Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Bukannya menuju Cheongdam-dong dan masuk ke studio untuk rekaman, Chanyeol justru memilih mengunjungi Ibunya di Yongsan. Setelah alamat rumah Cheongdam-dong dijadikan kantor MRAM, Ibunya memilih tinggal di rumah yang ia warisi dari orang tuanya. Chanyeol tahu betul jadwal Ibunya sehingga dia merasa tidak perlu menelepon untuk memberitahu kedatangannya. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Baekhyun. Satu detik mereka having a good time membicarakan tentang keluarga dan phobia mereka dan detik selanjutnya dia salah berbicara dan langsung mendapat sikap dingin dari Baekhyun.
Seperti yang dia duga, Ibunya sedang minum teh di teras belakang ketika Chanyeol sampai beliau bahkan tidak kelihatan terkejut ketika melihat anaknya.
"Bagaimana acara ulang tahun Ayah Baekhyun? Apa kalian sudah meledakkan bomnya ke mereka?" Tanya Nyonya Youngmi sambil meletakkan cangkir tehnya.
Chanyeol mencium pipi Ibunya sebelum duduk di kursi rotan yang tersedia. "Acara ulang tahunnya lancar. Aku sudah mengumumkan kepada keluarganya kalau aku mau menikahi Baekhyun, sekarang tinggal Ibu telpon orang tuanya untuk membicarakan masalah tanggal lamaran. Baekhyun bilang awal April dia free sehingga acara lamaran bisa dilaksanakan dan dia mau pernikahannya bulan Juni."
Nyonya Youngmi memerhatikan anaknya dengan lebih seksama. Dia tahu betul kepribadian Chanyeol yang sangat tertutup dan pendiam sehingga terkesan moody kepada kebanyakan orang, tapi beliau sudah belajar untuk membedakan antara moody karena dia sedang kesal atau karena dia sedang banyak pikiran. Namun wajah Chanyeol hari ini tidak kelihatan kesal ataupun pusing, melainkan bingung. Chanyeol tidak pernah bingung, dia adalah jenis orang yang selalu tahu apa yang harus dia lakukan dalam situasi apapun. Nyonya Youngmi bertanya-tanya apakah atau lebih tepatnya siapakah yang membuat anaknya jadi begini?
"Kalau misalnya semuanya lancar, kenapa kau kelihatan marah begini?" Tanya Nyonya Youngmi.
"Aku tidak marah," balas Chanyeol terlalu cepat dan terlalu tajam, membuat Nyonya Youngmi tersenyum. Chanyeol mendengus sebelum berkata, "Bu, apa menurut Ibu aku ini orangnya sombong dan suka pamer?"
"Humph..." Nyonya Youngmi sedikit terkejut mendengar pertanyaan ini, sehingga dia harus berpikir sejenak. "Mungkin tidak sombong atau pamer specifically, tapi kau tipe orang yang karena sudah terbiasa hidup dengan segala sesuatu yang nomor satu, kau jadi kelihatan kurang menghargai benda-benda yang orang pikir sebagai barang mewah karena itu sudah jadi bagian kehidupan harianmu. Tapi tidak ada salahnya dengan itu."
Chanyeol terdiam. Perlahan-lahan dia mencoba mencerna kata-kata Ibunya. Sebagai anak tunggal seorang pengusaha sukses, dia memang sudah dibesarkan dengan segala kemewahan, sehingga sebagai manusia dewasa, segala kemewahan yang dia miliki dianggapnya sebagai suatu hak daripada suatu keistimewaan. Wow, Baekhyun benar, dia memang sombong. Kenapa tidak pernah ada orang yang mengatakan hal ini kepadanya sebelumnya? Semenjak perceraian orang tuanya, dia selalu berusaha sebisa mungkin membebaskan diri dari cetakan anak-anak dengan latar belakangnya, yaitu anak-anak orang kaya yang sombong dan berpikiran dangkal. Dia lebih memilih sekolah negeri daripada swasta, bergaya punk daripada preppy, berkarier di dunia musik dan membangun kariernya di dunia itu, terpisah dari bisnis Ayahnya. Dia bahkan menolak mengambil alih manajemen perusahaan Ayahnya ketika beliau meninggal, dan memilih menjadi pemegang saham pasif dan menyerahkan tanggung jawab manajemen kepada Board of Directors yang sudah ada. Siapa yang sangka bahwa dia tetap menjadi orang yang dia coba hindari. Ayahnya yang sudah meninggal hampir 10 tahun akan bangun dari kubur dan muncul di hadapannya sambil geleng-geleng kepala kalau dia sampai tahu laki-laki seperti apa Chanyeol kini.
Ketika orang tuanya bercerai, dia masih di bawah umur dan hakim memutuskan hak asuh anak jatuh kepada Ibunya karena Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang ada di rumah. Setidak-tidaknya, itulah yang dikatakan oleh kedua orang tuanya sewaktu dia bertanya kenapa dia tidak bisa tinggal dengan Ayahnya. Sejujurnya, kalau diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya, Chanyeol akan memilih untuk tinggal dengan Ayahnya. Pada saat itu Chanyeol merasa penjelasan mereka agak sedikit janggal, karena meskipun Ayahnya sibuk, tapi beliau selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu dengan anak satu-satunya itu. Selama setahun setelah perceraian orang tuanya, Chanyeol hanya diperbolehkan bertemu dengan Ayahnya sebulan sekali, dan meskipun Ibunya bilang bahwa itu adalah keputusan pengadilan, tapi Chanyeol menaruh kecurigaan bahwa itu adalah keputusan Ibunya yang mencoba menjauhkan dirinya dari Ayahnya. Dan selama setahun itu dia betul-betul membenci Ibunya.
Seperti teori psikologi mengenai fase yang dilalui oleh seseorang dalam menghadapi kematian, Chanyeol melalui beberapa fase saat menghadapi perceraian orang tuanya. Mulai dari menolak menerima keadaan, mencoba tawar-menawar dengan Ibunya agar diperbolehkan lebih sering bertemu dengan Ayahnya, marah karena Ibunya tetap bersikeras dengan larangannya, hingga akhirnya Chanyeol tidak peduli dengan kata-kata Ibunya lagi yang menurutnya tidak akan pernah bisa mengerti dirinya. Betapa dia merindukan Ayahnya, satu-satunya orang yang betul-betul mengerti dirinya. Ayahnya adalah laki-laki yang pendiam dan lembut, yang membiarkan Ibunya menginjak-injaknya karena beliau mencintai wanita itu, sampai akhirnya beliau sadar bahwa cintanya tidak cukup bagi istrinya sehingga mampu menyelamatkan perkawinan tersebut dan mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan Ayahnya. Mulai dari pakaian yang harus dikenakan, sampai keputusan bisnis di perusahaan Ayahnya, seakan-akan Ayahnya tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
Ibunya salalu mencoba mengekang Ayahnya dan Chanyeol mengerti kenapa Ayahnya menceraikan Ibunya. Laki-laki mana yang akan tahan diperlakukan seperti itu oleh istri mereka? Setahun setelah perceraian, Chanyeol melihat bahwa Ayahnya mencoba sebisa mungkin memperbaiki hubungannya dengan Ibunya. Chanyeol tahu bahwa Ayahnya masih mencintai Ibunya, tidak peduli apa yang Ibunya sudah lakukan kepadanya. Tapi hingga penyakit kanker akhirnya menghabiskan hidup Ayahnya sekembalinya Chanyeol dari Amerika, Ibunya tetap bersikeras bersikap dingin kepada Ayahnya.
Dari perkawinan orang tuanya inilah Chanyeol tahu bahwa dia tidak akan pernah membiarkan dirinya mencintai seorang wanita sedalam Ayahnya mencintai Ibunya, tak akan dia membiarkan seorang wanita menginjak-injak harga dirinya. Tidak, dia tidak akan menjadi seperti itu.
Ayahnya adalah orang yang sederhana, sikapnya pun sederhana. Chanyeol tahu beliau berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tapi dengan otaknya yang encer dan kerja keras, Ayahnya mampu membangun bisnis hingga sukses. Tentu saja Chanyeol juga sangat tahu bahwa Ayahnya sangat mengharapkan putranya akan mengambil alih perusahaan itu ketika dia sudah dewasa. Tetapi ketika Chanyeol lebih memilih menekuni dunia musik, Ayahnya tidak menunjukkan wajah kecewa. Beliau malah memberikan dukungan penuhnya.
Chanyeol memandangi langit yang sudah berubah warna dari merah menjadi abu-abu sebelum berdiri dan berkata, "Aku pulang dulu, Bu." Setelah mencium Ibunya, dia langsung menghilang.
Setelah pertengkaran mereka, Chanyeol tidak bertemu muka lagi dengan Baekhyun selama 2 minggu karena Baekhyun bilang dia sibuk dengan pekerjaannya, tapi Chanyeol tahu bahwa Baekhyun mencoba sebisa mungkin menghindarinya. Meskipun Baekhyun menyempatkan diri untuk mengkonfirmasi tanggal lamaran dengannya seperti yang dia janjikan. Tapi ternyata ketakutannya tidak memiliki dasar karena meskipun Baekhyun jarang berbicara dengannya, rupanya dia sering berhubungan dengan Ibunya untuk membicarakan tentang acara lamaran. Dan itu betul-betul membuatnya jengkel.
Chanyeol mencoba menghabiskan waktunya di dalam studio dan menulis lagu untuk mengusir kejengkelannya. Suatu kegiatan yang biasanya bisa memberikannya ketenangan. Tapi setelah 3 hari dia bahkan tidak bisa menyelesaikan satu bait lagu yang sedang ditulisnya, dan kejengkelannya berubah menjadi kedongkolan. Dalam keadaan penuh kedongkolan yang sudah dipendam selama 3 minggu inilah Chanyeol, Ibunya, Jongdae, adik Ayahnya dan istrinya, dan Paman Dongwook, kakak Ibunya dan istrinya, datang ke rumah orang tua Baekhyun untuk acara lamaran. Kedatangan mereka disambut oleh keluarga dekat Baekhyun saja, yaitu kedua orang tua dan ketiga kakak Baekhyun bersama dengan suami dan anak-anak mereka. Saat itulah untuk pertama kali Chanyeol bertemu dengan Luhan yang bertampang super sangar dan memperhatikan gerak-geriknya seakan-akan dia siap menerkamnya kapan saja. Gggrrr... untung saja dia tidak ada di acara ulang tahun Ayah Baekhyun, karena kalau saja dia melihat wanita ini sebelumnya, Chanyeol mungkin akan berpikir 2x sebelum mengumumkan pertunangannya dengan Baekhyun.
Lain dengan Luhan, Baekhyun dan anggota keluarganya yang lain menyambut keluarga Chanyeol dengan ramah dan sepanjang acara itu Baekhyun memperlakukan Chanyeol sebagaimana seseorang memperlakukan tunangannya. Dan itu membuat Chanyeol ingin mencekiknya. Dia ingin berbicara dengan Baekhyun berdua saja untuk membicarakan... yah, apapun yang harus mereka bicarakan, tapi tentunya tidak bisa karena terlalu banyak pasang mata yang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.
Akhirnya ketika acara berakhir dan para tetua keluarga sedang membahas tentang tanggal pernikahan yang paling pas sambil minum kopi, Chanyeol mengikuti Baekhyun yang sedang membawa nampan penuh piring kotor menuju dapur.
"Kau kenapa sih menghindariku?"
Baekhyun yang tidak mendengar langkah Chanyeol di belakangnya hampir saja menjatuhkan nampan itu. Untung saja Chanyeol bisa bereaksi dengan cepat menyelamatkan nampan itu dari tangannya.
"Thanks," ucap Baekhyun dan terus berjalan menuju dapur yang ternyata berada di area yang cukup tertutup dari ruang tamu.
Chanyeol mengikuti Baekhyun ke dalam dapur dan meletakkan nampan itu diatas meja sebelum mengulang pertanyaannya.
"Jawab aku, kenapa kau menghindariku?"
"Menghindarimu bagaimana?" Baekhyun kelihatan bingung.
"Aku mengerti kalau kau masih marah padaku karena komentarku beberapa minggu lalu, tapi aku kan sudah minta maaf padamu. Di telpon kau memang bilang kalau kau sudah memaafkan aku, tapi setelah itu kalau telpon, kau tidak pernah mengangkatnya, dan kalaupun kau mengangkatnya, kau selalu terkesan buru-buru. Kau tidak pernah datang lagi ke rumahku setelah kunjungan audit, kau hanya mengirim timmu saja sesudah itu. Beberapa kali aku meminta bertemu, kau selalu menolak dan bilang kau sibuk, tapi kau selalu menyempatkan diri bertemu dengan Ibuku. Aku tahu kalau tunangan ini hanya pura-pura saja, tapi kita masing-masing ada tugas yang harus dipenuhi, kuharap kau masih belum lupa tugasmu."
Awalnya Baekhyun menatapnya dengan penuh kebingungan, tetapi ketika dia mendengar separuh akhir dari omelannya, wajahnya berubah menjadi serius sebelum berkata dengan tenang dan jelas, "Aku memang sudah memaafkanmu, Yeol. Dan alasanku kenapa selalu terdengar terburu-buru kalau kau telpon dan tidak bisa bertemu denganmu adalah karena aku memang sedang sibuk sekali di kantor. Soal kunjungan ke rumahmu, selama 6 bulan ini aku selalu hanya mengirim timku ke rumahmu, kecuali kalau ada masalah besar atau audit. Dan karena audit sudah selesai dan aku tidak menerima laporan bahwa kau ada masalah, ya aku tidak perlu datang."
"Oh," adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Chanyeol. Dia terlalu terkejut mendengar penjelasan Baekhyun sehingga tak bisa berkata-kata. Semua kejengkelan telah luntur dari tubuhnya, meninggalkan rasa bersalah yang mendalam.
"Tapi kau benar, aku sudah lalai dalam menjalankan tugasku. Aku meminta personal assistantku agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Kapan kau akan memperkenalkanku kepada publik?"
Chanyeol mencoba memulihkan diri dari kekagetannya dan berkata, "Aku harus menghadiri acara penggalangan dana hari Minggu tanggal dua bulan depan. Aku berencana memperkenalkanmu pada saat itu."
"Oke, aku akan mengosongkan jadwalku," ucap Baekhyun tegas.
"Oke," balas Chanyeol sambil mengangguk.
Mereka kemudian hanya terdiam dan saling pandang selama beberapa detik, tidak ada dari mereka yang bergerak meninggalkan dapur. Chanyeol bersusah payah menahan diri agar tidak menyapukan jari-jarinya pada bibir Baekhyun yang kelihatan ekstra merah dan seperti minta dicium malam ini. Dia baru saja akan mengangkat tangannya ketika Sunbin, pembantu rumah Baekhyun memasuki dapur dengan membawa satu nampan penuh cangkir kotor.
"Nona Baekhyun, dicari Ibu," ucap Sunbin yang sedikit tersipu-sipu ketika melihat bahwa Chanyeol sedang berada di dapur bersama Baekhyun. Dia sepertinya tidak sadar bahwa kemunculannya yang tiba-tiba sudah menggagalkan rencana Chanyeol untuk mencium anak majikannya itu.
Baekhyun tersenyum kepada Sunbin, dan dengan satu anggukan pada Chanyeol, Baekhyun keluar dari dapur meninggalkan Chanyeol dengan Sunbin yang sedang memandangi dia seolah dewa. Chanyeol memutuskan mengikuti jejak Baekhyun dan segera meninggalkan dapur.
Seminggu setelah lamaran, desas-desus tentang Chanyeol dan "kekasih" barunya mulai menyebar, tetapi tidak ada yang bisa mengidentifikasi wanita tersebut. Hal ini membuat Chanyeol tersenyum. Dia tidak tahu dan tidak peduli siapa yang memulai desas-desus itu, yang dia mau hanyalah agar gosip itu tersebar dan tersebar cepat.
Atas saran Jongdae, Baekhyun dan Chanyeol mencoba mengenal satu sama lain lebih jauh. Dimulai dengan Chanyeol bertanya kepada Baekhyun apakah dia bisa datang ke apartemennya agar mereka bisa sama-sama menuliskan nama orang-orang yang mereka akan undang pada pernikahan mereka. Meskipun Baekhyun datang dari keluarga besar, tapi daftar yang dibuatnya berhenti pada angka 150, sedangkan daftar yang dibuat Chanyeol sudah mencapai angka 500. Ketika Baekhyun menanyakan siapa saja yang ingin dia undang ke pernikahan mereka, Chanyeol dengan cueknya menjawab bahwa mayoritas dari undangan itu akan jatuh ke kalangan artis, kolega bisnis, dan media. Ketika Baekhyun mengemukakan pendapatnya bahwa Chanyeol tidak perlu mengundang sebegitu banyak orang untuk sebuah pernikahan yang akan diakhiri dalam masa kurang dari setahun lagi, Chanyeol langsung kelihatan sangat tersinggung sebelum kemudian menjawab bahwa pernikahan ini adalah atas biayanya dan dia bisa mengundang siapa saja yang dia mau. Baekhyun yang kesal akan komentar itu membalas dengan mengatakan bahwa dia adalah laki-laki dengan pikiran dangkal yang mengukur semuanya dengan uang.
Selama beberapa hari Chanyeol tidak menghubungi Baekhyun dan Baekhyun yang merasa bahwa Chanyeol perlu diberi pelajaran tentang kelakuannya yang mau menang sendiri, menolak meneleponnya terlebih dahulu. Akhirnya pada hari keempat, Jisoo memasuki ruangan bosnya dengan senyum lebar. Dia membawa serangkaian bunga aster dengan kartu yang bertuliskan "I'm sorry" dan dibawah kata-kata itu ada inisial huruf "C". Pertama-tama Baekhyun merasakan kemenangan karena Chanyeol akhirnya menyadari kesalahannya, kemudian perlahan-lahan disusul dengan rasa berbunga-bunga. Dia baru saja akan menelpon Chanyeol untuk mengucapkan terimakasih atas bunganya ketika dia sadar akan satu hal, yaitu bahwa Chanyeol sedang bertingkah laku sebagai laki-laki pengecut yang memilih jalan pintas untuk meminta maaf. Dengan menggunakan bunga dan kartu, Chanyeol sudah meminta maaf, tanpa kehilangan harga dirinya. Dasar egois, geram Baekhyun yang kemudian meminta Jisoo untuk mengembalikan bunga itu kepada pengirimnya. Tapi karena pengirim bunga sudah pergi setelah menyerahkan paketnya, Baekhyun akhirnya meminta Jisoo meletakkan bunga itu sejauh mungkin dari kantornya agar dia tidak perlu melihatnya lagi.
Dua hari berlalu dan Baekhyun masih kesal dengan perlakuan Chanyeol ketika orang yang membuatnya kesal itu menelponnya. Baekhyun berdebat apakah dia mau mengangkatnya atau tidak, tapi keingintahuan akan apa yang akan dikatakan laki-laki itu padanya menang dan Baekhyun menjawab panggilan itu.
"Baekhyun?" Terdengar suara Chanyeol di ujung saluran telpon.
"Ya, ada apa Yeol?" jawab Baekhyun dengan suara setenang mungkin.
"Kau sudah menerima bunga yang aku kirim?"
"Sudah."
"Terus?"
"Ya tidak terus," tandas Baekhyun.
Setelah mengucapkan 3 kata itu Baekhyun berusaha sebisa mungkin menahan tawanya, dia berhasil melakukannya selama 5 detik sebelum dia mulai tertawa terbahak-bahak. Dia tidak tahu kenapa dia mulai tertawa dan tidak bisa berhenti, mungkin karena 2 bungkus M&Ms kacang yang baru dihabiskannya, yang kadar gulanya bisa membuat orang jadi hiper, atau mungkin karena mendengar suara Chanyeol yang terdengar seperti layaknya laki-laki yang tahu bahwa mereka salah dan sedang mencoba meminta maaf, tetapi tidak tahu apakah permintaan maafnya akan diterima.
Chanyeol kemudian sadar bahwa Baekhyun sedang tertawa juga ikut tertawa. Alhasil, selama 5 menit ke depan mereka tertawa bersama-sama.
"Aku minta maaf soal kejadian tempo hari," ucap Chanyeol setelah tawa mereka reda. "Boleh aku ke rumahmu nanti malam? Kita perlu finalize daftarmu supaya kita bisa mulai memikirkan soal venue," lanjutnya dengan penuh harap.
Bersama dengan tawa itu, entah bagaimana, kemarahan Baekhyun pun surut. "Oke asal kau berhenti menyinggung-nyinggung soal uangmu lagi," balas Baekhyun.
Chanyeol terdiam beberapa detik, seakan-akan dia mempertimbangkan apakah dia mau protes atas tuduhan ini, tapi akhirnya Baekhyun mendengarnya berkata, "Iya, aku janji."
"Oke, kutunggu kau nanti malam," balas Baekhyun.
Malam itu mereka menyelesaikan daftar tamu dengan damai dan mulai membicarakan tentang gedung. Setelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan acara akan diadakan di rumah Chanyeol, dan dengan begitu, tema garden party pun tercipta.
"Apa lagi yang kita perlu bicarakan?" tanya Chanyeol sambil menyandarkan kepalanya pada bantal sofa. Dia mendesah panjang sebelum kemudian melepaskan kacamatanya dan menutup matanya.
Percakapan tentang pernikahan mereka ini sudah melelahkan mereka berdua. Baekhyun tahu bahwa Chanyeol tidak akan membantah kalau dia meminta wedding planner untuk membantunya merancang pernikahan ini, tapi Baekhyun adalah control freak, yaitu seseorang yang harus selalu memiliki kontrol dalam situasi apapun, yang membuatnya tidak mudah percaya pada orang lain. Alhasil, dia tidak berani menyerahkan perancangan pernikahan sebesar ini ke tangan wedding planner, tidak peduli seberapa profesionalnya mereka, mereka tetap orang asing yang dia tidak kenal.
Baekhyun melirik jam dinding dan berkata, "Kau sebaiknya pulang, sekarang sudah jam sembilan lewat. Kita bicarakan hal lainnya besok saja." Dia kemudian berdiri dan mengangkat cangkir kotor yang tadinya berisi kopi, ke dapur. Menyadari apa yang sedang dilakukan Baekhyun, Chanyeol langsung berdiri dan menjulurkan tangannya untuk mengambil cangkir itu dari tangan Baekhyun, tetapi Baekhyun menolak bantuannya.
Sambil berjalan ke dapur Baekhyun mendengar Chanyeol membalas, "Aku biasa kok pulang malam. Tidak ada yang mencari juga di rumah."
Baekhyun menggeleng sambil tersenyum, rupanya Chanyeol sudah salah paham dengan kata-katanya. Dia berjalan kembali ke ruang tamu dan sambil bertolak pinggang di depan Chanyeol dia berkata, "Aku yakin kau memang biasa pulang malam, tapi aku tidak biasa ada laki-laki yang bukan keluarga bertamu di rumahku selepas jam sembilan malam dan sebelum jam sepuluh pagi."
"Tapi aku ini tunanganmu, I'm practically family," bantah Chanyeol. Dia kelihatan sangat tersinggung karena Baekhyun pada dasarnya sudah mengusirnya.
Baekhyun mengembuskan napas putus asa. Masih ada banyak hal yang harus dipelajari Chanyeol tentang dirinya, dan dia tentang Chanyeol. Mereka harus lebih mengenal satu sama lain agar tidak ada lagi kesalahpahaman tentang hal remeh seperti ini.
"Yeol, ada suatu hal pribadi yang aku harus bicarakan denganmu, dan aku memintamu tidak merasa tersinggung setelah mendengar ini. Bisa?" tanya Baekhyun dengan sedikit ragu.
"Oke," ucap Chanyeol sedikit curiga.
Sebelum dia kehilangan keberaniannya, Baekhyun berkata, "Aku ada masalah dengan uangmu."
"Uangku?"
"Uang adalah isu yang sedikit sensitif untukku," Baekhyun mencoba menjelaskan.
"Oke..."
"Aku adalah wanita mandiri yang mampu membiayai segala sesuatunya sendiri." Baekhyun mencoba mengukur reaksi Chanyeol. Ketika dia melihat bahwa Chanyeol hanya menatapnya tanpa ekspresi, dia melanjutkan, "Oleh karena itu aku merasa tersinggung setiap kali kau menyebut-nyebut betapa banyaknya uangmu. Aku mau kau mengerti bahwa aku setuju dengan perjanjian kita, bukan karena uangmu, tapi karena kita bisa membantu satu sama lain. So, kalau mau pernikahan kita ini kelihatan tulus dan bisa dipercaya di mata masyarakat, kau jangan membuatku kesal dengan menyinggung-nyinggung masalah uangmu lagi. Setuju?"
Chanyeol kelihatan mempertimbangkannya dengan saksama sebelum mengangguk. Dia teringat betapa marahnya Baekhyun setiap kali dia menyebut-nyebut tentang uangnya, kini dia mengerti alasannya.
"Kalau kita benar-benar mau menolong satu sama lain dengan membuat hubungan kita ini kelihatan tulus dan bisa dipercaya di mata masyarakat..." Chanyeol sengaja mengulang kata-kata Baekhyun sebelumnya dan mendelik jenaka kepada Baekhyun yang sedang mencoba menahan senyum, "Aku tidak mau mendengar kau menyebut-nyebut hubungan kita sebagai kawin kontrak. Mulai sekarang kita adalah Baekhyun dan Chanyeol, dua orang yang akan menikah bulan Juni nanti. Setuju?"
Baekhyun kelihatan berpikir sejenak sebelum kemudian menjulurkan tangannya menyalami Chanyeol. Ketika Chanyeol menyambut tangan itu, Baekhyun berkata, "Setuju."
Dan dengan jabat tangan itu, Chanyeol merasa seperti ada kekuatan gaib yang mengikat perjanjian itu. Tapi kata-kata Baekhyun selanjutnya menghapuskan rasa gaib itu selamanya.
"Oke, sekarang aku mau kau keluar dari apartemenku."
Chanyeol berusaha tidak menggeram ketika bangun dari sofa dan dengan satu anggukan, dia permisi pulang.
To be continued.
