[Redemption of the Sinners]

-Chapter 4-

Hal yang pertama Naruto lihat begitu ia membuka kedua matanya adalah dedaunan yang melambai-lambai akibat hembusan sang angin. Melalui celah-celah daun itu, Naruto dapat melihat langit biru yang mengambang sejauh mata memandang. Apa afterlife memang seperti ini? Seaneh apa pun afterlife itu, mustahil rasanya kalau tempat peristirahatan jiwa-jiwa itu berwujud seperti hutan? Dan lagi, Naruto bisa mendengarkan detakan-detakan jantungnya, pun ia bisa merasakan dadanya naik turun akibat kinerja sistem pernapasannya; apa jiwa yang kembali ke afterlife akan memiliki fisik seperti ini?

Tidak mungkin; ini bukanlah afterlife. Tetapi, bagaimana bisa? Seharusnya ia sudah mati, sedikit pun ia tidak ragu kalau dirinya sudah mati. Naruto masih ingat betul rantai chakra Karin melilitnya, lalu disusul panah Susaso'o-nya Sasuke menembus tubuhnya, sebelum kemudian ribuan shinobi beserta para kage melontarkan jurus-jurus terkuat mereka padanya. Jika waktu itu ia belum membebaskan Kurama maka ia tak akan mungkin mati, tetapi Kurama dan para bijuu sudah ia ungsikan ke tempat yang tak akan bisa dijamah manusia. Karena itu, tak ragu lagi kalau dia sudah mati.

Menghela napas, Naruto merenggangkan tubuhnya dan berdiri dari posisinya terbaring. Tidak ada gunanya menanyakan pertanyaan yang tidak ada petunjuk akan jawabannya, lebih baik ia menemukan di mana ia berada sekarang. Dengan pikiran itu, Naruto memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, tidak ingin melewatkan suatu hal apa pun yang bisa memberinya titik terang. Tetapi, bahkan setelah melompat ke atas pohon terdekat, Naruto masih tidak dapat menentukan akan keberadaannya saat ini. Ia jadi tidak punya pilihan lain. Naruto menutup kedua matanya dan berkonsentrasi—mencoba memasuki mode senjutsu.

Naruto mengernyitkan keningnya. Bagaimana energi alam menjadi sangat berlimpah namun terasa sangat asing? Itu seolah-olah ia sedang tidak berada di tempat yang tidak ada di Elemental Nations, ia seperti berada di sebuah dimensi yang sepenuhnya berbeda.

Dimensi lain?

Kernyitan di kening Naruto bertambah. Ia meningkatkan konsentrasinya dan meningkatkan kecepatannya dalam mengontrol energi alam. Dengan jumlahnya yang melimpah, seharusnya ia bisa mempersingkat waktu yang ia butuhkan. Tetapi, kualitas dari energi alam yang disisipi oleh energi-energi negatif membuatnya membutuhkan waktu lebih untuk memisahkan energi negatif dari energi alam. Oleh sebab itu, waktu yang ia butuhkan untuk mengumpulkan energi alam tidak berubah sama sekali.

Kelopak mata Naruto seketika melebar. "Konan…?"

Naruto memfokuskan perhatiannya pada sumber chakra itu. Tidak salah lagi, itu adalah milik Konan, dan dia semakin mendekat ke tempatnya berdiri. Sepertinya, gadis itu juga telah merasakan chakranya, itu menjelaskan mengapa tadi dia sempat berhenti lalu mengambil arah yang berlainan.

Naruto keluar dari mode senjutsu dan melompat dari puncak pohon. Ia mendarat dengan mulus di tanah. Dan pada saat yang bersamaan, Konan berhenti belasan meter dari tempat Naruto mendarat.

"Konan."

"Naruto. Jika kau di sini, itu artinya kau juga sudah mati dan hidup kembali."

Naruto ingin tersenyum, pun ia tahu kalau Konan ingin tersenyum. Tetapi, meski sorot mata Konan tersenyum, bibirnya tetap membentuk garis lurus. Naruto tidak bisa melengkungkan bibirnya melihat garis lurus itu. "Apa kau tahu sesuatu tentang hal ini?" tanyanya, berjalan menghampiri Konan yang masih berbalutkan jubah akatsukinya, sementara dirinya mengenakan celana anbu dengan sandal shinobi biru gelap dan sebuah kaos hitam lengan panjang yang ada simbol uzumaki di atas dada di bawah leher, serta sebuah yukata merah gelap melapisi kaos itu yang kemudian diikat dengan obi berwarna hitam.

"Aku sudah melakukan semua yang kubisa untuk mencaritahunya, tetapi tidak ada petunjuk apa pun."

Naruto mengangguk mengerti. "Sudah berapa lama kau berada di dunia ini?"

"Seminggu."

"Aku baru sesaat yang lalu tersadar di bawah pohon sana. Aku ingin mendengarkan semua yang telah kau ketahui tentang tempat keberadaan kita saat ini."

"Seperti yang kau katakana, kita berada di dunia lain." Konan pun menceritakan apa yang telah dia lakukan dalam seminggu ini. Dia mengatakan sedetil mungkin, dari demihuman yang menjadikan manusia sebagai makanan hingga keberadaan dragon dan makhluk-makhluk yang diagungkan sebagai dewa. Tentu saja dia melewatkan hal-hal tidak penting seperti dirinya yang berjualan origami selama beberapa hari.

"Aku sedang dalam perjalan ke Kami Miyako saat tiba-tiba aku merasakan keberadaan chakramu tadi," ucap Konan menutup penjelasannya.

"Jadi kita berada di dunia lain, tidak ada pengguna chakra selain kita, banyak makhluk-makhluk yang tak ada di dunia shinobi, dan hal-hal lainnya. Juga, orang-orang di sini menggunakan uang yang berupa platinum, emas, perak dan tembaga, tidak ada yang menggunakan uang kertas sama sekali. Hm…, kita berada di dunia yang sungguh asing, dan lebih mengkhawatirkan daripada dunia shinobi."

"Lalu, apa yang ingin kau lakukan terhadap hal itu?" tanya Konan, memutar arah lalu melanjutkan larinya ke Kami Miyako.

Naruto mensejajarkan larinya dengan Konan. "Hm… apa ya? Aku belum bisa memutuskan. Tetapi, aku ingin hidup dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya saja, tanganku sudah berlumurkan darah orang-orang, baik yang berdosa mau pun tidak berdosa. Tidak mungkin aku bisa hidup dengan tenang setelah semuanya."

"Bagaimana menurutmu, jika aku mengatakan kalau kehidupan kita ini adalah kesempatan kedua yang Tuhan berikan, agar kita bisa mewujudkan impian kita di dunia ini, dengan cara yang benar?"

"Tuhan…? Kesempatan kedua…? Dengan cara yang benar…? Lucu sekali, Konan, aku tak percaya akan mendengar itu dari mulutmu. Hal seperti itu, hanya akan keluar dari mulut Nagato."

"Bagaimana jika itu benar? Tidak ada penjelasan logis lain selain penjelasan tak logis itu."

Naruto mengernyitkan keningnya. Mungkin itu ada benarnya. Tetapi, ia tidak bisa menerima hal yang seperti itu. Naruto tidak akan melakukan sesuatu atas dasar keinginan orang lain, bahkan Tuhan sekalipun—itu jika Dia benar-benar ada. Dulu Jiraiya mengajarkannya tentang perdamaian yang dilandasi atas pengertian satu sama lain. Naruto menolak mempercayai itu. Manusia itu adalah makhluk yang tak bisa dipercaya begitu saja, karena setiap kali mereka terdesak, mereka akan mencampakkan akal juga empati dan cenderung bersandar pada emosi hawa nafsu. Jika ada pembohong paling baik, jawabannya adalah manusia. Dan jika ada yang pantas menjadi raja neraka yang memimpin makhluk-makhluk berhati busuk lainnya, jawabannya juga adalah manusia. Memahami satu sama lain, itu hanya bisa terjadi dalam dunia ilusi. Tetapi ilusi itu palsu, karenanya mereka melenyapkan Obito dan Zetsu.

Pun Naruto menolak cara Nagato, yang ingin mengikat manusia dengan rasa takut sehingga mereka senantiasa menjadi orang yang baik. Memang awal-awalnya manusia akan menjadi patuh sebagaimana domba yang digembalakan peternak. Tetapi, itu hanya akan bertahan sebentar. Ketakutan akan membuat orang-orang tertekan, orang-orang yang tertekan akan menjadi nekad, dan itu sangat buruk untuk mempertahankan kedamaian. Terlebih lagi, manusia itu tidak abadi. Tatkala Nagato mati, maka dunia akan langsung berada dalam kekacauan. Kedamaian yang diraih atas rasa ketakutan, itu adalah kedamaian yang paling rapuh.

Pun Naruto merasa bodoh karena berpikir orang-orang akan bisa hidup damai dengan satu sama lain jika membuat seluruh dunia bersatu untuk mencapai tujuan yang sama. Ah, itu nyatanya tidak sepenuhnya bodoh. Dunia shinobi bersatu untuk menghentikan dirinya yang ingin memproklamirkan dirinya menjadi penguasa tunggal dunia shinobi. Konohagakure dan Iwagakure yang dulu bertikai pada Perang Dunia Ninja ke tiga bisa melupakan masalah mereka satu sama lain dan memfokuskan kebencian mereka padanya. Pun begitu dengan neger-negeri lainnya. Semuanya menjadikan dirinya sebagai musuh, dan karena itu mereka bisa bekerja sama dengan baik. Tetapi mereka tak berakhir dengan kedamaian, justru beberapa pihak ingin mengadopsi apa yang ia lakukan terhadap desa mereka, mereka ingin membuat desa mereka sebagai penguasa tunggal dunia shinobi. Naruto sungguh telah melakukan sesuatu yang sia-sia.

Tetapi, itu tak sepenuhnya sia-sia. Ada satu pelajaran yang bisa ia ambil dari itu semua, bahwa manusia tidak bisa ditinggal sendiri. Mereka harus senantiasa diatur dan diawasi, agar mereka tidak tersesat seperti domba-domba yang kehilangan pemandu mereka, yang kemudian membuat mereka menjadi santapan serigala-serigala yang lapar. Manusia butuh dipandu, sebagaimana domba-domba yang butuh dipandu agar tidak tersesat.

"Aku akan memutuskan setelah menilai apakah dunia ini pantas diselamatkan atau tidak," respon Naruto pada akhirnya. "Orang-orang di dunia inilah yang akan memutuskan, apakah aku akan menjadi penyelamat, penghancur, atau hanya sebatas penonton."

(0)—

"Naruto Uzumaki, kalian bisa memanggilku Naruto. Aku dan Konan berasal dari suatu tempat yang sangat jauh. Itu saja tentangku. Sekarang giliranmu, Zesshi."

Zesshi langsung membuka mulutnya begitu Naruto selesai memperkenalkan diri. "Zesshi Zetsumei. Half-Elf, God-kin, Slane Theocracy." Zesshi langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak tertarik untuk mengakrabkan diri dengan mereka semua. Jika bukan karena Naruto, ia juga tidak akan berada di sini.

"Tsaindoruks Vaision, Platinum Dragon Lord. Aku harap kita semua bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mulia."

"Rigrit Bers Caurau, Necromancer, aku adalah yang terlemah dari kalian semua, hahahahaha…."

"Zoccaltyr Tsusaza, kalian lebih mengenalku sebagai Sea Deity. Diriku berharap agar diri kalian semua tidak menjadi beban Naruto-dono." Meskipun wajah cantik berkulit putih mulus itu hanya menampilkan mimik datar yang sedikit polos, mata biru langit Tsusaza yang berpupil vertikal itu sedikit memandang rendah orang lain.

"Nightwalker, aku Magic Caster dan Unholy Knight."

"Krakart, aku tidak akan membebani siapa pun!" Sang Birdman memandang tajam Tsusaza, yang hanya dihiraukan oleh sang Dragon laut.

"Whalef. Aku harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik."

"Evileye, arcane magic caster."

"Konan."

Naruto memandang satu per satu anggotanya. Half-Elf, Dragon, Manusia, Vampire, Birdman, Seaman; mereka semua adalah orang-orang yang unik yang tidak rasis. Naruto tidak mempermasalahkan tentang kearoganan mereka; apa pun itu tidak masalah asalkan bukan rasisme. Orang-orang yang hanya mementingkan ras mereka sendiri, orang-orang seperti itu tidak boleh ada di dunia yang dihuni oleh berbagai macam ras ini.

"Tatanan Dunia Baru." Naruto memulai. "Dunia yang ideal untuk semua ras; dunia di mana setiap ras bisa duduk semeja dan berbicara satu sama lain seperti saat ini; sebuah dunia di mana peperangan akan menjadi hal yang asing. Itulah tujuan utama Akatsuki, sebuah visi yang besar untuk membawa perdamaian ke dunia ini." Naruto memejamkan kedua matanya, lalu membukanya, menampilkan Eternal Mangekyou Sharingannya dalam segala kemegahannya. Dan dalam sekejap semua penghuni ruangan menemukan diri mereka berada di dalam sebuah dimensi yang hanya dipenuhi oleh warna putih, baik langit mau pun lantainya.

"Dunia yang sekarang kita tinggali ini sama sekali tidak tertata." Naruto melanjutkan. "Masing-masing negeri bersikap bodo amat dengan negeri lain, kecuali jika itu menguntungkan mereka. Apa yang terjadi di suatu tempat, maka tempat lain tidak akan pernah tahu tentang hal itu dalam waktu yang dekat. Bahkan, negeri-negeri yang mengelilingi kita ini sama sekali tidak memiliki akses ke belahan benua lainnya. Masing-masing wilayah gelap mata dengan wilayah yang lain, bahkan ada yang mengisolasi diri dari dunia luar. Tentu saja itu hak siapa pun untuk bersikap seperti apa yang mereka mau, tetapi itu adalah dasar dari segala ketidakteraturan dunia ini.

"Sebuah sistem memerlukan aturan untuk berfungsi dengan baik, tanpa aturan maka yang akan berlaku hanya hukum rimba. Dunia ini sama sekali tidak memiliki aturan, yang kuat yang berkuasa sementara yang lemah tertindas. Lebih dari 600 tahun yang lalu, bahkan berabad-abad sebelum itu, Dragon Emperor menduduki puncak piramida dunia, tidak ada siapa pun yang berani melawannya. Dragon menjelma menjadi lambang kekuatan, kekaguman, kekuasan, juga ketakutan. Mereka bebas melakukan apa yang mereka mau, tak ada apa pun yang menghalangi mereka. Tidak ada aturan yang merantai para Dragon untuk tidak semena-mena. Tentu saja tak semua Dragon buruk, tetapi Dragon yang tidak memandang ras-ras yang lebih rendah dari mereka sebagai sumber energi untuk wild magic mereka sangatlah sedikit."

Beberapa orang sontak memfokuskan pandangan pada Tsaindoruks dan Tsusaza, tetapi keduanya tidak menampilkan ekspresi apa pun. Mereka fokus memandang Naruto, tidak peduli pada apa yang lainnya pikirkan tentang mereka. Toh, tier magic telah berkembang cukup pesat. Bahkan Dragon-Dragon yang muda lebih menguasai tier magic dibandingkan wild magic.

"Kedatangan Six Great Gods dan Eight Greed Kings pada 600 tahun silam mungkin adalah upaya dari dunia ini untuk menciptakan keseimbangan," lanjut Naruto, membuat perhatian yang lain kembali terpusat padanya. "Satu-satunya yang berubah adalah para Dragon, mereka sudah tak banyak lagi dan tidak bisa berbuat semena-mena. Tetapi itu tidak mengubah apa pun selain meningkatkan individualitas antar ras. Six Great Gods membuat Manusia menjadi arogan, mereka menganggap diri mereka sebagai ras pilihan yang harus menyucikan dunia ini dari para pendosa. Eight Greed Kings pun tak berbeda, mereka membawa ras baru (demon) ke dalam dunia ini dan semakin meningkatkan teror. Bahkan di antara mereka yang kita kenal sebagai ras "player" pun saling membunuhi satu sama lain. Kesemua itu terjadi karena tidak adanya aturan: semua merasa diri mereka berhak melakukan apa yang mereka inginkan."

Naruto memandang penghuni ruangan satu per satu, memastikan mereka mendengar ucapannya dengan jelas. Melihat mereka semua kusyuk mendengarkan, Naruto melanjutkan bicara. "Oleh karena itu, untuk mewujudkan tujuan Akatsuki, untuk menyebarkan kedamaian dalam dunia ini, aturan mutlak diperlukan. Sebagian dari kalian mungkin masih ragu, berpikir kalau itu adalah tujuan yang kosong, hanya bisa terjadi di dalam mimpi, tidak mungkin penguasa-penguasa akan tunduk begitu saja, dan sebagainya. Itu tidak salah, dan kenyataannya memang seperti itu. Di dunia di mana setiap ras tidak menyukai selain dari mereka, dunia di mana setiap ras menganggap diri mereka lebih superior, mustahil melihat hal itu terjadi jika bukan dalam mimpi. Tetapi, perhatikan di kiri kanan kalian, bukankah mereka berasal dari ras yang berbeda dengan kalian? Lalu, suara siapa yang sekarang kalian dengar? Apa yang membuat kalian semua duduk semeja tanpa perlawanan?"

Naruto tidak menunggu siapa pun merespon. "Akatsuki," lanjutnya, "adalah langkah awal dari semuanya. Ah, kurang tepat; Akatsuki adalah langkah ke dua. Yang pertama adalah Desa Amegakura, desa yang di dalamnya dihuni oleh beberapa ras. Desa itu akan menjadi prototype dari dunia yang akan kita kembangkan. Nightwalker sangat tahu seperti apa desa itu, dia tinggal dan menetap di sana bersama dengan beberapa vampire lainnya. Jika kalian berpikir dia dan yang lainnya meminum darah para Elf dan manusia yang tinggal di sana, itu salah besar. Aku sudah menciptakan sebuah pohon berdaun putih yang menumbuhkan buah yang memiliki rasa dan kandungan seperti darah." Naruto memandang Nightwalker. "Kau bisa memberikannya pada Evileye sebagai bukti, Nightwalker."

Nightwalker mengangguk, mengeluarkan sebuah benda berwarna merah darah berbentuk seperti jeruk dari dalam saku jubahnya. Ia melemparkan buah itu ke arah Evileye, yang langsung saja ditangkap gadis berambut pirang itu dengan cekatan. "Cobalah," ucap Nightwalker. Evileye mengangguk. Mengangkat sedikit topengnya, ia membawa buah itu ke mulutnya, menggigitnya.

"I-Ini…."

Naruto tersenyum tipis melihat reaksi Evileye. Itu adalah reaksi yang sama dengan yang Nightwalker tunjukan padanya dulu sewaktu ia memberikan [Blood Fruit] itu padanya. "Sekarang kita kembali ke topik pembahasan," Naruto melanjutkan membuat perhatian kembali teralihkan padanya. "Desa Amegakure bisa seperti itu karena mereka semua memutuhi aturan yang kubuat di sana, tetapi itu hanya lingkungan kecil, bagaimana dengan dunia ini? Siapa yang akan membuat aturannya? Mengapa negeri-negeri lain harus mematuhi aturan tersebut?" Naruto kembali tidak menunggu mereka merespon. "United Nations, persatuan bangsa-bangsa. Kita akan mendirikan organisasi yang jauh lebih besar dari Akatsuki, bahkan Akatsuki nantinya akan menjadi bagian dari United Nations. Setiap negeri yang nantinya bergabung dengan United Nations akan mengerimkan tiga perwakilan mereka, dan bersama-sama mereka akan menjadi bagian dari Majelis Kongres UN yang kemudian akan membentuk hukum yang harus dipatuhi oleh setiap negeri yang termasuk ke dalam UN. Mungkin sebagian kalian sudah tahu atau menduganya, kalau markas UN yang di dalamnya akan ada markas Akatsuki nantinya akan berada di Draconic Kingdom. Tatanan Dunia Baru, United Nations adalah media yang akan mewujudkan hal itu." Naruto meletakkan kedua sikunya di atas meja, menautkan jemarinya satu sama lain dan mendekatkan mulutnya dengan tangannya, memasang ekspresi serius memandang semuanya.

"Mengapa negeri-negeri itu harus bergabung dengan United Nations, apa yang membuat mereka ingin bergabung?" tanya Evileye, [Blood Fruit] di tangannya sudah tak lagi bersisa. "Seperti yang kita ketahui, negeri-negeri lain—terutama demihuman dan negeri penganut keagamaan—pasti hanya akan memandang sebelah mata pada UN. Bahkan jika bergabung dengan UN akan menguntungkan mereka, hari di mana itu terjadi sangatlah tidak mungkin. Mungkin aku agak skeptikal, tetapi begitulah kenyataannya."

Sebagian mengangguk membenarkan perkataan Evileye, sebagian diam karena merasa hal yang sudah sangat wajar seperti itu sama sekali tidak perlu disuarakan.

"Kenyataannya memang seperti yang Evileye katakan," respon Naruto. "Tetapi karena seperti itulah makanya kita berada di sini, bukan begitu?"

Evileye mengangguk.

Naruto tersenyum tipis. "Kita tidak memerlukan semuanya untuk bergabung dengan UN, dua negeri sudah cukup untuk memulai mendirikan United Nations dan membuatnya berfungsi. Ketika melihat bagaimana UN membuat kedua negeri itu hidup damai dan harmonis, lambat laun negeri-negeri lain akan menaruh perhatian pada United Nations. Bisa jadi mereka akan mendukung UN, boleh jadi pula mereka menentang UN."

"Elf Kingdom dan Draconic Kingdom?" tanya Krakart.

"Tepat sekali," respon Naruto. "Semua tahu kalau semua Elf membenci Elf King, bahkan istri-istri dan anak-anaknya. Kita juga tahu kalau sebelumnya Elf Kingdom dan Slane Theocracy menjalin kerja sama yang baik, tetapi itu semua berubah tatkala Elf King menodai perjanjian di antara keduanya. Mereka, para Elf, adalah ras yang menyukai perdamaian, mereka akan dengan senang hati bergabung dengan UN tatkala kita menjatuhkan raja mereka."

"Bagaimana kalau mereka menolak?" tanya Tsusaza, sedikit penasaran.

"Tidak akan, pemimpin mereka yang baru tidak akan menolak."

Tidak ada yang bertanya mengapa pemimpin yang baru tidak akan menolak, jika pemimpin mereka mengatakan seperti itu, maka mereka semua tidak merasa perlu menanyakan detilnya. Meskipun Evileye baru pertama kali menyaksikan Naruto secara langsung, ia merasa apa yang pemuda berambut pirang beriris menghipnotis itu akan menjadi kenyataan, terlebih setelah ia memakan [Blood Fruit] tadi.

"Di lain sisi," lanjut Naruto, "tidak sulit meyakinkan Queen Draudillon Oriculus untuk bergabung, aku sudah membuat kontak dengannya. Kerajaannya yang senantiasa menjadi bulan-bulanan Beastman Country semakin memprihatinkan, dua dari enam kota mereka sudah jatuh dalam kuasa Beastman Country. Selama kita membebaskan mereka, mereka akan bergabung dengan United Nations. Tetapi sebelum ke sana, kita harus menyelesaikan masalah di Elf Kingdom. Kita akan melakukannya hari ini juga, orang-orang seperti Elf King harus dilenyapkan dari dunia ini jika kita benar-benar menginginkan kedamaian."

Naruto bangkit dari kursinya. Tiba-tiba langit yang tadi putih bersih perlahan-lahan menjadi gelap, lalu di tengah-tengahnya, di atas mereka semua, terbentuklah bulan bulat sempurna berwarna merah. "Akatsuki memiliki arti fajar merah," ucap Naruto, berbalik membelakangi yang lainnya. "Itu adalah saat malam beralih menjadi pagi, saat kehangatan menyambut dunia. Seperti halnya fajar yang membuat pagi datang, kita Akatsuki akan menjadi fajar yang akan mengakhiri kegelapan dunia ini."

Mereka memandang punggung Naruto dalam diam. Tiba-tiba mereka semua melihat distorsi ruang terjadi di depan sosok Naruto, lalu Naruto berjalan tenang ke dalam distorsi yang pinggirannya berwarna ungu itu. "Aku akan menteleportasikan kalian ke perbatasan Elf Kingdom dalam beberapa menit," ucap pemuda berambut pirang itu sebelum sosoknya menghilang dari pandangan yang lainnya.

Suatu tempat, E-Pespel…

Lakyus memandang datar isi gelas di tangannya. Bir yang mengisi gelas besar itu sama sekali belum berkurang sejak ia memesannya belasan menit yang lalu. Ia tak sendiri, Gagaran, Tina dan Tia duduk berbaris di sampingnya. Mereka sedang berada di sebuah bar di dalam salah satu penginapan yang ada di E-Pespel. Ekspresi Gagaran tak berbeda jauh dengan Lakyus, malahan kekesalan jelas sekali terlihat di wajah wanita dengan baju zirah berwarna ungu itu. Dari mereka berempat, hanya Tina dan Tia yang ekspresinya tenang. Mereka adalah assassin, itu sangat wajar bagi mereka untuk tidak menampilkan banyak ekspresi di wajah.

"Kita sudah mencari Eveleye berhari-hari, tetapi tak ada kabar sedikit pun darinya. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bos? Apa kita harus mencari magic caster lain untuk mengisi kekosongan yang Chibi tinggalkan, atau tetap seperti ini?" tanya Gagaran kesal.

Lakyus tidak ingin mencari yang lain, ia bahkan masih belum terima dengan keputusan sepihak Evileye. Mengapa coba gadis itu tiba-tiba meninggalkan mereka, apa memang Akatsuki itu yang telah mempengaruhi temannya itu? Juga, mengapa ia bertanya hal-hal seperti itu pada waktu itu? Apa dia ingin mengatakan kalau sebenarnya wajah yang disembunyikan di balik topeng itu adalah wajah vampire?

Itu tidak mungkin. Lakyus tidak pernah melihat Evileye minum darah. Pun gadis itu tidak pernah menyerang siapa pun disaat mereka terlelap. Jika gadis itu vampire, pasti sekarang dirinya dan yang lain sudah tidak lagi bernyawa. Evileye itu vampire…? Itu sama saja dengan mengatakan kalau ia telah mengkhianati dewanya. Hal yang seperti itu tidak mungkin terjadi; Evileye tidak mungkin adalah vampire.

"Kita akan merebut kembali Evileye dari pengaruh Akatsuki," gumam Lakyus. "Beraninya mereka memisahkan Evileye dari kita, sangat tidak bisa dimaafkan sekali!"

"Tetapi, bagaimana kalau Evileye tidak dipengaruhi?" celetuk Tina, Tia menganggukan kepalanya menyutujui pertanyaan saudari kembarnya.

Lakyus terdiam untuk beberapa saat. "Itu tidak mungkin," ucapnya penuh keyakinan. "Kebersamaan kita selama ini tidak akan akan tergoyahkan hanya karena hal itu, Evileye bahkan mungkin akan mengajak kita untuk ikut dengannya jika memang seperti itu. Tetapi nyatanya tidak, gadis itu memilih keluar dan meninggalkan kita."

Tetapi, bagaimana kalau ternyata Evileye adalah vampire…? Lakyus tidak tahu harus seperti apa di saat seperti itu. Tetapi, jika itu entah bagaimana menjadi kenyataan, hal pertama yang mungkin melintasi pikirannya adalah celaan terhadap siapa pun itu yang telah menciptakan dunia ini. Mengapa dunia ini begitu busuk…?

()—

Elf Kingdom terletak di antara Hutan Besar Evasha dan Slane Theocracy. Jika berjalan dari Slane Theocracy, siapa pun itu hanya perlu pergi lurus ke selatan dan mereka pasti akan sampai ke wilayah Elf Kingdom. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain, Elf Kingdom hanya memiliki satu kota, yaitu Kota Avest yang sekaligus adalah ibukota mereka. Para Elf lainnya tinggal di desa-desa yang terletak tersebar di seluruh wilayah kerajaan. Luas desa itu bervariasi dari satu desa ke desa lainnya. Ada yang hanya terdiri dari belasan kepala keluarga, ada juga yang cukup besar yang menyamai kota kecil. Kota Avest sendiri terletak di sisi barat Crescent Lake, danau besar yang terletak di tengah-tengah wilayah Elf Kingdom.

Di tengah-tengah Kota Avest berdiri sebuah bangunan yang cukup megah, itu adalah istana kediaman sang raja. Meskipun strukturnya lebih dekat dengan alam dibandingkan istana-istana lainnya, siapa pun yang melihatnya pasti setuju kalau apa yang tersaji di hadapan mereka itu pantas disebut sebagai istana Elf Kingdom. Istana tersebut berbentuk mengikuti struktur pohon, tetapi sama sekali tidak ada dahan dan daun yang menghiasinya. Bangunan tersebut memiliki tinggi mencapai tiga puluh meter, dengan diameter di dasar dan puncaknya berturut-turut seratus lima puluh dan lima puluh meter. Atap dari istana itu berbentuk kerucut, dengan sebuah bendera kerajaan berkibar angkuh di atasnya.

Di dalam istana tersebut, tepatnya di dalam ruang singgasana, seorang Elf pria berambut perak pendek acak-acakan yang terlihat seperti berusia dua puluhan memandang bosan pada belasan Elf wanita tanpa busana yang meliuk-liukkan tubuhnya mencoba menghibur dirinya. Iris heterokromianya (biru di kanan dan hitam di kiri) bahkan tidak tertuju pada bagian-bagian tubuh para Elf yang pasti akan membuat lelaki mana pun memandang dengan mata berkilat-kilat. Mereka adalah wanita-wanita tak berguna, ia sudah meniduri mereka berulang kali, namun tak satu pun dari mereka dapat melahirkan anak-anak yang kuat. Satu-satunya alasan mengapa ia masih mempertahankan mereka di istananya adalah karena wajah mereka termasuk di atas rata-rata, jika tidak maka sudah pasti ia akan meminta prajurit mencampakkan mereka ke luar istana.

Krualt Zbeelt Vuel Zithree—nama lengkap dari sang raja ini—melirikkan matanya ke kiri, pada seorang Elf wanita bermata heterokromia seperti dirinya. Elf tersebut mengenakan pakaian mewah dan berkelas seperti halnya pakaian yang ia pakai. Dari sekian ratus anaknya yang ada, hanya dia satu-satunya yang dapat memenuhi ekspektasi Krualt. Tentu saja dia masih tidak ada apa-apanya dengan dirinya, tetapi Zivelth Vuel Zithree—nama putrinya—lebih kuat dibandingkan semua Dragon Lord gadungan. Karena itu pula Krualt memberikan posisi Prime Minister kepada putrinya itu.

Bagaimana jadinya jika ia meniduri putrinya ini, apa anak yang akan dilahirkannya akan lebih kuat?

Pertanyaan itu seringkali melintasi pikiran Krualt. Tetapi ia sampai saat ini tidak pernah mengindahkan hal itu. Ia tidak masalah meniduri wanita mana pun, tetapi dirinya masih punya moral untuk tidak menyentuh darah dagingnya sendiri. Hingga saat ini. Namun, jika ia perhatikan dengan sungguh-sungguh, bukankah putrinya ini sangat cantik dan tubuhnya pun melampaui selir-selirnya yang lain? Tidak ada yang lebih cocok lagi untuk memberikan anak-anak yang kuat untuknya selain Zivelth.

Tetapi, Zivelth adalah putrinya. Apa ia akan memasukkan barangnya, yang telah memberikan kehidupan untuk putrinya, ke dalam tubuh putrinya itu? Itu sangat tidak bermoral sekali! Bahkan ia sendiri pun sampai merasa jijik. Namun, jika itu dapat memberikannya lebih banyak anak-anak yang kuat, bukankah mengabaikan nilai moral itu adalah solusi terbaik?

Lagipula, ia adalah raja. Perkataannya adalah mutlak. Jika ia mengatakan persetubuhan antara anak dan ayah itu normal, siapa yang bisa menyalahkannya? Tidak ada; tidak ada siapa pun yang bisa menyalahkannya. Ia adalah raja, ia adalah absolut. Ia tidak harus mengikat dirinya dengan segala aturan dan norma yang berlaku.

"Zivelth," panggil Krualt.

"Ya, Ayahanda?" respon Zivelth, ekspresinya datar dan dingin.

"Bagaimana menurutmu jika aku menanamkan benihku ke dalam tubuhmu?"

Kelopak mata Zivelth sedikit melebar mendengarkan pertanyaan itu. Tangan kirinya terkepal erat, sampai-sampai kuku-kukunya menembus telapak tangan, membuat darah sedikit menetes keluar membasahi tangannya. Meskipun amarah di dalam diri Zivelth telah meluap-luap, ekspresi di wajahnya masih datar dan dingin. "Jika itu yang Ayahanda inginkan," ucapnya singkat dan dingin.

Krualt terdiam sesaat. Meskipun tipis, ia bisa merasakan nada benci yang terselip dalam suara datar dan dingin putrinya. Seketika Krualt mengernyit, ada perasaan tidak nyaman tiba-tiba memasuki relung dadanya. Mengapa, apakah ia tidak suka jika Krualt, satu-satunya anaknya yang bisa ia panggil anak, menaruh benci padanya?

Kening Krualt semakin mengernyit. Ia tidak suka ada nada kebencian di suara Zivelth. Tetapi, ia tidak memiliki kandidat lain untuk ia masukkan benih miliknya agar menghasilkan anak yang kuat. Zivelth adalah satu-satu…nya? Tunggu, tunggu! Bukankah ia masih memiliki satu anak lagi? Anak yang ia hasilkan dari memperkosa wanita dari Slane Theocracy itu? Ah, mengapa ia sampai melupakan hal itu. Anak itu… pasti dia kuat. Pasalnya ibunya adalah wanita terkuat dari Slane Theocracy yang mampu membuat dirinya bertarung dengan serius, tidak mungkin anak itu menjadi barang gagal seperti sekian ratus anaknya yang lain.

"Tidak perlu khawatir, Zivelth," ucap Krault pada akhirnya. "Aku tidak serius ingin menanamkan benihku di tubuhmu. Tetapi, jika kau gagal membawakanku wanita yang lebih cantik dan kuat dari ibumu dalam tiga hari, mungkin aku akan mempertimbangkan menidurimu."

"Sesuai kehendak Ayahanda."

Krault mengangguk pelan mendengar respon Zivelth, lalu mengembalikan pandangannya pada wanita-wanita yang sibuk meliuk-liukkan tubuh mereka yang tak berbusana itu. "Ke sini," perintah Krault, "berbaris rapi tepat di hadapanku, yang paling pendek di depan dan paling tinggi di belakang."

Wanita-wanita itu seketika berhamburan ke hadapan Krault, mereka berbaris rapi tepat satu langkah di depan Krault seperti yang diperintahkannya. Mereka semua memandang Krault hati-hati, takut jika sang raja memukul mereka karena tidak puas dengan tarian yang mereka tampilkan.

"Berjongkong."

Ketujuh belas wanita itu seketika berjongkong, tidak berani melawan orang terkuat di seantero Elf Kingdom ini.

Zivelth yang mengerti apa yang akan raja mereka itu lakukan hanya bisa mengepalkan tangan kosongnya kuat-kuat. Apa tidak ada yang bisa melenyapkan anjing berkaki dua ini?! Jerit Zivelth dalam hatinya.

Bersamaan dengan itu, pintu ruang singgasana tiba-tiba terbuka lebar. Seorang prajurit lekas masuk dan segera berlutut di sana dengan wajah takut. Membuat Zivelth dan Krault yang sedang membuka celananya segera mengalihkan perhatian mereka ke sana. "Kau mau mati, hah?" tanya Krault penuh amarah, tangannya sedikit lagi dari membuat barang berharganya keluar dari tempat persembunyiannya.

"Maafkan hamba Yang Mulia Raja, hamba tidak akan berani masuk jika tidak ada hal penting yang harus Paduka tahu."

"Cepat katakan!"

"Seorang Manusia dan seorang Half-Elf telah berada di luar istana, mereka sudah melumpuhkan semua prajurit yang berniat menghentikan mereka masuk. Selain hamba, semua prajurit yan berjaga di dalam istana sudah pada keluar, namun hanya masalah waktu sampai keduanya memasuki istana."

"Hmph, dasar tak berguna! Zivelth, atasi kedua orang itu, aku harus melanjutkan apa yang telah kuniatkan. Oh, habisi prajurit tak berguna itu saat kau keluar. Dia tidak bisa dibiarkan hidup setelah melihat tubuh mulus tak berbusana wanita-wanitaku." Krault kembali mengalihkan pandangannya pada ketujuh belas wanita tak berbusana yang berjongkok di hadapannya. "Nah, kalian para wanita tak berguna, persiapkan diri kalian untuk menyenangkanku."

Satu Setengah Jam Sebelumnya, Sisi Terutara Elf Kingdom…

Naruto keluar dari lubang demensi miliknya dan berdiri dengan tenang menghadap ke arah selatan. Angin berdesau-desau mengibarkan jubah akatsukinya, pun surai pirangnya tak luput dari keusilan sesuatu yang terasa tapi tak terlihat itu. Tetapi Naruto bukan tidak menyukainya, ia justru sangat menikmatinya. Angin adalah elemen yang ia yakin tidak ada yang lebih baik darinya dalam bidang itu, bagaimana mungkin ia tidak menyukainya?

Puas menikmati belaian sang angin, Naruto membuat sebuah segel tangan. "Kuchiyose no Jutsu."

Puff! Sembilan segel pemanggi muncul berbaris di hadapannya. Dari kanan ke kiri berturut-turut muncul Zesshi, Tsaindoruks, dan seterusnya hingga Konan. Selain Konan, mereka semua cukup terkesima melihat merika menghilang dari ruang rahasia itu dan dalam sekejap sudah berada di tempat ini. Meskipun sebagian dari mereka juga bisa melakukannya dengan sihir [Teleportation], tetapi itu memiliki jangkauan terbatas. Evileye sendiri, ia perlu menggunakan [Teleportation] tiga kali untuk pergi dari Re-Estize ke E-Rantel. Namun, Naruto bisa membawa mereka semua dari Kami Miyako ke perbatasan Elf Kingdom pada saat yang bersamaan? Nightwalker tentu saja bisa melakukan hal yang serupa dengan [Greater Mass Teleportation] atau pun [Gate], tetapi metode Naruto tidak pernah ia lihat sebelumnya, karenanya ia sedikit terkesima.

Mereka ingin terkejut dengan hal itu, tetapi setelah mengetahui ketua mereka dapat membuat pohon yang berbuahkan buah yang rasa dan kandungannya seperti darah, mereka tak harus terkejut. Itu hanya mengsolidasi kalau hanya pemuda berambut pirang itu yang pantas memimpin mereka semua.

"Tsaindoruks, Rigrit, kalian menyisir sisi kanan kerajaan. Jangan bunuh Elf mana pun, namun tangkap mereka-mereka yang mendukung Elf King." Naruto mengalihkan pandangannya pada Tsusaza. "Kau dan Nightwalker akan menyisir sisi barat ibukota hingga ke ujungnya, perlakuan yang sama yang kuminta Tsaindoruks dan Rigrit juga berlaku untuk kalian. Sementara, Krakart dan Whalef akan membersihkan seluruh area Crescent Lake dari pengaruh Elf King. Lalu untuk sisi kiri kerajaan kupercayakan pada kalian, Konan dan Evileye. [Moku Bunshin]-ku akan menangani sisi timur Crescent Lake hingga ke perbatasan Slane Theocracy. Sedangkan aku sendiri dan Zesshi akan pergi ke ibukota. Ini adalah langkah awal yang nyata dari Akatsuki, sekarang pergilah!"

Seketika, Tsaindoruks dan Rigrit langsung menggunakan [Fly] untuk terbang ke sisi kanan kerajaan. Nightwalker menggunakan [Gate] dan dia bersama dengan Tsusaza lekas menghilang dari situ. Krakart langsung mengepakkan sayapnya, lalu membawa Whalef bersamanya ke angkasa. Mereka terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Crescent Lake. Sepasang sayap kertas terbentuk di punggung Konan, lalu dia melesat ke angkasa bersama dengan Evileye yang menggunakan [Fly]. Hanya tersisa Naruto dan Zesshi berdua.

"Aku tidak bisa terbang, bagaimana kita akan ke sana?" tanya Zesshi, memandang intens Naruto. "Oh, kau pasti akan menggendongku seperti seorang putri, 'kan?"

Naruto menghiraukan pertanyaan Zesshi, sebuah [Moku Bunshin] keluar dari punggungnya dan langsung berlari melesat ke depan. Zesshi menaikkan sebelah alisnya melihat adegan itu, tetapi ia tidak berkomentar apa pun. Naruto lalu membuat sebuah segel tangan dengan tangan kanannya. "Kuchiyose no Jutsu."

Puff! Seekor burung raksasa muncul di atas sebuah aksara rumit yang Zesshi tidak mengerti. Burung itu memiliki empat kaki, dua kaki besar di bawah dan dua kaki kecil di atas. Yang paling unik dari burung raksasa itu selain tindik-tindik besar di tubuhnya adalah matanya yang berpola riak air, sama persis dengan kedua mata lelaki berambut pirang itu.

"Ayo pergi," ajak Naruto, melompat ke atas kepala burung besar yang menundukkan kepalanya itu.

Zesshi mengulurkan tangan kanannya, menanti Naruto untuk menariknya ke atas. Tentu saja ia bisa melompat dengan mudah ke atas kepala burung itu, tetapi, di mana serunya coba?

Naruto mengernyitkan keningnya, namun ia tetap meraih uluran tangan Zesshi dan membantu gadis Half-Elf itu ke atas.

Zesshi mendorong dirinya dengan lebih kuat ke atas, membuatnya menabrak tubuh Naruto dengan cukup kuat. "Oppp!" Zesshi berhasil menyamankan dirinya di dada bidang Naruto. "Maaf, sepertinya aku melompat terlalu kuat," ucap Zesshi asal, pandangan sedikit menengadah dengan senyum nakal di bibir.

"Hmph," dengus Naruto. Dan tepat setelah itu, burung berkaki empat itu mengepakkan sayap besarnya. Melesat menuju ibukota Elf Kingdom.

(©)—