[Redemption of the Sinners]

-Chapter 2-

Setiap jiwa yang mati, mereka akan kembali ke Afterlife, sebuah tempat di mana setiap jiwa akan berada dalam kondisi murni mereka. Setidaknya begitulah yang dulu pernah Jiraiya ajarkan padanya. Tetapi, tatkala kegelapan menyelimutinya, bukan dunia murni yang berada di hadapan Konan. Yang matanya lihat adalah hijaunya dedaunan, birunya langit siang, juga putihnya awan yang berarak bebas.

Pun Konan masih dapat merasakan degupan jantungnya. Ia masih dapat merasakan kembang-kempis paru-parunya. Konan masih dapat mengerjapkan matanya, menggerakkan jemarinya, ia juga masih dapat mencium segarnya bau udara. Bahkan, ia masih berbalutkan pakaian dan jubah akatsukinya. Entah bagaimana… ia masih hidup. Padahal jelas ia sudah mati, Konan bahkan masih mengingat tatkala jantungnya berhenti berdegup. Tetapi kenyataannya, ia masih hidup, tanpa luka sedikit pun.

Apa seseorang telah membangkitkannya kembali? Apa Naruto menggunakan Rinne Tensei padanya? Atau… yang terjadi sebelumnya adalah ilusi? Tidak, tidak mungkin ilusi. Kecuali jika mangekyou sharingan yang memerangkapnya, Konan tidak mungkin tidak menyadari jika ia sedang berada dalam ilusi.

Lalu, apa benar ia telah dibangkitkan? Sepertinya tidak juga. Tidak peduli sehebat apa Naruto, dia tidak mungkin bisa membangkitkannya secara instan. Jiwanya pasti pergi ke afterlife terlebih dahulu, setelah itu baru Naruto bisa menarik jiwanya dengan Rinne Tensei. Tetapi, ia tidak pernah menginjakkan kaki di afterlife barang sekejap. Apa jangan-jangan ia tidak benar-benar mati?

"Aku tidak bisa menyimpulkan jawabannya," gumam Konan sambil berusaha untuk bangun. Lalu Konan duduk bersandar pada batang pohon. Ia memang tidak merasakan rasa sakit apa-apa, tetapi Konan merasa sedikit lelah. Ia ingin sedikit beristirahat sebelum mencaritahu di mana sekarang ia berada.

Konan akhirnya meninggalkan tempatnya beristirahat tatkala mentari hendak terbenam. Ia melompat ke cabang pohon, lalu dari situ melompat ke cabang pohon yang lain. Ia harus keluar dari hutan ini secepatnya. Meskipun shinobi sangat terbiasa bermalam di luar, Konan ingin segera menemukan lokasi keberadaannya ini, karenanya ia harus menemukan perumahan penduduk secepatnya.

Konan akhirnya keluar dari hutan tiga jam kemudian. Melihat tak ada tanda-tanda keberadaan pedesaan atau perumahan penduduk, Konan menciptakan sepasang sayap kertasnya lalu terbang ke angkasa. Karena hari sudah malam, tidak akan menarik perhatian baginya untuk terbang di ketinggian. Kedua sayap kertas terkepak kuat, Konan melesat tajam ke utara mata angin.

Penerbangan Konan akhirnya membuahkan hasil. Sebuah pedesaan kecil terlihat di arah selatan, berjarak sekitar dua kali dari posisi terbangnya saat ini. Meskipun jauh, Konan dapat melihat cahaya-cahaya kecil sumber penerangan sederhana penduduk desa. Kepakan sayap Konan menguat, ia lalu mendarat tak jauh dari gerbang desa dan menghilangkan sayap kertasnya.

Konan mengangkat tangan kirinya, membuat segel tangan untuk mengaktifkan kemampuan sensoriknya. Meskipun ia tak sehebat Nagato, setidaknya Konan masih sanggup untuk berkompetisi dengan kebanyakan ninja tipe sensorik lainnya. Seketika kelopak mata Konan melebar, ia tak menemukan satu pun sumber chakra.

"Mustahil…."

Bagaimana bisa tak ada satu pun yang punya chakra? Bahkan bayi yang baru lahir pun pasti memiliki chakra, tetapi mengapa tak ada satu penduduk pun yang punya chakra?

Konan menghentikan jurusnya lalu memacukan kakinya. Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaannya adalah penduduk; ia harus berinteraksi dengan mereka. Jika ia bisa melihat kehidupan serta budaya mereka, setidaknya ia bisa menerka-nerka tempatnya tersadar tadi.

Tidak ada penjaga di gerbang desa, Konan memutuskan untuk langsung masuk.

Pintu-pintu rumah yang ia lewati sudah tertutup semuanya. Wajar saja, malam sudah tak lagi muda. Tetapi Konan tak berputus asa, ia akan mendatangi hingga ke ujung desa jika perlu. Prioritasnya saat ini adalah mengetahui di negara mana ia berada.

Tampaknya keberuntungan sedang berada di pihaknya. Ada sebuah rumah yang pintunya masih terbuka. Pun ia bisa melihat seorang wanita tua sedang mematikan lentera depan rumah. Konan lekas bergegas ke sana.

"Maaf, Nenek, sepertinya aku tersesat, boleh aku bertanya beberapa hal padamu?" tanya Konan sesopan yang ia bisa.

Nenek itu sedikit terkejut, namun keterkejutannya langsung menghilang setelah mengamati Konan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Ah, tampaknya Nona memang bukan berasal dari sekitar sini. Tentu saja boleh, apa yang ingin Nona tanyakan?"

Mengapa gerakan mulut nenek itu tidak sesuai dengan ucapannya?

"Di mana desa ini terletak?" tanya Konan, berusaha setenang mungkin.

"Hm, desa ini terletak di pinggiran Miyama, kota terselatan ibukota Slane Theocracy, Kami Miyako. Meskipun terletak agak ke pinggir, desa ini cukup aman karena ada gardu prajurit Slane Theocracy di selatan desa, berjarak dua hari perjalanan dengan kuda. Gardu itu berjarak tak terlalu jauh dari batas luar Elf Kingdom, kerajaan para orang-orang sesat."

"…?"

"Nona juga tidak tahu tentang Slane Theocracy dan Elf Kingdom?"

Konan sama sekali tidak pernah pernah mendengar ada negera yang bernama Slane Theocracy di Elemental Nations, apalagi Elf Kingdom—apa itu elf? Meskipun ia belum pernah mengunjungi semua negara-negara kecil yang mengitarari kelima negara besar, tak ada satu pun yang bernama Slane Theocracy. Selain itu, mengapa gerakan mulutnya saat berbicara berbeda dengan apa yang ia dengar? Ini aneh sekali. Seolah-olah ia berada di dunia yang bukan Elemental Nations.

...Bukan Elemental Nations?

"Maaf, Nek, apa Anda punya peta?"

"Kalau itu nenek tidak punya. Harga selembar peta itu adalah lima koin emas, itu sama dengan bayaran yang cucu nenek dapatkan dalam satu bulan. Uang sebanyak itu, sangat tidak mungkin kami sia-siakan untuk sebuah peta."

"Kalau buku, atau gambar, atau apa pun itu yang mendeskripsikan tempat ini?"

"Hm…, cucu nenek selalu membuat catatan tentang tempat-tempat yang pernah ia datangi, mau melihatnya?"

"Jika Nenek tidak keberatan."

"Baiklah kalau begitu, akan nenek ambilkan."

Di Elemental Nations, hanya ada satu tulisan dan bahasa yang dipakai oleh setiap negara yang ada. Jika tulisan yang ada di buku catatan cucu nenek itu berbeda dengan tulisannya, maka Konan tak ragu lagi kalau ia sedang tidak berada di Elemental Nations. Tetapi, bagaimana bisa? Apa sebenarnya ia tidak mati, tetapi entah bagaimana terteleportasi ke dunia lain?

"Maaf menunggu, ini lihatlah."

"Terima kasih," ucap Konan, menerima lembar catatan.

Menghela napas, Konan membalik lembar itu. Seketika matanya melebar, ia sama sekali tidak bisa membaca tulisan yang ada di situ. "…Tidak mungkin…!"

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia terteleportasi ke dunia lain? Bahkan ninjutsu ruang dan waktu hanya bisa menggunakan perantara dimensi kosong untuk pergi ke titik lain di dunia shinobi. Bagaimana bisa ia terteleportasi ke dunia lain, yang dipenuhi makhluk hidup tak berchakra? Siapa yang menteleportasikan dirinya?

"Ada apa, Nona?"

"…Tidak ada apa-apa." Konan mengembalikan lembar catatan itu. "Terima kasih atas waktunya, Nek, kalau begitu aku harus pergi sekarang."

"Eh, sudah malam begini mau pergi, apa tidak mau menginap dulu di sini hingga pagi tiba?"

"Terima kasih untuk tawarannya, tetapi saya harus memastikan sesuatu. Kalau begitu saya pergi, selamat malam, Nek."

"Kalau begitu berhati-hatilah di perjalanan, selamat malam."

Konan lekas meninggalkan desa. Di pikirannya saat ini adalah kembali ke hutan di mana ia tersadar. Tadi ia memang sudah melihat-lihat sekilas untuk mencari tahu keberadaan siapa pun/apa pun yang telah membawanya ke sana, tetapi kali ini Konan berniat untuk mengeksplor seluruh area hutan. Meskipun sangat kecil peluangnya untuk menemukan jejak-jejak sesuatu yang membuatnya berada di dunia ini, setidaknya ia harus memastikan kalau asumsinya benar.

Jika ia bisa menemukannya, itu akan memberikan peluang untuknya kembali ke Elemental Nations.

Mimpinya, mimpi Yahiko, mimpi Nagato, mimpi Akatsuki… Naruto sedang memperjuangkannya sendirian. "Aku telah gagal membantu Yahiko dan Nagato, kali ini… aku tak ingin gagal membantumu, Naruto."

()—

Naruto mendudukkan dirinya di bantalan jendela kamarnya, kepala bersandar di bingkai jendela. Satu kaki Naruto ditekuk sedang satu lagi terselonjor. Tangan kanannya berada di atas lutut kanan, sementara tangan kiri terjuntai bebas. Wajah Naruto menghadap ke luar jendela, iris hitamnya terpaku pada bulan purnama yang menyinari daratan dengan cahaya pucatnya. Tatkala pandangan Naruto berpindah dari rembulan ke daratan, cahaya-cahaya dari lampu continual light menerangi jalan-jalan desa yang menghubungkan rumah ke rumah hingga ke perkebunan. Meskipun tidak ada desa di negeri mana pun yang jalan-jalannya diterangi continual light kala malam menyapa, desa ini adalah pengecualian. Amegakure, itu adalah nama desa ini. Penduduknya adalah para budak elf mau pun half-elf yang ia beli dari Slane Theocracy dan Kekaisaran, anak-anak terlantar yang ia temui di setiap lorong-lorong kota yang gelap, orang-orang yang kehilangan tempat tinggal karena keserakahan para bangsawan, beberapa vampire yang berkelana jauh dari ujung benua lain yang ingin hidup damai, serta dua orang elder lich yang Naruto temui di perjalanan-perjalanannya.

Ia dan Konan mulai membangun desa ini lima bulan yang lalu, dua minggu setelah ia terteleportasi ke dunia ini—tiga minggu setelah Konan terteleportasi ke dunia ini. Desa ini terletak di daratan yang menjorok ke Border Lake, di sebelah selatan Dragonic Kingdom, di sisi tenggara Slane Theocracy. Sebuah pegunungan memisahkan desa ini dengan Southward Desert di sebelah barat daya, serta Floating Castle Eryuentiu di sebelah selatan. Mereka sengaja memilih lokasi itu agar lebih mirip dengan Amegakure yang sebenarnya. Selain itu, dengan dikelilingi danau, orang-orang desa tidak akan pernah kekurangan pasokan ikan. Dan seiring bertambahnya penduduk dan berkembangnya desa, danau akan menjadi sangat krusial bagi perekonomian desa. Sangat bagus sekali Dragonic Kingdom tidak memanfaatkan danau itu, Amegakure bisa memonopoli danau masif itu sepenuhnya.

Malam sudah agak larut, tetapi Naruto masih dapat melihat satu dua orang desa berkeliaran. Adanya continual light membuat suasana malam di desa ini menjadi tak sekelam desa-desa yang ada. Selain itu, desa sepenuhnya dilindungi puluhan fuinjutsu yang Naruto pasang menyelubungi desa; desa ini bahkan lebih aman daripada Konohagakure. Setidaknya itu yang Naruto percayai, tetapi sihir masih menjadi misteri baginya. Naruto tidak bisa benar-benar meyakini sistem keamanan desa jika belum memahami sepenuhnya tentang sihir.

Tiba-tiba seorang warga desa melambai ke arahnya, Naruto tak kuasa untuk menahan tangan kirinya dari melambai balik. Ia berada di lantai teratas tower setinggi lima puluh meter ini, tentu saja orang-orang akan dapat melihatnya jika mereka memandang ke arahnya. Naruto bukannya mempermasalahkan, ia hanya belum terbiasa. Di Elemental Nations, orang-orang selalu memandangnya dengan benci, dan Naruto selalu memandang mereka dengan pandangan merendahkan dan menyebut mereka sebagai monyet. Tetapi, orang-orang ini… mereka memandangnya seolah-olah ia adalah manusia yang paling mulia. Meskipun Naruto ingin menertawakan hal itu, ia tidak bisa membohongi dirinya kalau ia senang melihat mereka tersenyum seperti itu padanya. Itu membuat hatinya hangat. Itu membuatnya punya semangat lebih untuk mewujudkan tujuannya.

Derap langkah kaki menginvasi indera pendengaran Naruto, tetapi ia sama sekali tak berpaling dari memandang desa. Ia sama sekali tak perlu melihat untuk tahu siapa yang masuk. Selain Zesshi yang terlelap dalam alam mimpi di ranjangnya, hanya Konan yang punya akses masuk ke kamarnya ini.

Dari ekor matanya ia melihat Konan berdiri di sisi lain jendela, memandang hal yang sama dengan yang ia pandang. Ekspresi wanita itu datar, sekali pun Naruto belum pernah melihatnya tersenyum. Tetapi Naruto tak bisa mengatakan padanya untuk tersenyum; Konan tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Wanita berambut biru itu dua kali lebih tua darinya, dia lebih dewasa darinya, dia lebih mengerti akan dirinya sendiri lebih dari siapa pun. Namun demikian, Naruto tetap ingin melihat bibir tipis itu melengkung, membentuk untaian senyum yang pasti menyejukkan mata.

"Mengejutkan melihatnya tidur lelap di ranjangmu," ucap Konan tiba-tiba, tetapi matanya masih terpusat pada desa.

Kening Naruto mengernyit mendengar pernyataan Konan, itu kembali mengingatkannya akan permintaan tak tahu malu Zesshi. "Permintaannya adalah sesuatu yang tak bisa kupenuhi, aku terpaksa membuatnya terlelap dalam tsukuyomi sampai dia puas."

"Permintaan?"

"Dia memintaku untuk memberinya anak."

Mata Konan mengerjap, refleks dia menolehkan wajahnya pada Naruto. Naruto pun seketika memandang Konan, tiga tomoe berputar di masing-masing irisnya. "Genjutsu: Sharingan."

Dalam ilusi, Konan melihat semua peristiwa yang terjadi antara Naruto dan Zesshi. Naruto bahkan menunjukkan padanya ilusi yang ia tunjukkan pada Zesshi, yang berakhir dengan Zesshi syok lalu Naruto mendekatinya. Konan menonton dengan ekspresi datar; ekspresinya tak berubah bahkan setelah ilusi itu berakhir.

"Itu bukan permintaan yang sulit," komentar Konan. "Mayoritas lelaki pasti akan dengan senang hati memenuhinya."

"Jika aku memang harus memberikan anak pada seseorang, aku lebih memilih untuk memberikannya padamu."

"…"

"…"

Konan menghadapkan wajahnya kembali memandang desa. Naruto pun kembali memandang apa yang Konan pandang. "Tiga hari lagi aku akan kembali menemui Keeno," ucap Konan, sepenuhnya mengabaikan pernyataan Naruto tadi. "Jika dia menolak, kita tidak punya pilihan lain selain pergi ke Great Minotaur Nations. Meskipun tidak ada yang tahu apakah Minotaur Sage masih hidup atau tidak, setidaknya kita bisa mengundang salah satu muridnya untuk bergabung."

"Keeno akan bergabung," ucap Naruto, ekspresinya menjadi serius. "Dia tidak punya alasan untuk menolak, kalau pun dia menolak, aku akan menemuinya langsung."

"Kita sudah setuju untuk tidak memaksa siapa pun bergabung."

"Aku tidak berniat memaksa, aku hanya akan menunjukkan kebenaran padanya."

"Baiklah kalau begitu," ucap Konan, berbalik. "Aku akan beristirahat, selamat malam, Naruto." Konan langsung melangkah pergi, dia sama sekali tidak menunggu respon Naruto. Naruto hanya diam memandang desa di bawah sana, ia baru melihat ke arah Konan ketika wanita itu berhenti di depan pintunya. Tanpa melihat ke arah Naruto Konan berkata, "Aku dua kali lebih tua darimu, Naruto, tidak ada salahnya kau memenuhi keinginan Zesshi."

"Zesshi 249 tahun lebih tua dariku," balas datar Naruto. Meskipun Konan sudah melangkah, Naruto yakin kalau wanita berambut biru itu mendengar ucapannya. Kau hanya belum bisa melepaskan Yahiko dari hatimu, batin Naruto, sedikit frustasi.

Naruto menghela napas lelah lalu menengadahkan wajahnya memandang rembulan yang kini separuhnya telah tertutup awan. Perlahan-lahan, Naruto membiarkan kelopak matanya menutup. Di mana ia akan tidur malam ini, sedang ranjangnya ditempati Zesshi?

()—

Sinar bulan melewati celah-celah awan menyinari ibukota Draconic Kingdom, Evrillon. Kota terbesar dan teraman di kerajaan yang didirikan oleh Brightness Dragon Lord ini adalah satu dari empat kota yang tersisa, kedua kota lainnya sudah jatuh dalam kekuasan Beastman Country. Meskipun ia sudah memerintahkan semua mayor-mayor kota untuk mengungsikan para penduduk, korban yang berjatuhan yang kemudian menjadi sumber makanan para beastman sangatlah banyak. Terkadang ia merasa gagal sebagai ratu mereka, jika saja ia punya saudara yang bisa ia serahkan tampuk kekuasaannya….

Helaan napas berat mengalir keluar dari mulut Draudillon Oriculus, menjadi seorang ratu dari kerajaan yang menjadi sasaran Beastman Country bukanlah sesuatu yang seorang wanita dewasa sepertinya inginkan. Mengapa coba penguasa-penguasa sebelumnya hanya memiliki satu anak saja? Mengapa mereka tidak membuat lebih banyak anak? Tentu saja Draudillon mengerti kalau akan ada perebutan kekuasaan di antara anak-anak sang ratu/raja, tetapi itu lebih baik daripada hanya memiliki satu penerus. Ah, betapapun ia berkeluh, Draudillon tahu itu sama sekali tak ada gunanya. Ia hanya harus melakukan apa yang menjadi tugasnya dengan sekuat tenaga.

Draudillon membawa gelas yang berisikan bir berkualitas tinggi ke mulutnya. Ia meneguknya pelan, menyesapi setiap mili rasa dan ketenangan yang minuman memabukkan itu berikan. Kemudian wanita bertubuh mungil berambut pirang panjang yang ujungnya diikat itu kembali menolehkan wajahnya ke luar jendela, memandang bulan purnama yang menyinari gulita malam. "Jika setiap hari seperti ini maka hidup pasti akan sangat menyenangkan," gumamnya penuh harap.

Draudillon berdiri diam di depan jendela untuk beberapa lama, ia baru menutup kedua daun jendela setelah bir di dalam gelasnya sudah tak lagi bersisa.

Malam sudah hampir larut, tetapi Draudillon tak bisa langsung merebahkan dirinya. Masih ada beberapa laporan juga dokumen-dokumen lainnya yang belum ia periksa. Ia tak ingin membuat perdana menteri-nya bekerja terlalu keras, Draudillon harus memeriksa berkas-berkas itu sehingga esok pagi sang perdana menteri bisa langsung melaksanakan tugasnya tanpa harus mengawasi dirinya bekerja. Jadilah ia meletakkan gelas kosongnya di meja, dan mendudukkan dirinya di kursi itu.

Draudillon membaca laporan dan dokumen-dokumen itu dengan teliti. Hal-hal tidak penting ia letak di sisi kiri, hal-hal penting yang harus segera dilaksanakan ia letak di sisi kanan, sementara hal-hal yang membutuhkan diskusi dengan prime minister ia letak di depannya. Sesekali ia mengernyitkan keningnya menahan kesal melihat laporan yang menunjukkan betapa terang-terangannya beberapa bangsawan memanfaatkan warga-warga yang mengungsi untuk mendapatkan tambahan pajak. "Dasar orang-orang rakus!" sebal Draudillon. Tetapi saat ini ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan mereka, tanpa uluran tangan para bangsawan maka akan semakin sulit baginya untuk mengurus kerajaan. Meski berat, ia harus menahannya, demi keberlangsungan Draconic Kingdom.

Lembaran-lembaran laporan dan dokumen itu ia baca dengan seksama, hingga hanya tersisa dua lagi. Lalu ketika kedua lembar terakhir itu ia angkat, Draudillon mendapati sebuah amplop hitam dengan simbol awan merah. Siapa gerangan yang mengiriminya surat ini? Dari semua negeri-negeri tetangga, tak ada satu pun yang memiliki simbol awan merah. Lantas, dari mana surat ini datang?

Mengentaskan kepenasaranannya, Draudillon membuka amplop surat itu dengan hati-hati. Ia mengeluarkan selembar kertas dari sana, membacanya dengan teliti. Kata demi kata ia baca, dan semakin banyak ia membaca semakin melebar kelopak matanya. Dan perlahan-lahan bibirnya merekah, hingga kemudian ia tertawa terhibur begitu kertas itu terbakar hingga tak bersisa.

"Baiklah, buktikan kalau itu memang bukan sekadar omong kosong, Akatsuki. Aku akan menunggu."

()—

Zesshi tidak pernah merasakan tidur senyenyak ini. Ia tidak pernah merasa energinya penuh setiap kali bangun pagi, tidak seperti hari ini. Bahkan dalam ratusan tahun hidupnya, Zesshi dengan sangat meyakini kalau tidurnya ini adalah tidur yang terbaik. Mimpi yang ia alami, rasanya seperti berada di surga. Mimpi itu sangat nyata, saking nyatanya ia sampai berpikir kalau itu adalah kenyataan. Sayang sekali memang, tetapi mimpi akan berakhir tatkala pemimpi terbangun. Namun, jika bisa, Zesshi ingin berada dalam mimpi itu untuk waktu yang tiada akan pernah berakhir.

Tatkala kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Zesshi melihat hal yang tidak familiar. Langit-langit ruangan ini sangat berbeda dengan langit-langit ruang harta tempatnya tinggal. Pun ranjangnya tak seempuk ranjang miliknya, seolah-olah ia tidur bukan di kamarnya saja. Mengernyitkan kening, Zesshi mendudukkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya. Seketika pandangannya terjatuh pada seorang pemuda yang sama persis dengan yang di mimpinya. Dia duduk di kursi, menikmati minuman hangat dengan tenang. "Apa ini masih mimpi, mimpi di dalam mimpi?" tanya Zesshi, bingung.

"Ah, kau sudah bangun? Kalau begitu makanlah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."

Zesshi memperhatikan lelaki itu lamat-lamat. Tidak seperti di mimpinya yang memakai pakaian bangsawan, lelaki itu mengenakan jubah… akatsuki? Seketika kelopak mata Zesshi melebar, ekspresinya mendadak murka. "Kau… kau pasti telah memasukkanku ke dalam ilusi sialan itu lagi, kan?!"

"Bukankah itu yang kau inginkan? Aku hanya memenuhi keinginanmu saja, tidak lebih."

Zesshi mendengus pelan lalu melipat kedua tangannya di atas dada. "Aku akan bergabung jika kau bersedia memberiku anak, tetapi tampaknya kau tak bersedia. Apa boleh buat, aku akan kembali ke Slane Theocracy." Tentu saja Zesshi tak serius dengan ucapannya. Bagaimana mungkin ia akan kembali, sedang semua tujuannya bisa terpenuhi dengan berada di sisi Naruto? Lagipula, ia tak memiliki alasan spesial untuk kembali ke Theocracy. Ibunya sudah lama mati. Selain Raymond dan Sylvin, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi di Kami Miyako yang bisa ia ajak bicara dengan santai. Bagi orang-orang itu, ia tak lebih dari sekadar senjata.

Naruto meletakkan cangkirnya di meja, menoleh memandang Zesshi dengan iris hitamnya. "Kau tidak pernah mengatakan menginginkan anak di dunia nyata atau mimpi, bukan salahku jika memenuhi keinginanmu itu di dalam mimpi. Itu salahmu sendiri, Zesshi. Atau, kau ingin mengingkari perjanjian kita, begitu?" Iris Naruto memerah, menunjukkan eternal mangekyou sharingan-nya dalam bentuk megahnya. "Aku mengabaikan yang pertama, tetapi aku tak akan mentolerir yang kedua."

Zesshi memandang intens pada iris merah dengan simbol spiral hitam di masing-masing mata Naruto. Harus ia akui, itu sangat menghipnotis dirinya. Mata itu membuat Zesshi serasa melelah, membuatnya ingin memilikinya. Zesshi bukannya tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki mata spesial, tetapi baru kali ini ada yang memiliki mata spesial yang membuat penampilan matanya berubah. "Kalau kau mencintaiku, kau akan memenuhi keinginanku, benar begitu?"

Mata Naruto mengerjap, irisnya kembali menghitam. "Jika aku mencintaimu. Tetapi, seperti yang sudah kubilang, aku sama sekali tak mencintaimu."

"Itu tidak masalah, aku hanya perlu membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Zesshi penuh percaya diri. "Karena untuk membuatmu mencintaiku mengharuskanku berada di dekatmu, itu artinya aku akan bergabung dengan akatsuki sampai saatnya tiba."

"Hmph, asalkan kau melakukan apa yang kuperintahkan, aku tak peduli pada hal yang lainnya."

Bibir Zesshi melengkung. "Tentu saja," ucapnya lalu bangkit dari ranjang tempatnya duduk dan menghampiri Naruto. Ia duduk di kursi di sisi lain meja. "Jadi, apa makanan yang telah kau siapkan?" tanya Zesshi dengan mata terfokus pada Naruto. Meski makanan itu ada di depannya, Zesshi sama sekali tidak memperhatikannya.

"Ramen, makanan para dewa."

"Heee… makanan para dewa, sepertinya cukup lezat. Tapi, bagaimana cara menggunakan kedua lidi besar ini? Mengapa kau tidak menunjukkannya padaku?"

"Itu sumpit," komentar Naruto, lalu memperagakan cara memegang sumpit yang benar. Kemudian, Naruto menyumpit ramen dengan kedua sumpit itu. "Begini caranya," ucapnya, namun Zesshi tidak memperhatikan ke arah mie, tetapi melihatnya dengan mulut terbuka sambil menggumamkan "Aaa…". Naruto memandang datar Zesshi, tetapi ia tetap membawa ramen yang disumpitnya ke dalam mulut Zesshi, yang langsung dikunyah Zesshi dengan lembut. "Begitu," ucap Naruto lalu meletakkan sumpit, kembali melanjutkan minum tehnya.

"Kau tidak mau menyulangiku sampai selesai?"

Naruto tak menggubris pertanyaan Zesshi, ia menikmati tehnya seolah-olah tak mendengar pertanyaan gadis setengah elf itu. Melihat dirinya diabaikan, Zesshi menggerakkan tangan kanannya mengambil sumpit. "Aku akan dengan senang hati menyantap sarapan buatanmu setiap pagi," ucapnya lalu menyantap semangkuk ramen, makanan para dewa.

Selesai makan, Naruto mengantar Zesshi ke kamar mandi. Tentu saja gadis setengah elf yang tak tahu malu itu menyempatkan diri untuk menggodanya agar menemaninya mandi, namun Naruto langsung pergi tanpa menggubrisnya. Kemudian, selesai Zesshi mandi, Naruto mengajak gadis itu menuruni tangga ke dasar bangunan, lalu melanjutkan turun ke ruang bawah tanah.

"Pilih jubah akatsuki mana saja yang kau inginkan," ucap Naruto tatkala membawa Zesshi berdiri di depan sebuah lemari besar yang isinya semuanya jubah akatsuki.

Zesshi hanya memandang sekilas jubah-jubah itu, lalu mengambil satu yang paling dekat dengannya. Tanpa disuruh, Zesshi langsung mengenakan jubah itu seolah-olah itu adalah hal yang paling normal untuk dilakukan. Zesshi lalu mengusap kedua tangannya ke kepalanya lalu menyingkapkan rambut panjangnya dari dalam jubah, kemudian ia mengikat rambut dua warnanya itu dengan model ekor kuda. "Bagaimana, apa ini cocok denganku?"

"Hm, tidak buruk." Naruto mengeluarkan sebuah cincin dengan simbol kanji merah. "Pakai ini," ucapnya, "Cincin ini memeliki banyak kegunaan, salah satunya itu akan membuatku mengetahui kalau kalian masih hidup atau sudah mati."

"Ah, kau seperti melamarku saja."

"…"

Zesshi mengambil cincin itu, memakainya di jari manis tangan kanannya. "Ini cocok sekali," gumam Zesshi, memandangi tangannya dengan mata berbinar.

"Hmph, ayo pergi." Naruto tidak menunggu respon Zesshi, ia langsung berbalik menuju tangga ke lantai atas.

Zesshi seketika menarik sabit bermata duanya dari sandaran lemari, lalu bergegas menyusul Naruto. "Ke mana kita akan pergi?"

"Menyelesaikan misi pertamamu, untuk meresmikanmu sebagai anggota akatsuki."

Re-Estize, Re-Estize Kingdom

Blue Rose adalah salah satu dari dua tim petualang adamantite yang ada di ibukota kerajaan, Re-Estize. Berbeda dengan Red Drop, Blue Rose terdiri dari lima anggota yang kesemuanya adalah wanita-wanita yang kompeten dalam bidang mereka. Saat ini mereka sedang berada di salah satu bar di sebuah penginapan terkemuka di Re-Estize. Mereka duduk di kursi-kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar. Sebenarnya mereka sudah sepakat untuk tidak mengambil misi apa pun hari ini, tetapi Keeno meminta mereka semua untuk berkumpul lantaran ada hal penting yang ia ingin bicarakan dengan mereka semua.

Keeno memandangi mereka satu per satu.

Duduk di kursi terdekat dengan jendela adalah Lakyus Alvein Dale Aindra. Lakyus adalah seorang wanita cantik berambut pirang panjang dan memiliki rasa keadilan yang tinggi, dia adalah seorang bangsawan yang juga seorang priest dari temple of water god, dialah yang memimpin tim adventurer ini. Selain punya keahlian dalam memainkan pedang, Lakyus juga seorang divine magic caster, dia adalah satu-satunya orang di Re-Estize Kingdom yang bisa menggunakan spell tingkat ke-lima untuk menghidupkan orang mati, Raise Dead.

Duduk di kiri Lakyus adalah Tina. Wanita bertubuh mungil berambut pirang ini dulunya adalah assassin. Namun sejak misinya dalam membunuh Lakyus gagal, dia dan saudari kembarnya ini menerima ajakan Lakyus untuk bergabung dengan Blue Rose. Meskipun dia adalah mantan assassin yang terlatih, Tina sangat sulit untuk menyimpan rahasia, bahkan sekalipun jika itu mengancam nyawanya. Karenanya, Tina sering dijuluki sebagai "Blabbermouth".

Di samping Tina duduklah Tia. Perempuan yang juga bertubuh mungil berambut pirang ini adalah kembarannya Tina, dia juga adalah mantan assassin. Penampilan dan rupa Tia sama persis dengan Tina, satu-satunya yang membedakan mereka berdua adalah warna ikat rambut yang mereka pakai: Tia berwarna biru sedangkan punya Tina berwarna merah. Dan Tia bukanlah "blabbermouth" seperti kembarannya.

Selanjutnya adalah Gagaran. Perempuan bertubuh besar yang dibaluti armor ungu dan selalu membawa war-pick kemana-mana ini adalah yang terkuat, secara fisik, di antara semua anggota Blue Rose. Dari mereka semua, dia adalah anggota pertama dari Blue Rose bersama dengan Lakyus. Dulu Gagaran pernah menyelamatkan nyawa Lakyus, karena itu keduanya sangatlah dekat, dan bersama-sama mereka mencari anggota lain hingga akhirnya Blue Rose lengkap.

Keeno sendiri bukanlah anggota asli dari Blue Rose, ia hanyalah magic caster yang menggantikan Rigrit yang memilih untuk berhenti menjadi petualang. Kendati demikian, ia dan mereka berempat sangatlah akrab. Keeno senang berada bersama mereka, ia senang menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sebagai petualang bersama keempat wanita yang telah ia anggap sebagai teman. Meskipun yang mereka sambut baik hanyalah kedoknya, Evileye, Keeno tetap menganggap mereka sebagai orang-orang terdekatnya. Karenanya, sangat berat bagi Keeno untuk membicarakan keputusannya ini.

"Jadi, Evileye, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Lakyus, membuat semua perhatian terpusat padanya.

Keeno menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Aku rasa sudah saatnya bagi kalian mencari magic caster yang baru."

"Apa maksudmu, chibi?" tanya Gagaran sedikit emosi. "Kau ingin mengatakan kalau kau mau keluar dari Blue Rose, hah?"

"Apa kau sungguh ingin keluar dari Blue Rose, Evileye?" tanya Lakyus, rasa syok memenuhi wajah cantiknya. "Apa ada hal yang tak kau senangi? Atau, kau tidak suka jika aku menjadi ketuanya?"

Tina dan Tia hanya diam, menungguinya merespon pertanyaan Lakyus dan Gagaran.

"Kalian pernah mendengar organisasi yang bernama 'Akatsuki'?"

"Tidak pernah," respon Lakyus. "Kalau kau Gagaran?"

"Ini baru pertama kalinya."

"Kami juga tidak," ucap Tina dan Tia bersamaan.

"Mereka adalah organisasi yang bertujuan untuk membawa kedamaian dalam dunia ini. Bukan hanya untuk manusia, melainkan semua ras yang berakal. Aku sendiri pun tidak tahu banyak tentang mereka, tetapi sepertinya Rigrit adalah salah satu dari orang-orang itu. Organisasi itu, mereka juga mengundangku untuk bergabung dengan mereka. Mereka mengajakku untuk mengubah dunia barbar dan rasis ini menjadi dunia di mana setiap ras dapat hidup bersama dengan damai."

Lakyus mengernyitkan dahi. "…Semua ras hidup damai berdampingan, katamu?"

"Itu sangat tidak masuk akal sekali, chibi, bagaimana kau bisa hidup bersebelahan dengan mereka-mereka yang sewaktu-waktu dapat memakanmu?"

"Jika dunia damai, para adventurer seperti kita akan kehilangan banyak pekerjaan."

"Jika dunia damai, para assassin tidak akan lagi memiliki pekerjaan."

"Apa kau yakin mereka adalah organisasi yang seperti itu, Evileye? Mungkin saja mereka hanya menggunakan nama Rigrit untuk membujukmu bergabung. Selain itu, tujuan mereka sangat mustahil sekali, mau seberat apa pun kita memikirkannya, hidup berdampingan dengan demi-human yang memperlakukan manusia sebagai makanan itu jelas tidak mungkin. Tetapi kita juga tidak bisa membunuh demi-human yang masih tidak mengerti akan dunia. Singkatnya, dunia ideal yang kau katakana itu… hanya bisa diterapkan dalam lingkungan yang gelap mata terhadap dunia luar dan dalam lingkungan orang-orang naïf. Terlebih lagi, aku ini priest, dunia yang seperti itu… sama seperti mengkhianati Six Great Gods."

"Kau yakin mereka tidak menjebakmu, chibi?"

Keeno tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum getir. Tentu saja, siapa pun pasti akan menertawakan tujuan yang tak masuk akal itu. Tetapi, meski begitu… Keeno ingin melihat dunia yang seperti itu dengan kedua matanya. "Kalian benar, aku pun berpikiran seperti itu," ucapnya sedikit datar. "Tetapi, jika dunia yang seperti itu ada… aku ingin hidup di dalamnya."

Lakyus terdiam. Gagaran memandang Evileye dengan serius. Tina dan Tia pun tak kalah seriusnya memandang sang magic caster. Tentu saja jika dunia yang seperti magic caster mereka bilang itu ada, semuanya pasti mau hidup di dalamnya. Tetapi, kenyataan tak seperti itu. Jangankan semua ras, manusia saja masih banyak mendiskriminasi satu sama lain. Dunia yang naïf seperti itu, hanya bisa ditemukan di dalam mimpi dan angan-angan.

"Hei, ini adalah pertanyaan yang sangat bodoh, tetapi… jika kalian diminta untuk tinggal bersama dengan seorang vampire, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Keeno dengan nada bercanda.

"Hahahaha, lelucon yang bagus, chibi!" seru Gagaran tertawa geli. "Tentu saja kita harus membunuhnya sebelum dia membunuh kita," jawabnya tatkala tawanya mereda.

"Vampire adalah musuh manusia, Evileye," jawab serius Lakyus, aura ke-priest-annya tampak menguar.

"Jika vampire itu lemah, kami akan membunuhnya."

"Jika vampire itu kuat, kami akan lari."

"Ah… tentu saja, betapa pertanyaan yang bodoh, ahahaha…." Keeno bangkit dari tempat duduknya. Ia memandangi "teman-teman"-nya satu per satu.

"Evileye?"

Keeno daridulu sudah berencana untuk melepaskan topengnya di hadapan mereka suatu saat nanti. Ia sempat berpikir kalau kebersamaan yang mereka jalani selama ini akan membuat mereka mengabaikan perbedaan ras di antara mereka. Nyatanya ia terlalu emosional… mungkin kesepian membuatnya jadi terlalu berharap.

"Evileye…?"

Keeno tersenyum nanar, membungkukkan sedikit kepalanya. "Mulai saat ini, aku, Evileye, bukanlah bagian dari Blue Rose lagi. Terima kasih banyak atas kebaikan kalian sampai saat ini. Meskipun hanya dua tahun lebih, itu sudah sangat menyenangkan bagiku. Untuk seterusnya, kuharap kalian dapat menjaga diri baik-baik. Lakyus, Gagaran, Tina, Tia… waktu-waktu bersama kalian, itu semua akan menjadi kenangan yang berharga untukku. Selamat tinggal. Teleportation."

Keeno muncul disebuah hutan kecil di dekat Re-Estize. Ia langsung menyandarkan tubuh mungilnya di sebuah pohon di samping sungai kecil yang membelah hutan menjadi dua bagian. Ia membawa tangan kirinya ke wajah, mencopot topeng yang senantiasa menyembunyikan identitasnya. Wajah cantik dengan kulit putih pucat layaknya boneka langsung saja terlihat untuk dunia kagumi. Iris merah darah dengan pupil vertikalnya sedikit menyala, membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona dan terintimidasi pada saat yang bersamaan. Lalu taring-taring yang terlihat dari sela-sela bibir mungilnya, siapa pun yang melihatnya pasti akan bisa menebak kalau gadis berambut pirang bertubuh mungil itu adalah vampire.

"Ah, ini menyakitkan. Meskipun aku sudah menebak hasilnya akan seperti ini, tetapi mendengar kata-kata itu dari orang-orang yang sudah kuanggap berharga itu sakitnya sungguh bukan main. Seharusnya dulu aku menolak menerima permintaan Rigrit…." Keeno menekuk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di sana. Lalu kedua tangannya terulur, memeluk kedua lututnya sendiri. Tubuh gadis itu bergetar ringan. Meskipun tak wajahnya terbenam di kedua lututnya, siapa pun yang melihatnya pasti bisa menduga kalau pipi putih pucatnya itu kini tengah basah. Gadis yang sudah sangat terbiasa dengan kesendirian itu, sesenggukan.

Tiba-tiba langit menjadi kelabu, lalu bulir-bulir air hujan turun dengan derasnya, seolah langit ikut menangis menemani gadis yang hanya ingin keberadaannya diterima itu.

Ah, kapan terakhir Keeno meneteskan air mata? Mungkin ketika ia berumur dua belas tahun, tatkala ia melihat kerajaannya dipenuhi undead? Atau, tatkala ia menyadari kalau dirinya sudah bukan lagi manusia? Entahlah, Keeno tak lagi bisa mengingatnya dengan baik. Tetapi, rasa sakit ini… mungkin adalah yang terberat dalam kurun waktu dua ratus tahun terakhir ini.

Seharusnya… seharusnya ia tidak pernah berharap agar Lakyus dan lainnya menerima keberadaannya. Dengan begitu… ia tak perlu merasakan penolakan akan keberadaannya seperti itu. Seperti halnya tujuan akatsuki yang naïf, ternyata dirinya pun tak lebih dari sekadar vampire yang naïf.

Menggelikan sekali, sampai-sampai aku ingin tertawa.

.—

Saya sudah menuliskan prolog cerita original fantasi/action/petualangan saya di bio, jika tertarik dengan prolog tersebut, silakan lanjut membaca di NovelToon/MangaToon: "Against the World" by Near. Cerita itu cerita fantasi dengan konsep sihir yang sedikit mirip dengan Fairy Tail namun berbeda; sejarah sangat mempengaruhi cerita tersebut; mc-nya itu yang pasti bukan mc tipikal shounen atau harem protagonist, bisa dibilang sedikit anti-hero mc. Konsep jalan cerita… hm, mungkin mirip dengan Code Geass dan Akame ga Kill… cerita ini sama-sama memiliki Empire yang berniat menguasai dunia.

Terima kasih telah mereview, memfollow, memfavorite; mengetahui ada yang menantikan kelanjutan fanfic ini membuat saya punya alasan lebih untuk melanjutkan cerita ini.