Kesempata kedua? Ketiga? Keempat? Kelima? Mau sampai kapan aku harus menghitung? Bagaimana bisa kau membiarkan dia selalu menyakiti dirimu? Kau tidak tahu apapun, aku yang merasakannya. Lantas, kau mau sampai kapan seperti ini? Suatu saat, aku yakin suatu saat dia pasti menyadari arti kehadiranku. Bagaimana jika itu tidak pernah terjadi? Aku… aku… aku… akan… akan… Akan apa? Memaksanya? Mengancamnya? Buka mata, pikiran dan telinga mu, Bodoh! Lihat dia melalui LOGIKA mu!

Impossible To Run Away From Me

Aku berhak untuk itu? Berhak untuk apa? Dia yang memulai maka dia yang harus mengakhiri ini semua! Apa hak mu? Aku tidak punya hak awalnya, tapi dia memberikan ku hak untuk turut campur dalam kehidupannya. Sebenarnya ini tentang dia atau tentang keegoisan mu? Jangan samakan aku dengan dia, dia melukai ku dan aku ingin… Membalaskan sakit hatimu? Kau yakin tidak pernah menyakitinya? Buka matamu dan lihat dia dari sudut pandang dia sendiri, bagaimana kau pantas untuk itu? Manusia harus berlaku seperti manusia, dude!

Love Is Blind

Love Is Pure

Love Is Love

So…So… Unconditionally

Love And Hate Is Equal

Ch 12

Impossible To Run Away From Me

.

.


Hinata memandang puas hasil kinerja dihadapannya, tepat waktu dan sesuai dengan keinginannya, berjalan lamat dan sesekali membalas mereka yang membungkuk untuknya. Proyek yang akan rampung dua tahun lagi, seperti perhitungan arsitektur yang menangani proyek ini. Apertemen yang berhasil dia ambil ahli dari Hokage Group yang di tangani Naruto. Cukup memuaskan meskipun dia masih belum berhasil mengambil ahli perusahaan yang dibawah naungan Naruto.

"Apa aku masih punya jadwal lain?"

"Ini jadwal terakhir anda, anda bebas hingga lusa depan Hyuuga-san."

Hinata masih diam duduk di bangku belakang tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangannya dari jalanan. Perjalanan kali ini lebih melelahkan dari sebelumnya, efek masalah pribadi memang paling menyusahkan. "Anda ingin kita langsung kembali atau beristirahat sejenak, kota Ame memiliki Onsen terkenal." Ino bertanya memberikan ipad miliknya, dia mencoba merayu Hinata dengan memperlihatkan gambar kolam air panas yang katanya paling nyaman di Ame.

Gadis itu mengembalikan tanpa respon sedikit pun. Dia menolak.

Dengusan halus Ino mengisyratkan gadis itu kecewa, supir yang membawa mereka tersenyum dibalik wajah kakunya. Dari awal dia memperhatikan wajah binar Ino membaca ipad miliknya, ia yakin gadis itu sangat kecewa.

Sementara si gadis berambut kelam hanya tetap diam menggenggam smartphone miliknya, dia menunggu, masih menunggu pujaan hatinya untuk memberi kabar.

Hubungan mereka masih berstatus tunangan, hanya saja kejadian kemarin membuat suasana sedikit dingin. Toneri tipikal orang yang tidak mau berlarut untuk hal yang dirasa tidak penting. Awalnya dia begitu terkejut dengan kedatangan Toneri, berpikir lelaki itu akan marah bahkan memutuskan pertunangan mereka. Dan hasilnya membuat dia sedikit kecewa, Toneri hanya mengantar dia pulang begitu saja. Pulang tanpa ada perdebatan, ini jadi beban tersendiri untuknya.

Ya, itu memang bukan hal yang harus diperdebatkan, tidak ada yang terjadi malam itu, seperti perkataan Ino. Dia mabuk dan tidur di apertemen milik Naruto. Perihal baju pun sama, Ino lah yang mengganti untuknya. Dia dan Ino bermalam di tempat Naruto atas perintah lelaki itu. Dan untuk Naruto sendiri ia tidak ingin ambil pusing. Bukan sesuatu hal yang harus dipikirkan berulang kali mengapa dan untuk apa? Alasannya sederhana membuat hubungannya renggang…!

"Yamanaka-san aku ingin kembali ke kantor ku jika memungkinkan."

Ino membalikkan tubuh menghadap Hinata dengan cepat, tatapannya bertanya sekaligus heran. "Ya itu bisa kita lakukan." Jawabnya berpikir menghitung jarak tempuh. "Tapi kemungkinan kita akan sampai pukul 10 malam. Bukankan sebaiknya anda pulang dan beristirahat?"

Atas perintah Hinata, Ino terpaksa pulang terlebih dahulu. Ino mengetuk kaca mobil Hinata, dia sedikit khawatir. "Hinata—maksudku Hyuuga san!" lupa bahwa mereka tidak berdua. "Hubungi aku jika kau butuh sesuatu!" ujar Ino ragu.

Alis Ino bertaut memperjelas raut bingung di wajah cantiknya. Ia masih mengamati mobil Hinata hingga menghilang di belokkan. Menarik nafas dalam mengisi rongga dadanya. "Apa dia baik-baik saja? Mungkinkah dia akan menemui langsung?" bertanya kepada diri sendiri, sejujurnya dia nyaris mengeluarkan isi hatinya dengan lantang. CEO muda itu menyembunyikan sesuatu darinya tapi apalah daya dia tahu persis jika Hinata tidak ingin membicarakannya itu berarti ia tidak menginginkan siapapun untuk ikut campur. Ya jika dia harus memilih menerobos ikut campur sama saja dia meragukan Hinata, siapa pun pasti memiliki masalah sendiri.

"Ah…! Aku tidak tahu?" Ino berujar kesal mengacak-acak rambutnya.

.

.

.

Gadis itu berjalan menyusuri koridor sambil melihat smartphone miliknya, beberapa ruangan tampak gelap dan hanya di sinari satu lampu yang menyala. Ia bahkan tak terintimidasi pada suasana senyap disekelilingnya, hanya berjalan memasuki lift menuju lantai teratas ruangan miliknya. Masuk melewati sebuah papan kecil bertuliskan jabatannya.

Jari-jari putih lentiknya mengetik cekatan, Hingga…!

"Hinata-chan?"

Suara dari telepon genggamnya memanggil lembut namanya.

Pria di seberang telepon berdehem singkat. "Hinata-chan!" ia kembali memanggil memastikan apakah kekasihnya benar meneleponnya.

"Ne Toneri-kun!"

Akhirnya sang pemanggil menjawab dan membuat si penerima tersenyum. "Apa kau masih memikirkan yang kemarin?" tanyanya seolah membaca pikiran Hinata. "Kau mempercayai ku?" Toneri kembali bertanya. Inilah yang menjadi dilema Hinata, akan menyenangkan jika kekasih mu memiliki tingkat kepercayaan yang kuat, tapi dilain pihak kau akan merasa kehilangan.

Tentu merasa kehilangan. Sikap cemburu, cemburu hal negatif, tentu! Tapi itu menggairahkan sebuah hubungan, merasa dicintai lebih. Seperti biasa lelaki yang menjadi calon suaminya sekarang selalu dan akan selalu membuat pembicaraan terputus menggantung, selesai seperti ya sudah… tak terlalu pentingkan untuk diributkan?

"Hm!" gadis itu hanya menjawab singkat lesu, mau dijawab apa lagi, toh respon Toneri masih sama, ia beralih menatap datar ke depan. "Atashi mo Aishiteru Toneri-kun." membalas kata cinta Toneri, Hinata masih mempertahankan pandangan dinginnya.

Ia terduduk kasar, kesal bercambur lelah. Tangannya merogoh laci meja kerjanya, menaruh amplop putih besar diatas meja miliknya. Deru nafasnya bersamaan dengan ketukan jari telunjuknya beradu dengan meja menghasilkan bunyi senada dengan benda pengingat di dinding. Masih tetap memandang sinis kedepan tanpa suara.

Keduanya beradu tatapan. Tanpa suara keduanya melawan melalui tatapan. Ya keduanya…!

Akhirnya tersangka tertangkap basah! Welcome!

Pria bertubuh tegap itu masih menyender di pintu sang pemilik perusahaan. Menyamankan diri sambil menunjukkan keranjang penuh bunga mawar merah yang bermekaran kearah Hinata.

Terkekeh kecil mengejek, kekehennya tidak lebih dari sindiran untuk dirinya sendiri. "Ara! Aku ketahuan!" Naruto memulai terlebih dahulu, seperti yang sebelumnya. Lelaki berjas mahal itu meletakkan keranjang bunga yang dibawanya sejajar bersama keranjang bunga yang lain.

"Ku kira wanita ku tidak akan menyadarinya!" jawab Naruto asal, ia melihat jam tanganya lalu beralih pada jam di dinding. Selama beberapa hari ini ia aman melakukan aksinya, mengendap-endap layaknya pencuri dan mengantar langsung ke kantor Hinata, ya seperti kata pepatah pada akhirnya pasti ketahuan juga.

"Aku bukan wanita mu dan satu hal lagi, apa kau tidak punya rasa malu. Setidaknya tahu diri atas statusmu Namikaze-sama!" berujar kesal Hinata menghembuskan nafas kasar, kehadiran lelaki ini menghisap daya hidupnya. Hinata memandang jijik karangan bunga yang bertengger di meja berkasnya. Bukan hanya satu tapi lima dan bertambah satu lagi keranjang bunga yang merusak pemandangan matanya. Bunga-bunga itu dikirim tanpa nama pengirim bersamamaan secarik kertas bertuliskan sebuah pesan ancaman yang benar-benar….

Waktu mu enam hari lagi. Jangan membuat aku lama menunggu sayang!

Waktu mu lima hari lagi. Aku tidak sabar menjadikan mu milikku.

Waktu mu empat hari lagi. Jangan membuat aku menunggu!

Waktu mu tiga hari lagi. Ku harap kau sudah memutuskan hubungan mu!

Waktu mu dua hari lagi. Apa kau sudah melenyapkan liontin jelek itu?

Hari pertama saat dia mendapat karangan bunga itu dia berpikir itu dari Toneri meskipun tak menampik kecurigaannya juga. Akhirnya, semua terasa menjengkelkan saat dia membaca pesan dari pria yang duduk lancang di sofa tamunya. Ia akan membuang bahkan sampai membakar bunga yang tidak berdosa itu, namun entah mengapa bunga itu kembali datang keesokan harinya, ditambah lagi dengan karangan bunga baru. Lelah atas aksinya melenyapkan bunga-bunga itu dia akhirnya menyerah. Dan memilih turun langsung, sungguh mengejutkannya, entah dia harus terkejut atau maklum dengan tingkah konyol Naruto yang mengantar langsung bunga-bunga itu pada tengah malam seperti ini.

Ia tidak habis pikir kenapa Naruto sampai mau repot-repot untuk hal gila seperti ini.

"Ku kira kau tidak akan datang pada jam segini. Kau tidak ingin membacanya?" tunjuk Naruto pada karangan bunga bawaannya, ia mengambil majalah dengan Hinata sebagai covernya.

Tentu Hinata akan datang langsung, dia mau melihat langsung bagaimana lelaki sekelas Naruto bahkan sampai nekat menyuap sekuriti di perusahaannya.

"Seleramu terlalu vulgar, aku tidak menyukai mawar merah. Terlebih dengan pesan kurang ajarmu itu!" komentar Hinata sinis, bayangan wanita itu tersenyum atas bunga pemberian Naruto mengusik pikirannya. Gadis berambut gelap itu menggeleng cepat menghilangkan bayangan menyebalkan itu. "Menyedihkan!" bergumam cepat terdengar kecewa.

Ucapan terakhir Hinata mencuri perhatiannya membuat dia berdiri dan mendekati meja pujaan hatinya. Majalah yang sedari tadi jadi perhatiannya menjadi lusuh di lembaran pertengahan, tentu saja! Halaman full wajah Hinata dan si brengsek tunangan wanitanya.

Kedua tangan Naruto bersembunyi di kantong celananya mencoba santai menghadapi tatapan mengintimidasi Hinata. "Bagian mana yang menyedihkan? Kemarin, kau pulang dengan selamat? Kalian sudah putus?" Naruto bersuara pelan menarik diri untuk kembali bersabar, aura api di tubuhnya harus dipadamkan. Bukan hal yang baik memulai pertengkaran pikirnya, batinnya mencoba menelan amarah di tubuhnya. Alasannya hanya sederhana kalimat cinta yang diutarakan Hinata dan liontin itu masih memeluk leher Hinata erat, oh jangan lupakan majalah menyedihkan itu. Liontin jelek itu seakan Toneri yang menertawakan dirinya yang tidak akan mungkin memiliki Hinata.

Tawa muram Hinata memecah kesunyian, bibir berwarna peach Hinata menyunggingkan senyum sinis. Rasanya seperti air terkena luka bakar, kepalanya berdenyut keras. Bertanya hal bodoh, dia tahu mengapa Naruto memanggil Toneri waktu.

Menanam duri diantara hubungan dia dan Toneri.

"Aku tidak tahu bagian mana dari diriku sampai membuat mu seperti ini?!" Hinata berjalan menuju jendela kaca dan berhadapan langsung dengan langit malam penuh awan. "Kau tidak pernah menganggapku seperti manusia. Ah, maafkan aku! Kau tidak pernah, bodohnya aku bertanya!" racau Hinata tertawa menutupi wajahnya.

Naruto hanya diam di tempatnya, mendengar semua tanpa suara.

Sang pria dan wanita memilih berdiam diri mencari sesuatu untuk diamati dalam diam.

Detak jantung keduanya berdetak perlahan… deg…deg…deg… seirama jam. Mereka menahan lajur nafas paham akan situasi masing-masing.

Hening

Kalut akan pikiran masing-masing.

"Seberapa besar cintanya untukmu?" si lelaki berwajah datar memulai. Berharap menemukan jawaban.

Sebelah tangan Hinata memijit tengkuknya perlahan. "Besar kecilnya cintanya untuk ku?" Hinata memutar mata kesembarang tempat. "Itu pilihanku, seseorang yang menginginkan ku sama hal dengan ku, itu sudah lebih dari cukup." Gadis itu membalikkan badan berhadapan langsung dengan Naruto dengan jarak beberapa meter. "Kita sama-sama tahu bagaimana akhirnya cinta mengkhianati kepercayaan kita!" ujar Hinata terseyum lirih.

"Ne, Namikaze-san—mari lebih santai, Naruto-san!"

Ada kuncup bunga yang mekar di hati lelaki yang namanya disebut gadis paras cantik yang berdiri dihadapannya seperti bunga yang dibawanya. Hanya dengan menyebut nama depannya membuat moodnya meningkat.

"Mawar mewah tidakkah mengiatkan mu pada seseorang?" Hinata menangkap raut keterkejutan Naruto dan bagaimana tubuh bergetar Naruto berespon atas pertanyaannya.

"Jangan membahasnya, aku tidak ingat lagi pada wanita itu!"

"Itu kesukaan Shion—"

"Jangan menyebut namanya di hadapan ku!" Naruto memotong perkataan Hinata setengan membentak. Wajahnya bertambah tegang hanya mendengar nama wanita ular seperti Shion, ia meregangkan ikatan dasinya, ruangan ini bertambah panas.

"Dia pernah bertahan di hati mu, lalu bagaimana dengan ku? Pada awalnya itu hanya sebuah janji antara anak-anak, aku pun tidak yakin bagaimana bisa gadis sekecil itu mengingat janji seperti itu. Dan aku tidak menyalahkan mu disini." Jelas Hinata berterus terang, sudah lama dia memikirkan hal ini hingga akhirnya dia menyadari bahwa ia terlalu memaksakan keinginannya. Keegoisan dia untuk memiliki Naruto salah dalam hal ini.

"Aku gadis gila pemaksa yang selalu mengganggu mu setiap saat, tanpa tahu malu aku mendatangimu lalu menyatakan cinta ku untuk mu, padahal kau telah memiliki dia!" tawa Hinata di setiap kalimatnya, menyadari bodohnya dia dulu. Dan itu tidak luput dari penglihatan Naruto, dia benci cara bicara gadis ini.

Mari berdamai!

Mengatup bibir rapat Hinata bernafas dalam. "Aku masih membenci mu!" menatap langsung mata Naruto. Sorot mata Hinata terpaku pada iris biru cerah yang ikut melihat dia, Hinata melihatnya sebagai sosok yang dia benci selama ini, berbanding terbalik dengan Naruto yang terkesan acuh melihat Hinata. "Aku masih belum memaafkan sepenuhnya! Kau merusak hidup ku dan tanpa tahu malu kau datang mengacaukan kehidupanku—"

"Khe…! Huh! Ha—Haha!" Lelaki itu tertawa nyaring benar-benar kuat. Mengejek dan merendahkan secara bersamaan. Kaki Hinata mendadak lemas, sebelah tangannya bertumpu pada kaca jendela.

Gila! Pikir Hinata cepat.

Naruto memiringkan kepala menatap sinis lalu menyembunyikan tangannya kedalam kantong celananya tertawa ringan menggeleng pelen. "Ck!Ck!Ck! Kau belum memaafkan ku?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.

"Dengar Hyuuga Ojou-sama! Aku tidak datang untuk meminta maaf untuk mu. Kau benar-benar berubah menjadi wanita rubah!" lelaki itu melakukan peregangan disekitar leher lalu bernafas kasar. "Aku lebih suka langsung ke menu utama!" seringai Naruto berjalan mendekati Hinata, hanya tiga langkah dari posisi Hinata.

"Kau ingin mengakhiri ini dengan ku?"

"It's a good idea! Tapi nona manis, bukankah kau yang memulai semua ini?"

"Apa aku, sayangnya tuan arogan aku tidak pernah menjadi penulis skenario disini!" sangkal Hinata balik mendelik tajam.

"Cih! Semua jenis wanita sama semua! Selalu dan selalu berpikir menjadi pihak yang paling terluka"

Hinata membuang muka cepat, tak terima atas ucapan terakhir Naruto. "Kau yang tidak bisa mengenali dan mengendalikan wanitamu, lalu aku yang jadi korban! Hah! Semua lelaki di dunia sama saja, disakiti wanitanya dan membalaskan pada wanita lain." Hinata membalas dengan pandangan meremehkan, kenapa dia tidak pernah menganggap dirinya pihak yang paling bersalah disini.

"Aku akui bahwa aku—menyakitimu!" sadar kalimat itu akan terasa terlalu vulgar. "Brengsek dan tidak tahu diri, lalu bagaimana dengan mu?" tanya santai.

"Setiap hari aku mencari, bahkan harus sampai mengemis dihadapan keluargamu, tahukah kau itu kulakukan karena aku memang bersalah padamu! Hidupku nyaris saja hancur karena perbuatan kejammu. Surat terkutuk dari mu dan kau menghilang tanpa jejak!" Naruto menumpahkan isi hatinya, geraman diwajahnya tercetak jelas. Kedua tangannya terkepal erat melihat wajah menantang Hinata.

"Apa yang kau harapkan?" bertanya kembali, Hinata ikut membentak. "Ya itu hanya kejadian tanpa sengaja, kau mabuk dan bla-bla-bla dan keesokan harinya seperti tidak terjadi apa-apa? Itu yang kau harapkan?" balas Hinata mengejek.

"Aku tidak serendah itu!" sangkal Naruto cepat.

"Kau sudah melakukan hal rendahan seperti itu, jangan menganggap ini berpusat atas kesalahanku Namikaze-sama!"

"Baik!" gadis itu menyisir rambutnya cepat. "Muak, aku benar-benar muak untuk hal ini, tingkah mu sudah diambang kesabaranku. Kau sengaja memanggil Toneri waktu itu untuk mengusik hubungan kami dan apa ini!" tunjuk Hinata pada jejeran bunga mawar pemberian lelaki yang ikut melihat pemberiannya. "Aku benci-benci sangat benci bunga mawar, terlebih lagi itu darimu!" berteriak kencang bahkan sampai menghentakkan kakinya.

Hinata mengambil langkah cepat nyaris berlari menuju meja tempat jejeran mawar itu berada, berpikir sejenak dan tanpa aba-aba ia membuang kasar seluruh keranjang mawar hingga terlempar keras ke lantai, kelopak indahnya berceceran tragis. Hancur dan tak bernilai. "Kau dan bunga-bunga ini sungguh menyebalkan!"

Semuanya berakhir cepat, Hinata merasa bersalah atas perbuatannya, bunga yang malang! Ia bernafas berat, pening menghampirinya membuat penglihatannya memburam. Bayangan masa lalu yang ingin dihapusnya datang tanpa diundang, gadis itu memandang nanar kelopak-kelopak mawar yang berserakan dilantai. Hinata mencoba mencari pegangan, tubuhnya terasa berat dan terakhir semua memburam cepat.

Naruto bereaksi cepat menangkap tubuh lemah Hinata, wajah porselinnya semakin pucat.

"Hinata!"

Kesadarannya perlahan memudar.

.

Awal mula semua kegilaan ini terjadi!

.

Ketika Naruto telah siuman.

Otou-sama yang tegas membuatnya tumbuh menjadi gadis penurut, semua harus terkendali sesuai aturan yang dibuat sang kepala keluarga. Namun berkat kepribadian lemah lembut Okaa-samanya yang menurun padanya semuanya seimbang pada Hinata. Ia terdidik sebagai bangsawan Hyuuga penuh wibawa juga sisi lemah lembutnya.

Rasa kepedulian tinggi ditanamkan pada gadis itu sejak kecil. Dan ini lah yang dia lakukan sekarang. Sebut saja nyaris.

Mana ada gadis di dunia ini yang bersedia berdamai pada pelaku pelecehan yang membuat hidupnya hancur. Aku bertaruh dan yakin akan hal itu.

Lain hal jika dia lelaki yang kau cintai, terkesan merendahkan memang, tetapi kukatakan sekali lagi mana ada kegilaan yang dapat menandingi cinta. Aw! Funny!

"Naruto—"

"Namikaze-san!"

Kembali terputus.

"Bagaimana jika Naruto-san?" tanyanya pada diri sendiri melalui pantulan kaca besar di kamarnya.

Mengangguk setuju Hinata menghirup udara dalam, berusaha menetralkan pikirannya.

"Ganbatte! Kau pasti bisa!" entah sadar atau tidak ucapannya berlawanan dengan wajah kaku tidak percaya diri. Gestur siap berperang dengan wajah takut.

Diluar logika, namun inilah kehidupan yang sebenarnya.

Gadis bernama lengkap Hyuuga Hinata yang baru kemarin mengalami kejadian buruk, mendapat kekuatan dan rasa penyesalan entah dari mana. Rasa takutnya tak sebanding kekhawatirannya untuk lelaki yang kemungkinan besar tidak peduli dengannya. Anggap saja dia kalut atas perbuatan Naruto, tanpa disangka dia tidak seperti dirinya yang semalam menangis sampai meraung meratapi hidupnya. Hatinya mendominasi logikanya. Dan kalimat itu kembali terucap dari bibir yang mengering akibat kurang asupan gizi serta kelelehan menangis.

"Naruto-kun baik-baik saja tidak ya? Apa lukanya parah? Seharusnya aku tidak melakukan itu? Jangan bilang pisau itu menembus tulangnya lalu-lalu Naruto-kun lumpuh?"

Memukul bibirnya cepat, Hinata merutuki dirinya bagaimana bisa dia sampai berpikirin sejauh itu. Ya itu diluar kendalinya, dia menusuk kaki Naruto, jika saja dia sedikit tenang dan mampu menganalisa titik luka Naruto ia tidak akan berpikiran seperti. Luka di paha dan hanya menembus dua sentimeter, Naruto menahan cepat waktu itu. Akan lain ceritanya jika Naruto tidak bertindak cepat.

Cinta menandingi luka di tubuhnya. Logika tidak menang melawan cinta gadis ini.

Tubuh langsing yang memasuki tahap kurus itu berbalut dress selutut berenda ringan dibawah, biru elektrik berpadu dengan mantel selutut berwarna peach. Hanya beberapa hari stress mengerus berat badannya.

Ia yang sekarang sudah bersiap-siap untuk menemui pujaan hatinya. Hanya berbekal rasa khawatir serta sedikit tidak tahu diri ia akan menjenguk Naruto. Beruntung baginya mendengar pembicaraan staff Otou-samanya yang akan mengirimi bunga untuk keponakan Kakashi yang dirawat di rumah sakit Konoha, kebetulan yang mujur juga bahwa Naruto belum keluar. Dengan sedikit mungkin banyak keberanian, ia berhasil keluar rumah tanpa ketahuan.

.

"VVIP lantai 8 ruangan terakhir disamping tangga!" Hinata mengulang kembali ucapan dari suster yang ditanyainya. Mengulang persis berturut-turut takut terlupa sedikit pun. Ia berjalan menyusuri koridor kemudian memasuki pintu bertuliskan tangga darurat. Ia butuh ketenangan sebelum bertatapan dengan Naruto, puluhan anak tangga sepertinya cukup untuknya pikirnya.

Lantai dua nafasnya masih normal.

Lantai tiga mulai terputus-putus.

Lantai empat dia mengurutu sekitar 20 detik. "Banyak sekali anak tangga ini!"

Lantai lima ia membenarkan rambutnya yang basah akibat keringan mengalir di daerah pipinya.

"Eh!" kening Hinata berkerut memandang benda yang ia bawa sedari tadi, lumayan berat. "Maaf sebentar lagi kita sampai, aku akan mengganti air baru untuk kalian." Genggaman Hinata pada benda itu mengendur untuk mengelus dan menghirup dalam aroma dari kelopak bunga yang dibawanya.

Vas bunga kecil berisikan belasan tangkai mawar merah lengkap air didalamnya. Setidaknya dia harus membawa sesuatu untuk Naruto tidak merepotkan tapi bermakna sekaligus.

Awalnya ia tidak ingin memilih merah, namun hatinya sudah terlanjur jatuh cinta pada kelopak indah merah merona di toko bunga yang ia jumpai. Seperti yang selalu dibawa lelaki itu untuk ya, mantan mungkin. Gadis itu tersenyum sendiri atas pikirannya, siapa tahu ada ruang untuknya.

"Satu lantai lagi!" ujar Hinata melangkah pelan dan berjalan pada anak tangga pertama.

Krieett!

Langkah kakinya berhenti pada anak tangga ketiga, ia memandang ke atas penasaran. Meskipun belum sampai di pertengahan anak tangga, pendengarannya menangkap ada orang lain diatas sana, gadis Hyuuga itu menunggu apabila orang itu akan turun.

"Ya aku tahu Oji-san, hanya saja aku malas meladeni omelan Suzunne baa-chan, nanti aku akan kembali ke kamar ku!" suara dari orang itu begitu keras serta terdengar jengkel.

"Naruto-kun?" Hinata bergumam pelan membekap mulut.

Ia masih setia menguping pembicaraan Naruto, dari yang ia dengar tidak ada lawan bicara lelaki itu, berarti ia berbicara via telepon.

Masih mematung ditempat semula, Hinata mengalihkan penglihatanya ke kiri ke kanan, ragu untuk bertindak. Penggangannya semakin mengerat pada vas yang ia bawa. 'Apa sebaiknya aku pulang saja? Atau aku jalan saja dan berpura-pura terkejut melihat Naruto-kun? Tidak-tidak akan terasa aneh!' batinnya berteriak frustasi.

"Apa? Dimana? Benarkah?"

Nyaris terjungkal kebelakang gadis itu tersentak atas suara menuntut Naruto, beruntung Naruto masih belum menyadari kegiatan menguntitnya.

"Ka-Kakashi Ojii-san bisakah mengiriminya bunga? Mawar merah, Shion-chan paling suka mawar merah, kirimkan semua yang bisa Ojii-san temukan!" Nada bicaranya syarat akan sukacita.

Tanpa sadar gadis berparas lugu di bawah mematung seketika. "Aku akan kesana menemuinya langsung, kaki ku sudah mendingan. Iya-iya nanti saja kita lanjutkan, aku bisa kehilangan Shion-chan mendengar omelan mu."

Hinata terpaku pada lantai putih di bawah, pikirannya kosong. Berharap semua yang ia dengar bukan dari mulut Naruto, apa daya mau disangkal ribuan kali pun lelaki itu tetap Naruto.

Pintu yang dibuka pun tak mampu membuat pikiran gadis itu pulih. Hingga rintihan kesakitan mengusiknya.

"Akh! Menyebalkan!" makian Naruto merutuki kakinya. "Apa Hinata baik-baik saja?" tanyanya penasaran.

Wajah kaku Hinata berubah ceria sedikit mendengar kekhawatiran Naruto, hanya sepersekian detik sebelum Naruto…

"Jangan bilang jika dia sampai hamil? Bagaimana jika itu terjadi? Aku belum siap untuk itu, sial apa sebaiknya aku menemuinya dulu. Bagaimana jika ia melaporkan ku, kuso-kuso!" ia memaki lancar bahkan suaranya terdengar begitu kecewa.

"Ku harap jika sampai itu terjadi ia akan menggugurkannya, apa sebaiknya aku pergi ke Selandia bersama Shion-chan? Sial, apa yang harus ku lakukan. Ini menyiksaku!" ia kembali kalut, ia kembali meringis kaki dan kepalanya berdenyut kuat. Punya anak diusia yang masih dikategorikan sebagai anak juga, ayolah tidak lucu bocah mengurus bocah. Bagaimana study dan impiannya, pendapat orang, serta kemungkinan terburuk dibunuh Kaa-san nya, komedi yang mengerikan.

Malang baginya, entah apa yang dipikiran Hinata sekarang. Merutuki nasib sialnya kah?! Atau merutuki betapa idiotnya dia masih berharap untuk Naruto? Ia berjalan lunglai menaiki satu demi satu anak tangga, bergerak perlahan mengitip melalui celah pertengahan anak tangga. Mencoba melihat Naruto, lihat ia kembali syok sendiri. Lelaki yang masih ia harapkan terduduk lemas diatas lantai, kakinya yang terkena tusukkan menyatu dengan lantai sementara kakinya yang lain menggantung diantara anak tangga. Bibirnya keluh hanya untuk menghirup udara, seakan udara disana sulit untuk diambil.

Suara benturan ringan namun tajam di pendengarannya, Naruto, ia disana layaknya orang dengan segudang penyesalan. Memukul-mukul dinding menggunakan sisi tangannya. Satu yang ditangkap Hinata atas Naruto.

Ia! Mungkin! Tidak, sudah pasti dari raut wajah kecewa itu. Naruto tidak berniat untuk membantu Hinata menghilangkan beban atas apa yang telah terjadi.

Selepas kepergian Naruto, Hinata masih tak mampu bernafas lega, udara menghilang disekitarnya. Ada apa ini? ia bertanya lagi. Bukan ini tujuan dia menemui Naruto, apa yang harus dia ucapkan untuk menghilangkan setitik saja luka yang kembali menganga lebar dihatinya. Bersyukurkah? Malangkah? Apa? Apa? Kata apa yang tepat untuk menggambarkan nasibnya? Bahkan itik buruk rupa pun memiliki akhir bahagia. Bagian mana yang terlewatkan olehnya, inikah takdir cinta pertamanya?

Seakan tak mampu menopang lagi, vas bunga itu terlepas dari genggamannya, menghantam kuat lantai menghasilkan bunyi pecahan. Tubuhnya terlalu syok untuk ini. Kelopak mawar itu tak seindah saat masih menyatu dengan tangkainya, berceceran disekitar kaki Hinata sama hal air yang ikut mengalir menuruni anak tangga yang membawa kelopak-kelopak itu.

Cinta yang diawali bunga sebagai saksinya, kini juga diakhir bunga sebagai saksinya, bedanya ini bukan berakhir bersama tawa haru kebahagian, melainkan duka atas….!

Ia bagaikan sebatang pohon yang berdiri kaku, angin bahkan bisa menumbangkannya. Tak ada respon, masih berdiri terpana akan keterkejutannya. Sedetik kemudian, ia menutup rapat kelopak matanya, erat semakin erat, air mata mengalir deras tanpa ia perintah. Terisak pelan menggigit kuat bibirnya menahan isakkannya yang semakin menjadi. Debaran jantungnya juga ikut memprovokasi dia untuk semakin meluapkan rasa sedihnya.

Sakit! Ini benar-benar sakit! Terkulai lemas mendudukkan diri membentur lantai. Akhirnya Hinata menangis pasrah, meraung atas nasibnya. Rasa sakit didalam tak sebanding dengan rasa akibat tekanan pada dadanya, Hinata menekan erat tempat hatinya bersembunyi berharap sedikit saja meringan.

Melepas semua tanpa niat meredam lagi, ia tak mampu membendung lagi. "Ah! Ha-ha—!" peduli setan jika ada yang menemukan ia menangis seperti ini, bahkan Naruto sekalipun, memang apa yang harus ia sembunyikan lagi? Bukti sudah berbicara untuknya.

Meraung keras disisi tangga, memeluk erat tubuhnya berharap meringankan lukanya. Berapa lama ia disana, Hinata pun tak tahu, yang dia inginkan hanya menangis untuk meringankan isi kepalanya.

Lihat sisi baiknya, mawar merah kesukaan Shion dan ia membawa mawar merah untuk Naruto serta mawar merah jugalah yang akan dijadikan Naruto untuk membujuk Shion kembali ke pelukan lelaki itu.

Dia dibuang tanpa pernah memiliki, menyedihka sekali. Apapun yang Hinata lakukan tidak membuat dia berada di posisi yang baik, salahkan jika kau ingin mendapatkan orang yang kau cintai? Baik, dia mengakui tidak semua tindakannya benar, tapi setidaknya dia berhak untuk mempertahankan apa yang ia miliki terlebih dahulu, Janji yang ia pegang. Dan berkat janji itu kini ia masih disini menangis untuk yang kesekian kalinya. Siapa bilang dia tidak bodoh, ia lebih tahu kebodohannya untuk Naruto. Dia sendiri pun tidak tahu hal mana yang harus disalahkan untuk cintanya ini, ya ia terima dijuluki sebagai pengemis cinta Naruto. Lalu ia mau disalahkan atas apa, siapa yang bisa mengantisipasi bahkan mengusir cinta untuk tak hinggap dihatinya.

Masih banyak yang lain, apa yang kau lihat darinya?! Mudah mengatakan! Karena bukan kau yang merasakan!

Hinata bernafas kasar, menetralisir pernafasannya. Sedikit membaik, airmatanya sudah tak mengalir lagi, hanya suara hidungnya yang berusaha mengurangi ingus yang ikut keluar. "Naruto-kun sebesar itukah cinta mu untuknya? Tentu-tentu, ia pernah singgah dihatimu, lalu-lalu ba-bagaiman denganku… Bwa—ha!" ia kembali menangis.

Selama dalam perjalan pulang ia masih menangis, tak peduli trotoar, bus, bahkan shinkansen yang padat sekali pun lalu berakhir ditaman tempat ia menangis waktu itu.

Malam memasuki waktunya, beberapa orang meninggalkan taman di dekat rumah Hinata. Hinata disana duduk terkulai di ayunan. Hanya duduk bengong menatap tumpukan tanah yang dibuat kakinya.

"Aku Hyuuga Hinata, Hyuuga Hinata, Hyuuga Hinata, jika itu yang kau inginkan. Baik mari kita lakukan!"

Awal mula semuanya, gadis itu meninggalkan hadiah kecil untuk Naruto sebelum ia menghilang. Anggap saja hukuman untuk Naruto.

Pada akhirnya Naruto ditolak mentah-mentah oleh Shion, gadis itu tak ada niat untuk kembali bersama. Akhirnya nama gadis itu berarti menyakitkan untuknya.

Rasa takut Naruto untuk Hinata dan keterlambatan dia untuk mencegah kepergian Hinata. Andai saja dia lebih cepat sadar akan perbuatannya lalu meminta maaf… Akankah semuanya berubah?

Bagaimana sesungguhnya pengaruh Hinata dalam hidup Naruto. Hingga!

Tidak ada yang mampu menandingi Cinta. Keegoisan agar cinta mu terbalas

adalah satu hal yang akan menjerumuskan mu kedalam hal tak terduga.

Siapa yang mampu menolak jika cinta datang padamu.

.

.

.

.

Hinata impossible to run away from Naruto!

Kali pertama bagi Naruto dapat sedekat ini dengan Hinata tanpa perlawanan dari gadis ini. Hinata masih terlelap atau setengah terlelap dipangkuannya, gadis ini berwajah gusar bersama dengan peluh disekitar wajahnya, perlahan Naruto mengusap dengan sapu tangannya. "Apa kau bermimpi buruk?" ia bertanya pelan, takut mengusik tidur Hinata. Naruto larut memandang wajah pucat Hinata. Wajah keduanya begitu dekat, Naruto membaringkan Hinata di sofa dengan lengan Naruto sebagai bantal, sedangkan Naruto duduk dilantai dan mengamati Hinata. Posisi keduanya begitu intim.

"Kau lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu, apa ia menyakitimu atau aku yang menyakitimu disini?" Naruto membelai lembut wajah Hinata, gadis itu masih tetap pada posisi semula, tertidur. Perlahan Hinata menggerakkan tubuhnya dan membuat tubuh Naruto mendadak kaku, ia tegang dengan reaksi Hinata, bagaimana jika gadis ini bangun kemudian menamparnya! Ia terkekeh pelan, Hinata hanya menyamankan posisi tidurnya pada lengan Naruto.

"Hei, jangan menggodaku aku lelaki normal!" betapa manisnya cara Hinata mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto.

"Semua wanita di dunia ini harus mengakui betapa gentlenya aku!" Naruto berujar lucu, ia mengangkat dan membuat gadis itu sepenuhnya duduk dalam pangkuannya serta bersandar di dadanya.

Lama Naruto memandang wajah Hinata, hanya beberapa centi lagi ia bisa menjangkau bibir Hinata. "Ku tarik kata-kata ku, biarkan aku menjadi laki-laki paling brengsek hanya untuk mu Hinata, bagaimana jika kau benar-benar menjadi kau milikku seutuhnya?"

Naruto mengecup lembut bibir Hinata, ia hanya mengecup sekilas. "Kau mungkin akan membenci ku lagi, kau sudah membenci ku bahkan akan lebih lagi…" ia kembali mengecup Hinata. "Aku lebih memilih menjadi monster untuk mu agar kau tetap disisi ku! Akan ku berikan apapun asal jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpa mu!"

Perlahan Naruto membawa Hinata kedalam ciuman lembut dan lama, semakin intens karena desakkan rindu di hatinya, ini gila! Benar-benar gila! Ia meraung frustasi dalam hati, pikirannya nyaris tak terkadali, ciuman intim sepihak seperti ini saja membuat dia nyaris gila bagaimana jika nona dalam pangkuannya ini ikut membalas ciumannya? Naruto melepaskan tautan bibir mereka, melihat keadaan Hinata, gadis cantik itu tak bereaksi sedikit pun.

"Khe, sebut aku sinting jika aku sampai membiarkan pria lain mengecap manisnya bibirmu. Hanya Namikaze Naruto yang bisa memiliki mu bahkan Toneri sekalipun nona Namikaze!" lihat ia kembali dalam mode ambisius. "Tidak akan ku biarkan kau lari dari sisi ku, well! Itu mustahil untuk mu!"

Sudah dua jam lebih Naruto memangku Hinata, pandangannya kosong lurus kedepan. Sesekali ia melirik Hinata, lalu beralih menatap kaku kelopak mawar yang berserakan di lantai, sebentar lagi Konoha akan memasuki waktu pagi. Bahkan sinar Matahari sudah mulai terlihat.

Seringai Naruto terpantri jelas di wajah rupawannya, ia melihat arloji miliknya. "Ara! 10,9,8,7,6,5,4,3,2,1… Bingo! Waktu mu habis Hinata, sekarang waktunya untuk menjadikan mu milikku!"

Percakapan dibalik pintu samar terdengar ditelinga Naruto. "Oh, lihat sayang kita kedatangan tamu!" ia mengecup sekilas kening Hinata, gadis itu masih dalam mode tertidur.

"Hinata meminta untuk diantar ke kantor, mungkin Hinata tertidur di dalam Toneri-san! Ia sendiri—"

Dan saat pintu terbuka!

"Naruto….!"

"Naruto…!"

"YO! Ohayou!" Naruto membalas santai dengan cengiran lebar miliknya

Keduanya tak bisa menyembunyikan raut terkejut.

"Hinata—" hanya seperkian detik nama itu terucap dari bibir sang kekasih, ia lebih fokus bagaimana posisi intim kekasihnya dan si brengsek Naruto.

Gadis pirang disebelah Toneri pun hanya mampu membekap mulut dengan kedua tangannya. Ia tak mampu bereaksi atas situasi saat ini, Hinata! Sahabatnya tertidur pulas dalam pangkuan Naruto dan jangan lupakan bagaimana tangan Naruto mendekap tubuhnya menjaga posisi gadis itu.

"Singkirkan tanganmu dari tunangan ku!" mengambil langkah besar, Toneri menghampri keduanya.

"Ssstt! Pelankan suara mu, kau mengganggu tidur wanitaku!"

Ia telah memasang genderang perang! Wanita ku bukan wanita mu!


Thank you!

And

TO BE CONTINUED…

Alasan mengapa judulnya cinta dan benci itu sama, karena cinta dan benci bisa menghasilkan dua sisi yaitu kebaikan atau keburukan sekali pun!

.

.

.

Holla Minna-san! Ini update terbaru. Semoga suka…

Peluk dan cium dari Hiuzulia….

Maaf aku tidak bisa komentar banyak, soalnya aku lagi sibuk banget sekarang…

Yang bisa aku janjikan Chapter depan benar-benar perang! Sisi buruk dari cinta segitiga ini akan dimulai!

Sayonara! Love you for your Fav and Fol my fanfic.