Love You Again

Part 3

Main Cast : Jaeyong (Jaehyun x Taeyong) NCT

Warning : BXB (Boys Love)

..

IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. Thank You

Sorry for Typos

Happy Reading

..

Keadaan Jaehyun dengan Taeyong sangatlah canggung. Masalahnya, kini mereka di tinggal hanya berdua oleh anak-anak nya. Jeno dan Mark pergi entah kemana, mereka mengatakan kalau mereka masih mempunyai urusan di sekolah, sehingga membuat Jaehyun dan Taeyong harus terjebak di antara kecanggungan ini.

Jaehyun berdeham, guna mencairkan suasana yang sangat kaku. "Bagaimana kabar mu, Taeyong?"

Taeyong tersenyum kecil, "Aku baik, seperti yang kau lihat. Ku lihat kau juga baik-baik saja."

Jaehyun menganggukan kepalanya, "Ya."

"Boleh aku bertanya?" tanya nya serempak. Sehingga membuat mereka sama-sama mengerutkan keningnya.

Jaehyun tertawa, dan itu mengundang senyum untuk Taeyong. "Kau boleh lebih dulu bertanya, Taeyong."

"Apa itu Jung Minhyung? Anak ku?"

Jaehyun tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Ya, dia Mark."

"Aku senang kau bisa membesarkannya seperti sekarang, dan ku lihat kau sangat menyayangi nya."

"Aku masih belum bisa menjadi ayah yang hebat untuk anak kita, Taeyong."

"Kau sudah mampu membesarkan nya hingga sekarang, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau kau adalah ayah terhebat, Jaehyun."

"Terima kasih atas pujiannya, dan bolehkah aku bertanya sekarang?"

Taeyong menganggukan kepalanya.

"Anak itu siapa? Anak mu?"

Taeyong menghembuskan nafasnya, sebenarnya dia sangat tidak ingin memberitahu Jaehyun soal Jeno, tapi kalau sudah terjebak seperti ini tidak mungkin dia berbohong. "Ya, namanya Lee Jeno."

"Menggunakan marga mu?"

Taeyong menganggukan kepalanya. "Ya, karena dia anak ku. Aku ibu sekaligus ayahnya."

"Jadi? Dia anak ku?"

Taeyong terdiam, tidak menjawab pertanyaan Jaehyun. Sedangkan sang mantan suami sangat menunggu jawaban dari nya.

"Taeyong, aku hanya ingin tahu. Bagaimanapun jika dia anak ku, aku berhak bertanggung jawab atas nya."

"Kau sudah memiliki Mark, jadi Jeno, biarkan aku yang bertanggung jawab penuh atasnya." Taeyong terlihat emosi, karena dia berfikir kalau Jaehyun akan kembali mengambil anaknya dari tangannya.

Jaehyun menghembuskan nafasnya, setelah 12 tahun sifat Taeyong tak berubah sama sekali. "Jangan selalu berperasangka buruk terhadap ku, Taeyong. Inilah yang membuat hubungan kita rusak, apa yang kau pikirkan belum tentu sama dengan kenyataan."

Taeyong menatap Jaehyun tajam. "Kau ingin mengungkit soal masa lalu kita? Itu sudah dua belas tahun berlalu Jaehyun, kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing jadi tidak perlu mencampuri kehidupan ku."

Jaehyun menatap Taeyong dengan lembut, namun tidak bisa melembutkan hati Taeyong yang sedang di kuasai oleh emosi. "Taeyong, maksud dari anak-anak mempertemukan kita agar menjadi sebuah keluarga. Mereka tidak tahu, jika sebelumnya kita sudah mempunyai sebuah hubungan. Maka dari itu, untuk kembali menjalin hubungan ini, kita sama-sama saling belajar dari kesalahan di masa lalu kita."

"Kau selalu merasa paling benar, ini yang aku tidak suka dari sifat mu Jaehyun. Kau selalu menghakimi ku, seakan-akan aku yang paling bersalah dalam kandasnya hubungan kita."

"Aku tidak menghakimi mu, aku hanya ingin hubungan ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Jangan terlalu percaya dengan prasangka mu, karena itu belum tentu benar."

"Lebih baik kita batalkan saja rencana anak-anak. Dan mari jalani kehidupan masing-masing seperti biasanya." Taeyong beranjak dari duduknya, dan hendak ingin pergi meninggalkan Jaehyun, sebelum sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.

"Taeyong, mari kita bicarakan baik-baik."

Tanpa menjawab, Taeyong melepaskan tangan Jaehyun paksa dari pergelangan tangannya, lalu pergi meninggalkan mantan suaminya yang hanya bisa menatap kepergiaan dengan tatapan sendu.

-o0o-o0o-

"Mom, bagaimana pertemuan tadi?" Jeno berjalan menghampiri Taeyong yang sedang duduk melamun. Jeno terkejut saat dia dan Mark kembali ke restoran, mereka sudah tidak menemukan orang tua mereka disana.

Taeyong menghembuskan nafasnya, sedikit menyesali perkataannya kepada Jaehyun siang tadi. Dia baru merasa kalau perkataannya cukup menyakiti Jaehyun, padahal sebelumnya dia juga berpikir kalau kandasnya hubungan mereka karena keegoisan nya. Tapi mendengar Jaehyun yang berbicara terlalu menyudutkan nya, dia jadi merasa tidak terima. Membuat emosi menguasinya.

"Jeno, lebih baik sudahi perjodohan ini."

"Kenapa? Mom tidak merasa cocok dengan ayah teman ku?"

"Mungkin, ya."

"Apa dia kurang tampan? Atau kurang baik? Katakan pada ku, mom."

"Tidak, dia tampan, sangat tampan. Dan juga sangat baik, justru mom yang merasa tidak pantas untuk orang sesempurna dia."

"Why? Mom juga cantik, mom juga baik. Apa yang membuat mom tidak sepercaya diri itu?"

"Sayang, apa kau tidak bahagia jika kita hidup berdua saja?"

"Bukan seperti itu mom. Tapi, ku rasa jika aku mempunyai ayah, hidup kita jadi lebih sempurna. Bukan begitu?"

"Maafkan mommy, sepertinya mommy belum siap."

Jeno menghembuskan nafasnya. "Baiklah, aku akan menunggu hingga mom merasa siap."

Sepeninggalan Jeno, Taeyong menjadi memikir ulang soal perjodohan anak-anak nya. Masalahnya di pertemuan pertama mereka, setelah sekian lama tidak bertemu saja sudah menimbulkan masalah baru. Taeyong tidak menyalahkan Jaehyun, karena setelah di pikir dengan kepala dingin, dialah yang bersalah. Taeyong takut, jika nanti mereka kembali menjalin rumah tangga, hubungan mereka kembali kandas seperti sebelumnya.

-o0o-o0o-

"Jaehyun, eomma dengar dari Mark kau sudah mempunyai calon ibu untuk nya?"

Jaehyun menghembuskan nafasnya gusar sambil memijat pangkal hidungnya. "Bukan aku yang mencari, tapi anak itu yang menjodohkan aku dengan ibu temannya."

Ny. Jung tertawa keras. "Wahh, eomma rasa anak mu itu sudah bosan hanya tinggal berdua dengan ayah nya yang menggilai pekerjaan nya."

"Eomma masalahnya adalah, ibu dari temannya itu ternyata Taeyong."

Ny. Jung menghentikan kekehannya, dan sekarang memandang anaknya dengan bola mata yang membulat. "Taeyong?"

Jaehyun menganggukan kepalanya. "Ya, dia Taeyong. Dan ternyata, selepas dia bercerai dengan ku, Taeyong sedang mengandung. Dia tinggal dengan anak kedua kami."

"Tunggu, jadi anak-anak mu yang menjodohkan kalian?"

Jaehyun menganggukan kepalanya.

"Tapi, apa mereka tahu kalau kalian adalah orang tua mereka?"

"Untuk Mark tidak tahu, bahkan dia sudah lupa bagaimana rupa ibu nya. Apalagi Jeno, dia lahir tanpa ku, mana mungkin dia mengenal ku."

"J... Jadi, ibu nya Jeno adalah ibu ku juga?" tanya Mark yang ternyata sedari tadi mendengar pembicaraan ayah dan nenek nya.

Jaehyun menghembuskan nafasnya, dan menatap sendu anak nya.

"Jawab pertanyaan ku, Dad." Teriak Mark kesal, karena bukannya menjawab, Jaehyun justru hanya menatap nya.

"Ya." Jawab Jaehyun singkat.

Setelah mendapatkan jawabannya, Mark segera berlari ke kamarnya. Memasukan pakaian nya ke dalam koper, lalu menghubungi Jeno untuk menanyakan alamat rumah nya.

Jaehyun menghampiri Mark yang sedang sibuk merapihkan pakaiannya kedalam koper sehabis menghubungi Jeno.

Jaehyun mengerutkan keningnya. "Kau mau kemana, Mark?" tanya Jaehyun dengan nada paniknya.

"Aku ingin pergi, dan tinggal dengan mommy."

"Kau ingin meninggalkan ku? Disini, sendirian?"

"Daddy selalu mementingkan pekerjaan di banding aku, jadi lebih baik aku pergi dan tinggal dengan mommy." Setelah selesai mengemas pakaiannya, Mark berjalan pergi meninggalkan Jaehyun yang hanya menatap dengan pandangan tidak percayanya.

Jaehyun berlari mencoba menyusul anak nya. "Hey Kiddo, berhenti bercanda. Ini sungguh tidak lucu."

Tanpa menjawab ucapan ayah nya, Mark pergi keluar dari rumah yang menjadi saksi bisu atas perjuangan Jaehyun membesarkan nya hingga sekarang.

Jaehyun ingin mengejar Mark, bagaimana pun dia belum siap untuk di tinggal anaknya. Bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Jaehyun jika Mark akan pergi meninggalkannya sendirian. Tapi langkah nya terhenti karena ibu nya menahan tangannya.

"Eomma lepaskan, aku harus mengejar Mark. Anak itu ingin pergi dari ku." teriak Jaehyun frustasi, sambil mengacak rambutnya dengan sebelah tangannya.

"Tenangkan dirimu Jaehyun. Mark sudah besar, sudah saat nya dia tahu dimana ibu nya berada. Sekeras apapun kau menghalangi nya untuk bertemu ibu kandungnya, itu tidak akan berguna sama sekali. Biarkan dia tinggal dengan ibu nya sebentar, pada waktunya dia akan tetap kembali kepada mu."

"Bagaimana jika dia tidak kembali?"

"Percaya dengan eomma."

Jaehyun menghembuskan nafasnya, mungkin apa yang di katakan ibu nya memang benar. Lagi pula dia masih bisa memantau Mark dari jauh.

-o0o-o0o-

Jeno membulatkan matanya saat membuka pintu rumah, sudah menemukan Mark dengan koper besar di samping sisi kanannya. "Hyung?"

"Jeno, siapa yang bertamu?" tanya Taeyong sambil menghampiri anaknya yang masih berdiri tepat di depan pintu masuk rumah.

Setelah melihat kehadiran Taeyong, tanpa aba-aba Mark langsung menerjang tubuh Taeyong dan memeluknya dengan erat.

Jeno tentu saja terkejut atas perlakuan Mark terhadap ibunya. Kenapa Mark merasa begitu dekat dengan ibunya. Sedangkan, mereka baru pertama kali bertemu beberapa jam yang lalu?

Jeno semakin membulatkan matanya saat Mark mengatakan.

"Mom, aku mencarimu, dan aku sangat merindukanmu."

..

..

To Be Continued...

..

Aku sedikit gak pede sih mau update part ini, kaya kepaksa gitu kan ya? Hehehe merasa alur nya malah kaya berantakan gitu gak sih?

Maaf ya akhir akhir ini aku merasa insecure sama tulisan ku, kaya apa yang aku tulis buruk banget disetiap katanya :(