PART I. HIKARU
Chapter 1. Nama
Kisah Shindou Hikaru dan Akira Touya mungkin terasa seperti kisah romansa dalam sebuah dongeng. Bertemu pada usia 12, merasakan ketertarikan satu sama lain dan saling mengejar walau terpisah egoisme masing-masing. Waktu tiga tahun mungkin dirasa begitu panjang, penuh aral berliku, penolakan diri, dan upaya aktif untuk saling menafikkan satu sama lain, meskipun tidak ada yang bisa terperdaya bahwa pada dasarnya mereka saling membutuhkan. Hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan pada gelanggang yang sama, pada usia 15. Mungkin kedewasaan perlahan tapi pasti mengubah mereka, mungkin penerimaan, mungkin pengakuan bahwa mereka tak bisa saling lepas satu sama lain. Mungkin juga rasa hormat dan pengakuan atas kemampuan yang lain, yang diam-diam diberikan bahkan ketika mereka sedang berdebat sampai titik darah penghabisan. Entah bagaimana ceritanya seluruh energi itu berakumulasi dan akhirnya meruncing pada satu titik. Pada awal Januari 2007, selang beberapa bulan setelah Akira berhasil mempertahankan gelar Meijin-nya untuk pertama kali, dan Hikaru berhasil merebut gelar keduanya, di bawah sinar fajar pertama tahun baru, mereka memutuskan untuk memulai babak baru.
Akira belum lagi tiga minggu menginjak 19 tahun saat itu, dan rona merah di wajahnya tampak jelas membayang di permukaan kulit putihnya, ketika Hikaru menyampirkan sehelai syal sebagai kado tahun baru. Syal rajutan sendiri, katanya, yang ia buat dengan susah payah mengingat bocah savant hiperaktif itu tak punya keahlian tangan apapun di luar menempatkan biji go pada papan (tapi bermain go lebih dianggap keahlian otak daripada tangan, jadi ya sudahlah). Warnanya biru tua, warna yang ia anggap netral dan maskulin, sebuah upaya yang dipaksakan mengingat kecenderungan warna wardrobe Akira yang tidak jauh-jauh dari shade lavender dan pink, dan warnanya sendiri yang—meskipun sudah bertahun-tahun—masih tidak beranjak dari warna lantang kuning dan oranye. Sedikit kecupan menyertai, tampak lambat dan syahdu di tengah-tengah kepulan asap hangat yang dihembuskan mulut masing-masing. Akira dan Hikaru, eternal rival, dua kutub yang saling berseberangan, akhirnya memutuskan untuk bertemu dalam satu ikatan yang seharusnya sudah lama mereka buat.
Tak perlu menunggu waktu lama hingga mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Dengan uang tabungan yang dikumpulkan sejak usia 15, ditambah sedikit dari uang hadiah turnamen, Hikaru membeli sebuah apartemen suite di distrik kelas atas, yang bisa dibilang terlalu mewah untuk hanya ditinggali berdua. Akira awalnya bersikukuh agar Hikaru saja yang pindah ke rumahnya, toh kedua orangtuanya hanya datang sesekali, dan bagaimanapun rumah sebesar itu tentu butuh ditinggali. Tapi setelah perdebatan panjang, yang salah satunya mengenai kepraktisan transportasi dan jarak ke Ki-In, akhirnya ia menyerah.
Tentu saja, kabar bahwa dua pemain kelas atas berbagi alamat tinggal yang sama menghembuskan rumor panas di dunia go. Weekly Go kebanjiran pertanyaan dari surat pembaca, dan tabloid-tabloid yang lebih mengarah pada gosip sibuk memperbincangkan rumor ini berminggu-minggu. Akira dan Hikaru harus selalu menyamar dengan wig dan kacamata hitam setiap keluar apartemen, saking takutnya dikuntit paparazzi, seolah-olah mereka selebriti besar saja. Dan ke manapun mereka pergi, selalu saja ada orang yang menanyakan ini-itu, hingga kadang-kadang keduanya jengah.
Biar begitu, rumor itu ditanggapi keduanya sebagai angin lalu. Mereka tidak mengiyakan, tetapi juga tidak menolak. Nihon Ki-In sempat menanyai keduanya secara resmi. Mereka hanya menjawab bahwa mereka tinggal bersama untuk alasan kepraktisan, dan menolak berkomentar masalah hubungan. Bukankah selama itu tidak ada pengaruhnya dengan performa mereka di atas goban, tidak ada yang perlu dikhawatirkan? Mendengar yang terakhir, tentu saja tidak ada yang berani bicara lagi. Nyatanya, setelah tinggal bersama, Hikaru yang hobi telat (atau setidaknya mepet waktu) jadi datang ke pertandingan lebih awal. Ditambah lagi, ruang apartemen yang luas dan dekat dengan Ki-In pun sering dipakai sebagai tempat dilaksanakannya study group, tak lain dengan dua pemegang gelar sebagai mentornya. Bukankah semua itu justru menguntungkan bagi Ki-In?
Yang agak di luar dugaan justru reaksi keluarga mereka. Baik keluarga Touya maupun Shindou kelihatannya sudah siap dengan kemungkinan mereka bersama sejak jauh-jauh hari. Jujur saja, reaksi Touya Sr. saat Akira dengan kaku dan gemetar memperkenalkan Hikaru sebagai kekasihnya ("Lho? Bukannya kalian memang sudah bersama sejak Hokuto Cup yang pertama?") agak-agak memalukan. Akira dan Hikaru hanya berdiri diam dengan canggungnya selama sekitar lima menit sebelum Akiko berbelas kasih dan mengundang Hikaru makan malam, yang tentu saja ditutup dengan permainan go antara menantu dan ayah mertua.
"Jangan-jangan selama ini, orangtuamu mengira kalau aku menginap, kita melakukan hal yang tidak-tidak," refleksi Hikaru, ketika akhirnya mereka lepas dari jerat diskusi melelahkan bersama sang Meijin Ad Honorem dan diperbolehkan mengundurkan diri ke kamar.
"Itu menjelaskan ceramah ibuku soal safe sex," Akira mengerang, membenamkan muka pada kedua telapak tangannya. "Juga stok sekardus kondom yang tiba-tiba ada di lemariku."
"Oh?" Hikaru langsung bangkit bak anak anjing. "Hadiah dari mertua tidak boleh disia-siakan! Hei Akira, mau coba?" cengirnya yang dibalas timpukan bantal.
Reaksi keluarga Shindou tidak kalah memalukan, setidaknya bagi Hikaru. Ibu Hikaru langsung memeluk Akira erat-erat, menyatakan betapa bahagianya ia mendapat anak yang sopan dan bisa diandalkan—tidak seperti Hikaru yang kasar dan semaunya sendiri. Itu masih diiringi dengan curhatan selama satu setengah jam mengenai betapa bingung dan hilang arahnya ia dengan sikap Hikaru semasa kanak-kanak hingga remaja. Ditambah dengan wasiat agar Akira sudi menjaga anaknya yang tidak berguna itu, entah kekacauan apa yang bisa dilakukan Hikaru jika dibiarkan sendirian, dan seterusnya, dan seterusnya. Sepanjang cerita, Akira hanya tersenyum dan mengangguk sopan, membalas sekenanya, sembari matanya terang-terangan menertawakan Hikaru yang menyusrukkan kepalanya di meja seakan tidak ingin ada di situ.
Hikaru memboyong kedua gobannya ke apartemen barunya. Goban Sai ia letakkan di sisi jendela di kamarnya dan Akira, di sudut yang sangat sempurna sehingga pada malam bulan purnama, sinar rembulan yang memasuki jendela menciptakan bayang yang mistis di permukaan goban. Jika berbaring di kasurnya dan menatap ke sana, ia seakan dapat melihat siluet Sai, duduk di muka goban, tubuhnya separuh tertutup tirai. Itu memberinya kekuatan, keyakinan bahwa Sai akan terus ada bersamanya. Sedangkan goban miliknya, yang dahulu dipakainya untuk berlatih bersama Sai, digunakannya untuk mengajar. Dengan begitu, ia berharap dapat mentransfer pengetahuan dan kebijaksanaan Sai pada dunia, sesuai dengan tujuannya bermain go: menghubungkan masa lalu dan masa depan. Bersama Akira, mencapai Kami no Itte.
Ia bisa melihat jalan yang terang itu. Segalanya terasa begitu sempurna.
.
Atau tidak.
.
.
Pertama ia merasakan ada sesuatu yang salah, adalah pada ulang tahun pertama hubungan mereka. Kesadarannya menyeruak perlahan di pagi hari, ketika garis-garis sinar matahari pertama tahun baru menembus celah-celah tirai. Masih berkubang dalam afterglow setelah memadu cinta semalam, ia membalikkan tubuh dengan malas-malasan, hendak menyurukkan diri ke kehangatan tubuh Akira. Tapi ia sontak terhentak bangun, ketika didapati ruang di sebelahnya kosong.
Hikaru mengucek mata, memandang ke seantero ruangan. "Akira?" panggilnya. Tak ada jawaban, ia turun dari tempat tidur, mengambil selembar yukata asal saja dari gantungan di sebelah tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Apartemen bak kapal pecah, berkat Waya dkk. yang memaksa melangsungkan pesta menyambut tahun baru di sana dan kemudian menghilang begitu saja tanpa tanggung jawab selepas tengah malam. Pastinya ke pub, karena ke mana lagi makhluk-makhluk sok 'sudah cukup umur' itu pergi tanpa mengajak Hikaru? Semalaman Akira sibuk mengomel, hingga Hikaru berhasil mengalihkan perhatiannya dan menariknya ke tempat tidur. Biasanya pagi-pagi begini si makhluk OCD itu sudah menyibukkan diri mengelap setiap inci permukaan apartemen yang memang sudah mengilap, tapi di tengah kekacauan itu, tak ada tanda-tanda Akira sedang—atau sudah mencoba—membereskan sisa-sisa pesta semalam.
Akira sedang duduk mencakung di tembok pendek di hadapan jendela di ruang sebelah, ruang bergaya tradisional tempat biasanya dilangsungkan study group. Ia masih memakai yukata, wajahnya menghadap ke luar jendela, memperhatikan kesibukan entah apa puluhan meter di bawah sana.
Ia tidak menjawab ketika Hikaru memanggilnya, tapi ia mengangkat tangan dan menggosok matanya. Sadar ada yang salah, Hikaru lekas menghampirinya, menyentuhkan tangan ke bahu kekasihnya dan mengangkat wajahnya. Benar saja, mata Akira basah dan sembap.
Pikiran pertama Hikaru, tentu saja, ada sesuatu yang terjadi pada Meijin Ad Honorem, tapi Akira menggeleng pelan pada pertanyaan Hikaru. Ia mendongak, menatap wajah Hikaru lama sekali. Dan kemudian, satu pertanyaan keluar dari bibirnya.
"Hikaru, apa kau benar-benar mencintaiku?"
Dari mana pertanyaan itu?
"Kau bukannya ... bersamaku karena aku pilihan kedua, kan?"
Hikaru mengerung, "Maksudmu apa sih, pagi-pagi mendadak bertanya yang aneh-aneh?"
"Tidak, aku hanya..."
Hikaru tak membiarkan Akira larut sendiri dalam kegalauannya yang sangat tidak beralasan. Sambil mendesah, ia menggamit tangan Akira dan menariknya ke dadanya. "Untuk apa aku bersamamu, jika kau pilihan kedua? Memang siapa pilihan pertamanya?"
Akira membuang muka.
"Kau ... bukannya begini karena kau ditendang dari Liga Kisei kan?" ia memicing curiga. "Lagi?"
Di titik itu, Akira langsung bangkit dan memprotes. Kadang-kadang Hikaru ingin menyelamati dirinya sendiri karena tahu titik-titik apa saja yang bisa ia tekan untuk memanipulasi Akira. "Aku tidak bisa percaya aku kalah oleh tipuan murahan Kurata-san...," gerutunya.
"Salahmu, mengincar gelar-gelar tinggi duluan," tunjuk Hikaru. "Tahun ini aku mengincar Jyudan dan Tengen, sudah hampir pasti aku akan merebut Jyudan dari Ogata-san! Mudah-mudahan saja Isumi tidak mengalahkanku seperti tahun lalu. Oh, aku juga akan main lagi di Agon-Kiriyama Cup. Tahun ini Fuku juga main—kau tahu, dia jago hayago—jadi sepertinya tahun ini akan sangat menyenangkan! Lihat saja, aku pasti akan bisa mengumpulkan lebih banyak gelar daripada kau. Oh, tunggu, aku sudah!" serunya yang membuat Akira mendelik. "Eh, bagaimana kalau kita taruhan siapa yang bisa lebih cepat mengumpulkan ketujuh gelar sebelum usia 25? Yang menang harus traktir ramen setahun!"
"Tidak ada gunanya kalau kau masih tidak bisa merebut Meijin dariku," balas Akira dingin. "Lagipula, apa itu, traktir ramen setahun? Kalau kau mau sakit usus buntu, silakan."
"Ah, kau jangan terlalu terfiksasi dengan satu gelar begitu, dong, Akira. Nanti kau bisa jadi seperti Pak Tua Kuwabara, lho..."
"Kau sendiri begitu dengan gelar Honinbou-mu."
"Oh ya! Tentu saja!" seru Hikaru bersemangat. "Honinbou adalah hakku sejak awal sebagai pewaris Shuusaku, tahu! Pokoknya hanya itu gelar yang takkan kuberikan padamu! Tinggal tiga final lagi, dan aku akan berhak menyandang nama Honinbou selamanya, yang artinya menjadi pewaris nama Honinbou! Aku sudah memilih nama untukku sendiri. Saishou!"
Nama Saishou berarti awal, permulaan. Namun sejatinya, ia mempersembahkan nama itu untuk Sai. Hanya Sai yang layak untuk gelar Honinbou, dan Hikaru akan berjuang untuk mendapatkannya.
Hingga kini, Hikaru masih belum berani mengatakan apapun pada Akira mengenai Sai. Bukan karena ia tak mempercayai Akira, tetapi makin lama, makin besar hal yang harus ia pertaruhkan dengan satu kebenaran itu. Apa yang akan Akira lakukan? Mempercayainya? Menganggapnya pembohong? Menganggapnya gila? Menjebloskannya ke rumah sakit jiwa? Meninggalkannya?
Terlalu banyak kemungkinan yang tidak berpihak padanya. Dan Hikaru adalah pemain go. Dia tidak akan melangkah sebelum ia yakin langkah itu akan menguntungkannya.
Sejauh ini, Akira masih berpegang pada janji Hikaru, "segera". Tapi kapankah segera itu? Akankah "segera" itu datang? Apa yang akan Akira lakukan, jika "segera" itu tak kunjung datang?
Bukan saatnya menanyakan hal-hal yang jauh di depan. Sekarang sebaiknya ia fokus pada apa yang jelas-jelas di depan mata.
Ia menoleh untuk meminta persetujuan Akira. Tentu saja, Akira tersenyum. Walau agak terpaksa, Hikaru memperhatikan. Tapi setidaknya ia bisa membuat Akira tersenyum. Itu sudah cukup.
"Honinbou Saishou, nama yang bagus," ujarnya. Ia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Hikaru. Hikaru menggenggam tangan itu, membawanya ke bibirnya dan menciumnya. Ia bisa merasakan ketulusan dan dukungan Akira. Hanya Akira yang mampu menantangnya untuk terus berkembang, dan dengan begitu mendukungnya untuk menjadi lebih baik. Terus, dan terus.
"Akira, terima kasih..." bisik Hikaru.
.
"Ah Akira, sudah jam 8," ujar Hikaru seraya memisah-misahkan sampah beling, kertas, dan plastik yang berserakan di ruang tengah ke kantong plastik. "Aku harus mengisi seminar go di Balai Kota."
"Oh?" Akira menoleh dari tempat kerjanya di wastafel dapur. "Event apa?"
"Entah, aku lupa," Hikaru mengendikkan bahu. "Yang jelas seperti biasa, aku diminta mengisi materi mengenai Shuusaku. Undangannya ditempel di kulkas. Kukira biasanya kau perhatian dengan hal begitu."
"Maaf," ujar Akira, meletakkan piring terakhir yang baru dicucinya ke rak pengering dan mengeringkan tangan. "Kalau begitu, kita segera mandi dan bersiap-siap, eh, Honinbou?"
"Mmm, masih ada waktu. Aku harus menyelesaikan ini dulu. Lima menit lagi, ya?" Pagi-pagi tahun baru begini, jujur saja Hikaru malas ke mana-mana. Akira mengangguk, bergerak untuk membantu Hikaru memunguti sampah.
Hikaru mendadak berhenti dan menatap Akira lama.
"Apa?" tanya Akira.
"Ah, tidak," pacarnya itu menggeleng. "Rambutmu sudah panjang...," ujarnya. Rambut Akira memang sudah beberapa bulan belum dipotong, dan kini panjangnya sudah hampir menyentuh punggung. Kadang Hikaru mempertanyakan apa Akira berniat memanjangkan rambutnya. Seperti Sai, Hikaru tertawa dalam hati. Masalahnya sekarang ini jarang cowok yang memanjangkan rambut sampai selutut begitu, lagipula bagaimana perawatannya nanti? Mereka jelas akan sangat kerepotan saat tidur—bagaimana jika Hikaru tanpa sengaja menindih rambut Akira? Akankah rambut Akira mengganggu mereka saat bercinta? Mudah-mudahan saja ia tidak sekaligus memelihara kutu...
"Oh?" Sadar diri, Akira menyentuh rambutnya. "Kau tak suka? Kau ingin aku memotongnya?"
Supaya modelnya jadi bak pageboy Abad Pertengahan lagi? Seperti Haku di anime Spirited Away itu—yang banyak orang bilang modelnya didasarkan pada Akira?
"Tidak kok, lebih bagus begini," jawabnya. Lalu mendadak ide usilnya muncul. "Nanti kau bisa mengikatnya di tengkuk, jadi seperti ronin," cengirnya.
Akira pura-pura memukulnya, dan Hikaru menghindar, masih cengengesan. Tapi kemudian wajah Akira berubah sendu lagi. "Kau ... tidak bilang begitu karena aku jadi terlihat lebih feminin kan?"
—Hah?
"Maksudku, mungkin ... kau lebih suka jika aku seperti perempuan..."
Hikaru langsung mengakak. "Akira, kau itu bodoh sekali, sih!" Melihat rona ketersinggungan di wajah Akira, ia buru-buru meneruskan, "Sejak kapan aku menganggapmu perempuan? Memangnya kau tidak ingat yang kaulakukan semalam? Aduh, badanku masih sakit semua... Rasanya aku tidak bisa duduk seiza, nih... Ow ow ow...," ia memeragakan ekspresi kesakitan, mengaduh-ngaduh berlebihan. "Untung aku hanya akan mengisi seminar, bukan permainan eksibisi."
Akira makin merengut. "Kau yang minta!"
"Ih, kau bilang begitu seolah kau terpaksa!"
"Sudah kubilang, aku fleksibel! Kau mau apa, itu yang kuberikan. Jangan bersikap seolah kau ingin, lalu besoknya kau menggerutu seolah aku menyakitimu!"
"Ih, iya iya, aku yang minta," untungnya Hikaru masih agak waras dan tidak berniat merusak tahun baru dengan melayani Akira untuk bertengkar. "Habisnya kau..." ia membisiki Akira sesuatu yang membuat pemuda itu merah padam dan memukulnya. "Apa sih, kan memang benar!" kilahnya.
"Tidak usah disebutkan!" seru Akira, dengan langkah-langkah kaku beranjak ke kamar mandi, sementara Hikaru sibuk mengakak seraya mengangkuti plastik-plastik sampah ke tempat pembuangannya.
.
.
Melihat sahabatnya berjalan menghampiri mereka dengan langkah canggung, Waya langsung menyodok Isumi. "Lihat, ada yang habis bersenang-senang semalam," cengirnya.
"Oi! Aku dengar itu!" teriak Hikaru, mempercepat jalannya seraya bersungut-sungut. "Dasar kalian makhluk tidak bertanggung jawab, meninggalkan rumah orang berantakan seenaknya!"
"Bukan salahku kalian tidak menyediakan bir, padahal kalian kan sudah 20 tahun! Mana ada pesta tahun baru tanpa bir, iya kan Isumi?" Waya terkekeh di bawah gerutuan Hikaru. "Tapi bagus kan, kami meninggalkan kalian? Harusnya kau berterima kasih."
"Huh, memalukan," Ochi menutup laptopnya dan ikut nimbrung pembicaraan tanpa diundang. Yah, dia sedang bersama gerombolan Waya sih, tapi tetap saja. "Seharusnya kau ingat hari ini ada pertandingan eksibisi dan meminta Touya-san memperlakukanmu dengan lebih lembut, Shindou. Bisa jadi omongan orang kalau Honinbou tidak bisa duduk saat bertanding," ia menggurui dengan sikap menyebalkan.
Hikaru langsung berasap. "Bukan urusanmu, Ochi!" teriaknya.
Ochi, seperti biasa, menulikan Hikaru. Melihat Akira menyusul di belakang Hikaru dengan wajah merah padam, ia dengan sigap bangkit dari duduknya dan membungkuk memberi salam, "Selamat pagi, Touya-san."
Perbedaan sikap Ochi terhadap Hikaru dan Akira kadang membuat Hikaru jengkel. Berkat pergaulannya dengan Waya dkk., ditambah perubahan penampilan yang ekstrem dengan mengganti gaya rambut dan membuang kacamata pantat botolnya, Ochi sekarang sudah jauh dari image bocah kaya yang nerd dan sombong. Tetap saja, sikapnya yang sok-antagonis dan terang-terangan memuja Akira kadang membuat Hikaru ingin mencekiknya.
"Eh, se-selamat pagi, Ochi-san," balas Akira. Setelah Ochi berhasil membuktikan diri dengan memasuki Liga Honinbou, Gosei, dan Meijin, akhirnya mau juga Akira mengakui kemampuannya, yang tentu saja membuat Ochi makin besar kepala. "Semoga sukses untuk permainan hari ini."
"Eh, permainan?" Hikaru baru sadar, menghentikan gerutuannya dan bisa-bisanya menampakkan wajah bingung. "Permainan apa?" tanyanya yang membuat semua orang, termasuk Akira, menepuk jidat.
"Permainan eksibisi antara kau dan Ochi, Honinbou Bodoh! Memangnya kau tidak membaca kartu undangan?!" teriak Waya, sementara Akira membungkuk lirih, "Maaf, ini salahku tidak memastikannya mengecek jadwal." Dengan kasar Waya menunjuk papan pengumuman di dekat panggung, "Lihat, di sana tertulis Shindou Honinbou-Ouza-Gosei melawan Ochi Dan-7. Aku dan Isumi akan mengomentari!"
Waduh.
"Aku kira, aku hanya mengisi seminar saja...," Hikaru memandang Akira dengan wajah memelas. Kalau sudah begini, Akira tahu benar apa maksud Hikaru. Lekas ia menampik dengan tegas.
"Tidak. Kau harus bersikap profesional. Ayo sana kerja, Honinbou!"
"Aaaaa... Akiraaaaa...," Hikaru mengeluarkan jurus Sai-nya. Tapi percuma, Akira bukan dia, yang berarti Akira tidak akan terpengaruh dengan taktik murahan begitu. Tapi sedetik kemudian, Hikaru seperti mendapat ilham dan memukulkan kepalan tangan ke telapak tangan satunya. "Ah, betul juga. Hari ini aku mengisi seminar tentang Shuusaku. Kebetulan sekali. Tidak ada gunanya banyak omong tanpa pembuktian. Aku akan menunjukkan kehebatan joseki Shuusaku melawan gaya modern. Ochi, kau konsisten pakai langkah modern ya. Aku akan melawanmu hanya dengan langkah Shuusaku."
"Mana ada orang main go janjian dulu, dasar bodoh!" teriak Ochi. Mungkin Hikaru adalah satu-satunya pemegang gelar yang paling tidak dihormati di lingkarannya sendiri, mengingat betapa sering teman-temannya menyebutnya bodoh. Tapi kemudian mata Ochi yang memang sudah sipit makin menyipit, dan ia menyentuh pangkal hidungnya, kebiasaan yang tak kunjung hilang walau matanya sudah di-Lasik. "Tantangan diterima, Honinbou. Anggap ini pemanasan sebelum aku benar-benar merebut gelarmu tahun ini."
"Hah, masih terlalu cepat seratus tahun!" seru Hikaru lantang yang disambut derai tawa teman-temannya.
.
Di dunia go, citra Hikaru sebagai Shuusaku-otaku sudah dikenal luas—terlebih setelah Weekly Go mendedikasikan satu kolom khusus untuk membahas strategi Shuusaku dan pengembangannya dalam go modern, dengan Hikaru sebagai kontributor utamanya. Alhasil, ketika panitia secara mendadak mengumumkan tema permainan eksibisi kali ini adalah 'Pertandingan Joseki Shuusaku vs Modern : Shindou vs Ochi", hadirin langsung terlihat antusias. Tidak biasa-biasanya penonton begini membludak, bahkan sampai panitia harus menyediakan sekitar 30 kursi tambahan. Ochi kelihatan agak gugup, tapi Hikaru dengan santainya melambai kepada para fansnya dari atas panggung, termasuk pada Akira, yang ia lihat terjebak di baris depan di samping bapak-bapak bertubuh tambun yang kelihatannya orang penting.
Pertandingan dimulai dengan Hikaru memegang biji hitam dan Ochi memegang biji putih. Menggunakan komi standar dan joseki Shuusaku yang tidak mempertimbangkan komi, tentu saja ini keuntungan bagi Ochi, yang dengan mudah dapat memprediksi langkah Hikaru. Tapi bukan murid Sai namanya kalau tidak bisa bermain kreatif dengan langkah-langkah yang disebut orang 'ketinggalan zaman'. Baru sekitar seratus langkah memasuki chuuban, Ochi sudah mulai berkeringat. Bukan berarti dia akan membiarkan Hikaru mengklaim kemenangan dengan mudah tanpa perlawanan.
Pertandingan jadi makin menarik—dan menghibur—dengan adanya Waya dan Isumi mengomentari sambil menyelipkan candaan di sana-sini, serta Hikaru yang sesekali mengambil mikrofon dan membalas candaan garing mereka. Riuh tawa bergema di kalangan hadirin, dan jelas sekali itu memunculkan raut terganggu di wajah Ochi. Intensitas tekanan di pertandingan eksibisi berbeda dengan pertandingan resmi, tentu, karena tujuannya memang edukasi (dan hiburan, kalau melibatkan Waya dan Hikaru dalam satu panggung), tapi bukan berarti Hikaru bisa seenaknya menggampangkan Ochi.
Dengan kesal, Ochi membanting biji go di papan. Tapi rupanya langkah itu sudah diperhitungkan Hikaru, karena tiba-tiba ia mengangkat kipasnya menutupi separuh wajah—yang belakangan Ochi ketahui adalah untuk menutupi senyumnya—dan balas menyerang.
Jelas kini, langkah yang tadi dibuat Ochi saat emosinya meninggi adalah sebuah kesalahan—atau tepatnya, Hikaru menggiringnya untuk membuat kesalahan itu. Terkutuklah si Honinbou dengan segala permainan mentalnya. Sekitar limapuluh langkah kemudian, dengan menggemeretakkan gigi, Ochi mengakui kekalahannya.
Menyambut tepuk tangan hadirin, Hikaru melambaikan tangan dan menampakkan tawa cerahnya. Itu salah satu kelebihannya yang membuatnya memiliki banyak fans dari segala usia, kalau boleh dibilang. Jarang-jarang ada pemain go profesional yang serius di depan goban, tapi cengengesan di luar.
Melayangkan pandang ke arah hadirin, dilihatnya Akira ikut tersenyum dan bertepuk tangan, tapi ia tahu ada sesuatu yang salah. Wajah Akira tampak seolah-olah tidak benar-benar senang. Tipikal Akira, selalu cemburu kalau Hikaru bermain bagus melawan orang lain. Tidak apa, toh nanti juga mereka bisa bermain. Dalam hati Hikaru berjanji akan memberikan permainan yang paling menantang malam ini.
Selepas istirahat, Hikaru kembali ke panggung untuk memberikan seminar, sementara teman-temannya memberikan shidougo bersama para profesional lain. Akira sedang tidak kebagian tugas kali ini. Alhasil, dia harus mengeluarkan kemampuan PR-nya untuk meladeni si bapak-bapak tambun tadi yang ternyata adalah walikota.
Hikaru tengah mendemonstrasikan kreasi terbarunya: strategi yang dimodifikasi dari salah satu joseki klasik Shuusaku, ketika dilihatnya Akira kembali dari meja tempat tadi ia bermain shidougo bersama si bapak walikota dan memasuki area seminar. Seperti biasa, seminar Hikaru selalu menarik perhatian penonton—uhuk, 'fans loyal Hikaru', yang kebanyakan bapak-bapak paruh baya, uhuk—sehingga sulit bagi Akira untuk mendapatkan tempat duduk. Alhasil, ia harus bersandar di tembok dekat pintu. Melihat sang Meijin berdiri, seorang panitia lekas menghampiri dan menawarkan mengambilkan kursi, tetapi Akira menolak dengan santun.
Dasar Hikaru tidak tahu urusan, melihat Akira menontonnya dari jauh, ia langsung melambai dan memanggil Akira keras-keras, memintanya maju ke panggung untuk mendemonstrasikan beberapa langkah. Panitia kelihatan tegang—sejak insiden tiga tahun lalu, ketika ia dan Hikaru bertengkar di atas panggung pada permainan eksibisi, mereka tak pernah sekali pun dipasangkan pada event yang sama. Tapi mereka jelas tidak bisa melarang, ketika Akira menghela napas berat dan melangkah ke panggung.
"Jadi, Touya Meijin," Hikaru seperti biasa senang sekali menyebut gelar Akira di muka umum. Beruntung dia masih waras tidak memanggilnya dengan nama kecil. "Bagaimana menurutmu dengan langkah ini?"
"Hmmm," Akira menampakkan wajah serius. "Strategi yang bagus, Shindou Honinbou," ia membalas. "Sayangnya itu takkan berguna jika putih jalan di sini," ia menempelkan satu lingkaran magnetik di papan, efektif memotong langkah Hikaru.
"Aaaaa, kau kok jalan di situ sih? Hancur formasikuuuuu," Hikaru menampakkan roman depresi secara hiperbolis, membuat penonton tertawa. Akira menahan diri untuk tidak menyurukkan wajah ke telapak tangan. Mulai lagi, deh, Hikaru dengan atraksi komedinya. Benar saja, sedetik kemudian Hikaru menampakkan cengirannya. "Hehehe, tenang hadirin, aku bercanda," katanya. "Harus kuakui langkah itu sangat brilian, tapi tak berguna jika hitam jalan di sini," ia balas menempel lingkaran magnetik lainnya.
"Hmmm, double atari. Bagus sekali, Shindou. Itu sangat efektif untuk memblok langkah putih sekaligus memberi kesempatan bagi biji hitam untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Oke, kita lihat kau bisa apa jika putih jalan di sini," ia menempelkan lagi lingkaran putihnya.
"Oh mudah, aku tinggal jalan di sini," Hikaru membalas dengan ceria.
"Hah, apa-apaan itu! Sejak kapan ada langkah Shuusaku yang begitu!"
"Makanya ini disebut modifikasi, Touyaaaa... Mo-di-fi-ka-si!" erang Hikaru, yang kembali disambut derai tawa penonton. Jujur, jika Hikaru memilih karir lain di luar go, sepertinya ia akan cemerlang sebagai komedian.
Satu jam kemudian diisi dengan saling bertukar giliran menempelkan biji magnetik, disertai penjelasan singkat yang seringkali disisipi candaan di sana-sini. Duet Hikaru dengan Akira agak berbeda dengan duetnya dengan Waya, karena Hikaru memperlihatkan tingkah konyolnya sementara Akira mempertahankan image tenang dan tajam. Justru perbedaan sifat ini yang dimanfaatkan Hikaru untuk menarik tawa penonton, dan karenanya membuat diskusi jadi menyenangkan. Pelajaran yang terbaik, menurut Hikaru, didapat ketika otak santai dan tidak menganggapnya sedang belajar.
Akhirnya, setelah sekitar seratus langkah, Hikaru menyatakan kekalahannya. "Oke, hadirin. Sebagaimana telah diperagakan Touya Meijin, strategi tadi efektif untuk mengatasi beberapa situasi tsumego, tetapi masih lemah jika dihadapkan pada beberapa langkah yang agresif, karenanya lebih cocok diterapkan jika ingin menyerang lawan dan sebaiknya tidak menjadi andalan utama jika ingin mempertahankan wilayah. Tapi itu membuktikan bahwa joseki Shuusaku masih dapat terus digali dan dikembangkan untuk menjawab strategi-strategi modern. Terima kasih," simpulnya yang diiringi tepuk tangan penonton.
Setelah turun dari panggung dan meladeni beberapa fans yang mengajak berbincang atau meminta tanda tangan, Hikaru dan Akira mendatangi Waya dkk. yang juga sudah selesai dengan sesi shidougo mereka.
"Selamat, berhasil memutus mitos 'Shindou plus Touya dalam satu panggung sama dengan kekacauan," sambut Waya yang dibalas tendangan Hikaru. "Omong-omong, bagaimana sih, kau kok memperagakan strategi baru hanya untuk dibantai di panggung?" protesnya.
"Jika strategiku sampai tahan 100 langkah melawan Akira, berarti itu strategi yang bagus," kilah Hikaru dengan logika Shindou-nya yang tidak jelas. "Artinya dasarnya cukup, hanya tinggal pengembangannya saja... Mungkin kalau aku memodifikasi beberapa langkah..."
"Ah, kurasa langkah ke-52-mu itu yang justru merusak formasi yang ingin kaubangun kemudian," renung Touya, mendadak merasa mendapatkan ruang untuk mengkritik Hikaru. "Mungkin kalau kau pakai hane ketimbang atari..."
"Sudah, sudah, cukup bicara go-nya," Isumi menengahi dengan sangat bijaksana. Kalau dua orang itu bicara go, pasti tidak akan ada selesainya. "Bagaimana kalau kita makan dulu?"
.
Sembari makan, Waya mengumumkan berita bahagia: pertunangannya dengan Morishita Shigeko.
"Wah, kau akan menikah, Waya? Selamat!" Hikaru tampak benar-benar bersemangat mendengarnya. "Hebat sekali, aku tak tahu bagaimana kau bisa meyakinkan Morishita-sensei, tapi ini sungguh kabar gembira!"
"Yah, tidak juga sih..." Waya meringis. "Sebenarnya Shigeko hamil dua bulan, jadi..."
"APAAA?!" Tidak hanya Hikaru, bahkan Akira dan Ochi pun berteriak, membuat Waya kelimpungan memaksa mereka bertiga diam.
"Shigeko-neesan hamil dua bulan?!"
"Tunggu, memangnya sejak kapan kau berpacaran dengan Morishita-san?"
"Memangnya kau tahu cara menghamili gadis?"
"Bukannya Shigeko-san kuliah di Amerika?"
"Nomor satu, tolong jangan memanggilnya Shigeko-neesan, Shindou, dia bahkan lebih muda darimu. Kedua, jangan juga memanggilnya Morishita-san, Touya, kesannya aku jadi berpacaran dengan ayahnya. Dan ketiga, Ochi, tentu saja aku tahu cara menghamili gadis, aku tidak seperti kalian para cowok gay."
Begitu Waya diam, tiga pasang mata melihatnya dengan tatapan melongo. Sedetik kemudian, Akira langsung menyambar, "Itu tidak menjawab pertanyaanku, Waya-san." Sementara Hikaru menggerutu, "Apa salahnya aku memanggil Nee-san?" dan Ochi menangkis, "Siapa bilang aku gay?"
Waya, satu-satunya cowok straight di geng kecil mereka, berdehem dan menjelaskan dengan agak malu-malu. "Aku dan Shigeko berpacaran sejak dua tahun yang lalu, sebenarnya, sejak dia mulai kuliah. Kami berpacaran jarak jauh, kau tahu. Benar kata Isumi tadi, ia kuliah di Amerika. Nah, beberapa bulan lalu, ketika ia pulang ... yah, kautahulah..."
"Wow," hanya itu yang keluar dari empat pemuda di hadapannya. Kelihatannya mereka bingung harus berkomentar apa.
"Intinya, waktu tahu Shigeko hamil, Morishita-sensei mengamuk dan nyaris membunuhku. Dia memecatku jadi muridnya, coba! Tapi lalu aku menyembah-nyembah, dan akhirnya ia sudi memaafkan dan menerimaku sebagai menantu dengan satu syarat..."
"Syarat?"
"Aku harus menanggalkan namaku dan menjadi pewarisnya..."
Keempat pemuda di hadapan Waya kembali melongo, menatap Waya seakan menatap alien.
Adalah Hikaru yang pertama kali memecah kebekuan. "Oh, kau hebat sekali, Waya. Tak hanya berhasil menculik putri Morishita-sensei tepat di depan hidungnya, kau bahkan berhasil membuatnya menjadikanmu pewarisnya! Aku kagum padamu! Izinkan aku memanggilmu Shishou, Morishita-sensei!" Hikaru memberi hormat dalam-dalam, memberikan tekanan pada kata terakhir.
"Apa sih!" teriak Waya. "Jangan malah mengejekku begitu, dong! Aku sedang galau, nih!"
"Galau kenapa memang?"
"Ya soal syarat Morishita-sensei, lah!"
"Kau tidak ingin menikahi Shigeko-san?" tanya Isumi. "Apa kau ingin menelantarkan dia dan anakmu?"
"Bukan itu, Isumi. Masa harus aku yang pindah keluarga. Aku kan laki-laki!"
"Astaga. Itu alasan yang egois sekali, Waya."
"Ya, benar kata Isumi!" angguk Hikaru. "Banyak kok laki-laki yang mengambil nama keluarga istrinya."
"Itu kan zaman samurai dahulu," tangkis Waya. "Biasanya juga laki-laki yang melakukan itu adalah anak kedua atau lebih, yang memang tidak berhak atas nama keluarga. Atau mereka menikah dengan keluarga terpandang."
"Morishita kan keluarga terpandang, Waya. Kalau aku jadi kau, aku akan dengan senang hati diangkat anak olehnya."
"Huh, bicara sih mudah," Ochi ikut angkat bicara. Aneh sekali karena ia bersisian dengan Waya. Atau mungkin ia bicara begitu hanya karena merasa harus berseberangan dengan Hikaru. "Misalnya ya, Touya-sensei mau mengangkatmu jadi menantu, tapi kau harus menggunakan namanya, apa kau bersedia?"
Pertanyaan Ochi membuat bukan Hikaru, melainkan Akira—yang sedang menyeruput minumannya dengan tenang—tersedak dan terbatuk-batuk keras. Hikaru lekas berpaling pada pacarnya, menepuk-nepuk punggungnya dengan ringan.
"Apa sih kau, Ochi!" bela Hikaru. "Kenapa jadi Touya-sensei dibawa-bawa?"
"Aku hanya memberi contoh betapa sulitnya pilihan itu bagi Waya. Ia juga punya tanggung jawab untuk meneruskan nama keluarga. Mungkin kau tidak tahu karena kau berasal dari keluarga kelas menengah."
"Hei, apa kaubilang?!" Hikaru mulai tersulut. "Aku mungkin tidak sekaya kau, Ochi, tapi..."
"Menurutku," sela Akira, ketika sudah berhasil mengatasi batuk-batuknya, "rasa cinta dan tanggung jawab seharusnya melebihi hal-hal sepele seperti urusan meneruskan nama keluarga. Jika Waya-san benar-benar mencintai Shigeko-san, seharusnya Waya-san tidak perlu menjadikan hal ini sebagai masalah. Aku sendiri, jika memang itu jalan keluar satu-satunya, aku tidak akan ragu melepas namaku."
Ia mengatakan 'aku' seolah-olah ia Waya, tapi pesan yang terimplikasi sangat jelas. Ia bicara sebagai seorang Touya, keluarga yang juga terpandang, dan bisa dibilang malah jauh lebih tradisional ketimbang Ochi. Di antara mereka, Akira-lah yang paling dituntut untuk meneruskan nama keluarga, namun ia tidak ragu untuk membuangnya demi cinta.
Tangan Akira mendadak meraih dan meremas keras tangannya yang ada di pangkuan. Saat itu ia sadar, ucapan Akira bukan main-main.
.
