Celebrity Wedding
by
AliaZalea
Dengan sesopan mungkin agar tidak membuat Irene histeris dan menangis seperti ketika dia pertama kali datang menemuinya, Chanyeol berkata, "Irene, aku sarankan kau bicara dengan Mino tentang keadaan Aciel, supaya dia bisa membantumu. Mino itu Ayahnya Aciel, kalau dia tahu Aciel sakit, dia pasti akan membantu. Aku tidak akan bisa selalu available untukmu."
Irene yang berusaha menghindar ketika tahu alasan kenapa Chanyeol mendatangi rumahnya, tetapi tidak berhasil, berkata dengan nada yang terdengar sedikit panik, "Hah? Kau nih berbicara apa sih? Aku tidak mengerti. Kau tahu kan kalau Aciel memerlukanmu, kalau aku perlu kau."
"Dokter Kim kan sudah bilang kalau Aciel akan baik-baik saja, bahwa kau hanya harus lebih menjaga dia supaya dia tidak jatuh sakit."
"Tapi, Yeol..." Irene berusaha membantah.
"Irene... aku sudah janji membantumu semampuku, dan aku sudah mencapai tahap kemampuanku. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untukmu," ucap Chanyeol setenang mungkin.
"Kau tidak bisa meninggalkanku begini, Yeol," teriak Irene. Dari tatapan matanya Chanyeol tahu bahwa Irene akan mulai histeris lagi.
Chanyeol menggenggam bahu Irene dan mengguncangkannya. "Irene, tenang. Kau tidak sendirian. Kau ada Ibumu dan Mino, yang juga bisa membantumu kalau saja kau minta baik-baik dari mereka."
"Tapi aku perlu kau Yeol. Please, jangan tinggalkan aku sendirian."
"Irene... kau tahu kan kalau aku ini care padamu? Tapi aku sudah menikah, dan aku mencintai istriku." Irene kelihatan sedikit terkejut ketika mendengar kata-kata Chanyeol. Jangankan Irene, Chanyeol sendiri juga terkejut ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tapi dia sudah tidak bisa membohongi dirinya lagi. Dia memang mencintai Baekhyun. Entah kenapa dia baru menyadarinya sekarang, tapi dia tidak akan rela melepaskan ide ini sekarang atau sampai kapanpun.
Melihat wajah Irene yang masih kelihatan tidak percaya. Chanyeol menambahkan, "Hubunganku dengan istriku jadi terganggu karena hubunganku denganmu. Dan thanks karena foto yang sudah tersebar melalui tabloid, dia pasti menyangka bahwa aku selingkuh denganmu. Dia mungkin berencena meninggalkanku, as we speak. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau itu sampai terjadi."
"Bagaimana bisa kau lebih memilih dia daripada aku? Dia tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan denganku," teriak Irene frustasi.
Diluar sangkaan Irene, Chanyeol malah tertawa terbahak-bahak mendengar komentar ini. Chanyeol tidak tahu kenapa dia justru tertawa mendengar Irene menghina satu-satunya wanita yang pernah dicintainya, daripada memaki-makinya. Mungkin karena rasa rindunya kepada Baekhyun, wajahnya, senyumnya, suaranya, leluconnya, bibirnya dan tubuhnya yang hangat. Kombinasi dari semua ini selalu membuatnya merasa seperti laki-laki paling beruntung di seluruh dunia karena bisa memilikinya. Dan dia hanya memerlukan waktu satu detik untuk mengambil keputusan terbesar yang pernah dia buat sepanjang hidupnya.
Dengan nada sepelan mungkin, tetapi penuh dengan ancaman, dia berkata, "Irene, Irene... kau tidak akan pernah mengerti aku. Tapi Baekhyun mengerti aku. Seluruh Korea Selatan mungkin mencintaimu, tapi aku yakin bahwa pendapat mereka akan berubah kalau mereka tahu betapa egoisnya kau ini. Selama berbulan-bulan, aku sudah dimaki-maki oleh media dan masyarakat karena kesalahan yang kau buat. Aku tidak akan memintamu supaya minta maaf kepadaku karena kau sudah selingkuh dengan Mino sewaktu kita masih pacaran, tapi aku minta satu hal kepadamu. Selesaikan masalahmu dengan Mino. Aku memberimu waktu 48 jam untuk membersihkan namaku dari tuduhan bahwa Aciel adalah anakku, kalau pada saat itu kau masih belum melakukannya, aku akan menggelar konferensi pers dan mengatakan yang sebenarnya."
Mendengar kata-kata Chanyeol wajah Irene langsung memucat. Chanyeol menyangka bahwa Irene akan jatuh pingsan sebentar lagi, tapi ternyata wajahnya memucat karena dia sangat marah sampai terbata-bata ketika mengucapkan makiannya. "Da-dasar laki-laki ku-kurang ajar. Aku seharusnya tidak kaget melihat perlakuanmu kepadaku, semua orang sudah mengingatkanku tentangmu. Kau tidak pernah menghargaiku selama kita pacaran dan kau tidak menghargaiku sekarang. Kau memang ada isu dengan wanita, Yeol. Istrimu pasti wanita kurang waras karena mau menikahi laki-laki sepertimu."
Wajah Chanyeol tidak memberikan reaksi apa-apa mendengar penghinaan ini, tetapi kata-katanya yang tajam langsung membuat Irene terdiam. "Sekali lagi aku mendengarmu menjelek-jelekkan istriku, aku akan menuntutmu atas dasar merusak nama baik. Ingat Irene... 48jam, tick tock... tick tock." Kemudian Chanyeol keluar dari rumah Irene secepat mungkin sebelum perempuan itu mulai melayangkan lampu meja kearahnya.
Baekhyun terbangun dengan jantung yang berdebar-debar dan dia membutuhkan beberapa menit untuk menyadari keberadaannya. Sinar matahari berwarna jingga yang masuk dari jendela memberitahukannya bahwa hari sudah cukup sore dan dia harus pulang. Pakaian kerja yang masih menempel pada tubuhnya kini sudah kusut dan ketika dia melirik bantal yang tadi ditidurinya masih agak basah karena air mata, dia kembali sadar kenapa dia berada disini.
CHANYEOL. Nama yang tadinya tidak berarti apa-apa, kemudian terlalu berarti baginya. Dia seharusnya memercayai kata-kata Jessica ketika dia mengatakan bahwa Chanyeol akan menyakitinya. Baekhyun tidak percaya bahwa dirinya sudah begitu angkuh, begitu confident akan kemampuannya untuk menghandle Chanyeol, karena jelas-jelas sekarang dia tidak mampu melakukannya. Baekhyun menguburkan wajahnya ke dalam kedua tangannya. Chanyeol sudah tidak jujur padanya. Mungkin dia bahkan tidak pernah berkata jujur sepanjang mereka menikah, tetapi Baekhyun segera membuang pikiran kotor itu jauh-jauh. Dia selalu percaya pada kata-kata Chanyeol, karena dia bukan tipe laki-laki tidak jujur, but then again... seberapa tahunyakah dia tentang laki-laki yang dinikahinya ini?
Perlahan-lahan Baekhyun menapakkan kakinya di lantai marmer yang dingin dan memaksa dirinya berjalan menuju kamar mandi. Cermin diatas wastafel menunjukkan seorang wanita yang kelihatan lelah dan putus asa. Baekhyun mulai menanggalkan pakaiannya dan masuk kedalam shower. Dia perlu berpikir dan kamar mandi adalah satu-satunya tempat dimana dia bisa melakukannya tanpa ada gangguan dari orang lain.
Baekhyun sudah menaruh kepercayaan, hati dan masa depannya kepada laki-laki yang tidak akan mampu memberikan hal yang sama padanya karena lain dengan dirinya yang sudah jatuh cinta dengan Chanyeol, Chanyeol tidak pernah jatuh cinta pada dirinya. Baekhyun mencoba mengingat-ingat apakah Chanyeol pernah mengucapkan kata "I love you" padanya, dan sadar bahwa Chanyeol tidak pernah mengucapkannya sekalipun. Selama ini dia sudah salah menginterpretasikan segala tindakannya yang sebetulnya hanya kepedulian sebagai cinta? Apakah Chanyeol hanya melihatnya sebagai aset yang harus dijaganya dengan baik karena dengan begitu dia bisa menyelamatkan kariernya? Dan sekarang, karena kedua hal tersebut sudah tercapai, Chanyeol sudah tidak membutuhkannya lagi.
Perlahan-lahan segala sesuatunya mulai terlihat dengan lebih jelas. Baekhyun sadar bahwa selama beberapa bulan belakangan ini dia sudah diperlakukan seperti seorang idiot. Bahkan ada kemungkinan bahwa Jongdae, Sehun, Seulgi, dan Ibu Youngmi tahu akan rencana Chanyeol, dan itu membuatnya merasa dikhianati oleh orang-orang yang dia pikir adalah teman. Mereka semua pasti puas tertawa terpingkal-pingkal mengetahui bahwa wanita sepintar dirinya bisa diperdaya oleh mereka dengan begitu mudahnya. Dan itu adalah hal paling menyakitkan yang pernah dirasakan olehnya. Baekhyun mematikan shower, meraih handuk, dan melangkah keluar kamar mandi. Ketukan pada pintu kamar menghentikan gerakan jari-jarinya yang sedang menyisiri rambutnya yang masih setengah basah.
"Hei, kau sudah bangun. How are you feeling?" ucap Jessica sambil melongokkan kepalanya.
"Better," jawab Baekhyun dan mencoba tersenyum.
"Good." Jessica melangkah masuk sambil mengangguk-anggukan kepalanya, tidak pasti apa yang harus dia katakan selanjutnya. Kemudian, "Apa aku perlu telpon keluargamu?"
Baekhyun menggeleng. Dia perlu menyelesaikan masalah ini sendiri, tanpa ada gangguan dari siapapun juga, terutama keluarganya. Masalah yang dihadapinya sekarang adalah antara dirinya dan Chanyeol, dan satu-satunya orang yang bisa menjawab semua pertanyaan yang sudah berputar-putar di kepalanya adalah Chanyeol.
"Bisa tolong antar aku pulang?"
"Pulang?" tanya Jessica terkejut. "Kemana?"
"Ke rumah," balas Baekhyun yang berjalan menuju pakaian kerjanya yang dia telantarkan diatas tempat tidur dan mulai mengenakannya kembali.
"Maksudmu rumah Chanyeol?" tanya Jessica, tidak percaya dengan kata-kata itu. Baekhyun mengangguk.
"Do you think that's a good idea?"
"Aku perlu bicara dengan dia. Aku perlu menyelesaikan masalah ini yang aku yakin pasti hanya salah paham aja."
"Bagaimana mungkin seorang suami selingkuh karena salah paham?"
Baekhyun mengembuskan napas dengan keras. "Itulah masalahnya. Aku perlu tanya pada Chanyeol apa dia sedang selingkuh dengan Irene."
"Baek, mana ada laki-laki yang akan mengaku kalau mereka sedang selingkuh? Itu sebabnya kenapa jenis hubungan seperti itu disebut sebagai selingkuh, karena sang istri tidak pernah tahu."
"Apa kau akan mengantarku pulang atau aku perlu memanggil taksi?" tegas Baekhyun.
"Baek..."
"Please Jess. I need to do this, okay," pinta Baekhyun sambil menatap Jessica dengan tatapan memohon.
Baekhyun tahu bahwa Jessica sama sekali tidak puas dengan keputusannya, tapi dia akhirnya mengalah dan berkata, "Tadi Chanyeol telpon. I think he's on his way. He can take you home."
"Chanyeol is coming?" tanya Baekhyun terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Chanyeol akan datang mencarinya setelah dia pada dasarnya menghindarinya selama beberapa hari ini.
"Dia telpon beberapa kali ke HP-mu, tapi tidak aku angkat. Lalu dia telpon kesini..." Tiba-tiba Jessica berhenti berkata-kata dan berjalan dengan cepat menuju jendela yang menghadap ke halaman depan. Kemudian berteriak, "Gila, he's really here."
Baekhyun pun mengikuti Jessica menuju jendela. Dia melihat Chanyeol melompat turun dari Range Rovernya dan berjalan cepat menuju rumah. Tidak lama kemudian dia mendengar bel rumah berbunyi.
Chanyeol merasa super nervous dalam perjalanan menuju rumah Jessica, tapi itu tidak ada bandingannya dengan ketika dia membunyikan bel rumah itu dan dengan harap-harap cemas, menunggu hingga pintu itu dibuka. Dia sudah bertekad untuk memaksa masuk kalau Jessica tidak memperbolehkannya bertemu dengan Baekhyun. Dan dia baru saja akan menekan bel itu sekali lagi ketika pintu rumah terbuka dan Baekhyun berdiri dihadapannya. Chanyeol langsung tidak bisa bernapas. Baekhyun memang mengenakan pakaian kerjanya, tapi lain dari biasanya, pakaian kerja itu kelihatan kusut, seperti dia mengenakannya untuk tidur. Mata Baekhyun kelihatan sedikit merah seperti habis menangis dan Chanyeol ingin bertanya kenapa rambutnya basah. Namun lebih dari itu semua, yang dia inginkan adalah menarik Baekhyun kepelukannya dan mengucapkan permohonan maaf berkali-kali sampai Baekhyun memaafkannya, tapi dia takut Baekhyun akan menamparnya kalau dia melakukan itu. Sesuatu yang patut diterimanya setelah apa yang dia lakukan kepada Baekhyun.
Dan ketika otaknya bisa memerintahkannya untuk menarik oksigen, satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya adalah, "Hei," dan Chanyeol ingin menabrakkan kepalanya ke dinding.
"I want to go home," ucap Baekhyun dan berjalan melewati Chanyeol menuju mobil.
Awalnya Chanyeol hanya bisa menatap punggung Baekhyun dengan bingung, tapi kemudian dia sadar dan segera mengikuti Baekhyun. Ketika dia melirik ke belakang, dia melihat Jessica sedang berdiri diambang pintu sambil bersedekap. Dia sepertinya sedang berusaha membolongi kepala Chanyeol dengan tatapannya. Chris yang berdiri dibelakang istrinya hanya bisa memberikan tatapan kasihan pada Chanyeol.
Chanyeol tahu bahwa Baekhyun sedang jengkel padanya dan dia tidak tahu cara terbaik untuk menenangkan Baekhyun. Selama ini dia tidak pernah peduli kalau seorang wanita jengkel padanya, tapi dengan Baekhyun, semuanya lain. Dia menyisirkan jari-jarinya pada rambutnya sebelum berkata, "Bisa kita bicara? Aku harus menjelaskan semuanya padamu."
Baekhyun menoleh, tapi tidak berkata-kata, dia hanya mengangguk kaku. Chanyeol merasa bersyukur ketika Baekhyun mengangguk dan memulai penjelasannya.
"Aku minta maaf karena kau harus melihat fotoku dengan Irene di tabloid. Aku menemani Irene untuk bertemu dokter anak hari itu. Anaknya lahir dengan kondisi kurang sehat, dan Mino menolak bertanggung jawab. Irene tidak punya siapa-siapa yang bisa dimintai tolong, jadi dia datang padaku dan aku tidak bisa menolak. Aku tahu bahwa aku seharusnya bilang padamu tentang semua ini sebelumnya, tapi kupikir aku bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibatkanmu."
Baekhyun hanya berdiam diri mendengar penjelasannya, membuat Chanyeol khawatir. Dia lebih suka Baekhyun memaki-makinya, bukannya mendiamkannya seperti ini. Dan Chanyeol baru saja akan mengatakan sesuatu ketika kata-kata Baekhyun memotongnya.
"Apa kau masih punya feeling untuk Irene? Karena kalau kau merasa seperti itu, kurasa hubungan kita sebaiknya disudahi saja. Aku tidak pernah harus bersaing dengan wanita lain untuk seorang laki-laki, dan aku tidak akan melakukan itu sekarang. Kalau kau mau Irene, aku tidak akan jadi penghalang. Aku bisa keluar dari rumahmu dalam 24 jam dan kau akan bebas melakukan apa saja yang kau mau."
Mendengar perkataan Baekhyun ini, Chanyeol langsung panik. "No, no, no no... Please don't do that. Aku sudah tidak punya feeling apa-apa untuk Irene. Tidak ada sama sekali."
Melihat Baekhyun masih kelihatan ragu, Chanyeol mencoba mengontrol kepanikannya dan berkata dengan nada lebih tenang, "Tidak ada wanita lain yang pernah terlintas di dalam pikiranku semenjak kita menikah. Soal Irene, aku hanya mencoba membantu seorang teman yang sedang menghadapi masalah. Itu saja. Aku sudah minta Irene untuk menyelesaikan masalahnya sendiri mulai sekarang, dan aku sudah memberi ultimatum padanya untuk membersihkan namaku dalam waktu 48 jam, kalau tidak aku akan menggelar konferensi pers dan membersihkan namaku, tidak peduli bahwa itu akan menghancurkan namanya dan Mino."
"Kalau kau memang hanya mau membantu Irene, kenapa kau harus melakukan ini dengan sembunyi-sembunyi, kenapa tidak terus terang denganku?" tanya Baekhyun dengan suara pelan.
Chanyeol mengembuskan napas sebelum menjawab, "It's complicated."
Chanyeol tidak tahu kenapa dia mengatakan itu, tetapi dia pikir itulah kata-kata yang lebih pantas untuk diucapkan daripada, "Karena aku mencintaimu... setengah mati dan kalau kau tahu apa yang sedang kulakukan, kau pasti akan mengamuk. Kau akan memintaku untuk tidak membantu Irene, dan aku akan membantah permintaanmu karena aku merasa bersalah kalau tidak membantunya. Kau akan merasa tersinggung karena aku lebih mengutamakan mantan kekasihku daripada kau, dan kau kemungkinan akan meninggalkanku. Dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau itu sampai terjadi." Baekhyun belum siap mendengar ini semua sekarang, terutama kata cinta darinya. Dia akan menunggu untuk mengucapkan kata-kata itu hingga Baekhyun bisa mengambil keputusan apakah dia akan memaafkan dirinya atau tidak setelah mendengar penjelasannya. Dia tidak mau memaksa Baekhyun untuk memaafkan tindakannya yang sudah jelas-jelas menyakitkan hatinya sekarang hanya karena dia mengucapkan kata cinta padanya.
Baekhyun tidak memberikan reaksi apa-apa atas kata-katanya, dan setelah 10 menit Baekhyun masih berdiam diri, Chanyeol berkata, "Can you say something?"
"Apa anak Irene akan baik-baik saja?" tanya Baekhyun.
"Dia masih perlu check up setiap 6 bulan sekali, dan kesehatannya harus sering dimonitor, tapi dia akan baik-baik saja."
"Good."
Chanyeol mengangguk. Kemudian Baekhyun berdiam diri lagi, dan Chanyeol mengucapkan kata-kata yang dia tidak pernah ucapkan sebelumnya kepada wanita manapun juga. "Baekhyun, aku minta maaf untuk semuanya." Chanyeol melihat Baekhyun mengangguk dan mereka duduk dalam diam selama 1 jam kedepan. Chanyeol mencoba memanuver mobilnya di dalam kepadatan kota Seoul pada rush hour. Baekhyun memilih menumpukan perhatiannya pada jendela mobil, sehingga Chanyeol tidak bisa melihat ekspresi wajahnya ketika seorang pedagang koran yang memegang tabloid dengan fotonya dan Irene pada cover melewati mobil mereka. Tapi Chanyeol tahu bahwa Baekhyun tidak suka melihat foto itu karena dia segera mengalihkan perhatiannya dari jendela dan menatap lurus ke depan. Ekspresi pada wajah Baekhyun membuat Chanyeol merasa bersalah, kesal, dan kecewa pada dirinya karena sudah menaruh ekspresi itu pada wajah Baekhyun.
"Tanganmu kenapa?" tanya Baekhyun tiba-tiba.
"Hah?" tanya Chanyeol balik.
Baekhyun mengulang pertanyaannya sambil menunjuk kepada buku jari tangan kanan Chanyeol masih kelihatan merah dan sedikit bengkak, hasil adu jotosnya dengan Mino.
"Oh...," Chanyeol ragu sejenak dan berkata, "It's... nothing." Sekarang bukanlah saatnya untuk membuat dirinya kelihatan seperti pahlawan hanya karena dia mau Baekhyun menilainya dengan lebih positif. Baekhyun tidak mengatakan apa-apa lagi hingga mereka sampai di rumah.
To be continued.
Baca-baca komen kalian semuanya ngehujat Chanyeol ya, emang dia tuh ngajak gelud wkwkwk
Oke sepertinya 3 chapter lagi, ff ini akan tamat guys!
