Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Chanyeol berangkat keesokan harinya untuk meneruskan turnya dan kali ini Baekhyun mengantarkannya ke bandara. Setelah satu ciuman dalam dan usaha meyakinkan Baekhyun agar mengabaikan pekerjaannya dan ikut dengannya dalam sisa tur, yang tentunya ditolak oleh Baekhyun dengan janji bahwa Chanyeol bisa melakukan apa saja yang dia mau kepadanya ketika dia kembali, Chanyeol menaiki tangga pesawat. Baekhyun melambaikan tangannya sebelum berjalan menjauhi landasan agar pesawat bisa mulai lepas landas. Chanyeol meneleponnya ketika tiba di Gwangju dan semenjak itu mereka tidak pernah berhenti telpon satu sama lain setiap ada waktu luang. Baekhyun merasa seperti sedang pacaran dengan suaminya sendiri, sesuatu yang agak aneh tapi cukup menyenangkan.
Pertama kali Baekhyun terbangun pada malam pertama mereka tidur di tempat tidur yang sama sekembalinya Chanyeol dari merampungkan jadwal turnya, dan menemukan wajah Chanyeol yang masih tertidur di hadapannya, Baekhyun hanya terdiam, tidak menggerakkan satu pun otot pada tubuhnya dan memandangi Chanyeol. Dia tidur dengan posisi tengkurap dan Baekhyun hanya bisa melihat sebagian wajahnya, tapi itu sudah cukup membuat tangannya gatal sehingga dia melarikan jari-jarinya pada wajah sempurna itu. Wajah Chanyeol terlihat lebih damai, agak berbeda dengan semalam ketika dia menagih janji Baekhyun. Mengingat segala macam posisi yang mereka coba tadi malam membuat pipi Baekhyun memerah. Tapi Baekhyun menikmatinya karena Chanyeol melakukan semuanya dengan sangat lembut dan dia mengutamakan kebutuhan Baekhyun terlebih dulu daripada kebutuhannya. Baekhyun tidak pernah merasa lebih disayangi oleh laki-laki manapun ketika dia mendengar Chanyeol berbisik, "Baby, you gotta let go."
Tanpa bisa menahan diri lagi, perlahan-lahan Baekhyun menyentuhkan jari-jarinya pada wajah Chanyeol dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkannya. Baekhyun melihat pergerakan pada bulu mata Chanyeol sebelum dia mendengar Chanyeol berkata dengan nada mengantuk, "Morning."
"Morning," balas Baekhyun.
"Sekarang jam berapa?"
Baekhyun melirik beker yang ada di night stand. "Setengah delapan," jawab Baekhyun sambil melangkah turun dari tempat tidur, berusaha mencari tank top yang dikenakannya tadi malam, yang sudah melayang entah kemana.
"Masih pagi. Come back to bed with me," ucap Chanyeol dan secepat kilat meraih pinggang Baekhyun dan menariknya kedalam pelukannya.
Baekhyun tertawa dan membiarkan dirinya dipeluk kembali oleh Chanyeol. "Aku mau menghabiskan hari Sabtu ini seharian penuh diatas tempat tidur denganmu," bisik Chanyeol.
"Bagaimana kalau kita lapar?" Tanya Baekhyun.
"Kita tidak perlu makanan selama kita ada untuk satu sama lain," balas Chanyeol.
Baekhyun terkikik mendengar betapa gombalnya pernyataan Chanyeol itu, tapi tubuhnya menjadi relaks didalam pelukan Chanyeol. Dada Chanyeol yang menempel pada punggung Baekhyun terasa hangat dan detak jantung Chanyeol yang teratur menemaninya seperti lagu nina bobo dan tak lama kemudian di sudah tertidur kembali.
Semenjak hari itu mereka tidak pernah lagi pisah tempat tidur. Atas persetujuan bersama, mereka membagi kamar tidur Chanyeol. Chanyeol membiarkan Baekhyun mendekorasi ulang kamarnya sesuai dengan keinginannya. Kalau saja Baekhyun perempuan lain, mungkin dia sudah marah-marah ketika Baekhyun mengosongkan separuh dari lemarinya dan memindahkan isinya ke tempat lain agar Baekhyun bisa memasukkan pakaiannya. Belum lagi segala produk wanita yang memenuhi setiap permukaan meja wastafelnya, jumlah novel yang bertebaran didalam kamar tidur, bahkan kamar mandinya, dan segala pernak pernik Baekhyun lainnya. Meskipun begitu, Chanyeol tidak protes karena sejujurnya segala perubahan ini membuatnya sadar bahwa kini dia tidak sendirian lagi. Kini setiap pagi dia merasakan sentuhan bibir Baekhyun pada wajahnya untuk membangunkannya. Kini ada orang yang memintanya memperbaiki pipa wastafel yang bocor, bukannya langsung memanggil orang lain untuk melakukannya. Yang jelas, kini ada orang yang mencarinya kalau dia belum pulang ke rumah lewat dari jam 11 malam. Chanyeol selalu tahu bahwa dia menyukai Baekhyun dan kemudian mencintai Baekhyun, tapi kini dia tahu bahwa apa yang dia rasakan terhadap Baekhyun adalah lebih dari itu semua. Dia membutuhkan Baekhyun di dalam hidupnya dan dia tidak merasa malu mengakuinya, karena dia tahu bahwa Baekhyun merasakan hal yang sama.
Sesuai dengan permintaannya Baekhyun memang tidak pernah menyingung-nyinggung hubungannya dengan Ibunya, tapi ketika Chanyeol memintanya untuk menemaninya ketika dia pergi berbicara dengan Ibunya, mata Baekhyun langsung menghangat sebelum dia mengangguk antusias. Dan Chanyeol tahu bahwa lebih dari segala sesuatu yang dia pernah lakukan untuk Baekhyun, inilah hal yang paling berarti baginya. Ibunya kelihatan cukup terkejut ketika dia ingin berbicara dengannya sendiri di teras belakang. Beliau semakin was-was ketika melihat Baekhyun tidak ikut dengan mereka, meskipun begitu Ibunya tidak mengatakan apa-apa. Chanyeol menunggu hingga Ibunya duduk sebelum dia mendudukkan dirinya dikursi yang satu lagi. Mereka terdiam selama beberapa menit, hanya ditemani oleh suara TV yang terdengar samar-samar.
"Apa yang kau mau bicarakan dengan Ibu?"
Chanyeol menatap Ibunya sebelum berkata, "Apa Ibu mencintai Ayah?"
"Kenapa kau tanya begitu?"
"Just answer the question."
"Tentu saja Ibu mencintai Ayahmu. He's the love of my life."
Mata Chanyeol sedikit terbelalak ketika mendengar pernyataan ini, kemudian dia bertanya, "Kalau Ibu memang mencintai Ayah, kenapa Ibu tidak pernah menjenguk Ayah waktu dia sakit, atau bahkan datang ke pemakamannya?"
Ibunya mengembuskan napas dengan cukup keras sebelum berkata, "Karena itulah satu-satunya cara bagi Ibu untuk membalas apa yang sudah Ayahmu lakukan pada Ibu."
Kata-kata itu membuat Chanyeol tersinggung. "Ayah tidak pernah melakukan apapun pada Ibu, kecuali mencintai Ibu."
Bukannya membalas, Ibu Youngmi hanya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menyilangkan kakinya. Tanpa menatap Chanyeol beliau berkata, "Kau masih ingat Jihyun?"
"Ya," jawab Chanyeol dengan sedikit bingung.
Tentu saja dia ingat akan partner bisnis Ayahnya itu, seorang wanita yang selalu bisa ditemukan di sisi Ayahnya. Dia menyukai Bibi Jihyun yang selalu baik dengannya.
"Ibu selalu menyukainya, karena insting bisnisnya cocok dengan Ayahmu."
Sebelum Chanyeol bisa bertanya kemanakah arah pembicaraan ini, Ibunya sudah berkata-kata lagi. "Ibu tidak pernah menyangka bahwa hubungan mereka ternyata lebih daripada rekan bisnis, sampai Ayahmu minta cerai dari Ibu untuk menikahi Jihyun."
Pupil mata Chanyeol membesar mendengar pernyataan ini. Ibu Youngmi menolehkan kepalanya untuk melihat reaksinya. "Rupanya tanpa sepengetahuan Ibu, mereka sudah bersama-sama selama 2 tahun lebih. Jihyun bahkan sudah setuju untuk meninggalkan suaminya dan menikah dengan Ayahmu. Waktu Ibu tanya kenapa Ayahmu sampai tega selingkuh, dia bilang bahwa dia sudah tidak tahan dengan keambisiusan Ibu. Bahwa dia sudah bosan karena hidupnya terus diatur oleh Ibu."
Chanyeol hanya bisa menatap Ibunya dengan tatapan tidak percaya. Dia tahu bahwa Ibunya tidak pernah berbohong kepadanya, tapi dia juga mengalami masalah untuk percaya bahwa Ayah yang dia puja setengah mati itu ternyata adalah seorang suami yang tega selingkuh. Ibu Youngmi tersenyum kepada Chanyeol sebelum melanjutkan ceritanya. "Did you know that I married your father without your grandparents' permission?"
"Ibu dan Ayah kawin lari?" Tanya Chanyeol. Dia belum pulih dari kekagetannya ketika diserang dengan fakta lain tentang perkawinan orangtuanya yang dia tidak pernah ketahui.
Ibu Youngmi mengangguk. "Ayahmu bukan dari keluarga berada, oleh sebab itu Kakekmu, yang pada saat itu adalah orang penting di Seoul, tidak setuju dan bilang bahwa kalau sampai Ibu menikahi Ayahmu, kami akan hidup serba kekurangan. Tapi Ibu sudah cinta mati pada Ayahmu dan Ibu bisa lihat bahwa dia punya ambisi untuk jadi orang yang sukses, maka dari itu Ibu tetap nekat menikahi Ayahmu."
"Then what happened?"
"Kami memang hidup serba kekurangan selama 3 tahun pertama dan Kakek dan Nenekmu menolak membantu kami sama sekali. Dan karena orangtua Ayahmu hidupnya juga pas-pasan karena mereka masih harus menyekolahkan Paman Jinyoung, ya... mereka juga tidak bisa bantu banyak. Paman Dongwook juga masih ada di Amerika saat itu, jadi dia tidak tahu menahu tentang kesulitan keuangan kami."
"Itu sebabnya aku tidak pernah bertemu dengan Kakek atau Nenek sampai aku SD," ucap Chanyeol pelan. Sedikit demi sedikit memori tentang masa kecilnya kembali.
Ibu Youngmi mengangguk. "Ibu berusaha sekuat tenaga mendukung Ayahmu supaya dia bisa jadi orang yang sukses. Memang perlakuan Ibu kepada Ayahmu sering kelihatan terlalu ambisius, tapi Ibu punya alasan yang kuat untuk melakukan itu. Ibu harus membuktikan bahwa Kakek dan Nenekmu salah karena sudah menolak Ayahmu. Perusahaan yang Ayahmu bangun berkembang pesat dan mencapai kesuksesan waktu kau SD, pada saat itulah mereka akhirnya bisa mengakui kesalahan mereka karena sudah meremehkan Ayahmu."
Kalau tadi hanya matanya saja yang terbelalak dengan pupil mata melebar, kini mulut Chanyeol sudah ternganga.
"Yang Ibu tidak pernah sangka adalah bahwa dalam proses pembuktian diri itu, Ibu sudah kehilangan satu-satunya alasan kenapa Ibu melakukan itu semua. I lost your father. So, to answer your question, kenapa Ibu tidak pernah menjenguk Ayahmu di rumah sakit atau datang ke pemakamannya adalah karena Ibu marah besar dan kecewa pada Ayahmu. Setelah segala sesuatu yang Ibu lakukan, dia membalasnya dengan selingkuh dan menceraikan Ibu."
Pengertian muncul dan Chanyeol berkata, "Itu alasannya kenapa hak asuhku jatuh ketangan Ibu bukan Ayah, karena Ayah sudah selingkuh dengan Bibi Jihyun."
Ibu Youngmi mengangguk. "Ibu tahu kau cinta pada Ayahmu dan memisahkanmu dengan Ayahmu adalah hal tersulit yang pernah Ibu harus lakukan. Tapi Ibu tidak rela kau dibesarkan oleh Jihyun. Kau darah daging Ibu dan Ibu bertanggung jawab sepenuhnya padamu. Oleh karena itu Ibu berkata pada hakim bahwa Ayahmu sudah selingkuh. Itu adalah hal paling memalukan yang pernah Ibu akui. Untung saja Kakek dan Nenekmu sudah tidak ada waktu itu, karena Ibu tidak tahu bagaimana Ibu akan menghadapi mereka kalau mereka tahu tentang itu."
Ibu Youngmi mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Chanyeol. "Ibu minta maaf atas perlakuan Ibu kepadamu selama ini. Ibu sekarang sadar bahwa semua tindakan Ibu yang sebenarnya ditujukan untuk menyakiti Ayahmu, actually menyakitkanmu juga. Will you forgive me?"
Chanyeol melihat Ibunya yang tidak pernah menunjukkan emosinya sama sekali kepada siapapun sedang berusaha mengontrol tangis dan dia langsung bangun dari kursinya dan berlutut dihadapan Ibunya, memeluknya. "Of course. Dan aku minta maaf atas perlakuanku kepada Ibu selama ini," ucap Chanyeol pelan.
"It's okay. You didn't know the whole story," balas Ibunya.
Setelah beberapa menit Chanyeol melepaskan Ibunya. "Omong-omong tentang the whole story, kalau Ayah menceraikan Ibu untuk menikahi Bibi Jihyun, kenapa aku tidak pernah melihat Bibi Jihyun lagi setelah Ayah dan Ibu cerai?"
Ibu Youngmi terkekeh. "Tanpa sepengetahuan Ayahmu, Jihyun ternyata masih berhubungan baik dengan suaminya. Selama proses perceraian Ibu dengan Ayah dan dalam proses menunggu, dia sudah jatuh cinta lagi dengan suaminya. Jihyun langsung memutuskan hubungan mereka, berhenti bekerja dan ikut suaminya ke Jeju. Ibu tidak tahu lagi ceritanya setelah itu."
"Kapan Bibi Jihyun pindah ke Jeju?"
"Sekitar setahun setelah Ibu dan Ayahmu cerai, kenapa?"
"Itu waktu Ayah mulai sering muncul di rumah dan pada dasarnya minta rujuk dengan Ibu." Kini semuanya lebih masuk akal bagi Chanyeol. Segala kejadian yang sebelumnya membuatnya bingung karena kehilangan satu bagian penting yang bisa menjelaskan semuanya, kini terlihat jelas baginya.
"Yes," balas Ibu Youngmi dan sudah tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Awalnya Chanyeol hanya bisa menatap Ibunya dengan bingung dan sedikit khawatir, tapi kemudian dia ikut tertawa. Sudah lama dia tidak mendengar suara tawa Ibunya dan suara itu betul-betul menyentuh hatinya.
"Dari mana Ibu tahu tentang berakhirnya hubungan Ayah dengan Bibi Jihyun?" Tanya Chanyeol setelah tawanya reda.
"Karena Ayahmu bercerita pada Ibu waktu dia minta rujuk. Tentu saja Ibu menolaknya mentah-mentah. Apa yang Ayahmu lakukan pada Ibu adalah suatu pengkhianatan yang tidak bisa dilupakan begitu saja, dan bagaimanapun Ibu mencoba melupakannya, Ibu tidak bisa maka dari itu Ibu tidak bisa memaafkannya,"
"Apa Ibu pernah menyesali keputusan Ibu?"
"Every damn day of my life, terutama kalau Ibu melihat caramu menatap Ibu. Penuh dengan kekecewaan dan terkadang tanpa emosi."
Chanyeol merasa seperti baru saja dihantam oleh beton, dadanya sakit karena rasa bersalah yang mendalam. Dia tidak tahu bagaimana Ibunya menyimpan rahasia sebesar ini selama bertahun-tahun.
"Ibu kenapa tidak pernah bercerita padaku tentang semua ini sebelumnya?"
"Karena kau masih terlalu kecil waktu semua itu terjadi. Ibu hanya menunggu hingga kau lebih dewasa agar bisa mengerti semuanya, tapi ternyata setelah kau dewasa, semuanya sudah terlambat. Kau sudah terlanjur membenci Ibu, dan Ibu tidak melihat keuntungan dari menghancurkan nama baik Ayahmu hanya untuk membuatmu mencintai Ibu."
"Ibu lebih memilih aku membenci Ibu daripada menjelek-jelekkan nama Ayah di mataku?" Tanya Chanyeol, mencoba mengerti logika Ibunya.
"Kalau itu lebih bisa membuat hatimu tidak terbebani," balas Ibunya sambil mengangguk.
"Oh, mam, you're so wrong. Hatiku selalu terasa berat karena aku tidak pernah mengerti tindakan Ibu. You could've spared me all the heartache kalau saja Ibu cerita padaku kejadian sebenarnya dari dulu. Perkawinan Ibu dan Ayah betul-betul memengaruhi pilihanku untuk tidak pernah menikah, karena aku tidak mau hidupku didominasi oleh orang lain hanya karena aku mencintai orang itu. Aku takut aku akan berakhir seperti Ayah kalau aku membiarkannya. Kalau aku tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam perkawinan Ibu dan Ayah, pendapatku akan beda. Aku mungkin lebih bisa let people in."
"Well, now you know. Mudah-mudahan pandanganmu tentang pernikahan akan berubah. Ibu harap sakit hatimu bisa terobati dan kau bisa melanjutkan hidupmu dengan lebih tenang setelah ini."
Chanyeol mengangguk dan berkata, "Thanks for telling me everything mom," dan memeluk Ibunya dengan erat.
Melalui percakapan dengan Ibunya, Chanyeol akhirnya bisa mengerti dan memaafkan segala tindakan yang dilakukan Ibunya terhadap dirinya dan Ayahnya. Dan itu adalah obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan patah hati. Perlahan-lahan dia merasakan hatinya mulai utuh. Chanyeol melangkah kembali ke dalam rumah.
Baekhyun yang sedang menonton TV langsung meloncat berdiri ketika melihatnya dan tanpa permisi lagi Chanyeol langsung memeluk istrinya itu dengan erat.
"Thank you," bisik Chanyeol.
"For what?" Tanya Baekhyun balik.
"Karena sudah menjadi istriku," balas Chanyeol.
"You're welcome." Dan Baekhyun berjinjit, mencium pipi Chanyeol.
Chanyeol tidak tahu bagaimana dia bisa seberuntung ini, akhirnya dia menemukan seseorang yang betul-betul mengerti dirinya. Dengan Baekhyun dia tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar tentang semua tindakannya, karena dia tahu Baekhyun mengerti dirinya luar dalam tanpa dia harus menjelaskannya dengan kata-kata.
Bulan November tiba dan Chanyeol membawa Baekhyun pergi honeymoon ke pulau Nami, jauh dari segala sorotan media dan masyarakat. Staf hotel tentunya mengenali Chanyeol dan Baekhyun, tetapi mereka sudah cukup terlatih untuk menjaga jarak dan memberikan Chanyeol serta Baekhyun privasi. Selama 2 minggu mereka menghabiskan setiap detik bersama-sama dan menikmati kehadiran satu sama lain.
Pada suatu sore, ketika mereka membicarakan tentang rencana masa depan mereka, Chanyeol mengumumkan bahwa dia menginginkan setidak-tidaknya 2 anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Baekhyun hanya tertawa mendengarnya karena jujur saja, dia tidak ada niat untuk menjadi seorang ibu, oleh sebab itu dia selalu meminta Chanyeol agar mengenakan pengaman kalau mereka bercinta dan selama ini Chanyeol selalu menghormati permintaannya. Lain waktu, mereka akan duduk bersama-sama di balkon kamar hotel mereka, Baekhyun dengan novel terbarunya dan Chanyeol dengan iPadnya. Dan mereka bisa melakukan ini dalam diam selama berjam-jam. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa perlu mengisi kesunyian dengan kata-kata karena mereka merasa nyaman hanya dengan keberadaan satu sama lain. Dan rasa nyaman ini berlanjut sehingga mereka pulang ke Seoul dan melanjutkan kehidupan mereka bersama-sama. Baekhyun tidak pernah merasa sebahagia ini sepanjang hidupnya. Dia merasa seperti sedang terbang ke awang-awang dan dia tidak pernah mau turun lagi ke bumi.
Tapi tentu saja akhirnya dia perlu turun ke bumi. Pertama-tama dengan kepulangan Irene ke Korea pada bulan Desember. Baekhyun tidak tahu bagaimana wartawan tahu jadwal kepulangan Irene, tapi nyatanya mereka menemui Irene dan bayinya yang kini sudah berumur 5 bulan di bandara. Kali ini Baekhyun langsung tahu berita itu dari Wendy dan dia langsung menelepon Chanyeol untuk memastikan bahwa dia siap dengan segala berita yang akan menyerangnya lagi dengan kepulangan Irene, tapi panggilannya tidak dijawab. Baekhyun mencoba menenangkan dirinya dengan mengatakan bahwa kemungkinan suaminya sedang ada di studio untuk menyelesaikan albumnya yang akan launch akhir tahun ini, sebab itu dia tidak mengangkat telponnya. Ketika beberapa jam kemudian Baekhyun sekali lagi mencoba menelpon kantor MRAM. Panggilan itu dijawab oleh salah satu staf yang mengatakan bahwa Chanyeol sudah keluar semenjak sebelum makan siang dan belum kelihatan lagi semenjak itu. Sekali lagi Baekhyun berusaha tetap tenang dan meneruskan pekerjaannya.
Ketika dia pulang, Baekhyun mendapat laporan dari Minah bahwa Chanyeol masih juga belum kembali. Pada saat itu Baekhyun mulai sedikit panik. Dia takut bahwa sesuatu telah terjadi pada Chanyeol karena Chanyeol selalu memberitahu kalau dia ada rencana pergi dan kapan dia akan kembali. Maka dari itu, tingkah laku Chanyeol kali ini betul-betul meninggalkan tanda tanya besar. Baekhyun tidak ingin menelpon Jongdae atau Ibu Youngmi karena dia tidak mau membesar-besarkan keadaan. Selama beberapa jam kemudian Baekhyun memaku dirinya di depan TV untuk melihat apakah ada kecelakaan atau tragedi lainnya yang mungkin menimpa Chanyeol. Dia tertidur di sofa di ruang TV dan terbangun pada pukul satu pagi, menemukan bahwa Chanyeol masih belum muncul. Akhirnya dia pun pergi tidur sendiri.
Keesokan harinya dia terbangun lebih awal daripada biasanya. Dia menemukan Chanyeol sedang tidur disampingnya. Baekhyun tidak mendengarnya masuk tadi malam, tapi dia bersyukur bahwa setidak-tidaknya Chanyeol sudah pulang. Kemudian rasa kesal muncul ke permukaan dan dia berdebat dengan dirinya sendiri apakah dia mau membangunkan Chanyeol dan menuntut penjelasan darinya kemana dia semalam dan kenapa dia tidak mengangkat atau membalas semua telpon darinya, sekarang juga.
"Ow," ucap Baekhyun pelan. Tanpa Baekhyun sadari, dia sudah mengepalkan tangannya terlalu keras sehingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya.
Sambil mengusap telapak tangannya yang memerah, Baekhyun memandangi wajah Chanyeol yang kelihatan resah di dalam tidurnya. Kalau dia sedang tidak kesal dengannya, Baekhyun mungkin akan membelainya hingga kerutan pada wajahnya menghilang, tadi pagi ini yang dia inginkan adalah melemparkan bantal pada suaminya yang telah membuatnya khawatir tidak keruan tadi malam. Kalau Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun hanya akan tinggal diam setelah diperlakukan seperti ini tanpa penjelasan apa-apa, dia sudah salah sangka. Tapi Baekhyun tidak ingin bertengkar dengan seseorang yang tidak 100% sadar, akhirnya dia memutuskan untuk menunggu hingga Chanyeol bangun sebelum melakukan serangannya.
Baekhyun memaksa dirinya bangun dan mempersiapkan diri untuk pergi kerja. Sehingga dia sudah akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar tidur, Chanyeol masih belum bangun, akhirnya setelah menunggu selama 10 menit dan Chanyeol masih belum bangun juga, Baekhyun meninggalkan suaminya tanpa pamit. Dia bertekad menyelesaikan masalah ini sepulangnya dia dari kantor.
Setelah pekerjaan selesai di kantor, Baekhyun langsung buru-buru pulang, dia sudah tidak sabar ingin menuntut penjelasan dari Chanyeol tentang status Absence Without Leavenya, tetapi sekali lagi ketika dia sampai di rumah, Chanyeol sudah menghilang dan sepertinya tidak ada satu orang pun yang tahu kemana dia pergi. Sekali lagi Baekhyun mencoba menelepon Chanyeol. Semenit kemudian dia menutup telpon sambil mengerutkan keningnya. Baekhyun tidak tahu apa yang sedang terjadi pada suaminya sehingga dia berkelakuan aneh seperti ini. Baekhyun mencoba membuang jauh-jauh kecurigaannya bahwa perubahan pada tingkah laku Chanyeol ada hubungannya dengan kepulangan Irene, tapi gut-feelingnya mengatakan lain.
To be continued.
I'm back guys! hehehe
Btw monmaap kalo misal banyak typo di chap ini karena aku ngga cek lagi.
Menurut kalian gimana sama chap ini nih?
