I Don't Hate You But I Really Hate You
Impossible Run Away From Me
Chapter 11
Naruto the one and only belongs to Masashi Kishimoto
But this story is Mine
Call me Hiuzulia
.
.
.
Rate-M
This fanfic not for ADOLESCENT even CHILDREN
I WARN YOU!
.
.
.
Why I really hate you?
Kesampingkan semua logika dan akal sehat mu. Guys, it's about love…
Jam dan cahaya mentari kentara jelas menunjukkan waktu sore, lelaki itu mendang sekilas pergelangan tangannya lalu kembali melirik benda berdetak di dinding. Hanya memastikan bahwa tidak terjadi kesalahan dalam pengaturan sebenarnya. Kegelisahan semakin mendekatinya, matanya fokus pada layar yang menampilkan beberapa deret gambar. Kuku jarinya semakin menekan erat layar persegi panjang bersamaan dengan nafasnya yang memberat.
Ruangan kantor Naruto membisu, si pria kuninglah yang sedari tadi mengumpat. Dia bahkan mengabaikan mereka yang datang mengunjungi dirinya dengan tingkahnya sedari tadi.
Braakkk… masih tetap diam meskipun suara bantingan terdengar keras.
Kerusakan pada benda itu dipastikan permanen.
"Oi…!Naruto-sama kau harus mengganti itu!" sebutan itu belum juga meredakan temperamen lelaki yang saat ini berdiri memandang lantai. Amarah di matanya semakin menjadi hanya dengan membayangkan bagaimana wanita itu menyentuh pria busuk itu. Menghela lelah Kiba sang pemilik ipad terpaksa mengalah "Huh! Lihat tingkah mu itu, kau masih belum bisa mengendalikan amarah mu, jangankan aku Hinata juga pasti lari jika melihat tingkah mu." bukan mencoba meredahkan Kiba malah memperunyam. Jangan salahkan dia, ipad itu baru dia beli tadi, bukan salahnya melihat Hinata dan tunangannya bercumbu di parkiran bukan! Dia hanya mengambil gambar untuk referensi Naruto saja, mungkin?
Mereka yang datang bersama Kiba memandang jijik lelaki itu, sementara tersangka utama hanya menyakal mengangkat bahu. Mulut besarnya harus di jahit. Bukan ide bagus memperlihatkan foto gadis itu bersama tunangannya terlebih lagi saat momen intim seperti itu dan si bodoh Kiba tidak bisa baca situasi. Sang tuan rumah belum juga reda dari amarahnya, sebelah tangannya menutupi penglihatannya. Pose Naruto ketika frustasi. Menyedihkan sekaligus menyebalkan. Dan mereka semua hanya bisa menghela nafas menunggu Naruto tenang.
"Naruto tenangkan diri mu. Kau berutang penjelasan pada kami!" Gaara membuka percakapan diantara mereka yang memilih bungkam. Sesungguhnya mereka masih marah, lebih tepatnya kecewa pada sahabat mereka yang satu ini. Tidak dianggap! Ya mereka meyakini Naruto butuh ruang waktu itu, tapi bukan berarti Naruto mengabaikan mereka, bagaimana pun mereka adalah sahabat. Kapan pun dan dimana pun bahu bahkan nyawa mereka siap untuk membantu Naruto.
Shikamaru yang berdiri di ambang pintu sambil bersidekap mengangguk setuju pada Gaara. Di bandingkan yang lainnya Gaara cukup tenang dalam situasi seperti. "Berhenti melihat jam Naruto! Mereka tidak mungkin masih disana. Narr—"
"Aku bisa menyingkirkan pria itu, jika kau mau!" pria rambut oranye disudut memotong cepat dengan ide briliannya. "Kau benar Pain! Kita bisa menyikirkan semua orang yang menghalangi jalan Naruto. Bagaimana dengan kau terlebih dahulu yang disingkirkan!" jawab Kiba mengejek. Terkadang lelaki satu ini butuh arahan atas ide mengerikannya. Bahkan hampir lima tahun mengenal lelaki yang mereka temui di Universitas itu, belum juga membuat mereka paham atas pemikiran ekstrimnya. "Apa aku salah?" dengan wajah datar Pain bertanya mencari dukungan.
"Aku membenci mu!"
"Hah?" mereka saling memandang memastikan apa mereka salah dengar.
"Aku benar-benar membenci mu!" ulang Naruto lagi masih membelakangi mereka.
Dari raut wajah Naruto menjelaskan makian itu bukan untuk mereka. Melainkan untuk cinta tak terbalas Naruto. Terjebak dalam karma sendiri.
"Lakukan!"
"Tunggu Sasuke aku tidak mengerti?" ujar Kiba memastikan. Lakukan untuk apa?
"Aku setuju, lakukan. Aku siap kapan pun." Timpal Sai setuju.
Shikamaru mengangguk melihat tatapan bertanya Gaara. Sekarang mereka meyakini ucapan Shikamaru, Naruto telah kembali. Kembali memiliki tujuan untuk hidup.
"Revenge!" jelas Shikamaru singkat.
Sudut bibir Naruto menyeringai jelas. Pancaran kegilaan Naruto membuat mereka ikut tersenyum.
Kepemilikan mutlak merajai diri Naruto, keinginan menggebu mememiliki Hinata menjadi kepentingan utama saat ini. Terlihat gila untuk mengakuinya saat ini. Siapa yang tahu akan menjadi seperti ini. Sosok yang dulunya hanya jadi pemeran piguran menjadi tokoh utama.
.
Gadis indigo dengan apron yang melekat pada tubuhnya menutup pintu perlahan dan menuju dapur. Beberapa piring masih bertengger pada counter meja. "Bagaimana?" sosok Ino muncul dari balik tangga. Hanya mengenakan piayama kendur dan sandal berbulu terlihat manis. Suara tawa dari bawah mengusik jadwal tidurnya tidak terlalu namun cukup mengganggu. Hinata dan Toneri sedang bermain rumah-rumahan, belajar menjadi suami istri yang baik mungkin. "Toneri-kun baru saja pulang, kami mengganggu ya?" tangan Hinata telaten membersihkan kotoran pada meja. "Minumlah!" segelas teh tersaji dihadapan Ino.
Ino menghirup dalam aroma teh hijau dengan gelas bermotif sakura. "Teh kelas bangsawan benar-benar berbeda." Menenangkan dan segar.
Sesekali Hinata melirik Ino yang duduk terkagum dengan teh buatannya, setelah menekan tompol power pada dishwasher dia ikut bergabung.
Mereka hanya tinggal berdua di manshion sederhana milik Hinata dan tidak ada maid untuk membantu. Rumah Hinata yang lama terlalu besar untuk ditinggali berdua, maid disana juga terlalu banyak untuk mengusik semua privasi mereka. Orangtuanya dan Hanabi sudah menetap di Inggris untuk menemani si bungsu. Terbiasa hidup berdua ujarnya meyakinkan orangtuanya dulu. Tidak ada yang lebih selain seorang penjaga yang mengawasi rumah. Serta Toneri yang berkunjung sesekali.
"Istirahatlah, aku akan membereskan sisanya." Ino mendorong Hinata untuk menyusuri tangga. Hinata mengangguk berjalan pergi.
Gadis itu mendudukkan diri di ranjang besarnya, pikirannya kembali menerawang. Dengan sigap dia membuka handphone miliknya. Smartphone miliknya menunjukkan email yang telah di baca. Sebuah pesan ancaman tanpa pemilik nama yang tidak lain berasal dari Naruto.
'Waktu mu tinggal enam hari lagi, bukankah aku menyuruhmu untuk menjauhinya? Semakin kau membangkang kau akan semakin menyesal.'
Kini Hinata sadar sepenuhnya Naruto adalah lelaki bertubuh besar dengan sifat kekanak-kanakkannya, dia tertawa remeh kembali saat membaca pesan itu. Baginya pesan itu terlihat kaku serta terkesan seperti pengecut. Jarinya mengetik cepat membalas.
'Waktu mu tinggal enam hari lagi, bukankah aku menyuruhmu untuk menghilang dari hadapan ku? Semakin kau membangkang kau akan semakin menyesal.'
Setelah mengirimnya untuk Naruto, dia mengirim pesan singkat untuk Ino.
.
Naruto menghentikan meminum wine miliknya, smartphone miliknya mengusik ketenangannya. Wajahnya heran memandang nama sang pengirim. "Ada apa?" tanya Sai mengisi gelas Naruto yang hampir kosong.
Naruto tertawa keras membaca pesan dari Hinata sebelah tangannya memijit keras pangkal hidungnya kesal. Wanitanya memilih untuk melawan dan balik mengancam. Semakin dia melawan semakin terlihat menggairahkan baginya, wanitanya terlihat semakin seksi.
"Menarik!" seringainya sambil membalas pesan Hinata. "Dari Hinata, wajahmu kentara sekali." Sasuke berujar lucu, wajah sahabatnya begitu bercahaya jangan lupakan bagaimana api membara di matanya. "Oh, Naruto kau seperti baru pertama kali menerima pesan dari wanita." Yang lain ikut menimpali. "Aku mau turun, wanita itu sedari tadi melirik kearah kita. Biar aku saja yang meladeni menari dengannya." Kiba beranjak akan pergi ketika tangan Naruto mencekalnya.
Semua heran dengan tingkah Naruto. "Kenapa? Kau ingin bermain dengan mereka, ini bukan dirimu?" Gaara ikut melirik arah wanita tujuan Kiba, wanita licik yang hanya ingin kenikmatan satu malam.
Naruto mendecih jijik. "Mereka bukan tipe ku, jangan ada yang beranjak dari sini sedetik pun. Wanita ku akan datang, aku ingin kalian memasang mata mengawasi pria brengsek yang akan mengganggu wanita ku nanti."
"Eehh—" semuanya terkejut mendengarnya, Gaara bahkan harus melap kemejanya yang terkena tumpahan whisky milik Kiba, sialnya dia tidak bisa pergi ke kamar mandi akibat death glare dari Naruto.
Naruto beranjak dari duduknya menuju kamar mandi, dia sedikit mabuk. Tidak baik menemui Hinata dalam keadaan berantakan seperti ini, belum lagi aroma mulutnya berbau alcohol. Setidaknya dia harus mengurangi dengan sedikit berkumur.
"Mendokusai-na! Sasuke kau mau kemana?" Shikamaru ikut beranjak menghentikan Sasuke, jika sampai Naruto melihat mereka tidak becus mengawasi Hinata, mereka semua akan kena masalah. "Aku akan menunggu Hinata diluar." Shikamaru kembali duduk setelah mendengar penjelasan Sasuke, pria dingin yang satu ini cukup cerdas.
Dentuman music semakin keras, aroma rokok dan alcohol memperparah club malam untuk kalangan atas itu. Meskipun ini untuk kalangan atas, tidak jarang dari antara mereka membuat kegaduhan seperti hewan. Merebut wanita milik orang lain atau bahkan berkelahi karena masalah sepele.
Ino kembali menutup pintu mobil saat tiba di tempat parkir. "Aku akan mematahkan leher pria itu, lihat saja nanti." Kalimat makian lolos begitu saja dari mulut wanita dengan rambut pirang yang masih setia memandang jijik sepasang kekasih bercumbu di hadapan mereka. "Apa mereka tidak tahu ini ruang public?" dia menekan klakson berulang kali untuk mengusir pasangan bodoh itu. Kesal diganggu, lelaki dan wanita itu menjauhi mobil Hinata dengan wajah marah sambil mengacuhkan jari tengah.
Lelaki penyandang gelar CEO Hokage Group itu menantang Hinata untuk menemuinya langsung. Sebuah club elit di pinggiran Konoha. "Kau yakin ingin masuk Hinata-chan? Bagaimana jika seseorang melihat kita." Bisa gawat apabila orang melihat mereka berada di tempat yang tidak seharusnya. "Jangan khawatir, tempat ini bersih dari pengganggu." Hinata menunjuk pada beberapa pria bertubuh besar yang berkeliling.
"Ara, jumlah mereka banyak sekali. Hi-Hinata-chan bukankah it—" Hinata mengiyakan pertanyaan Ino, selebriti kenamaan Konoha. Salah satu tempat teraman untuk menghabiskan uang dan kejenuhan.
Seseorang mengetuk kaca mobil mereka, saat Ino menurunkan kaca mobil mereka wajah Sasake lah yang tampak. Pria itu merendahkan tubuhnya agar dapat melihat Hinata. "Hisashiburi Hyuuga-san!" sapa Sasuke datar, Hinata mengangguk membalas. "Kalian hanya berdua?" Sasuke takjub dengan keberanian kedua gadis ini.
Ya, mereka hanya datang berdua, berbekal pakaian sport dan masker wajah menutupi mulut mereka. Hinata menguncir rambutnya takut aroma busuk dari tempat itu mengotori rambut indahnya sementara Ino memilih memakai topi. Awalnya Sasuke ingin tertawa keras melihat kekonyolan kedua gadis itu, mereka seperti selebriti menghindari kepungan paparazzi, dia mempertahankan tawanya dibalik sikap dinginnya. Benar-benar polos, seperti dua ekor kelinci memasuki sarang serigala. Dari jauh Sasuke menangkap sosok yang membungkuk kearahnya, suruhan Naruto untuk mengawal Hinata dan gadis itu, Naruto tidak main-main dengan wanitanya. Terbesit di pikirannya apa yang akan terjadi jika wanita ini tidak bisa dimiliki Naruto dan hal itu tidak boleh terjadi, dia siap menjual dirinya untuk Shinigami asal Naruto tetap hidup.
Keduanya memasuki club dipandu oleh Sasuke, alkohollah yang menyapa mereka pertama kali. Ketika mereka melewati belokkan, seorang pria terkapar di hadapan mereka wajah pria itu babak belur, perkelahian di dalam club. Sasuke melirik sedikit memastikan kedua wanita itu baik-baik saja dengan yang mereka lihat. Menarik! Benar-benar menarik! Ino dan Hinata melewati pria itu dengan acuh tak terlihat takut bahkan cemas. Keduanya seperti tidak melihat apa-apa.
Ino meremas jari-jarinya kuat, dia membutuhkan peregangan sebelum beraksi. Mungkin saja nanti di luar kendali dan dia sudah siap akan hal itu. Gadis dengan kunciran rambut itu menatap lurus kedepan, dia juga sudah siap untuk bertarung jika itu dibutuhkan. Kedua gadis itu meneliti seksama setiap ruangan yang mereka lalui, hal utama yang harus mereka ingat adalah rute perjalanan mereka. Jika semua tidak bisa dikendalikan keduanya siap untuk berlari. Takut? Mereka tidak takut sama sekali, hal ini karena keduanya dibekali kemampuan bela diri di atas rata-rata. Hanya saja mereka harus tetap waspada. Kekuatan lelaki berbeda jauh dengan mereka.
'Jika mereka sampai macam-macam, aku akan mematahkan leher mereka!' Hinata dan Ino membatin yakin. Dalam pikirannya Hinata tidak akan segan jika Naruto atau siap saja menyakiti dia atau Ino. Sudah cukup jadi gadis lemah, dia akan mengeluarkan jati diri yang baru. Selama ini dia cukup bersabar atars perbuatan Naruto, kali ini dia akan menghajar lelaki itu jika berani macam-macam.
Hanya Gaara, Kiba, Shikamaru, Sai dan seorang berambut oranye yang gadis itu temuai. Wajah mereka semua terlihat memerah akibat alcohol. Beberapa botol kosong memperjelas situasi mereka. "Duduklah! Dia akan datang!" tawar Shikamaru santai. Well, ini bukan urusan mereka, jadi mereka akan bertindak jika dibutuhkan.
Meskipun mereka harus tetap cool melihat penampilan Hinata dan teman wanitanya yang kelewat aneh. Anggap saja itu baju terseksi milik mereka saat memasuki club. Bahkan mereka berdua tidak sadar jadi bahan tertawaan pengunjung club. Mereka semua sampai berpikiran bahwa tas kecil yang di bawa kedua gadis itu adalah peralatan bertahan diri, mungkin seperti pepper spray.
Hinata langsung mendudukkan dirinya, hanya Ino yang sedikit kikuk untuk duduk. Ayolah, ini bukan situasi yang mudah, duduk diantara pria-pria tampan dan mapan se-Konoha. Dan lihat sisi baiknya mereka akan menganggap mu aneh dengan pakaian seperti itu, ah… benar-benar sial. Perlahan Ino mengamati semua yang duduk dihadapan mereka. Si asisten Naruto yang kembali menutup mata, dasar pemalas. Si pria rambut raven yang santai dengan bir kaleng di tangannya, si pria dengan tato di wajah yang memandang wanita berdada besar di seberang meja, tipe playboy. Pria aneh yang sedari tadi tersenyum ke arahnya dan Hinata. Serta pria rambut merah dan oranye yang menatap sinis dia dan Hinata.
Pandangan gadis itu teralihkan dengan sikap tenang Hinata, Hinata bahkan tidak segan membalas tatapan dari lelaki rambut merah dan oranye. Bos nya sungguh mengagumkan.
"Cocktail atau bir?" Gaara memanggilkan waiter untuk mereka.
"Bir?" tanya Hinata pada Ino yang dibalas anggukan olehnya.
"Bawakan kami buah dan beberapa bir rendah alcohol." Gaara kembali meneguk whisky miliknya.
"Ah—Gomen!" Pain mematahkan rokoknya setelah mendapat sebuah glare dari para lelaki. Dia lupa ada dua gadis dihadapannya. "Pain Akatsuki, kau boleh memanggilku Pain. Tidak perlu memperkenalkan diri mu aku tidak mau tahu dan tidak peduli." Ujarnya sarkas memandang Hinata dan Ino bergantian.
"Urusai-na!" gadis pendiam itu mengumpat cepat. Sudah cukup sabar membawa sahabatnya ke tempat terkutuk ini untuk menemui bajingan itu, bisakah tidak ditambahi dengan bajingan-bajingan lain? "Santai Hyuuga-san kami tidak akan melukai mu." Kiba menengahi.
Akhirnya pria yang ditunggu menampakkan diri. Dia datang tanpa memakai atasan. "Kau ingin pamer otot, hah?!" Kiba langsung melepas jasnya untuk Naruto. Terkena trik murahan dari wanita menyebalkan. Dia gagal terlihat rapi dihadapan Hinata akibat ulah seorang wanita yang sengaja menumpahkan anggur di bajunya, trik murahan untuk berkencan. Dia juga harus menyelesaikan tawanya dari kejauhan melihat pakaian Hinata dan berolah raga sedikit dengan pria yang mengejek penampilan Hinata.
"Apa yang kau inginkan?" terang gadis itu berbicara lebih santai, Naruto baru saja duduk dan Hinata langsung menodongnya dengan pertanyaan. Naruto memilih mengabaikan dan memakai jas Kiba.
Gadis itu mulai mencapai batas, meneguk langsung sekaleng bir lalu memakai maskernya kembali. Tempat ini menyesakkan sekali.
"Nikmati waktu kalian."
"Habiskan malam ini dengan ku!" Mereka membatalkan niat untuk meninggalkan Naruto dan Hinata, ini sayang untuk dilewatkan, Ino bahkan terlihat menyamankan diri.
"Kau ingin memperkosa ku lagi?" balas Hinata tenang.
Byuurr…
Kiba dan Ino menyemburkan minuman mereka. Pain sampai memalingkan wajah berpura-pura tidak mendengar. Sementara Sasuke dan yang lain hanya diam mengamati.
"Jika kau ingin, aku tidak keberatan!" lelaki itu meneguk kasar minumannya, pertahanannya hampir goyah dengan ucapan gadis itu, frontal sekali. Dia hanya ingin bersama dengan Hinata saja, namun lain hal jika wanitanya menginginkan lebih.
Keduanya mengabaikan situasi di sekitar mereka.
"Dengan senang hati—" semuanya terpaku pada Hinata yang masih tetap berwajah datar. "Jika aku sudah tidak bernyawa lagi."
Praangg…
Hanya Hinata yang tetap melihat Naruto, yang lain menatap horror botol kaca yang dilempar Naruto. Beruntung botol itu terlempar ke dinding, berkat music yang mengalun kencang mereka tidak menjadi bahan tontonan.
"Sepertinya itu adalah jawaban mu! Lakukan sesuka mu, aku hanya ingin mengingatkan bahwa benda yang kau jadikan ancaman bagiku. Itu akan menjadi bukti dasar untuk menghancurkan mu, dengan senang hati aku akan meladenimu." Hinata beranjak berdiri saat pergelangan tangannya digenggam oleh Naruto.
Perlahan cengkraman pada tangannya semakin erat. "Kau menyakiti ku!" Hinata balik mencengkram tangan Naruto yang berada di pergelangannya, hasilnya mereka saling menyakiti. "Hentikan! Kalian membuat orang menatap kearah kita." Gaara mendesah lelah sia-sia melerai mereka berdua, lihat saja mereka berdua saling beradu tatapan. "Namikaze-san anda menyakiti Hinata!" Ino menarik kasar tangan Hinata, pergelangan gadis itu memerah sempurna, begitu juga dengan tangan Naruto yang bernasib sama.
"Sebenarnya hal apa yang kalian bahas disini?" tanya Shikamaru menatap bergantian. "Jangan mencari kegaduhan disini, ini bukan tempat yang baik untuk kita semua. Kalian bisa menyebabkan kita terkena masalah. Sadarlah Naruto!" paksa Shikamaru menyuruh Naruto untuk kembali duduk.
Bukan tenang pria itu menatap nyalang Shikamaru. "Cih… terserah!" ujar Shikamaru merubah duduknya membelakangi Naruto, Sasuke hanya diam menikmati minumannya. Asal Naruto tidak gila dia tidak peduli masalah yang akan datang. Cukup sulit melihat Naruto berubah akibat gadis ini, dia yang selalu berisik berubah pendiam. Itu sudah lebih dari cukup melihat Naruto kembali bersemangat setidaknya fokus Naruto teralih sedikit, anggap saja dia sedang berlibur.
"Duduklah, lagi pula aku tidak membutuhnya. Kau mau datang itu sudah melebihi harapan ku." Melihat tangan Hinata, Naruto merasa bersalah, dia lagi-lagi kehilangan kendali. Naruto memberikan amplop besar kehadapan Hinata, sebuah amplop berisi pernyataan seorang suster akan Hinata yang memalsukan kehamilan dan mengenai menggugurkan janinnya. Lelaki itu berharap Hinata mau berubah pikiran mengenai tawarannya, nyatanya gadis ini lebih berani dari pikirannya, bahkan sampai langsung menemui di tempat berbahaya seperti ini.
Ino mengambil berkas itu lalu memeriksanya, mengangguk pada Hinata mengiyakan bahwa berkas itu asli. "Janji tetaplah janji, aku tidak ingin berutang padamu, katakan apa mau?"
"Meskipun aku mengatakannya, kau tidak akan bisa menepatinya." Tantang Naruto, dia membukakan bir dan memberikan pada Hinata. Gadis itu melirik sekilas lalu menerimanya.
"Masih meremehkan ku?" Naruto mengambil kaleng bir milik Hinata lalu meneguk habis sisanya. "Jangan khawatir cepat atau lambat aku akan mendapatkannya, kali ini kau hanya perlu menikmati waktu mu. Biarkan aku yang menanganinya." Wajah memerah Hinata begitu lucu dimata Naruto. Sepertinya wanitanya malu dengan aksinya, saat keduanya bertatapan Hinata mengalihkan pandangannya kearah lain.
Tiba-tiba mereka semua merasakan getaran yang begitu kuat, gempakah? Namun mengapa semua orang tidak panic lari meyelamatkan diri melainkan bersorak ria. Hinata dan Ino menatap panic dari atas, lokasi mereka berada di bangku VVIP yang berada di lantai dua. Mereka dapat melihat jelas semua dari atas, tapi tunggu sebentar? Kemana semua wanita yang ada di club ini, hanya beberapa yang tersisa. Lantai dansa yang sedari tadi dipadati pun kini berubah kosong, lantai dansa itu bahkan terlihat menonjol keluar seperti terangkat membentuk panggung kecil. Para gadis itu masih setia mengamati fenomana yang baru pertama mereka lihat.
Dilain pihak Kiba memandang takut panggung kecil itu. Dia melihat kearah sahabatnya yang berwajah tegang seperti dia. Bukankah mereka datang ke tempat ini untuk menyaksikan pertunjukkan ini, pertunjukkan sekali sebulan. Sebut saja pesta kecil penyambutan kepulangan Naruto. Pain bertanya melalui tatapan, Sai mengangkat bahu pertanda dia pasrah. Gaara dan Sasuke bahkan menunduk serta menyembunyikan wajah mereka. Shikamaru masih setia membelakangi mereka, ayolah dia ingin mengingatkan Naruto mengenai hal ini, namun apa yang dilakukan lelaki itu, dia melotot tanpa berpikir dahulu. Biarkan saja pikirnya.
Dari dalam panggung kecil itu tampak sebuah pole silver dan-dan tiga orang wanita berpakaian sangat minim. Ketiga wanita itu perlahan melepaskan satu persatu baju mereka, hingga totally naked… kemudian menari dengan lihainya di atas panggung
Kedua gadis itu berteriak kecil membungkam mulut mereka, ini adalah erotic dance. Mereka sampai menutup mata takut dengan apa yang mereka lihat. Pandangan keduanya beralih cepat pada semua lelaki itu, memandang jijik dan merendahkan. "Apa? Apa ada yang salah? Bukankah wajar bagi kami menyaksikan pertunjukkan seperti ini?" kata-kata Naruto sama sekali tidak membantu, mereka semakin malu saja. Beginilah rasanya tertangkap basah.
"Tapi-tapi tetap saja—" Hinata berujar ragu.
"Kami hanya melihat mereka menari, wajar bagi lelaki dewasa melakukannya." Sejujurnya urat malu Naruto nyaris putus, dia akui di sangat gugup saat ini. Entah apa yang ada dipikiran Hinata tentangnya sekarang, namun dia sangat terhibur dengan wajah malu Hinata. Hinata bahkan tak sanggup untuk berbicara tenang, matanya sesekali melirik kebawah dan kembali menutup mata. Manis sekali.
"Aku mau pulang!" keduanya berteriak bersamaan. Benar-benar hari tersial mereka berdua. Keduanya beranjak pergi tergesa-gesa. "Sai!" Naruto membutuhkan pertolongan menjaga kedua gadis itu untuk keluar.
Setelah kepergian Hinata dan Naruto, mereka yang tersisa merosot duduk. Terakhir mereka nyaris ketahuan, Sasuke membawa Sakura waktu itu dan Shikamaru membawa Temari, nee-san Gaara. Mereka datang pada waktu yang salah, beruntung Kiba dengan sigap membuat kedua gadis itu mabuk berat. Hasilnya rahasia mereka tetap aman. Dan sekarang Hinata, lebih buruknya lagi Hinata membawa seorang teman dan mereka melihat langsung. Bagus, image cool mereka terancam disini.
"Hinata bukan wanita tipe pengadu bukan?" Pain berujar lemah. Jika sampai berita ini tersiar ke telingan Onee-sannya Konan, dia bisa mati dicincang.
Mood mereka menghilang untuk menonton pertunjukkan.
Hinata dan Ino kesulitan melewati kerumunan pria yang berdesakkan menonton aksi wanita-wanita itu. Hingga seseorang memeluknya erat dari samping, tanpa menoleh dia tahu itu Naruto dari aroma tubuhnya. Ino juga tertolong oleh Sai yang menggenggam tangannya melewati kerumunan.
Sesampainya diluar Hinata menepis kuat lengan Naruto, lelaki itu hanya diam dengan aksi Hinata. Naruto mengisyaratkan agar Sai membawa Ino terlebih dahulu.
"Matte— ini bukan mobil kami?" Ino berusaha menjauh, namun lelaki bernama Sai itu memaksanya masuk kedalam mobil. "Diamlah, jangan melawan!" mobil miliknya melaju cepat meninggalkan Hinata bersama Naruto.
Gadis itu berjalan cepat meninggalkan Naruto yang mengikuti dari belakang. "Mana Ino?" dia tidak menemukan gadis itu di dalam mobil. "Dia aman bersama Sai!" jawab Naruto santai, lagi pula wanita itu bukan tipe Sai.
"Kau—"
Naruto sigap menangkap tangan Hinata yang hendak lari. Membalikkan tubuh gadis itu lalu menghimpitnya pada mobil Hinata.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mencium mu."
Naruto membawa Hinata kedalam ciuman lembut, perlahan dan intens. Gadis itu masih memberontak keras, dia selalu sulit menikmati bersentuhan dengan Hinata. Tenaga gadis itu selalu mempersulitnya dan akhirnya dia selalu berakhir menyakiti Hinata untuk membuat dia berhenti memberontak. "Semakin kau melawan maka kau akan terluka."
"Aku akan berteriak! Lepaskan aku!" Hinata berhasil mendorong mundur Naruto beberapa langkah.
Nafas gadis itu memburu cepat, kali ini lebih sulit untuk menyentuhnya dia lebih kuat dibanding sebelumnya. Naruto hanya ingin menyentuh wanitanya, tidak bisakah satu hari saja dia menikmati bersentuhan dengan Hinata?
Melihat kondisi gadis itu, Naruto mengurungkan niatnya lebih jauh. Lagi-lagi wanitanya tidak dalam kondisi baik, garis hitam di bawah matanya memang tidak terlihat jelas. Tetapi tubuh gemetarnya memperjelas semua.
Naruto memeluk erat Hinata dari belakang saat Hinata berniat meninggalkannya, dia masih memeluk Hinata hingga tubuhnya mendadak oleng. Nyaris saja dia menjatuhkan Hinata, gadis ini tertidur dalam pelukkannya.
.
Dia membawa Hinata ke dalam apartment miliknya, membaringkan lembut pada kasurnya. Lama dia memandang Hinata dalam diam maka semakin dalam dia jatuh kedalam pesona bangsawan Hyuuga itu. Dalam tidurnya Hinata terlihat gelisah. Naruto melepas kunciran rambut Hinata perlahan jangan sampai dia terbangun. Tangannya teralih ingin membuka jaket sport milik Hinata, menarik pelan dan….
Menarik cepat, jantungnya menggebu cepat. Ia memandang tak percaya pada gadis yang terlelap di kasurnya. Di balik jaket miliknya Hinata hanya memakai kaos jaring tranparan, bagaimana bisa dia bepergian ke tempat bahaya seperti tadi hanya dengan jaring bodoh itu. Sungguh berani!
Naluri Naruto bangkit membayangkan kaos milik Hinata, dia ingin melihat lagi.
"Haruskah aku menjadikan mu milikku seutuhnya Hinata?" Naruto membelai wajah tertidur Hinata, mengusap bulir keringat yang mengalir di lehernya.
Bayangan Hinata direbut oleh lelaki itu mendatangi pikiran Naruto. Hinatanya akan meninggalkannya, meninggalkannya di neraka dan hidup bahagia bersama lelaki itu. Pikirannya bertambah kalut, ide-ide jahat berdatangan menghampirinya. Ia mendekat menuju telinga gadis itu. "Jangan pernah lari dari ku Hinata, karena aku akan menghancurkan semua yang kau cintai bila kau melakukannya." Hinata mendesah dalam tidurnya.
Kecupan lembut mendarat di kening Hinata, menuju hidungnya serta berakhir di bibir gadis itu. Naruto dapat merasakan sisa bir pada bibir Hinata, menekan lembut pipinya agar dapat menyusupkan lidahnya menelusuri rongga mulut Hinata. Dalam tidurnya ia kembali melenguh, ia kesulitan bernafas. Membuat dia susah payah membuka matanya, hanya seperkian detik dan terpejam kembali. Hanya cahaya buram yang ditangkap penglihatannya hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Jari-jari Naruto mengusap lembut leher jenjang Hinata, menstimulasi agar tetap tenang. Sebelah tangannya mencengkram erat seprai disisi Hinata, mulai goyah atas wajah terlelap Hinata. Ini sungguh menyiksa.
Dia kembali menarik resleting jaket Hinata hingga benar-benar terlepas. Bibirnya menelusuri leher Hinata dan membawa Hinata kedalam pelukannya.
.
Sinar matahari mengusik tidur sang putri, menarik selimut menutupi wajahnya. Menghirup dalam bau selimut yang ia gunakan, kepalanya pusing seketika.
"Ini-ini dimana?" derap langkah kaki dari balik pintu semakin mendekat. Hal pertama yang dia lakukan adalah menutupi tubuhnya dengan selimut. Bahkan pakaian yang dia gunakan pun bukan miliknya.
"Kau sudah bangun?" wajah Naruto lah yang muncul pertama kali.
Iris gadis itu membulat takut. Langkah kaki dari arah Naruto menambah rasa takutnya.
"Hinata! Kau baik-baik saja?"
Dia mengenali suara itu, suara kekasih tercintanya.
"T—Toneri-kun?!"
Gadis itu memandang kosong Naruto. Rasa bencinya pada lelaki itu semakin dalam, ini sudah diluar nalarnya atas perbuatan Naruto. tangannya terkepal kuat, sumpah serapah lantang dalam benaknya.
.
.
.
To Be Continue
Maaf, beribu maaf bagi kalian semua. Aku akui aku orang yang tidak tepat janji. Namun apalah daya, kepentingan sekolah jauh lebih berharga bagi ku.
Aku menerima semua cacian kalian atas pengabaian yang panjang ini, namun ku harap ada sedikit rasa maklum untuk ku.
Sejujurnya aku ingin menghapus fanfic ini, semester akhir sungguh menyita waktu ku. Dan ku rasa terlalu sulit melanjutkan fanfic ini.
Namun, komentar dan harapan kalian membuat aku sadar dan malu. Betapa egois aku mempermainkan kalian.
Terima kasih untuk kalian yang masih setia pada ITRAFM, tapi tolong jangan berharap aku akan melanjutkannya dengan cepat. Perlahan aku akan tetap melanjutkannya, hanya itu yang bisa aku janjikan.
Mungkin akan sedikit kaku saat kalian membaca chapter ini.
Terima kasih sebsar-besarnya atas follow dan favourite nya.
Sekian dan sampai jumpa.
Peluk dan cium dari Hiuzulia.
