Celebrity Wedding

by

AliaZalea


Chanyeol terbangun dan menemukan dirinya sendirian diatas tempat tidurnya yang besar. Dia melirik beker yang ada disamping tempat tidur dan melihat bahwa hari masih cukup pagi. Dia bertanya-tanya kemanakah Baekhyun pergi pagi-pagi begini pada hari Sabtu? Perlahan-lahan dia memaksa tubuhnya untuk bangun dan harus menggeram karena otot-otot tubuhnya yang protes setelah diperlakukan dengan semena-mena tadi malam. Mau tidak mau dia tersenyum mengingat hal-hal yang dia lakukan dengan... koreksi kepada Baekhyun tadi malam, reaksi Baekhyun dibawah sentuhannya dan segala permintaan, permohonan, dan pujian yang diucapkannya. Dia duduk diatas tempat tidur selama beberapa menit untuk melemaskan otot-ototnya sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi. Hubungan mereka tadi malam telah mencapai level yang berbeda. Itu mungkin disebabkan karena dia sudah tidak menyentuh Baekhyun selama lebih dari sebulan, tapi dia tidak yakin bahwa itulah alasan kenapa Baekhyun menatapnya seakan-akan dia sedang mencoba mengingat setiap garis yang ada pada wajah Chanyeol, sementara Chanyeol mendominasinya. Chanyeol menggeleng, berusaha mengosongkan kepalanya sejenak dari bayangan Baekhyun sementara tubuhnya disiram air hangat.

Setelah keluar dari shower dan baru saja akan mengoleskan pasta gigi pada sikat giginya, Chanyeol menyadari bahwa ada yang aneh pada meja wastafelnya yang untuk pertama kalinya kelihatan lebih rapi daripada biasanya. Perlahan-lahan dia mulai menyikat giginya. Dia baru saja selesai berkumur ketika dia menyadari bahwa sikat gigi Baekhyun tidak ada pada tempatnya, lotion dan segala pernak pernik kewanitaannya juga sudah hilang dari dalam kamar mandi. Masih belum sadar penuh akan keanehan ini, dia berjalan ke dalam kamar tidur dan mulai mengenakan pakaiannya. Dia sedang berjalan kearah tempat tidur untuk mengambil jam tangan yang ditinggalkannya diatas night stand tadi malam ketika mendapati bahwa kamar tidurnyapun kelihatan lebih rapi dari biasanya. Tidak ada satu bukupun yang berserakan diatas meja maupun sofa. Mulai merasa was-was, dia kemudian berjalan kembali ke lemari pakaiannya dan menggeser pintu lemari pakaian sebelah kiri yang penuh dengan pakaian... pakaiannya, bukan pakaian Baekhyun seperti seharusnya. Tidak ada sehelai pakaian Baekhyun yang tersisa. Jantung Chanyeol langsung menabrak tulang rusuknya.

Tanpa sadar dia sudah berlari keluar dari kamar tidurnya dan tanpa memedulikan penglihatannya yang agak sedikit kabur tanpa lensa kontak atau kacamata, dia menuruni anak tangga sekali tiga, menuju lantai bawah. Area kolam renang kosong melompong. Chanyeol berlari ke lantai dasar. Diruang makan Chanyeol menemukan Minah yang sedang menyiapkan sarapan, dia kelihatan terkejut ketika melihat Chanyeol berlari melewatinya menuju ruang TV dan ruang tamu seperti orang kesetanan. Chanyeol tidak menemukan Baekhyun dimana-mana. Memperkirakan bahwa Baekhyun mungkin pergi ke studio, dia langsung berlari ke taman belakang, tapi sekali lagi dia kecewa karena Baekhyun tidak ada disana. Dia berlari kembali masuk kedalam rumah dan langsung mengangkat interkom untuk bertanya kepada satpam kalau saja Baekhyun sudah keluar pagi itu, tapi satpam mengatakan bahwa tidak ada orang yang keluar dari tadi malam. Chanyeol sudah kehabisan ide dan napas ketika menyadari satu tempat lagi dimana Baekhyun akan berada dan dia segera berlari menaiki tangga lagi.


Sekali lagi Baekhyun memutar tubuhnya, mencoba memastikan bahwa dia tidak meninggalkan apa-apa di rumah Chanyeol. Semua barangnya sudah tersimpan rapi di dalam beberapa boks besar dengan label masing-masing. Dia hanya menunggu kedatangan truk MyRelo yang akan mengangkat semua barangnya kembali ke apartemennya yang sudah kembali kosong setelah kontrak Ellis berakhir beberapa hari yang lalu. Dia juga sedang menunggu hingga Chanyeol bangun dari tidurnya agar dia bisa pamit kepada calon mantan suaminya itu. Tugasnya sudah selesai dan dia seharusnya lega bahwa sandiwara ini sudah berakhir dan bahwa dia akan kembali lagi ke apartemennya, rumahnya, dan kehidupannya yang tenang sebelum dia bertemu dengan Chanyeol, tapi yang dia rasakan jauh dari kata lega.

Dia sudah merasakan bagaimana hidup dengan Chanyeol dan dia tidak yakin dia bisa hidup tanpanya lagi, tapi kemudian dia mengingat apa yang Chanyeol telah lakukan padanya dan hal itu membuatnya yakin bahwa dia telah membuat keputusan yang benar. Chanyeol sudah membuat perasaannya jungkir balik selama setahun belakangan ini. Dia sudah berusaha memahami Chanyeol, dan untuk beberapa saat, dia pikir dia sudah bisa mengerti laki-laki ini luar dalam, tapi kemudian Chanyeol melakukan hal-hal lain diluar skema yang dia pahami, yang membuatnya bertanya-tanya apakah dia pernah atau akan betul-betul mengerti Chanyeol. Dia sudah lelah hidup tanpa kepastian seperti ini, seperti perahu rusak yang terombang ambing ditengah lautan, hanya mengikuti gelombang dan tidak tahu dimana ia akan terdampar. Oh, sakit rasanya mencintai seseorang yang kita tahu tidak akan pernah bisa membalas rasa itu. Kini dia tahu bahwa Chanyeol tidak akan pernah mampu mencintai orang lain karena dia tidak memiliki kepercayaan terhadap orang lain untuk melepaskan hatinya begitu saja.

Braaaaaakkkkk!

Baekhyun berteriak terkejut mendengar bantingan pintu itu. Wajah Chanyeol seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya dan dia menatap Baekhyun seakan-akan dia akan mencekiknya. Itu sebelum dia melarikan matanya pada sekeliling kamar yang penuh dengan boks dan dari matanya, Baekhyun yakin bahwa Chanyeol akan membunuhnya saat itu juga.

"What are these?" tanyanya, memasuki kamar sambil menunjuk kepada boks-boks yang bertebaran.

"Ini barang-barangku Yeol," jawab Baekhyun setenang mungkin.

"Kenapa ada di boks?"

"Karena sudah siap untuk diangkat kembali ke apartemenku pagi ini."

"WHAAATTT?!" teriak Chanyeol.

Dan Baekhyun bersumpah bahwa teriakan itu sudah membuat seluruh rumah bergetar saking kerasnya, dia harus menelan ludah sebelum berkata, "Aku sedang menunggu truk datang dan mengambil semua ini. Dan bagusnya kau sudah bangun, jadi aku bisa pamit."

"Is this a joke?"

"No Yeol, it's not a joke. Aku serius."

Salah satu pembantu Chanyeol melongokkan kepalanya dan berkata, "Nona Baekhyun, ada truk di gerbang, mereka bilang nona yang pesan truk itu."

"Oh ya, tolong bilang pada satpam supaya dikasih masuk. Dan tolong tunjukkan mereka kesini, supaya mereka bisa mulai mengangkat boks-boks ini."

"Like hell!" bentak Chanyeol. "Bilang pada satpam jangan kasih truk itu masuk," perintahnya kepada pembantunya.

"Bisa tidak sih kau tidak teriak-teriak begitu pagi-pagi begini?" desis Baekhyun dan tanpa menghiraukan tatapan tajam Chanyeol, dia menatap pembantu itu dan berkata, "Kasih mereka masuk dan bawa mereka kesini secepatnya."

Pembantu itu kelihatan ketakutan dibawah pelototan Chanyeol, tapi dengan satu anggukan dan senyuman yang meyakinkan, Baekhyun mengirim pembantu itu berlari secepat kilat untuk melaksanakan tugasnya. Baekhyun mengembuskan napas sebelum menghadap Chanyeol dan berkata, "Sesuai perjanjian, aku akan mengajukan gugatan ceraiku ke pengadilan agama besok. Pengadilan tentunya akan minta kita melalui proses konseling selama beberapa bulan, tapi kita berdua akan tetap teguh pada pendirian untuk bercerai. Kalau semuanya berjalan lancar, kita sudah akan resmi cerai tahun depan."

Chanyeol sedang bertolak pinggang sambil menyipitkan matanya. Setelah beberapa saat dia berkata, "Oke, aku akan berpura-pura bahwa percakapan ini tidak pernah terjadi. Sekarang aku mau kau keluarkan semua barangmu dari boks dan kembalikan semuanya pada tempatnya di rumah ini."

Baekhyun mengangkat tasnya yang tergeletak diatas salah satu boks sebelum menatap Chanyeol. "Yeol, kontrak kita resmi habis tepat hari ini. Dan mengikuti kontrak itu kita harus cerai begitu kontrak habis. Now... beri aku waktu 2 jam untuk pindah, dan setelah itu aku akan keluar dari rumah ini dan kehidupanmu."

Baekhyun baru akan melangkah menuju pintu ketika lengannya ditarik Chanyeol, "Why are you doing this to me?"

"Doing what to you?"

"Kau akan meninggalkanku begitu saja setelah apa yang kita lalui bersama-sama? Setelah tadi malam?"

Pupil mata Baekhyun sedikit melebar mendengar Chanyeol menyebut-nyebut tadi malam. Sejujurnya, pagi ini, dengan pikiran yang lebih jernih, dia merasa sedikit malu dengan semua hal yang dia lakukan kepada Chanyeol dan apa yang dia bolehkan Chanyeol lakukan padanya. Tapi dia tidak bisa mengatakan bahwa dia menyesalinya. Dia memerlukan dosis terakhir intimasi dengan Chanyeol. Dia hanya ingin mengenang saat-saat terakhir itu sebelum menguncinya dengan rapat dibagian otaknya yang bertugas untuk menyimpan memori yang sepatutnya dilupakan saja.

"Aku yakin kau akan baik-baik saja," balas Baekhyun datar.

"No I won't. Goddamn it!"

"Aku hargai kalau kau berhenti menyumpah di depanku. Bisa tolong lepaskan lenganku?" pinta Baekhyun dan dia mendengar Chanyeol menyumpah lagi, tapi dengan lebih pelan sebelum melepaskan lengannya.

"Kau melakukan ini karena kau masih marah padaku soal Irene. Aku sudah jelaskan padamu semuanya. Apalagi yang kau mau dariku?"

"Nothing. Aku tidak mau apa-apa darimu," balas Baekhyun.

"Jangan bohong. Semua orang selalu mau sesuatu darilku. Katakan padaku apa maumu?"

"Kepercayaan penuh darimu. Satu hal yang kau tidak akan pernah bisa berikan padaku atau siapapun," teriak Baekhyun.

"What are you talking about? Tentu saja aku bisa memberikan kepercayaanku kepadamu..."

Baekhyun mendengus sinis memotong kata-kata Chanyeol. "No, you can't, karena kau bahkan tidak tahu arti kata itu. Bagaimana kau bisa memeberikan sesuatu yang kau bahkan tidak mengerti artinya atau mampu menghargainya."

Dan Chanyeol merasa seakan-akan Baekhyun baru saja menamparnya. Apa maksudnya dengan mengatakan bahwa dia tidak mengerti arti kata "kepercayaan"? Tentu saja dia mengerti.

Tanpa disangka-sangka Chanyeol, Baekhyun mengulurkan tangannya dan menyalaminya dan Chanyeol merasa ingin membunuh perempuan satu ini. Sebelum Baekhyun sadar apa yang sedang terjadi, dia sudah diselubungi oleh tubuh Chanyeol didalam pelukan yang sangat erat sehingga menyumbat pernapasannya, tapi Baekhyun tidak keberatan dengan pelukan itu, yang membuatnya merasa menyatu dengan Chanyeol. Ya Tuhan, kenapa dia masih tetap mencintai laki-laki yang sudah menyakitinya sedalam ini? Dia tidak bisa menolaknya semalam dan dia tidak yakin dia mampu melepaskannya sekarang.

"Don't do this. Please... I beg you. Please stay with me. I'll do anything," bisik Chanyeol dengan suara serak.

Andai saja suatu pernikahan bisa sukses tanpa cinta dan kepercayaan, tapi Baekhyun tahu bahwa itu bukanlah definisi perkawinan yang sebenarnya. Akhirnya Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya.

"Baekhyun, please..." pinta Chanyeol.

Pada detik itu kru MyRelo muncul sehingga Chanyeol harus melepaskan pelukannya pada Baekhyun, yang langsung mengambil beberapa langkah menjauhinya. Chanyeol ingin menarik Baekhyun keluar dari kamar itu agar dia bisa berbicara dengannya, tapi Baekhyun sengaja tidak menghiraukannya dan mulai memerintahkan kru MyRelo untuk mengangkat barang-barangnya. Akhirnya Chanyeol tidak punya pilihan selain melangkah keluar dari kamar itu.

Baekhyun sadar ketika Chanyeol meninggalkan kamarnya, dan dalam hati dia mengucapkan selamat tinggal kepada satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya bahagia dan meremukkan hatinya pada saat yang bersamaan.


To be continued.


Halo guys!

Oiya ngga berasa berasa nih kalo fanfic ini chapter depan udah end lho huhuhu