Chapter 3. Penolakan

Pernikahan Waya dan Shigeko diadakan pada pertengahan Februari. Menyusul upacara pernikahan di sebuah kuil Shinto tak jauh dari kediaman Morishita-sensei, dilangsungkan resepsi pernikahan di sebuah hotel di tengah kota, seluruhnya bernuansa tradisional. Waya mengenakan kamon keluarga Morishita pada haorinya, pertanda ia memang akan menyandang peran sebagai pewaris Morishita-sensei di dunia go. Mendampinginya, Shigeko mengenakan uchikake merah bersulamkan burung bangau sebagai perlambang harapan akan kesejahteraan dan nasib baik. Ia terlihat sangat cantik dan dewasa, jauh berbeda dengan bayangan terakhir Hikaru mengenai Shigeko-neesan, remaja perempuan yang usil dan selalu memalak Waya. Kandungannya masih belum terlihat jelas—nyaris lima belas minggu, kalau menurut Waya—tapi obinya yang diikat longgar menandakan hadirnya Morishita generasi ketiga.

Untungnya, pada hari-H, Akira berkenan untuk melakukan gencetan senjata sehingga mereka dapat hadir berdua seolah tidak ada apa-apa. Sesuai dengan dresscode yang tertulis pada undangan, Hikaru dan Akira kompak mengenakan busana tradisional. Montsuki kimono mereka tampak serasi, warna hitamnya kontras dengan hakama putih yang mereka pakai. Akira memesan kimono mereka secara mendadak sebulan sebelumnya, dan pesanannya baru sampai tiga hari sebelum hari-H. Karenanya, alangkah kaget Hikaru ketika mendapati bahwa pada haorinya terpampang kamon keluarga Touya. Akira mengatakan bahwa itu adalah ketidaksengajaan, tapi jujur saja ia merasa tidak yakin. Berhubung waktunya sudah mepet, ia tak bisa merevisi kamon pada haorinya, dan terpaksa hadir dengan emblem-emblem keluarga pasangannya.

Ochi menatap mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Hikaru risih. Setelah sekitar dua menit menilai mereka dalam hati, ia pun mendengus dan mengucapkan selamat dengan suaranya yang angkuh, sebelum meninggalkan Hikaru yang mati-matian menahan hasrat untuk menyodokkan zori-nya ke mulut Ochi.

Bukan cuma Ochi yang bereaksi dengan busana Hikaru. Isumi—sang challenger Jyudan tahun ini, Hikaru masih merasa agak pahit soal itu—tampak terpana, sebelum dengan kikuknya mengoreksi nama Hikaru dari Shindou menjadi Touya. Waya—ehm, Morishita—melongo terang-terangan di muka publik, sampai Shigeko turun tangan dan menginjak kakinya dengan zori setinggi 3 cm. Beberapa pemain senior, termasuk Morishita-sensei, tampak tak tahu harus mengatakan apa. Untungnya Touya-sensei dan istrinya belum tiba, sehingga setidaknya ia tidak harus menanggung malu diperkenalkan sebagai menantu di hadapan seluruh Ki-In. Beberapa anggota Ki-In yang tak tahu urusan menyebutnya sebagai Touya Honinbou, dan Hikaru harus melakukan klarifikasi pada tiga—tiga—reporter Weekly Go yang bersikukuh menanyakan apakah ia telah diadopsi oleh keluarga Touya.

Ini sama saja seperti mengumumkan pada dunia bahwa ia dan Akira telah menikah!

Akira—si ular licik itu—tampak tenang-tenang saja di tengah semua kehebohan itu. Bisa dibilang ia malah menikmati kekikukan Hikaru, jika dilihat bagaimana ia dengan lihainya menjebak Hikaru untuk berinteraksi dengan orang-orang Ki-In dan para reporter, walaupun Hikaru sudah memberikan kode ingin segera kabur dari situ. Orang-orang yang penasaran ini tentu saja tak ada yang berani untuk menanyakan langsung pada Akira, alhasil Hikaru-lah yang harus terus-menerus mengklarifikasi bahwa: a) tidak, dia tidak diadopsi oleh keluarga Touya; b) karena poin a, dia tidak akan mulai mengganti nama profesionalnya menjadi Touya Hikaru, sehingga tidak perlu memanggilnya Touya Honinbou; dan c) haori ini adalah pinjaman, demi Tuhan, jadi bisakah mereka meninggalkannya sendiri?

Setelah sekitar dua jam menjelma menjadi selebriti dadakan dalam pesta pernikahan sahabatnya sendiri, akhirnya Hikaru berhasil menggerek Akira kabur. Menghempaskan tubuh di jok kursi pengemudi di mobilnya, setelah melempar haorinya asal saja ke jok belakang, Hikaru mulai mengomplain.

"Kenapa kau melakukan ini?" tuntutnya.

"Mengapa aku melakukan apa?" dengan tenang Akira menarik haori Hikaru dari jok belakang, melipatnya kembali dengan hati-hati.

"Ini. Menjebakku coming out mengenai hubungan kita. Membuatku terlihat seolah-olah aku menikah diam-diam denganmu."

"Tidak ada yang menjebakmu untuk coming out. Omong-omong, hubungan kita sudah jadi rahasia publik, apa kau tidak pernah membaca Weekly Go? Dan sudah kubilang, semua ini hanya ketidaksengajaan."

"Huh, 'ketidaksengajaan', yang benar saja!"

"Coba saja kautanyakan pada Takeda-san. Ia sendiri kan sudah minta maaf, dan bilang akan memperbaiki kamon-mu."

"Dalam waktu seminggu! Apa-apaan, memangnya membuat bordiran saja butuh selama itu?"

"Takeda-san adalah pembuat kimono terkenal. Ia banyak order, bukan cuma mengerjakan kimonomu saja," tunjuk Akira.

"Cih, sama sekali tidak profesional!" gerutu Hikaru.

"Sudahlah. Toh kau sudah mengklarifikasi pada reporter dan orang-orang Ki-In. Seharusnya tak ada masalah."

"Apanya yang tidak ada masalah! Seperti kau tidak tahu saja jaringan gosip Ki-In!" bentak Hikaru. "Ah, aku tahu. Kau sengaja entah bagaimana membuat Takeda-san salah membuat kamon pada haori-ku. Lalu dengan menghitung waktu datangnya pesanan dan waktu revisi, kau juga membuatku tak bisa mengganti kamonku dan terpaksa mengenakannya ke resepsi Waya!"

"Bagaimana caranya aku melakukan itu? Yang benar saja, Hikaru!"

"Mana kutahu! Kau berkonspirasi dengan anak buah Takeda-san, misalnya. Menukar desain kamon atau semacamnya."

"Dan motifnya?"

"Oh, entahlah! Kau ingin balas dendam karena aku mengalahkanmu di semifinal Jyudan, misalnya. Atau ... oh, aku tahu yang lebih masuk akal. Kau ingin semua orang di Ki-In dan dunia go mengira aku sudah menjadi Touya, sehingga ujung-ujungnya aku menyerah dan benar-benar masuk ke keluargamu! Kau pemain go, pastinya kau tahu cara menyudutkan orang!"

"Konyol sekali. Sekarang aku tahu mengapa kau jadi pemain go dan bukannya polisi. Sebaiknya kau mulai menghentikan hobimu menonton film detektif, itu sama sekali tak ada gunanya bagi perkembangan logikamu."

"Itu adalah penjelasan yang masuk akal, dan berhenti mengkritik genre film pilihanku! Kau sendiri hobi sekali menonton drama klasik. Kapan aku pernah protes?"

"Terserahlah," Akira mengendikkan bahu dengan santai, kemudian menyandarkan kepalanya dan memandang kosong ke luar jendela, membuat Hikaru menggerutu. Kalau sudah begitu, Akira takkan mau berdebat lagi. Ia menstarter mobil, kemudian mengendarainya keluar dari tempat parkir gedung menuju jalanan.

Belakangan sikap pasif-agresif Akira benar-benar membuatnya gila.

Oh, bukan cuma itu. Soal "pernikahan" ini juga. Ia tidak tahu dari mana Akira mendadak punya ide bahwa mereka butuh menikah segala, karena sebelum ini ia seakan tidak pernah berpikir ke arah sana. Bukankah mereka sudah cukup bahagia dengan hidup bersama, menghabiskan waktu bersama, baik sebagai rival maupun kekasih? Apa untungnya menikah? Mereka bukan pasangan heteroseksual, demi Tuhan! Mereka tidak butuh legalitas agar anak mereka nanti tidak dikucilkan karena dianggap anak haram, misalnya, seperti kasus Waya. Mereka juga tidak butuh menikah sebagai ungkapan janji untuk hidup bersama dan segala ide romantis lainnya. Di luar sana banyak sekali pasangan yang saling mencintai tapi ujung-ujungnya tidak cocok, atau salah satunya berselingkuh, seperti kasus ayah dan ibunya. Siapa yang bisa menjamin kalau satu hari nanti entah kapan, salah satu dari mereka takkan bosan dan mencari yang lain? Bisa jadi orang itu bukan dia, bisa jadi orang itu adalah Akira—siapa tahu kan?

Ditambah lagi, sampai melibatkan Touya-sensei segala, pula. Ya, ia yakin itu bukan ide Touya-sensei. Itu pasti ide Akira. Touya-sensei pasti takkan tega menolak permintaan anak semata wayangnya. Apalagi kalau ia berada dalam impresi bahwa anaknya adalah "perempuan" dalam hubungan mereka, dan karenanya perlu dilindungi dalam suatu ikatan pernikahan, jika tak ingin dimanfaatkan lantas disia-siakan begitu saja oleh "pemuda berandal" seperti dirinya. Apalagi seiring bertambahnya usia, perbedaan image di antara mereka makin kentara. Ia yang berbadan atletis berkat hobinya berolahraga dan si twinkie Akira yang memanjangkan rambutnya... Jujur saja, kadang-kadang ia kesal dengan persepsi publik yang menghubungkan penampilan seseorang dengan perannya di ranjang. Huh, asal mereka tahu saja!

Ucapan Touya-sensei malam itu, mengenai keuntungan yang akan ia dapat seandainya mereka menikah, jujur saja, terasa jauuuuuuuhhhh dan tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya. Ia baru 20! Dan itu, jujur saja, terasa begitu final.

Apa jadinya jika misalnya mereka memutuskan bahwa hubungan cinta tak lagi dapat mewadahi apapun dinamika hubungan di antara mereka? Masalah apa yang akan ia timbulkan dengan Touya-sensei?

Dan lagi, masuk ke keluarga Touya... Melepas namanya...

"Akira, mengenai permintaan Touya-sensei," ujar Hikaru, memecah kebisuan di antara mereka.

Mobil membelah jalanan. Hikaru bisa melihat dari sudut matanya, Touya menyandarkan kepala pada kaca jendela, memandang lalu lintas yang lengang. Ia tidak bereaksi pada ucapan Hikaru, tapi Hikaru tahu Akira mendengarkan, jadi ia melanjutkan.

"Aku sudah memikirkannya. Aku tidak akan masuk ke keluarga Touya."

"Ya, aku sudah tahu," sambut Akira, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Aku sudah lihat tadi bagaimana enggannya kau menyandang nama keluargaku. Maafkan aku. Aku tidak akan mengungkit lagi masalah ini."

"Kumohon jangan salah paham. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa menikah denganmu dan masuk ke keluarga Touya."

Akira membalikkan kepalanya dengan begitu cepat. Wajahnya bak tertampar, melihat Hikaru dengan tatapan tak percaya.

"Wah, terima kasih," katanya kemudian, "akhirnya kau memberi jawaban atas lamaranku. Sekarang bisakah kau menepi? Aku ingin turun."

"Tidak."

"Kau baru saja menolakku. Aku butuh sendiri, Shindou!"

Nama keluarganya, yang baru diucapkan Akira untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir sejak mereka jadian, membuat Hikaru menoleh. Yang dilihatnya membuat jantung Hikaru nyaris copot. Mata Akira menusuknya bak pedang berapi, dengan intensitas yang sama seperti yang ia perlihatkan di depan goban.

Ia tak punya pilihan lain selain meminggirkan kendaraan.

Begitu kendaraan berhenti di bahu jalan, Akira lekas membuka kunci pintu. Sadar apa yang hendak pemuda itu lakukan, Hikaru lekas menarik tangannya.

"Tunggu, Akira, kumohon. Dengarkan penjelasanku!"

"Penjelasan apa? Kau tidak mau berkomitmen denganku, kau hanya memandangku sebagai kruk untuk mendukungmu di dunia go. Aku tidak tahu apa kau benar-benar mencintaiku!"

"Siapa yang bilang begitu, sih? Aku cuma bilang kalau aku tidak mau menanggalkan namaku. Tolong dengarkan aku, Akira!"

"Oke," Akira kembali menyelusup masuk ke dalam mobil dan duduk. Tangannya terlipat di dada, dan suaranya jelas menyatakan bahwa ia tak mau main-main. "Kau tidak mau menanggalkan namamu? Mudah saja, sudah kubilang tidak sulit untukku untuk menanggalkan namaku. Bawa aku pada ayahmu! Sekarang!"

"A-ayahku? Kenapa harus ayahku?"

"Tentu saja agar aku bisa memintanya untuk memasukkanku dalam koseki keluarga Shindou!"

"Tapi kau tahu bagaimana hubunganku dengan dia. Dia juga tidak setuju dengan hubungan kita. Untuk apa bicara padanya?"

"Kalau begitu kakekmu!"

"Ta-tapi..."

"Ck. Percuma. Katakan saja kalau kau memang tidak ingin menjadikanku bagian dari hidupmu!"

"Akira, kumohon..."

Akira tidak banyak bicara lagi. Ia kembali membuka pintu dan melangkah keluar. Hikaru sedikit mengejit ketika didengarnya suara pintu mobil dibanting keras, dan dengan was-was diawasinya Akira yang berjalan menjauh dari spion.

Baru ia memutuskan untuk memutar mobil dan mengejar Akira, tiba-tiba jendela penumpang diketuk. Hikaru menurunkan kaca, dadanya terasa mencelos melihat seorang polisi lalu lintas menampakkan wajah garangnya dan memintanya turun. Ia baru sadar menghentikan mobilnya di area dilarang parkir. Dengan sedikit bersungut-sungut, ia turun dari mobilnya untuk meladeni sang polantas.

Di kejauhan, dilihatnya Akira menembus kerumunan orang.

.


.

Ketika ia pulang, dilihatnya Akira sedang bergulung di bawah selimut di kamar, nyaris tak terlihat dalam kondisi kamar yang gelap gulita. Tak ingin mengganggu Akira dengan menyalakan lampu, Hikaru mendekat, dengan hati-hati duduk di sisi Akira.

Tahu Hikaru mendekat, Akira segera membalikkan badan memunggunginya.

"Akira...," bisik Hikaru lembut.

"Pergi," suara Akira terdengar parau.

"Maafkan aku, kumohon."

"Tidak ada gunanya. Pergi!"

Tapi ini kan apartemenku, Hikaru ingin menunjuk. Untungnya ia masih cukup waras untuk tidak mengatakannya. Bisa tambah parah kalau Akira minggat dan kembali ke rumahnya. Kedua mertuanya itu kabarnya kembali ke Jepang lagi terkait dengan pernikahan putri Morishita-sensei, dan ia sungguh tidak mau berhadapan dengan Touya-san, apalagi Touya-sensei.

Ia merunduk dan mengulurkan tangan hendak mengelus rambut Akira, tapi Akira menepisnya. Mendesah, Hikaru kembali menegakkan diri, tahu Akira bisa tambah mengamuk jika ia memaksa.

"Aku akan menunggu di ruang go. Jika kau sudah merasa lebih baik, kita bicara ya..."

Tidak ada jawaban, Hikaru pun meninggalkan kamar, menuju ke ruang go. Seperti biasa, bermain go adalah satu-satunya sarana untuk mengatasi kekisruhan hatinya. Entah mereproduksi kifu permainan lama atau bermain melawan dirinya sendiri, hanya dalam go ia mendapat ketenangan. Go, pada dasarnya, adalah sesuatu yang dapat ia mengerti. Ia dapat memahami pola pada batu-batu yang membentuk bidang walau tersusun tak berurutan. Ia dapat membaca apa yang akan dilakukan lawan jika ia melontarkan suatu langkah. Ia tahu cara mengurai strategi lawan tahap demi tahap, tahu cara menghindar dari jebakan lawan sementara membuai lawan memasuki jebakannya sendiri, tahu cara menyudutkan dan menebas lawan tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar.

Go adalah sesuatu yang dapat diprediksi.

Tidak seperti kehidupan nyata.

Namun di luar itu, satu yang membuatnya beroleh ketenangan adalah justru dari kekuatan magis permainan ini. Suara biji menyentuh goban adalah melodi ritmik yang membuai, menghipnotis... Irama monoton yang membawanya pada transedensi, ketika hanya ada ia dan ruang yang terbentuk oleh pertemuan garis-garis bersilangan. Aneh, karena dalam ruang terbatas itu, tercipta sebuah semesta tidak terbatas. Dan di sana, dalam lingkung semesta yang terwujud dari susunan pola putih dan hitam itu ia melayang, melayang, melayang...

Ia telah selesai mereproduksi dua permainannya dengan Sai ketika disadarinya malam telah begitu larut. Sudah pukul 3, dan Akira belum juga keluar. Wajar sih, mungkin ia ketiduran. Mudah-mudahan ia tidak tertidur karena kecapaian menangis. Pagi nanti sepertinya ia ada permainan, dan bisa jadi omongan satu Ki-In kalau sang Meijin datang dengan mata bengkak.

Kalau sudah begini, ia hanya cari mati kalau bersikeras tidur di samping Akira. Menguap, ditariknya futon cadangan dari lemari, yang biasanya dipakai Waya dkk. kalau sedang bertandang, dan dihamparkannya di lantai. Ia baru sadar masih memakai kimono sejak sore tadi, jadi ia juga mengganti kimononya dengan yukata untuk tamu. Akira bisa tambah marah jika kimononya rusak—jadi sengantuk-ngantuknya, ia masih sempat menggantungnya dengan rapi sebelum beranjak tidur.

Ah iya, ia juga harus meminta maaf pada Waya, karena telah kabur duluan dari pestanya tadi malam. Semoga saja Waya masih berbelas kasih untuk tidak menggodanya terlalu jauh perkara Akira sebagai hukuman, atau lebih buruk: menyuruhnya membelikan sushi.

.


Notes:

Aku lagi bete, dan jadilah aku post...

Dua chapter sebelumnya asa panjang, jadilah chapter ini cuma setengahnya. Mudah-mudahan lebih enak bacanya.

Please R&R guys...