Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Baekhyun mengambil cuti selama seminggu setelah resepsi untuk memindahkan barang-barang yang dianggapnya penting (yang tidak banyak jumlahnya, karena Chanyeol sudah menyediakan mayoritas barang yang dia perlukan) dari apartemennya ke rumah Chanyeol. Selama beberapa bulan ke depan apartemennya akan disewa Ellis, seorang wanita bule dari Australia yang baru dikontrak salah satu perusahaan minyak dan gas bumi. Dengan begitu residensi Baekhyun sudah pindah sepenuhnya ke rumah Chanyeol. Dia kini menempati kamar pengantinnya sebagai kamar tidurnya, selain itu dia juga memiliki ruang kerja yang bersebelahan dengan kamarnya dan bisa dimasuki melalui connecting door. Chanyeol mencoba sebisa mungkin membuat Baekhyun nyaman di rumah barunya ini, tetapi Baekhyun tetap merindukan privasi apartemennya.

Baekhyun dan Chanyeol bisa menyembunyikan status pisah ranjang mereka dari para pegawai, juga dari artis-artis yang diwakili oleh MRAM karena kecuali Sehun, Jongdae, dan Kyuhyun, Chanyeol tidak pernah memperbolehkan orang asing menjejakkan kaki mereka di lantai tiga rumahnya. Tapi mereka tidak bisa menyembunyikan hal ini dari para pembantu rumah tangga Chanyeol yang bertugas membersihkan segala sudut rumah itu. Meskipun begitu, Chanyeol percaya bahwa mereka tidak akan membeberkan situasi ini kepada media, karena seperti juga Hyukjae, para pembantu ini sudah ikut dengan Chanyeol semenjak dia masih kecil dan loyalitas mereka betul-betul bisa diandalkan. Semua ini bisa dilihat dari cara mereka memperlakukan Baekhyun, yaitu dengan seprofesional mungkin, seakan-akan mereka tidak menemukan sesuatu yang janggal dengan sepasang suami istri yang tidur di kamar tidur yang berbeda.

Saat resepsi, para wartawan menanyakan kemanakah mereka berencana berbulan madu, dan Baekhyun menjawab bahwa mereka tidak akan berbulan madu untuk sementara waktu ini karena dia dan Chanyeol punya banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Sejujurnya, dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dalam hal urusan akomodasi kalau mereka memang pergi berbulan madu. Tentunya mereka harus tidur satu kamar, karena akan aneh kalau misalnya mereka minta ditempatkan di kamar yang berbeda. Tapi Baekhyun tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan tentang ini, karena selama 5 hari, Baekhyun menyibukkan dirinya memindahkan barang dari apartemen, menata kamar tidur dan ruang kerjanya di rumah Chanyeol pada siang hari dan pada malam harinya mereka akan pergi makan malam dengan keluarga Baekhyun atau keluarga Chanyeol.

Seakan itu semua belum cukup membuatnya pusing, dia juga harus menandatangani kartu tanda terimakasih kepada semua orang yang sudah memberikan kado. Lain dari kebiasaan zaman sekarang dimana para tamu lebih memilih memberikan uang kepada pengantin, para tamu lebih memilih memberi kado pada mereka. Berpuluh-puluh kado datang dari perusahaan-perusahaan yang pernah ada hubungan bisnis dengan Chanyeol, mulai dari set produk mandi hingga biskuit. Mulai dari voucher department store yang membuat Baekhyun harus membacanya dua kali ketika melihat jumlahnya hingga satu set peralatan makan untuk 12 orang. Chanyeol mencoba membujuk Baekhyun agar memperbolehkan salah satu asistennya membuat stempel tanda tangannya agar dia tidak perlu menandatangani semua kartu itu, tapi Baekhyun kelihatan sangat tersinggung dengan komentar itu sehingga akhirnya Chanyeol membiarkannya melakukan apa saja yang dia mau.

Tapi malam ini rutinitas mereka agak berbeda karena keduanya tidak ada rencana pergi keluar. Baekhyun baru saja keluar dari kamar mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika dia mendengar ketukan pada pintunya. Dia melirik kepada pakaian tidur yang dikenakannya, celana piama dari bahan flannel yang dulunya berwarna hitam tapi setelah dicuci berpuluh-puluh kali selama 5 tahun belakangan ini sudah berubah warna menjadi abu-abu, dan kaus berukuran super besar dengan tulisan "Getting Lucky in Kentucky". Bukan pakaian yang sepatutnya dikenakan oleh seorang pengantin baru, Baekhyun yakin. Ketika dia membuka pintu, dia menemukan Minah, pembantu terlama di rumah Chanyeol, sedang tersenyum padanya.

"Nona Baekhyun sudah ditunggu Tuan Chanyeol dibawah," ucapnya.

"Oh, sekarang?" tanya Baekhyun.

Minah mengangguk dengan antusias. Baekhyun pun memberi tanda kepadanya untuk menunggu sementara dia menyisir rambutnya yang masih basah dan mengenakan sandal sebelum mengikutinya turun ke lantai bawah. Apa yang diinginkan Chanyeol dengannya malam-malam begini? Baekhyun tadi sempat melirik ke jam dinding yang ada di kamarnya yang menunjukkan jam delapan malam.


Chanyeol sedang berkonsentrasi penuh untuk mengantar semua perahu dihadapannya ke tujuannya masing-masing dengan selamat, yang berarti bahwa semua perahu tidak akan bertabrakan satu sama lain. Dia menerima iPad sebagai hadiah perkawinan dari Sehun dan semenjak dia mencobanya beberapa beberapa hari yang lalu, dia betul-betul ketagihan dengan game Harbor 3d yang ada di iPad ini. Sekarang dia sedang mengatur lalu lintas sepuluh kapal sekaligus dan kalau dilihat dari kerlap kerlip pada layar, 2 kapal lagi akan memasuki perairan sebentar lagi. Dengan ketukan telunjuknya pada layar dia menghentikan perjalanan sebuah kapal barang dan membiarkan sebuah kapal nelayan berlalu lebih dahulu. Setelah kapal nelayan itu menuju pulaunya tanpa halangan, Chanyeol sekali lagi memberikan satu ketukan pada layar dan membiarkan kapal barang yang tadi dihentikannya melanjutkan perjalanan. Dia sudah mencapai score 44, score tertinggi yang pernah dia capai dan dia bertekad mencetak score baru.

Dia baru saja mencapai score 50 ketika dia mendengar suara Baekhyun dan Minah yang semakin mendekat. Suara-suara itu memecahkan konsentrasinya karena meskipun matanya masih terpaku pada iPad, tetapi telinganya mencoba menangkap apa yang sedang dibicarakan oleh Baekhyun dengan pembantunya itu. Sepertinya Minah sedang membeberkan sesuatu tentang dirinya karena dia mendengar tawa Baekhyun. Suara tawa yang sekarang menemaninya setiap hari dan terkadang membuatnya terjaga pada waktu malam, memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh Baekhyun pada saat itu dan kapan dia bisa mendengar tawa itu lagi. Alhasil 2 kapal bertabrakan dan meledak di hadapannya.

"Awww shit, shit, shit, SHIT. Stupid boats!" teriaknya dengan cukup keras sambil mengentakkan kedua kakinya yang menjulur diatas sofa.

Dan dalam keadaan berkelakuan seperti anak kecil yang merajuk karena tidak diberikan lolipop inilah Baekhyun menemukan Chanyeol. Dia hanya bisa menatap suaminya sambil menganga selama beberapa menit. Chanyeol selalu kelihatan serius dan dewasa, sehingga pemandangan ini sangat asing baginya. Chanyeol yang kemudian sadar bahwa dia sudah tidak sendirian, buru-buru bangun dari sofa dengan wajah agak memerah. Setelah meletakkan iPad-nya diatas meja dia menghampiri Baekhyun.

"Cute pjs," ucapnya, mengalihkan perhatian Baekhyun dari apa yang baru dia saksikan.

Chanyeol melarikan matanya pada tubuh Baekhyun dari ujung rambutnya yang masih basah, wajahnya yang tanpa make up dan kelihatan lebih merah daripada biasanya setelah mandi dengan air panas, baju tidurnya yang kedodoran, hingga ujung kaki yang ditutupi oleh sandal Tweety. Satu hal yang dia dapati sedikit aneh adalah, bagaimana seorang wanita yang bisa kelihatan super elegan dengan gaun malam berwarna ungu yang dikenakannya beberapa bulan yang lalu, memilih mengenakan baju tidur sejelek ini? Baju tidur itu memang masih layak pakai, tapi jauh dari sesuatu yang akan dikenakan oleh seorang pengantin baru. Chanyeol mengingatkan dirinya untuk membelikan Baekhyun baju tidur yang lebih sesuai dengan seleranya, tapi kemudian dia ingat bahwa kemungkinan besar dia tidak akan melihatnya pada tubuh Baekhyun dan membatalkan rencana itu.

Baekhyun mencoba mengontrol keinginannya untuk menutupi tubuhnya dengan kedua tangan melihat cara Chanyeol menatapnya.

"Makan malam sudah siap. Mudah-mudahan kau suka bebek panggang," ucap Chanyeol dan menggiring Baekhyun menuju ruang makan.

Rumah Chanyeol hanya memiliki satu ruang makan yang merangkap ruang makan pegawai kalau siang hari. Baekhyun masih berusaha membiasakan diri dengan konsep ini. Meskipun Chanyeol orang yang sangat private untuk kehidupan pribadinya, tapi dia selalu berusaha menjalin hubungan baik dengan pegawainya. Salah satu caranya adalah dengan memastikan bahwa mereka menerima perlakuan yang sama dengan dirinya. Selama beberapa hari ini Baekhyun melihatnya makan siang bersama-sama dengan para pegawainya dan kalau dilihat dari cara mereka berinteraksi, Baekhyun tahu bahwa para pegawainya menyukai dan menghormatinya, bukan hanya sebagai atasan, tapi juga sebagai seorang manusia.

Chanyeol mempersilakan Baekhyun duduk terlebih dahulu pada salah satu kursi makan sebelum dia mengambil posisinya 90 derajat dari Baekhyun. Di atas meja ada satu piring penuh potongan bebek panggang dan di sebelahnya ada 2 mangkok kecil yang berisi saus bebek dan sambalnya. Selain itu, Baekhyun juga melihat semangkuk besar sup lobak. Kesederhanaan makanan itu membuat Baekhyun tersenyum dalam hati karena untuk pertama kalinya dia merasa bahwa dia sekali lagi bisa menjejak bumi. Segala perhatian dari media selama berbulan-bulan menjelang pernikahan dan segala acara keluarga yang harus dia hadiri setelah mereka menikah membuat Baekhyun merindukan kehidupannya yang sederhana.


"Ada yang salah dengan makanannya?" tanya Chanyeol ketika menyadari bahwa Baekhyun tidak menyentuh makanan yang ada di hadapannya.

"Oh... tidak, tidak ada," jawab Baekhyun sambil mengambil sepotong paha bebek dan

memindahkannya keatas piringnya.

Makan malam di meja adalah sesuatu yang baru untuk Baekhyun yang biasanya memilih makan di jalan sebelum pulang ke rumah atau masak mi instan sebelum kemudian memakannya sambil duduk di depan TV atau di meja kerjanya. Kemunculan Minah yang menuangkan nasi ke atas piringnya menyadarkannya.

"Apa ada sesuatu yang kau mau bicarakan denganku?" ucap Baekhyun.

"Hah?" Chanyeol kelihatan bingung.

"Kau memanggilku turun, tentunya ada hal penting yang kau mau discuss denganku," lanjut

Baekhyun.

Kemudian pengertian muncul pada wajah Chanyeol. "Oh, no... tidak ada. Aku memanggilmu cuma untuk makan malam. Itu saja."

"Oh." Penjelasan sederhana Chanyeol membuat Baekhyun kebingungan mencari balasan. Alhasil ruang makan menjadi hening selama beberapa menit.

"Aku biasanya selalu menyempatkan diri makan malam sebelum kerja. Supaya bisa lebih

konsentrasi." Chanyeol membuka pembicaraan lagi setelah Minah meninggalkan mereka.

"Apa kau biasa makan malam jam segini kalau makan di rumah?" tanya Baekhyun berusaha

mengetahui kebiasaan Chanyeol.

"Biasanya memang begitu. Kalau kau?"

Baekhyun lalu menjelaskan kebiasaan makannya yang tidak teratur dan menerima tatapan tidak setuju dari Chanyeol.

"Tidak heran kau kurus kering kerontang begini. Mulai sekarang kau harus makan lebih

banyak dan lebih teratur, aku tidak mau keluargamu menyangka aku suami tidak

bertanggung jawab yang tidak pernah memberi makan istrinya."

Baekhyun hanya memutar bola matanya mendengar komentar ini. "Percaya padaku, tidak peduli seberapa banyak makanan yang aku makan, berat badanku tetap di bawah 50 kilo. Sudah keturunan. Semua keluargaku punya metabolisme tinggi."

"Aku tidak peduli dengan metabolismemu, pokoknya mulai sekarang aku akan meminta Minah menyiapkan sarapan dan membungkus makan siang untukmu. Untuk makan malam, apa kau oke dengan jadwal jam delapan?"

"Yeol, aku ini bukan anak kecil. Aku bisa mengurus makananku sendiri."

"Sure you can," ucap Chanyeol sinis.

Baekhyun meletakkan garpu dan sendok yang sedang dipegangnya agar dia tidak melemparkannya ke wajah Chanyeol sebelum berkata sepelan mungkin, "Yeol, aku bukan pegawaimu, atau artis-artismu yang hidupnya bisa diatur seenak jidatmu."

Dan dari reaksi tubuh Chanyeol yang tiba-tiba menjadi kaku, Baekhyun bisa melihat bahwa kata-katanya sudah menyakiti hatinya. Chanyeol kemudian menatap Baekhyun dan berkata, "You're right. I'm sorry. Aku hanya khawatir saja dengan kesehatanmu."

Dan Baekhyun rasanya ingin mengguyurkan sup ke kepalanya sendiri. Dia sudah terlalu lama dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berusaha mengatur hidupnya sehingga dia tidak bisa membedakan antara kepedulian dan over protective.

"You know what, I'm sorry. Dan aku menerima tawaran sarapan, makan siang, dan jadwal makan malammu. Thank you," ucap Baekhyun secepat mungkin.

Meskipun Chanyeol masih kelihatan sedikit kecewa atas reaksi Baekhyun sebelumnya, tapi dia mengangguk, memberikan Baekhyun sedikit keberanian untuk mengganti topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak terlalu sensitif.

"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Jongdae kemarin siang. Turmu sudah back on schedule untuk bulan Agustus?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tersenyum sendiri ketika sadar bahwa Ibunya benar. Menikahi Baekhyun adalah pilihan yang tepat, karena semenjak mereka mengumumkan pertunangan mereka, media hampir tidak pernah mengasosiasikan dirinya lagi dengan Irene. Mereka sibuk membicarakan tentang dia dan pengantin barunya. Sejalan dengan pulihnya imagenya di mata publik, begitu juga kariernya. Tentunya dia harus berterimakasih kepada Baekhyun yang sudah memainkan peran istri dengan baik. Baekhyun selalu bisa berdiri sendiri setiap kali berhadapan dengan publik, dia selalu kelihatan terhibur daripada jealous kalau fansnya menyerbunya, dan dia selalu bisa ditemukan berdiri di belakang Chanyeol, memberikan dukungan tanpa kelihatan posesif terhadapnya. Tapi setelah mereka terlepas dari sorotan publik, Baekhyun akan terlihat sibuk sendiri dengan aktivitasnya, seakan-akan tidak lagi mempedulikannya. Dia harus membiasakan diri dengan perlakuan cool seperti ini dari seorang wanita.

Kadang kala dia bertanya-tanya apa Baekhyun betul-betul tidak tertarik dengannya sama sekali. Karena he sure as hell is interested in her. Oke, mungkin ada kalanya dia tidak mau tahu apa yang Baekhyun rasakan terhadapnya karena dia takut bahwa kalau Baekhyun menunjukkan bahkan sedikit ketertarikan padanya, maka dia akan menyerangnya dengan membabi buta, dengan begitu melanggar klausa tentang NO SEX IS ALLOWED didalam perjanjian mereka. Dan dia mungkin takut setengah mati bahwa Baekhyun akan menginjak-inka hatinya kalau dia membiarkan apa yang dia rasakan sekarang berkembang menjadi sesuatu yang lebih berarti. Tapi nyatanya saat ini, dia sudah semakin dekat untuk merelakan itu semua hanya untuk mendengar Baekhyun mengatakan bahwa dia setidak-tidaknya menyukainya.

Chanyeol mendengar namanya dipanggil dan dia menarik dirinya kembali ke realita. "Iya, tapi sepertinya aku mau undur ke September saja, supaya aku bisa launch singleku dulu bulan depan. Dengan begitu orang akan lebih familier dengan lagu baruku, jadi mereka bisa menyanyi sama-sama di konser. Karena kalau turnya bulan Agustus, itu berarti aku harus launch singleku like... now, which is impossible," jelasnya.

"Tapi bukannya singlemu sudah siap launch waktu diundur tanggalnya bulan Februari lalu?"

"Memang sudah, tapi waktu tanggal launchnya diundur, aku memutuskan untuk membuat sedikit perubahan di sana-sini."

Baekhyun mengangguk mengerti. "Biasanya berapa lagu sih yang harus ada di dalam single?" tanyanya.

"Sekitar 3 lagu. Single biasanya diluncurkan oleh penyanyi kalau mereka mau menguji apakah masyarakat cocok dengan musik mereka. Semacam market research-lah. Kalau misalnya singlenya laku, biasanya penyanyi akan lebih yakin untuk meluncurkan album mereka."

"Apa kau tidak yakin dengan albummu sehingga kau meluncurkan single?"

"Semenjak memulai karier musikku, aku selalu mengeluarkan single terlebih dahulu karena aku selalu mencoba memasukkan unsur-unsur baru pada dunia musik, dan aku tidak yakin apa masyarakat bisa menerima itu."

"Yeol, kau sudah punya 2 album yang sukses dipasaran. Aku yakin bahwa apapun yang kau hasilkan pasti akan dibeli oleh masyarakat."

Chanyeol tidak menyangka bahwa Baekhyun sebegitu percayanya dengan bakat musiknya dan itu membuatnya ingin menunjukkan hasil kerjanya padanya.

"Kau mau dengar lagu baruku?" tanya Chanyeol dengan sedikit berhati-hati, seakan-akan dia tidak yakin bahwa Baekhyun akan tertarik pada tawaran ini.

"Memangnya boleh? Bukannya itu rahasia?" Jelas-jelas Baekhyun terkejut dengan tawaran ini, tetapi Chanyeol senang ketika melihat bahwa Baekhyun terdengar tertarik.

"Asal kau berjanji tidak mengatakan pada siapapun tentang lagu-laguku sebelum di launch bulan depan."

"Aku berjanji," jawab Baekhyun senang karena Chanyeol mau membagi sesuatu yang jelas-jelas sangat pribadi baginya kepadanya.

"Habiskan dulu makananmu," perintah Chanyeol.

Dan Baekhyun melahap habis bebek yang ada di piringnya, sebelum kemudian menghabiskan supnya. Chanyeol tidak menyangka bahwa badan sekecil itu bisa menampung sebegitu banyak makanan, tapi dia tidak mengeluh. Dia suka wanita yang tahu cara menikmati makanan.

Setelah Baekhyun membawa semua piring kotor ke dapur daripada menunggu hingga Minah melakukannya dan memaksa Chanyeol untuk melap meja makan hingga bersih, bersama-sama mereka menuju studio.


Bangunan studio yang berwarna putih terletak di halaman belakang, tetapi meskipun terpisah dari bangunan utama, ada jalan kecil dari con-block. Mereka berjalan menuju studio dikelilingi udara malam yang sedikit lembab. Penerangan perjalanan mereka disediakan oleh beberapa lampu taman yang menghiasi taman belakang. Baekhyun bisa mendengar suara jangkrik dan segala macam binatang malam. Baru setelah beberapa menit dia sadar bahwa ini adalah pertama kalinya dalam hampir setahun dia bisa mendengar jelas suara yang dihasilkan oleh alam lagi. Rumah Chanyeol jauh dari jalan raya sehingga kesunyian malam lebih terasa.

Chanyeol membuka pintu kaca yang menuju studio dengan memasukkan kode pada sistem alarm. Tak lama kemudian mereka sudah berada di dalam studio dan Baekhyun hanya terdiam selama beberapa menit. Suasana di dalam studio sangat berbeda dengan rumah utama yang serba putih. Studio ini kelihatan mengancam untuk seorang wanita karena terlihat sangat maskulin. Mulai dari cat yang digunakan, hingga perabotnya. Bahkan aroma pembersih lantai, aftershave mahal, dan cerutu. Mereka melewati dapur paling cute yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya. Dapur itu berukuran kecil dan bergaya Spanyol dengan lantai dari tanah liat. Kemudian Chanyeol menggiring Baekhyun masuk ke dalam ruangan yang di dominasi sofa panjang dari kulit berwarna hitam, beberapa kursi kerja beroda, juga berwarna hitam, dan panel dengan tombol paling banyak yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya. Menurut Chanyeol, panel ini dibutuhkan oleh musisi untuk mixing, mengontrol, dan merekam musik mereka. Inilah the control room yang sering dia lihat di MTV kalau para musisi terkenal sedang rekaman.

Ada kaca besar yang memisahkan control room dengan live room. Chanyeol membuka pintu menuju live room dan mengundang Baekhyun untuk memasukinya lebih dulu. Seluruh ruangan dilapisi oleh kayu, kemungkinan untuk suara akustik yang dimiliki oleh medium ini. Baekhyun memandangi sekelilingnya dan mendapati bahwa ruangan ini dipenuhi oleh alat musik. Mulai dari piano, beberapa gitar dan bass yang tersimpan rapi di dalam casingnya, music stand, satu set drum yang terkurung di dalam ruangan tersendiri di dalam live room itu, amplifier, dan mic serta headphone dimana-mana. Belum lagi berjuntai-juntai kabel berwarna hitam dalam berbagai ukuran. Dia harus berhati-hati melangkah kalau tidak mau tersandung.

"Untuk lagu ini, alat musik utamanya adalah piano, jadi kalau kau tidak keberatan, aku mau memainkan lagu ini secara akustik."

Tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol sudah mengambil posisi di belakang piano dan Baekhyun kalang kabut mencari tempat duduk. Akhirnya dia memilih sebuah kursi tinggi yang agak berjauhan tapi menghadap ke piano.

"Judul lagunya 'Bebas'."

Baekhyun hanya mengangguk penuh antisipasi dan Chanyeol baru saja memainkan intro lagu itu sebelum Baekhyun tahu bahwa dia dan juga seluruh Korea Selatan akan jatuh cinta dengan lagu ini. Iya, feelnya mungkin agak sedikit berbeda dengan lagu-lagu Chanyeol sebelumnya. Lagu ini lebih terasa... bebas, seperti judulnya. Dengan begitu, terasa lebih enteng didengar. Yang jelas lagu ini membuatnya tiba-tiba sulit bernapas dan dia harus menelan ludah berkali-kali untuk menahan haru. Satu-satunya penjelasan atas reaksinya ini adalah karena dia tidak pernah mendapatkan konser spesial dimana dia hanya duduk sekitar 3 meter dari penyanyinya, atau mungkin karena lirik lagu yang sedang dinyanyikan oleh Chanyeol membantunya lebih mengerti laki-laki yang dinikahinya, Baekhyun tidak tahu. Tapi tahu-tahu pandangannya sudah kabur dan dia harus berdiri dari kursinya dan buru-buru membelakangi Chanyeol untuk menghapus air matanya.

"Baekhyun, are you okay?" tanya Chanyeol setelah dia mengakhiri lagunya.

Setelah yakin bahwa dia bisa mengontrol emosinya, Baekhyun memutar tubuhnya dan menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Yeah, I'm good," ucapnya sambil tersenyum.

Tapi Chanyeol tidak tertipu dengan senyuman itu. "Kau menangis?"

"Tidak," bantahnya.

"Baekhyun, what's wrong?" Chanyeol kelihatan was-was, tapi dia tidak berani mendekat.

Baekhyun mencoba untuk menelan tangisnya dan menjelaskan apa yang dia rasakan, tapi dia tidak bisa. Emosinya terlalu meluap-luap, jantungnya seperti akan menembus tulang rusuknya, dan lehernya sakit karena berusaha menahan tangis. Tiba-tiba Chanyeol sudah memeluknya dan Baekhyun bahkan tidak memiliki tenaga untuk melawan perasaannya lagi. Dia betul-betul menangis.


To be continued.


Oke aku update lagi nih guys! wkwk

Aku jg mau ucapin makasih buat kalian semua yg udah mau fav, follow dan bahkan kasih review cerita ini hehehe aku selalu seneng baca review dari kalian tau :)

Btw it's little early, but happy new year guys! /sending so much love/