Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Memasuki bulan ketiga ketika Baekhyun baru saja pulang dari Gwangju, Jisoo memberitahu bahwa Seulgi memintanya untuk datang pada kunjungan selanjutnya karena Nyonya Youngmi mau bertemu dengannya. Mengingat penampilan Nyonya Youngmi yang meskipun kelihatan seumuran dengan Ibunya sendiri, tetapi mampu menggoreng seseorang hanya dengan tatapannya, Baekhyun tidak bisa tidur selama dua hari sebelum kunjungan.

Setibanya di kantor Chanyeol hari Rabu siang, Baekhyun dan timnya langsung disambut oleh Seulgi yang setelah mempersilahkan mereka duduk di ruang pertemuan, menghilang sebentar untuk memanggil Nyonya Youngmi. Selama menunggu, Baekhyun mendengar ada suara dua orang yang sedang beragumentasi dengan suara rendah. Ternyata Seulgi telah membiarkan pintu ruang pertemuan agak sedikit terbuka dan sepertinya dua orang yang sedang berbicara itu tidak menyadari bahwa ada orang lain yang bisa mendengar percakapan mereka.

"Memangnya kenapa sih aku tidak boleh menginap disini sekali-sekali?" Baekhyun mendengar suara seorang perempuan.

"Kau kan tahu perasaanku tentang perempuan menginap di rumahku," jawab suara seorang laki-laki yang Baekhyun tahu adalah Chanyeol.

"Tapi aku bukan sembarang perempuan. Aku ini kekasihmu."

"Bisa tidak kita bicarakan masalah ini nanti? Aku ada meeting."

"Yeol, kau mau kemana? Aku belum selesai bicara." Itulah suara terakhir yang Baekhyun dengar sebelum dia melihat tubuh Chanyeol terpampang di depan pintu. Dan seperti sadar bahwa ada orang yang sedang memperhatikannya, dia menoleh dan langkahnya terhenti tiba-tiba. Matanya melebar sedikit ketika melihat Baekhyun.

Baekhyun tahu bahwa bukan salahnya untuk berada di dalam ruang pertemuan pada saat itu, tetapi dia tetap merasa sedikit bersalah karena telah tertangkap basah menguping pembicaraan yang jelas-jelas bersifat pribadi.

"Yeol, kau kenapa sih padaku?" Suara rengekan perempuan itu menarik Baekhyun kembali ke realita.

Baekhyun menarik tatapannya dari Chanyeol dan beralih kepada... Irene yang berdiri disamping Chanyeol. Baekhyun harus menarik napas. Sejujurnya, Irene memang cantik setiap kali muncul di TV, tapi itu tidak sebanding dengan aslinya. Wajahnya putih bersih, bahkan terlihat seperti ada sinar yang terpancar darinya. Tubuhnya tinggi semampai tapi berisi, tidak terlalu kurus sebagaimana model pada umumnya. Ketika menyadari bahwa perhatian Chanyeol sedang terfokus pada Baekhyun, Irene pun mengalihkan perhatiannya pada orang yang sama. Irene menatap Baekhyun dari ujung rambut hingga ujung kaki, seluruh 150 cm tingginya, sebelum kemudian menatap matanya. Seakan-akan dia menilai bahwa Baekhyun bukanlah orang penting, perhatiannya lalu kembali pada Chanyeol. Oke, sepertinya kepribadian Irene yang sebenarnya tidak sebaik yang dia tampilkan kepada media selama ini, ucap Baekhyun dalam hati, sedikit jengkel.

Diam-diam Chanyeol memperhatikan interaksi Baekhyun dan Irene dan dia merasa malu atas perlakuan Irene terhadap akuntannya ini. Chanyeol tahu bahwa meskipun Irene selalu kelihatan baik dan bersahabat kalau sedang di depan publik, tapi sebenarnya Irene memiliki kecenderungan untuk berkelakuan bitchy kepada kebanyakan perempuan, dan dia akan ekstra-bitchy kalau merasa tersaingi oleh perempuan tersebut. Dan apa yang baru dia lakukan kepada Baekhyun masuk ke dalam kategori kedua. Chanyeol menatap Baekhyun yang hari itu mengenakan blus warna biru tua. Seperti terakhir kali mereka bertemu, Baekhyun kelihatan rapi dan bertingkah laku profesional. Tidak ada sehelai rambut pun yang tidak pada tempatnya. Tiba-tiba Chanyeol diserang keinginan untuk membuatnya berantakan. Apa dia masih akan kelihatan sebegini rapi dan profesionalnya kalau misalnya aku menciumnya sampai dia kehabisan napas? Chanyeol menghentikan dirinya ketika pada dasarnya dia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang akuntannya yang tingginya bahkan tidak mencapai bahunya, kurus, dan berdada rata, di depan pacarnya yang seharusnya adalah wanita paling seksi se-Korea Selatan. What the hell is wrong with him?

Baekhyun yang sadar bahwa Chanyeol sedang memperhatikannya dengan tampang aneh langsung berkata, "Selamat siang," sambil menganggukkan kepalanya. Melihat Chanyeol tetap tidak bereaksi akhirnya Baekhyun bergegas mendekatinya dan mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengannya.

Chanyeol meraih tangan Baekhyun. "Siang, sudah lama tidak bertemu," ucap Chanyeol. Tatapannya memancarkan binar bersahabat dan dia kemudian tersenyum. Baekhyun berusaha membalas senyuman itu, tetapi agak sulit di bawah pelototan Irene.

"Kau kesini untuk bertemu dengan Ibuku, kan?" Tanya Chanyeol sambil bergegas melangkah masuk ke ruang pertemuan.

Baekhyun harus melangkah ke samping dengan cepat untuk menghidari Chanyeol, tapi agak terlambat karena lengan Chanyeol secara tidak sengaja sudah menghantam bahunya dengan cukup kuat. Alhasil dia kehilangan keseimbangan dan akan jatuh terduduk kalau tidak ada lengan yang melingkari pinggangnya. Dalam usaha untuk menjaga keseimbangan dalam posisinya yang sudah setengah telentang diatas udara kosong itu, otomatis kedua tangannya langsung meraih benda terdekat sebagai pegangan. Kebetulan benda terdekat adalah lengan Chanyeol bagian atas yang Baekhyun sadari penuh dengan otot.

Pada saat yang bersamaan Baekhyun mendengar suara yang berteriak panik, "Baekhyun Unnie...," yang dia yakin datang dari Wendy dan, "Chanyeol...," yang Baekhyun yakin datang dari Irene.

"Are you okay?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun baru saja akan menjawab bahwa dia tidak apa-apa ketika merasakan sepatu haknya yang solnya terbuat dari kulit mulai tergelincir di atas marmer yang licin. Kali ini Chanyeol tidak siap untuk menahan tubuhnya dan selanjutnya Baekhyun sudah melayang, dan mereka jatuh bersamaan.

"Aaaaak...!" Teriak Baekhyun cukup keras.

Tiba-tiba dia sudah berbaring di lantai.

"Oh shit, are you okay?" Tanya Chanyeol dengan nada diantara khawatir dan mencoba untuk menahan tawa. Wajahnya hanya sekitar sejengkal jauhnya dari wajah Baekhyun.

Baekhyun tidak pasti apakah kepalanya membentur lantai, tapi yang jelas pandangannya berkunang-kunang untuk beberapa detik, membuatnya agak mual dan tidak bisa mendapatkan cukup oksigen untuk paru-parunya. "Aku... tidak... bisa... napas," ucap Baekhyun akhirnya dengan susah payah akibat saluran pernapasannya tersumbat. Tubuhnya tertindih oleh Chanyeol yang bukannya langsung bangun, malah kelihatan terhibur dengan keadaannya. Dalam hati Baekhyun menyumpah. Memangnya dia pikir lucu apa melihat seorang wanita berwajah membiru karena tidak bisa bernapas?

Otak Chanyeol memerintahkan dirinya untuk berdiri, tapi tubuhnya menolak untuk menuruti perintah itu. Samar-samar dia mencium aroma yang sama dengan yang dia dapati setiap kali Baekhyun dekat dengannya. Strawberry. Wanita ini beraroma strawberry.

"PARK CHANYEOL APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!"

Tiba-tiba Chanyeol mendengar suara keras Ibunya menghancurkan fantasinya.

Baekhyun segera mendorong tubuh Chanyeol dan berusaha untuk berdiri, meskipun dengan sedikit sempoyongan dan mata yang masih berkunang-kunang. Chanyeol langsung meraih pinggangnya ketika melihat dia belum stabil.

"Easy," ucap Chanyeol perlahan.

Baekhyun mengambil beberapa napas pendek, mencoba untuk mengusir rasa mual. Setelah kunang-kunang mulai sedikit reda, Baekhyun memfokuskan perhatiannya kepada dua orang yang kini berdiri di depan pintu, dan dia merasa ingin mati. Seakan-akan keadaan barusan belum cukup parah, Nyonya Youngmi memutuskan untuk muncul pada saat itu dan menyaksikannya. Dan lain dengan anaknya, beliau tidak kelihatan terhibur sama sekali. Baekhyun mengambil satu langkah untuk memberikan sedikit jarak antara dirinya dan Chanyeol. Karena tidak ada yang memberikan penjelasan kepada Nyonya Youngmi tentang kejadian barusan, tugas itu jatuh ke tangan Baekhyun.

"Maaf, tadi aku terpeleset dan Chanyeol mencoba untuk membantuku, tapi dia malahan ikut jatuh," ucapnya stelah bisa berdiri tegak.

Nyonya Youngmi tidak berkata apa-apa, dia hanya memperhatikan Baekhyun dengan seksama, seakan-akan siap untuk menyembelihnya hidup-hidup. Sejujurnya, Baekhyun sudah melihat wajah wanita ini beberapa kali di TV dan dia selalu berpendapat bahwa Nyonya Youngmi kelihatan agak menakutkan, tapi Baekhyun selalu berpikir bahwa itu mungkin cuma penampilannya di depan publik, dan bahwa orang aslinya tidak semenakutkan di TV. Ternyata Baekhyun salah karena pada dasarnya Ibunya Chanyeol kelihatan lebih menakutkan saat bertemu aslinya.

Baekhyun melirik Chanyeol untuk meminta dukungan darinya, tapi kliennya itu kelihatan cuek sambil berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya. Not good!

Untungnya Nyonya Youngmi kemudian mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun kepada anaknya yang tidak memberikan penjelasan atau bahkan menunjukkan tampang bersalah sama sekali. Nyonya Youngmi hanya mengernyitkan dahi sambil menatap anaknya dalam-dalam, seakan-akan ia sedang memutuskan apakah ia akan percaya dengan apa yang baru dikatakan Baekhyun atau tidak. Beliau kemudian mengembuskan napas dan tiba-tiba perhatiannya sudah jatuh pada Baekhyun. "Apa kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan nada datar sehingga membuat Baekhyun bertanya-tanya apakah ia tulus ingin tahu keadaannya atau basa-basi.

"Aku tidak apa-apa," ucap Baekhyun sambil mengangguk-angguk. Pada saat itu Baekhyun menyadari bagian belakang kepalanya seakan ditusuk-tusuk jarum. Otomatis tangannya langsung naik untuk menyentuh belakang kepalanya yang terasa mulai agak benjol, Baekhyun menahan diri agar tidak meringis.

"Coba kulihat." Tanpa disangka-sangka Chanyeol sudah menggenggam kepalanya dan meraba occipital lobe-nya.

"Aaarrggg... hhh," teriak Baekhyun sambil mencoba untuk menjauhkan kepalanya dari sentuhan Chanyeol tapi tidak berhasil.

"Sori. Sakit, ya?" Tanya Chanyeol polos.

"Tentu saja," geram Baekhyun dan sekali lagi mencoba untuk menarik kepalanya. Kali ini Chanyeol membiarkan Baekhyun melakukannya.

"Kau harus ke dokter untuk dicek, siapa tahu terjadi sesuatu," lanjut Chanyeol tanpa menghiraukan pelototan dari Irene ataupun wajah tidak bersahabat Nyonya Youngmi.

"Hanya benjol sedikit, nanti setelah meeting ini aku akan ke dokter," ucap Baekhyun tegas tanpa menggeram.

"Kau harus ke dokter sekarang," Chanyeol tetap bersikeras.

"Bagaimana kalau aku menempelkan ice pack di kepalaku dulu untuk sementara waktu. Aku akan cek ke dokter setelah meeting ini selesai," balas Baekhyun sambil menatap Chanyeol tajam, memintanya untuk tidak membantahnya lagi.

Chanyeol mengernyitkan kening selama beberapa detik ketika melihat tatapan Baekhyun yang siap membunuhnya kalau dia mengeluarkan satu kata lagi yang melibatkan kata "dokter", sebelum kemudian berkata, "Seul, bisa minta salah satu OB untuk membawakan ice pack kesini?"

Seulgi langsung menghilang dari peredaran. Baekhyun sedang memikirkan cara untuk membuka pembicaraan dengan Nyonya Youngmi yang kini sedang memperhatikan anaknya dengan tatapan penuh tanda tanya, ketika mendengar suaranya.

"Jadi kau yang bernama Baekhyun?" Tanyanya dengan nada yang tidak bisa dibilang ramah.

"Selamat siang, Nyonya Youngmi. Sebelumnya aku mohon maaf atas insiden ini. Mungkin besok-besok sebaiknya aku memakai sepatu yang solnya karet saja supaya tidak terpeleset lagi," ucapnya setenang mungkin sambil berjalan menuju Nyonya Youngmi sebelum kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengannya.

Nyonya Youngmi kelihatan agak terkejut dengan tindakan Baekhyun. Great! Melihat reaksinya, hanya akan ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah bahwa Nyonya Youngmi sudah tersinggung dengan tingkah lakunya dan langsung akan memecatnya, atau Nyonya Youngmi menghargai keberaniannya dan akan membiarkannya tetap melakukan tugasnya. Kepala Baekhyun berdenyut, tetapi dia tidak menghiraukannya.

"Aku Baekhyun," lanjut Baekhyun karena tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan.

Tapi tiba-tiba suatu keajaiban terjadi ketika dia melihat Nyonya Youngmi juga mengulurkan tangan untuk menyalami dirinya. Setelah melepaskan tangan, Nyonya Youngmi kemudian melambai, menandakan bahwa dia mempersilahkan Baekhyun duduk, sementara beliau menempatkan dirinya tepat di hadapan Baekhyun. Seulgi melangkah masuk kembali ke dalam ruang pertemuan. Baekhyun buru-buru duduk di kursinya dan segera membuka agendanya. Dengan pulpen di genggaman, dia siap mencatat apa saja yang dikatakan Nyonya Youngmi. Chanyeol memilih berdiri sambil menyandarkan bahunya pada dinding.

"Seulgi berkata bahwa nyonya ingin bertemu denganku. Apa ada hal spesifik yang bisa kubantu?" Tanya Baekhyun sesopan mungkin.

"Ya ya... alasanku meminta kedatanganmu adalah karena aku ingin minta tolong supaya keuangan pribadiku juga dicek."

"Oh, oke," ucap Baekhyun setenang mungkin. "Apa nyonya juga perlu diaudit seperti Chanyeol?"

"Sejujurnya, aku juga tidak tahu apa yang kau kerjakan untuk Chanyeol. Pokoknya aku mau semua urusan keuanganku beres," jawab Nyonya Youngmi dengan tegas sambil melirik anaknya yang tatapannya sedang terpaku pada pintu masuk.

"Tidak masalah, aku akan mengirimkan surat penawaran fee kepada nyonya secepatnya," ucap Baekhyun.

Pada saat itu seorang OB yang membawa nampan berisi semangkuk es batu dan sebuah handuk kecil memasuki ruang pertemuan. Wendy langsung berdiri dari kursinya untuk membantu Baekhyun, tetapi sebelum dia bisa melakukannya Chanyeol sudah mengambil alih tugas itu. Baekhyun sudah siap untuk protes, tetapi kalau dilihat dari cara Chanyeol menyipitkan matanya padanya, menantang Baekhyun untuk menentangnya, sepertinya itu tidak ada gunanya. Akhirnya Baekhyun harus merelakan Chanyeol melakukan apa yang dia mau.

"Oke, jangan kaget ya, ini agak dingin," ucap Chanyeol sebelum kemudian menyentuh kening Baekhyun dengan tangan kirinya dan menempelkan ice pack itu pada kepalanya.

Chanyeol berusaha mengontrol dirinya untuk tidak mengusap kening Baekhyun dengan jari-jarinya. Kulitnya halus sekali, seperti kulit bayi. Desisan Baekhyun ketika rasa dingin menyentuh kulit kepalanya menarik perhatian Chanyeol. "Sori," ucap Chanyeol.

Baekhyun menjawab dengan menundukkan kepalanya sedikit. Untung saja rambutnya berpotongan bob pendek, jadi air yang meresap melalui handuk dan mengenai rambutnya tidak akan merusak style-nya. Dalam situasi lain Baekhyun mungkin sudah menolak perhatian Chanyeol yang memperlakukannya seperti seorang invalid, tetapi saat ini yang dia inginkan adalah bisa menyandarkan kepalanya diatas bantal yang empuk dan tidur sampai denyutan kepalanya hilang.

Untung saja ice pack itu sudah mulai mengurangi denyutan di kepalanya. Baekhyun mengangkat kepalanya menatap Nyonya Youngmi dan berkata, "Maaf, merepotkan."

Nyonya Youngmi hanya mengangguk kaku. "Seulgi, bisa kau urus ini semua dengan Baekhyun?" Tanyanya kepada Seulgi yang cepat-cepat mengangguk.

Sebelum Baekhyun berkata-kata lagi, Nyonya Youngmi sudah berdiri dari kursinya dan Baekhyun hanya sempat melihat punggungnya saja ketika beliau bergegas meninggalkan ruangan. Mencoba untuk kelihatan tidak tersinggung dengan perlakuan ini Baekhyun pun segera memerintahkan Wendy untuk mempersiapkan surat penawaran.

"Sori ya, Ibu memang begitu orangnya. Jangan diambil hati," ucap Chanyeol yang tanpa disadari Baekhyun masih memegangi kepalanya.

"Iya, tidak apa-apa."

Kemudian Baekhyun menyadari bahwa Irene masih ada bersama mereka dan kini sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Kepalaku sudah baikan," ucap Baekhyun dan buru-buru menarik ice pack dari kepalanya itu dari genggaman Chanyeol.

"Yakin?" Tanya Chanyeol dengan nada curiga, tetapi dia melepaskan ice pack itu dari genggamannya.

"Yep, thanks for your help," balas Baekhyun. Dan setelah memberikan senyuman singkat padanya Baekhyun pun berpura-pura sibuk dengan Wendy dan tidak menghiraukannya lagi.

Selintas ada sebersit kekecewaan atas perlakuan dingin Baekhyun di wajah Chanyeol, tetapi dengan satu kedipan, ekspresi itu menghilang dari wajahnya, berganti menjadi tatapan tidak perduli. Baekhyun jadi bertanya-tanya apakah dia hanya berhalusinasi beberapa detik yang lalu.


To be continued.