Celebrity Wedding
by
AliaZalea
"Baekhyun, tentunya kau kenal dengan Park Chanyeol, musisi paling berbakat and the most eligible bachelor in town," ucap Yunho dengan antusias.
Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja Baekhyun, juga seluruh Korea Selatan, tahu siapa Chanyeol. Mr. Playboy of the year yang baru-baru ini digosipkan sudah melamar Irene, kekasihnya yang model dan juga selebriti wanita paling dicintai se-Korea Selatan itu karena mereka tertangkap basah sedang shopping cincin.
"Baekhyun," ucap Baekhyun sambil buru-buru meraih tangan yang disodorkan oleh Chanyeol. Genggaman tangan Chanyeol terasa kuat dan pasti.
Baekhyun bukanlah fans musik Chanyeol, dalam arti dia tidak pernah beli CD-nya, tapi dia tidak keberatan mendengar lagu-lagunya diputar di radio atau menonton video klipnya di MTV. Aliran musik Chanyeol yang merupakan pencampuran antara pop rock dan R&B cukup enak didengar dengan lirik dan nada yang mudah diingat. Sekarang Chanyeol membiarkan rambutnya dipotong pendek, tapi dulu rambutnya panjang dengan dreadlock ala Lenny Kravitz. Biasanya dia tidak suka laki-laki berkulit terlalu putih, tapi dia bahkan tidak pernah memperhatikan bahwa warna kulit Chanyeol nyaris kelihatan seperti orang albino karena dia dan hampir seluruh wanita di Korea Selatan yang berumur di antara 18 hingga 60 tahun sudah terlalu terkesima dengan aura Chanyeol. Aura yang sekarang dirasakannya sedang menyerangnya dengan kekuatan penuh tanpa dibatasi oleh layar TV, alhasil dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah Chanyeol.
"Chanyeol," ucap Chanyeol sambil tersenyum. Melihat senyum itu Baekhyun harus mengingatkan dirinya untuk kembali bernapas. Dia sering melihat senyum itu di TV dan dia selalu berpendapat bahwa senyuman itu menarik, tetapi saat melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri ternyata kata "menarik" tidak cukup untuk menggambarkan apa yang ada di hadapannya.
"Ini Cho Kyuhyun, pengacara Chanyeol dan Kim Jongdae, manager Chanyeol," Yunho memperkenalkan kedua orang yang berdiri mengapit Chanyeol. Baekhyun buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol dan menyalami kedua pria itu sebelum kemudian duduk di kursi sebelah kiri Yunho dan berhadapan dengan Chanyeol.
"Boleh kita lanjut?" Tanya Yunho pada Chanyeol yang sekarang sedang memandangi Baekhyun, yang berusaha sebisa mungkin menghindari tatapannya dengan mengatur posisi laptopnya.
Chanyeol menahan senyum melihat tingkah laku Baekhyun. Beberapa detik yang lalu Baekhyun kelihatan hampir melongo menatapnya, dan sekarang justru mencoba sedaya-upaya untuk menghindari tatapannya. Mmmhhh... Interesting... Chanyeol mengambil inventori penampilan Baekhyun, mulai dari ujung rambut hingga jari-jari tangannya yang kurus, berkuku pendek, dan bebas dari cincin. Ukuran tangan Baekhyun kemungkinan hanya separuh dari ukuran tangannya.
Dengan tinggi 185 cm, berat 80 kg dan ukuran sepatu 44, Chanyeol bisa dikategorikan sebagai raksasa untuk laki-laki Korea. Meskipun begitu, tubuhnya sangat proposional dan kebanyakan orang tidak akan tahu bahwa dia setinggi ini sampai mereka bertemu dengannya secara langsung.
Sekali lagi Chanyeol tersenyum pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa selama lima menit belakangan ini perhatiannya sedang terpaku pada tangan Baekhyun yang kecil itu. Sejujurnya Chanyeol tidak menyangka bahwa "Nona Baekhyun" yang dipuji-puji oleh Paman Jinyoung ternyata adalah seorang wanita sebaya dirinya yang berukuran super kecil, tapi kelihatan super smart dan sedikit cute kalau saja dia mau mengoleskan sedikit make up pada wajahnya yang pucat itu.
"Manajemen Chanyeol specially memintamu sebagai account holder mereka atas saran dari Tuan Jinyoung," jelas Yunho kepada Baekhyun.
Park Jinyoung, seorang pembawa acara senior yang kini merangkap sebagai pengusaha dalam berbagai bidang adalah salah satu klien terlama Baekhyun. Mmmhhh... Tuan Jinyoung tidak pernah bercerita kepadanya bahwa dia mengenal Chanyeol. Lalu ia sadar bahwa Yunho masih berbicara dan dia memfokuskan perhatiannya kembali pada meeting ini. "Tapi karena kau sudah memegang jumlah klien yang maksimum..."
Maksimum? Baekhyun tertawa dalam hati. Kata-kata yang lebih tepat adalah "sudah jauh melebihi batas maksimum". Dasar Yunho, kalau sudah urusan bullshit paling jagonya. Dia mencoba untuk menahan senyum yang mulai terasa di sudut bibirnya karena ketika dia melirik, Yunho yang sedang memandangnya dengan tajam. Baekhyun pun mencoba mangatur ekspresi wajahnya agar kembali serius. Selama Yunho menjelaskan tentang latar belakang Baekhyun, Chanyeol membisikkan sesuatu pada pengacaranya.
"Maaf, Yunho-ssi, tapi Chanyeol lebih memilih Nona Baekhyun sebagai account holder-nya," potong Kyuhyun dengan nada yang terlalu tegas, sehingga terdengar agak-agak tidak sopan.
Baekhyun sempat ternganga mendengarnya. Tidak pernah ada orang yang berani membantah pendapat Yunho, atau menggunakan nada bicara seperti itu dengan beliau. Chanyeol memandanginya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Dia sudah bersiap-siap untuk membela kedudukan Yunho, tapi beliau telah membaca gelagatnya dan mencoba untuk menengahi.
"Baekhyun... bagaimana menurutmu? Apa kau mampu?"
Baekhyun melongo beberapa saat, bingung mencari kata-kata untuk menjawabnya. Mampu sih mampu, cuma masalahnya adalah apakah dia mau. Karena kalau jumlah kliennya ditambah lagi, itu berarti dia akan semakin tidak memiliki kehidupan di luar kantor. Dia menarik napas dalam-dalam dan menatap mata Chanyeol.
Chanyeol agak terkejut ketika sadar bahwa Baekhyun sedang menatapnya bulat-bulat. Lain dengan tatapan banyak wanita yang baru pertama kali bertemu dengannya, tatapan Baekhyun tidak terlihat flirty atau malu-malu. Chanyeol mengerutkan dahi, sedikit bingung dan kesal karena Baekhyun sepertinya tidak bereaksi seperti wanita pada umumnya, dan Baekhyun menginterpretasikan tatapan Chanyeol sebagai suatu ejekan, dan dia langsung mengemukakan pendapatnya.
"Tuan Chanyeol..."
"Chanyeol," ucap Chanyeol memotong kalimat Baekhyun.
"Excuse me?" Tanya Baekhyun otomatis dan menatap Chanyeol bingung.
"Namaku Chanyeol. Tidak perlu pakai 'tuan', aku belum setua itu," jawab Chanyeol sambil membalas tatapannya.
Chanyeol hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat permainan emosi pada wajah Baekhyun yang pada detik itu tahu bahwa dia baru saja dihina oleh dirinya. Tentunya sebagai seorang profesional, Baekhyun hanya tersenyum dan menggangguk. Chanyeol mengharapkan Baekhyun akan memakinya dan agak sedikit kecewa ketika dia menyerah begitu saja.
"Chanyeol..." Baekhyun berhenti sesaat untuk merasakan nama itu pada lidahnya. Ternyata enak juga, kemudian dia melanjutkan, "Sebagai account holder, kami ada batas maksimum jumlah klien yang bisa kami pegang, karena kami ingin memastikan bahwa setiap klien mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama..."
"Jadi nona menolak Chanyeol sebagai klien?" Tanya Kyuhyun dengan nada tenang tapi membuat Baekhyun ingin melemparkan laptopnya ke muka pengacara itu.
Baekhyun melirik ke arah Yunho dan beliau langsung masuk kembali ke dalam pembicaraan.
"Maksud Baekhyun bukan begitu, Kyuhyun-ssi, tapi kurasa Chanyeol akan lebih terjamin kalau ditangani oleh Kibum dan Minho, junior partner kami yang jadwalnya agak lebih terbuka," Yunho mencoba untuk menenangkan suasana yang mulai agak memanas.
"Yunho-ssi, maaf sebelumnya, tapi kedatangan kami hari ini adalah untuk memberitahukan bahwa pihak manajemen Chanyeol bersedia untuk do business dengan firma ini, dengan syarat bahwa account holdernya adalah Nona Byun Baekhyun. Kami tadinya sudah bersedia settle dengan akuntan publik lain, tapi atas rekomendasi Tuan Jinyoung, kami memilih firma ini. Tapi kalau misal permintaan ini tidak bisa dipenuhi, kami bisa cari akuntan publik lain."
Baekhyun betul-betul tidak bisa berkata-kata lagi mendengar pernyataan ini. Diskusi antara Yunho dan Kyuhyun pun berlanjut, membicarakan nasibnya sebagai account holder Chanyeol, seakan-akan dia tidak ada di dalam ruangan itu bersama mereka. Dia memperhatikan Chanyeol yang kini terlihat agak bosan, dan dia tidak bisa menyalahkannya. Jujur saja, kalau dia sendiri stuck di dalam percakapan yang sama sekali dia tidak mengerti, dia pasti sudah memaparkan wajah yang tidak jauh dari wajah Chanyeol sekarang.
Baekhyun benar, Chanyeol bosan dengan meeting ini. Dia tidak mengerti kenapa Jongdae bersikeras bahwa dia harus ikut padahal dia akan merasa lebih produktif kalau sekarang mengurung dirinya di studionya untuk merampungkan aransemen lagu yang baru ditulisnya semalam. Chanyeol melihat Baekhyun menyandarkan punggungnya ke kursi dan kelihatan agak-agak khawatir. Entah apa yang dipikirkannya.
Jarum jam tangan Baekhyun sudah mendekati angka empat. Dia mulai memikirkan semua pekerjaan yang masih harus dia selesaikan sebelum meninggalkan kantor. Lima belas menit kemudian meeting itu belum selesai juga. Ketika dia melirik jam tangannya untuk yang ketiga kalinya dalam kurun waktu setengah jam, Chanyeol menegurnya.
"Do you need to be somewhere?" Tanyanya dengan nada tenang tapi cukup keras. Yunho dan Kyuhyun langsung terdiam dan menatap Baekhyun.
Baekhyun memutar otaknya, mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu dan tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat. Well... mungkin dia bisa menemukan kata-kata yang tepat, tapi tidak kata-kata yang sopan. Untungnya Yunho menyelamatkannya sebelum dia mulai menyuarakan beberapa kata yang ada di kepalanya. Dia yakin tidak satu pun dari kata-kata itu akan menyelamatkannya dari talak "You're fired" ala Donald Trump. "Gentleman, saya akan discuss hal ini dengan Baekhyun lebih lanjut. Saya yakin kita bisa work something out."
Baekhyun memandangi Yunho bingung, tidak biasanya beliau mengikuti kemauan klien sampai sespesifik ini. "Kalau memang Chanyeol harus ditangani oleh Baekhyun, then she is the person to do it."
Whoaa! Wait a second. Apa aku tidak akan diberi kesempatan untuk menyuarakan pendapatku? Baekhyun mengumpat dalm hati.
"Good." Jawab Kyuhyun puas.
"Bagaimana kalau Baekhyun datang ke kantor Chanyeol minggu depan?" Lanjut Yunho.
Huh! Sudah bikin janji, padahal aku tidak tahu dimana kantor Chanyeol, lanjut Baekhyun mengomel dalam hati. Yang lebih penting lagi, kenapa juga mereka menyebutnya sebagai "kantor Chanyeol" seakan-akan Chanyeol-lah pemilik kantor itu.
"Lebih cepat lebih baik. Besok juga boleh," jawab Jongdae, untuk pertama kalinya mengeluarkan suara.
Tanpa bisa menahan diri, Baekhyun sudah berbicara. "Sebetulnya kalau besok aku tidak bisa."
Keempat laki-laki yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arahnya, kaget. Mungkin karena nadanya atau mungkin karena bantahannya, dia tidak tahu. Baekhyun menggigit lidahnya.
"Memangnya kau ada acara besok?" Tanya Chanyeol, sebisa mungkin terdengar cuek, tetapi sejujurnya dia memang ingin tahu apa yang akan dikerjakan wanita kecil ini besok. Apa dia ada rencana dengan pacarnya? Suaminya? Tidak, tidak mungkin suami, dia tidak mengenakan cincin kawin. Ketika Chanyeol menyadari bahwa dia sedang memikirkan tentang status single atau tidaknya wanita yang kemungkinan akan menjadi akuntannya, dia langsung berhenti.
"Iya, aku ada acara." Akhirnya Baekhyun bisa berbicara dengan nada penuh kejengkelan yang terpendam. Dia harus mengambil kue untuk Yeri dari Harvest, itulah sebabnya dia tidak bisa dateng ke kantor Chanyeol besok.
"Can you reschedule?" Baekhyun mendengar suara Yunho bertanya.
"What?" Tanya Baekhyun.
"Acaramu besok bisa di-reschedule?" Ulang Yunho sambil menatapnya tajam. Oh this is not good! Baekhyun tahu nada itu yang pada dasarnya mengatakan bahwa dia "harus" reschedule bukan "bisa".
"Oh... ya... ya... bisa," ucap Baekhyun terbata-bata.
Chanyeol mencoba untuk menebak apa yang ada di pikiran Baekhyun pada saat itu karena dia kelihatan seperti orang yang akan dihukum mati. Tebakan Chanyeol cukup mengena karena Baekhyun sedang berpikir bahwa Taeyeon—kakak pertamanya akan membunuhnya.
Baekhyun mencoba tetap menumpukan perhatiannya pada Yunho dan Kyuhyun karena dari sudut matanya dia melihat Chanyeol sedang memperhatikannya. Untuk lebih meyakinkan mereka, Baekhyun menambahkan, "Yunho sajangnim, kurasa aku masih harus di-briefing dulu untuk hal ini," lanjutnya sambil menghadap ke Yunho dan tidak menghiraukan Chanyeol.
Yunho mengangguk dan Chanyeol berkata, "Oke, kutunggu kau besok di kantorku."
Mau tidak mau Baekhyun harus menatap Chanyeol ketika memberikan anggukannya. Chanyeol sudah berbicara padanya dengan menggunakan kata "kau" daripada "Nona Baekhyun". Baekhyun mencoba memutuskan apakah dia lebih memilih dipanggil "kau" yang terdengar agak-agak kurang formal, bahkan sedikit tidak sopan atau "Nona Baekhyun" yang membuatnya terdengar tua, olehnya. Dia belum sempat memutuskan ketika dia mendengar suara Jongdae.
"Tolong datang setelah jam tiga sore saja, karena Chanyeol ada rekaman malam ini, jadi kami mungkin baru bisa berfungsi sekitar jam itu," ucapnya dengan suara lembut. Baekhyun langsung tau bahwa Jongdae lebih enak diajak kompromi daripada Kyuhyun.
Chanyeol dan pasukannya kemudian berdiri untuk bersalaman dengan Yunho dan Baekhyun. Baekhyun langsung menyadari betapa tingginya tubuh Chanyeol. Mungkin ini hanya perasaannya saja, tetapi tubuh Chanyeol yang besar itu pada dasarnya telah memenuhi seluruh ruang pertemuan sehingga Baekhyun harus menahan diri agar tidak mundur selangkah untuk menhindari bayangannya. Dia merasa agak sedikit terintimidasi oleh Chanyeol. Suatu hal yang sangat jarang terjadi. Sebagai wanita yang sering menerima komentar, bahkan sindiran karena bertubuh mungil, dia belajar untuk mengintimidasi orang dengan otaknya semenjak SMP dan selama ini usahanya selalu berhasil karena tidak ada orang yang bisa membuatnya takut dam merasa tidak nyaman, hingga sekarang. Dia mengontrol rasa terintimidasinya dan membuka pintu untuk keluar ruang pertemuan. Dia dan Yunho mengiringi Chanyeol dan pasukannya hingga ke lift. Dalam perjalanan, dia menyempatkan diri untuk memperhatikan Chanyeol dengan lebih jelas. Oh my God, is he wearing a pink shirt? He is wearing a pink shirt! Bagaimana bisa dia merasa terintimidasi oleh laki-laki yang mengenakan kemeja warna pink ke business meeting?
Chanyeol membiarkan kroni-kroninya berjalan terlebih dahulu dengan Yunho, sementara dia berjalan disamping Baekhyun.
"Kau ada acara apa besok?" Tanyanya.
"Mengambil kue ulang tahun keponakanku," jawab Baekhyun. Kemudian dia meutup mulutnya, seakan akan terkejut karena sudah membagi informasi itu kepada orang yang baru dia kenal kurang dari setengah jam, tapi kemudian dia menambahkan, "Besok adalah ulang tahun ke delapan belas keponakanku dan aku sudah janji untuk membawakan kuenya."
Chanyeol baru akan mengatakan permohonan maafnya, tetapi kata-kata itu terpotong oleh suara Jongdae yang sedang berpamitan dengan Yunho. Chanyeol pun bersalaman dengan bos Baekhyun itu dan menganggukkan kepalanya kepada Baekhyun sebelum memasuki lift.
"Kami tunggu besok sore," ucap Kyuhyun sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Baekhyun yang mengangguk, dan tertutuplah pintu lift.
To be continued.
