Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Beberapa bulan berlalu dengan cepat dan aman untuk keadaan keuangan Chanyeol, Nyonya Youngmi, juga MRAM, tetapi tidak untuk kehidupan pribadi Chanyeol. Semuanya bermula dengan putusnya hubungan Chanyeol dengan Irene pada bulan Desember, dua bulan setelah Baekhyun bertemu dengan Nyonya Youngmi. Pada bulan Januari, tersebar gosip bahwa Irene hamil stelah media mendapat bocoran bahwa mantan Chanyeol ini pergi menemui dokter kandungan. Gosip ini mungkin akan berlalu kalau saja ini semua memang hanya itu... sebuah gosip, tapi kenyataannya adalah bahwa Irene sendiri kemudian mengakui bahwa dia sudah hamil empat bulan. Dan gegerlah satu Korea Selatan.
Lumrah bagi semua orang untuk menuding Chanyeol sebagai ayah si bayi tersebut karena empat bulan yang lalu Irene masih berstatus sebagai pacar Chanyeol, tapi sewaktu ditemui oleh wartawan ketika dia sedang shopping di salah satu mal di Seoul, dengan tenang Chanyeol hanya berlalu tanpa menanggapi pertanyaan itu. Karena sikapnya itu Chanyeol yang selalu diikuti oleh wartawan, kini diburu siang malam oleh mereka yang ingin meminta kepastian. Tentunya semua kekacauan ini akan berakhir tanpa ada "pertumpahan darah" kalau saja Irene membuat pernyataan bahwa Chanyeol bukanlah ayah dari bayi yang sedang dikandungnya. Tapi Irene tidak bisa atau tidak mau mengakui itu karena dengan pengakuan ini maka secara tidak langsung dia, Korea's sweetheart yang tidak pernah membuat satu pun kesalahan di mata publik, akan membuka aibnya bahwa dia sudah selingkuh... tidak, kalau selingkuh mungkin masih tidak apa-apa, tapi ini... dia sudah tidur dengan laki-laki lain selama dia menjalin hubungan dengan Chanyeol. Jelas-jelas image good girlnya akan musnah dalam sekejap mata kalau publik sampai tahu kebenaran dari cerita ini.
Alhasil, tercetuslah dua kubu di Korea yang dikompori oleh media. Banyak orang yang tetap mendukung Chanyeol dengan mengatakan bahwa Chanyeol adalah laki-laki sejati dengan tidak mengiyakan atau menyangkal tuduhan ini. Para pro-Chanyeol menjelaskan bahwa Chanyeol pada dasarnya sedang mencoba melindungi martabat Irene sebagai seorang perempuan. Tapi, mereka yang tidak memihak kepada Chanyeol melihat skandal ini sebagai kesempatan untuk betul-betul menjatuhkan Chanyeol.
Bagi Baekhyun, dari awal semenjak berita ini keluar, dia yakin bahwa Chanyeol tidak bersalah. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa menjelaskan feelingnya ini, tetapi dia yakin seratus persen. Meskipun begitu, dia tetap khawatir akan image kliennya. Seakan-akan berita ini belum cukup menghancurkan karier Chanyeol, beberapa hari setelah itu Baekhyun mendengar berita bahwa jadwal tur Chanyeol yang akan meliputi 18 kota di Korea pada bulan Mei terancam batal karena kantor walikota beberapa kota dimana Chanyeol akan menggelar turnya menerima beberapa surat ancaman yang intinya sama, yaitu bahwa mereka akan memblokir lapangan udara dan jalan raya dengan aksi demonstrasi agar Chanyeol tidak bisa masuk ke kota mereka. Para walikota merasa khawatir atas ancaman ini dan tidak mau mengambil resiko. Mereka meminta Chanyeol membatalkan turnya.
Dari awal berita ini meledak, Baekhyun sama sekali tidak berkesempatan bertatap muka atau berbicara dengan Chanyeol, tapi begitu mendengar berita yang satu ini Baekhyun langsung meminta Jisoo untuk menghubungkannya dengan Chanyeol. Perlu waktu setengah jam bagi Jisoo sebelum memberitahunya bahwa Chanyeol tidak mengangkat ponselnya. Akhirnya Baekhyun meminta Jisoo untuk menyambungkannya dengan ponsel Jongdae.
"Selamat siang, Jongdae-ssi. Aku baru mendengar kabar tentang tur Chanyeol yang dibatalkan. Apa benar?" Tanya Baekhyun penuh simpati.
"Tidak batal kok, cuma mungkin mesti diundur," jelas Jongdae dengan suara tenang.
"Bagaimana Chanyeol mengatasi semua ini? Apa dia baik-baik saja? Aku minta maaf karena tidak menanyakan hal ini sebelumnya." Ketika mengatakan ini Baekhyun langsung merasa bersalah. Dia merasa lalai dalam mengerjakan tugasnya. Dia seharusnya bisa lebih peka dengan keperluan klien-kliennya, pribadi ataupun perusahaan. Lalu dia sadar bahwa memang bukan tugasnya untuk peduli dengan kehidupan pribadi klien.
"Oh... dia baik-baik saja, Nona Baekhyun tidak usah khawatir. Kita hanya perlu sabar menunggu sampai semua orang bosan dengan berita ini dan semuanya akan kembali normal." Kata-kata Jongdae menyadarkan Baekhyun kembali.
Baekhyun masih agak ragu dengan reaksi Jongdae ini, tetapi akhirnya dia memutuskan bahwa mungkin dia sudah terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan.
"Baguslah kalau semua baik-baik saja. Bisa tolong sampaikan simpati dari kami untuk Chanyeol."
"Nona Baekhyun kenapa tidak kontak Chanyeol langsung saja?"
"Aku sudah mencoba, tapi ponselnya tidak diangkat."
Mendengar jawaban itu Jongdae hanya terkekeh. "Dia mungkin sedang di studio."
"I see."
"Tidak apa-apa, Nona Baekhyun, nanti pesan nona akan aku sampaikan ke Chanyeol." Dan dengan begitu pembicaraan mereka pun berakhir.
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Baekhyun, Jongdae melangkah masuk ke studio dan menemukan Chanyeol sedang terlibat percakapan seru dengan Sehun tentang aransemen lagu. Jongdae bersyukur bahwa Chanyeol menemukan seorang sahabat dalam diri Sehun, yang karena umurnya beberapa tahun lebih muda daripada Chanyeol, membuat Chanyeol harus berkelakuan lebih dewasa di sekelilingnya. Tiga tahun yang lalu sewaktu Chanyeol sedang mencari drummer pengganti karena drummer bandnya memutuskan untuk berhenti total dari belantikan musik Korea, ada beberapa kandidat yang dipertimbangkan. Kebanyakan dari mereka mau bekerja dengan Chanyeol, tetapi segan karena Chanyeol dikenal cukup "keras" pada anggota bandnya. Kemudian Sehun muncul dan cara main drumnya sama tampannya dengan orangnya dan Chanyeol langsung mengiyakan tanpa pikir panjang lagi.
"Yeol, Nona Baekhyun tadi menelpon menanyakan kabarmu," ucap Jongdae.
Chanyeol langsung menghentikan pembicaraannya dengan Sehun. "Dia menanyakan kabarku?" Tanya Chanyeol dengan agak sedikit terlalu bersemangat, yang membuat Sehun terkikik dan menerima tatapan sangar dari Chanyeol.
Jongdae berpura-pura tidak melihat ini semua dan melanjutkan, "Dia khawatir tentang tur delapan belas kotamu."
Mendengar kata-kata ini membuat Chanyeol sedikit kesal. Ketika Jongdae mengatakan bahwa Baekhyun menanyakan kabarnya, dia pikir Baekhyun peduli bahwa dia sedang tertimpa gosip, tapi ternyata wanita satu itu cuma peduli soal turnya. Sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya, uangnya, bukan dirinya sendiri. Ugghhh, he should have known, wanita seperti Baekhyun akan lebih peduli apakah seorang laki-laki punya uang dan kehidupan yang mapan daripada bahwa laki-laki itu adalah laki-laki baik-baik yang punya hati dan perasaan. WHAT THE HELL?! Sejak kapan dia jadi sensitif seperti ini?
Ini semua gara-gara blus warna hijau yang dikenakannya, aroma stroberinya, tangannya yang kecil, kulitnya yang sehalus bayi, dan ukuran tubuhnya yang kelihatan seperti anak SMP tetapi terasa seperti tubuh wanita sejati ketika dia menindihnya beberapa waktu yang lalu. Chanyeol bersusah payah mengontrol dirinya agar tidak mengingat kejadian hari itu dan berkata, "Bilang padanya, tidak usah khawatir tentang tur itu, aku masih tetap bisa membayarnya meskipun tur itu batal."
Sambil berkata begitu Chanyeol keluar dari studio, dan kalau saja pintu studio tidak ada pernya, Chanyeol pasti sudah membantingnya.
Jongdae beradu tatap dengan Sehun. "Dia kenapa sih? I didn't even mention Irene," ucap Jongdae bingung.
Sehun hanya nyengir dan memfokuskan perhatiannya kembali pada selembar kertas penuh coretan yang ada di hadapannya.
Setelah percakapannya dengan Jongdae, Baekhyun pikir semuanya baik-baik saja sampai suatu sore, seminggu kemudian. Dia baru saja kembali dari bertemu dengan kliennya di luar kantor ketika dihadang oleh Kibum di pintu masuk begitu dia tiba.
"Kau harus melihat ini," ucapnya pendek.
"Melihat apa?" Tanya Baekhyun bingung sambil setengah berlari mencoba menyamai langkah Kibum yang terburu-buru.
Kibum tidak menghiraukan pertanyaan Baekhyun, dia hanya menggiringnya ke ruang rekreasi kantor. Samar-samar Baekhyun bisa mendengar suara TV dengan volume yang cukup keras dan banyak koleganya sedang berdiri di depan TV plasma, menonton suatu laporan berita. Ketika sudah cukup dekat, Baekhyun menyadari bahwa mereka sedang menonton suatu konfrensi pers, Baekhyun melihat wajah Irene yang tersembunyi di belakang kacamata hitam berukuran besar. Dia duduk tegak di depan mic dan mengatakan, "Aku mengharapkan agar ayah bayiku ini berhenti menjadi pengecut dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku tidak mengharapkan apa-apa dari dia, aku hanya minta pengakuan supaya anakku tidak lahir tanpa ayah."
Dan dengan pernyataan ini Irene langsung dihujani pertanyaan oleh para wartawan.
"Irene-ssi, siapa ayah bayinya?"
"Apa Chanyeol ayah bayi ini?"
"Irene-ssi, apa anda ada affair dengan orang lain selama berhubungan dengan Chanyeol?"
Tapi Irene dengan lihainya langsung digiring oleh managernya turun dari panggung, dan meninggalkan orang lain menjawab pertanyaan para wartawan itu dengan, "Untuk saat ini Irene tidak akan menjawab sembarang pertanyaan. Terima kasih."
Baekhyun hanya bisa menganga ketika menyaksikan ini semua. Baekhyun sudah dibesarkan untuk tidak pernah menyumpah, tapi kali ini dia tidak tahan lagi. THAT SLIMY BITCH! Umpat Baekhyun dalam hati. Apa maksud Irene menggelar konferensi pers kalau hanya untuk mengatakan itu? Ini semua akan menambah dampak buruk pada Chanyeol. Baekhyun yakin bahwa ada banyak pihak yang akan salah menginterpretasikan kata-kata Irene sebagai suatu konfirmasi bahwa Chanyeol-lah ayah bayi itu dan bahwa Chanyeol adalah seorang pengecut karena tidak mau mengakuinya. Sepertinya Jongdae sudah salah perhitungan. Berita ini tidak akan reda, tapi malah akan semakin parah.
Baekhyun menatap Kibum yang kini sedang menatapnya balik dengan sedikit khawatir. Kemudian Baekhyun sadar bahwa bukan Kibum saja yang sedang menatapnya dengan ekspresi itu, tetapi para koleganya yang lain juga. Mereka sepertinya mengharapkan suatu konfirmasi tentang kebenaran atau ketidakbenaran gosip itu darinya. Seakan-akan adalah tugasnya sebagai akuntan untuk tahu apa saja yang dilakukan oleh kliennya. Baekhyun ingin beteriak bahwa dia seorang akuntan, bukan babysitter. Dia hanya mengurus keuangan Chanyeol dan perusahaannya, bukan kehidupan pribadinya.
Minho memberikan tatapan penuh superioritasnya pada Baekhyun dari ujung ruangan. Baekhyun segera bergegas meninggalkan ruangan rekreasi itu sebelum dia menghantam Minho untuk menghapus senyum penuh keangkuhan itu dari wajahnya. Baekhyun melewati meja Jisoo tanpa menghiraukan lambaian tangannya sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang harus disampaikan olehnya dan memasuki ruang kerjanya. Setelah menutup pintu, Baekhyun menghempaskan dirinya ke kursi kerja dengan penuh kekesalan dan memutar kursi itu agar menghadap ke jendela, membelakangi pintu masuk. Baekhyun mencoba mengatur napasnya yang agak memburu.
Terdengar suara ketukan, tetapi Baekhyun tidak menghiraukannya. Dia berharap siapa pun orang itu akan berlalu kalau tidak mendengar jawaban darinya. Tetapi yang terdengar malahan pintu ruangan yang dibuka. Baekhyun sudah siap memaki tamu tak diundang ini ketika terdengar suara Kibum.
"Hey, are you okay?" Tanyanya.
Tanpa memutar kursinya Baekhyun menjawab, "No."
"You wanna talk about it?" Langkah Kibum terdengar semakin mendekat, sesaat kemudian dia sudah berdiri di hadapannya.
Baekhyun menarik napas dalam sebelum berkata, "He's going down, isn't he?"
Ketika dia tidak mendengar balasan apa pun dari Kibum, Baekhyun mendongak. Kibum tersenyum garing sebelum menjawab, "Kalau Irene tidak memiliki reputasi good girlnya dan klienmu itu bukan Park Chanyeol, mungkin semuanya akan blow over setelah beberapa bulan. Tapi sayangnya klienmu itu THE PARK CHANYEOL, artis Korea Selatan yang paling dicintai oleh fansnya. Dia bisa jadi seperti dia sekarang karena mereka dan aku rasa kalau dia tidak buru-buru mengatasi keadaan ini, ada kemungkinan besar dia akan kehilangan respect semua orang, bahkan fansnya yang paling setia. Dan setelah itu..." Kibum tidak menyelesaikan kalimatnya.
Kibum tidak perlu melakukannya karena Baekhyun sudah bisa menebak akhir cerita tersebut. Chanyeol akan kehilangan fansnya dan kalau fansnya menghilang, maka tidak ada orang yang akan membeli CD-nya, pergi ke konsernya, perusahaan-perusahaan yang dulunya mengontraknya sebagai spokes person produknya karena Chanyeol dapat menarik fansnya untuk membeli produk tersebut, akan menarik diri, dan kariernya dalam dunia musik yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun akan musnah untuk selama-lamanya. Semua ini hanya gara-gara seorang perempuan bernama Irene.
Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya dan menggeram. "Oh Goddddddd, STU—PID,"
"Hey, you're not stupid... "
"Bukan aku, tapi dia," teriak Baekhyun geram, memotong kata-kata Kibum.
"Maksudmu Chanyeol?"
"Tentu saja, memangnya siapa lagi?" Bentak Baekhyun yang tidak menghasilkan reaksi apa-apa dari Kibum. "Apa susahnya sih menjawab TIDAK setiap kali wartawan bertaanya apa bayi Irene itu anaknya?" Lanjutnya.
Kalimat kedua Baekhyun membuat Kibum mundur beberapa langkah. "Tunggu sebentar, jadi Chanyeol memang bukan ayah bayi yang dikandung Irene?" Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Baekhyun menyandarkan punggungnya semakin dalam pada sandaran kursi dan mendengus dengan cukup keras. "Aku yakin kalau dia bukan ayah bayi yang dikandung Irene, tapi aku tidak ada bukti," teriaknya sekali lagi.
"Oke. Kau harus berhenti teriak-teriak seperti orang gila begini dan mulai dari awal. Apa sih masalahnya yang membuatmu upset begini?" Lanjut Kibum dengan lembut setelah yakin bahwa Baekhyun tidak akan mengomel lagi.
Baekhyun menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Aku tahu kalau kita sudah dilatih untuk hanya mengurus bisnis klien tanpa memedulikan kehidupan pribadi mereka." Kibum hanya mengangguk dan menunggu. "Selama ini aku tidak pernah ada masalah untuk berpegang teguh pada etika kerja itu. Seperti yang kau tahu, banyak klien kita yang cukup sering terkena gosip." Sekali lagi Kibum mengangguk. "Aku tidak peduli siapa yang bergonta-ganti pacar, yang bercerai dengan istrinya, yang berebut anak..." Kalimat selanjutnya sudah ada di ujung lidahnya, tetapi tidak tahu kenapa, Baekhyun tidak bisa mengatakannya. Akhirnya dia hanya terdiam dan menguburkan wajahnya diantara kedua telapak tangan.
Kibum menarik jari-jari tangan Baekhyun dari wajahnya dan berkata dengan lembut dan penuh pengertian tapi tegas. "Baekhyun, kau tahu kan kode etik kita sebagai akuntan? Kita dilatih untuk berpikir pakai otak, bukan pakai hati. Chanyeol adalah klienmu dan itu adalah batasan that you cannot cross. Berikan dukungan kepada bisnis Chanyeol karena bukan tugas kita untuk terlibat dalam kehidupan pribadinya."
Baekhyun mengangguk dan berkata, "Right," dengan nada pasti.
Chanyeol mematikan TV dan berusaha sebisa mungkin tidak melempar remote yang ada di tangannya ke dinding. Dia tahu bahwa Irene tidak bermaksud menimbulkan masalah untuknya dengan konfrensi persnya barusan, dia masih muda. Dan kalau mengambil keputusan terkadang suka terbawa emosi. Yang membuatnya kesal adalah karena manajer Irene memperbolehkannya membuat pernyataan seperti itu di depan publik. Chanyeol berjalan ke arah tempat tidur dan meletakkan remote ke atas night stand sebelum dia mendudukkan dirinya di tempat tidur sambil mendesah panjang. Sepertinya rumahnya akan ditongkrongi wartawan untuk beberapa minggu ke depan, yang berarti bahwa dia tidak bisa keluar rumah dengan leluasa. Fine! Dia bisa hidup seperti itu, mungkin dengan begitu dia bisa lebih berkonsentrasi untuk merampungkan singlenya. Berapa lama kira-kira hingga orang bosan dengan berita ini?
Dia teringat akan telepon Baekhyun yang menanyakan tentang kemungkinan pembatalan tur 18 kotanya. Tur berskala besar ini adalah usul Jongdae beberapa waktu yang lalu untuk memenuhi permintaan fans yang sudah cukup lama tidak melihat Chanyeol manggung. Dia memang sudah menarik diri dari publik selama dua tahun belakangan ini, mencoba mendirikan perusahaannya sendiri sambil menulis album ketiganya pada waktu luang. Sebagai businessman yang penuh perhitungan, dia memutuskan bahwa tur ini bisa digunakan untuk memuaskan hati fansnya, juga untuk memberikan lebih banyak exposure kepada band terbaru yang baru saja masuk di bawah naungan MRAM. Mudah-mudahan bulan depan semuanya akan reda, jadi jadwal tur masih tetap bisa dijalankan. Hatinya terasa berat. Bukan karena uang yang bisa hilang karena dia tidak jadi mengadakan tur, tapi karena rasa tanggung jawab untuk menghibur semua fans yang sudah setia semenjak dia memulai karier musiknya dan juga exposure kepada artis baru MRAM yang sepatutnya menjadi band pembuka konsernya.
Dia tidak peduli kalau orang berbicara jelek tentangnya atau memaki-maki kelakuannya, selama mereka tidak membawa nama-nama artis yang diwakilinya. Satu hal yang dia ketahui tentang semua artisnya adalah bahwa mereka orang baik yang penuh bakat, yang terjun ke dunia musik karena rasa cinta terhadap dunia ini, bukan karena agenda lain. Dan mereka sudah memercayakan kesuksesan karier mereka kepada MRAM, atau lebih tepatnya kepada Park Chanyeol, sebagai ujung tombak MRAM. Maka dia tidak boleh terkena masalah yang akan menghancurkan kepercayaan itu. Kini dia tahu bahwa namanya, nama MRAM, dan semua artis dibawah bendera MRAM tidak bisa dipisahkan. Apa yang dia lakukan mau tidak mau dihubungkan dengan MRAM dan artis-artisnya, oleh karena itu dia harus lebih bisa menjaga imagenya.
To be continued.
