainkan sahabat?
Bagaimana jika dia menginginkan kebahagian yang sempurna tapi bukan denganmu?
Sayangnya kau terlalu terlena dengan rasa luka yang diakibatkannya, hingga kau lupa untuk meminta….
Hinata maafkan aku…
.
.
Pasangan suami istri yang duduk dihadapan Naruto mencoba untuk menahan diri, meredam rasa penasaran mereka. Pangeran tampan mereka sepertinya belum dalam mood yang baik, ya meskipun selama ini Naruto memang selalu dalam mood seperti ini.
"Sayang, bagaimana dengan telur dadarnya kau masih ingin?"
Bibir Minato tertarik untuk menimbulkan senyum kecil diwajahnya melihat usaha istrinya, biasanya wanita cantiknya akan memilih kekerasan jika dia diabaikan.
"Gomen! Gomennasai!"
Darah pasangan itu berdesir hingga membuat hati mereka menghangat, bahkan Kushina tidak sanggup untuk menggenggam sendok ditangannya dengan benar.
"Hm, tidak apa-apa, asal kau baik-baik saja Kaa-san tidak menginginkan yang lain, he…he…he..!" Cengiran Kushina menarik minat Naruto ke level yang lebih baik yang ikut tertawa ringan.
Setelah hari kelam kemarin, Naruto tanpa penjelasan yang jelas meminta mereka untuk tinggal di apertemen miliknya. Sungguh kemajuan yang pesat, makan bersama, menanyakan kabar, bahkan sekarang Naruto mengkhawatirkan mereka. Sepertinya egonya sudah menurun.
"Maaf karena membuat kalian sangat khawatir dan ikut terlibat dengan masalah perusahaan. Aku hanya ingin menenangkan diri sejenak." Naruto tertunduk, merasa begitu bodoh akan tingkah kekanak-kanakkannya.
"Jangan terlalu membebani dirimu nak, kami keluargamu dan lukamu luka kami juga!" nasihat Minato menatap maklum putranya. Bagaimana pun ini juga salah mereka telah mengecewakan Naruto dengan menyembunyikan fakta Hinata.
Naruto menyisir rambutnya dengan jari-jarinya, tersenyum kikuk, tersipu malu karena dia selalu dimaafkan. Mereka larut dengan canda tawa, saling mengejek hingga menampilkan raut wajah jelek untuk menggundang tawa, hingga berakhir dengan pertarungan Naruto dan Minato memakan masakkan Kushina.
Hangat…! Inilah keluarga sempurna yang dimilikinya. Sedikit mengurangi rasa sakit luka dihatinya, setiap helaan nafasnya berhembus meringan.
.
"Jaga kesehatanmu, jangan terlalu sering memakan ramen! Jangan terlalu lelah dan ingat untuk beristirahat. Jauhi alcohol, hm!" Kushina tidak henti-hentinya berbicara, mengingat-ingat bahwa tidak kelupaan satu list pun. Menghiraukan mereka yang lalu-lalang mengingat jadwal padat bandara.
"Ooohh…!" sebelah tangan Naruto terangkat, gigi putihnya terlihat saat dia tersenyum lebar. Bertingkah layaknya anak kecil.
Minato menggaruk pipinya yang tidak gatal, kedua hartanya begitu bahagia. Sesekali dia membungkuk memohon maklum akan tingkah istrinya, mengingat suara Kushina yang terlalu semangat dan menimbulkan ketidaknyamanan para pejalan di bandara.
"Jika kau membutuhkan bantuan Tou-san, jangan segan-segan untuk menghubungi Tou-san!"
"Selalu kabari kami ya sayang!" tambah Kushina.
Shikamaru yang sedari tadi berdiri seperti patung berdehem untuk menyadarkan keluarga nyentrik ini. Ia menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, masih benar-benar diabaikan. Pramugari cantik yang sedari tadi berdiri menunggu mereka juga masih mempertahankan senyum lebarnya, dia bertaruh pasti bibirnya kaku saat ini. Mereka melenceng jauh dari jadwal penerbangan, jika bukan karena jet pribadi yang akan mereka tumpangi adalah milik Naruto, sudah dipastikan mereka akan diusir.
Lelaki itu berfokus pada pesawat yang akan lepas landas, memastikan orangtuanya berangkat selamat. Sorot matanya datar jauh berbeda dari tadi.
Bersama Naruto lama tidak menutupi kecurigaan Shikamaru, hanya orangtuanya yang terlalu naif untuk mengetahui emosi sesungguhnya. Sandiwara?! Bukan masalah memang, selama dia mampu menyenangkan hati kedua orangtuanya.
Tawa itu hambar dimata Shikamaru, terkesan dipaksakan.
Naruto yang ini lebih sulit dari Naruto beberapa bulan lalu. Bahkan ia harus memutar otak sekedar membuat pewaris Namikaze ini bersuara. Terlalu takut menanyakan masalah bisnis dan terlalu takut salah bicara. Ah...menyebalkan! Ia menggaruk kepalanya membuat Naruto yang menatapnya dari pantulan jendela kaca besar itu risih.
"Berhenti bertingkah bodoh!"
Kalimat Naruto menyentak Shikamaru, kini dia lebih salah tingkah tertangkap basah. Sifat pengeluhnya harus dikurangi.
"Toneri-kun!"
Nama dan suara itu mengiringi kebungkaman dua lelaki dengan tubuh membelakangi pemilik suara itu. Perhatian keduanya beralih kepada kekasih yang memadu rindu mesra melalui pantulan jendela kaca, tajam mendengar semua percakapan Hinata. Gadis Hyuuga itu antusiasnya hanya pada kekasihnya, membuat jarak pembatas beberapa langkah mengelabui posisi mereka.
Shikamaru hendak bersuara meminta respon langkah selanjutnya. Kalimatnya tak tersampaikan atas langkah panjang Naruto, berjalan tenang melewati pasangan itu.
Aroma tubuh Hinata tercium jelas di indra penciuman Shikamaru, ini sangat dekat! Naruto mengabaikan gadis ini seperti angin lalu…?!
.
.
.
Hokage Group Building.
Gesekan kertas terus menerus bagai bom waktu bagi mereka. Atasan dengan penuh kuasa meneliti cepat semua berkas, melempar asal hingga mengoyak kasar. Raut wajah kesalnya menambah ketakutan mereka.
"Bagaimana bisa kalian menghancurkan semuanya sesingkat ini? Apa gaji kalian tidak cukup? Haruskah aku memasang mata untuk kalian semua, hah!?" murka Naruto melempar semua dokumen.
Masih mempertahankan posisi membungkuk seluruh lelaki paruh baya itu menerima semua amarah atasan mereka. Bingung harus menjawab apa!
Pertama, jika memberi penjelasan sama saja mereka mengakui ketidakkompetenan mereka.
Kedua, jika memuji kecerdasan Hyuuga Hinata, dipastikan mereka akan mati.
Ketiga, meminta maaf sama hal dengan pencopotan jabatan, atau lebih buruk lagi.
Memilih bungkam sambil menampilkan raut bersalah adalah pilihan bijak. Berharap Naruto berbesar hati memberi kesempatan kedua.
Helaan berat Naruto menarik perhatian Shikamaru yang berdiri disampingnya. Sesekali Naruto menekan pelipisnya.
"Aku akan mengurus mereka jika itu dibutuhkan!" Shikamaru bersuara memberi penyelesaian, jangan sampai Naruto jatuh sakit.
"Tolong berikan kami kesempatan kedua Namikaze-sama!" mereka kembali membungkuk.
CEO muda itu membalikkan kursi rodanya, jengah atas bawahannya.
"Keluarlah!" usir Shikamaru.
"Terimakasih Namikaze-sama, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi!"
Isyarat dari Shikamaru membungkam mereka lalu melangkah pergi.
"Aku turut andil dalam masalah ini Naruto, kepercayaanmu tercoreng dengan kinerja burukku." Ia ikut membungkuk memohon maaf.
Lelaki itu melirik sekilas, ia hanya menanggapi dengan dengusan halus.
"Jika mereka berhak memiliki kesempatan kedua, bukankah kau lebih berhak?! Beberapa bulan aku menyelidikinya sudah sewajarnya dia mampu bertindak diluar pemikiran kita. Koneksi Hyuuga itu jauh dari prediksi ku." Terang Naruto menerawang jauh.
Berurusan dengan orangtuanya mampu membuat pusing, tidak dengan pertanyaan bodoh bahkan terkaan aneh mereka. Akhirnya dia memilih untuk menyendiri sejenak, benar-benar menyendiri, hati dan pikirannya perlu ditenangkan. Namun, semua hanya ilusi semata mencari ketenangan, bayangan gadis yang akan menjadi miliknya menarik semua perhatiannya secara paksa.
Masalah pertama telah selesai, berusaha meyakinkan kepada Minato dan Kushina semua terkendali agar mereka mau meninggalkan Tokyo secepat mungkin. Sederhana. para orangtua tidak perlu ikut campur.
Shikamaru tertawa renyah, ayolah! Rasa khawatirnya cukup berlebihan, si Namikaze yang satu ini masih kokoh walaupun ditengah badai seperti. Tenaganya yang terkuras memikirkan Naruto sia-sia hanya dengan jawaban sederhana lelaki ini.'Aku malas meladeni pasangan itu, mereka akan membuat rencana konyol. Lagipula aku berhak melakukan semauku!' jika dingat lagi dia masih egois untuk jujur, dan sialnya Naruto berakhir konyol dihadapan banyak orang. Prediksinya atas ketenangan Naruto saat ini hanya ada dua. Pertama, dia merelakan Hinata atau kedua bencana besar mungkin akan menyusul.
"Apa yang kau pikirkan, apa yang membuat mu tertawa!?" tanya Naruto kesal, apa Shikamaru mengejeknya.
"Tidak-tidak! Hanya saja aku teringat hal lucu semalam. Kau terlihat lebih santai sekarang."
CEO muda itu menanggapi dengan wajah datar. Ya sedikit tenang, karena berhasil mengamankan orangtuanya. Selanjutnya membalikkan posisi. Seseorang harus tahu dia membangunkan jiwa buasnya.
.
"Kalian menusukku dari belakang, sepertinya persekutuan ini akan berubah menjadi musuh!"
Keringat dingin mengalir deras dibalik stelan mahal mereka, hanya duduk menunduk. Dua orang dihadapan para petinggi perusahaan besar itu menekan jalur pernafasan mereka. Mungkin inilah akibatnya jika berani main-main dengan Naruto.
"Ka-kami, mak-maksud saya, saya tidak ingin mengkhianati anda Namikaze-san, hanya saja—" salah seorang dari mereka yang berkumpul bersuara memberi pembelaan.
"Kau mengakui kalian semua sepakat mau menghancurkan ku, hah?!" ujar Naruto mengintrupsi.
Ketakutan jelas dari raut wajah mereka. Mencoba melirik sebelah mereka masing-masing untuk mencari alasan yang bagus.
Shikamaru memandang layar tipis digenggamannya santai, mengabaikan kolega-kolega Naruto yang duduk kaku. Salah satu rencana Naruto untuk menyelamatkan Hokage Group yang kritis, menekan yang berani mencurangi secara jelas. Mengumpulkan semua mereka yang berani menjual kepemilikan saham hingga bagi mereka yang berencana menghancurkan Naruto.
Memberi maka kau akan menerima balasannya. Berkhianat maka kau akan menerima ganjarannya. Bisnis tetaplah bisnis. Sekutu atau musuh?! Ada ditanganmu.
"Kebaikan ku sepertinya hanya olok-olokkan bagi kalian! Kalian sendiri yang memutuskan hubungan kerjasama ini, bukan!? Dan aku menerimanya!" seringai Naruto menatap tajam.
"Bukan seperti Namikaze-san pikirkan, kami hanya khawatir atas kepergian Namikaze-san—"
"Namikaze-san!"
"Namikaze-san, Namikaze-san kami bisa menjelaskannya!" seluruh pria paruh baya itu berdiri mengejar Naruto.
Naruto berjalan tanpa sepatah kata, meninggalkan mereka dengan rasa kecewa.
.
Meletakkan segelas kopi, Shikamaru ragu mengusik Naruto. Sahabatnya terlihat sangat serius dengan kertas dihadapannya. Beberapa hari ini dia mengabaikan sekelilingnya begitu juga dirinya sendiri. Kejadian di bandara tempo lalu pun tak mampu membuat fokusnya menghilang. Biasanya Naruto akan mengamuk atau sekedar menghancurkan barang jika menyangkut Hinata. Amplop pemberiannya mengenai tunangan Hinata pun masih tersegel rapi. Apa ini artinya Hinata tidak berarti lagi bagi Naruto?
Merasa Shikamaru tidak beranjak, Naruto menghentikan laju penanya.
"Kau tahu Naruto?" Shikamaru memulai pembicaraan.
"Aku bingung melihatmu, kau yang tenang seperti ini membuat aku takut!"
Mendengarnya membuat Naruto mengerutkan kening lalu duduk bersandar.
"Takut atas sikap diam mu, semua tahu kau bertengkar dengan Hinata waktu itu. Kau keluar tanpa kata seperti semua tidak terjadi apapun." Shikamaru meletakkan amplop riwayat Toneri dihadapan Naruto." Bahkan kau mengabaikan ini, jangan lupakan bagaimana kau menghiraukan Hinata kemarin." Pada dasarnya Hinata adalah magnet hidup Naruto sekarang. Dia tidak akan segan-segan menurunkan banyak orang untuk mengulik informasi, sekarang ini diluar nalarnya. "Apa dia bukan tujuanmu lagi? Atau kau merelakan dia sekarang? Apa yang terjadi denganmu saat kau pergi?" rasa penasarannya harus dituntaskan sekarang.
Dari seberang meja Naruto menyamankan duduknya, topic ini menarik perhatiannya. Sebelah tangannya mengetuk-ketuk pena ke meja. Ia tertawa kecil.
"Apa kau ingat pertanyaanmu dulu?"
Mencoba mengingat kembali, Shikamaru menggeleng ragu.
"Jawabannya ya! Aku mengakui sekarang aku menginginkan Hinata. Huh!" kepalanya menengadah perlahan. "Bahkan sangat-sangat menginginkannya, aku rasa aku sudah gila sekarang! Kha-ha…" ia tertawa hambar. "Kebohongannya, keberaniannya, perubahan gadis itu dan jangan lupakan bagaimana cara dia menentang ku." Dia kembali tertawa.
Ayolah Naruto! Tidak ada yang lucu dengan ucapanmu. Shikamaru berfirasat buruk, dia bisa melihat kelicikan di muka Naruto. Tingkat keposesifan Naruto meningkat jauh. "Tidakkah menurutmu sudah terlambat untuk itu? Jika dia tidak terikat bersama seseorang, kau memiliki kesempatan." Shikamaru bersuara ragu, firasatnya buruknya diperkuat dengan seringai Naruto.
"Kau tidak akan…?"
"Kenapa Shikamaru? Kau terlihat ragu mengatakannya?" senyum Naruto semakin lebar.
Tangan Shikamaru menyilang cepat di dadanya "Wo-wo-wo! Tahan Naruto! Itu diluar logika, Namikaze Naruto pasti sudah gila!" tangannya spontan memijit pelipisnya
"Mungkin saja!" dia menyeringai senang.
"Tidak! Kau tidak boleh melakukannya!" sangkal Shikamaru cepat. "Kau bertingkah irasional Naruto! Itu sama saja kau memaksakan kehendakmu." Ia kembali memijit pelipisnya. "Lalu kenapa kau mengabaikan dia?" mendengar penuturan Naruto bisa membuat dia ikut gila.
"Biarkan kupu-kupu kecil kita bermain ditaman sejenak, saat waktunya tepat…." Naruto menjentikkan jari kuat.
Shikamaru menghembuskan nafas kasar, bagus! Sekarang dia ikut terlibat. Ah… ini akan melelahkan dan benar-benar….! Demi Naruto, kenapa tidak?!
Whether It's Too Late To Apologize?
And
That Should Be Me!
Yang benar saja!? Kau sedang bercanda?!
Naruto Namikaze tidak pernah menyerah.
Kau milikku selamanya.
Impossible to run away from Naruto, Hinata!
.
.
Menjabat sebagai orang terpenting di klan Hyuuga menyita hampir seluruh harinya, perusahaan, masalah klan, senangnya itu semua tidak terlalu sulit bagi gadis Hyuuga ini. Kehadiran kekasihnya, bahan bakar segar baginya. Beban dipundaknya meringan dengan canda tawa lelaki itu, sesering apapun dia mengutamakan pekerjaan dan melupakan janji mereka, tak ada kata mengeluh dari bibir kekasihnya. Detik bagai jam, jam bagai hari, hari bagai bulan semuanya berharga jika menyangkut Toneri.
Apakah ada yang lebih indah dari ini? Takkan kubiarkan orang lain mengusik cinta kami.
Kembali menyuruput tehnya, gadis dengan panggilan Ino itu tersenyum lucu memandang sahabat dihadapannya. Terkadang gadis ini akan tersipu malu, tertawa kecil bahkan sesekali tergagap menanggapai seseorang ditelepon.
"Apa yang dikatakannya?" tanyanya sesaat Hinata meletakkan ponselnya.
Hinata tersenyum kecil menyisipkan helain rambutnya. "Sebentar lagi Toneri-kun akan menjemputku, tunggu sebentar! Ino-chan bagaimana penampilanku saat ini!?" tergesa-gesa Hinata merogoh tasnya, cermin ditangannya bergoyang mencari posisi tepat untuk bercermin.
"Kau cantik! Lalu janji temu makan siang hari ini?" gadis itu menunjukkan dokumen kehadapan Hinata, wajah Hinata memelas membaca.
"Aku melupakan hal ini. Bisakah kau mengganti jadwalnya untukku Ino!" memasang wajah memohonnya, Hinata menyatukan kedua telapak tangannya.
Ino hanya mengangguk singkat.
Ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka, dengan cepat Hinata berdiri menghampiri seseorang yang datang.
"Apa aku mengganggu?" lelaki ini menyambut tangan Hinata, mengusap pelan.
"Kau mau kopi Toneri?" tawar Ino melangkah pergi memberi privasi.
"Aku juga!" sahut Hinata kemudian.
Ketiganya berbicara santai, saling melempar canda. Tak jarang Ino membuat pasangan ini tersipu malu. Tanpa mereka sadari sesosok lain datang mengusik.
Pintu terbuka cepat, keributan kecil menjadi suara penyapa.
Hinata dan Ino saling menatap aneh.
"Ma-maaf Namikaze-sama anda tidak—"
Tubuh tegap Naruto berdiri diambang pintu, wanita yang menghalanginya undur diri setelah melihat kode dari Hinata, membungkuk dalam sambil menutup pintu.
"Bukankah anda Namikaze-san?!" Tonerilah yang pertama membuka suara, ramah mendekati Naruto. Tangannya terulur menyapa Naruto.
Tak langsung menyambut tangan Toneri, Naruto memilih fokus pada Hinata. Dia hanya menunduk membalas Toneri. Muak melihat lelaki ini. Sementara lelaki berambut silver ini tersenyum maklum, rumor mengenai keangkuhan Naruto terbukti benar.
"Apa yang membuat anda datang tanpa janji seperti ini Namikaze-san?" sindir Ino. Lelaki ini masih tetap kokoh dengan sikap arogansinya.
Naruto memilih mengabaikan, berjalan santai dan tanpa aba-aba mendudukkan diri berhadapan langsung dengan Hinata yang diseberang meja. CEO cantik itu lebih mementingkan tumpukan kertas dimejanya mengabaikan aura gelap Naruto.
"Kau tidak lupa janji temu dengan ku, bukan Hinata-chan!?" tekan Naruto.
Hinata tersentak mendengar panggilan Naruto, menggelikan! Bahkan Ino dan Toneri memandang kaget Naruto.
"Seingat saya, kita tidak pernah membuat janji Namikaze-san!" sangkal Hinata tegas.
Lelaki diseberang Hinata bersidekap dada memandang tajam. Pikiran Hinata memilih menerawang, tidak ada gunanya berdebat. Teringat pembatalan kontrak tempo kemarin, Hinata menghela lelah.
Gadis itu berjalan menghampiri Toneri. "Kau mau menunggu sebentar Toneri-kun?" lelaki dihadapan Hinata tersenyum maklum. Sebelum beranjak dia meninggalkan kecupan sayang dikening Hinata.
Tangan Naruto terkepal kuat, moodnya memburuk. Detakkan jantungnya berpacu liar, darahnya berdesir cepat. Ia berusaha mengkontrol emosinya. 'Beraninya dia menyentuh milikku!' murka Naruto membatin.
Bisikan Ino samar ditelinga Naruto, berhati-hati akan kehadirannya. Deheman Naruto mengintrupsi keduanya mengakhiri bisikan.
Memilih menjauh dari Naruto, Hinata memilih duduk di kursi miliknya meninggalkan Naruto yang duduk di sofa, jarak mereka terpaut beberapa langkah.
"Perjanjian kita sudah batal Namikaze-san. Anda tahu itu!" terang Hinata.
Tubuh Naruto bersandar mencari posisi nyaman, menengadahkan kepala menghembuskan nafas lelah berulang kali. Kelopak matanya menutup perlahan.
Setelah beberapa saat Naruto perlahan membuka mata, ia melakukan peregangan disekitar lehernya, siap untuk bicara. "Hah….! Apa kau sungguh menyukainya?" ujar Naruto lemah. Paham ucapan Naruto, tubuh Hinata bergetar mendadak. Pandangannya perlahan meredup.
Bunyi jarum jam terdengan jelas, keduanya enggan memulai suara.
Hinata memulai duluan, tertawa nyaring seolah mengejek. "Jika…. tidak?" dari duduknya Naruto berdiri cepat. Saling menatap.
"Heh! Aku kalah, aku tidak mengerti jalan pikiran mu." gumam Naruto.
Gadis ini menatap gusar Naruto, senpainya ini masih suka mengusik hidupnya. "Kau tahu aku mencintainya, katakan keinginan mu sebenarnya! Itu saat kami di L.A.." jelas Hinata saat Naruto menunjuk salah satu pigura photo dia dan Toneri. "Kau membuang waktu ku!" menarik kasar dari Naruto, ia meletakkan kembali photo itu di tempat asalnya. Lelaki ini datang tanpa diundang, berani bertanya soal perasaannya. Dia kira siapa aku? Pikiran Hinata mengeluh kesal.
Udara disekitar Naruto dipenuhi aroma gadis ini, bahkan begitu kentara saat ini. "Parfummu, aku menyukainya!" gadis dihadapannya menanggapi datar. "Bisakah kau jangan menatapku seperti itu? Setidaknya…. Terseralah!" dia memalingkan muka, tak sanggup menatap mata dingin itu.
"Menyebalkan, berhenti bertele-tele Naruto!" umpatan itu lolos begitu saja.
"Akhirnya kau memanggil namaku, darimana kau bisa berbicara seperti saat ini?." Bibirnya tersenyum lirih. "Hyuuga dan Namikaze bukan hanya sebuah sekutu, ini melebihi aliansi yang dibentuk dari beberapa klan orangtua kita. Tahu batas dan aturan itu mampu membuatmu selalu di zona aman." Ia memberi kesempatan pada Hinata.
Bungkam, Hinata memilih berpikir sejenak. "Kau mengancamku? Haruskah aku takut?" balas Hinata sengit.
"Jika tidak, apa tanggapan mu?" ia balik bertanya. "Dulu dan sekarang kau masih tetap bodoh Hinata, maaf lupa mengatakannya!" Naruto dapat melihat raut frustasi gadis ini, biar pun dia masih mampu mengendalikannya. Kini fokusnya pada liontin jelek itu! Jengah, dia benci liontin itu bertengger manis di leher putih Hinata, benda itu harus segera dilenyapkan.
Suasana yang benar-benar membosankan, setiap kalimat sulit untuk membalas.
Kata-kata Naruto terdengar sederhana, namun itu masih tetap mengintimidasi melalui tatapan bola mata biru. Dari awal dia tahu apa maksud ucapan Naruto, lelaki ini merendahkannya. Menganggap sepele tindakannya, inikah serangan balasan Naruto untuk kemarin. "Kau, apa kau mengharapkan aku hamil waktu itu?" kali ini Naruto yang terlihat frustasi.
"Tidak! Jawaban pertama ku adalah tidak menginginkan kau hamil…" dia memberi jeda. "Tapi aku kecewa jika kau ternyata hamil, tapi menggugurkannya." Aku Naruto jujur.
Ngilu dihatinya bergetar kecil atas ucapan Naruto. "Aku bingung! Kenapa kau merendahkan dirimu untuk masalah ini! Sama hal sandiwara bodohmu semalam."
Hanya dua langkah Naruto dapat langsung menjangkau gadis ini, berdiri tepat dihadapannya. "Aku tidak bersandiwara, bagiku kebenaran dari mulutmu berharga untukku." Detak jantungnya berpacu menggebu, Hinata sangat cantik pada jarak sedekat ini. "Kita tidak saling memaafkan Hinata." Naruto mempersempit jarak mereka. "Awalnya aku berharap kau mau jujur memberi tahukan bahwa kau tidak pernah hamil, sampai berbohong menggugurkan kandunganmu. Namun, sepertinya benar dugaanku, kau ingin aku tetap tersiksa."
Lama mereka dalam kebisuan mencari jawaban lewat tatapan. Waktu seakan berhenti hanya untuk mereka.
"Hinata!" suara baritone Naruto menyentak Hinata. "Kuberi kau waktu satu bulan—" dia memberi jeda singkat "Tidak! Seminggu! Waktumu seminggu memperbaiki masalah yang kau timbulkan!" ancam Naruto.
Tatapan Hinata tetap kaku, responnya mengabaikan Naruto. Ia mendekatkan diri ketelinga Naruto. "Kuberi kau waktu tiga hari untuk menyerahkan Hokage Group! Ah… Namikaze-san… aku tidak takut padamu!" tantang Hinata, dialah yang menjadi ancaman disini, bukan lelaki bebal dihadapannya.
Punggung Hinata nyeri mendadak, tiba-tiba Naruto mendorong kasar dirinya ke lemari kaca. Pegangan kaca itu malah memperburuk punggungnya, Naruto menekan kuat. "Apa kau kira aku datang untuk bernegosiasi? Hah!" teriak Naruto, dinding peredam suara menyembunyikan suaranya dari luar. "Kau meremehkan kesabaranku, sebenarnya—"
"Kesabaran! Kesabaran kau bilang!?" laju nafas keduanya memburu cepat. "Bisakah kau menyingkirkan tanganmu!?"
Gigi Naruto saling bergemelatuk, wajahnya memerah menahan marah. Kesabarannya terkuras habis, gadis ini tidak terintimidasi sama sekali. Dia semakin mempererat cengkraman pada pundak Hinata. "Menikahlah… menikahlah denganku Hinata! Jadilah milikku!" getaran tubuh Hinata terasa jelas di tangan Naruto. Tubuh Hinata menegang, sebagian raganya seakan menghilang. "Ini bukan permintaan ataupun permohonan, dan kau tidak punya wewenang menolaknya!"
"Hah! Kha…ha…ha….! Menikah kau bilang?! Menikahlah dengan dirimu sendiri, jadilah milikmu sendiri!" ia tertawa nyaring seraya menggeleng berulang kali. Cengkraman lelaki itu terlepas, terganti kepalan tangan disisi tubuhnya. Dia ditolak mentah-mentah.
Bibir Hinata membentuk senyum lebar. "Bahkan bila kau menikahi seribu gadis didunia ini, tak satupun yang akan bahagia bersamamu, kecuali jika dia gila—"
Bibir Naruto beradu kasar dengan bibir Hinata, Naruto mencium Hinata kuat. Melumat pelan hingga melumat kasar, menggigit bibir bawah gadis itu menuntut masuk ke rongga mulutnya. Gadis dalam cengkramannya berusaha melepaskan diri memukul, menyubit hingga menendang tulang kering Naruto. Lelaki di hadapannya bagai batu tak terhenti sedikit pun, perbedaan kekuatan terlihat jelas. Akibat pasokan oksigen yang menipis di paru-parunya, ia hanya mampu melawan seadanya.
Tanpa sadar Hinata melenguh dalam ciuman Naruto. "Henggm…tikan Na—Naruto! Haah…!" atas kebutuhan oksigen Naruto melepaskan ciumannya, Hinata tak membuang kesempatan untuk menghirup dalam, belum puas bernafas, Naruto kembali menyatukan bibir mereka. Jengkel diabaikan Hinata, ia menarik-narik blazer Hinata tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
"To—Toneri-kun!"
"Jangan menyebut namanya dihadapan ku, Hinata!" desis Naruto. Naruto menarik kasar kerah kemeja Hinata yang membuat beberapa kancingnya terlepas dan menampilkan leher putih Hinata. Gadis dihadapannya tak mampu melakukan perlawanan sengit lagi dan hanya mampu menahan laju tangan Naruto menggenggam liontinnya dengan sebelah tangannya.
"Aku akan berteriak jika—"
"Lakukan! Keuntungan akan memihakku, mereka akan melihat kita seperti ini. Dengan begitu aku tidak perlu repot-repot." Wajah mereka begitu dekat, hingga dapat merasakan deru nafas masing-masing. "Haah….!" Melepaskan Hinata, Naruto menatap dalam Hinata. Gadisnya benar-benar berantakan, air mata gadis itu masih mengalir. "Ah… menyebalkan." Gumam Naruto memalingkan wajah.
Tap…
Nyaris saja, Naruto nyaris terkena tamparan Hinata jika saja dia tidak menahan pergelangan Hinata. Sebelah tangan gadis itu digunakan untuk menutupi lehernya, ah… dia melindungi liontin itu.
"Ini yang terakhir kalinya, kuberi kau seminggu menyelesaikan semuanya. Termasuk dengan Ootsutsuki, kau milikku dan akan tetap milikku!" bisik Naruto parau.
Naruto kembali membawa Hinata kedalam ciumannya, memagut perlahan. Gadis itu tak mampu melakukan perlawanan hanya membiarkan Naruto menikmati bibirnya, tangisnya kembali mengalir bahkan lebih deras.
Naruto membelai pipi gadis ini, mengusap air matanya perlahan. Masih berdiri menatap dalam wajah Hinata, sementara Hinata memalingkan wajah menetralisir perasaannya.
Tap…
Tangan Naruto melayang menjauhi wajah Hinata, tepisan kuat itu membuat dia kembali emosi. Santai memandang Hinata yang kembali berdiri tegap.
Hinata menyisir rambutnya dengan kedua tangannya, nafasnya berangsur-angsur normal. "Masih tetap brengsek!" ujar Hinata mengusap kasar bibirnya kasar. Tangannya kanannya melayang cepat hendak menampar Naruto. Terkesan sia-sia karena pemuda blonde itu menangkis cepat. "Lepaskan!" desisnya tajam.
Bukan melepaskan, Naruto malah mendekatkan telapak tangan Hinata menuju bibirnya, mencium telak telapak tangan Hinata. Terganggu dengan aksi Naruto, ia kembali mencoba menampar dengan sebelah tangannya lagi. Kembali menahan pergelangan tangan Hinata, Naruto kembali mengecupnya. Hasilnya pergelangan Hinata terkunci. "Jika kau sampai berhasil menampar ku, ingat ini! Kau akan berakhir diranjang ku!" bisik Naruto parau di telinga Hinata.
"Aku sudah pernah berada diranjangmu, tidak nanti bahkan sampai selamanya. Aku takkan pernah tidur diranjangmu!"
"Kita lihat saja nanti."
Hinata menarik kuat tangannya seraya mengusap pergelangan tangannya. Kepalanya mendadak menengadah akibat Naruto menarik lembut kerah kemeja.
Cup…
Naruto mengecup kening Hinata. "Hei! Jangan sampai dia menyentuhmu lagi!"
"Kau—" kata-katanya tak tersampaikan karena Naruto menarik liontin itu terlepas dari lehernya.
"Apa yang!? Kembalikan! Kembalikan!" perbedaan tinggi yang jauh membuat Hinata sulit menjangkaunya. Ia sampai berjinjit.
"Ungu!" seringai Naruto lucu memandang kebawah.
"Ah…!" Hinata berteriak kecil, paham akan perkataan Naruto. Pakaian dalam atasnya terlihat. Gadis malang ini cepat menyilangkan tangan di depan dada. Bagus! Dia dilecehkan lagi.
Mengambil langkah cepat Naruto menjauhi Hinata. Ingat akan liontin pertungannya ia mencoba mengejar Naruto. "Kau yakin akan keluar?" kata Naruto. "Dengan penampilan seperti itu?" Naruto berdiri diambang pintu hendak membuka.
Memasang wajah cemas Hinata mencari blazernya, tangannya terhenti hendak meraih. "Ah, ya Hinata! Stelan mu cocok dengan keadaanmu sekarang, sungguh menyedihkan! Seminggu ingat itu!?" Sambil mengedipkan mata Naruto berlalu pergi.
Diluar terlihat Toneri berbicara bersama Ino, melihat Naruto keluar keduanya menghampirinya. "Kau! Sekretaris Hinata kan?" Ino mengangguk ragu. "Sepertinya Hinata membutuhkan minum hangat!" setengah hati Ino menuruti Naruto. "Enak sekali dia memerintahku!" bisiknya pelan. Ya meskipun dia tidak bisa menolak mata biru mengkilat milik Naruto.
"Sepertinya Hinata menjatuhkannya." Ia menyerahkan pada Toneri. Raut terkejut jelas diwajah lelaki berambut silver ini, terlihat menyenangkan dimata Naruto. Toneri menerima bingung. Seingatnya tadi Hinata menggunakannya.
Selepas kepergian Naruto, Toneri buru-buru menemui Hinata. Pintu yang mendadak terbuka menampilkan Hinata, Toneri menarik lembut tangan Hinata untuk memasuki ruangan dan menutup pintu. "Ini, Namikaze-san menyerahkan tadi!" bola mata Hinata memfrontal jelas.
"To-Toneri-kun!" ia bersuara sedih hendak meminta maaf.
"Jangan berwajah seperti itu, aku tidak akan marah. Kemarilah aku akan memasangkannya." ujar Toneri memberi isyarat memungguinya.
"Toneri-kun, menurut mu aku wanita yang lemah?" mendengarnya membuat Toneri membalikkan tubuh Hinata.
"Dia mengancam mu?"
Hinata mengangguk menjawab.
"Kau ingin—"
Kalimat Toneri terhenti atas gelengan cepat Hinata. Lelaki itu hanya mengangguk maklum.
"Dan kau takut?" lanjut Toneri.
Hinata hanya terdiam, kemudian menarik nafas dalam. "Tidak!" jawabnya mantap.
Melihat Hinata yang masih sedih Toneri membawa Hinata kedalam pelukannya. "Jangan biarkan dia mengintimidasi mu dan aku akan membantu dengan seluruh kekuatannku." Dalam dekapan Toneri, Hinata mengangguk seraya mengeratkan pelukannya.
.
.
.
Didalam kamarnya yang mewah dengan dominasi warna orange, lelaki penyandang gelar CEO Hokage Group itu membaca serius…
Biodata Toneri.
Hasil yang dia temukan benar-benar tak berguna. Dari informasi yang diberikan Shikamaru, tunangan Hinata termasuk salah satu klan tertua di Jepang yang kini berpencar di seluruh Negara. Dan hanya beberapa menetap di Jepang dan itupun termasuk jarang ditemukan. Yatim piatu lalu beberapa informasi yang tak penting. Oh…! Jangan lupakan profesi lelaki itu.
Seorang terapi kejiwaan dan dosen Psikologi di salah satu Universitas di Negara Kincir Angin.
Sambil mengaduk botol pil obat tidurnya, ia tertawa kecil. "Aku tidak membutuhkan ini lagi." Botol itu berakhir di tempat sampah. Menyamankan diri di kasur besarnya, senyumannya tak pernah pudar hingga akhirnya ia terlelap kealam mimpi.
.
Di tempat lain seorang gadis menggunakan piyama putih memandang datar beberapa pil ditangannya. Menelan cepat dan mencoba untuk dapat terlelap.
.
.
.
The End
.
.
.
…
.
.
.
Untuk chapter ini
.
Next chapter, be patient
Terima kasih atas semua respon positif dan semangat yang kalian berikan.
Kata-kata lucu sampai emosi lucu yang kalian utarakan. Sederhana, tapi berharga bagi saya.
Meskipun tak dapat menyampaikan rasa terima kasih satu persatu, nama kalian semua tersimpan di folder pribadi saya.
Ok…
Penjelasan singkat, bagi kalian yang bertanya dan masih bingung atas kehamilan Hinata, atas ch ini saya harap kalian dapat menemukan jawabannya. Ya dia tidak hamil dan sama sekali tidak menggugurkan entah apa pun itu.
Oh ya! Kalian tahu saya juga berterima kasih kalian mau follow dan favourite ff Naruto x Hinata saya yang pertama. Kebetulan juga ff debut saya.
# spoiler for next chap…
Fokusnya akan pada Hinata dan Naruto, baik keadaan mereka yang sebenarnya. Dan juga perjalanan kisah Hinata bersama Toneri. Ya next berkaitan dengan flashback.
Membungkuk dalam karena saya tidak bisa update cepat. Maklum, sebentar lagi saya menjadi senior tertua. Skripsi dan segala atributnya menanti saya.
Akhir kata….
Tidak menerima tebaran kebencian… menerima masukan bahkan itu begitu tajam.
Tapi ingat! Anda punya hati, saya juga. Anda punya pikiran saya juga. Anda dapat sedih begitu juga saya.
Menghargai sesama itu, penting loh….! ^-^ he…he…he…
Hiuzulia, undur tangan….
Aku berdoa semoga Naruto tidak meninggal dalam Boruto Adventure….
