[Redemption of the Sinners]
-Chapter 5-
Segera setelah burung kuchiyose Naruto sampai di langit Kota Avest, ibukota Elf Kingdom, Naruto segera melompat dari sang burung. Ia mengontrol gravitasi dan membuat turunnya melambat hingga mendarat dengan elegan. Tidak seperti pendaratannya, dentuman kecil beberapa meter di kiri Naruto menyertai pendaratan kasar dan menyita perhatian dari Zesshi. Setelah debu yang disebabkan pendaratan Zesshi menghilang, terlihat retakan dan lengkungan belasan centi di bawah pijakan wanita Half-Elf itu. Dari hal itu bisa dilihat dengan jelas, kekuatan fisik Zesshi jauh melampau kebanyakan makhluk-makhluk dunia ini.
Naruto tidak lekas menghilangkan burung kuchiyosenya. Itu akan berguna sebagai matanya untuk mengamati dari atas. Pun tidak ada yang bisa melihat burung itu, ia sudah menyelimuti burung itu dengan Transparent Escape Technic. Tentu saja itu akan terdeteksi jika ada seseorang yang memiliki skill deteksi, atau jika ada seorang Tamer. Tetapi, dari sedikit info yang ia miliki, Martial Art Taming Beast hanya dimiliki oleh seorang dari Black Scripture-nya Slane Theocracy. Juga, tidak ada seorang Player pun di Elf Kingdom. Karena itu, peluang burung kuchiyose-nya terdeteksi sangatlah minim.
"Penyusup, penyusup!"
"Siapa kalian?! Bagaimana kalian bisa tiba-tiba muncul dari atas dan mendarat di halaman istana?"
"Manusia, beraninya kau menampakkan diri di halaman istana kerajaan!"
Seorang Elf berpakaian ala prajurit seketika menghadang. Di belakangnya sudah berdiri berjejer puluhan prajurit yang masing-masingnya menggenggam sebuah tombak. Pakaian mereka lebih bagus dari kebanyakan prajurit yang Naruto dan Zesshi lihat saat tadi berada di udara. Sepertinya mereka adalah pasukan elit dari seluruh prajurit Elf.
"Half-Elf bermata heterokromia…, mengapa kau berpihak pada manusia sepertinya?"
Naruto menaikkan sebelah alis matanya melihat para Elf itu memandang bingung pada Zesshi. Tampaknya rumor itu benar, mata heterokromia adalah bukti kalau seseorang itu memiliki darah leluhur para Elf. Hanya mereka yang bermata heterokromia yang diperbolehkan menduduki singgasana kerajaan.
"Apa…apa kau berniat memberontak terhadap His Majesty?"
Naruto memandang datar para prajurit itu, rinnegan-nya meradiasikan hawa intimidasi. "…Apa kalian setia dan rela mati demi Elf King yang tidak pantas dipanggil raja itu?" tanya Naruto, mengabaikan pertanyaan dan percobaan intimidari para Elf.
Zesshi hanya berdiri dengan satu tangan di pinggang dan tangan satunya menggenggam sabit kebanggannya. Ia tak acuh pada para Elf, tak sedikit rasa peduli tersirat di wajahnya. Kendati demikian, Naruto tahu kalau gadis itu sangat tidak sabar untuk menyayat-nyayat tubuh lelaki bajingan yang menguasai Elf Kingdom.
Para prajurit saling melihat satu sama lain. Pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang mereka ekspektasikan keluar dari mulut Manusia itu. Terlebih lagi, Manusia itu datang bersama seorang Half-Elf. Berdasarkan kabar yang beredar di kalangan Elf, Manusia memperlakukan Elf sebagai budak, mereka memandang jijik para Elf. Tetapi, sepertinya tidak seperti itu dengan Manusia yang memiliki mata aneh yang sangat mengintimidasi itu. Justru, mereka terlihat seperti rekan yang saling mempercayai satu sama lain. Sejenak Elf yang memimpin para prajurit itu tergoda untuk mengatakan kalau ia sangat membenci Elf King, tetapi mengingat keluarganya yang akan bermasalah jika ia sampai membuat rajanya tidak senang membuatnya tersadar kembali.
"Itu tidak penting," ucapnya, "yang penting kalian penyusup akan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian di hadapan His Majesty. Semuanya, serang!"
"…Baiklah kalau itu keinginan kalian." Tangan kanan Naruto terulur ke depan, telapak tangan menghadap ke arah para prajurit yang berlarian ke arahnya dan Zesshi dengan senjata-senjata yang teracung. "Shinra Tensei."
Seketika, semua prajurit yang hendak menyerang Naruto dan Zesshi terhempas kuat ke belakang. Mereka terlempar dengan telak hingga membentur tanah dan dinding-dinding yang berada di dekat mereka. Beberapa dinding bahkan sampai retak dan ada dua bagian yang sampai tembus. Meski Shinra Tensei tersebut hanya dalam skala kecil, namun karena terpusat ke depan membuat daya hempasnya lebih kuat daripada jika mengarahkannya ke semua arah.
"…Spe-Spell tingkat berapa itu…?" tanya pemimpin dari prajurit-prajurit itu. Tetapi tidak ada yang merespon. Selain dirinya yang masih bisa berdiri, prajurit-prajurit lainnya melenguh kesakitan.
"Sebaiknya kau menyingkir, tujuan kami hanya ingin membunuh Elf King, tidak lebih."
Elf tersebut terdiam sejenak. "…Apa kalian bisa melakukannya?" tanyanya penuh harap.
Naruto mengangguk. "Itu bukan hal yang sulit."
Elf tersebut memandang Rinnegan Naruto lekat-lekat, sebelum kemudian menghela napas panjang dan membaringkan dirinya di samping prajurit lainnya. "...Tolong buat bajingan tengik itu mati semenderita mungkin," pintanya lalu memejamkan matanya, berpura-pura pingsan.
"Hoo…?" Zesshi merasa terhibur. Ia tidak menduka Elf itu akan berpura-pura pingsan seperti itu. "Sepertinya binatang itu benar-benar bangsat, eh? Aku jadi semakin bersemangat untuk menyiksanya sebelum menghabisinya."
Naruto tidak mengatakan apa pun terhadap perkataan Zesshi itu. Ia melangkahkan kakinya memasuki istana yang strukturnya menyerupai pohon—yang sedikit mengingatkan Naruto terhadap Shinju yang Zetsu hitam katakan. Zesshi yang melihat Naruto maju pun lekas mengikuti pria berambut pirang itu. Ia tidak ingin kalau Naruto sampai melukai bajingan itu terlebih dahulu.
Prajurit yang tadi menghadang mereka tampaknya bukan semua dari prajurit istana, belasan prajurit langsung saja berdatangan mengacungkan senjata mereka pada Naruto dan Zesshi. "Siapa pun, bahkan mereka yang bermata heterokromia, dilarang memasuki istana tanpa izin His Majesty. Semuanya, serang mereka!"
"Serang!"
Para Elf serentak berlari ke arah Naruto dan Zesshi. Senjata-senjata mereka mengacung tinggi, siap terhunus menembuh tubuh-tubuh musuh mereka. Tetapi, ada yang aneh. Mereka tidak berlari lurus ke arah kedua penyusup itu, tetapi berlari dengan penuh tekat melewati kedua penyusup yang terbengong-bengong melihat tindakan…melawak mereka.
"…"
"…"
"…Naruto…."
"Zesshi…."
Serentak Naruto dan Zesshi berbalik, seketika mereka dihadapkan pada para prajurit yang sudah membaringkan tubuh mereka di sekitar tubuh tak sadarkan diri para prajurit sebelumnya. Senjata-senjata mereka sudah dicampakkan secara asal. Mata mereka sudah terpejam dengan posisi berbaring yang tak rapi. Tak ragu lagi, mereka semua sedang berpura-pura pingsan.
"Kuanggap aku tidak melihat mereka," gumam Naruto sambil kembali berbalik. Zesshi yang sempat bengong pun ikut berbalik. Pandangan keduanya jatuh pada seorang Elf yang bersembunyi di belakang sebuah pilar yang menopang langit-langit.
"Eeeeppppp!" Elf yang sedang bersembunyi itu terkesiap menyadari kedua pasang mata itu melihat ke arahnya. Dengan kedua kaki bergemetaran ia menampakkan dirinya. "Sa-Saya akan memberitahu Hi-His Majesty!" serunya sambil membungkuk lalu berbalik dan berlari terbirit-birit menaiki anak tangga ke lantai atas.
"…" / "…"
Naruto dan Zesshi melanjutkan langkah kaki mereka dalam diam, tidak ada kata yang bisa mereka keluarkan untuk mendeskripsikan ke-absurb-an yang baru saja mereka alami.
…sisi utara ibukota…
Dua makhluk dalam balutan jubah hitam berpola awan merah terlihat melayang ribuan meter di atas sebuah danau luas yang memisahkan Hutan Besar Evasha dengan ibukota Elf Kingdom. Mereka berasal dari ras yang berbeda, satu seorang Birdman sementara yang satunya adalah Seaman. Bagaimana Seaman yang tidak mungkin bisa terbang berada di langit Crescent Lake? Itu jelas kalau sang Birdman yang mencengkeram kedua bahu Seaman dengan cakar tangannya yang kuat.
"Whalef, aku tidak melihat ada danau lain, apa itu danau yang bernama Crescent?" Krakart bertanya dengan ekspresi sedikit kesal—tentu saja tak terlihat dari wajah burungnya. Ia sudah lelah mengedarkan pandangannya mencari danau lain, tetapi hanya danau di bawah sana yang terlihat.
Whalef menghela napas panjang, ia sudah mulai merasakan dehidrasi karena Krakart tak kunjung turun meski telah berada di udara lebih dari sejam lamanya. "Krakart," ucapnya setengah jengkel, "aku sudah lelah mengatakan ini, tetapi harus kukatakan kalau hanya ada satu danau di sini."
Krakart yang mendengar suara jengkel Whalef menjadi semakin kesal. Memang, ia sudah mengulang pertanyaan itu lebih dari satu, dua, er, tiga belas kali (?), namun itu tidak bisa dijadikan alasan bagi Whalef untuk kesal padanya. Terlebih lagi, ia sudah membawa manusia bermuka ikan ini sampai di sini, bukankah manusia laut ini seharusnya berterima kasih padanya? Tetapi orang ini, berani sekali dia merasa jengkel padaku? Krakart sungguh kesal, saking kesalnya ia ingin mematuk orang ini dengan paruh tajamnya.
"Oi, Krakart, kau dengar? Itu adalah Crescent Lake. Ayo turun dari sini dan selesaikan tugas ini dengan cepat, aku ingin segera berendam di air."
"Brengsek, jangan asal perintah-per‒" Krakart terdiam, tiba-tiba ide yang sangat jenius muncul di kepala burungnya. Khukukukuku, tawa Krakart dalam hati. Meski tak ada manusia normal yang dapat menerjemahkan ekspresinya, mereka semua pasti akan memandangnya gila. "‒Ehem, baiklah, Whalef, aku akan membawamu turun."
Whalef sedikit bernapas lega, akhirnya perkataannya bisa masuk ke otak bebalnya Krakart. "Meski aku heran, aku senang kau akhirnya mengerti, Krakart. Tetapi, Krakart, mengapa kau mengendurkan genggaman-Krakart! Oi, Krakart, bangsat!" Whalef berteriak histeris dengan kedua tangan ia kepak-kepakkan berusaha untuk mempertahankan dirinya di udara. "Krakart bangsat, anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!"
"Bwahahahahahaha, mampus kau, Whalef! Rasakan gaya terbaru untuk berendam di danau: jatuh bebas!"
Byuuuuuuuuuuuuuuuuur!
Krakart memandang puas pada Whalef yang jatuh menghantam permukaan danau dengan keras. Rasanya sungguh melegakan, semua rasa kekesalannya sudah menghilang terbawa oleh tawanya yang sedikit membahana. Oh, Krakart sungguh senang, ia bahkan ingin ikut terjun bebas dan membasahi dirinya dengan air danau. Tetapi tiba-tiba ia mematung, Krakart baru menyadari sesuatu. "Bangsat, aku bukan anjing, aku ini burung kau ikan laut bodoh!" teriak Krakart sekuat yang ia bisa.
Di danau, Whalef membawa dirinya ke permukaan danau, kondisinya sudah berada dalam kondisi terbaiknya. Bagaikan ikan yang berenang bebas, Whalef melesat cepat ke pinggir danau. Ia sempat berpikir kalau jatuh dari ketinggian lalu menampar permukaan air dengan tubuhnya akan sakit, tetapi diluar dugaan, rasanya sungguh sangat menyenangkan! Whalef jadi ingin mencoba untuk jatuh dari posisi yang lebih tinggi, itu pasti akan sangat menyenangkan. Tetapi tentu saja, ia tidak boleh membiarkan Krakart tahu kalau ia menikmati jatuh bebas ke danau seperti ini. Meskipun Krakart menyebalkan jika sedang kesal, setelah kekesalannya reda Birdman itu akan merasa bersalah atas hal buruk yang dilakukannya saat dia kesal. Karena itu, ia harus berpura-pura kalau ia marah pada Krakart.
Jauh di atas danau, Krakart membawa bola matanya mengikuti Whalef yang berenang dengan lihai menuju tepi danau. Melihat rekannya itu berenang ke tepian, rasa bersalah mulai menyeruak memasuki hati burungnya. Itu sungguh keterlaluan baginya menjatuhkan Krakart dari ketinggian seperti ini. Meski Whalef tak mungkin mati atau pun terluka parah, dia pasti merasa sakit.
"Cih, itu salahnya karena bodoh," gumam Krakart mencoba mengabaikan rasa bersalahnya. Tetapi, kedua sayapnya telah terkepak dan ia sudah meluncur turun mengikuti Whalef. "Apa boleh buat, aku akan menyuruhnya untuk beristirahat dan membuat semua pengikut Elf King itu tunduk seorang diri."
…sisi selatan ibukota…
Nightwalker duduk tenang di atas sebuah puncak rumah pohon milik ketua desa dari desa terakhir yang berada dalam cakupan wilayah dari tugas yang Naruto berikan padanya dan Tsusaza. Iris merah darah berpupil hitam vertikalnya terpejam, ia menikmati semilir angin yang memaksa menerpa wajahnya. Sementara, Tsusaza melayang belasan meter di samping atasnya. Wanita Sea Dragon berjuluk Sea Deity itu menengadahkan wajah indahnya memandang langit biru, bertanya-tanya apa yang ada di ujung langit sana.
Sementara itu, para penduduk desa tampak terbuai lelap di rumah mereka, halaman rumah, tanah lapang, dan di berbagai tempat lainnya. Nightwalker langsung mengaktifkan salah satu dari dua skill yang bisa ia gunakan lebih dari 10 kali dalam sehari, sebuah skill yang AoE-nya (Area of Effect) luas: [Silent Night]. Meski skill itu tidak akan berpengaruh pada makhluk yang berlevel di atas 80, makhluk yang level-nya di bawah 50 tidak akan bisa menghindar dari skill tersebut. Sedang makhluk berlevel 50-80 akan mampu memberikan sedikit resistansi, tergantung stats dan Passive Skill mereka.
Skill itu akan membuat semua makhluk yang pengguna anggap sebagai target untuk terlelap. Mereka akan bermimpi, tergantung dari kehendak pemilik skill. Mimpi buruk akan perlahan-lahan mengurangi HP, sementara mimpi baik akan perlahan-lahan menaikkan HP. Itu adalah skill yang sangat bermanfaat. Dan karena itu pula, Nightwalker bisa menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka dalam waktu singkat, sangat singkat.
Tentu saja itu tidak mungkin akan sesingkat ini jika ada Elf yang rela mati demi Elf King. Tetapi, tak ada satu pun yang rela mempersembahkan nyawa mereka demi Elf King. Berita tentang Elf King adalah raja yang dibenci seluruh rakyatnya mungkin bukanlah sekadar rumor semata. Satu-satunya yang membuat mereka tunduk adalah karena Elf King-lah yang terkuat. Kekuatan adalah segalanya, yang lemah tunduk pada yang kuat—begitulah hukum di dunia brutal ini.
"Hei, Nightwalker."
"Hm?" Nightwalker merespon tanpa mengubah posisi duduk dan dengan mata yang masih terpejam.
"Kau mengklaim dirimu sebagai vampire tertua dari semua vampire yang ada di dunia ini, bukan begitu?"
"Hm."
"Jika demikian, kau pasti setidaknya memiliki sedikit informasi akan Alucard—vampire yang dielu-elukan sebagai progenitor dari semua vampire, vampire yang sama tuanya dengan Dragon Emperor—'kan?"
"Hm."
"Apa dia lebih kuat darimu, atau…kau adalah…dirinya?"
Kelopak mata Nightwalker perlahan-lahan terbuka, menampilkan iris merahnya yang lebih gelap dari iris Evileye. "…Aku tidak akan bisa membunuhnya, dia tidak akan bisa membunuhku, bisa kubilang kami sama kuatnya."
"Oh," bola mata Tsusaza melirik ke bawah, "jadi kau dan dia itu makhluk yang sama?"
"Aku tidak mengiyakan pertanyaanmu."
"Kau juga tidak mentidakkan pertanyaanku."
"…Respon yang bagus. Tetapi, Alucard tidak bisa menahan dirinya dari meminum darah makhluk yang kuat, dia akan langsung meminum darahmu jika dia berada di sini."
"…Itu memang benar. Dragon Emperor bahkan tidak mau bertarung dengannya. Meski secara fisik Dragon Emperor lebih unggul dari Alucard, Alucard adalah lawan yang menyulitkan Dragon Emperor. Setidaknya, sebelum dia mati dikeroyok oleh Eight Greed Kings."
"Hm."
Tsusaza menurunkan tubuhnya hingga mendarat tepat di kanan Nightwalker. "Tidak ada yang perlu kita lakukan lagi di sini," ucapnya.
Nightwalker mengangguk setuju. "Ayo ke ibukota, [Gate]."
…sisi barat ibukota…
"…Bagi kalian yang tidak rela mati demi Elf King, silakan duduk di tempat kalian berpijak."
Suara Konan itu datar dan dingin, tidak terdapat sedikit pun kehangatan dan emosi di sana. Meski Keeno sudah mendengarnya cukup sering, tetap saja ia terkesima melihat bagaimana wanita berambut itu menghilangkan emosinya dari wajah dan suaranya. Tentu saja emosi itu sesekali muncul, tetapi itu sangat-sangaaaat jarang. Dan dengan sayap kertas bak sayap malaikat terbentang lebar di punggungnya, Keeno merasa seolah-olah Konan adalah utusan dari sang dewa.
Tunggu, tunggu, jika Konan adalah utusan dewa, bukankah itu artinya Naruto yang menjadi dewanya?
Keeno menggelengkan kepalanya pelan mengusir bayangan Naruto sebagai dewa, iris merahnya kembali tertuju pada para penduduk yang sudah pada duduk di tempat mereka berdiri sebelumnya. Dari semua penduduk desa, tak satu pun dari mereka dalam posisi berdiri. Itu sama seperti desa-desa sebelumnya: mulanya para penduduk bersikap agresif terhadap mereka, namun ketika Konan menyelubungi desa dengan kertas-kertas yang melayang dan meminta mereka semua berkumpul dengan suara yang mengintimidasi, mereka jadi memandang keduanya takut-takut. Tentu saja ada beberapa Elf yang melawan, tetapi Konan dengan cepat membekap mereka dengan kertasnya. Dan saat wanita itu mengucapkan "…Bagi kalian yang tidak rela mati demi Elf King, silakan duduk di tempat kalian berpijak", para penduduk dengan seketika mendudukkan diri mereka.
Keeno menyimpulkan dua alasan mengapa para penduduk langsung duduk tanpa ragu. Yang pertama, Konan bisa cepat melumpuhkan orang-orang yang kuat dari mereka, itu membuat nyali mereka turun. Yang kedua, Konan menunjukkan kalau dirinya hanya memusuhi orang yang rela mati demi Elf King, orang yang juga mereka benci. Menyadari itu, Keeno langsung menyadari bahwa satu-satunya raja yang dibenci oleh seluruh rakyatnya adalah Elf King. Tak heran kalau rumor tentangnya sangatlah buruk, batin Keeno.
"Kalian yang tadi berniat melawan, apa kalian rela mati demi Elf King?"
Pertanyaan itu membuat Keeno mengalihkan pandangannya pada tujuh Elf yang tubuhnya ditutupi dengan sempurna oleh kertas-kertas milik Konan. Kertas-kertas yang menutupi mulut mereka melayang, membuat mereka bertujuh bernapas lega seketika. "Te-Tentu saja tidak!" respon mereka dengan serentak. "Tak ada yang mau mati demi raja sialan itu!"
"Hm, baiklah kalau begitu."
Kertas-kertas yang menyelubungi desa dan mengekang ketujuh Elf itu seketika berhamburan ke angkasa. Konan mengepakkan sayap kertasnya, melesat menuju desa selanjutnya. Keeno melirik sekilas pada para Elf, kemudian mengikuti Konan bersama dengan puluhan ribu kertas putihnya. "…Apa menaklukkan sebuah negeri itu memang semudah ini?" tanya Keeno merasa terkesima.
Tetapi jika dipikir-pikir, semua anggota Akatsuki itu sangat mengesankan. Dirinya saja, menghancurkan sebuah negeri kecil bisa ia lakukan seorang diri. Sementara Akatsuki…itu akan sangat mengejutkan jika mereka secara bersama-sama gagal dalam menaklukkan sebuah negeri. Sekarang Keeno jadi berpikir, rasanya tujuan Akatsuki itu sama sekali tidak mustahil untuk diwujudkan.
Untuk pertama kali dalam hidup panjangnya, Keeno merasa kalau pilihannya kali ini tidak akan membuatnya menyesal. Mungkin…suatu hari nanti ia akan bisa berjalan di antara kerumunan orang tanpa perlu menyembunyikan mata dan taringnya.
…sisi timur ibukota…
Jen merasa dirinya sebagai Elf yang paling beruntung di dunia. Ia bisa meniduri Elf mana pun tanpa perlu takut dihukum. Ia adalah salah seorang kapten dari pasukan Elf, bawahannya tidak punya hak untuk menolak menuruti perintahnya. Terlebih lagi, Elf King menerima idealismenya. Asalkan ia tidak menyentuh wanita-wanita yang disentuh Elf King, ia boleh meniduri siapa saja selama ia bisa menundukkan mereka. Tidak peduli jika wanita itu sudah bersuami dan beranak. Dan itu adalah apa yang dilakukannya. Jen meniduri wanita mana saja yang dikehendakinya, tentu saja korbannya tidak memiliki anggota keluarga yang lebih kuat darinya. Karena, meskipun Elf King menerima idealismenya, Elf King membenci orang-orang lemah. Oleh sebab itu, Jen tidak mencoba menyentuh wanita yang memiliki saudara/suami yang lebih kuat darinya.
Tentu saja Jen tahu kalau semua orang membencinya. Tetapi selama ia tidak mencari gara-gara dengan Elf yang lebih kuat darinya, ia tidak akan berada dalam masalah. Jika saja Jen kuat seperti idola nomor satunya, Elf King, ia bisa memiliki semua wanita di kerajaan ini. Ia bisa memasuki satu rumah dan meniduri semua wanita yang ada di rumah itu, lalu pergi ke rumah yang lain untuk melakukan hal yang sama. Tidak akan ada yang berani menghentikannya, seperti halnya tidak ada yang berani menghentikan Elf King.
Tetapi itu selamanya hanya akan menjadi angan-angan Jen. Ia sudah mencapai batas kemampuannya, ia tidak bisa menjadi lebih kuat lagi. Awalnya Jen tidak mempercayai hal yang bernama limit itu, tetapi ia terpaksa mempercayai itu saat menyadari kalau sekeras apa pun ia berlatih dirinya tidak akan bertambah kuat. Jen sudah mencapai kemampuan puncaknya, fakta itu tidak bisa ia elakkan. Karena itu, Jen merasa tidak boleh ada yang menggantikan Elf King sebagai raja. Sebab ia tidak mungkin bisa mencapai kekuatan Elf King, menjadi sebuah keharusan bagi orang sepertinya untuk memiliki raja yang bejat seperti dirinya.
Namun, orang itu berani mengatakan ingin menghabisi Elf King, di hadapan diriku ini?! Jen benar-benar marah. Tubuhnya sudah bergetar, dan tangannya sudah gatal ingin menghabisi dua orang asing yang baru saja mendarat di desa yang kebetulan sedang ia tinggali ini.
"Sekali lagi kuperingatkan, kami hanya akan menawan mereka yang rela mati demi Elf King. Kalian yang ingin Elf King mati, silakan memasuki rumah kalian masing-masing," Tsaindoruks mengulang deklarasinya untuk kali kedua. Namun tiga orang Elf laki-laki tetap tak beranjak dari tempat mereka berdiri, sementara yang lainnya sudah memasuki rumah mereka masing-masing.
"Sepertinya mereka benar-benar rela mati demi Elf King, Tsa," komentar Rigrit.
Tsaindoruks mengangguk sependapat dengan Rigrit. "Pun mereka terlihat begitu dibenci oleh Elf yang lain," tambah sang Platinum Dragon Lord. "Aku berpikir kalau semua Elf sangat membenci Elf King, tetapi siapa sangka kalau ada juga yang rela mati demi dirinya."
"Ah, bukankah itu artinya mere‒"
"Brengsek, bangsat!"
Ucapan Rigrit terhenti oleh makian dari lelaki yang ditengah, sepertinya adalah pemimpin dari ketiga Elf itu.
"Beraninya kalian melawan His Majesty! Akan kuhabisi kalian, serang!"
"[Negative Rope]!" seru Rigrit, seketika ketiga Elf itu dililit oleh tali yang terbuat dari energi negatif. Tidak saja itu akan menyakiti objek yang diikat tali itu, itu juga akan menguat jika dilawan. Itu adalah Tier Magic tingkat keempat. Tidak mungkin mereka bisa melepaskan diri darinya.
"Itu sungguh cepat, ayo lanjut ke desa selanjutnya."
Rigrit mengangguk. Mereka baru melewati tujuh desa, ini yang ke delapan, masih banyak desa yang menunggu kedatangan mereka. Tetapi, jika penduduk membenci Elf King sama seperti desa-desa sebelumnya, ini tidak akan menyulitkan sama sekali. "Aku tidak pernah berpikir ini akan semudah ini," Rigrit tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berkomentar.
"…Ini sangat wajar, tidak ada Elf normal yang mau mengorbankan nyawa mereka demi raja yang memperlakukan mereka sebagai budak. Sangat wajar. Benar-benar sangat wajar."
…bersama clone Naruto…
Hutan Besar Evasha adalah tempat yang level berbahayanya jauh di bawah Hutan Besar Tob—yang dipenuhi berbagai ras demihuman juga Magical Beast yang siap menjadikan manusia sebagai santapan. Mungkin itu karena Elf yang hidupnya cenderung berkelompok-kelompok kecil dan tak menyatu sepenuhnya, yang membuat pedesaan mereka begitu tersebar. Sehingga, Magical Beast yang menetap di Hutan Besar Evasha tidak bisa berkembang lebih jauh, pun para demihuman tak punya kesempatan untuk beranak-pinak karena pasukan Slane Theocracy selalu rutin berpatroli mengawasi hutan besar itu.
Hutan Besar Evasha sangat penting bagi Elf Kingdom. Bukan saja sebagai batas natural antara Elf Kingdom dan Slane Theocracy, Hutan Besar Evasha juga menjadi medan yang sangat menguntungkan bagi Elf Kingdom. Mayoritas prajurit Elf Kingdom ditempatkan di ujung hutan ini, Hutan Besar Evasha adalah markas alami mereka. Mereka bisa menjalankan taktik gerilya dengan sangat leluasa di sini. Tak heran, meski secara kualitas tentara Slane Theocracy lebih unggul, sampai saat ini mereka belum bisa menguasai hutan besar ini.
Naruto sudah melewati setengah bagian hutan besar tersebut, namun ia masih belum mencapai garnisun para Elf. Tentu saja ia tahu kalau menemukan benteng pertahanan yang dibangun untuk persembunyian sangatlah sulit, tetapi itu sama sekali bukan masalah untuknya. Kecuali tersembunyi di balik fuinjutsu atau pun genjutsu super rumit, atau spell yang serupa, klon sepertinya bisa menemukan hal tersebut dengan mudah.
Itu membutuhkan setengah jam lagi bagi Naruto untuk menemukan lokasi dari garnisun itu. Ada lebih dari seribu Elf di sana, beberapa di antaranya terbilang kuat menurut standar dunia ini. Dan ketika Naruto sudah lebih dekat, ia menjadi tahu bahwa yang terbilang kuat di antara para Elf itu semuanya memiliki mata heterokromia. Tetapi dari belasan mereka, tak satu pun memiliki iris dan rambut heterokromia seperti Zesshi.
Salah satu dari mereka menyadari kehadirannya, dan hanya dalam beberapa detik kemudian orang itu dan beberapa Elf bermata heterokromia lainnya sudah berjalan ke arahnya. Naruto tidak bereaksi terhadap kedatangan mereka. Sejak awal ia memang tidak berniat menyembunyikan dirinya. Ia menginginkan mereka untuk datang kepadanya.
"Manusia, kau berhasil menemukan garnisun kami."
"Kami berniat melenyapkan Elf King. Apa ada dari kalian yang rela mati demi dia?" tanya datar Naruto.
Kedelapan Elf yang menghampirinya saling memandang selama beberapa saat, sebelum kemudian mereka tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata.
Naruto tidak mengatakan apa pun; ia tahu itu adalah pertanyaan yang aneh bagi seorang Elf. Wajahnya tetap datar tanpa ada ekspresi kesal mendengar tawa mereka. Naruto diam dengan pandangan mata yang mengatakan kalau ia ingin mendengar jawaban mereka.
"Oi, tampaknya manusia ini serius," ucap salah seorang Elf kala tawanya mereda, membuat semuanya memfokuskan pandangan mereka pada Naruto.
"Kau benar, dia terlihat serius."
"Pas sekali!" seru salah satu dari mereka. "Bagaimana kalau kita tangkap dan serahkan dia pada ayahanda, mungkin dengan begitu dia akan memberi kita hadiah atau setidaknya memuji kita."
"Itu…bukan ide yang buruk."
"Aku setuju, kalau begitu biar aku saja yang menghajarnya," Elf yang pertama kali melihatnya itu mengajukan diri, Elf yang lain mengangguk mengizinkan, yang langsung saja disambut cengiran Elf itu. "Awalnya kami berniat untuk membunuhmu, tetapi membawamu kepada raja adalah pilihan terbaik. Terima takdirm, Manusia!"
Naruto memiringkan kepalanya ke kiri, menghindari pukulan tangan kanan Elf tersebut. Kemudian Naruto melompat mundur menghindari terjangan lutut Elf itu. Tak berhasil, Elf itu semakin agresif, dia menyerang Naruto dengan membabi buta, tetapi Naruto dapat menghindari semua serangannya dengan mudah.
Menyadari ia tidak akan menang tanpa menggunakan Martial Art, Elf itu segera mengambil langkah mundur dan mengaktifkan Martial Art-nya, "[Friend of the Wind], [Greater Streangth]!"
Dengan kecepatan yang berlipat dan refleks seperti angin, Elf itu kembali melesat mencoba mendaratkan pukulan bertubi-tubinya pada Naruto.
Namun Naruto kali ini tidak tinggal diam, pun ia tidak mencoba menghindar; sesaat sebelum serangan Elf itu mengenainya, Naruto menunduk dan mendaratkan pukulan tangan kanan berlapis chakra-nya ke abdomen Elf tersebut. Dhuaaak! Elf itu terlempar kuat hingga menghantam sebuah batang pohon dengan keras, membuatnya mengerang sakit.
"Kalian belum menjawab pertanyaanku," ucap Naruto dengan suara dan ekspresi yang masih datar. "Apa ada dari kalian yang rela mati demi Elf King?"
…Kota Avest, Ibukota Elf Kingdom…
Zivelth Vuel Zithree keluar dari ruang singgasana dengan tanpa ekspresi. Meskipun tidak melihatnya, ia tahu apa yang sedang Elf sialan itu lakukan di dalam sana. Ia sudah seringkali melihat hal itu. Elf tak punya otak itu sama sekali tak punya malu, melakukan itu dengan ibu-ibu tirinya di hadapan dirinya. Menjijikkan, rasanya ia ingin muntah membayangkan apa yang terjadi di balik pintu itu. Namun seberapa pun ia ingin melenyapkan bajingan itu, Zivelth tidak punya cukup kekuatan untuk mewujudkannya. Ia harus rela menyaksikan tindakan bejat itu.
Menghela napas panjang, pandangan Zivelth jatuh ke dinding di depannya. Elf yang tadi diseretnya ia lemparkan hingga membentur dinding di depan pintu besar ruang singgasana. Prajurit itu sangat bodoh karena membuat dirinya terancam mati seperti itu. "Aku akan melupakan fakta kalau kau memasuki ruang di mana ada banyak wanita telanjang. Karena itu, jelaskan dengan benar apa yang terjadi." Zivelth tidak menunggu sang prajurit membuka mulut, ia langsung berjalan menuju tangga yang akan membawanya ke bawah. Sang prajurit lekas berjalan tergesa-gesa menyusul sang putri sekaligus Perdana Menteri dari Elf Kingdom.
"A-Ada dua orang penyusup yang tiba-tiba mendarat di depan istana," jelas sang prajurit. "Mereka mengalahkan para prajurit dengan cepat. Satu dari mereka adalah manusia dengan mata yang sangat aneh, sementara satunya adalah Half-Elf dengan mata heterokromia hitam-putih. Mereka sangat kuat, karena itu saya tidak pu‒"
"Hal-Elf bermata heterokromia, katamu?"
"‒Benar! Dia bermata heterokromia, saya tidak berani melawan mereka yang memiliki mata keturunan raja!"
Zivelth memikirkan hal itu dengan serius. Half-Elf bermata heterokromia, pasti ayah atau pun ibunya adalah Elf bermata heterokromia. Mengingat ayahnya sangat brengsek dan suka memperkosa wanita mana pun yang menurutnya berkemungkinan melahirkan anak yang kuat, apa mungkin jika Half-Elf itu termasuk saudari/a tirinya yang ia bahkan telah lupa berapa jumlahnya? Jika tidak melihatnya sendiri, Zivelth tidak akan tahu pasti. Langkah kakinya pun bertambah cepat.
Untungnya Zivelth tak perlu turun sampai lantai paling bawah. Kedua penyusup yang prajurit bodoh di belakangnya katakan itu sudah berada di lantai 5, mereka baru saja naik ke atas bertepatan dengan Zivelth menuruni anak tangga terakhir yang membuat mereka selantai. Keduanya persis seperti apa yang prajurit bodohnya katakan, dan mata laki-laki itu memang aneh. Sementara, wanita Half-Elf itu, Zivelth tak ragu lagi kalau dia adalah saudari tirinya.
Mereka kuat, sangat-sangat kuat, batin Zivelth melirik ke belakangnya, mencoba menyuruh prajurit bodoh yang mencari kematiannya sendiri untuk pergi. Tetapi prajurit itu sudah tak berada di sana. Dan tatkala pandangannya sedikit meninggi, iris heterokromia Zivelth melihat kepala prajurit itu menyembul di balik pembatas tangga—bersembunyi. Ternyata ia tak sebodoh itu sampai mencari mati dua kali, pikir Zivelth, mengembalikan pandangannya pada kedua penyusup itu.
"Zesshi, sepertinya dia saudari tirimu, kau tidak ingin menyapanya?"
Pertanyaan itu diajukan dengan serius, tetapi Zivelth menangkap ada nada jenaka terselip dari bibir datar lelaki bersurai pirang itu.
"Membunuhnya, itu maksudmu, kan, Naruto?" respon Elf berambut hitam-putih yang lebih pendek dari Zivelth.
Zivelth mengabaikan pertukaran kata di antara mereka dan memasang kuda-kuda bertarungnya. Sebenarnya ia ingin membiarkan kedua orang itu lewat dan menghabisi babi sialan itu. Namun Zivelth tidak tahu apakah mereka lebih kuat dari Elf sialan itu atau tidak, karenanya ia harus memastikannya terlebih dahulu. Jika ia merasa mereka bisa melenyapkan Elf King, ia akan membiarkan mereka lewa. Jika tidak, ia akan menghabisi mereka. "[Greater Strength], [Increase Perception], [Greater Speed], [Breath of the Wind], [Iron Skin]." Zivelth mengaktifkan Martial Art-nya, lalu melesat mencoba menyerang lelaki bernama Naruto itu.
Tatkala pukulan tangan kanan Zivelth hendak mengenai wajah pemuda itu, kata "Shinra Tensei" keluar dari mulut sang pemuda, dan dalam sekejap Zivelth menemukan dirinya terlontar kuat ke belakang. Jika ia tidak bersalto di udara lalu menyeimbangkan dirinya, ia sudah pasti akan menghantam dinding dengan keras.
"Sepertinya kau adalah salah satu dari anak-anak Elf King," ucap Naruto, melangkah memperpendek jaraknya dengan Zivelth. "Tujuan kami ke sini adalah untuk membunuhnya, lalu menggantikan posisinya dengan Elf yang pantas. Jika kau tidak rela mati deminya, menghindarlah."
Meskipun pria itu tidak berkata dalam nada yang tegas dan volume yang keras, Zivelth merasakan kekuatan dibalik perkataan datar itu. Orang ini sangat-sangat kuat, batin Zivelth serius, tangannya sedikit bergemetaran, keringat dingin memenuhi pelipisnya. Dan mereka hanya mengincar Elf King saja; membiarkan mereka lewat adalah pilihan yang paling logis. Tetapi…Zivelth sudah pernah melihat kekuatan penuh Elf King. Meskipun kedua orang itu lebih kuat darinya, ia masih belum yakin kalau mereka lebih kuat dari ayahnya.
"Apa kalian bisa mengalahkannya?" tanya Zivelth, sedikit sangsi.
"Naruto, kalau kau tidak mau menyingkirkannya, aku tak keberatan melenyapkannya." Perempuan yang bernama Zesshi itu melangkah menyusul Naruto. "Dia akan menjadi pemanasan yang cukup untuk membuatku menghancurkan bajingan tengik itu sampai ke tulang-tulangnya."
Mengabaikan komentar tak sabaran dari Zesshi, Naruto memandang datar saudari tiri sang Half-Elf itu. Dia tidak terlihat seperti mendukung Elf-King. Meskipun samar, Naruto sempat melihat kalau gadis itu sedikit mengkhawatirkan Elf yang menyembunyikan dirinya di lantai atas. Orang yang mengkhawatirkan prajuritnya tidak mungkin mendukung sampah seperti Elf King. Yang membuatnya masih berdiri di situ adalah keraguan, keraguan kalau Elf King lebih kuat darinya dan Zesshi. "Tsukuyomi," ucap Naruto, dan tepat sedetik kemudian Zivelth jatuh berlutut dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar.
"Dia akan menjadi ratu dari Elf Kingdom yang baru," ucap Naruto pada Zesshi yang sudah berada di sampingnya. "Ayo kita pergi, lebih cepat kita menyelesaikan hal ini lebih baik untuk semuanya."
Zesshi tak lekas menyusul Naruto menaiki anak tangga. Pandangan matanya jatuh pada Elf bermata heterokromia yang masih terduduk dengan wajah syok. Zesshi tidak tahu apa yang sudah Naruto tunjukkan pada gadis itu, tetapi itu pasti sangat tak biasa sampai membuat wanita itu syok.
Saudari. Naruto kata kalau Elf itu adalah saudarinya. Pun instingnya mengatakan demikian. Tetapi Zesshi tidak merasakan adanya ikatan di antara mereka. Atau mungkin…ia tak lagi menganali rasa dari sebuah ikatan? Entahlah, Zesshi tidak mengerti dan tak ingin peduli. Yang penting sekarang ia harus menghabisi dan menyiksa Elf sialan itu sampai dia memohon untuk mati.
Menyeringai sadis, Zesshi memacu kakinya menyusul Naruto yang sudah menaiki anak-anak tangga.
—(©)—
#Pengguna Noveltoon/Mangatoon? Boleh cek novel fantasi originalku yang berjudul "Against the World" (nama penaku di sana adalah "Near", foto profilnya Near dari Death Note). Kalau kalian suka Dark Fantasi, kemungkinan kalian akan suka itu.
