Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Ketiba bulan Februari tiba, Baekhyun memutuskan untuk melakukan kunjungan ke kantor Chanyeol untuk melakukan audit sebelum laporan pajak dilakukan, bersama Wendy dan Joy. Untung saja musim pajak sudah tiba, sehingga Baekhyun tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan tentang Chanyeol dan gosipnya. Dari kejauhan Baekhyun bisa melihat bahwa ada sedikit keramaian di depan gerbang rumah Chanyeol.

"Memangnya Chanyeol ada acara apa hari ini kenapa banyak sekali orang di depan rumahnya?" Tanya Baekhyun kepada Wendy.

"Oh, mereka wartawan, Unnie," jelas Wendy.

"Tapi hari ini sepertinya ekstra banyak dari biasanya," lanjut Joy yang duduk di bangku belakang.

"Apa tidak bisa mendapatkan berita lain? Berita tentang Chanyeol dan Irene kan sudah sebulan yang lalu," omel Baekhyun.

"Lho... Unnie tidak melihat berita tentang Chanyeol di infotaiment kemarin?" Mata Wendy terbelalak.

"Hah?! Berita apa lagi?"

"Single baru Chanyeol yang harusnya launching bulan depan diundur launchnya," jelas Joy.

"WHATTTT?! Kalian kenapa tidak mengatakannya padaku?"

"Kami pikir Unnie pasti sudah tahu lebih dulu dari kami," jelas Wendy sambil melirik Joy yang kini mengenakan wajah takut kena omel lagi.

Baekhyun tidak bisa memberikan balasan karena sedang berusaha menavigasi mobilnya sebaik mungkin agar tidak menabrak pasukan wartawan saat memasuki pekarangan rumah Chanyeol. Baekhyun menurunkan jendela untuk mengidentifikasikan dirinya kepada satpam, yang langsung membuka gerbang. Baekhyun buru-buru menutup jendela itu lagi. Selama beberapa detik menunggu sampai gerbang itu terbuka secara otomatis Baekhyun bisa merasakan betapa terganggu dirinya dengan segala perhatian yang dilimpahkan padanya dari para wartawan. Baekhyun kini sedikit mengerti bagaimana Chanyeol bisa naik darah akibat kelakuan mereka.

Akhirnya pintu gerbang terbuka cukup lebar untuk mobilnya menerobos masuk dan Baekhyun langsung tancap gas. Kedatangan Baekhyun dan tim disambut oleh Seulgi yang kelihatan sudah siap menangis. Seulgi yang biasanya cukup chatty kali ini tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika mempersilahkan mereka masuk. Meskipun Baekhyun khawatir dengan kelakuan Seulgi, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Seulgi menggiring Baekhyun dan tim ke ruang pertemuan dan samar-samar Baekhyun mendengar suara dua orang yang sedang berargumentasi hebat.

"Kau seharusnya mau mendengar saran Jongdae bulan lalu untuk menggelar konferensi pers dan menyangkal tuduhan Irene ini, Yeol. Sekarang semuanya sudah seperti ini dan kau masih tidak mau mendengar saran Jongdae juga. Kau tahu kan kalau gosip ini bisa menghancurkan kariermu?" Baekhyun langsung mengenali suara itu sebagai suara Nyonya Youngmi.

"Ibu tidak perlu dramatis seperti itu. Karierku tidak akan hancur hanya gara-gara ini, percaya padaku. Singleku masih tetap bisa launch, hanya perlu menunggu sampai ingar bingar ini reda." Dan itu adalah suara Chanyeol yang terdengar tenang.

"Dan kira-kira kapan itu bisa terjadi, hah? Setiap hari kau ada di berita di hampir semua channel TV dan semakin hari imagemu semakin buruk. Kau lihat sendiri, pengunjung websitemu semakin hari semakin berkurang."

"Wartawan kan juga perlu makan, Bu, biarkan saja mereka mau berkata apa juga tentang aku. Yang jelas aku tahu kalau aku tidak membuat Irene hamil. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya, dan fans-fans setiaku tahu itu. Kalau soal website bukan indikasi apakah seorang artis akan sukses atau tidak," lanjut Chanyeol.

Baekhyun, Wendy, Joy, dan Seulgi sudah semakin mendekati pintu ruang pertemuan yang terbuka. Baekhyun pun berhenti melangkah, tidak pasti apakah dia punya hak untuk mendengar pembicaraan diantara Chanyeol dan Nyonya Youngmi. Menyadari bahwa langkah Baekhyun sudah berhenti, Seulgi menoleh.

"Apa tidak lebih baik meetingnya ditunda saja sampai besok?" Bisik Baekhyun, tapi sebelum Seulgi menjawab, mereka sudah mendengar suara Nyonya Youngmi lagi.

"Ibu tidak memahamimu. Ibu sudah bilang dari awal kalau Ibu tidak menyukai Irene. Dia terlalu muda untukmu dan emosinya masih tidak stabil, tapi kau tidak mau dengar."

"Ini bukan sepenuhnya salah Irene, Bu, tapi salahku juga. Kalau saja aku lebih memberikan perhatian ke Irene, lebih sensitif dengan segala kebutuhannya, dia tidak akan kembali lari pada Mino."

Wait a minute. Mino? As in Mino vokalis band The Rocket, mantan kekasih Irene sebelum dia menjalin hubungan dengan Chanyeol? No wayyyy... Baekhyun menatap Seulgi yang sekarang kelihatan sangat stres. Wendy dan Joy sedang bersusah payah mengontrol raut wajah mereka agar tidak terlihat melongo.

"Aggghhh, kau ini, sudah begini keadaannya masih juga mau membela mereka berdua," omel Nyonya Youngmi.

"Ibu, what do you want me to do? Mengatakan pada semua orang kalau anak itu anaknya Mino, bukan anakku? Mino itu temanku, Bu! Aku tidak bisa melakukan ini ke dia dan menghancurkan kariernya."

"Ka... kariernya?" Nyonya Youngmi terbata-bata. "Bagaimana dengan kariermu?" Teriaknya.

"Ibu, please understand, it's not my story to tell, okay."

"Kalau saja Ayahmu masih hidup, dia pasti..."

"Ayah pasti akan mendukung keputusanku," potong Chanyeol.

Baekhyun tersentak kaget ketika mendengar ini. Rupanya Ayah Chanyeol sudah tidak ada.

"Aggghhhh... Kau ini memang keras kepala." Kemudian terdengar langkah kaki yang terburu-buru.

"Bu," Chanyeol mencoba membujuk Ibunya.

Sebelum Baekhyun mengerti apa yang sedang terjadi, wajah Nyonya Youngmi sudah muncul di depan pintu. Beliau kelihatan terkejut melihatnya dan untuk seperempat detik terbesit rasa malu karena telah tertangkap basah bertengkar dengan anaknya di depan orang lain, tapi kemudian raut wajah itu berubah.

"Kau sudah berapa lama berdiri disini?" Tanyanya menuduh.

Sebelum Baekhyun dapat berkata-kata, Chanyeol sudah berdiri di samping Ibunya. Dia pun kelihatan terkejut ketika melihat Baekhyun dan lebih terkejut lagi ketika menyadari bahwa ada dua orang lain yang sedang berdiri di belakang Baekhyun.

"Nona Baekhyun dan timnya kesini untuk melakukan audit," jelas Seulgi menyelamatkan Baekhyun.

"Selamat siang, Nyonya Youngmi... Chanyeol," ucap Baekhyun sesopan mungkin sambil mengangguk kepada keduanya. Chanyeol menyipitkan matanya. Hari ini dia tidak mengenakan kacamata sehingga gerakan matanya terlihat dengan jelas oleh Baekhyun.

Chanyeol agak terkejut ketika melihat Baekhyun. Pertama-tama karena dia tidak tahu bahwa Baekhyun akan datang hari ini, kedua karena penampilan Baekhyun yang meskipun masih rapi dan profesional sperti biasa, tapi wajahnya kelihatan lelah dengan bayang-bayang hitam dibawah matanya. Kulitnya juga kelihatan lebih pucat daripada terakhir dia melihatnya. Tiba-tiba Chanyeol merasa ingin menelepon bos Baekhyun saat itu juga, memintanya agar memberikan Baekhyun cuti agar dia bisa istirahat. Chanyeol tahu bagaimana wajah seseorang kalau sudah tidak tidur selama berhari-hari, they will look like shit, dan wajah Baekhyun looks like SHIT.

"Siang." Suara Ibunya menarik perhatian Chanyeol dari wajah Baekhyun.

"Seulgi, tolong kau urus semua ini, aku ada di... di..." Nyonya Youngmi terbata-bata mencoba mencari kata-kata yang tepat. Chanyeol tahu bahwa Ibunya sedang kesal dan agak sedikit malu karena itu beliau tidak bisa berbicara dengan betul.

"Yah, pokoknya aku ada diatas kalau kau perlu sesuatu," akhirnya ucap Nyonya Youngmi.

Dan seperti terakhir kali Baekhyun bertemu dengannya, beliau sudah berlalu sebelum dia bisa berkata apa-apa.

"Silakan, Nona Baekhyun." Suara Seulgi yang mempersilakan Baekhyun masuk ke ruang pertemuan menyadarkannya.

Baekhyun masuk ke dalam ruang pertemuan, melewati Chanyeol dengan satu anggukan. "Apa aku perlu ada disini selama proses audit?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun menghentikan langkahnya dan menoleh. "Oh, tidak, tidak harus," jawab Baekhyun pendek.

"Oh, oke kalau begitu. Seulgi, aku ada diatas ya kalau kau membutuhkan sesuatu." Chanyeol pun menghilang dari peredaran meninggalkan Baekhyun menatap punggungnya yang dilapisi kemeja putih dengan garis-garis hitam tipis.


Chanyeol melangkahkan kakinya secepat mungkin menuju lantai atas tanpa berlari. Dia harus meminta maaf kepada Ibunya karena sudah membuatnya malu di depan orang lain, sesuatu yang menurut beliau bisa dikategorikan sebagai 7 dosa besar. Chanyeol bukanlah tipe laki-laki anak mama yang takut dengan Ibunya, tetapi dia sudah dibesarkan untuk menghormati orangtua. Dan kecuali dia minta maaf, di mata Ibunya dia tidak akan berbeda dengan si Malin Kundang.

Dia menemukan Ibunya sedang berjalan mengelilingi kolam renang. Sesuatu yang selalu beliau lakukan kalau sedang berpikir.

"Ibu," panggil Chanyeol.

Nyonya Youngmi menoleh mendengar suara anaknya, tetapi beliau tidak beranjak dan mendekat, lebih memilih menunggu hingga Chanyeol berjalan ke arahnya.

"Aku ingin meminta maaf karena sudah berdebat dengan Ibu dibawah tadi," Chanyeol memulai.

Nyonya Youngmi mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk pipi anaknya. "Bukan salahmu."

Kerutan di kening Ibunya membuat Chanyeol khawatir. "Gula darah Ibu tidak sedang turun, kan?"

Nyonya Youngmi tersenyum dan menggeleng. "Ibu sedang memikirkan solusi masalahmu dengan Irene."

"Ibu, you know I love you, tapi aku tidak akan menggelar konferensi pers. Titik." Chanyeol

melepaskan diri dari belaian Ibunya.

"Oke, Ibu hormati pendirianmu, maka dari itu Ibu mencoba memikirkan jalan keluar lain."

"Jalan keluar seperti apa?" Tanya Chanyeol curiga.

"Kau harus menikah, secepatnya."

Chanyeol mengedipkan matanya beberapa kali ketika mendengar kata-kata itu sebelum kemudian mulai tertawa terbahak-bahak.

"Kenapa kau tertawa? Ibu serius." Nyonya Youngmi terdengar jengkel.

Chanyeol mencoba mengontrol tawanya dan menatap wajah serius Ibunya dan meledak tertawa lagi.

"Ibu sadar kan aku sekarang tidak memiliki kekasih?"

"Kau tidak perlu memiliki kekasih untuk mencari istri. Banyak orang yang menikah tanpa pernah bertemu dengan calon istrinya terlebih dahulu."

"Ya kalau zaman dulu mungkin," bantah Chanyeol. "Ini abad ke-21, Bu."

"Sama saja."

Hanya untuk menghibur Ibunya, Chanyeol mencoba mendengar sarannya. "Okay, fine. Kalau memang Ibu mau aku menikah secepatnya, itu berarti aku harus mencari perempuan yang mau menikah denganku, secepatnya. Dimana kira-kira Ibu pikir aku bisa mencari perempuan ini?"

"Ada satu perempuan dibawah yang seumuran denganmu dan Ibu rasa cocok untukmu," balas Nyonya Youngmi serius.

Chanyeol mengerutkan dahinya dan berkata, "Just in case Ibu lupa, Seulgi sudah menikah dan sudah mempunyai 2 anak."

"Ibu bukan membicarakan Seulgi, Ibu membicarakan Baekhyun."

"HAH?!" Teriak Chanyeol.

"Dia masih single, pintar, mandiri, dan bisa dipercaya."

"Ibu, dia akuntanku."

"Even better. Orang tidak akan ada yang curiga kalau kau tiba-tiba menikah dengannya karena kalian memang sudah kenal satu sama lain."

Melihat keraguan pada mata anaknya, Nyonya Youngmi menambahkan, "Kalo kau masih mau tur 18 kotamu dan launching singlemu bisa dilakukan tahun ini, Ibu rasa inilah satu-satunya solusi supaya kau tidak kehilangan fansmu."

"Apa Ibu sudah mempertimbangkan bahwa aku akan sama-sama kehilangan fans baik kalau aku tetap diam mengenai kehamilan Irene maupun kalau aku menikah?"

"Percaya pada Ibu, kau akan lebih bisa mempertahankan fansmu kalau kau menikah."

"Baekhyun tidak akan mau menikah denganku," ucap Chanyeol tegas.

"Chanyeol, Ibu tidak buta. Ibu tahu reputasimu dengan para wanita. Kalau kau menggunakan 'keahlianmu' ini, Ibu yakin Baekhyun tidak akan bisa menolak."

Meskipun itu adalah fakta, tapi asumsi Ibunya ini membuatnya sedikit tersinggung.

"Jongdae tidak akan pernah setuju dengan rencana ini." Chanyeol mencoba mengganti taktik.

"Coba kau panggil Jongdae kesini supaya kita bisa bicarakan hal ini sama-sama setelah dia dengar penjelasannya, Ibu yakin dia akan setuju seratus persen."

Chanyeol terdiam sejenak, rupanya Ibunya benar-benar serius. Dia tahu bahwa Ibunya adalah seorang business woman yang cermat, yang bisa melihat pro dan kontra dari satu penyelesaian dengan seobjektif mungkin. Semua itu bisa dibuktikan dari betapa suksesnya perusahaan yang mereka miliki bersama. Tetapi menikah? Dengan Baekhyun? Itu ide paling gila yang pernah diutarakan oleh Ibunya. Or is it? Meskipun beberapa menit yang lalu dia mencoba meyakinkan Ibunya bahwa kariernya akan baik-baik saja dengan gosip mengenai Irene, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu bahwa itu tidak benar. Mungkin inilah solusi yang paling baik untuk dirinya.

"Aku akan mencari Jongdae," ucap Chanyeol.


Proses audit berjalan dengan cukup lancar. Wendy dan Joy sudah melakukan tugas mereka dengan baik sehingga tidak ada satu pun masalah yang ditemukan Baekhyun. Seulgi mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukannya dan menunjukkan dokumen yang ia perlukan sehingga mereka tidak perlu memanggil Chanyeol ataupun Nyonya Youngmi. Meskipun begitu, ada banyak dokumen yang harus dilihat, account yang harus di double check, sehingga tanpa disadari Baekhyun, sinar matahari yang masuk melalui jendela sudah berganti warna dari putih-kuning menjadi jingga, yang berarti hari sudah lebih sore daripada yang dia perkirakan. Matanya terasa agak sedikit pedas, dan Baekhyun permisi ke kamar kecil untuk membasuhnya dengan air dingin.

Untuk mencapai kamar kecil Baekhyun harus melewati ruang tengah dimana para pegawai MRAM bekerja. Jam kalung yang melingkari lehernya menunjukkan pukul 17.30. Dalam perjalanan kembali ke ruang pertemuan Baekhyun berpapasan dengan Jongdae yang tersenyum ketika melihatnya.

"Nona Baekhyun masih disini? Tanyanya, yang meskipun terdengar lelah tetapi tetap ramah.

"Iya Jongdae-ssi. Tapi sebentar lagi kami selesai kok," jawab Baekhyun.

"Tadi waktu sampai di-harass oleh wartawan diluar tidak?"

"Ohh... Tidak juga."

Dengan senyuman penuh pengertian, Jongdae berkata, "Jangan kapok kesini ya, Nona Baekhyun."

"Sampai sekarang belum kapok. Mungkin nanti," canda Baekhyun. Jongdae tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku sudah mendengar tentang launching single Chanyeol yang ditunda. Apa semuanya baik-baik saja?" Lanjut Baekhyun.

"Tidak sebaik yang kumau," balas Jongdae.

"Ada yang bisa kubantu?"

Jongdae terkekeh lagi mendengar pertanyaan ini sebelum tanpa menjawab pertanyaan itu. Baekhyun mengerutkan keningnya. Apa ada yang lucu dengan pertanyaannya?


"Nona Baekhyun mau makan malam apa?" Tanya Seulgi ketika Baekhyun kembali ke ruang pertemuan.

"Oh, tidak usah repot-repot Seul, kami sudah hampir selesai kok," balas Baekhyun dan kembali mengambil posisinya di belakang meja. Seulgi kelihatan ragu sesaat, tapi kemudian dia mengangguk dan menghilang dari ruangan itu. Baekhyun pun sibuk kembali pekerjaannya.

"Aku mau memesan Pizza Hut, kau lebih suka Super Supreme, Meat Lovers, atau Hawaiian Chicken?" Suara itu mengajutkan Baekhyun setengah mati. Dia langsung berdiri dari kursinya ketika melihat sumber suara itu.

Chanyeol sudah menukar kemeja putih dan jinsnya dengan kaus dan celana kargo selutut warna abu-abu. Melihat penampilannya yang fresh membuat Baekhyun sadar akan penampilan dirinya yang ketika di cek pada cermin di kamar mandi beberapa menit yang lalu kelihatan lelah, pucat, dan kusut. Blus lengan panjangnya sudah dilipat hingga ke siku, dia sudah melepaskan sepatu hak yang dikenakannya agar bisa bergerak lebih leluasa. Sementara itu parfum yang dia semprotkan pada blusnya tadi pagi sudah hilang wanginya. Entah apa yang terpikir oleh Chanyeol ketika melihatnya seperti ini.

"Kau lebih suka pizza yang mana?" Tanya Chanyeol lagi karena belum menerima jawaban darinya.

Seperti sebelumnya dengan Seulgi, Baekhyun pun menolak penawaran Chanyeol. Tapi pria itu bersikeras. "Toh kalau kau pulang nanti mesti makan malam juga kan? Kenapa tidak makan malam disini saja sekalian?"

Baekhyun sebetulnya masih ingin menolak, tapi kemudian dia melihat bahwa Wendy dan Joy menampangkan wajah penuh harap, akhirnya Baekhyun mengembuskan napas penuh kekalahan dan berkata, "Meat Lovers saja," yang disambut oleh anggukan terlalu bersemangat dari Joy dan Wendy.

Chanyeol mengangguk dan meminta Seulgi memesan makanan tersebut sebelum kemudian melangkah masuk ke ruang pertemuan dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong celananya.

"Seulgi tidak memanggilku seharian, so I guess everything is fine?" Tanyanya.

"Yep, everything is fine," balas Baekhyun.

Chanyeol hanya manggut-manggut menanggapi balasan itu. Baekhyun menunggu hingga Chanyeol berbicara lagi, tetapi kesunyian menyambutnya. Baekhyun berpikir Chanyeol kemudian akan meninggalkan ruangan, ketika dia mendengar lelaki itu berkata, "Boleh aku berbicara denganmu sendiri?"

"Sure," ucap Baekhyun agak ragu.

Melihat anggukan darinya, Joy dan Wendy pun keluar dari ruangan. Baekhyun jadi agak was-was saat Chanyeol menutup pintu ruangan. Ketika menatap Baekhyun kembali, wajah Chanyeol kelihatan seperti dia sudah menelan seekor kodok. Baekhyun hanya menatapnya dengan kebingungan yang tidak bisa disembunyikan. Selama beberapa menit mereka hanya menatap satu sama lain tanpa mengatakan apa-apa. Sejujurnya Chanyeol kelihatan agak nerveous, yang membuat Baekhyun curiga akan apa yang ingin dia katakan padanya.

"Kepalamu sudah dicek ke dokter?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun terdiam sesaat ketika mendengar pertanyaan ini, dia tidak tahu apa yang dia harapkan keluar dari mulut Chanyeol, tapi yang jelas bukan ini.

"Sudah," ucap Baekhyun berbohong. Sejujunya dia hanya minum obat pereda nyeri ketika sampai di rumah hari itu dan pergi tidur. Dan karena tidak mengalami sakit kepala lagi setelah itu, dia bahkan sudah lupa dengan insiden itu.

Chanyeol menganggukkan kepalanya berkali-kali seperti boneka yang lehernya terbuat dari per. Kemudian, "I really don't know how to say this, so I'm just gonna say it," ucapnya.

Baekhyun hanya mengangguk, menunggu dengan kecurigaan yang semakin menjadi.

"Aku mau kau menikah denganku," ucap Chanyeol dengan cepat sehingga kata-katanya sulit ditangkap.

Perlu beberapa detik bagi Baekhyun untuk memahami pertanyaan itu, dan ketika sadar akan apa yang baru saja dikatakan Chanyeol padanya, mulutnya perlahan-lahan mulai melongo sebelum dia berteriak, "WHAAATTTTT?"


To be continued.


Hello guys, aku cuma mau bilang kalo kedepannya mungkin aku akan update lebih lama dari biasanya :( soalnya aku baru edit sampe chapter 8, padahal keseluruhan chapter ada 20an lebih wkwkwk pls wait for me!