Celebrity Wedding
by
AliaZalea
"Kau tadi bangun jam berapa?" bisik Chanyeol yang kini sedang mencium kulit lembut dibawah daun telinga Baekhyun.
"Jam delapan," desah Baekhyun dan Chanyeol tersenyum ketika menyadari bahwa dia sudah berhasil membuat pikiran Baekhyun kacau balau karena Baekhyun memerlukan beberapa detik untuk menjawab pertanyaan ini.
"Kenapa tidak membangunkanku?"
"Karena kau perlu istirahat. Kuperhatikan kau biasanya baru bangun tengah hari kalau tidur pagi."
Chanyeol mengalihkan bibirnya ke leher Baekhyun yang otomatis mendongakkan kepalanya dan memberikan akses penuh bagi bibir Chanyeol untuk mengeksplorasi area tersebut.
"Baekhyun..."
"Ehm?"
"Lain kali bisa tidak kau tidak berenang kalau sedang hujan? Aku tidak mau kau sakit."
Baekhyun tertawa dan Chanyeol mencium getaran itu dari leher Baekhyun. "Kalau begitu kita sebaiknya keluar dari kolam renang ini sekarang juga karena hari masih hujan," balas Baekhyun.
"In a minute." Chanyeol menghabiskan beberapa menit untuk menciumi semua tetesan air hujan yang membasahi wajah Baekhyun dan Baekhyun tertawa cekikikan, tapi dia tidak melawan.
Chanyeol tahu bahwa inilah saatnya untuk mengemukakan permintaannya, dan dia berharap bahwa Baekhyun tidak akan menolaknya karena dia tidak tahu apa yang dia akan lakukan kalau itu sampai terjadi.
"Baekhyun, aku perlu meminta sesuatu darimu." Chanyeol mencium sudut bibir Baekhyun perlahan-lahan sehingga dia merasakan tubuh Baekhyun melemah di dalam pelukannya.
"Oke... apa?" bisik Baekhyun dengan suara serak.
"Aku mau tidur denganmu," bisiknya dan berhenti mencium Baekhyun.
Baekhyun membuka matanya, memberikan jarak diantara wajahnya dan wajah Chanyeol agar dia bisa menatapnya. "Waktu kau bilang 'tidur denganku', aku mendapat feeling bahwa kau bukan bermaksud hanya tidur bersama-sama di satu tempat tidur tanpa melakukan hal-hal lainnya."
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan melihat permainan emosi pada wajah Baekhyun. Dia tidak bisa membacanya dan itu membuatnya nervous. Apakah Baekhyun akan mengabulkan permintaannya atau menamparnya, dia tidak tahu.
"Why?" tanya Baekhyun dengan suara pelan.
"Karena aku mau kau," jelas Chanyeol. Dia memang penulis lagu yang andal, tapi pada saat ini tidak ada kata-kata puitis yang bisa menggambarkan apa yang dia rasakan terhadap Baekhyun.
"I see," ucap Baekhyun pelan dan dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dan mengistirahatkan kepalanya disamping kepala Chanyeol. Chanyeol memindahkan letak kedua lengannya agar bisa menopang tubuh Baekhyun dengan lebih nyaman. Setidak-tidaknya Baekhyun tidak menamparnya dan Chanyeol pikir bahwa itu pertanda baik.
Mereka terdiam. Chanyeol sudah ingin berteriak ketika setelah 3 menit kemudian Baekhyun masih tidak mengeluarkan kata-kata dan ketika itulah dia mendengarnya. "Apa kau selalu menawarkan tempat tidurmu pada semua partner bisnismu?" tanya Baekhyun.
"Selama ini partner bisnisku adalah laki-laki berumur 40 tahun keatas dengan perut gendut dan kepala botak. Mereka bukan tipeku."
Baekhyun tertawa dan Chanyeol tersenyum karena dia bisa membuat Baekhyun tertawa dengan leluconnya. Kemudian Baekhyun berkata perlahan-lahan. "Kau pernah bilang bahwa alasanmu memilihku untuk jadi istrimu adalah karena aku bukan tipemu. Kau bilang aku aman."
"Aku bilang begitu ya?"
"Yep."
"Well, mungkin aku perlu menarik kembali kata-kataku itu. Satu-satunya alasan kenapa aku mengatakan itu adalah supaya kau bisa merasa aman denganku. Meyakinkanmu bahwa aku tidak akan menggodamu."
"Jadi aku ini tipemu?" tanya Baekhyun bingung.
"Tidak bisa disangkal lagi, kau adalah tipe wanita yang aku suka."
"Tapi semua mantan kekasihmu tidak ada mirip-miripnya denganku."
"Itu sebabnya aku tidak menikahi mereka. Aku menikahimu."
Baekhyun mempertimbangkan kata-kata Chanyeol. "Kalau aku tidur denganmu, hubungan kita akan berubah. Profesionalisme kita akan hilang dan aku tidak yakin bahwa kita akan bisa mendapatkannya kembali kalau hal itu sudah hilang."
"Apa kau pikir kau masih bisa bertingkah laku profesional setelah hari ini? Setelah kau memperbolehkanku mencium payudaramu?" Chanyeol mencoba membuat suaranya setenang mungkin, padahal yang dia ingin sekali mengguncangkan bahu Baekhyun sampai giginya rontok semua.
Ohhh! Dia harus bisa mengontrol dirinya. Baekhyun tidak akan pernah menyetujui rencananya kalau dia membuatnya tersudut.
"Kau tidak mencium payudaraku. Aku akan ingat kalau kau melakukan itu," balas Baekhyun tenang, tetapi Chanyeol melihat bahwa wajahnya sedikit memerah.
Perlahan Baekhyun melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Dia tidak ingat bahwa Chanyeol sudah mencium payudaranya. SIALAN, omel Chanyeol dalam hati. Baekhyun perlu belajar berbohong dengan lebih baik.
Ketika Baekhyun akan melangkah pergi Chanyeol menarik lenganya dan memutar tubuhnya untuk kembali mengahadapnya. "Baekhyun, bilang padaku kalau kau tidak menginginkan hal yang sama dan aku akan mundur teratur. Aku tidak pernah menyinggung-nyinggung hal ini lagi," pinta Chanyeol dengan setulus mungkin, meskipun darahnya sudah mulai mendidih.
Chanyeol tidak menyangka bahwa dia akan harus mengemis agar bisa tidur dengan seorang perempuan, tapi lihatlah apa yang dia lakukan sekarang. Pengalaman ini betul-betul membuka matanya.
"Aku tidak akan jadi satu lagi perempuan yang bisa kau pakai sekali dan dibuang begitu kau bosan dengan mereka, Yeol. Harga diriku tidak akan bisa menerima itu," ucap Baekhyun.
"Percaya padaku, kau beda dengan perempuan lain. Kau istriku."
Baekhyun mendengus. "Aku tidak percaya kau sudah menggunakan trik murahan seperti itu untuk membuatku mengiyakan permintaanmu." Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Untukmu seks mungkin sesuatu yang mudah dan lumrah untuk dilakukan oleh manusia, tapi tidak untukku. Aku hanya akan melakukannya dengan suamiku..."
"Aku suamimu," geram Chanyeol.
"Hanya untuk 8 bulan lagi, setelah itu kontrak kita akan selesai dan kita akan bercerai secara damai. Kita akan melanjutkan hidup masing-masing. Mungkin suatu hari nanti aku akan menemukan seorang laki-laki yang betul-betul mencintaiku dan mau menikahiku. Saat itu terjadi, aku tahu bahwa ikatan itu tidak akan melibatkan kontrak yang ada tanggal kadaluarsanya."
Chanyeol terdiam, dia betul-betul tidak suka dengan bayangan Baekhyun menikah dengan laki-laki lain. Dia berusaha membaca ekspresi wajah Baekhyun dan yang ia lihat adalah rasa tidak percaya dan kecewa karena Chanyeol sudah meminta ini darinya. Baekhyun tidak lagi menatap wajah Chanyeol, tapi pada satu titik diatas kepala Chanyeol.
"Oke, kalau itu yang kau mau dariku, sekarang juga aku akan telpon Kyuhyun untuk membatalkan kontrak itu."
Baekhyun langsung menatapnya denga mata terbelalak. Mengambil kesempatan dari kekagetan Baekhyun, Chanyeol melanjutkan argumentasinya.
"Kita akan betul-betul menikah dan hidup sebagaimana layaknya suami istri, tanpa kontrak atau perjanjian jenis apapun. Kita akan tidur di kamar tidur yang sama, berbagi tempat tidur, kamar mandi, bahkan sabun mandi. Kau akan menemaniku menghadiri acara publik dan aku akan menemanimu ke setiap acara keluarga, bukan karena terpaksa atau karena merasa bahwa itu suatu kewajiban, tapi karena kita sama-sama mau melakukannya untuk memberikan dukungan kepada satu sama lain. Kau akan mendengar setiap permintaan yang aku ajukan demi menjaga kesejahteraanmu dan aku akan melakukan hal yang sama untuk memperbaiki hubunganku dengan Ibuku. Aku janji untuk tetap setia denganmu selama kau berjanji melakukan hal yang sama." Dan kita akan have sex whenever I want it and whenever I want it, pikir Chanyeol, tapi dia tidak mengatakannya. "Bagaimana?" tanyanya.
Ada kerutan pada wajah Baekhyun yang berarti bahwa dia sedang betul-betul mempertimbangkan ini semua. Dengan harap-harap cemas, Chanyeol menunggu apa yang akan dikatakan Baekhyun.
"Aku perlu waktu untuk memikirkan ini semua," ucap Baekhyun pelan.
Chanyeol menahan diri agar tidak mendengus. Ini bukan jawaban yang dia harapkan, tapi setidak-tidaknya Baekhyun tidak menolak proposalnya mentah-mentah, oleh sebab itu Chanyeol bersyukur. "Oke, sampai kapan?"
Kalau saja dia tidak betul-betul menginginkan Baekhyun, dia mungkin akan melupakan ini semua dan pergi ke rumah salah satu teman wanitanya dan memuaskan dirinya. Dia tidak pernah mengalami sebegini banyak masalah hanya untuk tidur dengan seorang wanita.
"I don't know."
Dan Chanyeol meledak. Dia melepaskan Baekhyun dan berjalan menuju tepi kolam, sambil berteriak, "Ada sekitar 10 argumen yang bisa aku ajukan supaya lebih bisa meyakinkanmu untuk mengiyakan permintaanku sekarang juga, tapi sembilan diantaranya akan membuatku terdengar seperti orang gila."
Baekhyun mengikuti jejaknya. Chanyeol yang sudah berhasil menarik dirinya keluar dari kolam renang dan mengulurkan tangannya dan membantu Baekhyun naik. Mereka sama-sama berjalan menuju kursi malas tempat Baekhyun meletakkan handuknya.
"Apa satu argumentasi yang tidak akan membuatmu terdengar seperti orang gila?" tanya Baekhyun sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Chanyeol terdiam sejenak, berharap bahwa dia adalah handuk yang dia gunakan, sebelum mengedipkan matanya dan berkata sambil menatap Baekhyun yang sekaranng sedang menatapnya balik dengan penuh antisipasi, "Oh forget it. Yang itu juga akan membuatku terdengar seperti orang gila."
Menyadari bahwa dia sudah tertangkap basah sedang menelanjangi Baekhyun dengan matanya, wajahnya langsung memerah dan Chanyeol buru-buru menyabet pakaiannya dan bergegas menuju lantai atas. Baekhyun menahan senyumnya. Chanyeol selalu akan moody kalau dia merasa kehilangan kontrol atas situasi yang dia hadapi, sepertinya ini adalah salah satu situasi tersebut. Setelah yakin bahwa handuk yang melingkari pinggangnya tidak akan merosot, Baekhyun pun mengikuti jejak Chanyeol.
"Kau tahu kan kalau aku bisa memaksamu melakukan ini, bahwa kau tidak punya hak menolak tempat tidurmu untukku?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menghentikan langkahnya, terkejut mendengar kata-kata Chanyeol. Menyadari bahwa langkah Baekhyun sudah berhenti, Chanyeol menoleh dan ketika melihat ekspresi pada wajah Baekhyun dia berteriak, "Dear God, woman! Aku sudah bilang aku tidak akan pernah main kasar dengan perempuan. Kau aman denganku."
"Tapi kau tadi baru bilang..."
Chanyeol melambaikan tangannya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Itu hanya hormonku yang bicara. Ibuku memang a cold hearted bitch, tapi dia tahu cara membesarkan anak laki-lakinya menjadi orang yang bermoral. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuanmu."
Chanyeol mengantar Baekhyun hingga ke depan pintu kamarnya dan meninggalkannya setelah berkata, "Coba pikirkan permintaanku, tapi jangan terlalu lama, ya."
Sebulan berlalu dan Baekhyun masih belum bisa memberikan jawabannya kepada Chanyeol yang meskipun tidak pernah mengucapkan permintaannya lagi, tetapi Baekhyun bisa melihat dari cara dia menatapnya bahwa keinginannya masih belum berubah. Terkadang tatapannya itu bisa melumpuhkan sehingga untuk beberapa detik Baekhyun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari mata Chanyeol. Bagaimana dia bisa menyetujui rencana Chanyeol untuk membatalkan kontrak itu hanya supaya Chanyeol bisa tidur dengannya? Dia memerlukan komitmen yang lebih dari hanya kepuasan fisik belaka. Dia ingin Chanyeol menginvestasikan perasaannya untuk jangka panjang ke dalam hubungan ini sebelum dia bersedia tidur dengannya.
Baekhyun bersyukur bahwa Chanyeol menghabiskan lebih banyak waktunya di dalam studio, mempersiapkan diri untuk turnya dan membantu latihan artis pembuka konsernya, daripada memperhatikan Baekhyun seperti dia adalah mangsanya. Tapi sayangnya, untuk menjaga kesehatan dan suaranya, Chanyeol berusaha menghindari tidut terlalu malam, maka dari itu jadwalnya jadi sinkron dengan jadwal Baekhyun. Dulu mereka hanya makan malam bersama-sama, tetapi kini mereka juga makan siang pada akhir minggu kalau Baekhyun tidak perlu pergi ke kantor, bahkan terkadang sarapan bersama. Jongdae tidak kelihatan selama seminggu penuh, yang menurut laporan dari Sehun, beliau sedang melihat kelengkapan dan keamanan semua venue konser disetiap kota. Tur Chanyeol akan berlangsung selama satu bulan lebih, bermula di Incheon dan berakhir di Busan. Untuk membawa Chanyeol dan kru turnya, MRAM sudah menyewa jet pribadi agar perjalanan mereka akan lebih lancar.
Setiap hari Chanyeol melakukan hal-hal yang membuat pendirian Baekhyun sedikit goyah. Semuanya hanya hal kecil, seperti selalu memastikan bahwa ada apel hijau, buah favorit Baekhyun, di dalam lemari es; mengantar Baekhyun ke kantor sebelum mengantar mobil Baekhyun ke dealership karena perlu ganti oli padahal dia belum tidur semalaman; mengundang Yeri untuk nonton latihannya; menawarkan diri untuk babysit Taerin dan Taeoh waktu pembantu Kyungsoo jatuh sakit dan mereka harus menghadiri acara kantor suaminya, meskipun dia tahu Kyungsoo tidak menyukainya; membelikan makanan favorit Taerin dan Taeoh, yaitu pizza dengan ukuran large; main Bratz dool dengan Taerin meskipun dia takut setengah mati dengan boneka itu; mengantar Taeoh ke rumah sakit akibat keracunan pizza; merasa sangat bersalah karena sudah membeli pizza itu; menunggu selama 3 jam hingga dokter bisa mendiagnosis penyakit Taeoh yang ternyata bukan karena keracunan makanan, tapi gejala flu; dan menerima omelan dari Kyungsoo yang tidak tahu keadaan sebenarnya tanpa perlawanan meskipun dia tidak bersalah.
Chanyeol selalu mendorong Baekhyun untuk tidak hilang kontak dengan kedua orangtuanya, maka dari itu mereka selalu berkunjung ke Gwangjin setidak-tidaknya sebulan sekali. Chanyeol bahkan menyempatkan dirinya membawa orangtua Baekhyun berlibur akhir pekan ke Jeju. Selama liburan itu tidak sekalipun Baekhyun mendengar Ibunya mencoba mengatur tindak tanduknya, karena setiap kali Ibunya akan melakukan itu, Chanyeol akan menarik perhatiannya ke hal lain. Pada acara liburan itu tidak ada pilihan bagi Baekhyun selain tidur satu kamar dengan Chanyeol. Chanyeol langsung mengatur posisi tidurnya di lantai pada malam pertama, karena sofa yang tersedia di kamar tidak cukup panjang untuk mengakomodasikan ketinggian tubuhnya.
"Yeol, kau tidak usah tidur di bawah, kau bisa tidur diatas tempat tidur denganku," ucap Baekhyun.
Chanyeol melemparkan bantal bulu angsa yang dia temukan di dalam lemari keatas ekstra bedcover dan selimut yang dia sudah tebarkan diatas lantai sebelum menjawab, "Apa kau berencana tidur denganku?"
Pikiran Baekhyun tiba-tiba jadi kosong. Inilah pertama kalinya dia mendengar Chanyeol mengemukakan keinginannya lagi.
Melihat keraguan pada wajah Baekhyun, Chanyeol berkata, "Aku akan tidur di bawah." Kemudian dia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur buatannya yang berada di kaki tempat tidur.
Baekhyun menghembuskan napasnya. Dia betul-betul tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Di satu sisi dia merasa kasihan karena Chanyeol harus tidur dibawah sedangkan dia mendapatkan tempat tidur berukuran King dengan kasur yang empuk hanya untuknya sendiri, tetapi di sisi lain, dia betul-betul tidak berniat tidur dengan Chanyeol.
"Good night," ucap Baekhyun akhirnya.
"Good night, Baekhyun," balas Chanyeol.
Baekhyun mematikan lampu yang berada di samping tempat tidur dan kamar hotel langsung jadi gelap. Dia bisa mendengar suara deburan ombak dan pergerakan resah Chanyeol yang mencoba menemukan posisi yang paling nyaman untuknya.
"Yeol, kau sudah tidur?" tanya Baekhyun.
"Hampir, kenapa?" Chanyeol menjawab dengan suara yang sedikit teredam, sepertinya dia mengubur wajahnya pada bantal.
"Kau tahu kan kalau satu-satunya alasan kenapa kau sangat memaksa mau tidur denganku adalah karena hormonmu?"
Chanyeol terdiam sejenak sebelum menjawab, "Mungkin sekitar 25% hormon, tapi selebihnya adalah karena..."
"Ya?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya.
"I like you... a lot actually."
Baekhyun tersenyum, kata-kata itu membuatnya lebih senang daripada seharusnya. "Apa ini biasanya yang kau katakan kepada semua wanita yang kau inginkan?" tanya Baekhyun, mengalihkan perhatiannya dari perasaannya sendiri.
Chanyeol terkikik sebelum menjawab, "Kadang malah aku tidak usah berkata apa-apa." Dan Baekhyun tidak meragukan kebenaran kata-kata itu.
"Kalau kau kuberi izin untuk berhubungan dengan perempuan lain, apa kau akan melakukannya?" tanya Baekhyun.
"Of course not! What kind of a stupid question is that."
"Toh yang kau mau hanya seks. Perempuan manapun bisa memberikan itu kepadamu."
"Tapi aku tidak mau tidur dengan perempuan lain, aku mau tidur denganmu."
Baekhyun menghembuskan napasnya. Sepertinya dia tidak akan bisa meyakinkan Chanyeol untuk mengubah pemikirannya. Chanyeol terdiam begitu lama sehingga Baekhyun menyangka bahwa dia sudah tidur, tapi kemudian dia mendengar suaranya. "Kau sebaiknya tidur, lots to do tomorrow."
Tahu-tahu ketika Baekhyun sadar kembali, hari sudah pagi dan Chanyeol yang sedang duduk diatas sofa sambil menonton TV kelihatan cukup fresh. Sepertinya dia tidak mengalami masalah dengan susunan tempatnya tidur ataupun percakapan mereka semalam.
Seakan-akan ini semua masih belum cukup membuat Baekhyun ragu akan pendiriannya, Baekhyun memerhatikan bahwa Chanyeol berusaha mendekatkan diri dengan Ibunya. Terkadang Chanyeol akan mengajak Baekhyun untuk mengunjungi Ibunya dan mereka akan menghabiskan Sabtu atau Minggu siang mereka membicarakan tentang hal-hal yang tidak berbau bisnis. Meskipun Chanyeol masih belum membicarakan satu hal penting yang perlu dia bicarakan dengan Ibunya, tapi Baekhyun bersyukur bahwa setidak-tidaknya hubungannya dengan Ibunya sudah sedikit menghangat. Rupanya bukan hanya Baekhyun yang menyadari
perubahan pada diri Chanyeol, Nyonya Youngmi juga menyadarinya.
"Kulihat kau betul-betul bisa memegang janjimu. Aku tidak pernah melihat Chanyeol sebahagia ini semenjak Ayahnya meninggal," bisik Nyonya Youngmi suatu sore ketika beliau sedang berkunjung ke rumah Chanyeol untuk makan siang.
Chanyeol sedang menjawab telpon diruangan lain, oleh sebab itu Baekhyun bertanya-tanya kenapa Nyonya Youngmi harus berbisik ketika mengemukakan hal ini.
"Dia bahagia karena semuanya berjalan sesuai rencananya. Singlenya akhirnya keluar dan meledak di pasaran, persiapan turnya juga lancar-lancar saja, dan media dan masyarakat sudah hampir tidak pernah lagi mengutuknya."
Nyonya Youngmi terkikik, seakan-akan apa yang akan dikatakan Baekhyun betul-betul dianggap lucu olehnya. "No, anakku hanya akan merasa senang kalau semua rencananya berjalan lancar, tapi alasan kenapa dia kelihatan bahagia adalah karena untuk pertama kalinya di dalam hidupnya dia memilikimu untuk berbagi semua itu," lanjut Nyonya Youngmi.
Baekhyun sempat terkejut ketika Nyonya Youngmi menyebut Chanyeol sebagai "anakku", beliau tidak pernah menggunakan istilah itu sebelumnya. Sebelum Baekhyun bisa mengomentari, Nyonya Youngmi sudah melanjutkan.
"Aku mau berterimakasih karena kau sudah mau melakukan ini semua untuk Chanyeol. Aku betul-betul hargai usahamu yang mau memahami segala keantikannya. Aku berharap hubungan kalian bisa jadi permanen. Apa kau akan mempertimbangkannya?"
Baekhyun terdiam. Dia tidak percaya bahwa Nyonya Youngmi sudah memojokkannya seperti ini, lagi. Melihat keraguan dan kebingungan pada wajah Baekhyun, Nyonya Youngmi mengasihaninya.
"Aku bukannya mau memojokkanmu. Kau adalah wanita dewasa, tentunya kau mampu membuat keputusan sendiri. Aku hanya tidak mau kehilanganmu sebagai menantuku. I really like you, as a person, dan juga sebagai istri Chanyeol. Kau membuat dia jadi lebih dewasa, stabil, dan... happy."
Tanpa dia sadari. Baekhyun sudah berdiri dari kursinya dan memeluk serta mencium pipi Nyonya Youngmi. Untuk beberapa detik Nyonya Youngmi hanya terdiam, terkejut, tapi kemudian beliau membalas pelukannya.
"Mulai sekarang kau panggil aku 'Ibu', jangan 'Nyonya Youngmi' lagi, oke?" pinta Nyonya Youngmi.
Baekhyun mengangguk sambil memeluk Ibu Chanyeol yang sore ini sudah betul-betul menjadi ibu mertuanya.
To be continued.
Helo guys apakah masih ada yg nunggu ff ini? WKWK
Oiya berhubung aku sebentar lagi mau KKN aku ngga tau apa aku bisa update ff ini sampe end dalam waktu dekat atau ngga huhu
BTW thanks for all the nice comments!
