Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Chanyeol tahu bahwa Baekhyun tidak akan setuju begitu saja pada lamarannya ini, oleh karena itu dia sudah mempersiapkan berbagai macam senjata untuk menyakinkannya.
"Aku tahu kalau ini kedengaran agak gila, tapi coba kau dengarkan aku dulu." Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun yang mencoba mundur dan lututnya menabrak kursi yang ada di belakang, membuatnya jatuh terduduk.
Melihat reaksi Baekhyun, Chanyeol menghentikan langkahnya. Dia tahu bahwa Baekhyun tidak akan langsung mengatakan "Iya" atas lamarannya, tetapi dia tidak menyangka bahwa Baekhyun akan kelihatan takut akan lamarannya. Entah kenapa, tetapi hal ini agak-agak menyakiti egonya. Selama beberapa detik dia mencoba menenangkan diri dan setelah yakin bahwa dia bisa mengontrol rasa jengkel yang mulai terasa pada hatinya, Chanyeol kemudian menatap Baekhyun.
"Kau tidak harus menikah denganku betulan, ini cuma pura-pura saja," ucapnya mencoba terdengar meyakinkan.
Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang sedang mencoba meyakinkannya. "Hah?" Adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya. Otaknya betul-betul tidak bisa memproses ini semua. Semakin Chanyeol mencoba menjelaskan, semakin bingung dia dibuatnya.
"Hanya untuk meredakan gosip antara aku dengan Irene. Paling lama setahun, sampai singleku launch dan tur 18 kotaku selesai," lanjut Chanyeol.
Baekhyun hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak. Ini bukan saja kedengaran agak gila, seperti yang Chanyeol katakan, tetapi ini memang ide gila.
"I know that this is a lot ask, but I'm desperate. You're my last resort." Sepertinya Chanyeol tidak lagi memedulikan reaksi Baekhyun sebelumnya karena kini dia sedang melangkah mendekatinya.
Baekhyun masih terdiam seribu bahasa. Ini adalah lamaran paling aneh yang pernah dia dengar. Dia bukanlah orang yang romantis, dia tidak mengharapkan laki-laki yang melamarnya menerbangkannya ke Paris dengan jet pribadi pada Hari Valentine, kemudian dibawah Menara Eiffel dan taburan bintang berlutut di hadapannya sambil mempersembahkan sebuah cincin berlian empat karat. Tidak, Baekhyun bukanlah tipe wanita seperti itu, tetapi dia tetap seorang wanita, yang mengharapkan setidak-tidaknya laki-laki yang melamarnya akan mengatakan bahwa dia mencintainya. Itu sebabnya dia ingin menikah dengannya, bukan karena dia terdesak dan tidak ada pilihan lain.
Baekhyun menelan ludah sebelum bertanya, "Kenapa aku?"
"Karena kau aman buatku," jawab Chanyeol yang kini sedang menarik sebuah kursi dan mendudukkan dirinya di hadapan Baekhyun.
"Aman?" Tanya Baekhyun bingung.
"Kau bukan seorang selebriti, kau pintar, punya pekerjaan yang bagus, dan bukan dari dunia entertainment, jadi wartawan tidak akan bisa mencecarmu. Kau juga kelihatannya perempuan baik-baik yang tidak suka membuat onar. Kau masih single dan tidak punya kekasih, jadi tidak ada orang yang akan keberatan dengan usulku. Kau plain meskipun kalau diberi make up mungkin wajahmu bisa kelihatan lebih menarik. Dan thanks for today, wartawan sudah lihat kau masuk ke rumahku, jadi mereka tidak akan curiga dengan berita pernikahan kita. Ibuku juga berpikir kalau kau adalah kandidat yang tepat untuk mempertahankan imageku sebagai orang yang bisa dipercaya masyarakat."
Hah?! Ternyata Nyonya Youngmi sama gilanya dengan anaknya, atau bahkan lebih gila lagi.
"Yang jelas kau bukan tipeku, jadi tidak akan ada kemungkinan aku jatuh cinta sungguhan padamu. Itu sebabnya kau aman untukku," Chanyeol mengakhiri argumentasinya.
Chanyeol merasa seperti laki-laki paling tidak punya perasaan setelah mengatakan hal ini. Perempuan mana yang mau menikahi seorang laki-laki yang sudah menghinanya blak-blakan seperti ini? Belum lagi karena itu tidak spenuhnya benar. Baekhyun memang plain, tetapi Chanyeol sudah tidak bisa menafikan lagi bahwa dia tertarik dengan Baekhyun. Ada sesuatu dari diri wanita ini yang membuatnya penasaran. Jarang sekali ada wanita yang bisa membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Kebanyakan wanita menyangka bahwa mereka misterius, tapi Chanyeol bisa melihat diri mereka sebenarnya hanya dalam hitungan detik, tapi Baekhyun... dia membuat Chanyeol ingin mengenalnya lebih jauh. Intinya, dia mengatakan apa yang baru dia katakan karena melihat bahwa Baekhyun kelihatan semakin takut akan lamarannya dan dia sudah kehabisan cara untuk meyakinkannya.
Baekhyun tidak tahu apakah dia harus lebih tersinggung karena Chanyeol berasumsi bahwa dia tidak punya kekasih atau bahwa dia plain dan bukan tipenya? Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk berlaku dewasa dan menyatakan fakta yang lebih penting daripada apa yang sudah dikatakan Chanyeol.
"Kau sadar kan kalau aku ini akuntanmu dan aku bisa kehilangan pekerjaanku kalau aku menerima lamaranmu?"
"Yep, aku sudah mempertimbangkan itu semua," jawab Chanyeol. Dalam hati Chanyeol tertawa ketika mendengar balasan dari Baekhyun. Perempuan satu ini memang tidak bisa ditebak.
"Jadi kau tidak peduli aku menjadi jobless kalau aku menerima lamaranmu?"
Memang dalam dunia konsultasi tidak ada peraturan tertulis yang menyatakan bahwa seorang konsultan tidak bisa menikahi kliennya, tetapi hampir semua konsultan di seluruh dunia memegang kode etik ini, termasuk Baekhyun. Lumrahnya, seorang auditor tidak seharusnya bekerja di firma yang mewakilkan suami/istrinya, supaya objektivitas dalam menjalankan tugas sebagai konsultan tetap terjaga.
"I hate to lose you as a consultant, karena kerjamu memang bagus, tapi aku lebih terdesak untuk mencari istri."
Baekhyun terdiam, mencoba mencerna kata-kata Chanyeol. Diamnya Baekhyun disalahartikan sebagai persetujuan oleh Chanyeol.
"Jadi kau setuju dengan lamaranku, kan?"
"Aku tidak menyetujui apa pun juga sebelum kau menjawab pertanyaanku." Baekhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menyilang kakinya, dan melipat kedua tangannya di depan dada. Kini Baekhyun sudah tidak bingung lagi, dia sadar betul akan apa yang diminta Chanyeol darinya dan dia sama sekali tidak terhibur dengan lelucon ini.
Chanyeol mengernyitkan dahinya. "Look, aku mengerti kalau kau upset dengan proposalku ini..."
"Upset? Aku tidak upset," potong Baekhyun dengan nada tersinggung. Memangnya Chanyeol pikir dia siapa? Apa dia pikir karena dia adalah laki-laki paling seksi se-Korea Selatan maka dia berhak mengatakan semua hal yang dia baru katakan padanya tanpa membuatnya tersinggung? Tentu saja Baekhyun tersinggung.
Chanyeol sedang berusaha menahan senyum melihat reaksi Baekhyun. Untuk pertama kalinya dia bisa melihat Baekhyun kehilangan sopan santunnya. Wajah dan lehernya memerah karena marah dan Chanyeol tahu bahwa pasti ada yang salah dengan dirinya karena yang dia ingin lakukan pada saat itu adalah mencium gadis itu, semua bagian tubuhnya yang kini berwarna merah.
Baekhyun melihat wajah Chanyeol yang sepertinya sedang menertawakannya, dan dia menahan diri agar tidak menggerutu.
"Aku bisa mencari kantor konsultan lain kalau kau memang bersikeras tetap bekerja setelah menikah denganku, meskipun aku tidak melihat alasan yang tepat kenapa kau mau melakukan ini. Aku sudah berencana membayarmu setiap bulan selama kau menikah denganku. Selain itu, aku akan memberimu apa saja yang kau minta," jelas Chanyeol.
"Okay, let me get this straight. Kau akan membayarku karena menikah denganmu?" Ucap Baekhyun perlahan-lahan.
"Plus apa saja yang kau mau. You just name it and it's your," jelas Chanyeol.
"Well, that sounds like prostituting to me," balas Baekhyun.
"No, no, no... Ini sama sekali bukan pelacuran. Kau tidak perlu have sex denganku sama sekali untuk semua keuntungan yang kau akan dapat dari hubunganmu denganku."
"Apa kita akan tidur satu kamar?" Tanya Baekhyun.
"Tidak satu kamar, tapi kita harus tinggal satu atap."
"Yang berarti di rumahmu ini?"
"Iya, itu akan lebih mudah untukku."
"Waktu kau merencanakan ini semua, apa kau bahkan mempertimbangkan bahwa aku suka dengan pekerjaanku yang sekarang?"
"Oh, come on, bagaimana bisa kau menyukai pekerjaan yang memaksamu bekerja pada akhir minggu, yang membuatmu terlambat ke acara ulang tahun keponakanmu, dan yang membuatmu jadi masih single sampai sekarang?"
Chanyeol meraih tangan Baekhyun sebelum dia bisa bereaksi dan menggenggamnya erat. Dan dengan tatapan dalam yang bahkan bisa mencairkan gunung es di Kutub Utara dia berkata, "Look, kalau kau bisa membantuku untuk yang satu ini, aku akan berhutang budi padamu seumur hidupku. So please, tolong aku."
Sesebal-sebalnya Baekhyun pada lelaki ini, dia tidak bisa mengabaikan tatapan penuh keputusasaannya itu.
"Kau yakin tidak ada orang lain yang bisa kau nikahi? Bagaimana dengan teman-teman selebritimu? Pasti banyak dari mereka yang mau menikah kontrak denganmu." Baekhyun masih berusaha mencari solusi lain untuk menyelesaikan dilema yanng dihadapi Chanyeol ini agar tidak melibatkan dirinya.
"Aku tidak mau menikah dengan orang dari dunia entertainment, nanti akan mengundang lebih banyak gosip. Lagi pula, urusan perceraiannya bisa messy nantinya."
"Bagaimana dengan teman-teman non selebritimu?"
"Tidak ada yang masih mau berbicara denganku. Aku sudah membuat banyak perempuan pissed off."
"Kenapa harus menikah, kenapa tidak dating saja?"
"Kalau hanya dating, akan kelihatan bohongnya. Tapi kalau menikah kan ada suratnya dan pestanya yang akan diliput oleh media, jadi kelihatan lebih meyakinkan buat masyarakat. Mereka perlu percaya kalau aku ini laki-laki baik-baik dan dengan aku menikahimu, itu semua bisa tercapai. I mean, kalau aku memang seburuk seperti yang sudah digambarkan media, wanita baik-baik sepertimu tidak mungkin akan mau menikah denganku, kan?"
Sejenak Baekhyun mempertimbangkan jawaban Chanyeol ini. "Kalau aku membantumu soal ini, apa untungnya buatku?"
"Seperti yang sudah aku bilang, kau akan mendapat uang dariku dan..."
"Kau tidak bisa membeliku dengan uangmu," potong Baekhyun garang. Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Chanyeol dan kembali pada posisi sebelumnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Chanyeol menghembuskan napasnya putus asa. "Aku sebenarnya ingin mengatakan... sebelum kau memotongku, bahwa you'll have me as your husband."
Tunggu sebentar, apa dia baru saja mengatakan apa yang dia baru katakan? This arrogant son of a bitch dan Baekhyun menarik napas panjang sebelum dia memulai omelannya.
"Aku ini akuntan dengan sertifikasi taraf internasional, lulusan Amerika dari universitas berkaliber tinggi dengan summa cum laude, aku adalah junior partner termuda di perusahaan akuntan publik ternama di Seoul, dan gajiku mencapai delapan digit setiap bulannya. Dan meskipun bukan material Miss Universe, tapi aku cukup menarik. Intinya, aku bisa mendapatkan laki-laki mana saja untuk menjadi suamiku, apa yang membuatmu berpikir bahwa aku mau kau sebagai suamiku?"
Baekhyun melihat Chanyeol akan memotong, tapi dia lanjut dengan omelannya. "Kau memang artis yang cukup digemari oleh kaum wanita apalagi mereka yang masih di bawah umur," Baekhyun sengaja menghina Chanyeol dan melihatnya meringis ketika mendengar ini, tapi dia tidak peduli.
"Tapi aku, sebagai wanita dewasa, tidak pernah tertarik dengan laki-laki yang aku yakin bahkan tidak bisa membedakan antara debit dan kredit. Belum lagi dengan reputasi kelakuan kasarmu terhadap wartawan, salah-salah kau ternyata suka memukul wanita juga. Intinya, menjadi laki-laki jangan terlalu percaya diri dan berpikir kalau dia adalah anugerah terindah yang pernah terlahir di bumi ini, dan bahwa semua wanita menginginkanmu. Karena aku tidak tertarik sama sekali denganmu."
Baekhyun akhirnya kehabisan argumentasi dan dia berhenti menarik napas. Selama beberapa menit Chanyeol hanya menatapnya dengan mulut ternganga, matanya yang hitam itu menyiratkan keterkejutan dan sesuatu yang terlihat sperti... rasa hormat? Tidak mungkin. Bagaimana laki-laki ini bisa hormat kepadanya setelah dia pada dasarnya sudah menginjak-injak egonya.
Chanyeol sebetulnya ingin tertawa terbahak-bahak karena Baekhyun meragukan kemampuan otaknya. Dia memang kuliah jurusan musik, tapi sesuatu yang kebanyakan orang tidak tahu adalah bahwa dia lulus dengan 2 ijazah, yaitu music composition dengan IPK 3.4 dan Finance dengan IPK 3.8. Advisornya di Carnegie Melon sempat geleng-geleng kepala kepala ketika mendengar petisinya untuk mengambil dua jurusan yang tidak ada sangkut pautnya satu sama lain, tetapi beliau akhirnya setuju dan membiarkan Chanyeol melakukannya. Intinya, Chanyeol tahu persis bedanya antara debit dan kredit dan segala hal lainnya yang berhubungan dengan manajemen keuangan.
"Oke, aku menerima argumentasimu, aku cuma mau membetulkan satu hal saja. Aku yakinkan padamu bahwa segala tindakan kasarku hanya tertuju kepada orang yang kurang ajar terhadapku dan orang-orang terdekatku. Aku tidak akan pernah memukul wanita betapapun menyebalkannya mereka."
Baekhyun tahu bahwa Chanyeol mengatakan yang sebenernya. Dia tidak kelihatan seperti tipe laki-laki yang akan menyakiti seseorang yang jelas-jelas lebih lemah daripada dirinya.
"Apakah anak yang dikandung Irene itu anakmu?" Tanya Baekhyun untuk memastikan apa yang dia dengar beberapa jam yang lalu.
Ada senyum simpul pada sudut bibir Chanyeol sebelum dia berkata, "Bukan. Itu bukan anakku. Itu anaknya Mino, vokalis band The Rocket. Aku bukan tipe laki-laki yang akan menelantarkan anak sendiri. Kalau anaknya Irene adalah anakku, aku sudah pasti menikahi Irene dari kemarin-kemarin. Sayangnya tidak semua laki-laki memiliki pendapat yang sama."
Dan sekali lagi Baekhyun harus percaya akan kata-kata Chanyeol karena dia betul-betul terlihat tulus ketika mengatakannya.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu?" Tanya Chanyeol setelah beberapa lama.
Melihat Baekhyun mengangguk, Chanyeol melanjutkan, "Apa kau berniat menikah?"
"Of course."
"Kapan terakhir kali kau punya kekasih?"
"Apa hubungannya sejarah datingku dengan ini semua?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Aku putus dengan kekasihku hampir 2 tahun yang lalu."
"Kenapa kau putus dengan kekasihmu?"
"Keluargaku tidak setuju."
"Kenapa mereka tidak setuju?"
"Mereka bilang dia..." Baekhyun berhenti ketika menyadari bahwa dia hampir saja menceritakan sejarah hidupnya kepada orang asing.
"You know what, this is none of your business," ucap Baekhyun dan berdiri. Chanyeol menarik pergelangan tangannya dan memaksanya kembali duduk.
"Tell me," ucap Chanyeol pendek sambil melepaskan tangan Baekhyun.
Baekhyun menggeleng. "Kau lebih baik cek apa pizzanya sudah sampai." Baekhyun mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Dia gay, ya?" Tekan Chanyeol.
"Daehyun bukan gay," balas Baekhyun mencoba membela mantan kekasihnya yang dianggap kurang "laki-laki" oleh Ibunya, entah apa maksudnya.
"Pengangguran?"
"Tidaklah."
"But ugly?"
"Tidak! Oke?! Daehyun, seperti juga kekasih-keksihku sebelumnya, tidak gay, dia tidak pengangguran, dia sama sekali tidak jelek. Masalahnya adalah pada keluargaku. Menurut Ibuku, aku bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik," teriak Baekhyun akhirnya.
Dengan berteriak seperti ini Baekhyun menyadari betapa frustasinya dia pada keluarganya, terutama Ibunya yang selalu mencoba mengatur hidupnya. Dari dulu, sampai sekarang, Ibunya selalu mencoba mengatur semuanya, mulai dari ekstrakurikuler hingga jurusan yang harus dia ambil, dari universitas yang harus dia pilih, hingga perusahaan tempatnya bekerja, dan seterusnya. Baekhyun tidak akan membiarkan satu orang lagi mengatur hidupnya.
"This conversation is over," ucap Baekhyun sebelum berdiri dengan cepat dan bergegas menuju pintu.
Chanyeol mencoba meraih tangannya, tapi kali ini Baekhyun lebih cepat. Sebelum Chanyeol bisa bereaksi Baekhyun sudah mencapai pintu. Ketika dia memutar gagang pintu Chanyeol berkata, "Definisikan laki-laki yang lebih baik." Kata-kata itu membuat Baekhyun tertegun.
"It's a simple question, Baekhyun." Baekhyun terpekik ketika mendengar kata-kata itu tepat di belakang telinga kanannya.
Dia bisa merasakan suhu tubuh Chanyeol yang kini berada sangat dekat dengan punggungnya. Oh! Bisa tidak sih laki-laki satu ini meninggalkannya sendiri? Baekhyun menarik gagang pintu, mencoba keluar, tapi Chanyeol mendorong pintu itu hingga terbanting tertutup sebelum menyandarkan telapak tangannya tepat di sebelah wajah Baekhyun. Tingkah laku Chanyeol yang sengaja mencoba mengintimidasinya dengan ukuran tubuhnya membuat Baekhyun melangkah mundur dan punggungnya bertabrakan dengan dada Chanyeol. Dalam proses memutar tubuhnya, keseimbangannya goyah. Chanyeol mencoba menjaga keseimbangan Baekhyun dengan memeluk pinggangnya dan menyandarkan punggung Baekhyun lebih rapat pada dadanya, dan pikiran Baekhyun langsung blank. Baekhyun hanya bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang melonjak-lonjak tidak keruan.
"Apa kau akan menjawab pertanyaanku?" Bisikan Chanyeol mengaktifkan otak Baekhyun kembali.
Sepertinya Chanyeol memang berniat memaksanya untuk menyetujui rencananya, dan dia ingat akan rasa jengkelnya. Baekhyun memutar tubuhnya menatap Chanyeol. Entah apa yang Chanyeol lihat pada tatapan mata itu, tetapi dia langsung melepaskan pinggang Baekhyun.
"Yang sepertimu. Aku tidak tahu kenapa, tapi Ibuku cinta mati padamu. Bahkan dengan reputasimu yang semakin menurun sekarang, dia tetap membelamu," ucap Baekhyun. "Dia bilang kau punya potensi untuk menjadi suami yang baik," tambahnya.
Oke, itu semua tidak benar, dia bahkan tidak pernah membahas tentang Chanyeol dengan Ibunya, tapi toh Chanyeol tidak tahu tentang itu. Baekhyun menunggu detik dimana Chanyeol akan lari tunggang langgang dengan jawaban itu. Tidak ada laki-laki, yang jelas-jelas takut setengah mati dengan komitmen, kalau dilihat dari jumlah wanita yang gigit jari karena gagal menjadi Mrs. Park Chanyeol, mau menikahi perempuan dengan Ibu yang mengharapkan hal yang paling ditakutinya itu. Dan sepertinya rencana itu berhasil karena untuk beberapa detik Chanyeol hanya bisa menatapnya seperti dia alien, sebelum kemudian mengambil beberapa langkah mundur dengan sedikit sempoyongan. Hah! Biar dia tahu rasa, ucap Baekhyun dalam hati dengan penuh kemenangan.
Tapi rasa kemenangan itu langsung punah ketika Chanyeol mulai mengatur ekspresi wajahnya dan sambil tersenyum simpul dia berkata, "All the more reason bagimu untuk menikah denganku. Ibumu jelas-jelas sudah setuju denganku."
WHATTTTTTTTTT?! Laki-laki gila.
"Tapi... Tapi..." Baekhyun mencoba mencari alasan untuk menolak Chanyeol tapi tidak satu ide pun muncul. Baekhyun sadar bahwa dia baru saja menggali kuburnya sendiri. SHIIITTTT!
"Apa kau mau keluargamu terus mengatur hidupmu?"
"Tentu saja tidak, tapi..."
"Aku jadi curiga, jangan-jangan alasan kenapa kau masih single sampai sekarang adalah karena ada yang salah denganmu."
Wait a second, apa laki-laki kurang waras ini sedang menghinanya? Baekhyun tidak pernah membiarkan siapapun menghinanya, dan jelas-jelas dia tidak akan membiarkan seorang selebriti yang sok populer, arrogant as hell, dan tidak tahu sopan santun ini melakukannya. Tapi... Bagaimana kalau pernikahan ini ternyata adalah solusi yang dia sudah tunggu-tunggu selama ini agar bisa menunjukkan kepada keluarganya bahwa dia tidak memerlukan keluarganya untuk mengambil keputusan, bahwa dia bisa mengambil keputusan sendiri? Dan Chanyeol memang menggambarkan segala sesuatunya tentang laki-laki sempurna. Pekerjaan mapan, check; punya rumah sendiri, check; penampilan lumayan menarik, check; uang seabrek, triple check. Yang paling penting adalah bahwa Chanyeol jelas-jelas memiliki cukup kepercayaan diri untuk tidak kabur begitu menerima tatapan sangar dari keluarga Baekhyun.
"Oke," ucap Baekhyun akhirnya dengan penuh tantangan.
"Oke apa?" Chanyeol terdengar terkejut ketika menanyakan ini.
"Oke aku akan menikah denganmu, tapi kau harus janji bahwa keluargaku tidak akan pernah tahu tentang ini. Setahu mereka kau menikahiku karena kau memang sudah cinta mati denganku. Selain itu, aku juga mau pre-nup. Itu syaratku, apa kau setuju?"
"Setuju," balas Chanyeol dengan pasti.
To be continued.
Btw congrats for #Obsession1stWin !
Ada yg udah nonton exo di radio star? I'm crying guys, cinta banget sama mereka apalagi mereka berani speak up tentang sm, suho juga bahas tentrang kontrak dan mereka bahas kontrak itu ke sesama member dan sepakat no matter what mereka bakalan bareng2 whether mereka bakalan stay di sm atapun keluar bareng2 dan bikin label sendiri huhuhu I wish nothing but the best for them 3
