Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Untung saja Jongdae sudah memberikan Baekhyun les kilat tentang apa yang harus dia lakukan pada launch party yang sekarang dihadirinya, karena kalau tidak, dia tidak akan tahu apa yang harus dia lakukan. Ada sebuah meja penerima tamu dekat pintu masuk dimana staf Chanyeol sibuk membagikan CD single Chanyeol kepada para tamu. Baekhyun hanya sempat melirik foto Chanyeol pada cover single itu sebelum Jongdae yang sudah sampai duluan menggiring mereka masuk ke dalam. Sebuah poster close up wajah Chanyeol berukuran raksasa yang digunakan sebagai background panggung planet Hollywood menyambut mereka. Baekhyun menyadari bahwa foto pada poster ini adalah blow up foto singlenya. Dihadapkan pada poster sebesar itu, mau tidak mau tatapan Baekhyun terpaku padanya selama beberapa menit dan menyadari betapa simetrisnya wajah Chanyeol pada foto itu.

"God, I hate that picture," bisikan Chanyeol menyadarkan Baekhyun.

"Why? You look good in that picture. Kau kelihatan seperti Damon Salvatore. Gelap dan sinis," balas Baekhyun sambil mendongak menatap mata Chanyeol.

"Siapa itu Damon Salvatore?"

"You know... vampir paling seksi di Vampire Diaries," jelas Baekhyun.

"Vampire Diaries?"

"Film seri TV. Jangan bilang padaku kau tidak pernah tahu acara itu deh."

Chanyeol menggeleng. "Itu serial TV paling difavoritkan anak ABG sekarang," jelas Baekhyun.

"Ohhh... itu menjelaskan kenapa aku tidak pernah menonton acara itu."

Baekhyun menatap Chanyeol bingung dan Chanyeol menjelaskan, "Aku bukan ABG."

"Percaya padaku, tidak peduli berapa umurmu, begitu kau menonton 2 episode, kau langsung ketagihan menonton serial itu."

"Oke," balas Chanyeol jelas-jelas tidak percaya.

Baekhyun tidak menyalahkan reaksinya karena dia dulu juga cukup skeptis dengan acara itu, tapi kemudian Yeri membelikan Season pertama Vampire Diaries sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu dan kini Baekhyun betul-betul ketagihan.

"Jadi menurutmu aku seksi?"

"What?" tanya Baekhyun bingung.

"Kau bilang aku kelihatan seperti... whatever his name is, dan menurutmu dia seksi. Jadi kalau teori deduktifku benar, aku bisa menyimpulkan bahwa menurutmu aku seksi," ucap Chanyeol sambil tersenyum iseng, menantang Baekhyun untuk mengiyakan.

Baekhyun terkekeh-kekeh sambil menggeleng-geleng. Chanyeol ikut tertawa dengannya meskipun dari ekspresinya Baekhyun melihat sedikit kekecewaan karena dia tidak terpancing untuk menjawab pertanyaan itu. Tawa mereka terhenti karena media ingin mengambil foto Chanyeol disamping poster raksasa wajahnya dan dengan satu tarikan dari Jongdae, Baekhyun menyingkir dari samping Chanyeol. Dia tidak keberatan dengan segala perhatian yang ditujukan kepada Chanyeol, dia bahkan merasa sangat bangga karena tahu bahwa Chanyeol sudah bekerja keras untuk menghasilkan single ini.

Baekhyun sedang meneguk minuman yang diberikan oleh Sehun padanya sebelum dia menghilang untuk mengecek set drumnya ketika seseorang menepuk punggungnya dengan halus. Baekhyun langsung memutar tubuhnya dan berhadapan dengan beberapa anak ABG yang menatapnya dengan mata berbinar-binar. Mereka semua mengenakan tag yang bertuliskan Park Chanyeol Fans Club. Baekhyun agak was-was apakah mereka bermaksud memaki-makinya atau memberikan tatapan sadis padanya seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang kalau melihatnya semenjak dia menikahi Chanyeol.

"Baekhyun-ssi?" tanya seseorang dari mereka yang kelihatan lebih tua dari yang lain.

Baekhyun mempertimbangkan apakah dia harus menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa mereka sudah salah alamat, tapi semua orang di dalam PH sudah melihatnya datang digandeng oleh Chanyeol, jadi kemungkinan untuk bisa berbohong tentang identitasnya sangat tipis. Akhirnya dia mengangguk pasrah dan menunggu takdirnya.

"Aku Amber, ketua Park Chanyeol Fans Club," ucapnya seraya menyodorkan tangannya. Meskipun Baekhyun masih terkejut dengan keramahan Amber, dia memindahkan gelasnya ke tangan kiri dan mengulurkan tangannya dan menyalami Amber. "Ini semua temanku dari club." Dengan menggunakan tangannya, Amber mempersembahkan sekitar sepulah anak ABG dibawah kawalannya. Baekhyun mengangguk dan tersenyum kepada mereka semua. Bingung apakah dia harus menyalami mereka juga atau tidak, tapi karena tidak satupun dari mereka mengulurkan tangannya, Baekhyun pun membiarkan tangannya menggantung di samping pahanya.

"Boleh kami minta foto bersama?" pertanyaan ini membuat Baekhyun bengong selama beberapa detik, yang membuat fans Chanyeol saling pandang satu sama lain.

"Oke," akhirnya Baekhyun berkata setelah sadar dari kekagetannya.

Mereka langsung tersenyum lebar dan mulai mengatur posisi, dan selama beberapa menit wajah Baekhyun dihujani oleh lampu blitz. Satu per satu dari mereka bergantian menjadi fotografer.

"Sepertinya malam ini istriku lebih populer daripada aku."

Baekhyun hampir meloncat ketika mendengar suara ini. Punggungnya yang membelakangi panggung tidak melihat kedatangan Chanyeol yang kini sedang memberikan senyum lebarnya pada fansnya yang hanya bisa menganga. Baekhyun melihat betapa mereka siap menangis saking terkesimanya melihat Chanyeol berdiri di hadapan mereka.

"Apa kalian perlu fotografer supaya semua bisa ambil foto bersama istriku sekaligus?"

Dan kekacauan terhasil dari pertanyaan ini. Semua orang langsung berbicara pada saat bersamaan. Baekhyun hanya bisa berdiri mencoba menangkap inti dari semuanya. Pada detik selanjutnya dia menemukan pinggangnya dilingkari oleh tangan Chanyeol dan dia berbisik, "Aku mau lihat si Damon Salvatore yang kau sebut-sebut tadi karena aku yakin aku pasti lebih seksi dari dia."

Baekhyun mendongak menatap wajah Chanyeol, tidak percaya bahwa Chanyeol masih stuck dengan ide itu. Dia baru akan membalas komentar Chanyeol ketika terdengar teriakan, "Smile for the camera."

Fans Chanyeol sekali lagi bergantian mengambil foto dengan mereka berdua sambil tertawa cekikikan gara-gara komentar-komentar lucu yang diucapkan Chanyeol untuk membuat mereka semua merasa nyaman dengannya. Baekhyun betul-betul salut pada Chanyeol dan kemampuannya untuk mendekatkan dirinya pada fansnya. Baekhyun harus pasrah diputar ke kiri dan ke kanan karena tentunya setiap fans menginginkan foto yang sespesial mungkin sebagai koleksi pribadi mereka. Para wartawan yang sadar akan keramaian yang terjadi disamping panggung segera mengitari area kejadian seperti burung hering dan mengambil foto Chanyeol secara candid. Keramaian ini terhenti dengan kemunculan Jongdae yang meminta Chanyeol untuk sekali lagi naik keatas panggung dan memperkenalkan singlenya. Chanyeol langsung minta diri dari fansnya dan naik keatas panggung.

Setelah sedikit lelucon disana-sini yang disambut oleh gemuruh tawa semua orang, Chanyeol akhirnya berkata dengan serius, "Kalian semua tahu bahwa singleku yang ini seharusnya launch Februari lalu, tetapi harus diundur tanggalnya karena suatu gosip yang menurut managerku bisa berdampak buruk kepada penjualan singleku."

Baekhyun tertawa mendengar komentar ini. Chanyeol sengaja membicarakan isu ini secara blak-blakan, dengan begitu tidak memberikan kesempatan kepada media untuk menyerangnya. Puas dengan reaksi yang didapatkan dari para wartawan ygan sekarang sedang menatapnya dengan sedikit malu-malu karena secara tidak langsung menerima peringatan untuk tidak menanyakan hal-hal yang menyangkut Irene malam ini, Chanyeol melanjutkan pidatonya.

"Meskipun orang melihat pengunduran ini sebagai bencana, tapi untukku itu justru jadi suatu anugerah. 6 bulan belakangan ini aku sudah melakukan banyak hal yang tidak pernah terpikir aku bisa lakukan sebelumnya. Aku meyakinkan manajerku supaya memperbolehkanku membuat perubahan drastis pada singleku dengan mengganti lagu-lagu yang ada di dalamnya. Bukan hal yang mudah dilakukan kalau kalian mengenal manajerku." Chanyeol menunjuk kepada Jongdae yang sedang melipat tangannya di depan dadanya sambil tersenyum simpul.

"Um... selain itu, aku juga sudah membantu 2 penyanyi baru masuk ke belantika musik Korea di bawah naungan labelku." Baekhyun melihat anggukan dan mendengar kata-kata persetujuan dan pujian dari khalayak ramai. "Tapi yang lebih penting adalah bahwa aku melamar wanita paling perfect yang pernah aku temui dan dia setuju menikahiku. A very brave woman, kalau mengingat sejarah tingkah lakuku sebelum aku menikah." Sekali lagi suara gemuruh tawa mengikuti kata-kata Chanyeol. Beberapa pasang mata mengarah kepada Baekhyun dan Baekhyun mencoba sebisa mungkin terlihat terhibur dengan kata-kata Chanyeol.

Semua berjalan sesuai dengan rencana Jongdae. Apa yang dikatakan Chanyeol adalah sebagian dari pidato yang ditulis oleh Jongdae dan staf PR-nya. Baekhyun sudah dilatih oleh Jongdae untuk bereaksi secara tertentu ketika mendengar pidato ini dan tubuhnya langsung tegang, menunggu apa yang seharusnya dikatakan Chanyeol selanjutnya. Pertama kali Baekhyun mendengarnya, dia tidak merasakan apa-apa, tetapi setelah mendengar Chanyeol mengucapkannya berkali-kali agar terdengar lebih natural, mau tidak mau hatinya meleleh juga.

Kemudian Baekhyun mendengarnya. Kata-kata yang selama beberapa hari ini diucapkan berkali-kali oleh Chanyeol dengan intonasi berbeda-beda. Dia baru berhenti mengucapkannya setelah dia puas dengan pengucapan dan nada yang menurutnya tepat untuk acara ini.

"Baekhyun... I love you, babe." Chanyeol mengatakan ini sambil menatap Baekhyun dalam dengan senyuman yang sedikit tersipu-sipu, seakan-akan malu mengakuinya, tapi dia tidak bisa menyembunyikan lagi apa yang dia rasakan, bahkan tidak peduli ada sekitar 300 orang asing di dalam ruangan itu bersama mereka. Dan Baekhyun bisa merasakan aliran listrik yang menghubungkan mereka.

Wow! Chanyeol betul-betul harus mencoba masuk ke dunia akting, karena Baekhyun yakin bahwa semua orang di dalam ruangan itu tidak bisa lagi mengatakan bahwa Chanyeol menikahi Baekhyun hanya karena dia ingin melarikan diri dari gosipnya dengan Irene, karena Chanyeol kelihatan betul-betul mencintai wanita yang dinikahinya. Baekhyun membalas senyum Chanyeol dengan senyum yang penuh pengertian, seperti yang diajarkan Jongdae. Chanyeol masih mengucapkan beberapa kalimat lagi, tetapi Baekhyun tidak mendengarnya. Dia merasa kepalanya tiba-tiba jadi enteng, seperti rasa yang dia dapatkan ketika dia minum obat terlalu banyak. Dia menyalahkan keadaan PH yang terlalu penuh sesak sebagai penyebabnya.

Memastikan bahwa perhatian semua orang sudah kembali tertuju kepada Chanyeol diatas panggung, Baekhyun menyelinap ke dalam toilet. Dia baru saja akan membasahi matanya dengan air dingin ketika dia ingat bahwa dia mengenakan maskara malam ini. Akhirnya dia harus puas dengan hanya mencuci tangannya. Ketika dia keluar, Chanyeol dan kru bandnya sudah duduk di belakang instrumen masing-masing dan Chanyeol membuaka acara dengan menyanyikan 4 lagu dari album-albumnya terdahulu, diikuti oleh 2 lagu yang terdapat di dalam single terbarunya. Acara itu ditutup dengan lagu Bebas yang menghasilkan gemuruh tepuk tangan dari orang-orang yang berdiri dari duduk mereka. Baekhyun mengembuskan napas lega ketika melihat Chanyeol menuruni panggung dan berjalan kearahnya sambil tersenyum. Tugasnya sudah selesai.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Baekhyun dan Chanyeol kembali ke rumah.

"I think that went well," komentar Baekhyun.

"You think so?" Chanyeol terdengar ragu.

Baekhyun mengangguk. "Pidatomu benar-benar meyakinkan dan to the point. Kau harusnya lihat wajah para wartawan ketika mereka mendengarnya. Dan performancemu dan bandmu betul-betul super. Kalau dilihat dari jumlah orang yang menghadiri pelucuran singlemu, aku rasa kariermu sudah masuk ke daerah aman."

"Thanks to you," balas Chanyeol rendah hati.

Baekhyun menyangka Chanyeol sedang bersikap sinis, seperti biasanya, tapi ketika dia menatap wajahnya, dia melihat bahwa Chanyeol betul-betul tulus ketika mengucapkan kata-katanya. Untuk menyembunyikan ketidaknyamanannya, Baekhyun mengangkat bahunya agar terkesan cuek sambil berkata, "Jangan berterima kasih padaku, ini semua hasil kerjamu."

"Tapi semua ini tidak akan berhasil tanpa bantuanmu," Chanyeol bersikeras.

"Kita baru setengah jalan untuk memperbaiki kariermu. Kau bisa berterimakasih padaku setelah tur delapan belas kotamu selesai, oke?" Baekhyun menutup topik itu.

Chanyeol mengangguk dan berdiam diri, meskipun Baekhyun bisa melihat bahwa dia ingin meneruskan argumentasinya kalau dilayani. Baekhyun sedang memikirkan rencananya untuk mandi dengan air hangat dan duduk diatas tempat tidur dan menyelesaikan novel yang sedang dibacanya ketika dia mendengar pertanyaan Chanyeol.

"Laki-laki yang kau sebut-sebut tadi, yang vampir itu... seseksi apa sih orangnya?"

Baekhyun terkikik mendengar pertanyaan Chanyeol. Dia tidak menyangka Chanyeol masih stuck dengan komentar yang diberikannya beberapa jam yang lalu itu.

"Ummm... kau sebagai laki-laki mungkin tidak akan mengerti kenapa dia seksi karena pada dasarnya karakternya adalah seorang vampir antagonis dan suka membunuh orang hanya sebagai hiburan, tapi bagi kita para perempuan, dia itu dark, handsome, dan membuat penasaran," jelas Baekhyun.

Chanyeol memberikan tatapan tidak percaya dan Baekhyun melanjutkan, "Oke, kau mungkin akan lebih bisa melihat kenapa kita semua tergila-gila pada karakter ini kalau kau menonton. Aku ada set DVD komplet Season pertama kalau kau tertarik."

Baekhyun tertawa melihat reaksi Chanyeol yang terlihat seperti dia lebih memilih gantung diri daripada menerima tawarannya. "Would it sell better kalau aku bilang bahwa cerita Vampire Diaries cukup bagus?" pancing Baekhyun.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, masih tidak yakin. "Bagaimana kalau aku bilang bahwa kau tidak akan rugi menonton serial ini karena penuh dengan karakter perempuan-perempuan yang tipemu sekali?"

Baekhyun tidak tahu kenapa dia mengatakan ini dan dia sangat menyesalinya ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Chanyeol selanjutnya.

"Maksudmu?"

Dia betul-betul harus belajar menutup mulutnya. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia menyentuh isu ini sebelumnya. Baekhyun berusaha terdengar santai ketika membalas, "You know... 18 tahun kebawah, seksi dan selalu berpakaian minim dan ketat?" Dia bahkan menambahkan cengiran agar Chanyeol bisa melihat bahwa dia hanya bercanda.

Sayangnya Chanyeol sama sekali tidak menghargainya karena sekarang dia sedang mengerutkan dahinya. "Aku suka berbagai macam tipe perempuan. Dan lagi dari yang kau sangka, perempuan-perempuan itu tidak harus memiliki karakteristik yang kau sebutkan tadi," balas Chanyeol tersinggung.

"Oke," sambung Baekhyun mencoba mengakhiri topik yang kelihatannya akan berakhir dengan pertengkaran dan dia terlalu lelah malam ini untuk melakukan itu.

"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Chanyeol menghentikan langkahnya dan menghadap Baekhyun.

Baekhyun hampir saja menabrak dada Chanyeol kalau saja refleknya kurang cepat untuk menghentikan langkahnya. "Nothing," jawab Baekhyun sambil menggeleng dan memutari tubuh Chanyeol, melangkah menuju tangga.

Baekhyun berharap bahwa Chanyeol akan berhenti membahasnya, tapi tentu saja dia tidak seberuntung itu. Sambil mengikuti langkah Baekhyun, Chanyeol berkata, "Itu bukan nothing. Kau pikir aku tipe laki-laki yang hanya menilai perempuan dari penampilan fisik mereka?"

Oke, kalau saja Chanyeol mengatakan hal lain, Baekhyun mungkin akan tinggal diam, tapi tidak kali ini. Baekhyun membalas sambil terus menaiki anak tangga tanpa menolehkan kepalanya. "Yeol, aku dan seluruh Korea Selatan tahu siapa mantan kekasih-kekasihmu dan jujur saja semuanya berasal dari pabrik yang sama, hampir seperti barbie versi Korea. Tinggi, putih, di bawah 25 tahun, rambut panjang dan memiliki ukuran dada yang diatas rata-rata."

Chanyeol terdiam. Kata-kata Baekhyun sepertinya lebih mengena pada dirinya daripada yang dia tunjukkan dan Baekhyun baru saja akan mengucapkan permohonan maafnya ketika dipotong oleh Chanyeol. "Tidak semuanya hanya karena faktor fisik seperti itu. Beberapa dari mereka bahkan cukup pintar." Chanyeol berusaha membuktikan bahwa Baekhyun salah.

Baekhyun mendengus. Chanyeol harus dibangunkan dari ilusinya itu. "Oh ya? Yang mana tuh yang pintar, aku mau tahu?"

Chanyeol berpikir sejenak. "Nana, toh dia mantan Miss Korea," ucap Chanyeol dengan penuh kemenangan.

"Ahh... perwakilan Korea ke Miss World yang mengatakan bahwa dia mau jadi Swedia karena tidak mau memihak urusan hak aborsi? Taeoh saja yang baru 10 tahun tahu kalau negara yang tidak memihak itu Switzerland bukan Swedia."

Baekhyun melirikkan matanya pada Chanyeol yang sedang menatapnya sambil mempertimbangkan apakah dia ingin mencekiknya. "Kau mengatakan itu karena kau jealous saja," ucap Chanyeol.

"WHATTT?" teriak Baekhyun sambil menghentikan langkahnya.

"You heard me. Kau cemburu dengan mantan-mantanku, itu sebabnya kau berkelakuan seperti ini." Chanyeol tidak menghentikan langkahnya ketika mengatakannya.

"Itu tuduhan paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar," teriak Baekhyun sambil mencoba menahan tawa.

Baekhyun mengenal banyak orang yang selalu merasa dirinya kurang. Kurang cantik, kurang pintar, kurang ini dan itu... tapi dia bukanlah orang itu. Dia betul-betul senang dan mensyukuri apa yang dia miliki.

Mereka sudah sampai di lantai dua dan Chanyeol, tanpa menunggu Baekhyun, terus berjalan menuju tangga ke lantai tiga. Baekhyun yang sudah pulih dari kekagetannya mencoba mengejar Chanyeol sambil berkata, "Percaya padaku, aku tidak jealous pada mereka."

"You should," balas Chanyeol.

"Nooo... I shouldn't. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan. Ada yang cantik, ada yang pintar, ada yang baik, ada yang kaya, dan semuanya harus dibagi dengan rata, supaya adil. Bagiku, aku sudah dilahirkan pintar dan itu cukup untukku."

"Jangan bilang padaku kalau kau tidak pernah meminta kepada Tuhan supaya diberikan penampilan fisik yang lebih bisa menarik perhatian laki-laki, seperti ukuran dada yang lebih besar mungkin?"

Chanyeol sengaja membuat Baekhyun tersinggung tapi Baekhyun tidak mau terpancing. "No, I don't think so, tapi aku dulu pernah meminta kepada Tuhan supaya aku bisa sedikit lebih tinggi?

"Sepertinya Tuhan sedang sibuk hari itu karena jelas-jelas permintaanmu tidak pernah dipenuhi." Chanyeol terdengar sinis.

"Actually no. Tuhan mendengar permintaanku yang satu lagi, yang lebih penting daripada ketinggianku."

"Which is?"

"Aku meminta supaya bisa lulus ujian SMP dengan nilai yang cukup bagus sehingga bisa masuk SMA nomor satu."

Chanyeol kini sedang menatap Baekhyun seperti dia adalah alien sebelum berkata, "Kau orang paling aneh yang pernah kutemui."

Jelas-jelas Baekhyun tersinggung mendengar komentar ini, dan dia sudah siap membalas ketika melihat Chanyeol menarik ujung lengan kemeja hitam yang dikenakannya dan melirik jam tangannya. "Oke, aku akan menonton satu episode," ucap Chanyeol.

"Hah?" Baekhyun bingung akan pergantian topik ini.

"Tadi kau memintaku menonton Vampire Diaries supaya mengerti kenapa kau bilang whoever that guy is seksi, kan?"

"Ooohhh," adalah satu-satunya kata yang bisa Baekhyun ucapkan. "Sebentar aku ambilkan," ucapnya ketika sadar bahwa Chanyeol sedang menatapnya, menunggunya mengatakan sesuatu.

Baekhyun buru-buru menaiki sisa anak tangga, dan mendengar suara berat sol sepatu Chanyeol dibelakangnya. Baekhyun langsung menyalakan lampu dan menuju rak bukunya ketika memasuki kamar. Baekhyun menemukan DVD yang dicarinya dengan mudah dan bergerak menyerahkan kepada Chanyeol yang tidak mengikutinya masuk ke dalam kamar, tapi memilih tetap berdiri diambang pintu.

"Here you go. Have fun," ucap Baekhyun sambil tersenyum.

Chanyeol kelihatan ragu melihat boks yang sekarang berada di dalam genggamannya. "Yang mana laki-laki itu?" tanyanya sambil menatap cover books DVD.

"Yang ini." Dengan jari telunjuknya Baekhyun menunjuk kepada gambar Ian Somerhalder.

"Kok bisa sih kau suka laki-laki yang kelihatan pissed off begini?" Chanyeol betul-betul kelihatan bingung.

"Ya karena karakternya memang pissed off selama 150 tahun belakangan ini. Dia mencintai seorang perempuan, namanya Katherine, yang ternyata adalah seorang vampir yang tanpa sepengetahuannya juga ada main dengan Stefan, adiknya."

"Lalu?"

Selama 10 menit Baekhyun mencoba merangkum cerita Vampire Diaries untuk Chanyeol.

"Dari ceritamu ini aku sama sekali tidak mendapatkan bagian dimana ada perempuan-perempuan cantik berpakaian minim dan ketat di dalamnya?"

Baekhyun menahan diri agar tidak memutar bola matanya. Bagaimana mungkin Chanyeol masih menyangkal bahwa dia adalah tipe laki-laki yang sangat terpengaruhi oleh fisik perempuan. "It's in there, I promise."

"Episode keberapa?"

Baekhyun mendengus. "Hampir di setiap episode." Chanyeol merengut dan Baekhyun hampir tersedak menahan tawa. "Kalau begitu kau harus menonton denganku," ucap Chanyeol.

"Lho, kok begitu?"

"Ya soalnya aku mau memastikan aku bisa mencekikmu kalau ternyata episode pertama tidak ada perempuan yang naked."

"Aku tidak bilang naked, aku bilang berpakaian minim dan ketat."

"Fine, whatever. Bagaimana? Ketemu di ruang TV sekitar setengah jam lagi?"

Baekhyun menghembuskan napas pasrah. "Sejam lagi. Aku harus mencuci rambut malam ini," balas Baekhyun. Dan dengan begitu dia menutup pintu kamarnya tepat dihadapan Chanyeol.


To be continued.