Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Jam ketiga dilalui Chanyeol untuk menjawab berbagai macam pertanyaan mengenai hubungannya dengan Baekhyun.
Salah satu Bibi Baekhyun bertanya, "Sudah berapa lama kenal Baekhyun?"
"Sekitar 6 bulan, Bibi."
"Bertemu dimana?" Tanya Bibi Baekhyun yang lain.
Chanyeol dan Baekhyun setuju untuk menjelaskannya sedekat mungkin dengan kenyataan supaya terdengar meyakinkan juga untuk mencegah supaya mereka tidak mengganti cerita tersebut di lain waktu karena lupa akan apa yang mereka sudah katakan sebelumnya.
Dan pada jam inilah Chanyeol mulai betul-betul mengenal Baekhyun dengan memperhatikan interaksinya dengan keluarganya. Baekhyun jelas-jelas kelihatan sedikit tidak nyaman diantara keluarganya, terutama Ibu dan kakak tertuanya yang selalu protes dengan segala sesuatu yang dilakukan Baekhyun. Mulai dari pakaian yang digunakan Baekhyun, sampai makanan yang ada di atas piring Baekhyun. Chanyeol teringat akan reaksi Baekhyun ketika dia memojokkannya dan memaksanya agar setuju dengan lamarannya, rasa sakit hati dan kekecewaan terpendam yang tersirat pada matanya sebelum Baekhyun kemudian mencoba melarikan diri dari percakapan itu. Rupanya inilah yang harus dihadapi Baekhyun setiap harinya. Itu menjelaskan bagaimana dia masih single sampai sekarang.
Satu hal yang disadari Chanyeol selama 2 minggu belakangan adalah bahwa Baekhyun adalah seorang perempuan yang selain pintar, mandiri, cute as hell, dan memiliki sense of humor dia juga memiliki kecenderungan mengeluarkan komentar yang agak-agak sarkatis. Beberapa kali Chanyeol mendapati dirinya menahan senyum mendengar komentar-komentar Baekhyun. Kombinasi ini membuat Baekhyun menjadi pasangan yang ideal untuk laki-laki manapun.
"Akhirnya kau bisa juga mencari laki-laki yang bagus, Baek," komentar Taeyeon kepada adiknya menarik perhatian Chanyeol.
Meskipun Baekhyun tertawa mendengar komentar itu tetapi tubuhnya yang sedang berdiri di samping Chanyeol langsung menegang.
Taeyeon yang tidak menyadari bahwa kata-katanya sudah menyakitkan hati masih terus berbicara, "Selama ini Baekhyun selalu membawa pulang laki-laki yang tidak kami setujui. Kami senang dia akhirnya bisa memilih laki-laki yang benar." Taeyeon memberikan senyuman kepada Chanyeol ketika mengatakannya, memastikan dia mengerti bahwa dialah orang yang dimaksud.
Pada detik itu Chanyeol menyadari bahwa keluarga Baekhyun bukannya ingin mengatur hidup Baekhyun, tetapi mereka sangat protektif terhadapnya. Mereka mungkin masih menganggap Baekhyun anak kecil yang tidak dapat mengambil keputusan sendiri, tidak peduli bahwa dia sudah berusia 32 tahun. Dia harus menghentikan pendapat tentang Baekhyun ini. Baekhyun adalah wanita dewasa yang mampu mengambil keputusannya sendiri dan tahu apa yang baik dan tidak untuknya.
"Sebagai wanita dewasa aku yakin Baekhyun mampu memilih laki-laki yang paling cocok untuknya sendiri tanpa dorongan atau paksaan dari siapa pun. Itu sebabnya dia mengatakan 'iya' waktu aku memintanya untuk menikah denganku beberapa hari yang lalu, bahkan sebelum aku dikenalkan ke keluarganya." Chanyeol tidak sempat memikirkan kata-kata itu sebelum kalimat itu meloncat keluar dari mulutnya.
Dia mendengar Baekhyun mendengus seperti sedang menahan tawa. Mereka seharusnya tidak menyebut-nyebut soal itu hingga mereka berbicara dengan Ayah Baekhyun terlebih dahulu, tapi semuanya worth it ketika Chanyeol melihat wajah Taeyeon dengan mulutnya yang menganga. Untuk lebih meyakinkan Taeyeon, Chanyeol mengangkat tangan Baekhyun yang jarinya dilingkari oleh cincin darinya. Dengan bantuan sinar matahari siang yang masuk dari jendela, gemerlap berlian Rusia itu betul-betul bisa membutakan mata kalau dilihat terlalu lama. Dan Chanyeol bertanya-tanya bagaimana wanita itu masih tetap bisa berdiri padahal wajahnya sudah memucat dan matanya terbelalak shock.
Chanyeol memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mengumumkan pertunangan mereka. Dia meraih gelas kosong dan mendentingkan dengan sendok teh. Dentingan nyaring itu menghentikan semua percakapan pada ruangan itu.
"Chanyeol, what are you doing?" Desis Baekhyun.
"Wait and see," balasnya sambil tersenyum ketika melihat orang tua Baekhyun memasuki ruangan.
Setelah yakin bahwa dia mendapatkan perhatian semua orang, Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan memulai pidatonya.
"Selamat siang semuanya. Aku tahu bahwa ini baru pertama kalinya keluarga besar Baekhyun bertemu denganku sebagai kekasih Baekhyun. Paman dan Bibi mungkin berpikir kalau aku sedikit kurang ajar karena sudah menjadi tamu tidak diundang dan sekarang memberikan pidato tanpa seizin sang pemilik rumah."
Chanyeol mendengar gelak tawa dari beberapa tamu dan dia melanjutkan, "Aku belum lama kenal dengan Baekhyun, tapi semenjak pertama kali aku bertemu dia, aku tahu kalau dia adalah wanita yang tepat untukku. Aku mencoba beberapa kali mengajaknya keluar dan selalu menerima penolakan dari Baekhyun, tapi aku pantang menyerah sampai akhirnya dia mau makan malam denganku."
Baekhyun berusaha tidak terbatuk-batuk mendengar kebohongan dari mulut Chanyeol ini. Dia melihat kesekelilingnya, khawatir seseorang akan mengenali kebohongan ini, tetapi dia melihat bahwa semua orang sedang menatap Chanyeol ingin tahu.
"Setelah kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama, aku semakin sadar bahwa Baekhyun adalah wanita yang kumau sebagai pendamping hidupku. 2 hari yang lalu aku melamar Baekhyun dan dia setuju menjadi istriku."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bisa berkata-kata. Chanyeol memberikan senyuman kepada Baekhyun yang sedang menatap wajahnya tidak percaya, tapi dia bertekad melakukan ini. Dia kemudian menggiring Baekhyun menuju orang tuanya. Ketika mereka sudah cukup dekat, Chanyeol menatap orang tua Baekhyun dan dengan setulus mungkin dia berkata, "Paman, Bibi, aku meminta izin diperbolehkan menikahi Baekhyun."
Orang tua Baekhyun terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian Ibu Baekhyun berkata, "Akhirnyaaaa..." sambil memeluk Baekhyun dan Chanyeol.
Dalam perjalanan pulang Baekhyun bersyukur bahwa tidak ada satu orang pun pada pesta ulang tahun itu yang menyinggung nama Irene di hadapan Chanyeol. Meskipun Baekhyun yakin bahwa banyak orang pasti bertanya-tanya tentang itu. Mereka tidak berani menyuarakannya. Keluarganya sepertinya betul-betul menerima Chanyeol dengan tangan terbuka, mereka bahkan tidak kelihatan khawatir bahwa nama Chanyeol masih belum bersih dari skandalnya dengan Irene dan bayinya. Meskipun dia sudah menyangka bahwa keluarganya tidak akan keberatan menerima Chanyeol sebagai menantu atau adik ipar, tetapi dia tetap terkesima ketika melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia harus berterima kasih kepada Chanyeol yang ternyata memiliki bakat akting tersembunyi, sehingga bisa meyakinkan semua orang bahwa dia sudah head over heels in love dengannya. Selain itu, Baekhyun juga merasa berterima kasih kepada Chanyeol yang tidak kelihatan risih dikelilingi oleh keluarganya.
Chanyeol hanya mengedipkan matanya padanya ketika Yeri dengan semangatnya menggeretnya untuk dipamerkan kepada sepupu-sepupunya. Chanyeol menyempatkan diri berbincang dengan Ayahnya dan kelihatan tertarik ketika Ayahnya menggambarkan cara terbaik memelihara ikan arwana. Chanyeol membantu Ibunya membagikan kue ulang tahun kepada para tamu. Chanyeol bermain Lego dengan sekumpulan anak-anak kecil. Tapi satu hal yang membuat Baekhyun merasa harus berterima kasih padanya adalah karena dia mendukungnya di hadapan keluarganya.
"Kudengar Yeri dekat sekali denganmu." Kata-kata Chanyeol menembus ruang pemikirannya dan Baekhyun mengangguk sambil tersenyum.
"Siapa nama kakak keduamu?"
"Luhan Unnie."
"Apa dia sama tukang aturnya seperti Taeyeon Noona?"
Baekhyun terkikik dan berkata, "You caught that huh?"
"Taeyeon Noona dan Ibumu sepertinya harus membuat klub."
"Klub?"
"Iya, Klub 'ayo kita atur hidup Baekhyun karena jelas-jelas dia tidak bisa membuat keputusan sendiri'."
"Oh, klub itu." Baekhyun tertawa terkekeh-kekeh.
"Apa kau tidak pernah merasa keberatan dengan perlakuan mereka yang menganggapmu ini anak kecil?"
Baekhyun mengangkat bahunya sambil masih tertawa, "Keberatan sih keberatan. Cuma aku tahu kalau maksud mereka sebenarnya baik." Baekhyun mencoba memberikan alasan atas perlakuan keluarganya, tapi Chanyeol tahu bahwa kata-katanya sudah menembus lapisan hati Baekhyun yang paling dalam.
"Well, pokoknya menurutku keluargamu seharusnya lebih bisa menghargai keputusan-keputusanmu."
Baekhyun hanya tersenyum simpul, menghargai dukungan Chanyeol, sebelum berkata, "Sori ya kalau kita jadi terlalu lama disana. Aku tahu kau ada rekaman malam ini dan perlu istirahat," ucap Baekhyun dengan lebih serius.
"Don't worry about it, I had fun."
"Yeah right."
"Serius!"
"Jadi kau tidak keberatan kalau Taeoh memonopolimu untuk membantunya membuat benteng dari Lego?"
"I'm fine with Lego, tapi waktu adiknya Taeoh... siapa namanya...?"
"Taerin," jawab Baekhyun.
Taeoh, 10 tahun dan Taerin, 6 tahun, adalah anak-anak Kyungsoo, yang setelah hari ini menjadi fans berat "Paman Chanyeol".
"Iya, Taerin. Nah waktu dia mengajakku main boneka Bratz, itu aku tidak bisa. Boneka gives me the creeps," jelas Chanyeol.
"Karena kau laki-laki macho yang tidak mau bermain dengan boneka?" Canda Baekhyun.
Chanyeol kelihatan tersipu-sipu dengan kata-kata Baekhyun yang menyebutnya "macho" dan berusaha menutupi wajahnya yang memerah dengan berkata, "Bukan itu, tapi aku sedang membayangkan saja kalau tiba-tiba boneka itu hidup malam-malam."
"Jangan bilang padaku kalau kau takut dengan boneka."
"Setengah mati. Kau tidak pernah menonton Chucky, ya?"
Baekhyun menggeleng. Dia pernah mendengar bahwa film yang keluar tahun '80-an itu cukup menyeramkan, tapi karena dia selalu berpendapat bahwa semua film horor itu tolol maka dia tidak pernah membuang waktunya untuk menonton film genre tersebut.
"Aku tidak bisa tidur dua malam setelah menonton film itu." Baekhyun melihat Chanyeol menggigil dan itu membuatnya tertawa.
"Wow, siapa yang menyangka kalau ternyata Park Chanyeol is such a wimp," komentar Baekhyun.
Chanyeol kelihatan sangat terhina yang membuat tawa Baekhyun semakin keras.
"Yah, sekarang kau sudah tahu kelemahanku. Giliranmu."
"Giliranku?"
"Iya. Sebut satu hal yang paling kau takuti?"
Baekhyun berpikir sejenak. "Ular. Aku takut setengah mati dengan ular, tidak peduli bahwa ular itu masih bayi dan ukurannya cuma sekelingkingku," ucap Baekhyun akhirnya.
Chanyeol terdiam lama sehingga Baekhyun berpikir bahwa dia tidak mendengarnya.
"Apa kau tidak akan mengejekku karena aku takut dengan ular?" Pancing Baekhyun.
"Nope. Aku tahu banyak orang yang takut dengan ular," jawab Chanyeol diplomatis.
Kata-kata Chanyeol yang tidak disangka-sangka itu membuat Baekhyun kebingungan mencari balasan, akhirnya dia berkata, "Oh... Well that's nice."
Chanyeol hanya tersenyum dan mereka terdiam karena Chanyeol sibuk memanuver mobilnya di lalu lintas malam minggu yang mulai padat. Baekhyun memuaskan dirinya untuk sembunyi-sembunyi memperhatikan tangan Chanyeol yang menggenggam setir. Tangan itu berukuran besar dan kokoh, kuku-kukunya dipotong pendek dan bersih
"Taeoh tidak memonopoliku," ucap Chanyeol tiba-tiba.
"Ehm?" Baekhyun menarik matanya dari tangan Chanyeol ke wajahnya.
"Kau tadi bilang kalau Taeoh memonopoliku di rumah orang tuamu. Dia tidak memonopoliku. Kebetulan aku memang fans berat Lego. Aku pernah membangun seluruh kota New York dengan Lego waktu aku berumur sepuluh tahun." Chanyeol terdengar bangga dengan pencapaiannya ini.
"Reallyy?! That must be really cool," ucap Baekhyun kagum. Dia mencoba membayangkan Chanyeol sebagai anak kecil yang duduk di lantai dan sibuk dengan Legonya, dan itu membuatnya tersenyum.
"It was cool." Chanyeol membalas senyum Baekhyun. "Aku menyimpan model itu di kamarku sampai aku pergi ke Amerika, saat aku pulang sudah tidak ada. Ibuku memberikan model itu ke panti asuhan beberapa hari sebelum aku pulang. Dia pikir karena aku sudah dewasa, aku tidak akan mau mempunyai model itu di kamarku."
Chanyeol kelihatan sedih ketika mengatakan ini. Selama beberapa saat Baekhyun tidak bisa berkata-kata. Akhirnya dia hanya bisa mengatakan, "I'm sorry," yang dia tahu sama sekali tidak membantu atau bahkan menggambarkan perasaannya yang sebetulnya ingin memeluk Chanyeol pada saat itu juga dan menepuk-nepuk punggungnya sambil mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"It's alright. Aku menemukan hobi lain setelah itu untuk membuat kesal Ibuku," balas Chanyeol jenaka.
"Apa itu?" Tanya Baekhyun curiga.
"Women. Lots and lots of them."
Dan Baekhyun tertawa terbahak-bahak bersama-sama Chanyeol. Tidak heran karier Chanyeol bisa sesukses sekarang karena dia ternyata cukup menyenangkan sebagai teman ngobrol. Baekhyun mengakui merasa nyaman berada bersamanya. Keheningan menyelimuti interior mobil, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Hanya ada musik jazz yang menemani mereka, tapi mereka berdua sepertinya menikmati kesunyian itu.
"Omong-omong, how did I do?" Tanya Chanyeol memecahkan kesunyian. Dia sudah ingin menanyakan pendapat Baekhyun tentang performanya semenjak mereka meninggalkan rumah orang tua Baekhyun. Entah kenapa, tapi dia menginginkan semacam persetujuan atau mungkin pujian dari Baekhyun.
"How did you do what?"
"Apa aku berhasil meyakinkan mereka sebagai tunanganmu?"
"Definitely," jawab Baekhyun sambil nyengir. "Setelah ini, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Baekhyun dengan nada lebih serius.
Chanyeol yang mengenali nada serius Baekhyun, menjawab, "Aku akan meminta Ibuku supaya mengatur acara lamaran secepatnya. Bagaimana kalau 2 minggu lagi?"
"Aku mesti mengecek jadwalku dulu dengan personal assistanku, tapi kalau tidak salah aku harus pergi ke Daegu. Nanti kau aku kabari hari Senin."
"Sekalian juga kau pikirkan tanggal pernikahan kita. Kemarin aku mengecek jadwalku dan aku ada waktu kosong selama 2 minggu akhir bulan Mei. Cukupkah itu untukmu untuk merencanakan pesta pernikahan kita?"
"Mei?" Teriak Baekhyun terkejut. "Itu terlalu cepat, aku tidak akan siap."
Chanyeol yang menyangka bahwa Baekhyun membicarakan tentang jadwalnya dan mengira dia tidak akan sempat merancang pernikahan ini sendiri berkata, "Kau minta saja bantuan pada wedding planner yang banyak jumlahnya di Seoul. Aku yakin mereka semua tidak akan menolak kesempatan ini. Uang tidak akan menjadi masalah."
"Chanyeol, aku ini akuntanmu, aku tahu penghasilanmu dalam setahun, jadi kau tidak usah sombong dan memamerkan kekayaanmu padaku," balas Baekhyun ketus.
Chanyeol hanya bisa ternganga. Apa ada yang salah dengan omongannya? Dia hanya bermaksud menolong, bukannya sombong apalagi pamer.
"Yang aku maksud adalah bahwa aku mungkin belum siap, secara mental, untuk menikah secepat itu. Lagi pula, apa kau tidak takut orang akan bergosip kalau kita menikah terlalu cepat?" Sambung Baekhyun.
Chanyeol mengangkat bahunya, "Apa pun yang aku kerjakan orang selalu mengosipkanku, it doesn't matter to me."
"But it matters to me. Aku baru mengenalkanmu pada keluargku hari ini dan kalau kita menikah terlalu cepat orang akan menyangka kalau aku sudah hamil," teriak Baekhyun.
"Oh please, kau cuma bisa hamil kalau kita ini having sex, which we are not karena aku tidak akan menyentuhmu sama sekali."
Baekhyun tersentak seakan-akan Chanyeol baru saja menamparnya.
"I'm sorry. Maksudku bukan begitu..." Chanyeol mencoba meminta maaf ketika melihat ekspresi pada wajah Baekhyun, tetapi kata-katanya sudah dipotong oleh Baekhyun.
"Jadi apa maksudmu?" Balas Baekhyun.
Chanyeol mencoba mengeluarkan kata-kata, tetapi dia tidak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat. Akhirnya dia hanya terdiam. Dan untuk pertama kali semenjak mereka meninggalkan Dongdaemun, keheningan yang ada terasa tidak mengenakkan. Chanyeol merasa ingin memandang dirinya sendiri karena sudah menyinggung hati Baekhyun.
"Juni," ucap Baekhyun tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Hah?" Tanya Chanyeol bingung.
"Aku akan menikah denganmu bulan Juni. Kosongkan jadwalmu awal bulan. Dan karena kau bilang uang tidak akan menjadi masalah, aku akan meminta bantuan wedding planner paling mahal di Seoul untuk melakukan ini supaya bisa menyiapkan buku cekmu kalau kuminta."
Chanyeol terlalu bahagia karena mendengar suara Baekhyun sehingga dia merelakan ejekan Baekhyun terlepas begitu saja. "Oke," ucapnya, padahal dia sendiri tidak tahu jadwalnya untuk bulan Juni. Kalau tidak salah dia harus tampil pada acara ulang tahun salah satu TV swasta. Dia akan pastikan bahwa jadwalnya kosong pada saat itu.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di apartemen Baekhyun dan dia tidak mengundang Chanyeol untuk naik bersamanya.
To be continued.
