Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Tepat pukul dua siang Baekhyun sudah tiba di kantor Chanyeol yang terletak di kawasan Cheongdam-dong, ditemani oleh Kibum yang bersedia membantu Baekhyun untuk menangani account penyanyi itu. Baekhyun agak-agak bengong juga waktu sampai disana, karena bangunan itu kelihatan lebih seperti rumah super mewah empat lantai yang serba putih, daripada kantor. Satpam di depan pintu gerbang mempersilahkan mobil Baekhyun masuk ke halaman depan dan memintanya untuk parkir di satu tempat yang memang sudah disediakan.

Baekhyun dan Kibum melangkah mendekati pintu utama dan siap untuk mengangkat door knocker ketika tiba-tiba pintu sudah terbuka dan Jongdae menyambut mereka dengan hangat.

"Nona Baekhyun... susah mencari alamatnya?" Tanya Jongdae sambil menyalami Baekhyun, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Kibum.

"Tidak kok," balas Baekhyun sebelum kemudian memperkenalkan Kibum.

Baekhyun kemudian melangkah masuk ke dalam rumah itu dan langsung disambut oleh hiruk-pikuk orang-orang yang sedang bekerja. Sekurang-kurangnya tiga orang sedang sibuk di depan komputer dan dua orang sedang menjawab telepon. Ternyata bukan dia saja yang harus bekerja pada hari Sabtu. Menurut observasinya, pada dasarnya ruangan itu hampir tidak ada sekat sama sekali dan dikelilingi oleh kaca, sehingga tidak membutuhkan lampu kalau siang hari, membuatnya terlihat sangat alami dan fresh. Semua orang bekerja di atas meja dari kaca dengan bentuk ergonomis, yang dilengkapi dengan flat panel Apple.

Kemudian Baekhyun melihat Sehun alias Oh Sehun, penabuh drum band Chanyeol, yang kelihatan super cuek dengan celana kargo dan kaos putih. Sehun memang terkenal dengan julukan "drummer paling tampan di Korea Selatan" karena tampangnya memang "bening" sekali. Sehun sedang duduk di sofa merah yang super trendi sambil mendiktekan suatu surat dengan suaranya yang berat pada seorang wanita yang sibuk mengetik di laptop. Sehun dengan rambut gimbal dan gaya punk-nya memang kelihatan sangat berbeda dengan Chanyeol yang serba rapi, tapi kemudian Baekhyun ingat Chanyeol dulu juga gayanya seperti Sehun dan dia mengerti kenapa mereka bisa cocok.

"Sehun, kenalkan ini Nona Baekhyun dan Kibum, mereka akuntan baru Chanyeol," ucap Jongdae sambil melangkah mendekati Sehun.

Baekhyun bertanya-tanya kenapa juga sih Jongdae tetap memanggilnya dengan "nona" sedangkan Kibum yang jelas-jelas lebih tua darinya bisa dipanggil namanya saja.

"Sehun," ucap Sehun dengan ramah dan penuh senyum sambil menyodorkan tangan kanannya. Ternyata selain tampan, Sehun juga ramah sekali.

"Chanyeol mana, Sehun?" tanya Jongdae.

"Di atas. Kalian mau bertemu Chanyeol?" Tanya Sehun pada Baekhyun dan Kibum yang mengangguk atas pertanyaan ini.

"Ayo, aku antar ke atas," ajaknya.

"Ke atas?" Tanya Baekhyun semakin bingung.

"Iya, mau bertemu Chanyeol, kan?" Sambil terus berjalan ke arah tangga disamping pintu masuk.

Baekhyun melirik kepada Jongdae untuk mendapatkan izin darinya, tapi beliau sedang sibuk dengan salah satu stafnya. Kibum hanya mengangkat alis kanannya dan mengikuti Sehun. Baekhyun pun tidak punya pilihan selain melakukan hal yang sama.

Ketika tiba di lantai dua, Baekhyun langsung berhadapan dengan suatu area terbuka yang ternyata adalah area kolam renang berukuran setengah olympic. Dia masih sibuk mencoba untuk tidak melongo karena kagum dengan arsitektur rumah ini, ketika dia mendengar Sehun menggumam, "Kemana lagi anak ini pergi, perasaan tadi disini."

Sehun berjalan menyusuri sisi kolam renang itu untuk menuju ke tangga kayu lebar yang menuju ke lantai tiga. Sebisa mungkin Baekhyun mencoba untuk mengikuti langkah Sehun yang lebar-lebar itu.

"Kita ke kamarnya saja," ucap Sehun lagi. Dan tanpa menunggu jawaban, dia langsung menaiki dua anak tangga sekaligus.

"Kamar?" Tanya Baekhyun semakin bingung.

Sehun memandanginya heran sambil terus menaiki tangga. "Lho, memangnya Nona Baekhyun tidak tahu ini rumah Chanyeol?" Tanyanya.

"Panggil aku Baekhyun saja, tidak usah pakai 'nona'. Aku belum terlalu tua," ucap Baekhyun dan Sehun mengangguk sambil tersenyum. "Ini rumah Chanyeol?" Lanjut Baekhyun, kali ini dengan nada agak ragu.

"Iya, ini kantor manajemen, plus studio rekaman, plus tempat tinggal Chanyeol," jawab Sehun.

Setibanya di lantai atas, Sehun langsung melangkah ke kanan dan membuka pintu kayu besar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Baekhyun menarik napas dalam-dalam ketika memasuki ruangan itu karena dia tidak pernah melihat kamar tidur senyaman ini. Lantai yang tertutupi oleh kayu berwarna gelap dan tempat tidur yang terbuat dari kayu antik dengan headboard bernuansa sama. Baekhyun melihat beberapa kerajinan tangan dari bambu yang dia yakin pasti berasal dari daerah Jeonju. Ruangan itu terlihat sangat terang, tapi tidak ada satu lampu pun yang menyala. Semua penerangan datangnya dari sinar matahari yang masuk dari satu sisi ruangan yang terbuat dari kaca dari lantai hingga atap. Dia merasa seperti berada di kamar hotel sebuah resor kelas atas bukannya di sebuah rumah pribadi. Dia tersadar kembali ke realita ketika mendengar Sehun berteriak.

"Yeol... ada yang mencarimu."

Oh, my God! Aku berada di dalam kamar tidur Chanyeol, teriak Baekhyun dalam hati.

"Siapa? Irene?" Jawab satu suara dari arah kanan kamar itu. Baekhyun mengenali suara serak-serak basah itu dimana pun juga. Suara Chanyeol.

"Bukan," balas Sehun, kemudian melompat ke atas temapat tidur dan telentang sambil mengembuskan napas panjang. Kemudian, seakan-akan baru ingat bahwa ada Baekhyun dan Kibum, Sehun mendudukkan dirinya dan memberikan tanda kepada mereka untuk masuk dan menutup pintu.

"Jadi, siapa?" Terdengar Chanyeol bertanya lagi.

Baekhyun melangkah masuk dengan ragu, dan Kibum menutup pintu di belakangnya. Hanya ada satu alternatif untuk duduk di ruangan itu dan masih terlihat profesional, yaitu di sofa panjang yang terletak di sebelah kanan. Baekhyun mendudukkan dirinya pada sofa tersebut.

"Kau keluar sini, jadi bisa melihat sendiri," balas Sehun yang kemudian sibuk dengan remote control TV dan mengganti-ganti channel.

Tidak lama kemudian Baekhyun mendengar suara pintu geser dibuka dan keluarlah Chanyeol dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang mengelilingi bagian bawah tubuhnya dari pinggang hingga lutut. Sehelai lagi dengan ukuran lebih kecil tergantung pada lehernya. Dia membelakangi Baekhyun dan sebuah tato sepasang sayap burung dengan ukuran yang cukup besar sehingga terlihat seperti sayap malaikat, terentang pada tulang bahunya. Baekhyun bukanlah tipe wanita yang suka tato karena menurutnya tato hanya akan merusak kulit yang sudah diciptakan sempurna sebagaimana adanya oleh Tuhan, tapi dia harus merevisi pendapatnya ini setelah melihat tato di tubuh Chanyeol. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia langsung merasa gerah hanya melihat punggung seorang laki-laki. Chanyeol sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang tadi tergantung di lehernya dan tidak memperhatikan sekitarnya.

"Hun... Hun... kau seperti anak SD saja main tebak-tebakan," ucap Chanyeol sebelum membalikkan tubuhnya.

Ruangan menjadi hening. Hanya suara pembaca berita di TV yang terdengar samar-samar. Baekhyun harus menelan ludah ketika melihat perut penyanyi itu yang meskipun tidak six-packs tapi cukup rata dan bahu serta dadanya yang cukup berotot. Positif. Ini adalah laki-laki paling seksi satu Korea Selatan. Tidak paling tampan, atau cute, tapi SEKSI.

"Kenapa kau disini?" Teriak Chanyeol cukup keras. Kalau saja dia bukan seorang wanita dewasa, Baekhyun pasti sudah loncat dari tempat duduknya. Tapi sebagai wanita dewasa dia hanya pelan-pelan berdiri dari kursinya.

"I was invited," jawabnya menyatakan fakta dengan suara sedatar mungkin, meskipun dalam hati jantungnya sudah berdebar-debar.

"Ke kamar tidurku?" Dan meskipun Baekhyun tahu bahwa pertanyaan ini sifatnya hanya retorik, tapi dia tetap mengangguk.

Jelas-jelas dia harusnya menolak waktu diundang masuk ke kamar ini. Ini kamar tidur Chanyeol, ruangan yang sangat pribadi baginya.

"Oleh siapa?" Suara Chanyeol membuatnya kembali fokus pada keadaan sekarang.

"Aku yang mengajak mereka masuk, bukankah mereka mau bertemu denganmu," jawab Sehun santai.

"Mereka?" Chanyeol baru sadar bahwa ada Kibum yang berdiri disebelah Baekhyun.

"Kami tunggu di luar," ucap Baekhyun. Lalu melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban. Kibum agak ragu, tapi kemudian mengikutinya.

Chanyeol menatap dua orang itu keluar dari kamarnya sebelum mengalihkan perhatiannya pada Sehun yang sedang nyengir.

"Kau melakukan ini karena sengaja mau menjahiliku, ya?" Omel Chanyeol.

"Yep!" Balas Sehun cuek. "Tidak ada korban lain hari ini," lanjutnya.

"Menjahiliku tidak bisa menunggu sampai aku memakai baju?" Chanyeol berjalan menuju lemari pakaiannya.

"Mana kutahu kalau kau bakalan tidak memakai baju?"

"Sehun, aku sedang ada di kamar tidurku. Apa yang kau pikir orang kerjakan kalau di kamar tidur mereka?" Chanyeol mencoba memutuskan kaus mana yang akan dia kenakan hari ini.

Sehun terdiam sejenak, membuat Chanyeol menoleh untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakannya. Sambil menghitung dengan jari-jarinya Sehun berkata, "Tidur, nonton TV, makan, kerja, olahraga, membaca buku, melamun, ML if they get lucky... apa lagi ya..."

"Mandi dan pakai baju," potong Chanyeol.

"Salah. Mana ada orang mandi di kamar tidur, yang ada juga mereka mandi di kamar mandi. Kalau soal pakai baju, orang biasanya membawa baju mereka masuk ke kamar mandi, jadi begitu keluar sudah pakai pakaian."

Chanyeol kelihatan siap membunuh Sehun dengan tatapannya. "Fine," geram Chanyeol. "Tapi tolonglah aku, kapan-kapan jangan membawa orang tidak dikenal masuk ke kamar tidurku lagi, oke?" Chanyeol kembali membelakangi Sehun.

"Siapa bilang mereka orang tidak dikenal? Kau sudah kenal Baekhyun, dia kan akuntanmu."

Otot tubuh Chanyeol jadi sedikit kaku ketika mendengar Sehun menyebut nama Baekhyun seakan-akan mereka adalah teman baik. Dia saja belum menyebut nama itu. Untuk mengontrol kejengkelan yang mulai terasa, Chanyeol menarik sehelai kaus putih polos dari laci dan buru-buru mengenakannya. Kemudian dia menarik sehelai celana jins dari dalam lemari. Karena tidak berencana untuk keluar rumah, Chanyeol memutuskan untuk mengenakan kacamata minusnya daripada lensa kontak, lalu dia melangkah keluar dari kamarnya.


Setibanya di luar dan menutup pintu kamar Chanyeol, Baekhyun langsung merasa mual, tapi Kibum sepertinya tidak merasakan hal yang sama.

"Oh, my God. Did you see his abs?" Tanya Kibum dengan mata berbinar-binar.

Oh, Kibum, bless his heart. Tentu saja dia tidak akan melupakan tubuh Chanyeol yang tampil dalam keadaan setengah telanjang beberapa menit yang lalu itu. Baekhyun tersenyum sebelum mengangguk.

"Aku tidak menyangka kalau dia begitu fitnya," ucap Kibum lagi dengan berapi-api. "I, in love," sambungnya sambil memegangi dadanya.

Baekhyun langsung tertawa terkekeh-kekeh melihat gaya Kibum, dan terpaksa menutup mulutnya beberapa detik kemudian ketika sadar bahwa dia sedang berada di depan kamar lelaki itu, yang meskipun tertutup oleh pintu jari, tapi kemungkinan besar tidak kedap suara.

"Nah, sekarang kita tahu kan kenapa dia dibilang the sexiest man alive?" Tanya Kibum setelah Baekhyun bisa mengontrol tawanya.

Baekhyun menggeleng.

Kibum kemudian mendekatinya dan berbisik, "Aku tidak yakin ya, tapi I swear he was quite hard."

"Hard to get, maksudmu?" Tanya Baekhyun bingung.

Kibum memandanginya dengan muka bingung. "Ya ampunnnnnnnnn... susah kalau berbicara dengan perawan," teriak Kibum cukup keras.

Baekhyun langsung menutup mulut Kibum dengan tangan kanannya sambil mendesis, "Sssttt, jangan kencang-kencang."

Kibum sedang berusaha untuk melepaskan mulutnya dari tangan Baekhyun.

"Apa hubungannya dengan aku perawan atau tidak?" Tanya Baekhyun masih berbisik sambil menarik tangannya dari wajah Kibum.

"Hard, Baekhyun, hard... as in arouse? Get it?"

"Hah? Maksudmu erection?" Teriak Baekhyun kaget.

Sekarang giliran Kibum yang menutup mulut Baekhyun dengan tangannya dan mengatakan "Sssttt". Setelah Kibum yakin bahwa Baekhyun mengerti maksudnya, dia mengangkat tangannya dari mulut Baekhyun.

"Kau ini bisa saja melihatnya sih?" Bisik Baekhyun.

Kibum tertawa terkekeh-kekeh. "Ya kalau kau melihat lelaki super seksi cuma pakai handuk. You can't help but look," jawabnya simple.

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat dekat dengan telinga Baekhyun. "Look for what?"

Baekhyun langsung berbalik dan berhadapan langsung dengan Chanyeol. Lebih tepatnya dengan dada Chanyeol. Dia harus mengangkat kepalanya untuk menatap mata Chanyeol. Mmmhhh... ada sesuatu yang aneh dengan wajah Chanyeol. Setelah beberapa detik dia baru sadar bahwa ada kacamata minus dengan frame hitam tebal yang bertengger di hidungnya. Dan kacamata itu bahkan membuat Chanyeol jadi lebih seksi lagi.

Sehun muncul di belakang Chanyeol sambil tersenyum iseng. "Tuh, Yeol... aku sudah bilang jangan pernah pakai handuk warna putih," ucap Sehun, lalu langsung bergegas menuruni tangga sambil tertawa menggelegar.

Chanyeol betul-betul ingin membunuh Sehun pada saat itu. Kalau saja Sehun bukan drummer terbaik yang dia punya, Chanyeol pasti sudah menjalankan ancamannya ini dari dulu-dulu. Chanyeol melihat Baekhyun mundur beberapa langkah dan berdiri di belakang Kibum, seakan-akan minta perlindungan. Padahal, kalau Chanyeol memang mau membunuhnya, tidak ada yang bisa menolongnya, apalagi Kibum. Dengan badannya yang super kurus seperti tiang listrik, yang ada disentil saja dia sudah melayang ke Siberia. Chanyeol merasa sedikit terhibur dengan bayangan ini, tapi kata-kata Kibum selanjutnya membuatnya jengkel lagi.

"Tuan Chanyeol, dimana mau meeting-nya?"

"Chanyeol," geramnya.

Kibum hanya menatapnya bingung.

"Namaku Chanyeol. Bukan Tuan Chanyeol," jawabnya ketus. Lalu melangkah menuruni tangga.

Kibum memenadang Baekhyun sambil mengangkat alis, bingung, juga tersinggung. Baekhyun hanya menggeleng-geleng sambil menarik napas panjang. It's gonna be a looooooooooong day.


To be continued.