Chapter 2. Lamaran

Setelah pembahasan mengenai pernikahan Waya vs nama keluarga itu, Akira jadi sering berdiam diri. Bukan melamun, ada kerung di antara kedua matanya yang menunjukkan ia sedang berpikir keras. Ini sepertinya bukan hal yang berhubungan dengan go, karena setiap kali Hikaru mengajaknya main, Akira menempatkan batunya asal saja seolah pikirannya tidak ada di sana.

Akhirnya, dua minggu setelah tahun baru, Akira mendadak mengajaknya makan malam di rumah keluarga Touya. Ayahnya pulang dari China, katanya, dan mengundang mereka datang.

Hikaru langsung tegang. Benar, keluarga Akira menerimanya sebagai menantu bahkan anak sendiri. Touya-san sangat ramah padanya dan suka membuatkan makanan favorit Hikaru, sedangkan Touya-sensei sering mengajak Hikaru bermain dan mendiskusikan langkah-langkah barunya. Ia sepertinya menganggap Hikaru sejajar dengannya, karena ia selalu menolak memberi Hikaru handicap dan memaksa melakukan nigiri. Tentu saja, Hikaru sendiri adalah pemegang multigelar sekarang, tidak melakukan nigiri adalah penghinaan. Awalnya Hikaru mengira penerimaan Touya-sensei terhadap dirinya berakar dari keinginan untuk bermain melawan Sai lagi. Namun, setelah setahun mereka bersama dan belum ada tuntutan dari Touya-sensei untuk mengatur permainan melawan gurunya itu, Hikaru mulai merasa bahwa mungkin Touya-sensei memang benar menyukainya.

Tapi itu semua bukan berarti ia tidak bisa tegang. Keluarga Akira, walau bagaimanapun, adalah keluarga tradisional. Mereka makan dengan tata krama yang tinggi, sedangkan Hikaru—yang dibesarkan dengan cara yang jauh lebih santai—tidak terlalu terbiasa dengan situasi seperti itu. Terlebih, menurut Akira, makan malam kali ini adalah makan malam dalam rangka perayaan tahun baru yang terlambat. Artinya ia harus bersikap resmi—mengenakan hakama dan haori dan lain sebagainya.

Pada hari-H, Hikaru—dengan kimono dan haori biru tua serta hakama biru muda—digerek Akira menuju rumah keluarganya. Akira tampak sangat tampan dengan kimono dan haori biru telur asin yang ia pakai, batin Hikaru, walau itu membuatnya jadi seperti Miburoshi. Rambutnya yang mulai panjang diikat di tengkuk dengan indahnya, meninggalkan helai-helai rambut menghiasi lehernya yang jenjang. Dibandingkan gaya elegan Akira, Hikaru merasa seperti memakai kulit yang asing. Walaupun dibuat oleh penjahit kimono terbaik yang direkomendasikan Akira, kostum yang ia pakai membuatnya merasa kikuk dan canggung.

Selepas makan malam, seperti biasa Touya-sensei mengajaknya main go. Namun anehnya, kali itu Akira tidak menyertainya seperti biasa, dengan alasan akan membantu ibunya merapikan sisa makan malam. Alhasil, Hikaru terpaksa ditinggal menghadapi Touya-sensei sendirian. Tangannya yang sudah mulai berkeringat sejak memasuki kediaman keluarga Touya jadi terasa makin basah.

"Selamat atas perolehan gelarmu yang ketiga, Hikaru. Maaf aku terlambat mengucapkan, juga karena tidak bisa hadir dalam pertandinganmu," ucap Touya Meijin ramah—atau setidaknya seramah-ramahnya pria kaku pemegang gelar abadi itu bisa lakukan. Sejak Akira memperkenalkan Hikaru sebagai pasangannya, keluarga Touya bersikeras memanggilnya dengan nama kecil, hingga kadang Hikaru merasa kikuk.

"Terima kasih, Touya-sensei," Hikaru menempatkan biji pertamanya di goban. "Saya dengar Anda juga kembali merajai Samsung Cup? Selamat."

"Ah, sudah kubilang kau bisa memanggilku Ayah. Kau sudah bukan siapa-siapa lagi di keluarga ini," ucap Touya-sensei. "Kami orang tua hanya bisa membuka jalan dan memberikan contoh, selanjutnya kalian orang muda yang mampu meneruskan mendaki dan bersinar. Mungkin tahun ini kau bisa mencoba memasuki turnamen internasional, banyak yang bisa kaupelajari di sana."

"Ya. Tahun ini Akira juga sedang berjuang untuk merebut gelar Kisei. Saya tidak boleh kalah."

"Bagus sekali. Dan bagaimana kansmu untuk merebut Jyudan tahun ini?"

Hikaru sedikit menggaruk kepalanya. "Saya masih harus mengalahkan Akira di semifinal. Jikapun menang, kemungkinan besar saya masih harus melawan Isumi atau Kurata di final Jyudan."

"Isumi Shinichirou Dan-8?"

"Ya... Dua tahun lalu saya kalah olehnya di final."

Berbeda dengan sistem pertandingan di beberapa liga lain yang menerapkan pola round robin, yang mengharuskan para kontestan bertarung satu sama lain di dua grup yang berbeda, Liga Jyudan jauh lebih sederhana dengan menerapkan pola single knockout 16 besar. Dengan sistem itu, waktu seleksi untuk menentukan challenger jauh lebih cepat, hanya butuh empat pertandingan yang dilangsungkan mulai minggu kedua Januari kemarin.

Akira, Hikaru, Isumi, dan Kurata dianggap sebagai empat calon terkuat untuk menantang Ogata, sang Jyudan Abadi yang sudah enam tahun bertakhta. Pada tahun sebelumnya, keempatnya maju ke semifinal, sehingga otomatis mereka ditempatkan berjauhan untuk berhadapan dengan para pendatang baru. Menyebalkannya, tahun ini Akira ditempatkan pada grup yang sama dengan Hikaru, sehingga hampir pasti mereka akan berhadapan di semifinal.

Ah, dan masih ada halangan bernama Isumi Shinichirou. Isumi memang tidak pernah dianggap jenius, tapi ketangguhannya di atas goban sama sekali tak bisa dibantah. Dua tahun lalu, walau masih tak bisa menggoyahkan Ogata, bahkan Kurata (dan Hikaru sendiri) pun menundukkan kepala di hadapannya. Aneh, sebenarnya, karena Isumi tak pernah menang melawan Akira dan dirinya di turnamen lain.

Mungkin seharusnya panitia berbaik hati dan meletakkannya dalam grup yang berbeda dengan Akira. Oh, jauh lebih baik seandainya Akira saja yang ditempatkan dalam satu arena dengan Isumi. Bahkan seandainya ia kalah dari Akira pun, ia akan bisa bersorak-sorai menertawakan Ogata jika Akira berhasil menjatuhkannya.

Selama beberapa puluh menit mereka hanya diam sembari bertukar langkah di atas papan. Hingga kemudian, Touya-sensei memecah kesunyian.

"Aku tahu kau dan Akira sudah lama bersama, dan kalian saling mencintai. Seperti kubilang barusan, kau sudah diterima sebagai bagian dari keluarga ini."

"Ah, terima kasih, Tou—uhm, Ayah."

"Tapi aku sudah tidak muda lagi, dan belakangan aku memikirkan masa depan Akira. Ia sudah dewasa dan cukup mapan, aku berharap agar ia dapat segera menikah."

Di titik itu, Hikaru membeku. Biji go yang sedang dijepitnya di jemari terjatuh—untungnya ia masih belum mengangkatnya ke atas goban. Hikaru mengembalikan bijinya ke goke, lantas menunduk.

Touya-sensei akan menikahkan Akira...

Obrolan beberapa hari yang lalu, ketika Ochi menyebut tuntutan untuk meneruskan nama keluarga, kembali mencuat di benaknya. Akira adalah anak tunggal dari keluarga bangsawan—ia yakin bisa menarik silsilah kelaurga Touya dari salah satu keluarga samurai kelas atas atau bahkan daimyo, jika kamon yang dipakai di haorinya bisa menjadi indikasi. Ia dituntut untuk menikah dan memiliki anak, agar garis keluarga Touya tidak berhenti padanya.

Apakah ... apakah itu alasannya Akira sering sekali menangis dan merenung belakangan ini? Apakah Touya-sensei sudah mengatakan ini sebelumnya padanya, dan Akira tidak ingin mengatakannya pada Hikaru karena takut menyakiti perasaannya? Apakah Akira masih terombang-ambing dan tak bisa memutuskan, antara bersama Hikaru atau memenuhi permintaan ayahnya? Apakah Touya-sensei akhirnya lelah dengan sikap Akira yang tidak juga mengambil kata final, dan memutuskan untuk langsung saja bicara pada Hikaru?

Dan ucapan Akira waktu itu... Bahwa ia akan rela membuang nama Touya demi cinta...

Di sisi lain, pernikahan pada keluarga tradisional tidak harus selalu didasarkan pada cinta. Dan bukankah Touya-sensei juga yang mengatakan, bahwa ia menerima hubungan Akira dan Hikaru?

A-apakah...

Hikaru menelan ludah, menggenggam erat-erat kipas yang dipegangnya di pangkuan.

"Sa-saya mengerti," ia berusaha menegakkan diri, walau begitu sulit. Rasanya air mata sudah mau merembang di matanya, dan seluruh sel di tubuhnya menyatakan untuk lari, lari, lari. Ia tak ingin ada di sini.

Tapi ini adalah demi Akira. Dan hubungannya dengan sang ayah. Walau hubungan mereka begitu kaku, ia tahu Akira dan ayahnya saling menyayangi. Apakah ia akan begitu egois, memaksakan Akira hanya menjadi miliknya seorang, jika itu berarti menjauhkan Akira dari keluarga yang ia sayangi?

"A-apakah...," ia bicara dengan suaranya yang bergetar. "Apakah pasangan omiai Akira sudah ditentukan?"

Ia tidak mengatakan yang ada di benaknya. Apakah Anda ingin saya mengizinkan Akira untuk memiliki istri? Apakah Anda ingin saya rela menjadi simpanan Akira?

Ya, hanya itu solusinya. Banyak keluarga bangsawan dan samurai memiliki hubungan ekstramarital dengan orang lain, itu adalah kebiasaan yang umum pada zaman feodal dulu. Beberapa menjalin hubungan dengan terang-terangan, sehingga bahkan istri mereka pun tahu. Bukan tak pernah terdengar, bahwa pihak ketiga ini adalah pria. Pernikahan bukan masalah cinta, tapi urusan kewajiban untuk memiliki keturunan dan meneruskan nama keluarga.

"Omiai?" suara Touya-sensei tampak heran. "Oh, tidak, tidak... Kurasa kau salah sangka, Hikaru. Aku tidak hendak memaksa Akira menikah dengan wanita lain yang tidak ia cintai. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada Akira."

Eh?

Hikaru memberanikan diri untuk mengangkat kepala.

"Maksudku adalah jika kalian memang serius, aku ingin segera menikahkan Akira denganmu."

Mata Hikaru membelalak.

"Me-menikah...?"

"Aku tahu ini mendadak. Tapi jika kalian menikah, aku bisa mempercayakan Akira padamu. Aku yakin kau akan bisa menjaga dan melindungi Akira."

Mengapa Touya-sensei sepertinya mengira ia-lah "pria" dalam hubungan ia dan Akira? Tidak, tidak, masalah utamanya bukan itu.

"Uh, tapi bagaimana mungkin kami bisa menikah?"

"Mungkin kau pernah dengar, beberapa negara mulai mengizinkan pernikahan sejenis. Jika kalian menginginkan, aku bisa mengatur agar kalian bisa menikah di salah satu negara yang kalian suka. Mengenai masalah legalitas, aku berharap kau bersedia jika aku memasukkanmu dalam koseki keluarga Touya."

"Koseki?"

"Mendaftarkan seseorang dalam koseki alias register keluarga, dengan kata lain semacam adopsi, adalah cara yang biasa dipakai oleh pasangan sejenis untuk mendapatkan pengakuan hukum di Jepang," Touya-sensei menjelaskan dengan sabar, mungkin tahu Hikaru tidak banyak punya nilai positif di luar urusan go dan olahraga.

"Anda ingin saya ... masuk ke dalam keluarga Touya?"

"Apa ada masalah dengan itu, Hikaru?"

"Eh, ti-tidak..." Hikaru kehilangan kata-kata. "A-anu..."

"Aku akan merasa sangat terhormat, jika kau bersedia menyandang nama Touya. Jika tidak pun, aku sama sekali tidak berkeberatan melepas Akira untuk memasuki keluarga Shindou..."

Saat itu juga, ucapan Akira kembali terngiang.

Jika memang itu jalan keluar satu-satunya, aku tidak akan ragu melepas namaku.

Melepas nama besar Touya... Menjadi Shindou Akira...

Apa artinya bagi Akira sendiri? Bagi dunia go secara keseluruhan?

"Yang kuinginkan hanyalah jaminan masa depan bagi Akira," lanjut sang Meijin Ad Honorem. "Jika kalian berada pada koseki yang sama, jika Akira sakit atau semacamnya, kau akan punya hak untuk mengurusnya. Begitu juga dengan segala yang berkaitan dengan aspek hukum dan finansial, seperti pajak dan lain-lain. Jika satu saat kalian memutuskan untuk memiliki anak, akan lebih mudah untuk mengurus administrasi dan sebagainya."

Hikaru tak langsung menjawab. Apa yang diutarakan sang Meijin sangat logis, dan satu bagian dari dirinya mengiyakan. Kendati demikian, bagian lain...

"Ini adalah sebuah kehormatan," ujar Hikaru kemudian, "Tapi izinkan saya untuk memikirkan masalah ini, dan mendiskusikannya dengan keluarga."

Ada rona kekecewaan pada raut wajah pria tua itu, tapi ia mengangguk. "Ya, tentu saja. Aku mengerti posisimu sebagai anak tunggal. Tapi tolong pikirkan ini. Sebagai orang tua, aku hanya menginginkan kebahagiaan dan jaminan keamanan bagi kalian berdua."

Hikaru membungkuk memberi hormat, dan melanjutkan permainan mereka. Tapi meskipun ia berusaha keras memusatkan perhatiannya pada permainan, di benaknya berkecamuk beribu pikiran.

.

Pikiran Hikaru masih kusut bahkan setelah mereka menyelesaikan permainan (Hikaru menyerah setelah sadar akan kalah sekitar 15,5 moku—memalukan sekali). Untungnya, Touya-sensei kelihatannya sadar calon menantunya itu sedang rungsing, dan mempersilakan Hikaru untuk beristirahat tanpa mendiskusikan permainan mereka seperti biasa. Akira tampak khawatir ketika menjemput Hikaru, tapi ia juga tak bicara apa-apa.

"Akira, ayahmu melamarku..," kata Hikaru akhirnya, setelah sekitar setengah jam hanya berbaring diam dalam keheningan kamar Akira, menatap langit-langit.

"Mm-hmm," Akira hanya bergumam, sementara jemarinya menggerayangi tubuh Hikaru di balik yukata. Bibirnya sibuk menciumi dada bidang Hikaru yang tersingkap.

"Akira, ini serius."

Akira tidak menjawab. Kali ini bibirnya merambat naik menyasar leher Hikaru, sementara tangannya bergeser ke bawah, mengurai tali obi pemuda itu. Namun ketika ia menyelipkan tangannya ke balik yukata yang menutupi bagian bawah tubuh kekasihnya, tangan Hikaru mendadak menangkapnya.

"Tunggu Akira, ini benar-benar serius!" tegas Hikaru.

"Aku juga serius. Aku sedang berusaha merayu calon tunanganku agar ia mau menerima lamaran ayahku."

"Akiraaaaaaa...," suara Hikaru mulai merana.

Menghela napas, Akira menarik tangannya dan beranjak duduk. "Kenapa? Kau terlihat tidak suka? Apa kau memang tidak pernah berpikir untuk menikah denganku?"

Ada luka di perkataan Akira yang bahkan Hikaru pun bisa menangkapnya. Mengikuti Akira, ia juga bangkit dari tidurnya, duduk di futon di sebelah Akira. "Ma-maksudku, kita sama-sama laki-laki dan..."

"Dan memang akan terus begitu!" tegas Akira. "Bukan berarti setelah menikah, aku mengharapkan salah satu dari kita mengisi peran sebagai perempuan, kalau itu yang kautakutkan."

"Bukan itu!"

"Atau kau takut setelah ini, ayahku akan berharap kita mengadopsi anak?"

Butuh waktu sekitar sedetik sebelum makna ucapan Akira dimengerti Hikaru. "Begitukah?" katanya nanar. "Touya-sensei ingin kita menikah, berharap agar kita bisa mengadopsi anak? Ta-tapi aku baru 20!"

"Aku lebih muda darimu tiga bulan," tunjuk Akira.

"Bukan begitu! Entah bagaimana denganmu, tapi aku benar-benar tak pernah berpikir soal anak!"

"Maka kita tidak perlu memiliki anak sekarang. Sama sekali bukan masalah."

"Uh..."

"Lalu apa sebenarnya masalahmu? Apa kau takut dengan komitmen?"

"Mana mungkin aku takut dengan komitmen!" tukas Hikaru. "Aku setia padamu dan tidak berniat untuk mencari yang lain, jika itu maksudmu!"

"Lalu kenapa?" suara Akira terdengar frustrasi. "Apa kau takut setelah menikah nanti, aku akan berubah? Apa kau takut salah satu dari kita akan menjadi seperti ayahmu, yang meninggalkan ibumu demi wanita lain?"

"Itu sama sekali tidak ada hubungannya! Tolong jangan samakan aku dengan ayahku!"

Suara Hikaru agak meninggi dan bergetar. Hikaru dikenal sensitif akan dua hal: soal Sai dan ayahnya. Sungguh bodoh Akira mengungkit soal ayahnya di saat seperti ini. Ia sudah tidak mau lagi berhubungan dengan ayahnya, sejak ketahuan bahwa selama ini, bukan cuma pekerjaan yang membuat figur sang ayah jarang ada dalam kehidupan Hikaru. Ayahnya diam-diam menyimpan kekasih, dan itu pula yang akhirnya membuatnya meninggalkan sang ibu. Shindou Heihachi malu sekali dengan kelakuan putranya, dan memutuskan hubungan saat itu juga. Hikaru memang masih menyandang nama Shindou, tapi ia bersikeras tak ingin lagi mengakui orang itu sebagai ayah.

Akira kelihatannya sadar, karena sesaat kemudian, ia melunak.

"Hikaru, jika aku boleh bertanya, apa sebenarnya tujuanmu menjalin hubungan denganku?"

Ah. Jawabannya mudah. "Untuk mencapai Kami no Itte."

Itu jawaban yang paling sederhana yang selalu Hikaru yakini sejak awal, bahkan mungkin sejak sebelum ia menyadari bahwa perasaannya pada Akira lebih daripada sekadar rival. Alasan yang ia yakini juga sama bagi Akira. Karena bukankah itu takdir mereka?

Tak disangka, justru jawaban itu membuat Akira meradang.

"Demi go? Begitu?" suaranya meninggi, persis seperti dulu ketika Hikaru masih begitu kecil dan bodoh, dan berpikir bahwa sangat mungkin menjadikan go sebagai alat mencari keuntungan finansial. "Kau berpikir akan lebih menguntungkan bagi perkembangan karirmu, jika kita berbagi ranjang?"

"Tidak! Akira, kau salah paham! Aku ingin kita bersama terus, saling mendukung, saling berkompetisi, saling menyemangati satu sama lain, agar kita bisa berkembang jauh lebih baik. Aku bisa sampai sejauh ini, adalah karena aku berusaha mengejarmu! Aku ingin mencapai Kami no Itte bersamamu!"

Sepertinya Akira sedang tidak berada pada satu frekuensi dengannya, atau ia punya cara yang aneh untuk menerjemahkan perkataan Hikaru, karena ia makin emosi.

"Kau memandangku sebagai kekuatan yang lebih tinggi, yang bisa membawamu ke puncak, begitukah? Lalu bagaimana jika satu saat perkembanganku stagnan, jika aku tak bisa lagi mengimbangimu? Apa kau akan meninggalkanku?"

Di titik itu, Hikaru terpana. "Apa maksudmu, Akira?"

"Kalau kau mencari seseorang yang bisa memotivasimu, kenapa kau tidak berpacaran dengan Ko Yeong Ha saja!"

"Ko Yeong Ha? Apa-apaan sih kau, Akira! Apa urusannya Yeong Ha dengan semua ini?"

"Jelas kan? Aku bukan jenius seperti kalian. Apa yang kucapai sekarang, adalah hasil belajar dan kerja keras seumur hidup! Ada saatnya nanti ketika aku akan tertinggal, dan kau ... dan kau..."

Ia sadar ada sesuatu yang salah, ketika dilihatnya dengan jelas, gemetar mulai merajai seluruh tubuh Akira. Kemudian dalam sinar temaram, sesuatu yang mengkilat jatuh mengenai tangan Akira yang mengepal erat di pangkuan, meremas yukatanya. Akira menangis, lagi.

"Akira, hei..."

Akira berbalik padanya, menyurukkan diri di pelukan Hikaru. Hikaru bisa merasakan air merembes membasahi bahu yukatanya.

"Aku mencintaimu, Hikaru. Aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena go atau lainnya, aku benar-benar tulus mencintaimu..."

Bukan karena go? Apa maksudnya bukan karena go? Go adalah apa yang mendefinisikan mereka berdua kan? Itu yang membuat Akira melihatnya untuk pertama kali, dan yang membuatnya mengejar Akira, membuatnya ingin membuktikan diri pada Akira. Hanya karena Akira mengakui kemampuannya dalam go, yang membuatnya layak untuk menjadi pendamping Akira. Go yang masih mengikat mereka hingga kini, esok, lusa, selamanya. Mereka adalah rival abadi, bukan begitu?

Karena go dapat mengikat satu jiwa pada dunia fana hingga seribu tahun sesudah kematiannya. Adakah yang lebih kuat ketimbang itu? Lebih dari cinta, lebih dari pernikahan, lebih dari apapun juga.

Tapi ia tak mengatakannya pada Akira, tidak bisa mengatakannya. Dibiarkannya Akira menyurukkan diri ke dadanya dan menangis. Akira akan sadar nanti. Ia akan mengerti.

.

Begitu Hikaru bangun, didapatinya Akira tidak ada di sampingnya. Bahkan futonnya juga sudah dirapikan. Menarik dan mengenakan yukata yang teronggok di samping futon, Hikaru lekas merapikan bekas-bekas tidurnya dan meluncur ke kamar mandi.

Untungnya Touya-san tidak terlihat di lorong depan kamar Akira, sehingga Hikaru bisa menyelinap tanpa harus bertemu muka dengan ibu mertuanya itu. Membuka yukatanya, Hikaru mengamati bayangan tubuhnya di kamar mandi. Kebiasaan Akira, selalu saja meninggalkan cupang di mana-mana, dasar posesif. Mendesah, Hikaru lekas mandi dan membersihkan diri, kemudian berganti pakaian dengan kaos berleher tinggi dan celana jeansnya yang disimpannya di lemari Akira.

Ketika melewati dapur, dilihatnya Touya-san sedang sibuk di konter. Melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan Akira dalam radius lima meter dari tempatnya berada, Hikaru pun melangkah masuk untuk menyalami ibu mertuanya.

"Selamat pagi, Touya-san," ujarnya.

"Oh, Hikaru-san, selamat pagi," balas Touya Akiko, mengangguk sopan. "Akira-san dan Kouyo sedang di ruang go, jika kau mencari mereka."

Di ruang go? Oh, pasti seperti biasa, mereka sedang memulai sesi latihan pagi mereka. Mereka jarang bertemu belakangan ini, dan semalam pun jatah bermain Akira dengan ayahnya malah dimonopoli Hikaru.

Hikaru kadang iri dengan Akira. Akira punya begitu banyak kesempatan untuk menjalin ikatan dengan ayahnya. Mereka punya hobi yang sama, profesi yang sama... Dibandingkan dengan mereka, Hikaru... Ah, kapan terakhir kali ia dan ayahnya mengerjakan sesuatu bersama?

"Ah, tidak usah. Aku tidak ingin mengganggu," tolak Hikaru. "Apa ada yang bisa kubantu, Touya-san?"

"Sudah kubilang kau bisa memanggilku Ibu," senyum Touya-san. "Terima kasih, tapi sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa kaubantu. Oh, apa kau ingin sarapan? Maaf, kami sudah sarapan duluan. Kau tertidur pulas sekali, Akira tidak tega membangunkanmu. Nah, biar kusiapkan, ya," Touya-san bergerak hendak mengambil piring-piring dari rak dapur, tapi Hikaru menghentikannya.

"Tidak apa, Tou—uhm, Ibu, aku bisa menyiapkan sendiri."Sarapan pagi di keluarga Touya sangat tradisional—nasi, ikan gindara, sup miso, dan tsukemono. Sup miso masih hangat sehingga Hikaru tak perlu memanaskannya, jadi ia hanya perlu memanggang ikan sebentar di kompor. Sebuat ia memanaskan makanan, Touya-san menyibukkan diri mengelap konter dapur yang sejatinya sudah sangat mengkilap sehingga tidak perlu dilap. Melirik dari ujung matanya, Hikaru tahu ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh ibu mertuanya. Ia mempersiapkan batin dan menunggu.

"Aku tak ingin ikut campur," mertuanya membuka pembicaraan dengan hati-hati. Benar, kan? "Tapi semalam aku mendengar suara gaduh. Apa kau dan Akira-san bertengkar?"

"Uhm, maafkan aku, Ibu. Semalam ada sedikit kesalahpahaman. Kami sudah berhasil mengatasinya."

"Syukurlah. Aku memergoki Akira-san tengah mengompres matanya pagi-pagi sekali, tidak bisa tidak aku jadi khawatir," Touya-san menegurnya dengan lembut. "Aku tahu bukan tempatku untuk ikut campur urusan rumah tangga putraku. Akira-san memang bisa jadi sangat sensitif dan emosional, tapi ia juga kadang suka memendam perasaannya. Jika ada masalah, sesuatu yang kiranya tidak bisa kalian selesaikan berdua, kau bisa membicarakannya denganku."

"Terima kasih, Ibu."

"Aku tahu apa yang semalam dibicarakan Kouyo denganmu. Sekiranya itu membebanimu, sebaiknya tidak usah kaupikirkan. Jika kau bisa membahagiakan Akira-san, kurasa itu sudah cukup."

Touya-san tidak mengatakannya, tapi Hikaru tahu bahwa mertuanya itu merasa bahwa ia telah menyakiti putranya. Selama ini, keberadaannya di keluarga mereka ditoleransi karena keduanya berasumsi bahwa ia dapat membahagiakan Akira. Jika kenyataannya malah sebaliknya, Hikaru tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

"Maafkan aku, Ibu. Itu takkan terjadi lagi," janjinya.

Touya-san hanya tersenyum seraya menepuk bahunya. Ia kelihatannya sudah selesai dengan agendanya, dan undur diri untuk mengerjakan yang lain. Meninggalkan Hikaru untuk menikmati sarapan paginya. Entah mengapa, semua masakan terasa hambar.

.

Selesai makan, Hikaru tidak menyusul Akira ke ruang go, melainkan kembali ke kamar dan menunggu. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan, ia pun membongkar peralatan go Akira. Seperti biasa, saat sedang galau, ia merekonstruksi permainan yang dahulu pernah ia mainkan bersama Sai. Melewati waktu, ia makin dapat menemukan kesalahan-kesalahan yang dahulu ia lakukan, dan mencoba mencari alternatif lain. Kadang ia berpikir langkah apa yang akan Sai lakukan menghadapi beberapa strategi baru yang ia ciptakan, dan menjalankan biji putih sesuai dengannya.

Dengan itu, ia merasa Sai masih membimbingnya.

Akira baru kembali ketika sudah hampir tengah hari. Hikaru buru-buru memasang senyum, berharap kondisi hati Akira sudah lebih baik. Mata Akira sudah tidak merah dan bengkak lagi, setidaknya, tapi wajahnya juga tidak tampak seringan biasanya.

"Sebentar lagi waktu makan siang," ujarnya. "Setelah itu kita pulang."

"Oh, iya. Biar aku membereskan ini dulu," balas Hikaru. Namun ketika Hikaru hendak memisahkan biji-biji hitam dan putih di goban, Akira lekas menahannya. Ia beranjak duduk di hadapan goban di seberang Hikaru, sikapnya menekur penuh konsentrasi.

"Kedua pihak sangat kuat, terlebih biji putih. Tapi biji hitam memiliki inkonsistensi dalam pola permainan," timbangnya setelah beberapa lama. Kemudian ia mengangkat matanya dari atas papan, menatap Hikaru. "Kau mencoba memodifikasi strategi Shuusaku lagi ... um... melawan dirimu sendiri?"

"Eh...," Hikaru tidak tahu mesti menjawab apa. "Um... itu... Aku ... berusaha merevisi salah satu permainan lamaku...," ia menelan ludah, tak tahu akan seperti apa reaksi Akira, "eh, melawan Sai."

Di titik itu, Akira sudah tak pernah lagi mempertanyakan lagi apa hubungan Sai dengan Hikaru. Ia sepertinya menerima begitu saja bahwa Sai adalah benar guru Hikaru pada suatu waktu, tapi tidak pernah mengelaborasi lebih jauh.

"Oh," reaksi Akira terlihat terlalu tenang kali ini. "Dan putih adalah Sai, benar?"

Hikaru mengangguk.

"Dia tidak bermain shidougo...," nilai Akira.

Tentu saja tidak, dia memang sebrutal itu di atas papan. Dasar guru yang kejam, batin Hikaru. Tapi ia hanya mengangguk.

Akira kembali menekur, berkonsentrasi pada papan. Akira yang dahulu akan melakukan ini berjam-jam, berusaha mengurai langkah demi langkah, menerka urutan dan pola permainan, mengingat semua dalam memorinya. Tapi Akira yang sekarang sudah "agak" berbeda.

Benar saja.

Akira menjangkau sakunya, menarik ponsel, dan memotret susunan batu di goban. "Nanti kau harus mereproduksi permainan ini sesampainya kita di apartemen," katanya. "Sekarang kita harus segera ke ruang makan, Ayah dan Ibu sudah menunggu."

Sikapnya dingin, sehingga Hikaru tak berani berkata macam-macam. Menuruti Akira, ia memisahkan batu putih dan hitam untuk kemudian memasukkannya ke goke masing-masing. Akira bangkit terlebih dahulu, mengangkat dan merapikan peralatan go-nya ke lemari. Mereka hanya berkunjung sesekali, dan amat merepotkan bagi ibu Akira jika harus mengelap goban apabila ditinggalkan begitu saja di tengah ruangan.

"Oh ya," ucap Akira sembari menutup pintu lemari. "Mohon untuk selalu memanggil orangtuaku dengan sebutan Ayah dan Ibu, Hikaru. Aku tak ingin mereka berpikir bahwa kau memang tak ingin menjadi bagian dari keluarga ini."

Dalam hati Hikaru mendesah. Rupanya persoalan kemarin memang belum selesai.

.

Makan siang dengan keluarga Touya berlangsung tanpa adanya sesuatu yang aneh, setidaknya bagi mata awam. Mungkin hanya orang yang begitu dekat dengan keluarga Touya yang dapat merasakan semua keanehan itu, yang tersembunyi dalam sikap mereka. Misalnya dari bagaimana Akira sama sekali tidak pernah sedikitpun menyentuh tangan Hikaru, atau dari sikap Touya-san yang kelewat sopan, atau dari Hikaru sendiri yang tak kuasa menatap wajah (calon) mertuanya.

Mereka undur diri sekitar pukul 3 sore, langsung kembali ke apartemen. Selama perjalanan pulang, Hikaru dan Akira berkendara dalam diam. Hikaru sibuk menavigasi mobil sport kuningnya—tentu saja mobil sport dan tentu saja kuning, bagaimana mungkin Hikaru memiliki mobil jenis lain—membelah jalanan, sementara Akira menatap jalanan seraya mendengarkan musik jazz yang mengalun dari CD Player. Sama sekali tak ada interaksi antara keduanya.

Perlakuan diam yang diterima Hikaru memanjang hingga berhari-hari setelahnya. Di apartemen, mereka masih tidur bersama, tetapi Akira tidak pernah lagi bergelung padanya ataupun menggerayangi Hikaru selagi tidur seperti biasanya ia lakukan. Hikaru mencoba memecah kebekuan dengan melakukan sesuatu yang provokatif, misalnya mengenakan yukata dengan berantakan lantas menampakkan pose seksi di tempat tidur, atau berinisiatif menyentuh Akira. Tapi sejauh ini, tak ada hasil yang memuaskan. Mereka tetap menjalankan kehidupan sehari-hari sebagaimana biasa, termasuk mengadakan study group dan bermain go dua kali sehari, tapi tak ada passion yang biasa.

Jikapun para anggota study group yang lain—termasuk Waya dkk. dan para murid mereka, yang terdiri dari dua insei dan empat profesional dan rendah berusia 12-16 tahun, yang sering disebut Gerombolan Touya-Shindou—mencium ada sesuatu yang salah, mereka tidak mengatakannya.

Sayangnya, Hikaru dan Akira masih harus bertarung dalam semifinal Liga Jyudan pada minggu keempat Januari. Terus terang, itu adalah sebuah kutukan.

Tahun lalu, ketika Akira menantangnya untuk gelar Honinbou, ia masih sempat bermanis-ria membuatkan sarapan dan bercanda dalam perjalanan mereka ke tempat pertandingan. Oh, di hotel pada malam pertandingan ketujuh mereka, keduanya bahkan sempat bercinta. Tapi kali ini, semua bagai neraka. Akira memperlakukannya bak musuh. Tak ada sama sekali kecupan hangat dan ucapan semoga sukses yang biasa ia dapatkan. Di atas goban, ia begitu ganas lebih dari biasanya, tidak memberi waktu sedikit pun bagi Hikaru untuk dapat menarik napas. Hikaru berhasil memaksanya menyerah sebelum mencapai yose, tapi jujur saja, ia tidak merasa menang.

Kadang Hikaru lelah dengan kesesakan ini.

.


Notes:

Halow lagi...

Ini chapter berikutnya dalam POV Hikaru. Rencananya cerita ini bakal dibagi dalam tiga POV: Hikaru, Waya, dan Akira. Aku udah selesaiin draftnya, cuma tinggal touch sana-sini sama tambahin beberapa filler. Update sih rencananya setiap minggu...

Cerita ini nyoba ngikutin timeline di manganya, jadi Hikaru pertama kali ketemu Sai pada Desember 1998. Setting cerita ini awal 2007.

Btw aku sama sekali ga ngerti go, detail soal go yang ada aku ambil dari Sensei's Library. Kalau ada salah-salah, tolong dikoreksi yaaaa...