Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Pada awal bulan April, Chanyeol untuk pertama kalinya akan memperkenalkan Baekhyun kepada publik secara resmi sebagai tunangannya, dan Baekhyun mengalami masalah untuk bernapas selama perjalanan menuju Hotel Le Méridien Seoul. Akhir-akhir ini gosip tentang Chanyeol dan Irene agak mereda karena Irene sudah menarik diri dari sorotan media dengan pulang ke Jerman. Sebagai gantinya gosip Chanyeol dengan wanita misteriusnya semakin gencar. Para wartawan yang tadinya sudah mulai bosan, mulai mengikuti Chanyeol lagi. Reaksi Chanyeol yang tetap diam tetapi memberikan senyuman yang kelihatan seperti seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta kalau ditanya soal itu membuat orang semakin penasaran pada identitas wanita ini.

"Pokoknya senyum saja pada wartawan. Besok pagi wajahmu akan terpampang dimana-mana, jadi jangan kaget." Suara Chanyeol yang tenang seharusnya bisa menenangkan Baekhyun, tetapi kenyataannya tidak bisa membantu degup jantungnya yang sudah tidak keruan.

Selama seminggu ini Baekhyun mendapati bahwa Chanyeol adalah seorang tunangan yang penuh perhatian, dengan selalu menyisihkan waktu untuk betul-betul mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat-pendapatnya. Selain itu, Chanyeol ternyata cukup cerdas dan lucu. Pada satu detik dia bisa mendiskusikan menu katering secara serius dengan mengeluarkan komentar seperti, "Kita harus pastikan bahwa semua makanan yang disajikan dimasak dengan EVOO, itu jauh lebih sehat daripada minyak goreng biasa. Oh ya, orang katering mesti diingatkan supaya tidak menyalakan api terlalu besar kalau memasak karena itu akan menyebabkan komponen EVOO pecah dan pada dasarnya tidak akan ada bedanya seperti masak dengan minyak goreng biasa kalau itu sampai terjadi." Dan pada detik selanjutnya ia mencoba meyakinkan Baekhyun bahwa lagu "Love Game" milik Lady Gaga adalah lagu yang paling sesuai dijadikan lagu tema pernikahan mereka. Pada dasarnya, selama seminggu ini, Baekhyun sudah melihat Chanyeol hanya sebagai seorang laki-laki biasa yang bisa membuatnya tertawa daripada Chanyeol, artis solo laki-laki paling terkenal di Korea Selatan. Tapi malam ini, Baekhyun sadar kembali akan status Chanyeol di hadapan publik dan dia merasa sedikit mual.

Mereka sedang dalam perjalanan untuk menghadiri acara penggalangan dana yang bertujuan memberikan fasilitas yang lebih baik pada sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil di seluruh Korea Selatan. Baekhyun melirik Chanyeol yang mengenakan jas warna hitam dengan dasi kupu-kupu. Chanyeol kelihatan cukup nyaman mengenakan pakaian resmi itu, sedangkan Baekhyun merasa ingin menarik bagian atas tube dress berwarna ungu tua yang dikenakannya agar tidak merosot ke bawah. Baekhyun merasa risi dengan pakaian yang menempel pada tubuhnya itu. Dia tahu bahwa di dunia nyata, orang tidak bisa mengubah dirinya hanya dengan pakaian, tetapi ini dunia entertainment, pakaian yang mereka kenakan, make up, gaya rambut, perhiasan, mobil, bahkan laki-laki yang menggandeng tangan mereka mendefinisikan status sosial mereka. I can't do this. I can't, I CAN'T, teriak Baekhyun dalam hati. Baekhyun membayangkan wajah kolega-koleganya, Kibum, dan Yunho di kantor besok pagi ketika melihat wajahnya di tabloid dan acara gosip TV, dan isi perutnya langsung salto beberapa kali. Apa mereka akan percaya pada sandiwara ini? Mereka semua tahu bahwa dia adalah orang yang paling beretika yang pernah mereka temui, dia tidal akan pernah tertangkap basah memacari kliennya.

Dan apa yang akan dilakukan orang tuanya kalau saja mereka tahu akan kebohongan ini? Mereka akan menguncinya di dalam ruang bawah tanah dan tidak memperbolehkannya keluar lagi sehingga berkesempatan mengambil keputusan yang akan menghancurkan hidupnya. Chanyeol sebaiknya mencari tunangan yang lain saja karena dia tidak bisa melakukan ini. Sebelum dia kehilangan keberaniannya, Baekhyun langsung berteriak kepada sopir Chanyeol, "Ahjussi, bisa stop mobilnya di pinggir, aku mau turun."

Chanyeol yang duduk di sebelah kanan terlihat kaget dan langsung meraih lengan kanan Baekhyun. Tangan kiri Baekhyun sudah menggenggam gagang pintu, siap menariknya begitu mobil itu berhenti. "Baek, kenapa?"

"Yeol, aku tidak bisa," ucap Baekhyun cepat sambil menunduk, menolak menatap Chanyeol. Kalau saja dadanya tidak terasa seperti akan meledak, Baekhyun mungkin akan menghargai betapa lapangnya lantai mobil itu.

"Tidak bisa apa? Ke acara ini? Kau sakit?" Chanyeol terdengar khawatir.

Baekhyun mengangguk. Dan Chanyeol langsung meminta sopirnya agar menepi yang dibalas dengan, "Wah, ini mobilnya tidak bisa bergerak, Tuan Chanyeol, jalanan macet."

Baekhyun memegangi dadanya untuk mengontrol napasnya. Kalung yang dikenakannya seperti mencekiknya dan dia berusaha melepaskannya dari lehernya.

"Get this off me. Please get this off," teriak Baekhyun mulai panik ketika dia tidak bisa menemukan kait kalung tersebut.

Chanyeol berhasil melepaskan kalung itu dengan cekatan dan mengantonginya, tetapi Baekhyun sepertinya tidak sadar akan hal itu karena dia masih berteriak panik, "Tolong lepas. Aku tidak bisa napas."

"Baekhyun, kalungnya sudah dilepas." Chanyeol merasakan kepanikan yang menyelimuti Baekhyun tanpa menyentuh bagian tubuh Baekhyun sama sekali, Chanyeol berkata, "Baek, tenang, Baek. Oke, napas pelan-pelan. Bilang padaku ada masalah apa?"

Chanyeol tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, dia hanya mendengar erangan Baekhyun. Baekhyun bahkan tidak mendengar pertanyaan itu, dia sudah tenggelam dengan kegalauan hatinya sendiri. Bagaimana mungkin dia setuju melakukan ini? Di dalam kegelapan mobil, Chanyeol tidak bisa melihat bahwa seluruh tubuh Baekhyun sudah gemetaran, tapi dia menyentuhnya untuk menenangkannya.

"Baekhyun, kau kenapa gemetaran seperti ini?" ucapnya dan tanpa ragu-ragu, dia langsung mengangkat tubuh Baekhyun yang kecil ke dalam pelukannya dan duduk di tempat yang tadi diduduki Baekhyun.

Dia membiarkan kedua kaki Baekhyun menggantung di sebelah kanan. Pertama-tama tubuh Baekhyun masih gemetaran dan tegang, tapi lama-kelamaan napasnya kembali teratur di dalam pelukannya. Wajah Baekhyun terlihat pucat di balik make up tipis yang dikenakannya. Ada titik-titik keringat pada keningnya. Hilang sudah wanita penuh percaya diri yang dia temui setengah jam sebelumnya, yang tinggal adalah wanita yang ketakutan. Dalam hati Chanyeol menyumpah. Dia sudah terlalu sibuk dengan rencana memperbaiki imagenya, sehingga tidak mempertimbangkan perasaan Baekhyun yang mungkin belum siap untuk berhadapan dengan publik.

Sambil mencoba untuk menavigasi lalu lintas yang padat, Hyukjae, sopir Chanyeol, memerhatikan kejadian yang sedang berlangsung dari kaca tengah mobil. Hyukjae adalah salah satu pegawai lama Ibu Chanyeol yang sudah mengenal Chanyeol semenjak dia masih SD. Hyukjae sebetulnya adalah sopir pribadi Nyonya Youngmi, tetapi karena malam ini Chanyeol memerlukan sopir, maka dia menawarkan diri untuk membantu. Hyukjae bersyukur bahwa Chanyeol akhirnya menemukan seorang wanita muda dari kalangan non selebriti yang kelihatan baik dan tahu sopan santun untuk dipacarinya. Baekhyun sama sekali tidak menyadari dampak yang dimilikinya terhadap Chanyeol yang pada dasarnya sudah bersusah payah untuk tidak melongo ketika melihatnya malam ini. Hyukjae tidak pernah melihat Chanyeol tidak bisa berkata-kata dihadapan wanita sebelumnya, sehingga reaksi Chanyeol membuatnya terkekeh dan harus terdiam ketika menerima pelototan dari Chanyeol.

Di dalam pelukan Chanyeol, Baekhyun merasa terlindungi, dan dengan itu akhirnya dia bisa mengontrol reaksi tubuhnya. Lambat laun mualnya mulai hilang dan pikirannya tenang kembali. Baekhyun menarik napas dan bisa mencium aroma cologne Chanyeol yang sangat maskulin. Percampuran aroma itu dan usapan tangan Chanyeol yang naik turun pada punggungnya, menenangkan. Dan tanpa dia sadari, kelopak matanya sudah tertutup dengan sendirinya. Baekhyun merasakan kehangatan sekilas pada keningnya, seperti kecupan yang biasa diberikan Ibunya padanya sewaktu dia masih kecil kalau dia sedang sakit. Merasa nyaman dengan posisinya, Baekhyun mendesah panjang.

"Tuan, apa masih mau pergi, atau mau pulang saja?" Tanya Hyukjae.

Tanpa Baekhyun sadari Hyukjae sudah berhasil menepikan mobil dan kendaraan itu kini dalam posisi diam meskipun mesin masih dihidupkan.

"Pulang saja, ahjussi. Antar Baekhyun dulu kembali ke apartemennya," jawab Chanyeol tegas.

"No," ucap Baekhyun lemah sambil menggeleng.

"Baek, wajahmu pucat dan kau bilang kau sakit, kita lebih baik pulang saja."

"Tidak, aku sudah baikan," kali ini suara Baekhyun terdengar lebih jelas. Dia berusaha turun dari pangkuan Chanyeol. "Aku sudah berjanji untuk menemanimu ke acara ini, aku harus menepati janjiku," bantahnya.

"Kau tidak perlu..."

"Kau sudah menepati janjimu. Sekarang giliranku," potong Baekhyun.

Chanyeol mengerutkan keningnya ragu. Baekhyun yakin bahwa dia sedang memperhitungkan konsekuensi yang mereka akan hadapi kalau misalnya dia memutuskan untuk menunda perkenalan Baekhyun kepada publik, dan Baekhyun mencoba membantunya membuat keputusan.

"Just give me a minute untuk menenangkan diri," pinta Baekhyun dan mulai mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Keheningan menyelimuti interior mobil selama beberapa menit. Chanyeol dan Hyukjae dengan sabar menunggu hingga Baekhyun bisa lebih tenang. Chanyeol menyodorkan sapu tangannya dan menunjuk kening Baekhyun, tapi Baekhyun menggeleng dan mengambil selembar tisu dari dalam clutchnya.

"Aku tidak mau mengotori saputanganmu dengan make upku, but thank you," jelas Baekhyun ketika melihat kebingungan pada wajah Chanyeol. Perlahan-lahan dia menyentuhkan tisu itu ke keningnya, berhati-hati agar tidak merusak make upnya.

Chanyeol memerhatikan bahasa tubuh Baekhyun yang lambat laun mulai lebih rileks. Kerutan pada keningnya sudah hilang dan dia tahu detik dimana Baekhyun siap sebelum dia berkata, "Kau mau kalungmu?" Ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya.

Baekhyun menyentuh dadanya, seakan-akan baru sadar bahwa dia tidak lagi mengenakan kalungnya. Dia baru akan meraih kalung itu ketika Chanyeol sudah memegang dua ujung kalung itu dan tanpa berkata-kata menyuruh Baekhyun menunduk agar dia bisa mengalungkannya pada lehernya.

Chanyeol menahan napas selama melakukan ini, karena dia tahu bahwa kalau dia menghirup udara, dia akan mencium aroma stroberi, dan itulah hal terakhir yang dia perlukan malam ini. Sebelumnya, ketika Baekhyun sedang duduk diatas pangkuannya, dia berusaha sebisa mungkin mengontrol reaksi tubuhnya. Dia berharap bahwa Baekhyun tidak merasakan detak jantungnya yang semakin cepat setiap detiknya, terutama ketika Baekhyun menoleh dan menguburkan wajah pada lehernya. Dia hampir saja berkelakuan seperti pasukan Troya ketika menyerang Sparta, yaitu mengambil apa saja yang dia mau dengan paksa, tanpa memedulikan perasaan orang-orang yang diserang. Untung saja Chanyeol mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan tatapan Hyukjae di kaca tengah. Tatapan Hyukjae mengingatkannya untuk menjaga sopan santunnya sebagai laki-laki. Akhirnya dia harus puas dengan hanya mencium kening Baekhyun.

Setelah berhasil memesang kait kalung itu Chanyeol buru-buru menjauhkan kepalanya dari Baekhyun dan membiarkan Baekhyun melakukan beberapa perubahan pada letak kalung itu.

Dengan satu embusan napas, Baekhyun berkata, "Oke, aku siap."

Dan mobil itu pun bergerak lagi menuju destinasinya.

Chanyeol meminta Hyukjae untuk menurunkan mereka di lobi, bukannya di pintu belakang, hari ini dia memerlukan sorotan media untuk menyukseskan rencananya. Dengan anggukan dari Baekhyun, Chanyeol membuka pintu mobil dan turun. Kerlipan blitz kamera dan teriakan wartawan yang menanyakan berbagai macam pertanyaan langsung menyerangnya, tapi Chanyeol tidak menyadari ini semua karena ketika dia mengulurkan tangannya untuk membantu Baekhyun turun dari mobil, dia tidak melihat Baekhyun. Yang dia lihat adalah orang lain yang mengenakan gaun potongan tube panjang berwarna ungu, gaun yang dikenakan Baekhyun. Dia kini mengerti kenapa ungu seperti ini sering disebut sebagai royal purple, karena Baekhyun kelihatan seperti seorang ratu, yang menjadikan Chanyeol sebagai rajanya dan dia merasa bangga bisa memegang posisi itu.

Ketika Baekhyun turun dari mobil, dia mengulurkan tangan kirinya dan secara otomatis memamerkan cincin berlian yang melingkari jari manisnya. Sesuatu yang Chanyeol yakin dilakukan oleh Baekhyun dengan sengaja agar orang bisa melihat betapa besarnya berlian itu. Dengan begitu perhatian wartawan terpaku sekejab kepada tangan Baekhyun. Setelah wartawan puas memotret cincin itu, perhatian mereka beralih kepada Baekhyun yang kini sudah berdiri tegak di samping Chanyeol. Tangan kanannya di dalam genggaman tangan Chanyeol. Kalung emas yang panjangnya mencapai belahan dada mengundang perhatian orang kepada kulit bahu dan dadanya yang putih bersih dan halus. Senyum yang terukir pada wajah Baekhyun kelihatan ramah, tetapi tidak mengundang pikiran yang tidak-tidak. Senyuman seorang profesional. Dia bahkan tidak kelihatan terkejut dengan semua perhatian yang sekarang tertuju padanya, seakan-akan dia sudah sering menghadiri acara seperti ini.

Chanyeol dan Baekhyun saling tatap selama beberapa detik, kemudian Baekhyun tersenyum dan Chanyeol bisa mendengar apa yang ada di pikiran Baekhyun, "Here we go". Chanyeol membalas senyum itu dan mengangguk. Kemudian dengan sangat berat hati dia mengalihkan perhatiannya dari wajah Baekhyun kepada para wartawan yang sedang mencoba menarik perhatiannya.

"Apa kabar, Chanyeol-ssi? Sudah lama tidak kelihatan," ucap salah satu wartawan tabloid membuka arus pertanyaan.

"Memang sedang lebih sering di studio untuk rekaman. Kalau tidak penting sekali aku tidak akan keluar," jawab Chanyeol ramah.

"Tapi malam ini sempat keluar, ya?" ledek wartawan lain.

"Tentu saja, kan untuk amal," balas Chanyeol serius, membuat wartawan yang tadinya meledeknya kelihatan malu.

"Tolong kenalkan kita pada teman Chanyeol-ssi mungkin," sambung seorang wartawan perempuan yang Chanyeol tahu bekerja pada sebuah acara gosip.

"Ini Baekhyun," jawab Chanyeol tenang.

Beberapa wartawan masih melemparkan beberapa pertanyaan lagi, yang dijawab oleh Chanyeol dengan sabar dan penuh humor. Baekhyun mendapati bahwa semakin lama Chanyeol berdiri dan menjawab pertanyaan mereka, semakin terkesima wajah para wartawan. Sepertinya kejadian ini adalah sesuatu yang langka bagi mereka. Mereka bahkan tidak menghiraukan tamu-tamu penting lainnya, seperti walikota Seoul, seorang jutawan yang baru saja meninggalkan istrinya dan mengawini seorang penyanyi, seorang bintang drama yang menjadi istri kedua seorang politikus dan kini sedang hamil, beberapa artis yang mengenali Chanyeol karena Baekhyun melihat mereka melambaikan tangan padanya dan menatap Baekhyun dengan tatapan ingin tahu, dan banyak orang penting lainnya, yang datang setelah mereka.

Akhirnya para wartawan sudah bosan berbasa-basi dan mengajukan pertanyaan yang sudah ada di pikiran semua orang.

"Chanyeol-ssi, Baekhyun-ssi kekasih barumu, ya?"

Tubuh Baekhyun menegang, menunggu jawaban Chanyeol. Dia harus siap dengan apapun yang dilakukan atau dikatakan oleh wartawan setelah pengumuman ini.

"Bukan, Baekhyun bukan kekasihku," jawab Chanyeol.

Seperti paduan suara, Baekhyun mendengar kata, "Ooohhh..." dan dia harus menahan diri agar tidak cekikikan. Chanyeol memang suka menjahili wartawan.

"Baekhyun adalah tunanganku," sambung Chanyeol dengan suara datar yang disambut dengan kesunyian dan tatapan tidak percaya dari para wartawan.

Kemudian ketika semua orang menyadari apa yang baru dikatakan Chanyeol, mereka melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.

"Sudah berapa lama menjalin hubungan?"

"Kenapa Baekhyun-ssi tidak pernah kelihatan sebelumnya?"

"Kapan tunangannya?"

"Siapakah Baekhyun-ssi?"

"Bertemu dimana?"

"Apakah Baekhyun-ssi wanita yang sering digosipkan sebagai 'kekasih' Chanyeol akhir-akhir ini?"

Setelah beberapa menit, Baekhyun mulai merasa seperti sedang melalui sesi tanya jawab yang dia lalui sebulan yang lalu dengan keluarganya. Dia sedang memerhatikan wajah para wartawan yang kini kelihatan dapat dipertukarkan satu sama lain, ketika dia mendengar seseorang bertanya, "Apa sudah ada rencana menikah?"

Baekhyun agak terkejut ketika menyadari bahwa pertanyaan itu ditujukan padanya, bukan kepada Chanyeol. Para wartawan yang melihat interaksi ini langsung terdiam dan menunggu jawaban Baekhyun. Dia ragu sesaat, tapi ketika Chanyeol mengeratkan genggemannya, dia berkata, "Kalau tidak ada halangan, kami berencana menikah bulan Juni tahun ini."

Begitu Baekhyun menyelesaikan kalimatnya Chanyeol langsung menggeretnya masuk ke dalam gedung, meninggalkan ledakan pertanyaan lain dari kumpulan wartawan. Banyak dari mereka yang tahu bahwa adalah percuma meneriakkan pertanyaan mereka lagi, karenanya mereka langsung sibuk dengan HP, menelpon produser mereka atau mengirimkan SMS kepada editor mereka.


Baekhyun mendesah panjang ketika dia duduk kembali di dalam mobil Chanyeol 3 jam kemudian. Setelah apa yang dia baru lalui, interior mobil yang terbuat dari kulit berwarna abu-abu itu memberikan ketenangan yang dia butuhkan. Dia selalu tahu bahwa Chanyeol banyak fansnya, tapi dia tidak menyangka bahwa fans Chanyeol termasuk istri walikota Seoul dan setengah dari tamu yang datang ke acara amal malam ini. Entah bagaimana mereka bisa tahu bahwa dia adalah tunangan Chanyeol secepat itu, karena mereka baru saja meninggalkan para wartawan dan memasuki ballroom ketika orang mulai menyalami mereka dan mengatakan, "Congratulation". Mereka semua mau mengenal wanita yang berhasil menggeret Chanyeol ke pelaminan. Baekhyun kewalahan mencoba menjawab pertanyaan mereka yang datang bertubi-tubi.

"You okay?" Baekhyun mendengar suara Chanyeol.

"Yeah, hanya sedikit lelah," balas Baekhyun sambil menolehkan kepalanya, menatap wajah Chanyeol. Dia sudah melepaskan dasi kupu-kupunya. "Kau bagaimana bisa melakukan ini setiap hari sih?" tanyanya.

Baekhyun betul-betul tidak tahu bagaimana Chanyeol bisa melakukannya. Semua kamera yang selalu tertuju padanya, memerhatikan semua gerak-geriknya? Baekhyun tidak akan pernah merasa comfortable dengan kehidupan seperti itu, salah-salah dia bisa menjadi paranoid untuk keluar rumah. Takut bahwa orang akan mengambil fotonya ketika dia sedang membuang sampah sembarangan atau lebih parah lagi, mencium ketiaknya untuk memastikan bahwa deodorannya masih wangi.

"Well, aku tidak harus melakukan ini setiap hari untungnya," balas Chanyeol sambil tersenyum. Melihat wajah Baekhyun yang jelas-jelas tidak yakin dengan omongannya, Chanyeol menambahkan, "Aku sudah bekerja di dunia entertainment selama lebih dari 10 tahun, jadi aku sudah terbiasa. Kau nanti juga terbiasa."

Baekhyun yakin bahwa dia tidak akan mengatakan apa-apa kepada Chanyeol. Dia kini betul-betul menghormati para artis yang selalu bisa keliatan bersahabat dan penuh senyum kalau ditemui oleh media, karena ternyata pekerjaan itu tidak mudah. Wajahnya sekarang sudah kram karena harus memasang senyuman yang terasa sangat tidak natural sepanjang malam.

"You were great tonight," puji Chanyeol.

Baekhyun melirik kepada Chanyeol dan berkata ragu, "You think so?"

Chanyeol mengangguk pasti. "Terima kasih sudah menemaniku malam ini."

"Oh, no problem. Sori kalau aku freak out sebelumnya. Won't happen again. I'm promise."

Chanyeol mengangguk. "What was that all about anyway?" tanyanya.

"Awalnya cuma khawatir tentang acara ini, tapi kemudian aku memikirkan hal-hal lain juga dan akhirnya menjadi panik."

"Hal-hal lain seperti apa yaang membuatmu panik?" Chanyeol memundurkan letak kursinya dan menarik sebuah lever untuk menaikkan foot rest. Dia meletakkan kedua tangannya pada arm rest sebelum kemudian memutar bagian atas tubuhnya dan menatap Baekhyun.

Baekhyun terkejut oleh perubahan bentuk kursi berkata, "Wow," dengan kagum.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan bingung, dan semakin bingung ketika dia melihat Baekhyun sedang meraba-raba seluruh bagian kursi yang di dudukinya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.

"Aku mau membuat kursiku menjadi sepertimu. Bagaimana caranya?"

"Ada semacam lever di sebelah kananmu ygan bisa kau tarik. Ketemu?"

Chanyeol melihat wajah Baekhyun yang sedang berkonsentrasi mencari lever itu. "Ah, ketemu."

Dan satu detik kemudian di depan matanya, Chanyeol melihat Baekhyun melakukan hal yang sama yang baru saja dia lakukan pada kursinya sambil menampakan wajah penuh ketakjuban. "This is like the most comfortable car seat I have ever say on," ucapnya setelah beberapa menit menaikkan dan menurunkan foot rest.

Mendengar komentar ini Chanyeol tertawa. Baekhyun keliatan seperti anak kecil yang baru saja diberikan mainan baru. Wajahnya yang biasanya serius kini penuh senyum takjub, dan meskipun dia tidak bisa melihatnya, tapi dia tahu bahwa mata Baekhyun pasti sedang berbinar-binar. Kebanyakan wanita selalu mencoba agar keliatan sophisticated sehingga mereka jarang mau menunjukkan kekaguman mereka akan sesuatu, tapi Baekhyun, dia tidak malu memperlihatkan ketidaktahuannya. Tidak ada kepura-puraan dalam proses membuat laki-laki seperti Chanyeol kagum padanya. "Siapapun yang menciptakan mobil ini adalah seorang jenius," kata Baekhyun sambil nyengir.

Chanyeol mendengus ketika mendengar komentar ini, mencoba menahan tawa. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di lobi gedung apartemen Baekhyun. Merelakan Baekhyun keluar dari mobilnya adalah hal tersulit yang pernah dilakukan Chanyeol seumur hidupnya.


To be continued.