Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Chanyeol merayakan ulang tahunnya beberapa hari sebelum turnya dimulai, dengan begitu acara ulang tahun itu digabungkan dengan acara syukuran turnya. Baekhyun sempat bertanya padanya apa yang dia inginkan untuh hadiah ulang tahunnya, yang dijawab dengan tatapan sensual dari Chanyeol. Baekhyun tidak perlu jadi Sookie Stackhouse untuk tahu apa yang diinginkannya, sesuatu yang dia tidak bisa berikan, setidaknya tidak sekarang, atau bahkan mungkin selamanya. Kontrak mereka akan berakhir 6 bulan lagi, dan 2 bulan diantaranya Chanyeol tidak akan ada di Seoul dan Baekhyun yakin bahwa selama 2 bulan mereka terpisah, Chanyeol akan bisa mendapatkan pandangan baru tentang hubungan mereka.

Lain dengan pernikahan mereka, acara ulang tahun ini dirayakan secara kecil-kecilan. Hanya sekitar 50 orang yang diundang ke acara tersebut. Chanyeol diminta memotong kue ulang tahunnya untuk dihidangkan. Senyum simpul muncul pada sudut bibir Baekhyun ketika melihat Chanyeol menyempatkan diri mengobrol dengan setiap tamu yang datang pada pesta ulang tahunnya. Baekhyun mendengar suara tawa Chanyeol yang sepertinya baru mendengar suatu lelucon dari salah satu OB yang bekerja untuk MRAM. God, dia betul-betul suka melihat wajah Chanyeol kalau sedang tertawa. Sudut matanya akan berkerut dan matanya yang besar terlihat begitu indah.

Yes, definitely, aku harus menjaga jarak dengan Chanyeol untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pikir Baekhyun ketika menyadari bahwa dia sudah tertangkap basah oleh Chanyeol ketika sedang memandanginya dengan tatapan yang Baekhyun yakin terlihat siap menelannya bulat-bulat.


Chanyeol dan timnya berangkat ke Incheon hari Kamis pagi dan Baekhyun tidak ikut mengantar. Malam sebelumnya Chanyeol mengetuk pintu kamarnya dan Baekhyun mempersilahkannya masuk. Chanyeol memilih duduk di kursi sofa dan Baekhyun diatas tempat tidur.

"Aku akan pergi selama sebulan lebih, tapi kau selalu bisa menghubungiku melalui HP. Will you be okay while I'm gone?"

Baekhyun tersenyum dan membalas, "I'll be fine."

"Kalau kau perlu apa-apa minta saja pada Minah, Seulgi, atau bahkan Ibuku."

"Yeol, I'll be fine."

Chanyeol mengangguk mendengar nada peringatan Baekhyun. Dia kemudian berdiri dan Baekhyun mengiringinya menuju pintu.

"While I'm gone, bisa tolong kau betul-betul pikirkan permintaanku? Maybe, kau bisa memberiku jawabannya waktu aku kembali dari tur?" tanya Chanyeol dengan penuh harap.

"We'll see. Mungkin perasaanmu terhadapku akan berubah selama kau tur ini dan siapa tahu ternyata setelah kau kembali dari tur, kau sudah tidak menginginkan hal yang sama."

"Not bloody likely. Kalau aku sudah mengambil keputusan biasanya aku tidak akan merubahnya."

"You might."

"No, I won't," jawab Chanyeol tegas seraya meninggalkan kamar Baekhyun.


Kamis malam ketika Baekhyun pulang dari kantor dan tidak menemukan Chanyeol menunggunya seperti biasanya, dia merasa sedikit kesepian. Dia merindukan Chanyeol. Suara tawanya, kehangatannya, leluconnya, wajahnya... Baekhyun merindukan kehadirannya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan merasa seperti ini, dan perasaan itu betul-betul mengejutkannya. Dengan perginya Chanyeol, Baekhyun mendapatkan ritual baru, yaitu menunggu telpon dari Chanyeol. Setiap kali Chanyeol akan naik pentas, dia selalu menelepon Baekhyun terlebih dahulu. Mereka akan mengobrol selama 5 menit dan Baekhyun akan mengatakan bahwa konsernya akan sukses. Chanyeol juga akan meneleponnya lagi setelah selesai konser untuk mengatakan bahwa semuanya berjalan lancar. Baekhyun memasukkan jadwal tur Chanyeol ke dalam HP-nya agar dia selalu tahu dimana Chanyeol, bukan karena dia posesif terhadap Chanyeol tapi karena inilah satu-satunya cara agar bisa merasa dekat dengan Chanyeol selama dia pergi.

Setelah berita heboh tentang video Irene dan bayinya di Youtube pada bulan Juli, sekali lagi Irene menghilang dari peredaran. Baekhyun memperkirakan bahwa Irene mungkin sedang mencoba membesarkan bayinya di Jerman. Sebagai warga negara Jerman dia tentunya memiliki hak untuk tinggal di negara itu tanpa batasan waktu. Baekhyun bertanya-tanya apakah Mino akan maju ke publik dan mengakui bayi Irene sebagai miliknya. Kini image Chanyeol sudah betul-betul berubah di mata masyarakat. Mereka kini kembali memuji Chanyeol, mulai dari penjualan singlenya yang lebih dari sukses, sehingga kehidupan rumah tangganya dengan Baekhyun adem ayem. Dan Chanyeol juga sudah membuang kebiasaan buruknya untuk berkonfrontasi dengan wartawan, sehingga media betul-betul tidak memiliki dasar melakukan bad publicity.


Ketika bulan Oktober tiba, Baekhyun sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah Chanyeol tanpa ada Chanyeol di dalamnya. Setiap sudut rumah itu mengingatkan Baekhyun akan Chanyeol. Kursi di meja makan tempat dia biasa duduk, kolam renang tempat dia biasa berenang, studio tempatnya bekerja, berbotol-botol Evian di dalam lemari es, bahkan ketiga mobilnya yang diparkir di garasi. Para pembantu mulai menyadari bahwa dia kini tidur di kamar Chanyeol karena mereka menemukan seprai tempat tidur itu kusut setiap pagi dan tempat tidur Baekhyun masih tetap rapi. Beberapa kali Baekhyun mempertimbangkan untuk mengambil cuti dari pekerjaannya dan mengunjungi Chanyeol, yang pada saat itu sudah berada di Jeonju, tapi dia tidak mau mengganggu konsentrasi Chanyeol ketika dia sedang bekerja. Lagi pula dia tidak tahu apakah Chanyeol akan senang melihatnya muncul dengan tiba-tiba tanpa sepengetahuannya, toh Chanyeol tidak pernah mengundangnya untuk turut serta dalam turnya.

Seminggu kemudian Baekhyun memutuskan pindah ke rumah Ibu Youngmi untuk sementara waktu sampai Chanyeol kembali dari turnya. Dia memilih rumah Ibu Chanyeol karena apartemennya masih disewakan, dan karena orangtuanya, Taeyeon, dan Kyungsoo akan curiga kalau dia menginap di rumah mereka. Baekhyun hanya memberitahu Minah tentang keberadaannya kalau-kalau ada emergency. Dia juga memintanya untuk tidak memberitahu Chanyeol tentang kepindahan sementaranya, karena kalau Chanyeol bertanya-tanya tentang alasannya, maka Baekhyun harus menjelaskan, dan itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya saat ini. Meskkipun Ibu Youngmi awalnya menolak perpindahan ini tetapi atas ancaman Baekhyun bahwa dia akan pindah ke hotel kalau tidak diperbolehkan tinggal di situ, Ibu Youngmi menyerah. Entah gosip apa yang akan tersebar kalau menantunya ditemukan menginap di hotel selama Chanyeol pergi tur.

Baekhyun baru saja bisa mulai menikmati proses Detox Chanyeolnya setelah beberapa hari berada di rumah ibu mertuanya, ketika telpon rumah berbunyi pada Sabtu siang. Ibu Youngmi terdengar cukup tenang ketika menjawabnya, tapi setiap detiknya nadanya semakin terburu-buru dan Baekhyun menangkap nama Chanyeol disebut-sebut. Kemudian telpon itu ditutup dan Baekhyun mendengar langkah Ibu Youngmi mendekat. "Kau sebaiknya menyiapkan penjelasanmu karena Chanyeol sedang dalam perjalanan kesini," ucapnya.

"Lho, kok dia ada di Seoul? Dia seharusnya konser di Gwangju besok. Apa ada masalah?" balas Baekhyun sambil meloncat berdiri dari kursi taman yang didudukinya.

"Tentu saja ada masalah. Dia pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan istrinya yang ternyata sudah minggat ke rumah Ibunya. Dia mungkin menyangka kau sedang marah."

Baekhyun memerhatikan wajah Ibu Youngmi dan membutuhkan beberapa detik untuk mengenali ekspresi itu. Ibu Youngmi kelihatan takut. Baekhyun tidak percaya ini. Ibu paling menyeramkan yang dia pernah temui sepanjang hidupnya, pada detik ini, takut pada anaknya. Setelah rasa terkesimanya luntur, Baekhyun sadar bahwa... Oh, my God... Chanyeol akan datang dan ini adalah pertama kalinya mereka akan bertemu muka setelah 5 minggu dan dia kelihatan berantakan dengan pakaian rumahnya. Tanpa permisi lagi Baekhyun langsung pergi ke lantai atas untuk mencuci muka, mengganti pakaiannya dengan celana capri dari bahan khakis dan kaus putih. Dia kemudian menyisiri rambutnya hingga rapi. Dia sedang mempertimbangkan apakah dia mau mengoleskan lipgloss pada bibirnya ketika mendengar suara mobil. Baekhyun mengintip dari jendela kamarnya yang terletak dilantai atas dan melihat Chanyeol turun dari Range Rovernya. Dari langkahnya Baekhyun tahu bahwa moodnya tidak baik.

Baekhyun langsung pergi ke pintu untuk menyambutnya. Dia tidak peduli seberapa marah Chanyeol padanya, yang penting dia sudah kembali, dan dengan begitu Baekhyun bisa melepas rindunya dengan memeluknya seerat-eratnya selama 5 menit penuh. Dia baru saja mau menuruni tangga ketika dia melihat Chanyeol yang dengan langkahnya yang besar-besar sedang menaiki anak tangga tiga sekaligus. Ketika Chanyeol menyadari bahwa Baekhyun ada dihadapannya, langkahnya tersandung, tapi kemudian dia menghampiri Baekhyun dengan cepat, dan Baekhyun terpaku pada tempatnya, menunggu hingga Chanyeol mencapainya.

"Hei, Yeol," ucap Baekhyun sambil tersenyum ragu.

Kemudian semuanya berlangsung dengan cepat sehingga Baekhyun tidak bisa berpikir lagi, dia hanya bisa melakukannya. Chanyeol mendorongnya ke dinding dan tanpa menunggu reaksi dari Baekhyun, langsung menciumnya habis-habisan. Ciumannya terasa rough dan demanding sehingga Baekhyun kalang kabut mengikutinya. Chanyeol kemudian menarik tubuh Baekhyun kedalam pelukannya dengan tangan kanannya seakan-akan Baekhyun adalah boneka, sedangkan tangan kirinya memegang belakang kepala Baekhyun, membantalinya agar tidak membentur dinding sementara dia melakukan serangannya. Baekhyun tidak protes sama sekali karena dia dapat merasakan apa yang dirasakan Chanyeol saat itu. Mereka sama-sama meluapkan kerinduan mereka akan satu sama lain dengan satu-satunya cara yang mereka tahu. Kata-kata, pelukan, dan ciuman di pipi tidak akan cukup.

Chanyeol mengangkat bibirnya dari bibir Baekhyun dan berkata, "I miss you," diantara napasnya yang memburu.

Baekhyun tidak bisa melihat wajah Chanyeol yang kini sedang menciumi pelipis dan keningnya berkali-kali. "I miss you too," balas Baekhyun sambil tersenyum.

Kata-kata Baekhyun membuat Chanyeol berhenti menciumnya dan menatap wajahnya. Wajah Chanyeol kelihatan terkejut dan tidak percaya. "You do?" tanyanya.

Baekhyun mengangguk memberikannya kepastian dan sepertinya itu saja konfirmasi yang dia perlukan sebelum menciumi Baekhyun lagi, tapi kini ciumannya lebih lembut dan tidak terlalu terburu-buru. Dan itu justru membuat Baekhyun meleleh. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dan menikmati apa yang diberikan Chanyeol padanya. Baekhyun baru ingat keberadaan mereka ketika dia mendengar suara seseorang berdeham beberapa kali. Buru-buru dia menarik kedua lengannya dari leher Chanyeol, tapi Chanyeol terlihat tidak peduli karena dia masih menciumi Baekhyun seperti besok akan kiamat. Dia baru berhenti setelah mendengar suara Ibunya.

"Park Chanyeol! Ibu tidak membesarkanmu untuk berkelakuan seperti kaum bar-bar. Kau sebaiknya bawa istrimu ke tempat yang lebih private kalau kau memang ingin melakukan apapun itu yang kau sudah rencanakan waktu masuk ke rumah ini tanpa permisi."

Dengan sangat tidak rela, Chanyeol melepaskan Baekhyun yang mencoba manarik napas ke dalam paru-parunya. Puas melihat mata Baekhyun yang masih sedikit tidak fokus setelah ciumannya, Chanyeol kemudian memutar tubuhnya menghadap Ibunya. "Hei, Bu," ucapnya santai.

Ibu Youngmi mengangkat alisnya sebelum berjalan menuruni tangga sambil geleng-geleng kepala dan menghilang dari pandangan mereka.

"Yeol...," ucap Baekhyun memulai penjelasannya.

"Kau bisa jelaskan kenapa kau minggat sementara aku menanggalkan setiap helai pakaian yang menempel pada tubuhmu. Dimana kamar tidurmu?"

Chanyeol sudah menarik Baekhyun melangkah ke lantai atas. "Wait... wait... Yeol, apa kau sudah gila? Ini rumah Ibumu." Baekhyun mencoba menyadarkan Chanyeol yang sepertinya sudah melewati batas kesabarannya.

"So?"

"Ini tidak sopan," desis Baekhyun.

Baekhyun terkejut ketika sekali lagi Chanyeol mendorongnya ke dinding. "Jadi kau tidak keberatan tidur denganku sekarang, kau hanya keberatan dengan lokasinya?"

Baekhyun hanya bisa menatap Chanyeol selama beberapa detik mencoba mencerna kata-kata itu, sementara dia mengontrol keinginannya untuk menarik Chanyeol ke dalam kamar tidurnya dan memintanya melakukan apa saja yang mau dia lakukan padanya, tapi kemudian dia berhasil mengatasi kebingungannya dan menganguk. Chanyeol melepaskannya.

"Oke, aku akan membawamu pulang ke rumah kita, tapi kau harus janji padaku bahwa kau tidak akan berubah pikiran selama perjalanan kesana," ucapnya.

"Janji," jawab Baekhyun.


Meskipun Baekhyun berjanji bahwa dia tidak akan mengubah pikirannya, tapi Chanyeol tidak mau mengambil resiko. Oleh sebab itu dia membawa mobilnya sudah seperti orang gila dan melanggar hampir setiap peraturan lalu lintas. Dia bersyukur bahwa tidak ada polisi sama sekali. Dia mengetukkan jari-jarinya pada setir menunggu hingga pintu gerbang terbuka sebelum tancap gas dan berhenti di depan rumah dengan ban berdencit diatas batu kerikil. Dia tidak memedulikan tatapan bingung Minah dan menggeret Baekhyun bersamanya menuju lantai atas.

"Kamarmu atau kamarku?" tanya Chanyeol.

"Errr..." ucap Baekhyun ragu.

"Kamarku. Ada alasannya kenapa aku membeli tempat tidur ukuran King," potong Chanyeol.

"Yeol, soal kamarmu..."

"Jangan khawatir, kau adalah perempuan pertama yang tidur diatas tempat tidur itu. Aku tidak pernah membawa perempuan pulang ke rumah untuk seks."

Baekhyun hanya menganga mendengar pernyataan ini. Kenyataan bahwa Chanyeol akan lebih berpengalaman daripada dirinya membuatnya ragu. Sebelum Baekhyun bisa mengemukakan apa yang dipikirkannya, Chanyeol sudah mendorongnya masuk ke dalam kamar tidurnya, menutup pintu dan menguncinya sebelum menghadapnya.

Chanyeol mengambil 2 langkah lebar menujunya dan Baekhyun mundur.

"Yeol, tunggu sebentar. Ada sesuatu yang aku perlu bicarakan denganmu."

"Aku tidak peduli alasannya, tapi aku sudah memaafkan kepergianmu." Chanyeol tidak memdulikan bahasa tubuh Baekhyun yang mencoba menjauhinya. Dia meraih lengan Baekhyun bagian atas dan mendorongnya ke arah tempat tidur.

Baekhyun jatuh terduduk diatas tempat tidur sambil berteriak, "Wait... wait..."

Chanyeol yang sedang dalam proses menanggalkan sabuknya setengah melemparkan kausnya ke lantai, berhenti dan menatapnya. "Sumpah Baekhyun, kalau kau menolakku sekarang, aku akan mencekikmu."

Mau tidak mau Baekhyun terkikik. "No, no, no... aku tidak menolakmu. Pada detik ini kurasa aku tidak akan sanggup menolakmu."

Chanyeol menghembuskan napasnya dan melanjutkan proses penanggalan pakaiannya. Setelah dia tidak mengenakan sehelai pakaianpun, dia menatap Baekhyun yang masih berpakaian lengkap dan sedang menarik tatapannya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya sebelum tersenyum simpul.

"Kau kenapa melihatku seperti itu? Seperti kau tidak pernah melihat laki-laki telanjang saja sebelumnya," komentar Chanyeol sambil berjalan kearah tempat tidur.

Baekhyun menarik tubuhnya ketengah tempat tidur, menjauhi Chanyeol. "Kau yang pertama untukku," ucap Baekhyun.

Kata-kata itu menghentikan Chanyeol yang sedang naik keatas tempat tidur.

"Itu yang sudah aku coba katakan dari tadi, tapi aksi stripteasemu mengalihkan perhatianku."

Chanyeol terdiam, dari wajahnya Baekhyun bisa membaca bahwa dia masih ingin melanjutkan rencananya, tapi dia kelihatan ragu dan sedikit khawatir. Pada detik itu Baekhyun tahu bahwa dia tidak perlu khawatir akan perlakuan Chanyeol padanya. Dia tahu bahwa Chanyeol tidak akan bisa menyakitinya dalam situasi apapun juga. Baekhyun bangkit dan mendekatinya.

Baekhyun menyentuh pipi Chanyeol dan berkata, "Chanyeol, I'll be fine. Aku tahu kau akan menjagaku selama aku melalui proses ini. I trust you."

"Baekhyun, dalam situasiku yang sekarang, aku tidak yakin aku bisa gentle denganmu. Aku bisa secara tidak sengaja menyakitimu." Chanyeol terdengar putus asa.

Baekhyun meletakkan kedua tangannya pada wajah Chanyeol dan berkata, "I trust you," dengan penuh keyakinan.

Baekhyun mencium sudut bibir Chanyeol untuk meyakinkannya. Awalnya Chanyeol masih ragu, tapi Baekhyun tahu bahwa dia sudah menang ketika Chanyeol mulai menciumnya balik sementara kedua tangannya mulai menanggalkan pakaian yang dikenakan Baekhyun. Dan selama 2 jam ke depan Baekhyun dapat merasakan apa artinya dipuja oleh laki-laki.


"Are you okay?" tanya Chanyeol setelah dia puas mengeksplorasi tubuh Baekhyun dan membuatnya berteriak berkali-kali.

"I'm okay." Suara Baekhyun terdengar sedikit teredam karena kepalanya beristirahat pada dada Chanyeol.

Matahari sudah akan terbenam, tapi mereka menolak meninggalkan kamar itu. Dia seharusnya tahu bahwa dibawah sikap seriusnya Baekhyun menyimpan energi yang bahkan bisa menghidupkan kota Seoul selama sebulan. Chanyeol tidak menyesali keputusannya untuk bersabar hingga Baekhyun betul-betul siap, karena Baekhyun memang worth the wait. Baekhyun sangat responsif dibawah sentuhannya dan dia tidak malu-malu memberitahu Chanyeol apa yang diinginkannya. Dia tidak tahu apakah Baekhyun merasakannya, tapi Chanyeol merasakan pergerakan kosmik, seakan-akan bumi, bulan, bintang, dan matahari, bergerak pada saat yang bersamaan, mendukung kebersamaan mereka. Ini bukan hanya seks biasa. Ini seks yang melibatkan hati dan perasaan dan ini adalah seks terbaik yang pernah dia alami sepanjang hidupnya. Gosh... he can't wait to do it again. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia betul-betul kehilangan kontrol dan bukannya takut, yang dia rasakan adalah kebebasan. Baekhyun dengan tubuh mungilnya dan otaknya yang brilian telah membebaskannya dari segala beban yang telah memberatkan hatinya.

Selama sebulan lebih tur ke kota-kota dimana dia tidak mengenal siapa-siapa selain kru turnya, Chanyeol banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar hotel, sendirian. Kesendirianya itu membantunya berpikir tentang hubungannya dengan Ibunya dan dengan Baekhyun. Dia kini menyadari bahwa Baekhyun benar, bahwa dia memang harus memaafkan Ibunya agar bisa melanjutkan hidupnya. Selama ini dia memang sudah mencoba memperbaiki hubungan itu, tetapi dia belum betul-betul siap berbicara dengan Ibunya dan menyelesaikan masalah mereka. Setelah mengambil keputusan untuk betul-betul berbicara dengan Ibunya sekembalinya ke Seoul, pikirannya kemudian beralih kepada Baekhyun.

Dia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya 2 hari setelah turnya dimulai. Awalnya dia menyalahkannya pada kenyataan bahwa dia harus membiasakan diri dengan kehidupan tur lagi, tapi dia tahu bahwa itu bukan sebabnya ketika dia mulai mencari-cari alasan hanya untuk menelpon Baekhyun di luar jadwal yang sudah ditetapkan. Dia hanya mau mendengar suaranya yang selalu ceria setiap kali menerima telponnya. Chanyeol menolak mengakui bahwa dia memerlukan Baekhyun untuk mengisi hari-harinya dan karena dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya, akhirnya dia jadi moody. Jongdae yang sudah tidak tahan melihat tingkah laku Chanyeol yang mulai menurunkan semangat timnya, memerintahkan Chanyeol agar pulang ke Seoul.

Dia yang sudah membayangkan wajah Baekhyun ketika melihatnya muncul tiba-tiba, hanya mendapatkan Minah yang mengatakan bahwa Baekhyun tinggal dengan Ibunya semenjak seminggu belakangan ini. Dan itu membuatnya marah besar. Segala macam skenario bermunculan dikepalanya. Dia berusaha mengingat-ngingat apakah dia sudah menyinggung hati Baekhyun sehingga dia pergi meninggalkannya, tapi setelah beberapa menit dia tidak bisa menemukan alasan kenapa Baekhyun berlaku seperti itu, Chanyeol merasa ingin mencekiknya. Tapi ketika dia melihat Baekhyun, semua kemarahannya sirna, yang tersisa hanya keinginan untuk menyatukan partikel-partikel atom yang tersisa yang ada pada dirinya dengan Baekhyun.

Pergerakan pada tubuh Baekhyun membangunkannya dari lamunan. "Sori ya," ucap Chanyeol.

"Untuk apa?" tanya Baekhyun.

"Aku takut sudah menyakitimu," jelas Chanyeol.

Chanyeol mendengar Baekhyun terkikik dan dia menopang tubuhnya dengan sikunya dan menatap Baekhyun. Perempuan satu ini memang betul-betul tahu cara menginjak-nginjak egonya. Dia sedang menunjukkan sisi sensitifnya dengan mengatakan konsekuensi tindakan mereka dan Baekhyun malah menertawakannya. "Ada yang lucu?" tanyanya.

"Kau," balas Baekhyun dan menggulingkan tubuhnya ke atas kasur sambil tertawa terbahak-bahak.

"Apa sih yang lucu?"

"Kau," jawab Baekhyun diantara tawanya.

"Well, excuse me kalau aku mencoba menjadi laki-laki yang sensitif."

Baekhyun terdiam dan menatap Chanyeol, tapi kemudian dia meledak tertawa lagi. Merasa tersinggung Chanyeol bergerak meninggalkan tempat tidur, tapi Baekhyun menariknya.

"Kau marah ya?"

"Tidak," ucap Chanyeol yang bersusah payah mencoba menyembunyikan nada merajuknya.

Baekhyun tersenyum. "Terimakasih ya atas perhatiannya," ucap Baekhyun dan mengecup kening Chanyeol yang langsung salah tingkah.

Untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat, Chanyeol perlahan-lahan memandangi sekelilingnya dan menyadari bahwa ada sesuatu yang beda dengan kamar itu. Dia baru sadar bahwa TV plasmanya hilang, selain itu desain kamar juga sedikit berbeda. Sofanya hilang dan digantikan dengan sofa yng tadinya berada di kamar tidur Baekhyun. Perlahan-lahan Chanyeol turun dari tempat tidur dan tanpa mempedulikan kebugilannya, dia berjalan dan menyalakan lampu kamar.

"Baek, kita sedang berada di dalam kamar tidurku kan?"

Baekhyun mengangguk. "Memangnya kenapa?"

"TV dan sofaku hilang, dan... tunggu sebentar... itu sepraiku, ya?" ucap Chanyeol sambil menunjuk tempat tidurnya.

"TV-mu aku pindahkan ke kamar tamu karena aku tidak bisa tidur kalau ada TV didepanku. Sofamu aku tukar dengan sofaku karena sofaku lebih nyaman untuk baca buku. Dan ini adalah sepraimu, karena baunya seperti kau."

"Wait a second... have you sleeping in my room?"

"Yes, selama beberapa minggu sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke rumah Ibumu."

Chanyeol memandangi Baekhyun dengan tatapa serius tapi tentu saja Baekhyun tidak bisa menganggapnya serius ketika dia berdiri naked dihadapannya, bertolak pinggang sekalipun. Chanyeol berjalan menuju laci, mengambil underware baru dan mengenakannya. Baekhyun muncul dihadapannya, sudah mengenakan celana dalam dan kaus, tanpa bra.

"Aku hanya sedang rindu padamu waktu itu, dan satu-satunya tempat yang bisa membuatku merasa dekat denganmu adalah kamar tidurmu, tapi ternyata tidur di kamar ini malah justru membuatku semakin rindu padamu, itu sebabnya aku meginap di rumah Ibumu. Aku minta maaf kalau aku sudah memasuki teritorimu tanpa izin. Aku akan kembalikan barang-barangmu..."

Chanyeol mendiamkan Baekhyun dengan ciumannya, setelah dia bisa meyakinkan Baekhyun bahwa dia tidak marah, dia mengangkat kepalanya, "Aku mau kau tidur disini setiap malam denganku. Aku mau berbagi segalanya denganmu."

"Really?" tanya Baekhyun ragu.

"Most definitely," balas Chanyeol, mencium ujung hidung Baekhyun.

Baekhyun terkikik dan membiarkan Chanyeol menciumi wajahnya. "Kosongkan jadwalmu untuk bulan November," pinta Chanyeol.

"Why?"

"Karena Nyonya Park... suamimu akan membawamu pergi honeymoon."

Baekhyun mengerutkan keningnya. "Yeah... kalau kau tidak keberatan aku lebih suka dipanggil Baekhyun. Nyonya Park terdengar seperti Ibumu."

Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Kemudian, "I can't believe I'm saying this, tapi kau mengingatkanku padanya."

Oke, that just sound wrong. "Errr... Yeol, kalau ini caramu untuk menggodaku supaya mau tidur denganmu lagi, aku usulkan kau ganti taktik," balas Baekhyun.

Chanyeol tertawa lagi. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Baekhyun yang sedikit kemerahan karena kesan beard burn darinya. Dia tidak akan pernah bisa berhenti menyentuhnya. "Kau pernah tanya padaku apakah kau tipe perempuan yang aku suka."

"Ya..."

"Aku selalu suka wanita yang mandiri, percaya diri, dan tahu apa yang dia mau. Kau memiliki semua karakteristik itu. Ibuku juga. Selama ini aku selalu menghindari wanita jenismu karena aku melihat apa yang sudah Ibuku lakukan kepada Ayahku. Ibuku sudah mematahkan hati Ayahku, bahkan tanpa mengedipkan matanya. Waktu Ayahku meninggal, aku berjanji bahwa aku tidak akan berakhir sepertinya."

Wajah Baekhyun kelihatan serius mendengarnya menumpahkan seluruh isi hatinya. Chanyeol tidak pernah mengungkapkan hal ini kepada siapa-siapa, bahkan tidak kepada Ibunya.

"Aku berusaha menjaga jarak denganmu. Aku bilang kepada diriku bahwa kau tidak baik untukku, bahwa kau akan melakukan hal yang sama kepadaku, seperti yang Ibuku sudah lakukan kepada Ayahku. Aku tidak bisa ambil resiko."

Baekhyun menolehkan kepalanya dan mencium telapak tangan Chanyeol yang membelai pipinya. Meskipun gerakan itu simple dan Chanyeol yakin bahwa Baekhyun melakukannya karena reflek, tapi dia bisa merasakan bulu tengkuknya berdiri. Pada detik itu dia menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta pada Baekhyun. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bermula, mungkin semenjak dia melihatnya dengan blus hijaunya, atau mungkin ketika Baekhyun membalas ciumannya didalam studio. Namun dia tidak peduli lagi, yang dia tahu adalah bahwa saat ini, detik ini, dia mencintai Baekhyun dan bahwa dia tak akan bisa berhenti mencintainya sampai kapanpun.

"Aku tidak tahu apa kau nantinya akan merasa bosan padauku, menginjak-nginjak egoku, dan meninggalkanku kalau aku sudah tidak menghasilkan uang lagi, tapi sejak saat ini... aku tidak peduli. Sekarang aku mengerti kenapa Ayahku tetap mencintai Ibuku, tidak peduli apa yang sudah Ibuku lakukan padanya. Untuk bisa hidup dengan wanita yang kita inginkan, walaupun hanya sebentar saja, akan lebih baik daripada menghabiskan kehidupan kita dengan wanita yang tidak berarti apa-apa bagi kita."

Ketika Chanyeol selesai dengan deklarasi cintanya, atau setidak-tidaknya sedekat-dekatnya dia mampu mengucapkannya tanpa betul-betul mengucapkan kata "I love you", mata Baekhyun sudah berkaca-kaca.

"Woman, you better not be crying now," ucap Chanyeol dan Baekhyun tersedak diantara tawa dan tangisannya. Sebelum Chanyeol sadar apa yang sedang terjadi Baekhyun sudah memeluknya dengan erat, seakan-akan dia tidak akan melepaskannya hingga sepuluh tahun lagi.

"I love you," bisik Baekhyun.

Selama beberapa detik Chanyeol tidak bisa bernapas, apalagi berkata-kata. Ada banyak wanita yang mengatakan "I love you" padanya sepanjang 33 tahun hidupnya, tapi tidak satu pun dari mereka yang bisa membuatnya merasa sebahagia ini karena mendengar 3 kata itu.

"Me too, babe. Me too." Balas Chanyeol.


To be continued.


Oke ini kayaknya chapter yang kalian tunggu-tunggu deh hahaha

Oiya makasih banyak guys udah kasih semangat aku buat KKN hehe

Btw ini update terakhir aku sebelum KKN dan aku ngga janji sih tapi aku akan berusaha update chapter-chapter selanjutnya disela-sela waktu KKN aku guys, semoga sih aku ada waktu luang ya :)