Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Chanyeol duduk di dalam kegelapan. Menunggu hingga istrinya yang tadi malam sudah menciumnya sampai dia sudah mau gila sebelum kemudian meninggalkannya sendiri di dalam studionya dengan semua bagian dirinya tegang. Dan dia bukan hanya membicarakan tentang otot bahunya. Istrinya yang pukul sebelas tadi pagi meninggalkan rumah dengan hanya mengatakan "hai" dan "bye" padanya tanpa kelihatan terpengaruh sama sekali dengan kejadian semalam. Istrinya yang kini masih juga belum kembali, padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kemana dia pergi, Chanyeol tidak tahu dan dia gengsi menelepon ke HP-nya untuk menanyakan hal ini. Kalau Baekhyun lebih memilih menghabiskan seluruh hari Sabtu tanpanya, fine! Dia juga bisa menghabiskan seluruh hari Sabtu tanpa perempuan itu. Tapi kenyataannya adalah... dia tidak bisa menghabiskan satu hari penuh tanpa melihat wajah Baekhyun dan itu membuatnya jengkel pada dirinya sendiri. Oleh karena itu kejengkelan ini, dia sekarang duduk di dalam kegelapan di dalam kamar tidur Baekhyun, menunggu hingga dia pulang. Dia menempati sofa yang terletak di sudut kamar dan sedikit tersembunyi.
Satu jam yang lalu ketika dia keluar studio untuk mengistirahatkan kepalanya yang sudah mau pecah karena terlalu lama berkonsentrasi, dia menemukan rumahnya sepi. Tidak ada jejak Baekhyun dimana-mana. Dia kemudian mendapat informasi dari satpam bahwa Baekhyun masih belum pulang dan dia tidak tahu kenapa tapi dia merasa bahwa dia perlu memastikan hal ini, jadi dia pergi mengetuk pintu kamar Baekhyun. Lima menit kemudian, pintu itu masih tertutup dan Chanyeol mencoba membukanya, tapi ternyata Baekhyun menguncinya. Dengan hasrat keingintahuan bercampur dengan keisengan dan sedikit rasa jengkel, Chanyeol mengambil kunci cadangan dari kamarnya dan membuka pintu kamar Baekhyun, tanpa seizinnya. Chanyeol tahu bahwa dia sudah melanggar privasi Baekhyun, tapi pada saat itu, dia tidak peduli.
Dia memasuki kamar itu ketika cahaya matahari yang masuk melalui jendela masih cukup terang. Dia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Buru-buru dia menutup pintu, kalau-kalau Minah bertanya-tanya kenapa pintu itu terbuka padahal Baekhyun sedang tidak ada di rumah. Semenjak dia menikahi Baekhyun, Minah seakan-akan mendapatkan satu orang lagi yang bisa dia curahi kasih sayangnya. Terkadang Chanyeol berpikir bahwa akhir-akhir ini Minah bahkan lebih menyayangi Baekhyun daripada dirinya. Jelas-jelas Chanyeol tidak pernah melihat Minah mengomeli Baekhyun seperti dia mengomeli Chanyeol kalau dia menenggak susu segar yang disimpan di dalam lemari es langsung dari kartonnya atau kalau dia lupa menggantung handuknya pada rak handuk setelah menggunakannya dan meninggalkan handuk itu diatas kasur, menyebabkan seprai jadi lembab. Oke, dia akui bahwa Baekhyun selalu menuangkan susu ke dalam gelas sebelum meminumnya dan dia tidak pernah tahu kebiasaan mandinya Baekhyun oleh karena itu dia tidak bisa menuduh Minah seenak jidatnya, tapi dia tetap sedikit jealous atas perlakuan ini.
Dia melarikan matanya ke sekeliling kamar itu, yang cukup rapi dan teratur. Dia mengambil napas dan aroma stoberi menyerang indra penciumannya.
"God, that damn smell is everywhere," gerutu Chanyeol.
Perlahan-lahan dia mulai berjalan mengelilingi kamar itu, yang kelihatan sama seperti terakhir kali dia memasukinya, tapi dia merasakan sedikit perbedaan. Mungkin karena sentuhan-sentuhan Baekhyun pada kamar itu. Perhentian pertama adalah meja dandan. Bermacam-macam botol produk wanita, mulai dari pelembab, hingga parfum terdapat di permukaannya. Dia lalu menghampiri kursi sofa yang menempal pada dinding, di sebelahnya ada sebuah meja meja kecil dengan lampu baca diatasnya. Diatas meja ada sebuah novel karangan Frank McCourt dengan bookmark diantara halaman 200 dan 201. Dia meletakkan buku itu kembali pada tempatnya sebelum mengalihkan perhatiannya pada benda selanjutnya yang ada di kamar itu.
Lain dengan kamar tidurnya, kamar Baekhyun tidak memiliki TV. Dinding tempat dulu Chanyeol meletakkan TV plasmanya ditutupi oleh tiga rak tinggi yang penuh dengan buku. Chanyeol memiringkan kepalanya dan membaca judul buku-buku itu. Dia baru menyadari bahwa buku-buku itu diatur berdasarkan ukuran dan alphabet nama pengarang. Great! Dia sudah menikahi seorang neat freak yang kemungkinan besar juga seorang obsessivecompulsive yang harus memastikan bahwa semuanya teratur dengan rapi karena kalau tidak, dia bisa stres. Perhatiannya kembali pada deretan buku dan dia sadar bahwa genre buku-buku itu cukup bervariasi, mulai dari romance hingga biografi semuanya ada pada rak itu. Man, this woman must be freakishly smart. Dia tidak pernah melihat buku sebanyak ini sebagai koleksi pribadi sepanjang hidupnya.
Setelah puas dengan perpustakaan yang dimiliki oleh Baekhyun, sasaran selanjutnya adalah sebuah bureas dimana orang biasanya menyimpan pakaian dalam atau kaus. Lemari itu setinggi pinggangnya dan diatasnya dipenuhi oleh berbingkai-bingkai foto. Lain dengan foto-foto Chanyeol yang tergantung di dinding, foto-foto ini dicetak berwarna dan kelihatannya diambil belum lama ini. Semuanya mengikutsertakan anggota keluarga Baekhyun hingga kerabat dekat. Dia bahkan melihat foto Baekhyun dengan Kibum yang sepertinya diambil di sebuah restoran. Foto selanjutnya yang dia lihat membuat matanya terbelalak. Dia mengangkat foto itu hanya untuk memastikan bahwa matanya tidak buta. Matanya tidak salah, itu memang foto yang diambil saat upacara pemberkatan kalau dilihat dari pakaian yang mereka kenakan. Dia sedang mencium kening Baekhyun setelah mereka resmi disahkan sebagai suami istri oleh pendeta. Pertanyaan pertama adalah, darimana Baekhyun mendapatkan foto ini? Karena setahunya fotografer yang disewanya tidak mencetak foto perkawinan mereka dalam ukuran itu. Pertanyaan kedua adalah, kenapa Baekhyun menyimpan foto ini?
Dia akan menanyakan hal ini pada Baekhyun. Pada saat itulah ide untuk menunggunya di dalam gelap muncul. Tadinya dia mempertimbangkan untuk duduk diatas tempat tidur, tapi dia tahu bahwa tempat tidur adalah tempat pertama yang akan dilihat Baekhyun begitu dia memasuki kamarnya, maka kurang memiliki efek mengagetkan. Akhirnya setelah beberapa menit mempertimbangkan lokasi yang tepat untuk mengagetkan Baekhyun, dia memilih sofa yang kini didudukinya itu. Dia sedang membayangkan reaksi Baekhyun saat melihatnya ketika dia mendengar gema langkah kaki pada lantai marmer. Langkah itu terdengar sangat buru-buru, hampir berlari. Kemudian terdengar bunyi kunci diputar dan pintu kamar terbuka dan Chanyeol melihat bayangan tubuh Baekhyun memasuki kamar tidurnya. Dia tidak menyalakan lampu, melainkan mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu sambil berjalan menuju kamar mandi. Baekhyun menyumpah ketika kakinya menabrak kaki tempat tidur. Chanyeol menggigit bagian dalam mulutnya, menahan tawa.
Lampu kamar mandi menyala dan Chanyeol mendengar shower dinyalakan. Dia melihat Baekhyun lagi, yang kini hanya mengenakan celana dalam dan bra warna hitam renda-renda. Shit! Dia merasa seperti sedang berada di sebuah strip club di Las Vegas, menunggu dengan antisipasi hingga dancer yang ada dihadapannya akan menjatuhkan branya. Entah kenapa, tapi semua stripper selalu menanggalkan bra mereka lebih dahulu sebelum celana dalam. Mungkin itulah yang diajarkan pada SKS, alias Sekolah Khusus Stripper.
"Remember, ladies, laki-laki senang digoda. Jangan berikan mereka segalanya pertama kali mereka melihat kita, karena tipsnya akan berkurang kalau kita melakukan itu. Pastikan kita menanggalkan bra dulu karena dengan begitu mereka akan lebih tergoda untuk melihat hal lainnya."
Chanyeol hampir saja terkekeh dengan imajinasinya sendiri. Kapan terakhir dia ke Vegas? 5 tahun yang lalu. Kalau saja visa ke Amerika tidak terlalu susah didapatkan, dia mungkin sudah pergi ke Vegas lagi semenjak itu. Sekarang, dia harus puas dengan stripper semi profesional dengan badan kurus, pendek, dan berdada rata dalam bentuk istrinya.
Chanyeol sedang memakukan tatapannya pada pakaian dalam Baekhyun ketika tiba-tiba lampu terang menyerang matanya sebelum dia mendengar seseorang berteriak sekencang-kencangnya. "Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?" teriak Baekhyun dengan nada menuduh sambil berusaha menutupi sebanyak-banyaknya bagian tubuhnya dari Chanyeol dengan kedua tangannya setelah dia berhenti berteriak.
Chanyeol hanya kelihatan terlibur melihat usahanya yang sia-sia itu daripada menjawab pertanyaannya. Damn the man! Menyadari bahwa Chanyeol tidak akan mengasihaninya, Baekhyun kemudian berjalan secepat mungkin sambil membungkuk menuju tempat tidur dan menarik bedcover untuk menutupi dirinya.
"Apa kau akan menjawab pertanyaanku?" Kini suara Baekhyun sudah tidak melengking lagi, karena dia sudah tidak terlalu naked lagi.
"Kau kemana saja seharian?" tanya Chanyeol.
Baekhyun berpikir sejenak apakah dia akan menjawab pertanyaan ini. Chanyeol jelas-jelas menghindar dari menjawab pertanyaan yang sudah dia ajukan terlebih dahulu, jadi kenapa dia harus menjawab pertanyaannya? Tapi akhirnya dia berpikir bahwa mungkin kalau Chanyeol mendapatkan jawabannya, dia akan segera meninggalkan kamarnya.
"Main ke rumah Jessica," ucap Baekhyun akhirnya.
Bukannya pergi, Chanyeol justru mengatur posisi tubuhnya agar lebih nyaman dan berkata, "Bagaimana kabarnya?"
"Baik-baik saja." Tangan Baekhyun mulai pegal karena mencoba menahan bedcover yang berat itu agar tidak merosot.
"Apa dia masih tidak menyukaiku?" Pertanyaan Chanyeol ini disambut tatapan bingung dari Baekhyun dan Chanyeol menambahkan, "Kau tidak usah kelihatan bingung. Orang buta juga bisa lihat kalau dia tidak terlalu suka padaku dari cara dia memandangku. Dia mungkin berpikir kalau aku sudah take advantage darimu," sebelum kemudian tertawa terkekeh-kekeh.
"Jessica adalah teman baikku, dan dia hanya mau yang terbaik untukku."
Chanyeol menarik tubuhnya dari sofa dan berdiri. "Oh, aku tahu itu. Aku tidak menyalahkan dia, karena kalau aku jadi dia, aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Orang gila mana yang mau teman baiknya menikahi laki-laki sepertiku? Sudah kerjanya tidak teratur dan sering digosipkan yang tidak-tidak oleh media," ucapnya sambil mengambil beberapa langkah mendekati Baekhyun yang berada di seberang ruangan darinya.
"Sekarang mereka bisa menambahkan bahwa kau suka masuk ke kamar orang tanpa diundang," tandas Baekhyun.
Dan komentar ini justru membuat Chanyeol tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau juga pernah masuk ke kamarku tanpa diundang," lanjutnya santai.
Baekhyun mengerutkan keningnya mendengar komentar itu. "Jadi kau kesini hanya untuk balas dendam, oke aku terima itu. Sekarang kita impas," ucapnya.
Kalau saja dia tidak sedang berusaha menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam, Baekhyun mungkin sudah melemparkan lampu meja kepada Chanyeol. Akhirnya dia harus puas dengan hanya memberikan tatapan yang bisa membolongi kepala Chanyeol.
Chanyeol tersenyum melihat reaksi Baekhyun dan berkata, "Kau cepat mandi, makan malam jam delapan. Aku menunggumu di bawah."
"Kau makan saja sendiri. Aku bisa mengurus makan malamku sendiri." Baekhyun tahu bahwa dia kedengaran merajuk, tapi dia terlalu jengkel untuk peduli.
Chanyeol kelihatan tersinggung karena permintaannya tidak dituruti. "Aku menunggumu sampai jam delapan lewat lima belas menit. Kalau kau belum turun juga, aku akan naik kesini dan menarikmu turun. Tidak peduli kau sudah memakai pakaian atau belum," ancamnya.
Kata-kata yang penuh dengan perintah itu membuat bulu di tengkuk Baekhyun berdiri, yang berarti bahwa dia mencoba sebisa mungkin menahan kemarahannya. Bila itu terjadi, dia hanya perlu mengambil beberapa tarikan napas dalam-dalam dan dalam beberapa menit dia sudah bisa mengontrol kemarahannya, tapi tidak malam ini. Dia bergegas menuju Chanyeol. Ketika sadar bahwa langkahnya terganggu oleh bedcover yang mengelilingi tubuhnya, dia menyibakkan bedcover itu dan melupakan sejenak rasa malunya karena hanya mengenakan pakaian dalam di depan orang tidak dikenal, dan bergerak ke arah suaminya. "Kau tidak ada hak mengaturku. Apa dan kapan aku akan makan itu bukan urusanmu. Mengerti?" Baekhyun bahkan menekankan jari telunjuknya pada dada Chanyeol untuk menunjukkan bahwa dia tidak main-main.
Chanyeol menatap Baekhyun selama beberapa detik tanpa mengedipkan matanya, dia kelihatan terkejut oleh reaksi Baekhyun terhadap kata-katanya. Kemudian, "Why are you so mad at me?" tanyanya pelan.
"Karena... karena..." Terlalu banyak kata-kata yang ingin diucapkan Baekhyun sehingga otaknya mengalami korsleting.
Chanyeol menggenggam lengan Baekhyun bagian atas dan berkata, "Sebelum kau mulai marah-marah lagi, sebaiknya kau mandi dulu dengan air hangat supaya emosimu bisa lebih tenang. Kalau nanti kau masih marah padaku setelah habis mandi, aku ada di ruang makan dan siap menerima omelanmu," sebelum kemudian melepaskan Baekhyun dengan tiba-tiba dan keluar dari kamar itu.
Baekhyun segera berlari menuju pintu dan menguncinya. Ohhh! Aku akan membunuh laki-laki satu itu suatu hari nanti, teriak Baekhyun dalam hati dan bergegas masuk ke dalam shower untuk menenangkan pikirannya. Dia tidak percaya bahwa dia sudah menghabiskan waktu 20 menit dalam perjalanan pulang dari rumah Jessica dan memikirkan cara terbaik untuk memperbaiki hubungan Chanyeol dengan Ibunya. Dan apa yang dia temui? Chanyeol sudah menunggunya di dalam kegelapan kamarnya, ruangan pribadinya, seperti seorang predator yang siap menerkam mangsanya. Dia bahkan tidak kelihatan menyesal karena sudah mengejutkannya sampai jantungnya seolah meloncat keluar. Sialan! Berani-beraninya dia masuk kamarnya tanpa izin dan memberikan perintah padanya seakan-akan dia adalah tuan tanah dan Baekhyun adalah budak yang dimilikinya. Dia tidak menikah untuk menghindari rongrongan keluarganya yang selalu mau mengatur hidupnya agar bisa diatur oleh orang lain yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya sama sekali. Sial, SIAL, SIAAALLL!
Ternyata Chanyeol benar, karena setelah mandi, Baekhyun merasa lebih segar dan pikirannya memang lebih jernih, dengan begitu dia yang tadinya bertekad mengunci dirinya di dalam kamar dan tidak turun makan malam hanya untuk menunjukkan kepada Chanyeol bahwa dia tidak akan tunduk di bawah tekanannya, luntur. Dia merasa silly karena sudah bertengkar dengan Chanyeol untuk hal remeh seperti ini. Mereka baru resmi menikah selama 6 hari, jadi pada dasarnya dia masih harus hidup dengan Chanyeol selama 8 bulan lagi sesuai persyaratan kontrak dan berstatus sebagai pasangan resmi Chanyeol selama setahun. Dengan begitu, dia harus belajar menoleransi Chanyeol kalau mau pernikahan ini tahan hingga waktu yang ditetapkan.
Chanyeol tidak menyangka bahwa Baekhyun akan muncul setelah argumentasi mereka tadi, maka dari itu dia agak terkejut ketika dia melihat Baekhyun turun ke ruang makan pada pukul delapan lewat empat belas menit. Setelah ada waktu untuk duduk sendiri dan memikirkan tentang pertengkaran mereka, Chanyeol tahu alasan kenapa Baekhyun marah besar padanya. Dia beruntung bahwa Baekhyun tidak menyinggung-nyinggung soal klausa pada kontrak mereka yang jelas-jelas menyatakan bahwa dia memang tidak ada hak untuk mengatur kehidupannya. Dia memang suami Baekhyun, tapi hanya diatas kertas, tidak lebih dari itu, maka dia harus belajar berhenti berkelakuan seperti seorang suami betulan. Selama ini Chanyeol yakin bahwa dia bukanlah tipe laki-laki yang bisa jadi seorang suami, tapi lihatlah dia sekarang. Dia khawatir bahwa dia sudah menyakiti perasaan Baekhyun, dia mau minta maaf, tetapi tidak tahu bagaimana melakukannya. Dia takut Baekhyun akan memberikannya the silent treatment dan melarangnya masuk ke kamar tidur mereka. Hah! Mereka bahkan tidak tidur di kamar tidur yang sama, jadi kenapa dia harus khawatir tentang itu?
Tanpa mengatakan apa-apa Baekhyun berjalan menuju meja makan dan mengambil posisi di tempat yang sama yang dia duduki kemarin malam. Chanyeol mengikuti petunjuknya dan dan melakukan hal yang sama. Mereka makan di dalam diam. Masing-masing memiliki banyak hal yang ingin mereka kemukakan, tapi tidak ada yang berani memulainya.
"Aku minta maaf karena sudah..." ucap Chanyeol, pada saat yang bersamaan Baekhyun berkata, "Sori, karena sudah marah-marah..."
Mereka kemudian saling tatap selama beberapa detik, sebelum tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau duluan," ucap Chanyeol sambil tersenyum.
Baekhyun mengangguk sambil membalas senyuman itu. "Aku minta maaf karena sudah marah-marah soal makan malam denganmu."
"Kau pantas marah-marah padaku, sebab aku sudah masuk ke kamar tidurmu tanpa izin. By the way, aku minta maaf soal itu," balas Chanyeol.
Baekhyun mengangguk, menerima bendera putih yang diajukan oleh Chanyeol. "Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku sih? Kan pintu aku kunci," lanjutnya.
"Aku punya kunci cadangan." Melihat mata Baekhyun yang terbelalak, Chanyeol buru-buru menambahkan, "Aku akan memberi kunci itu padamu kalau kau takut aku akan mengganggu privasimu lagi."
Baekhyun kelihatan berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Aku tidak keberatan kau punya kunci cadangan asal kau janji tidak masuk kamarku lagi tanpa izin."
Chanyeol mengangguk mengerti. "Lagipula, mungkin punya kunci cadangan adalah ide yang baik, just in case aku kehilangan kunciku atau kalau ada emergency lainnya dimana kau harus membuka pintun kamarku. Membuka pintu pakai pintu tentunya lebih gampang daripada harus mendobrak pintu dari kayu jati."
Chanyeol terkekeh menyadari betapa penuh logikanya pikiran Baekhyun, sesuatu yang bisa diharapkan dari seorang perempuan sepintar dia tentunya.
"Yang aku tidak mengerti adalah kenapa kau harus menungguku di dalam kamar tidurku dalam kegelapan. Kenapa tidak menyalakan lampu, atau bahkan lebih baik lagi, menungguku di ruang tamu mungkin," ucap Baekhyun dengan sedikit bingung.
"Aku bosan dan perlu hiburan. Aku tidak tahu kalau kau akan pergi sampai seharian. Aku tidak ada teman ngobrol," balas Chanyeol cuek.
Sendok yang sudah setengah jalan menuju mulut Baekhyun terhenti, dia kemudian meletakkan sendok itu diatas piring. "Oke, sekarang aku ada disini, kau mau membicarakan tentang apa?"
"Hah?" tanya Chanyeol bingung.
"Apa kau mau membicarakan kejadian tadi malam denganku?"
Chanyeol terdiam. Apa dia mau membicarakannya? Apa mereka harus membicarakannya? Tidak bisakah mereka melupakan saja ciuman itu dan berkelakuan seperti tidak pernah terjadi?
"Aku minta maaf karena sudah melakukan itu. Aku tidak sengaja," ucap Baekhyun.
"Tidak sengaja?" Chanyeol menatap Baekhyun tidak percaya. Orang mungkin tidak sengaja menyenggol gelas dan menumpahkan semua isinya keatas taplak meja, atau mungkin kalau mereka secara tidak sengaja menuangkan sabun cair ke tangan bukannya sampo ketika mandi. Bagaimana bisa seseorang memasukkan lidah mereka ke mulut orang lain dan membiarkan orang lain itu melakukan hal yang sama, karena dia tidak sengaja?
This is bullshit, omel Chanyeol dalam hati. Dia betul-betul tidak bisa menerima alasan Baekhyun. Dia baru saja akan mengatakan hal ini ketika dia mendengar suara Baekhyun lagi.
"Iya, aku tidak tahu dimana pikiranku waktu aku melakukan itu. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku melakukan itu."
Suatu rasa yang mendekati kejengkelan muncul di dalam hati Chanyeol. Dia betul-betul tidak menyukai apa yang dikatakan Baekhyun. Perlahan-lahan dia meletakkan sendok dan garpu yang ada di dalam genggamannya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya tidak meninggalkan Baekhyun.
"Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan soal itu. Aku tahu kau laki-laki dewasa yang tahu apa yang harus kau lakukan. Kau tidak perlu dinasehati oleh orang lain. Terutamanya olehku."
Chanyeol mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam dan dari memorinya dia tidak ingat Baekhyun mengatakan apa-apa ketika dia menciumnya. Then again, perhatiannya terfokus pada bagian tubuh Baekhyun yang lain pada saat tiu.
"Aku minta maaf kalau aku sudah kelewatan," Baekhyun menutup penjelasannya dengan nada penuh penyesalan.
Baekhyun memang sudah kelewatan, alright. Kelewatan sampai-sampai dia tidak bisa berkonsentrasi saat rekaman tadi malam. Tidak bisa memikirkan hal lain selain bahwa dia ingin memerintahkan kru bandnya supaya cepat pulang, agar dia bisa menggedor pintu kamar Baekhyun dan memaksa Baekhyun menyelesaikan apa yang dia sudah mulai. Dan kini, Baekhyun sudah kelewatan karena membuatnya marah dengan setiap kalimat yang diucapkannya.
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi," lanjut Baekhyun dan melemparkan senyumannya kepada Chanyeol.
Like hell she won't. She will do it again and soon. Karena kalo tidak, aku bisa gila, geram Chanyeol dalam hati. Baekhyun adalah wanita pertama yang dia cium semenjak bulan Desember. Yang berarti bahwa dia sudah bertingkah laku seperti seorang pastor Katolik selama 6 bulan. Dia tidak pernah puasa "tidak menyentuh perempuan" sebegini lama semenjak dia berumur 18 tahun dan ini betul-betul mengancam kesehatan fisik dan juga mentalnya.
"Kau seharusnya memikirkan ini semua sebelum kau menyerangku seperti aku adalah hot fudge brownie," ucap Chanyeol sinis. Dia betul-betul tidak bisa mengontrol kemarahannya.
To Be Continued.
