[Redemption of the Sinners]
-Chapter 3-
Ini hari ketujuh, tepat seminggu setelah Konan terdampar di dunia yang tak ia kenal ini. Dalam hari-hari itu, Konan tidak menemukan sedikit pun petunjuk untuk memecahkan misteri dibalik terdamparnya dirinya ke dalam dunia yang ternyata dihuni oleh berbagai makhluk yang tak pernah terbayangkan olehnya sebelum-sebelumnya. Seolah yang menimpanya ini adalah kehendak Tuhan yang sebenarnya. Kesempatan kedua, sebagai penebusan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan. Tentu saja sebagai wanita yang rasional Konan tak percaya itu, tetapi saat ini ia tidak punya pilihan apa-apa selain memikirkan hal itu.
Justru, hal itu sangat masuk akal setelah ia mempelajari sejarah dan peradaban dunia ini. Harus ia akui, kebrutalan dunia shinobi masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dunia ini di mana manusia adalah makanan bagi sebagian besar ras di sini. Tak cukup sampai di situ, manusia di dunia ini sangat lemah. Meskipun punya "sihir", "martial arts", dan "talent" sebagai kompensasi atas ketiadaan chakra, hanya sebagian kecil dari sebagian kecil mereka yang dapat mendekati pemuncak piramida kehidupan: dragon—makhluk mistik yang di Elemental Nations keberadaannya tak lebih dari sekadar dongeng.
"Aku ingin kau melanjutkan mimpimu di dunia ini."—mungkin itu adalah pesan Tuhan untuknya. Tetapi Konan tak sedelusional Nagato untuk meyakini hal itu, pun ia tak senaif Yahiko untuk langsung bergerak dengan bersandar hanya pada keyakinan. Konan butuh sesuatu yang konkret, hal yang dapat membuatnya ingin melihat dunia ini tersenyum.
Selama ini Konan hanya menjadi pengikut dan suporter. Semua itu bermula dari Jiraiya yang mengajarkan mimpi naifnya pada Yahiko dan Nagato. Lalu Yahiko yang naïf termakan rayuan Jiraiya, dan menjadikan angan-angan kosong Jiraiya sebagai tujuannya. Nagato yang mengagumi Yahiko, menjadikan mimpi Yahiko itu sebagai mimpinya dan membantunya mewujudkan itu. Sedang dirinya saat itu mengikuti mereka dengan senang hati, karena tempatnya adalah bersama mereka.
Kenaifan itu membuat Yahiko terbunuh. Nagato melanjutkan mimpi itu dibawah manipulasi Obito. Konan tidak bisa melakukan apa pun selain mendukung Nagato mewujudkan mimpi Yahiko. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain Nagato, bahkan jika Nagato memutuskan ke ujung neraka sekalipun Konan akan tetap mengikutinya dan mendukungnya. Karena dirinya, adalah pilar yang menyokong mereka berdua. Ke arah mana pun mereka pergi, Konan akan selalu bersama mereka. Kemudian mimpi itu diwariskan pada Naruto, yang memiliki pandangan yang berbeda dengan Yahiko dan Nagato. Lalu dirinya yang telah kehilangan mereka berdua, memutuskan untuk mempercayai Naruto dan menjadi pilarnya.
Tetapi sekarang ia sendiri, tidak ada siapa-siapa bersamanya. Karena itu, Konan tidak bisa langsung memutuskan akan melakukan apa saat ini. Mungkin ia hanya akan hidup normal dengan berjualan origami seperti saat ini hingga kematian menyapanya. Atau mungkin ia akan menjadi petualang, pekerjaan yang cukup populer di negeri-negeri lain selain teokrasi ini? Itu adalah pilihan-pilihan yang bagus, tetapi tetap saja… Konan tidak bisa mengesampingkan tujuan sebenarnya dari organisasi yang Yahiko bangun.
"Ah, betapa indahnya benda ini, sangat sulit dipercaya jika ini terbuat dari kertas-kertas yang dilipat dan dibentuk!" seru takjub seorang wanita, membuat Konan keluar dari lamunannya. Iris kuning kecoklatan Konan berpindah menuju iris kecoklatan wanita itu yang memandang berbinar pada origami malaikat yang ia buat.
"Ee, itu sungguh terbuat dari kertas," respon Konan. "Jika Anda membeli sepuluh, aku akan memberikan hadiah berupa bunga kertas yang bisa Anda pakai seperti milikku," tawarnya.
"Itu juga terbuat dari kertas sungguhan?"
Konan mengangguk. "Aku bisa membuatnya menjadi warna oranye, seperti warna rambut indah Anda. Itu akan cocok sekali untuk Anda pakai, penampilan Anda akan semakin tampak berkelas. Wanita-wanita lain akan memandang Anda dengan iri, kecintaan suami Anda akan meluap-luap."
"Ahahaha, Nona pandai sekali merayu. Ehm, kalau begitu saya beli sepuluh."
Wanita itu menyerahkan sebuah koin emas, Konan menerimanya lalu memberikan sepuluh origami malaikat kertas kepada wanita itu. Kemudian ia membuat bunga seperti bunga di kepalanya, lalu mengalirkan chakranya ke bunga itu, membuatnya berubah warna dari putih bersih menjadi oranye. Lalu Konan memasangkannya di rambut sang wanita, dan tentu saja ia tak lupa mengatakan cara melepas bunga itu pada sang pembeli.
Tatkala wanita itu pergi, belasan wanita lainnya langsung berbaris rapi di depan meja Konan di samping pohon beringin.
"Nona, saya juga, saya ingin bunganya warna hijau!"
"Saya juga, saya ingin berwarna biru seperti milik Nona!"
"Saya juga, saya juga!"
Tak sampai tengah hari, semua origami malaikat yang Konan buat sudah habis terjual. Keuntungan hari ini adalah 31 koin emas dan 40 koin perak, 7 koin emas lebih banyak dari hari kemarin. Konan sudah berjualan seperti ini sejak empat hari yang lalu, ini hari kelimanya. Dalam lima hari ini, ia sudah mengumpulkan 101 koin emas dan 290 koin perak. Ini adalah bisnis tanpa model yang sangat menjanjikan, terlebih hanya ia seorang yang mengenal origami. Jika ia terus menggeluti hal ini, tak sampai setahun ia sudah jadi kaya.
Untuk mayoritas orang, itu adalah hal yang sangat menggiurkan. Tetapi Konan tidak melakukan semua ini karena tertarik, ia hanya butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia tak terlalu tertarik dengan uang, tetapi ia tahu kalau semuanya memerlukan uang. Karena itu, Konan memutuskan untuk menghentikan jualannya. Ia mengembalikan meja dan kursi yang dipinjamnya dari sebuah warung, memberikan satu koin emas untuk si pemilik warung, lalu memutuskan untuk meninggalkan Kota Miyama ini.
Selanjutnya, Konan melakukan perjalanan ke utara. Tujuannya kali ini adalah Kami Miyako, hanya di sana ia bisa membeli peta. Ia sudah mencarinya ke seluruh toko di Miyami, tetapi tak ada satu pun yang menjual peta. Orang-orang menyarankan agar ia pergi ke Kami Miyako jika tidak ingin membeli di negeri yang lain. Karena itu, Konan tak punya pilihan lain selain pergi ke Kami Miyako.
Konan berlari dalam kecepatan seorang jounin menyusuri padang rumput yang hijau. Ia menyebarkan chakranya mengaktifkan kemampuan sensoriknya saat memasuki pepohonan yang membentuk hutan kecil. Meskipun, menurut orang-orang, tidak ada satu pun magical beast yang ada di sana, tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga.
…Tiba-tiba kaki Konan berhenti berpacu, kelopak matanya terbuka lebar, keterkejutan memenuhi wajah cantik nan datar Konan.
"Chakra ini…!"
Ia merasakan keberadaan chakra. Bukan chakra yang asing. Chakra ini, chakra yang familiar bagi Konan. Meskipun ia tidak menghabiskan banyak waktu dengannya, tetapi Konan masih mengingat chakra itu. Chakra yang pekat, gelap namun hangat. Tidak mungkin ia tidak mengingat chakra yang unik seperti itu.
Tanpa ragu, Konan memutar arah dan berlari dalam kecepatan tinggi menuju sumber chakra. Matanya yang senantiasa hampa sedikit dipenuhi harapan.
"Kaukah itu, Naruto…?"
—(0)—
Langit malam Re-Estize dipenuhi kerlipan bintang seperti biasanya. Keeno melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di dinding belakang sebuah bangunan. Sudah tiga hari berlalu sejak ia didatangi oleh perwakilan Akatsuki, malam ini wanita itu akan datang lagi untuk mendengar jawabannya. Keeno sudah menunggu di sini belasan menit, sepertinya ia memang datang ke sini terlalu awal.
Tetapi Keeno tidak menunggu terlalu lama, kumpulan kupu-kupu kertas mengepak-kepakkan sayap mereka di depannya, sebelum kemudian saling menyatu membentuk sosok wanita berwajah datar yang menemuinya tiga hari yang lalu.
"Jawabanmu?"
Keeno menghela napas, "Aku menerima undanganmu," katanya.
Konan mengelurkan gulungan ninja miliknya, lalu dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah cincin dan jubah hitam berpola awan merah. Tangan Konan terulur, menyerahkan kedua benda yang menyimbolkan Akatsuki itu. "Setiap anggota Akatsuki mengenakan jubah ini dan sebuah cincin, dengan memakai kedua benda ini maka kau adalah bagian dari kami."
Keeno melangkah mendekati Konan. Ia menanggalkan jubahnya, lalu mengambil jubah akatsuki itu dan memakainya. Kemudian ia mengambil cincin yang Konan sodorkan, ia memakainya di kelingking kiri. "Apa arti dari tulisan ini?" tanyanya melihat aksara yang tidak ia mengerti.
"Langit."
"Langit… aku menyukainya."
Konan berbalik arah, "Ayo pergi."
Keeno mengangguk. Ia mengarahkan telunjuk kanannya ke jubah yang telah ia tanggalkan. "Fire," gumam Keeno, dan seketika jubah itu terbakar. Kemudian Keeno menyusul wanita yang dibawah bibir bawahnya terdapat sebuah tindik. "Kau masih belum memberitahuku perihal namamu," ucap Keeno.
"Konan."
"Konan, ke mana kita akan pergi?"
"Kami Miyako, yang lainnya juga akan ke sana."
Seketika langkah Keeno terhenti, ia memandang Konan penuh curiga.
Konan menghentikan langkahnya, melirik Keeno datar. "Tidak perlu khawatir, itu tempat yang sangat rahasia, tidak ada siapa pun dari kalangan Teokrasi yang mengetahui keberadaan ruangan bawah tanah itu. Selain itu, tatkala memasuki ruangan pertemuan, kita tidak benar-benar berada di Kami Miyako; ruangan itu berada di dimensi lain. Juga, itu hanya menjadi tempat yang sementara, markas Akatsuki akan ditempatkan di Draconic Kingdom setelah kita menyelesaikan masalah di Elf Kingdom."
Keeno mengangguk mengerti, lalu lanjut berjalan beriringan dengan Konan. Tak berselang lama kemudian, mereka sudah berada di luar ibukota Re-Estize Kingdom. Keeno melirik kota itu dengan ujung ekor matanya, ia akan meninggalkan kota yang telah ia tinggali kurang lebih selama tiga tahun itu.
Keeno menghela napas pelan, lalu bergegas menyusul Konan.
—()—
Floating Castle Eryuentiu terletak di sisi tenggara Southward Dessert, sebuah padang pasir yang menjadi pemisah antara kastil melayang tersebut dengan Elf Kingdom. Jika berjalan dari Amegakure, maka seseorang harus pergi jauh ke selatan melewati pegunungan untuk sampai ke kastil tersebut. Mereka bisa mengambil jalan memutar melewati pegunungan, namun itu akan memakan waktu yang lebih lama. Eryuentiu dulunya adalah milik Eight Greed Kings, namun setelah mereka semua mati, Platinum Dragon Lord, Tsaindoruks Vaision, mengambil alih tempat tersebut sebagai kediamannya.
Di dalam kastil melayang tersebut, di dalam salah satu ruang dari sekian banyak ruang yang ada, terlihat seorang pria berambut platinum sepunggung beriris kuning dengan pupil vertikal memandang pantulan dirinya di cermin. Dia mengenakan jubah hitam dengan pola awan merah, terdapat tiga belas pedang kembar melayang di punggungnya.
Tak jauh dari pria tersebut berdiri, seorang wanita tua berambut putih panjang yang dikepang memandang bosan pada pria yang sudah lebih dari sepuluh menit berdiri di depan cermin. Sama seperti pria itu, wanita tua itu juga memakai jubah hitam dengan pola awan merah yang sama. Perempuan tua itu memegang sebuah tongkat kayu, di ujung tongkat kayu tersebut terdapat bola kristal hitam yang di dalamnya menyala energi negatif merah gelap.
"Bagaimana menurutmu, Rigrit, apa penampilanku sudah sempurna?"
"Khahaha," terkekeh Rigrit. "Kau sungguh ingin menarik perhatian Zoccaltyr Tsusaza, bukan begitu, Tsa?"
"Gurauan macam apa itu, Rigrit? Ini pertama kalinya aku menggunakan wujud manusia seperti ini, tentu saja aku harus memperhatikan kalau penampilanku sudah sempurna. Sebagai penerus dari Dragon Emperor, tentu saja aku tak boleh tampil dibawah sempurna. Ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Sea Deity, Tsusaza."
"Oh, kau bahkan memanggilnya Tsusaza."
"...Kurasa aku sudah oke, sebaiknya kita pergi sekarang juga, Rigrit, tidak etis sekali jika kita terlambat."
"Khahahaha…." Tawa Rigrit membesar, tetapi Tsaindoruks mengabaikan itu dan melangkah pergi penuju pintu keluar.
Rigrit baru menyusul Tsaindoruks usai tawanya reda. Langkahnya cepat, membuat jubah akatsuki-nya sedikit berkibar. "Tunggu, Tsa, kau tidak perlu malu seperti itu. Oh, mengapa kau tidak meminta saran Brightness Dragon Lord yang sangat berpengalaman?"
"Berhenti berasumsi yang tidak-tidak, Rigrit."
Rigrit menghendikkan bahunya, berjalan sejajar dengan sang Platinum Dragon Lord. "Aku penasaran dengan dua orang lainnya, juga dengan kartu as Slane Theocracy. Bagaimana denganmu, Tsa?"
"Aku tidak terlalu peduli. Naruto yang merekrut mereka, tidak ada lagi yang perlu dipenasarankan. Tetapi, ini akan menjadi yang pertama kalinya Akatsuki berkumpul dengan anggota yang lengkap, aku sedikit menantikannya."
—()—
Di arah barat Re-Estize Kingdom dan Roble Holy Kingdom terdapat lautan luas yang dikenal sebagai Fresh Water Sea. Nama Fresh Water Sea disandangkan pada lautan itu dikarenakan airnya yang tawar seperti halnya air danau dan sungai. Meski lautan adalah tempat yang berbahaya, Fresh Water Sea adalah lautan yang sangat aman sebagai jalur pelayaran. Selain karena keberadaan para Mermaid yang hidup di situ, terdapat pula seekor dragon yang mengusir monster-monster laut yang hendak bermukim di situ.
Sea Deity. Itu adalah julukan yang orang-orang berikan untuknya, terutama awak-awak kapal Roble Holy Kingdom dan penumpang mereka yang ia selamatkan dari monster-monster laut juga kadangakala perompak. Mereka semua mengelu-elukannya, menganggapnya bijak dan suci. Meski ia adalah dragon laut, fisiknya yang indah membuat orang-orang memandangnya dengan takjub, berbeda dengan dragon lain yang ditakuti. Entah sejak kapan, julukan Sea Deity tersematkan padanya.
Ah, itu bukan berarti dragon yang bernama lengkap Zoccaltyr Tsusaza ini membenci julukan itu. Sebaliknya, ia sangat menyukainya, karena itu juga ia sudah tidak lagi menolong semua orang. Tsusaza hanya menolong orang-orang yang memujinya dan mengelu-elukan namanya. Setelah semuanya, ia masihlah seekor dragon, dan dragon suka pujian dan pengagungan atas diri mereka.
"Tsusaza."
Tsusaza menghiraukan panggilan itu dan tetap menggerak-gerakkan keempat kaki yang sedikit menyerupai sirip dan ekor panjangnya mengarungi lautan. Dragon berjuluk Sea Deity ini menghabiskan sebagian besar hari-harinya dengan berenang dan bermalas-malasan. Selain pujian, hal yang paling ia sukai adalah kedua hal itu: berenang dan bermalas-malasan. Ia menyukai hal itu, rasanya menyenangkan dan menyamankan.
"Nenek tua."
Tsusaza seketika menghentikan berenangnya, bibir dragon-nya berkedut. Meskipun ia sudah berusia 714 tahun, itu bukan berarti ia adalah nenek-nenek! Bahkan dalam wujud manusianya ia masih seusia Queen Calca, memanggilnya nenek tua sama sekali tidak bisa dimaafkan! Tsusaza membalikkan tubuhnya, membuka rahangnya besar-besar. Kemudian ia menyemburkan laser air dalam jumlah yang besar kepada pria berjubah hitam berpola awan merah yang melayang belasan meter di atasnya.
Tetapi serangannya hanya melewati sosok itu seolah-olah dia tidak ada di sana. Namun Tsusaza tahu betul, itu bukan seolah-olah, lelaki yang kepalanya disembunyikan oleh kain hitam selain mata merah berpupil vertikal itu memang tidak berada di sana. Yang melayang di atasnya itu hanyalah ilusi pria itu, sementara tubuh aslinya berada di dermaga jauh di tepi pantai sana.
"Kita harus pergi, aku tidak ingin terlambat di pertemuan pertama kita dengan yang lainnya hanya karena menunggumu selesai bermalas-malasan."
Ilusi itu langsung menghilang setelah mengatakan itu, lalu Tsusaza kembali membalikkan badannya dan lanjut bermalas-malasan. Setidaknya, itu hal yang ingin dia lakukan. Tetapi… tubuhnya langsung memutar arah setelah berenang puluhan meter ke depan. "Apa boleh buat," gumam Tsusaza pasrah. "Diriku pun tak ingin terlambat."
—()—
Dua orang pria berbalutkan jubah hitam dengan pola awan merah berjalan pelan menjauhi Sea City menuju ke arah barat daya. Satu dari mereka memiliki wajah seperti manusia namun terdapat garis-garis di pipi-pipinya layaknya ikan, sementara yang satunya memiliki mulut dan struktur wajah layaknya burung lengkap dengan sepasang sayap mencuat di punggungnya. Mereka adalah seorang Seaman dan Birdman. Keduanya sudah berjalan cukup jauh dari kota yang mengapung di atas air itu.
"Akan lebih baik jika kita bisa melaporkan sesuatu," gumam sang birdman. Meskipun susah untuk menggambarkan seperti apa ekspresinya, sang seaman di sampingnya dapat memahami kalau saat ini rekannya tengah memasang wajah sebal.
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, Krakart, Sea City adalah kota yang menutup diri dari berinteraksi dengan dunia luar. Bahkan Seaman Kingdom sudah mencoba untuk membuat kontak dengan mereka, tetapi sama sekali tidak ada tanggapan. Dari yang kudengar, mereka juga tidak memakai konsep uang sama seperti kalian, Seaman Kingdom. Tetapi manusia-manusia di sana hidup sejahtera dengan saling berbagi, tidak seperti kami yang setiap suku berperang dengan suku lainnya untuk memperebutkan makanan—terkecuali ketiga belas suku besar yang membentuk Fishman Kingdom yang hidup saling berbagi."
Sang birdman yang bernama Krakart itu mendengus sebal. "Aku tahu itu, Whalef, tetapi tetap saja aku tidak puas dengan usaha yang tidak menghasilkan apa-apa."
"Akatsuki tidak memaksakan negeri mana pun untuk tunduk pada visi kita, kita hanya mengundang dan membuat mereka berkeinginan untuk mewujudkan tujuan kita. Karena itu, sangat wajar jika usaha-usaha kita tak selalu berhasil. Tetapi itu lebih baik daripada memaksa, karena jika memaksa itu akan membuat kedamaian datang maka Naruto-dono dan Konan-dono tidak perlu repot-repot membentuk Akatsuki."
"Berhenti berbicara seolah-olah aku tidak mengerti hal itu, Whalef!"
"Haaa…, daripada kau mengomel-ngomel tidak berguna seperti itu, mengapa tidak kau kepakkan sayapmu dan bawa aku terbang dari sini karena kakiku sudah lelah melangkah, Krakart?"
"Aku tidak bergabung dengan Akatsuki untuk menjadi pelayanmu, tahu!"
"Whalef, aku ini seaman, manusia laut, terlalu lama berjalan di daratan akan membuatku dehidrasi lalu akhirnya mati. Bagaimana kau bisa mengatakan dirimu sebagai anggota Akatsuki yang bertujuan membawa kedamaian ke dalam dunia ini jika kau menghiraukan rekan seperjuanganmu yang sudah kelelahan ini? Ayo Krakart, kepakkan sayapmu dan bawa aku terbang. Kau tak ingin kita terlambat, 'kan?"
Kami Miyako
Di ruangan pertemuan di tempat terdalam gedung pemerintahan Slane Theocracy, enam orang tua duduk melingkar mengelilingi meja bundar. Mereka adalah para kardinal, penguasa tertinggi Keteokrasian Slane. Posisi mereka sangatlah sakral dan diagungkan, mereka juga tidak dibayar atas pekerjaan mereka sebagai kardinal, sehingga orang-orang yang duduk mengelilingi meja bundar itu adalah orang-orang yang murni bekerja untuk Slane Theocracy—berbeda dengan mejelis kepemimpinan lainnya yang tamak dan lebih mementingkan diri sendiri ketimbang bangsa.
"Jelaskan semuanya, Raymond!" teriak Dominic Ihre Partouche—Cardinal of Wind—dengan wajah murka. Selain Raymond sendiri, hanya Beredice Nagua Santini—Cardinal of Fire, satu-satunya wanita di antara keenam kardinal—dan Ginedine Delan Guelfi—Cardinal of Water, yang tertua dari semua kardinal—yang duduk dengan ekspresi tenang, sementara para kardinal yang lain ekspresinya tak jauh berbeda dengan Dominic. Jelas saja mengapa seperti itu, Zesshi adalah kartu as Slane Theocracy secara khusus dan seluruh ras manusia secara umum. Perginya Zesshi sama saja dengan hilangnya hampir separuh kekuatan pertahanan bangsa.
"Tampaknya dia sudah lelah menunggu, kemungkinan besar dia akan memulai perjalanan ke Elf Kingdom untuk menuntaskan dendamnya. Karena itu aku membicarakan hal ini di sini, aku ingin kita memutuskan akan melakukan apa terhadap gadis itu. Jika itu terserahku, aku akan membawa Sylvin dan mencari Zesshi, tetapi aku tidak bisa melakukan itu tanpa mendengar pendapat kalian."
Braaak! Dominic mendaratkan kepalan tangannya dengan keras ke meja. "Mengapa kau baru mengatakannya sekarang, sementara anak itu pergi tiga hari yang lalu?!"
"Bagaimana aku bisa tahu hal itu, Dominic? Aku sudah mengatakan kalau Zesshi izin keluar untuk melihat-lihat suasana kota, bagaimana aku bisa tahu kalau dia sudah kembali atau tidak? Ingat, sebelum-sebelumnya juga Zesshi beberapa kali pergi melihat-lihat suasana kota, dan dia selalu kembali. Bagaimana aku bisa tahu kalau kali ini dia tidak kembali dan justru pergi?"
"Raymond, kau adalah yang terdekat dengan Zesshi," ucap Yvon Jasna Dracrowa—Cardinal of Light. "Sulit untuk kubayangkan kau tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan. Aku tidak ingin mengatakan ini, tetapi aku ingin memastikan kalau kau tidak sengaja membiarkannya pergi." Kedua mata Yvon menyipit, memandang tajam Raymond.
"Yvon, meskipun aku berpikiran sepertimu, tetapi menganggap sesama kardinal sebagai pengkhianat itu tidak diperbolehkan," desis Maximillian Oreio Lagier—Cardinal of Darkness. "Maaf, Raymond," lanjutnya, "tapi aku ingin kau membersihkan dirimu dari tuduhan Yvon agar tidak terjadi konflik di antara kita."
"Itu tidak perlu," gumam Ginedine, membuat semua pasang mati memandang wajah tua sang kardinal. "Aku mengenal Raymond sedari dia kecil, ia akan membunuh dirinya sendiri sebelum dia melakukan hal-hal yang akan membawa petaka pada Slane Theocracy dan ras manusia secara umum. Jangan kalian berani menuduhnya yang tidak-tidak. Dan yang lebih penting lagi, kita harus memutuskan apa tindakan yang harus kita ambil. Baru tiga hari berlalu, kemungkinan besar Zesshi belum memasuki Hutan Besar Evasha."
"Aku sependapat dengan Ginedine," ujar Beredice. "Raymond tidak mungkin melakukan apa yang kalian pikirkan, dia tidak akan melakukan hal yang berakibat buruk pada Slane Theocracy dan legasi Enam Dewa Agung."
"Hmph!" dengus Dominic, namun dia tidak berkomentar lebih lanjut.
Yvon tidak mengatakan apa-apa, dia diam memandang intens Raymond, kemudian menghela napas pelan dan merilekskan duduknya.
"Aku mengusulkan untuk mengalihkan tugas Black Scripture menjadi mengembalikan Zesshi ke Slane Theocracy," ucap Maximillian. "Tetapi… bahkan bagi mereka itu tidak mungkin berhasil jika Zesshi tidak mau menurut."
"Mengapa tidak gunakan [Downfall of Castle and Country] padanya, agar dia patuh pada kita?" celetuk Dominic. Yvon mengangguk setuju. Maximillion pun menganggukkan kepalanya menyetujui.
"Itu bukan hal yang bagus menggunakan itu pada keturunan salah satu dari Keenam Dewa Agung," desis Ginedine tidak suka. Namun kemudian ia melanjutkan, "Tetapi, kita harus menjadikan itu sebagai solusi terakhir. Apa pun yang terjadi, kita tidak bisa membiarkan Zesshi meninggalkan tempatnya. Selain karena dia adalah kartu as kita, dia adalah god-kin."
Beredice mengangguk setuju. "Jika Zesshi menolak, [Downfall of Castle and Country] adalah satu-satunya solusi," katanya.
"Baiklah," ucap Raymond. "Aku akan meminta Black Scripture dan Kaire-sama untuk membatalkan tugas sebelumnya dan mengutamakan mencari keberadaan Zesshi dan membawanya pulang."
"Mereka belum meninggalkan kota?" tanya Ginedine.
"Aku meminta mereka menunda keberangkatan saat Zesshi urung kembali."
"Jadi, kau sudah megantisipasi kalau kita akan menerapkan hal ini untuk membawa Zesshi kembali?"
Raymond mengangguk. "Aku lebih suka jika hanya aku dan Sylvin yang pergi, tetapi ada kemungkinan kalau Zesshi tidak mau mendengarkan. Mengingat dia pergi tanpa memberitahuku, sangat besar kemungkinannya dia tidak akan mendengarkan. Demi ras manusia, kita tidak punya pilihan lain selain menggunakan [Downfall of Castle and Country]."
"Jika kau lebih rasional seperti ini, kita bisa lebih akrab, Raymond," komentar Dominic, puas dengan keputusan Raymond.
Aku sangat rasional, berbeda denganmu yang fanatik buta, batin Raymond, kemudian senyum kecil terbentuk di bibirnya. "Aku hanya melakukan apa yang terbaik untuk Slane Theocracy," gumam Raymond seraya bangkit dari kursinya. "Kalau begitu aku undur diri, lebih cepat kita mendapatkan Zesshi kembali, lebih baik."
Tidak ada yang keberatan, Raymond berlalu meninggalkan ruangan.
"Aku dengar stok elf untuk diperjualkan sebagai budak sudah habis, apa itu benar, Dominic?" tanya Yvon tatkala pintu ruangan kembali tertutup rapat.
Dominic mengangguk. "Dalam dua minggu terakhir, ada beberapa pedagang yang membeli banyak budak sekaligus, mereka berniat menjualnya ke tempat lain dengan harga yang lebih tinggi."
"Re-Estize Kingdom secara keseluruhan telah melarang perbudakan," timpal Maximillian, "kemungkinan besar mereka akan menjualnya ke Baharuth Empire atau Calzanas City State Union, juga Roble Holy Kingdom bagian selatan."
"Benar sekali," angguk Dominic. "Setelah perkara kartu as kita selesai, aku akan memerintahkan untuk kembali mengisi persediaan budak-budak."
Ginedine mengangguk. "Kita akan menunda semua pembahasan yang tidak berhubungan dengan keamanan negara sampai perkara Zesshi selesai."
Di luas ruangan pertemuan rahasia itu, Raymond berjalan cepat mencari keberadaan Sylvin. Ia sama sekali tidak khawatir kalau [Downfall of Castle and Country] digunakan pada Zesshi, pengaktifan artifak suci itu memerlukan waktu, Zesshi bisa langsung melarikan diri tatkala melihat artifak itu. Tetapi jika berhasil, itu bagus untuk Slane Theocracy—meski secara pribadi Raymond tidak ingin hal itu terjadi. Jika tidak berhasil, maka Raymond akan mempercayai perkataan orang itu. Meskipun sangat konyol baginya percaya pada kata-kata kosong seorang manusia, tetapi itu lebih baik daripada berselisih dengannya.
—()—
Sabit bermata dua Zesshi memotong seekor bafolk (kambing gunung yang berjalan di atas dua kaki) dengan mulus, membuat bagian atas dan bawah tubuhnya terpisah. Kemudian Zesshi menendang kepala seekor bafolk di belakangnya dengan sepatu berkualitas super tingginya, membuat kepala itu pecah lalu isinya berceceran. Zesshi melompat menjauh menghindari cipratan darah, terlalu menjijikkan jika sampai tubuhnya terkena darah kotor mereka.
Tak jauh dari Zesshi, Naruto berdiri tegap di atas kumpulan mayat tak bernyawa para bafolk. Jubah akatsuki yang ia kenakan sedikit berkibaran akibat hembusan angin. Iris hitamnya memandang datar Buser dan pasukannya, raja para bafolk yang tidak senang dengan desa baru yang Naruto kembangkan untuk para beastman—termasuk bafolk—yang tidak ingin melakukan kanibalisme mau pun memakan ras berintelijen yang lain. Ini bukan kali pertamanya Buser pemimpin pasukannya menyerang, sudah beberapa kali raja para bafolk itu menyerang, ini adalah yang ke limanya.
"Buser," ucap Naruto datar dan dingin, pandangannya tertuju pada tiga tengkorak bayi manusia yang menggantung di ikat pinggang Buser. "Ini adalah toleransiku yang terakhir, jika kau kembali menyerang desa ini setelah peringatanku ini…." Iris hitam Naruto memerah seketika, tiga tomoe berputar berlawanan arah jarum jam. "…Aku pastikan tidak akan ada lagi bafolk di Abellion Hill selain yang hidup damai di desa ini." Untuk mempertegas ucapannya, Naruto mengeluarkan chakranya dan menguarkan hawa membunuh yang besar.
Beberapa bafolk yang lebih dekat dengan Naruto langsung jatuh terkapar, sementara yang lebih jauh hanya jatuh berlutut. Tak terkecuali Buser. Kambing gunung berkaki dua bertubuh besar itu memandang ngeri Naruto dengan rahang gemetaran. Sudah pasti, dia tidak akan pernah kembali mengunjungi desa ini mau pun memprovokasi demi-human yang menghuninya. Ia masih ingin hidup.
"Dalam hitungan ke lima kalian tidak enyah dari hadapanku, akan kubuat kalian menjadi debu, satu…." Naruto menganggak tangan kanannya, sebuah bola chakra hitam kecil dengan cincin-cincin chakra yang mengelilingi langsung terbentuk di telapak tangannya.
"Dua…."
Buser langsung berdiri ketika tekanan yang ia rasakan tadi menghilang, lalu langsung berbalik arah dan berlari terbirit-birit. Bukan Buser saja, semua pengikutnya langsung berlari tunggang langgang menjauhi Naruto.
"Tiga.…"
Kecepatan lari Buser dan yang lainnya menjadi-jadi, bahkan Buser sendiri telah mengaktifkan martial art pendukungnya untuk meningkatkan kecepatan larinya.
"Empat…." Naruto mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bola chakra hitam di tangannya semakin memadat. Cincin-cincin yang terluar perlahan-lahan menyusut lalu berubah membentuk ujung-ujung shuriken.
"Lima, dai rasenringushuriken."
Whusssss! Buuuuaaaaammmmmmmmmmmmmm! Ledakan yang lumayan dahsyat yang memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata tercipta tatkala bola energi hitam kecil yang Naruto lempar mengenai salah satu bukit yang berjarak beberapa kilometer dari tempat Zesshi berdiri. Ledakan itu bahkan mengirim kejutan udara ke tempatnya berdiri. Bafolk-bafolk yang tak beruntung tersapu menjadi debu tatkala jangkauan ledakan menerkam mereka. Buser yang berlari ke arah timur laut berhasil selamat, tetapi hampir setengah bafolk tersapu ledakan.
…Dan tatkala kepulan asap dan debu yang disebabkan ledakan itu menghilang, bukit yang tadinya berdiri angkuh itu kini sudah menjadi kubangan besar. Zesshi memandang terkesima efek bola energi hitam kecil yang Naruto lepaskan. Sementara bafolk dan beberapa jenis demi-human lainnya yang menyaksikan hal itu membelalak ngeri, muka-muka mereka membiru takut.
"Dai rasenringumemiliki efek yang lebih besar dari itu," gumam Naruto, "sepertinya jarak yang ditempuh telah mengurangi kekuatan serangan dai rasenringushuriken." Naruto lalu berbalik, melompat turun dari atas kumpulan mayat bafolk. Ia menghampiri demi-human yang ia tunjuk sebagai kepala desa.
"Kuburkan mayat-mayat itu satu per satu secara berdekatan," perintah Naruto, "lalu buatlah perkebunan di atas makam-makam mereka. Selain itu akan membuat tanah lebih subur, hal itu akan menghalangi energi negatif untuk berkumpul, sehingga mencegah bangkitnya undead."
"Akan saya laksanakan, Naruto-sama," respon seekor harimau yang berjalan di atas dua kaki, Tigerman. Di seluruh Abellion Hill ini, Naruto hanya menemukan enam orang Tigerman. Mereka tinggal di sisi Abellion Hill yang terjauh dari Roble Holy Kingdom. Mereka tinggal di sebuah gua, makanan utama mereka dulunya adalah demi-human yang menyasar ke tempat mereka tinggal. Mereka adalah demi-human pertama yang menyetujui perkataan Naruto.
Naruto mengangguk, lalu berbalik arah dan melangkah pergi. "Ayo, Zesshi, tugas pertamamu sudah selesai. Saatnya kita kembali ke Kami Miyako."
Zesshi mengibaskan sabitnya menghilangkan noda darah, lalu berlari menyusul Naruto yang telah berjalan menjauh. Zesshi menggantungkan sabitnya di punggung lalu memandang Naruto dengan senyum nakalnya. "Aku tidak tahu kalau kau ternyata cukup sadis juga, apa kau suka melihat ekspresi ketakutan penentangmu dan mendengar jeritan pilu mereka? Padahal mereka sudah berlari tunggang langgang, namun kau tetap melemparkan energi hitam itu. Sadis sekali, tetapi aku suka~"
"Hmph," dengus Naruto. "Jangan menyimpulkan sesuka hatimu. Meskipun mereka telah berlari, jumlah mereka masih cukup banyak. Aku harus menghapus sebagian dari mereka agar sebagian lainnya tidak berpikir untuk kembali menyerang desa itu. Kematian orang terdekat dan kekalahan akan membawa dendam, tetapi apa yang kulakukan pada mereka akan membawa ketakutan. Mereka tidak akan berani untuk menyerang desa itu kembali, terkecuali ada orang yang bisa menunjukkan serangan yang lebih dahsyat dari seranganku itu kepada mereka lalu mengajak mereka untuk menyerang."
"Bukankah kau ingin membuat dunia di mana semuanya tersenyum?"
"Untuk mendapatkan sesuatu, kau harus mengorbankan sesuatu yang lain; untuk membuat semua orang tersenyum, kita harus menghilangkan semua orang yang menghalangi orang-orang tersenyum. Selalu ada pengorbanan dalam setiap pencapaian, itu adalah hukum dasar yang harus dimengerti setiap orang."
Dua Hari Kemudian, Akatsuki's HQ
Ini adalah sebuah ruangan bawah tanah berukuran 15 x 15 x 10 meter kubik. Di setiap sudut atas ruangan serta tengah-tengah ruangan terdapat lampu continual light yang membuat ruangan menjadi terang-benderang. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah meja bundar besar, meja itu dikelilingi sepuluh kursi yang serupa namun masing-masing terdapat simbol kanji yang berbeda-beda. Dari kesepuluh kursi yang ada, delapan sudah terisi, dua sisanya masih kosong.
Keeno memperhatikan dengan seksama orang-orang yang telah memenuhi kursi-kursi itu. Manusia, Birdman, Seaman, Vampire, Dragon, itu adalah orang-orang yang duduk mengitari meja bundar dalam balutan jubah yang sama. Keeno melirik ke kanannya, Konan memejamkan matanya dengan ekspresi datar. Di sebelah kanan Konan, dua kursi berturut-turut kosong. Di sebelah kursi kosong itu duduklah seorang pria berambut platinum. Tanpa perlu bertanya pun Keeno langsung tahu kalau dia adalah Platinum Dragon Lord.
Duduk di sebelah Platinum Dragon Lord adalah Rigrit. Wanita tua itu tersenyum kecil memandangnya yang mengamati pengisi ruangan, tetapi Keeno tak peduli, ia melanjutkan mengedarkan pandangannya ke sebelah Rigrit.
Dia adalah wanita dewas berambut putih kebiruan. Meskipun fisiknya manusia, namun Keeno tahu kalau dia adalah dragon. Hawa yang dipancarkannya sangat mirip dengan Platinum Dragon Lord.
Di samping wanita beriris biru keputihan itu duduklah seorang pria yang seluruh wajahnya ditutupi kain hitam selain mata merah berpupil vertikalnya. Pria itu adalah vampire seperti Keeno. Keeno tidak tahu apakah dia juga adalah manusia yang berubah menjadi vampire atau tidak, tetapi yang pasti mata vampire itu tidak memancarkan apa pun selain kekosongan. Vampire itu tidak memancarkan aura negatif.
Di samping vampire itu duduklah seorang birdman. Meski sulit bagi Keeno untuk mengetahui ekspresi apa yang sedang ditampilkan pria itu, ia tahu kalau dia sedang tidak dalam mood yang baik. Birdman, ini kali ke tiga Keeno melihat ras yang tidak menetap di pinggiran benua ini.
Di sebelah si birdman dan juga di samping dirinya duduk, seeorang seaman duduk dengan tenang. Seperti Konan, pria berinsang itu menutup matanya rapat-rapat. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Keeno melihat langsung seaman. Betapa terkejutnya ia saat tadi menyadari kalau garis-gari di kedua pipi pria ini adalah insang yang tertutup.
Sekarang Keeno penasaran untuk mengetahui dua orang lagi yang belum datang. Kata Konan, salah satu dari mereka adalah ketua Akatsuki, dan dia adalah manusia sama seperti Konan. Itu sungguh mengejutkan, mereka adalah manusia-manusia pertama yang memiliki ambisi menakjubkan dan punya kekuatan untuk memperjuangkannya yang Keeno temui. Kehidupan seperti apa yang mereka lalui, sehingga membuat mereka sangat berhasrat untuk mengubah dunia barbar ini menjadi tempat yang dipenuhi senyuman?
Penantian Keeno tak berlangsung lama, sepuluh menit setelah ia duduk di situ, pintu ruangan terbuka. Keeno langsung mengarahkan pandangannya ke sana. Matanya langsung tertuju pada Half-Elf yang beberapa centi lebih tinggi darinya, wanita itu memiliki rambut dan mata yang heterokromia, hitam dan putih. Wanita itu kuat, tanpa perlu bertarung dengannya Keeno langsung bisa menyadari hal itu.
Kemudian pandangan Keeno berpindah pada manusia di samping wanita setengah elf itu. Seperti halnya Konan, tubuh pemuda berambut pirang acak-acakan itu meradiasikan kekuatan. Meskipun tersembunyi, iris hitam yang memandang datar itu memancarkan kehangatan. Keeno sangat mengerti sorot mata itu, memandangnya membuat Keeno merasa aman karena telah memutuskan bergabung dengan Akatsuki.
"Aku harap kalian tidak menunggu terlalu lama," ucap sang ketua Akatsuki sembari mendudukkan dirinya di samping Konan. Wanita setengah elf itu duduk dengan penuh percaya diri di samping pemuda itu. Meskipun samar, Keeno sempat melihat Konan menyipitkan mata pada wanita setengah elf itu.
"Aku sangat mengapresia kalian semua yang telah bergabung dengan Akatsuki. Setelah tiga bulan, akhirnya kita bisa membuat anggota kita lengkap. Pertama sekali, mari kita memperkenalkan diri kita masing-masing. Meskipun kalian sudah tahu banyak tentangku, aku akan memulai perkenalan diri ini, lalu dilanjutkan Zesshi dan seterusnya hingga Konan."
—(,)—
Terima kasih telah membaca, memfollow, memfavorite, dan mereview. Jika berkenan, saya harapkan kehadiran kalian di cerita original saya "Against the World" di NovelToon/MangaToon. Prolog-nya ada di profil/bio.
Ah, karena para kardinal membatalkan rencana mereka untuk mengirim Black Scripture menghabisi Catastrophe Dragon Lord yang mencoba membangkitkan dirinya, Shalltear tidak akan bertemu dengan mereka, artinya Ainz dan Shalltear tidak akan bertarung. Karena Shalltear tidak terkena [Downfall of Castle and Country], dia tidak akan membiarkan yang lainnya kabur, sehingga berita tentangnya yang menyerang orang-orang tidak tersebar jelas melainkan hanya akan menjadi rumor, sehingga tidak akan ada Honyo Penyoko, konsekuensinya Momon tidak akan menjadi adamantite adventurer dalam waktu dekat. Karena Momon tidak menjadi adamantite adventurer secepat canon overlord, kemungkinan namanya tidak akan terlalu tersohor di Re-Estize. Dan konsekuensi-konsekuensi lainnya, seperti halnya nasib Brain Unglaus.
