Celebrity Wedding
by
AliaZalea
"Hah?" ucap Baekhyun, dan Chanyeol semakin jengkel ketika melihat Baekhyun kelihatan bingung dengan kata-katanya.
"Kau berbicara apa sih?" tanya Baekhyun.
"Tentang ciuman kita tadi malamlah," bentak Chanyeol.
"Ooohhh..." Suatu pemahaman muncul pada wajah Baekhyun.
"Apa lagi coba yang sedang kita bicarakan sekarang?" tanya Chanyeol jengkel.
"Aku sebetulnya sedang membicarakan tentang komentarku mengenai Ibumu."
Chanyeol hanya bisa megap-megap mendengar balasan Baekhyun. Dia seharusnya tahu bahwa Baekhyun bukanlah seperti wanita lainnya. Dia adalah wanita dewasa yang tidak akan membuang waktunya memikirkan tentang sebuah ciuman. Chanyeol tahu bahwa dibandingkan dengan kebanyakan laki-laki sebayanya, dia adalah seseorang yang selalu bisa berpikiran dewasa, tapi disebelah Baekhyun, dia merasa seperti anak remaja yang masih hijau.
"Apa kau mau membahas tentang ciuman kita tadi malam?"
Suara Baekhyun terdengar datar dan santai ketika mengatakan ini, membuat Chanyeol kembali jengkel, tapi kemudian dia melihat pergerakan otot pada leher Baekhyun dan dia tahu bahwa Baekhyun tidak sesantai yang dia perlihatkan. Bagus! Dengan begitu dia tidak merasa bodoh karena sudah mengulang memori itu berkali-kali dalam kepalanya selama 24 jam ini.
"Do you want to talk about it?" tanya Chanyeol dengan nada lebih tenang.
"No, not really, tapi sepertinya lebih baik kita bicarakan soal itu karena kalau tidak itu mungkin akan menimbulkan masalah di kemudian hari." Baekhyun kelihatan ragu sesaat, tapi kemudian dia berkata, "Aku akan menghargai kalau kedepannya kau tidak menciumku lagi."
Chanyeol yang merasa tersinggung dengan komentar ini langsung berkata, "Tapi kau menciumku balik. Kau bahkan menarik kepalaku untuk menciummu lagi setelah berhenti."
Baekhyun meringis sebelum berkata, "Iya, I know, dan aku minta maaf soal itu. Aku sedikit kurang waras tadi malam." Baekhyun mengangkat sendoknya kembali dari atas piring dan melanjutkan makan malamnya.
"Ouch, sepertinya aku perlu band aid deh," ucap Chanyeol.
"Band aid untuk apa?" tanya Baekhyun.
"Untuk egoku, Baekhyun."
"Oh, my God. I'm sorry. Bu-bukan maksudku menyinggung perasaanmu. You're a great kisser. A-awesome... even." Baekhyun terbata-bata mencoba menyelamatkan keadaan.
"Baekhyun... relaks. Aku bukan laki-laki yang gampang tersinggung. Sebagai laki-laki, aku cukup kebal dengan segala hal remeh yang menyangkut perasaan."
Baekhyun bahkan tidak mengedipkan matanya ketika mendengar komentar ini. Dia hanya menatap Chanyeol dengan serius dan berkata, "Aku hanya tidak mau kejadian ini membuatku segan padamu, atau sebaliknya. Hubungan kita adalah sebuah perjanjian bisnis dan aku mau memastikan bahwa kita bisa tetap profesional terhadap satu sama lain."
Baekhyun sudah tidak pernah menyinggung status hubungan mereka yang sebenarnya semenjak dia membuat Baekhyun berjanji untuk tidak menyinggung-nyinggung soal itu lagi. Jadi kenapa dia menyinggungnya sekarang? Oke, kalau Baekhyun memang mau play dirty, dia akan play dirty.
"Oke, kalau begitu kita lupakan saja bahwa itu pernah terjadi. Mulai sekarang kita akan menjaga hubungan kita agar tidak melewati batas yang seharusnya," tandas Chanyeol.
"Oke, setuju," balas Baekhyun datar.
Dan Chanyeol harus menahan diri agar tidak meminta Baekhyun untuk menarik kembali persetujuannya.
Mereka kemudian memfokuskan perhatian mereka pada makan malam masing-masing. Hanya dentingan metal mengenai porselen mengisi ruang makan. Baekhyun mencoba menahan dirinya agar menepati janji yang dia ucapkan sebelumnya untuk menjaga hubungan mereka seprofesional mungkin, tapi dia tidak bisa. Dia merasa seperti ada duri ikan yang tersangkut pada sela-sela giginya. Tidak berbahaya, tapi sedikit menyebalkan karena membuatnya tidak nyaman.
"Yeol, apa Ibumu sudah mendengar lagu yang kau nyanyikan untukku tadi malam?" tanya Baekhyun sebelum dia kehilangan keberaniannya.
"Belum. Ibuku tidak terlalu ngefans dengan musikku. Dia menghargainya sebagai suatu pekerjaan yang bisa menghasilkan uang untukku, tidak lebih dari itu. Aku yakin bahkan Ibuku tidak tahu judul lagu-lagu hitsku."
Baekhyun mencoba taktik lain. "Apa kau pernah membicarakan kepada Ibumu tentang perasaanmu terhadapnya? Kalian tidak bisa menghindari topik ini selamanya, kalian perlu membicarakannya. Mungkin kau akan merasa lebih... tenang setelah melakukan itu."
Chanyeol menatap Baekhyun, dan sekilas Baekhyun melihat secercah harapan pada mata itu, tapi kemudian keraguan mengambil alih sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan dingin dan tertutup. "I don't know what you're talking about," ucap Chanyeol.
"Aku membicarakan tentang hubunganmu dengan Ibumu, Yeol. Kalian ada hubungan darah, tapi dari caramu memperlakukan Ibumu tidak ada bedanya dari caramu memperlakukan rekan bisnis. Profesional dan dingin. Tidak ada kehangatan yang seharusnya ada diantara seorang anak dengan ibunya."
Baekhyun merasa bahwa dia bisa menembus bentang pertahanan Chanyeol ketika Chanyeol tidak mengatakan apa-apa dan Baekhyun buru-buru menambahkan, "Aku tahu kalau kau sakit hati dengan perlakuan Ibumu terhadap Ayahmu setelah mereka bercerai dan juga terhadapmu selama ini, dan kau memang punya hak untuk marah dan kecewa terhadapnya. Tapi kejadian itu sudah lama sekali, Yeol, sampai kapan kau akan menghukum Ibumu?"
Chanyeol terdiam, ada kerutan pada keningnya, seakan-akan dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit. "Darimana kau tahu tentang semua ini?" tanyanya setelah beberapa menit.
"Dari Ibumu."
Chanyeol kelihatan terkejut dengan berita ini. Baekhyun berharap bahwa dia sedang mempertimbangkan kata-katanya. Piring di hadapannya sudah bersih dari makanan dan dia kelihatan tidak berniat mengisinya kembali. Perlahan-lahan Baekhyun bisa merasakan Chanyeol menjauhinya, dia berusaha melindungi dirinya dari rasa sakit hati yang akan datang menyerangnya kalau dia membiarkan dirinya terbuka dan lemah. Oh, Baekhyun tidak bisa hanya duduk diam melihat ini. Pada detik selanjutnya dia sudah memeluk Chanyeol. Baekhyun berdiri dibelakang kursi yang diduduki Chanyeol, dan kedua lengannya melingkari leher lelaki itu. Sandaran kursi makan cukup rendah sehingga kepala Chanyeol bisa beristirahat pada perut Baekhyun. Awalnya tubuh Chanyeol kaku di bawah pelukannya, mungkin karena kaget atau mungkin juga karena tidak terbiasa dipeluk oleh seseorang, tapi lama-kelamaan dia bisa relaks. Baekhyun bersyukur bahwa Chanyeol tidak berontak ketika dia melakukan ini.
Mereka terdiam dalam posisi itu mungkin selama 5 menit, Baekhyun tidak berani berkata kata karena takut akan mengganggu jalan pikiran Chanyeol. Apapun itu yang sedang dipikirkan olehnya. Baekhyun mencoba memikirkan hal-hal yang biasa dia lakukan untuk menenangkan Taerin dan Taeoh kalau mereka sedang menangis, dan dia mulai membelai rambut Chanyeol. Seperti semalam ketika dia menyentuh rambut Chanyeol dengan telapak tangannya, rambut itu terasa agak sedikit kasar di bawah belaiannya, layaknya rambut laki laki pada umumnya. Baekhyun melihat Chanyeol menutup matanya, dan menyandarkan kepalanya pada posisi yang lebih nyaman pada perut Baekhyun sebelum mengembuskan napasnya dengan damai. Ternyata apa yang bisa menenangkan anak kecil juga bekerja untuk laki-laki dewasa. Baekhyun tersenyum karena setidak-tidaknya dia bisa melakukan ini bagi Chanyeol.
Baekhyun seperti seorang hiprokit karena beberapa menit yang lalu dia baru mengatakan kepada Chanyeol bahwa mereka harus menghindari mencium satu sama lain agar tetap bisa bertingkah laku profesional dan sekarang lihatlah apa yang sedang dia lakukan pada Chanyeol. Chanyeol memerlukannya, itu sebabnya aku melakukan ini, ucap Baekhyun dalam hati, mencoba mencari alasan. Dia berniat menarik tangannya dari kepala Chanyeol, tapi yang dia lakukan justru mendekatkan bibirnya pada kepala Chanyeol dan mencium ubun-ubunnya. Lain dengan aroma bayi yang biasa dia cium kalau mencium Taerin dan Taeoh, dia mencium aroma mint yang segar.
"Kau memakai sampo apa?" tanya Baekhyun.
Chanyeol terdiam sejenak dan mengangkat kepalanya dari perut Baekhyun sebelum menjawab, "Salah satu produk yang dikirim oleh Body Shop sebagai kado pernikahan kita. Kenapa?"
Baekhyun memarahi dirinya sendiri yang merasakan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya ketika mendengar Chanyeol mengatakan kata-kata "pernikahan kita", tetapi dia tidak bisa menghentikan dirinya dari tersenyum. "Wangi," ucap Baekhyun akhirnya.
Chanyeol mendengus seperti ingin tertawa. "Glad you like it," ucapnya sambil mendongak dan kembali mengistirahatkan kepalanya pada perut Baekhyun. Dia menggenggam lengan Baekhyun yang masih melingkari lehernya.
"Yeol."
"Ehm?" suara Chanyeol terdengar sedikit mengantuk.
"Apa kau sedang mempertimbangkan apa yang aku katakan tentang Ibumu tadi?"
Awalnya Chanyeol tidak memberikan reaksi apa-apa, tapi kemudian dia menggerakkan tubuhnya, meminta dilepaskan dari pelukan, dan meskipun tidak rela, Baekhyun melepaskannya. Chanyeol kemudian bangun dari kursi makannya dan Baekhyun harus mengambil langkah mundur agar dia bisa melakukan itu. Tanpa disangka-sangka Chanyeol kemudian memutar tubuhnya dan menggenggam kepala Baekhyun diantara kedua telapak tangannya, memaksa Baekhyun untuk betul-betul mendongak hingga lehernya sakit untuk membuat kontak mata dengannya.
"Kalau kau memang mau menjaga hubungan kita agar tetap profesional, jangan pernah mencampuri urasanku dengan Ibuku lagi. Topik itu off-limits," ucapnya pelan, tapi di bawahnya Baekhyun bisa mendeteksi ultimatumnya.
Mau tidak mau Baekhyun mengangguk karena dia yakin bahwa Chanyeol tidak akan melepaskan kepalanya sampai dia melafazkan persetujuannya. Puas dengan reaksi Baekhyun, Chanyeol kemudian mencium keningnya dan pergi meninggalkan ruang makan.
Setelah sebulan menikah dengan Chanyeol dan tinggal bersamanya, Baekhyun menyadari bahwa mereka hidup dengan kebiasaan yang sangat berbeda. Pada hari kerja, Baekhyun biasanya keluar rumah pada jam enam pagi, dan pada saat itulah biasanya Chanyeol baru tidur setelah terjaga semalaman di dalam studionya. Ketika Baekhyun kembali dari kantor pukul delapan malam, dia dan Chanyeol akan menghabiskan waktu 2 jam untuk makan malam bersama dan mengobrol atau menonton TV sama-sama, kemudian Baekhyun akan masuk ke kamarnya dan tidak akan bertemu dengan suaminya lagi hingga jadwal makan malam keesokan harinya. Pada ujung minggu, kebiasaan mereka agak sedikit berbeda karena Chanyeol sering tidak ada di rumah. Dia harus menghadiri berbagai macam acara publik dan melakukan sedikit publik relation alias PR untuk singlenya yang akan launch tidak lama lagi. Kadang kala Baekhyun akan ikut serta kalau Chanyeol meminta kehadirannya, tapi biasanya dia lebih memilih tinggal di rumah. Baekhyun tidak keberatan kalau fans menyerbu Chanyeol dimanapun dia berada karena itu memang sebagian dari kehidupan seorang penyanyi sekaliber Chanyeol, tapi dia tidak tahan dengan teriakan mereka yang terkadang menyakitkan gendang telinganya. Belum lagi karena dia harus menerima tatapan tidak suka dan terkadang makian dari para fans yang sangat fanatik dan protective terhadap Chanyeol.
Kalau Baekhyun tidak ikut keluar dengannya, Chanyeol akan meluangkan waktu untuk makan siang bersama dengan Baekhyun sebelum berangkat untuk menghadiri acara malamnya. Baekhyun mulai menghargai ritual makan bersama mereka ini karena dengan begitu mereka bisa membicarakan apa saja yang terjadi pada hari itu, dengan begitu masing masing bisa tahu apa yang dilakukan oleh yang lain. Melalui percakapan harian ini, perlahan lahan Baekhyun mulai mengenal Chanyeol sebenarnya. Baekhyun mendorong Chanyeol untuk membicarakan tentang pekerjaannya, dan sebaliknya Chanyeol akan melakukan hal yang sama terhadapnya. Setelah segala sesuatu tentang pekerjaan sudah habis dibedah, mereka melanjutkan dengan membicarakan tentang hal-hal lainnya seperti hobi, makanan kesukaan, hingga tempat berlibur favorit mereka. Baekhyun kini tahu bahwa tempat berlibur favorit Chanyeol adalah Inggris karena dia terobsesi dengan sejarah negara tersebut, penyanyi yang paling dihormatinya adalah Bono dari U2, meskipun makanan favoritnya adalah udang tetapi dia alergi terhadap makanan laut itu, jadi dia harus minum obat anti alergi sebelum memakannya, dan bahwa dia tidak pernah menonton satu pun film Harry Potter ataupun membaca bukunya.
Baekhyun berusaha menghormati permintaan Chanyeol untuk tidak pernah lagi menyinggung tentang hubungannya dengan Ibunya, yang dia perhatikan tidak berubah semenjak percakapan mereka. Meskipun dia merasa kecewa karena Chanyeol tidak mendengar nasihatnya, tetapi dia tahu bahwa setidak-tidaknya dia sudah mengemukakan pendapatnya tentang permasalahan itu, dan sekarang keputusan ada di tangan Chanyeol.
Baekhyun sedang meeting ketika berita itu keluar sehingga dia tidak melihatnya langsung, tapi dia mendapatkan inti dari berita itu dari Kibum. Irene sudah melahirkan bayi laki-laki di sebuah rumah sakit di Hamburg semalam. Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Baekhyun adalah, "Oh, that's good." Tapi setelah dia punya waktu untuk berpikir, pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan.
"Kalau Irene baru melahirkan tadi malam di Hamburg, bagaimana media bisa sudah tahu sih tentang ini?"
"Irene mengupload video itu ke Youtube," jelas Kibum.
"WHATTT?!" Teriak Baekhyun. Kibum juga ikut berteriak tapi dengan alasan yang lain sama sekali dengan Baekhyun.
"I know right? Siapa yang menyangka kalau Irene tahu cara memakai internet," teriak Kibum.
"Kibum, aku serius."
"Aku juga serius, Baek. Kau tahu kan betapa bodohnya itu anak. Cantik sih cantik, hanya ampun deh. Aku yakin bukan Irene yang mengupload video itu. Mungkin Ayahnya, soalnya ada laki-laki bule tua sedang dadah-dadah di dalam video itu..."
"Kibum fokus," geram Baekhyun.
"Oh iya, sori. Anyway, kau harus siap-siap karena aku yakin media akan menyerang suamimu lagi like... right now." Kibum melirik jam tangannya ketika mengatakan ini, seakan-akan dia sedang menghitung berapa lama waktu sudah berlalu semenjak berita itu keluar.
Baekhyun tahu bahwa Irene akan melahirkan cepat atau lambat dan kalau itu terjadi maka sorotan media dan masyarakat akan kembali pada Chanyeol. Mereka sudah cukup tenang selama beberapa bulan ini karena Irene menghilang seperti ditelan bumi semenjak bulan April, tapi sekarang dia kembali dan membawa tornado bersamanya. Baekhyun buru-buru meraih HP-nya dan menghubungi Chanyeol, tetapi kemudian dia ragu. Selama mereka memulai sama-sama, Chanyeol tidak pernah sekalipun menyebut-nyebut nama Irene dihadapannya. Baekhyun bertanya-tanya apakah Chanyeol masih menyimpan rasa sayang atau cinta terhadap Irene dan dengan begitu masih merasa kecewa dengan perselingkuhannya? Baekhyun merasa sedikit menyesal karena tidak pernah menanyakan hal ini, karena sekarang dia tidak tahu apa yang dia harus lakukan.
Andaikan ada setangkai mawar yang dia bisa tarik kelopaknya satu per satu untuk membantunya membuat keputusan. Telepon... tidak... telepon... tidak... telepon... Tiba-tiba HP yang ada di dalam genggamannya berbunyi. Dengan satu lirikan pada Caller ID HP dia tahu bahwa Chanyeol-lah si penelepon itu,.
"Yeol," ucap Baekhyun menjawab panggilan itu.
"Kau kemana saja sih, aku sudah telepon berkali-kali tapi tidak diangkat?"
Baekhyun betul-betul tidak menghargai nada yang digunakan Chanyeol terhadapnya sama sekali, terutama ketika dia tidak tahu bahwa Chanyeol sudah berusaha menghubunginya seharian. "Aku meeting seharian, ini baru keluar," balas Baekhyun menjaga intonasi suaranya agar tidak terdengar jengkel.
Kibum masih ada di dalam ruangan bersamanya jadi dia harus berhati-hati akan apa yang dia ucapkan.
"Kau sudah lihat berita tentang Irene?" tanya Chanyeol.
"Belum, tapi Kibum memberitahu aku," jawab Baekhyun.
Kibum yang sadar bahwa Baekhyun perlu berbicara secara pribadi dengan Chanyeol, melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan sambil menutup pintu di belakangnya. Baekhyun menghembuskan napas lega.
"Oke, kalau begitu kau sudah tahu keadaannya," ucap Chanyeol.
Baekhyun tidak perlu jadi peramal untuk tahu apa yang dimaksud Chanyeol. "Apa ini akan memengaruhi acara launching singlemu Sabtu ini?" tanya Baekhyun hati-hati.
"Jongdae berpikir begitu, maka dari itu kita harus ekstra siap kalau diserbu wartawan dengan pertanyaan yang menyangkut Irene."
"Oke," ucap Baekhyun.
"Apa kau bisa pulang tepat waktu malam ini?" tanya Chanyeol.
Sejenak Baekhyun merasa sedikit bersalah karena selama 3 hari belakangan ini dia selalu pulang malam, dan dengan begitu menyebabkan Chanyeol harus menunggunya untuk makan malam bersama. Ketika pertama kali Baekhyun pulang terlambat tanpa memberitahu Chanyeol, dia menemukan laki-laki itu membuka pintu untuknya dengan wajah yang tidak kalah gelapnya dengan badai Katrina. Tapi wajah itu masih tidak seberapa parahnya dibandingkan ketika Baekhyun mengusulkan bahwa Chanyeol makan malam terlebih dahulu kalau dia harus pulang terlambat. Usul itu diterima dengan tatapan yang biasanya diberikan oleh seekor macan sebelum dia memangsa mangsanya. Semenjak itu Baekhyun selalu memastikan bahwa dia sudah ada di rumah sebelum jam delapan atau menelepon atau SMS Chanyeol kalau dia akan pulang terlambat.
"Iya, aku akan sudah sampai di rumah sebelum jam delapan," ucap Baekhyun akhirnya. Dia masih merasa agak risih untuk menyebut rumah Chanyeol sebagai rumahnya.
"Oke. Masih ada beberapa hal yang harus kuurus di Planet Hollywood supaya semuanya siap untuk launching party, tapi aku pasti juga sudah pulang sebelum jam delapan. Kita bisa bicara sambil makan malam."
To Be Continued.
