Episode 2: Seperti Api Bergelora
.
.
.
.
"... Jadi apa yang ingin kau bicarakan Atobe?"
"Enaknya apa yang harus kita bicarakan?"
"... "
akhirnya mereka pun berakhir di dalam kafe dan duduk di tempat VIP yang sudah dipesan oleh Atobe sebelumnya.
"... kau tidak perlu sampai memesan tempat VIP."
"Ini tempat langgananku, tentu saja ini juga menjadi tempat favorit. Kau lihat? Kita bisa melihat pemandangan kota yang indah di sudut ini."
Tibalah seorang pelayan yang sudah sangat kenal dengan Atobe dan menyapa dengan gembira.
"Ah, tuan Atobe, selamat datang kembali. Kali ini anda mau pesan apa?"
Atobe melirik pelayan itu, dan membuka menu.
"Ne, Tezuka, kau mau makan apa? Hari ini aku yang traktir."
"...aku bisa membayarnya."
"Oi, aku yang mengajakmu ke sini, maka aku yang bertanggung jawab."
"...Atobe... "
"Kau tidak senang?"
"... lakukan sesukamu."
Setelah memesan, Atobe pun mengeluarkan card yang ada di sakunya itu, dan memberikannya kepada pelayan tersebut. Sembari menunggu makan, mereka pun berbincang-bincang sebentar.
"...jadi?"
"Tezuka, selain tenis, kau suka melakukan hal lain apa? "
"Tidak biasanya kau bertanya seperti itu."
Atobe yang duduk di depannya itu hanya tersenyum sambil menunggu jawaban Tezuka. Sambil menghela napas, Tezuka pun menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Memanah."
"Ahn? Ternyata kau ahli memanah juga."
"Ah..."
Hening tiba-tiba menghiasi suasana. Atobe menatap sahabatnya dengan penuh arti. Tezuka yang tidak menyadari hal ini, hanya terus meneguk minuman yang dipesannya. Sambil tersenyum, Atobe pun meletakkan cangkirnya di meja, sambil menatap cangkir itu.
"Kau tahu tidak, Tezuka..."
Tezuka memandangi rivalnya yang sedang memandangi cangkirnya itu.
"Bahwa, orang yang kusukai ternyata memiliki keseharian yang sangat biasa?"
Mendengar perkataan itu, Tezuka diam dalam keheningan. Teringat kembali ingatan-ingatan kemarin ketika Atobe memulai pembicaraan orang yang ia sukai itu. Mendengar hal itu, Tezuka mulai merasa jantungnya berdetak dengan cepat, tetapi dengan sedikit kebingungan atas perasaannya itu.
"... kemudian?"
"Tetapi, karena kebiasaan yang sederhana itulah, yang membuatku sangat tertarik kepadanya..."
"...? "
"...mungkin... ore tertarik dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia selalu penuh dengan kejutan."
"... Souka. Kenapa kau memberitahuku tentang ini?"
Kemudian hening, sampai akhirnya pelayan datang dan membawakan makanan yang telah dipesan.
"Hei, kita ini kan rival sekaligus teman, tentu saja ada saat di mana aku ingin menumpahkan apa yang kupikirkan ke temannya."
"Tapi...aku bahkan tidak begitu mengenalmu dengan dekat."
"Ahn, siapa bilang? jika kau tidak mengenalku dengan dekat, kau tidak akan meminta bantuanku, seperti saat kau sedang direhabilitasi."
"..."
Tezuka mengambil makanan yang dipesannya. Seperti biasa, makanan yang paling murah, karena ia selalu tidak enak meminta bantuan Atobe untuk membayar semua.
"... kalau aku boleh tahu..."
"Ahn?"
"Siapa orang yang kau sukai itu?"
Atobe terdiam sambil meletakkan kembali secangkir teh yang telah dipesannya. Dan ia pun tiba-tiba tertawa.
"HAHAHAHA...Ahn,, kau ingin tahu? Kalo begitu, coba kau tutup matamu sebentar Tezuka, aku ingin memberi tahu sesuatu. Ore-sama akan tunjukkan orang yang dicintainya di depanmu."
"...*menghela napas* aku tidak ingin melakukannya."
"Ahn, bukannya tadi kau sangat penasaran? Tutuplah matamu sebentar, Tezuka. Belajarlah sedikit lebih suportif."
Menghela nafas, kemudian Tezuka pun menutup matanya. Ia bahkan tidak tahu apa yang merasuki dirinya sampai ia menyetujui permintaan rivalnya ini. Menurutnya, hal seperti in bagaikan anak kecil saja yang menunggu diberi hadiah. Meskipun begitu, ia menunggu sambil bertanya-tanya, siapa orang yang bisa memikat hati raja itu? Atobe meski terlihat gampangan, ia sebenarnya susah untuk menemukan sosok yang cocok dengannya. Ketika sedang berpikir, tiba-tiba ia merasakan sesuatu di bibirnya. Ya, sesuatu yang halus, menciumnya. Tezuka beranjak kaget ketika benda halus itu membuka mulutnya lebih lebar dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Akhirnya Tezuka mengetahui apa benda yang ia maksud. Itu adalah bibir. Sebelum ia dapat membalas, ada tangan yang sangat erat memegang tangan dan badannya agar tidak bergerak. Ditambah lidah orang itu terus berkutat dengan lidahnya, sampai akhirnya Tezuka membuka matanya sedikit untuk melihat siapa pemilik bibir itu. Ia sangat terkejut dan matanya pun terbuka dengan sangat lebar. Orang itu tidak lain adalah, Atobe.
"..."
Tezuka, membuka pintu kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya sambil meratapi langit. Ia masih ingat kejadian itu. Kejadian yang sangat tidak terduga baginya. Bibir Atobe, masih teringat dengan jelas. Ia masih ingat perbincangan mereka. Perbincangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh seorang Tezuka. Ia masih ingat juga, ketika ia dengan paksa mengakhiri ciuman itu, dan pergi dari cafe itu tanpa melihat Atobe di belakangnya.
"Kunimitsu, saatnya makan. Jangan lupa memberi makan ikan Koi sekalian."
"... Ya.. "
Terdengar wanita yang tidak lain adalah ibu Tezuka. Terlalu banyak yang dipikirkan oleh Tezuka, sehingga makanan pun terasa hambar. Ia masih teringat kejadian yang begitu nyata. Ketika ia sedang terjatuh dalam pemikirannya, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Baru saja Tezuka membuka pintunya, Tezuka terkejut dengan sosok yang sangat ia kenal. Ya, teman lamanya, Sanada Genichiro.
"... Silahkan masuk." Perasaan canggung mulai terbentuk, karena sudah lama sekali Tezuka tidak melihatnya.
"Masih bisa menyuruhku masuk ternyata. Aku pikir kau sudah akan membatu di sana. Lama tak berjumpa, Tezuka..."
"..."
Di kamar yang cukup untuk dua orang itu, membuat suasana menjadi cukup tegang karena keheningan yang terus menghantui kamar itu.
"Jadi Tezuka, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Tezuka yang sedang terlalu banyak pemikiran, mengingat kembali kejadian yang telah ia alami bersama Atobe. Ya, seorang Atobe, menyukai laki-laki yang sangat sederhana, Tezuka Kunimitsu. Tezuka tidak habis pikir, bahwa Atobe sudah menyukainya sejak lama.
"Oii! Tezuka! Kau dengar tidak?"
"Ah...maaf. Ya, aku dengar, jadi ada apa?"
"... *menghela napas*, kau benar benar bengong. Ternyata seorang Tezuka Kunimitsu bisa bengong juga. Ada masalah apa sampai kau seperti itu? Apa... sih rivalmu itu?"
"itu tidak ada urusannya denganmu."
"Tezuka... kau seharusnya tahu, bahwa aku teman kecilmu. Aku tahu semua seluk beluk yang ada di mukamu sekarang."
Tezuka kemudian melihat Sanada dengan tatapan yang cukup tajam, menandakan bahwa ia tidak suka dengan keikutsertaan Sanada dalam masalah personalnya. Teman kecilnya itu pun merasa sedikit bersalah atas apa yang baru saja ia lakukan.
"... Maafkan aku telah ikut campur dalam urusanmu, tetapi... "
"..."
"Kau harus tau... aku sangat mengkhawatirkanmu. Belakangan kau jadi sangat dekat dengan "dia". Kau seharusnya tahu bahwa dia laki-laki yang akan melakukan apapun, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia sangat berbahaya. Kau harus waspada. Itu saja nasihat dariku, aku tidak akan ikut campur."
"...Terima kasih atas kekhawatiranmu Sanada. Tetapi, aku baik-baik saja."
"..Baiklah jika kau berkata begitu."
Kemudian dua sahabat itu kembali melanjutkan topik pembicaraan mereka sampai akhirnya Sanada pun pamit untuk pulang. Malam hari telah datang menyambut. Tetapi, Tezuka masih mengingat kejadian itu. Kejadian yang di luar pikirannya.
"... jika saja aku tidak mengikuti permintaannya.."
menyesali apa yang ia perbuat, tetapi merasakan jantungnya berdebar dengan kencang. Tezuka kemudian sudah berakhir dengan piyama dan di atas tempat tidurnya. Tanpa ia sadari, ia pun terlelap dalam tidurnya.
Maaf baru update :")
anyway enjoy ^^
