Love You Again
Part 4
Main Cast : Jaeyong (Jaehyun x Taeyong) NCT
Warning : BXB (Boys Love)
..
IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. Thank You
Sorry for Typos
Happy Reading
..
Taeyong membalas pelukan Mark sambil menciumi keningnya berkali-kali. "Mom juga sangat merindukan mu."
"Apa hanya aku yang tidak mengerti dengan situasi ini?" Jeno berkata sambil menatap ibu nya dan Mark bergantian meminta penjelasan.
Taeyong memeluk Jeno lalu menuntun kedua anaknya untuk menuju ruang tengah, agar bisa menjelaskan semuanya kepada kedua anaknya.
Setelah mereka mendudukan diri di sofa, Taeyong mulai bercerita sebuah fakta yang bahkan mampu membuat Jeno membuka mulut nya. "Mommy, dengan ayah nya Mark dahulu pernah menikah. Disaat kami bercerai, saat itu Mark masih berusia 3 tahun, dan seminggu kemudian. Mommy mengetahui, jika mom sedang mengandung mu Jeno."
Taeyong menjelaskan semuanya tanpa ada yang di lewati dan di tutupi. Bahkan saat kedua anaknya mempunyai banyak pertanyaan, tentang alasan kenapa orang tuanya bisa bercerai, atau tentang bagaimana manisnya hubungan orang tuanya saat bersama dulu. Taeyong dengan sabar memberitahukan semuanya kepada anak-anaknya.
Jeno sedikit jengah melihat kelakuan Mark yang sangat manja terhadap ibu nya. Bayangkan saja, sejak dia datang Mark tidak pernah sekalipun melepaskan pelukannya kepada Taeyong. Bahkan saat ibu nya menjelaskan tadi, dia masih tetap memeluk ibu nya sambil meletakan kepalanya di bahu ibu nya.
Dan sekarang dia mengatakan kepada Taeyong kalau perutnya lapar, karena belum makan saat keluar dari rumahnya. Mungkin Jeno tidak mempermasalahkan itu, tapi yang menjadi permasalahannya adalah kakak nya itu meminta di suapi oleh ibu nya. Sungguh Jeno merasa di duakan jika seperti ini.
-o0o-o0o-
Taeyong memakaikan selimut untuk kedua anaknya yang sekarang sedang bersiap untuk tidur. Tak lupa dia juga memberikan kecupan selamat tidur di kening kedua anaknya. "Selamat tidur dua jagoan ku."
Setelah mematikan lampunya, dan menyalakan lampu tidur yang ada di nakas, Taeyong melangkah keluar dari kamar Jeno.
Saat Jeno ingin memejamkan matanya, Mark tiba-tiba terkikik pelan.
"Hyung, jangan menakutiku."
"Hey, bukankah ini sebuah takdir?"
"Huh?"
"Kita? Kau tau rencana kita? Menjodohkan orang tua kita. Tetapi ternyata orang tua kita adalah mantan suami."
"Ya, kau benar hyung."
Mark tertawa pelan, karena tidak ingin membuat Taeyong curiga. "Wah, jika begini aku mempunyai banyak akal untuk menyatukan keluarga kita lagi."
"Apa yang akan kau lakukan, hyung?"
"Kau tenang saja adik ku, semua rencana sudah tersusun sangat rapih disini." Mark menunjuk kepalanya dengan senyum bangga.
"Lalu kapan kau pulang?"
"Kau mengusir ku?"
"Bisa jadi."
"Aku akan tinggal disini untuk beberapa hari, jadi kau harus terbiasa untuk melihatku."
"Tidak masalah, tapi aku kesal melihat mu bermanja dengan mommy ku."
"Yak! Dia juga mommy ku. Mulai sekarang kita harus berbagi, kau tidak boleh serakah."
"Kau tidak sadar siapa yang serakah?"
"Kenapa? Bukannya wajar? Aku baru bertemu kembali dengan mommy setelah 12 tahun berlalu."
"Yah terserah, aku ingin tidur."
"Eish." Mark kesal sambil menendang pelan kaki Jeno.
-o0o-o0o-
Sudah sekitar 5 hari Mark tinggal di rumah Taaeyong, dan selama itu juga Jaehyun diam-diam memantau Mark setiap pagi saat tiba di sekolah.
Jaehyun sudah sampai lebih dulu sebelum kedua anaknya datang, lalu dia berdiam di dalam mobil sambil memperhatikan bagaimana Taeyong memperlakukan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang.
Dari bagaimana dia ikut turun dari dalam mobil, hanya untuk memeluk anak-anak nya. Lalu menciumi kening mereka, dan memberikan sebuah semangat dengan kedua tangannya. Lalu kembali masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan area sekolah.
Jaehyun senang, melihat senyum di kedua anaknya yang menandakan betapa bahagianya mereka saat ini. Apalagi saat melihat senyum Mark yang sangat lebar saat Taeyong mencium keningnya. Rasanya sudah lama sekali dia bisa melihat senyum itu lagi, mungkin Mark begitu sangat bahagia bisa tinggal bersama ibu nya. Jaehyun menjadi merasa sangat jahat, karena selama ini sudah memisahkan mereka.
Jaehyun melajukan mobilnya, dan saat nya dia pergi untuk bekerja. Tanpa dia tahu jika Mark sempat menoleh kebelakang hanya untuk melihat mobilnya pergi meninggalkan area sekolah. Mark sangat mengenali mobil ayahnya, dan dia tahu jika selama 5 hari ini Jaehyun terus memperhatikannya dari kejauhan.
"Aku merindukan mu, dad. Tunggu sebentar saja hingga kita bisa kembali bersama dan bahagia." Mark berucap sangat lirih dan kembali menyusul Jeno yang sudah berjalan jauh di depannya.
-o0o-o0o-
Ini sudah ke 7 hari Mark tinggal bersama Taeyong, dan dia berniat untuk pulang hari ini.
"Sebenarnya, aku masih sangat merindukan mu, mom." Saat ini dia sedang memeluk Taeyong, dan merasa sangat berat untuk melepaskan pelukan itu.
"Tinggallah lebih lama kalau begitu."
Mark menggeleng sambil melepaskan pelukannya. "Aku tidak bisa meninggalkan daddy terlalu lama, karena rumah itu terlalu besar, aku hanya takut daddy merasa kesepian."
Taeyong menatap sayang anaknya sambil menganggukan kepalanya, lalu mengelus kepala Mark lembut. "Hati-hati lah di jalan, kabari mommy jika sudah sampai."
"Baik, mom. Tapi... soal besok, mom janji akan ikut kan?"
Taeyong tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Tentu saja, mom akan ikut dengan adik mu."
Mark tersenyum senang, dan kembali memeluk Taeyong. "Daddy pasti akan sangat senang dengan pertemuan itu." Setelahnya Mark pamit untuk kembali pulang ke rumah ayah nya.
.
.
.
Mark menginjakan kakinya kembali ke rumah besar ini. Saat dia membuka pintu nya, dia sudah disambut hangat dengan pelayan yang ada di rumahnya. "Tuan muda kembali?"
"Dimana daddy?"
"Tuan ada di ruang kerjanya, selama seminggu ini Tuan sangat merindukan Tuan muda."
Mark menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada pelayannya. "Terima kasih bi."
Lalu Mark kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Jaehyun, dan membukanya dengan kasar.
Jaehyun yang berada di dalamnya sempat terkejut karena suara pintu yang di banting dengan sangat keras. Lalu setelahnya dia menatap tidak percaya dengan bocah laki-laki yang sedang berdiri di tengah ruangan sambil memasukan kedua tangannya di saku celananya.
"Kau kembali, kiddo?"
Mark hanya menganggukan kepalanya, pura-pura acuh. "Dan, daddy masih tetap sama. Selalu menghabiskan waktu dengan kertas-kertas itu."
Jaehyun tidak terlalu mendengarkan sindiran yang di lontarkan anaknya, hatinya terlampau senang mengetahui Mark kembali kepadanya. "Kau lapar? Mintalah di buatkan makanan dengan bibi Kim."
"Aku sudah makan. Aku hanya ingin mengatakan kepada, daddy. Beristirahatlah, karena besok kita akan bertemu dengan mommy dan juga Jeno."
"Untuk apa?"
"Untuk sebuah pertemuan, mungkin piknik?"
"Setelah ini selesai, daddy akan beristirahat." Jaehyun tersenyum, senang mengetahui anaknya berusaha sangat keras untuk kembali menyatukan mereka.
"Ku pikir, mommy tidak akan mau kembali kepadamu lagi, dad."
"Kenapa?"
"Lihatlah kerutan di wajah mu, yang sudah hampir memenuhi kulit wajah. Sedangkan mommy masih terlalu cantik, untuk seorang pria yang sudah tidak lagi tampan."
Jaehyun sangat memaklumi apa yang di ucapkan anaknya, maka dari itu dia hanya tersenyum menanggapi.
"Beristirahatlah yang cukup jika tidak ingin terlihat keriput, dan juga jangan terlalu sering berfikir keras. Daddy sudah cukup bekerja di kantor, jadi gunakan waktu di rumah dengan hiburan atau beristirahat." Setelahnya Mark pergi meninggalkan Jaehyun yang hanya tersenyum mendengar penuturan anaknya.
-o0o-o0o-
Keesokan harinya mereka sepakat untuk menjemput Taeyong dan Jeno. Dan sekarang ayah dan anak pertama nya itu sedang berada di mobil menuju rumah Taeyong.
"Kau tetap menjaga sikap mu kan, saat kau seminggu berada di rumah mommy mu."
"Memangnya aku ingin melakukan tindakan kriminal seperti apa?"
"Cara mu berbicara, Mark. Terdengar tidak sopan seperti saat kau berbicara kepadaku."
"Ku rasa daddy memang harus di sadarkan, dengan kata-kata seperti itu."
Tanpa menjawab lagi Jaehyun hanya mengusak pelan rambut anaknya dan kembali fokus menyetir.
.
.
Sesampainya di rumah Taeyong, Mark segera turun dari mobil dan menunggu Jaehyun keluar dari dalam mobil, tetapi sepertinya ayah nya itu tidak berniat untuk turun.
Mark kembali membuka pintu mobilnya dan melihat Jaehyun yang hanya menatap rumah di depannya sendu. "Dad, ayo masuk."
"Sepertinya kau saja yang masuk. Biar daddy tunggu di mobil saja."
"Tidak-tidak, kau jadi terlihat seperti supir di banding daddy ku." Mark menarik tangan Jaehyun, meminta Jaehyun untuk segera turun.
Jaehyun menghela nafasnya, dan mengikuti keinginan anak nya. Sedikit merapihkan penampilannya yang bahkan sudah sangat rapih, dan tampan.
"Kenapa daddy begitu sangat gugup? Bukankah seminggu yang lalu kalian sudah bertemu? Bahkan aku tidak tahu apa yang di bicarakan kalian dengan waktu secepat itu. Aku dan Jeno hanya meninggalkan kalian sekitar 30 menit, tapi saat aku kembali kalian sudah tidak ada di tempat."
Jaehyun tersenyum kecil mengingat pertengkaran nya dengan Taeyong seminggu yang lalu, setelah 12 tahun berpisah, dan di pertemuan pertama mereka sudah di bumbui dengan pertengkaran.
Sesampainya di depan pintu, Mark menekan belnya. Dan tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam lalu tampaklah Jeno yang membukakan pintu.
"Hyung sudah datang? Ayo masuk, mommy sedang menyiapkan makanan untuk piknik kita."
Jaehyun baru menyadari, jika anak keduanya terlihat seperti salinan dari dirinya, mereka terlihat sangat mirip. Ingin rasanya Jaehyun memeluk Jeno, tapi dia merasa mungkin akan membuat anak itu sedikit risih.
Mark dan Jeno berjalan menuju dapur, sedangkan Jaehyun hanya menunggu di ruang depan rumah tersebut.
"Mom, apa sudah siap?" tanya mark sambil memeluk Taeyong yang sedang memasukan kimbab kedalam kotak tempat makan.
"Sebentar lagi selesai, kau ingin minum?"
Mark menggeleng, "Daddy ada di depan." Mark bisa merasakan tubuh yang di peluknya sedikit menegang, tapi setelahnya Taeyong mencoba rileks.
"Sudah selesai, ayo kita berangkat."
Mereka bertiga berjalan menuju Jaehyun yang ada di ruang depan, hati Taeyong berdegup tindak menentu. Masih ada rasa bersalah karena pertemuan pertama mereka seminggu yang lalu.
"Dad, ayo kita berangkat."
Jaehyun sempat terdiam melihat Taeyong, tapi sayang sepertinya lelaki cantik itu tidak ingin melihatnya. Karena terus menundukan wajahnya.
Awalnya Taeyong ingin memasuki kursi mobil yang di belakang, tapi Mark langsung menahannya dan meminta ibu nya untuk menemani ayah nya di samping kursi kemudi. Dengan canggung Taeyong menuruti permintaan anak pertamanya.
Selama di perjalanan tidak ada pembicaraan, mungkin lebih tepatnya hanya Jaehyun dan Taeyong. Karena Mark dan Jeno terus berbicara banyak hal, dari soal kegiatan mereka di sekolah hingga membahas game yang mereka suka.
Sesekali Taeyong tersenyum senang, karena ini lah yang dia mimpikan di sepanjang hidup nya. Berlibur bersama keluarga kecilnya, dan mendengarkan segala ocehan anak-anaknya.
Dan senyum itu tidak luput dari pandangan Jaehyun yang juga ikut tersenyum senang. Jaehyun akan membicarakan lagi dengan Taeyong soal keluarga mereka. Melihat moment seperti ini membuat hati Jaehyun menghangat seperti di musim semi, begitu banyak bunga yang bermekaran di hati nya. Rasanya Jaehyun sanggup menukarkan seluruh yang dia punya hanya untuk melihat mereka bahagia.
.
.
Mereka tidak pergi terlalu jauh, hanya berlibur ke sebuah pantai. Melihat Jaehyun dan kedua anaknya yang bermain air di depan sana. Hari masih terlalu terik, jadi Taeyong tidak ingin bergabung.
Sesekali dia tertawa melihat Jaehyun yang di dorong hingga ketengah pantai oleh kedua anak nya. Mereka sudah basah, dan mungkin karena terlalu asyik bermain, mereka sampai melupakan jika ini sudah memasuki waktu makan siang.
Taeyong beranjak dari duduknya dan pergi menghampiri ketiganya, "Hey, kalian tidak lapar? Ini sudah waktunya makan siang."
Mark lebih dulu berlari menghampiri ibu nya, dan hendak ingin memeluk tapi Taeyong sudah lebih dulu menghindar. "Kau basah, sayang. Mommy tidak membawa baju ganti."
"Kita bisa membelinya di toko baju yang ada di sana." Tangan Mark menunjuk sebuah toko baju yang terlihat tidak terlalu jauh dari pantai.
Taeyong tersenyum sambil mencubit pipi anaknya, "Lebih baik kau lebih dulu kesana, sebelum ayah dan adik mu kesana, dan menghabiskan makanannya."
Mark membelalakan matanya dan tanpa berbicara lagi, dia segera berlari kearah tenda mereka.
Taeyong melanjutkan langkahnya menghampiri Jaehyun dan Jeno yang masih saja sibuk berenang. "Jaehyun, Jeno kalian tidak lapar?"
Jeno menoleh kearah Taeyong, dan seketika langsung berlari mengetahui jika saja Mark sudah menhabiskan makanannya.
Sedangkan Jaehyun berjalan perlahan menghampiri Taeyong lalu berjalan beriringan kembali menuju tenda. "Bukankah mereka sangat lucu?" tanya Jaehyun yang melihat kedua anak nya sedang memperebutkan makanan.
Taeyong menganggukan kepalanya, "Sudah lama sekali rasanya, aku merasakan kegembiraan seperti ini."
"Taeyong, soal pertemuan seminggu yang lalu. Aku minta maaf, jika perkataan ku menyakiti mu. Aku sangat menyesal, di pertemuan pertama kita setelah 12 tahun justru aku berbuat kesalahan hingga membuat mu marah. Maafkan aku." Ucap Jaehyun sambil menundukan wajahnya karena merasa sangat bersalah.
Taeyong menatap pria di sampingnya dengan senyuman yang tulus. "Kau tidak pernah berubah Jaehyun."
Jaehyun mengangkat wajahnya dan menatap Taeyong dengan kerutan di dahinya, pertanda dia bingung dengan maksud ucapan Taeyong.
"Kau tidak pernah berubah sama sekali. Kau selalu meminta maaf lebih dulu, walaupun kau tau itu bukanlah kesalahan mu."
"Tidak, sungguh aku yang bersalah soal seminggu yang lalu."
Taeyong menggelengkan kepalanya. "Kau tidak sama sekali bersalah, aku yang terlalu emosional. Maafkan aku, Jaehyun. Lain kali janganlah meminta maaf lebih dulu jika itu memang kesalahan ku. Tapi cobalah tegur aku jika aku salah, jika tidak seperti itu sifat ku tidak akan berubah. Aku akan terus seperti 12 tahun yang lalu, kekanakan, egois, keras kepala."
"Kau tidak seburuk itu, Taeyong."
"Dad, Mom cepatlah kesini!" teriak Mark kencang, membuat orang tuanya tersenyum dan langsung bergegas menghampiri mereka.
.
.
Sekarang mereka sedang duduk di tepi pantai, menunggu matahari terbenam. Mungkin lebih tepatnya hanya Jaehyun dan Taeyong karena kedua anaknya sudah pergi entah kemana.
"Boleh aku bertanya pada mu, Taeyong?"
Taeyong menganggukan kepalanya, tanpa menolehkan wajahnya kearah Jaehyun yang sedang duduk di sampingnya.
"Ku rasa Mark sangat ingin kita kembali bersama, atau mungkin Jeno juga. Jika aku meminta mu untuk kembali hidup bersama, apa kau mau?"
Taeyong menundukan kepalanya sambil menghela nafas lelah. "Aku tidak tahu."
"Kau sudah mempunyai kekasih?" Jaehyun mencoba bertanya, hatinya merasa cemas menunggu jawaban Taeyong. Karena jika Taeyong mengatakan 'Ya' maka sudah pupus harapan Jaehyun.
Setelah beberapa menit, Taeyong akhirnya menggelengkan kepala. Dan itu mampu membuat degup jantung Jaehyun kembali berdetak normal.
"Aku merasa belum siap saja jika harus kembali memulai sebuah hubungan."
"Kau takut jika kejadian dulu terulang kembali?"
Mata Taeyong mulai berkaca-kaca, kembali mengingat masa-masa buruk mereka saat setelah menikah. "Mungkin, ya. Aku tidak tahu, tapi walaupun itu sudah lama berlalu, entah kenapa kenangan itu selalu memenuhi otak ku. Aku belum siap, aku takut jika aku melakukan kesalahan yang sama, aku takut jika kembali menyakiti hati Mark atau sekarang Jeno juga."
Jaehyun menggenggam tangan Taeyong yang terlihat mulai gemetar. "Mungkin dahulu, kita masih sama-sama belum dewasa, masih sering mementingkan ego kita, itu wajar mengingat usia kita saat menikah sangatlah muda. Namun sekarang kita sudah sama-sama dewasa, kita bisa belajar dari kesalahan kita di masa lalu untuk memperbaiki nya di masa sekarang."
Taeyong menggelengkan kepalanya, "Maaf Jaehyun, aku masih belum siap. Aku masih takut."
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu mu hingga kau merasa siap." Jaehyun mengusap lengan Taeyong lembut, dan membawa lelaki cantik itu kedalam pelukannya.
-o0o-o0o-
Mereka telah kembali ke rumah masing-masing setelah menghabiskan akhir pekan mereka bersama. Mark sedang mengekori langkah Jaehyun, "Dad."
Jaehyun berbalik dan menatap anaknya dengan pandangan bertanya.
Mark lalu mengulurkan tangannya kedepan, seperti meminta sesuatu kepada Jaehyun.
Sedangkan Jaehyun semakin mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
"Berikan ponsel mu, dad."
"Untuk apa?"
"Berikan saja."
Tanpa banyak bertanya lagi, Jaehyun memberikan ponselnya kepada Mark. Lalu bocah laki-laki itu langsung mengetikan sesuatu di ponsel Jaehyun, dan kembali memberikannya kepada Jaehyun setelah urusannya selesai.
Jaehyun menatap barisan digit angka di ponselnya dengan bingung.
Mark membalikan tubuhnya, dan mulai melangkah meninggalkan Jaehyun. "Itu nomor ponsel mommy. Simpanlah, jika daddy merasa itu berguna."
Jaehyun menyunggingkan senyumnya. Dan dengan cepat tangannya menyimpan nomor tersebut dengan nama kontak 'Taeyongie'
Selamat malam Taeyong, ini aku Jaehyun
Mark yang memberikan nomor ponsel mu
Untuk hari ini aku mengucapkan terima kasih
karena sudah mau menyempatkan waktu untuk berlibur bersama.
Tak berapa lama terdengar bunyi balasan dari Taeyong.
Ya Jaehyun, aku juga berterima kasih karena kau sudah mau
meluangkan waktu di tengah kesibukanmu.
Selamat malam Jaehyun.
..
..
To Be Continued...
..
Lagi ada ide makanya update cepet, kalo gak langsung di ketik suka ilang idenya terbawa angin. Ini masih awalan ya, makanya moment jaeyong nya masih canggung-canggung.
Chapter depan sudah memasuki dimana Mark mengeluarkan seluruh rencananya untuk menyatukan orang tuanya.
Oh iya aku mau bertanya sama kalian, mungkin setelah aku nyelesaiin ff ini atau mungkin secepatnya deh. Aku mau buat ff baru jaeyong lagi. Kalian udah pernah ada yang baca ff chanbaek yang judul nya 10080? Niatnya aku mau buat ff tentang binary code gitu, tapi yang pasti beda alur sama ff 10080 nya, Cuma ada unsur binary code nya ajah. Enaknya oneshoot atau chapter?
Oh iya mungkin nanti ff itu bakalan aku publish nya di wattpad aja, tidak disini. Hehehe, follow dulu wp aku aquarius17girl
