Chapter 4. Ide Waya

Bukan suara alarm yang membangunkannya, melainkan dering telepon. Hikaru berguling dengan malas-malas, matanya masih terpejam, tangannya meraih dan meraba-raba ruang kosong dekat kepalanya, berusaha mencari ponsel yang biasanya tergeletak di nakas. Tapi alih-alih permukaan licin kayu, tekstur di bawah tangannya adalah jalinan empuk tatami. Ia agak mengerang, berusaha mengingat-ingat. Oh ya, ia tidur di ruang go. Uhm, ponsel...

"Halo?" sapanya setengah mengantuk, setelah akhirnya menemukan ponselnya di kolong goban.

"Oh, Shindou-sensei?" terdengar suara profesional di ujung sana. "Apa Anda masih di rumah? Ini dari Ki-In, mengingatkan kembali bahwa Anda ada pertandingan Babak Penyisihan Ke-2 Turnamen Kisei pukul 9 pagi ini."

Mata Hikaru yang masih rapat langsung terbuka. Babak Penyisihan Kisei! Ia benar-benar lupa! Melontarkan pandangan pada jam besar di dinding, hatinya mencelos. Pukul 8.30! Mengapa Akira tidak membangunkannya?

Oh ya, mereka sedang bertengkar. Apa Akira pergi duluan?

Memohon-mohon maaf pada siapapun tadi pihak manajerial pertandingan yang sudah berbaik hati mengingatkannya, Hikaru lekas bersiap-siap sekenanya. Sikat gigi, cuci muka, mengganti yukata tidurnya dengan kemeja, kaos, dan jeans seperti biasa—mungkin hanya ia pemegang gelar yang masih pakai busana kasual dalam pertandingan yang tidak diliput media. Selama ia bersiap-siap, teleponnya berdering terus, tapi tentu saja ia mengabaikan demi efisiensi waktu. Secepat-cepatnya, masih butuh 15 menit baginya untuk menyelesaikan rutinitas pagi. Alhasil, ketika ia sampai Ki-In (dengan menyetir di ambang atas, tentu), pertandingan sudah dimulai. Memohon maaf pada pihak penyelenggara, Hikaru lekas menembus lautan pemain go untuk menuju ke tempat duduknya.

"Maaf," ia menunduk dalam-dalam pada lawannya—tak lain tak bukan, Waya, eh, Morishita Yoshitaka. "Aku lupa menyetel alarm," jawabnya setengah merana.

"Bahkan aku yang pengantin baru saja ingat jadwal pertandingan," gerutu Morishita. "Aku sudah khawatir kau kalah WO."

"Huh. Hanya kau lawan yang malah kesal karena menang tanpa bertanding," dengus Hikaru.

Obrolan mereka, bagaimanapun, harus dihentikan ketika salah seorang wasit menghampirinya untuk memberitahukan agar lekas memulai permainan. Ia sudah kehilangan 10 menit, walau bagaimanapun.

Entah karena ini hari keberuntungannya, atau karena ia masih sangat bersemangat dengan statusnya sebagai pengantin baru, Morishita menunjukkan performa yang sangat brilian. Beberapa strateginya berhasil membuat Hikaru kewalahan. Hikaru dikenal dengan tampang poker-nya di depan goban, tapi Morishita sudah mengenal Hikaru bahkan sejak pemegang tiga gelar itu belum paham nama-nama gelar selain Meijin. Tentu saja ia bisa membaca sedikit perubahan di raut wajah atau gestur Hikaru. Dan jelas, ia gembira sekali dibuatnya.

Jam istirahat mereka habiskan di ruang makan Ki-In. Morishita membawa kotak bekal buatan istrinya, membuatnya habis-habisan jadi bahan godaan Hikaru. Hikaru sendiri malas keluar, dan juga lupa memesan makan siang, jadi ia sibuk mengutili bekal Morishita. Awalnya Morishita merasa terganggu dan berusaha menghindarkan tangan rubah pencuri itu dari kotak bekalnya, tapi akhirnya ia menaruh belas kasih dan membiarkan Hikaru makan separuhnya. Apalagi Hikaru sudah pasti belum sarapan.

"Habis permainan nanti, kau harus mentraktirku sushi," katanya sebal, memandang Hikaru yang tengah menghabiskan tempuranya. "Yang mahal! Kau toh kabur dari pestaku semalam."

Tuh, benar saja dugaan Hikaru.

"Maaf, Wayaaaaaa, eh, Morishita," Hikaru menangkupkan kedua tangan di atas kepalanya dan menyembah. "Semalam ada urusan yang mendadak harus kuselesaikan, jadi..."

"Sudah, panggil Waya saja," setelah kesalahan ke-27 Hikaru dalam menyebut nama barunya, akhirnya ia menyerah juga. "Lagipula aku merasa risih dengan nama itu. Serasa aku diawasi terus oleh Morishita-sensei. Tadi pagi saja, ada orang memanggilku dan aku malah jadi panik, melirik ke kanan-kiri karena kupikir ada Morishita-sensei di dekatku."

Hikaru tertawa.

"Kau sendiri? Kulihat namamu di papan pertandingan belum diganti?"

Hikaru meringis. "Itu kesalahpahaman, Wayaaaa... Aku sama sekali tidak masuk ke keluarga Touya."

"'Belum'?"

"'Tidak'!"

"Oh, masa? Kudengar justru sebaliknya, dari mulut Touya-sensei sendiri, pula."

Hikaru mengerang.

"Aku menguping dia bicara pada Morishita-sensei, bahwa ia memang berencana akan memasukkanmu dalam koseki-nya. Oh, dia juga sepertinya mengisyaratkan kalau kalian akan segera menikah. Ia bilang, 'Kelihatannya aku akan segera menyusulmu, Shigeo.' Memangnya benar?"

Hikaru tak bisa menahan diri untuk menyurukkan kepala ke kedua belah telapak tangannya.

"Bukan begitu kejadiannyaaaaaa," erangnya. "Touya-sensei memang melamarku, tapi aku belum menyetujui apapun, dan Akira..."

Panjang umur Akira. Justru saat Hikaru tengah membicarakannya, pemuda itu menampakkan sosoknya di ambang pintu ruang makan. Entah apa urusannya, karena biasanya ia tidak makan siang saat bertanding dan belakangan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membantu menyortir buku. Untung saja Hikaru lekas sadar dan menghentikan omongannya.

Sadar Hikaru berhenti, Waya menengok ke arah pandangan Hikaru. "Oh, Touya!" ia bangkit dan melambai. Sejak Akira dan sahabatnya jadian, akhirnya mau juga ia mengatasi apapun masalahnya dengan Akira dan belajar bersikap baik. "Sini! Kami..."

Akira tak menggubris. Melihat Hikaru, ia langsung berbalik dan pergi.

"Eh?" Waya memandangnya dengan bingung, dan kemudian beralih pada Hikaru, yang diam menunduk di mejanya. Hanya butuh waktu sedetik baginya untuk memahami yang terjadi. "Astaga," ia kembali duduk. "Kalian bertengkar lagi, ya?"

"Begitulah..."

"Yang kaubilang ada 'urusan yang harus kauselesaikan' itu ... maksudnya ini?"

"Kurang lebih..."

"Tidak selesai, kulihat."

Hikaru mengerang, membenamkan wajahnya di meja.

"Yang membuatmu datang telat juga ... ini?"

"Akira mengusirku dari kamar," keluh Hikaru merana. "Aku main go untuk menenangkan diri, kebablasan sampai jam 3."

"Jam ti...," Waya mengerjap. "Bodoh! Kau tidak tidur benar sebelum bertanding?!"

"Bukan mauku. Lagipula aku tidak ingat, Akira juga tidak membangunkanku," keluhnya.

Waya berdecak. "Katanya kau ingin mengincar Tengen dan Kisei tahun ini, tapi mentalmu begitu. Jangan kata melawan Ogata, jangan-jangan kau malah akan tumbang di Babak Penyisihan."

"Uh...," cuma itu jawaban cerdas Hikaru.

"Ya sudah, cepat rapikan bekas makanmu! Nanti saja curhatnya, toh kita harus kembali ke ruang permainan. Huh, awas saja kalau kau kalah dariku."

Hikaru menunduk kuyu, dan membantu Waya membereskan bekas makan mereka. Di ruangan, para beberapa pemain lain sudah siap di tempat. Waya dan Hikaru lekas kembali ke tempat duduk masing-masing, melanjutkan pertandingan.

Walaupun tahu Hikaru sedang banyak masalah, bukan berarti Waya bersikap lunak padanya. Yang ada, dia malah jadi tambah agresif. Tembok pertahanannya kian sulit ditembus, serangannya kian kejam, dan kini setelah sekian ratus kali berusaha menghindari jebakan khas Shindou, Hikaru pun makin sulit memerangkap Waya untuk membuat kesalahan. Tapi Hikaru justru bersyukur. Dengan memberinya tantangan berat yang harus ia selesaikan, sejatinya Waya sedang berusaha mengalihkan perhatian Hikaru dari masalah pribadinya. Waya memang sahabat sejati yang mengenalnya luar-dalam.

Dengan susah payah, Hikaru berhasil juga menundukkan Waya dengan selisih skor 3,5 moku. Ini membuatnya layak maju ke ronde selanjutnya. Tapi di sisi lain, ini juga yang membuatnya merana. Tak lain tak bukan, karena jika semuanya lancar, di Babak Penyisihan Ketiga nanti, ia akan berhadapan dengan Akira.

.


.

"Jadi kau menolak lamaran Touya-sensei, dan Touya marah padamu sampai tidak memberimu jatah satu bulan?!"

Setelah pertandingan, sesuai janji, Hikaru mentraktir Waya di restoran sushi kelas atas di daerah Ginza. Waya kelihatannya sama sekali tidak mendendam dikalahkan Hikaru di Babak Penyisihan Kedua, walau itu artinya ia harus mengulang dari Babak Penyisihan Pertama lagi pada Turnamen Kisei berikutnya. Ini juga untungnya bersahabat lama dengan Waya.

Hikaru mengerang, "Karena itu, aku pusiiiiiiingggggg..."

"Bukan karena itu kan, kau kalah dari Isumi?"

"Enak saja! Isumi itu tangguh sekali, tahu! Aku tidak tahu bagaimana dia bisa membaca dan menghindar dari jebakanku, padahal Akira saja jatuh. Dua kali! Dua kali, Wayaaaaaaa..."

Di final Jyudan yang diselenggarakan minggu lalu, langkah Hikaru untuk menantang Ogata kembali dijegal oleh pemenang Grup B sekaligus lawannya dua tahun lalu, Isumi Shinichirou. Tentu saja ia tidak marah, Isumi adalah sahabatnya dan dia layak untuk itu. Tapi tak urung, Hikaru masih merasa pahit. Tahu Isumi sangat logis dan sama sekali tak pernah terbawa emosi, ia sudah memasang jebakannya dengan begitu hati-hati. Semua langkahnya sudah ia perhitungkan dengan matang, termasuk seratus kemungkinan skenario ke mana arah permainan menuju. Yang tidak ia perhitungkan, Isumi sudah kelewat sering melihat jebakannya, dan dengan lihainya memasang jebakan sendiri. Yang luput ia lihat!

Sebodoh apa sih ia?

Weekly Go menggelari permainan minggu lalu "Isumi vs Shindou: Upaya Rematch yang Berakhir Sama". Harian umum lain malah menurunkan artikel berjudul "Shindou Hikaru Dan-9 Terjegal dalam Penentuan Penantang Turnamen Jyudan: Pupusnya Harapan Sang Honinbou Muda untuk Merebut Gelar Keempat". Menyebalkan sekali!

Seandainya saja ia tidak terlalu bernafsu untuk lekas-lekas menyudahi pertandingan dan bicara pada Akira… Akira, yang saat itu sudah tiga minggu mencuekinya. Akira, yang walaupun hidup di bawah satu atap dan tidur satu ranjang dengannya, memperlakukannya seolah ia tidak ada. Akira, yang bahkan di apartemennya sendiri menolak bicara dengannya. Akira, yang hanya bicara dua kata padanya dalam tiga minggu yang penuh tekanan itu, "Onegaishimasu" dan "Arimasen", pada semifinal Turnamen Jyudan minggu sebelumnya. Akira, yang ketika kalah darinya dan ia berusaha untuk menjembatani jarak dengan menawarkan mendiskusikan pertandingan, hanya membungkuk meminta maaf dan beranjak pergi begitu saja—di depan seluruh aparatur pertandingan!

Akira, yang pada pertandingannya dengan Isumi mendadak datang menonton sebagai saksi...

Salahkah, jika saat itu, satu sisi dalam diri Hikaru—yang lelah dengan semua itu, yang haus dan lapar akan perhatian dan kasih sayang—berharap bahwa mungkin kedatangannya adalah untuk diam-diam menyemangati Hikaru, dan berharap mereka bisa berbaikan jika Hikaru menang?

Karena tidak mungkin kan, Akira sengaja datang karena tahu kehadirannya bisa memecah konsentrasi Hikaru, untuk membuat Hikaru kalah?

Aaaaah, ia pusiiinnggg...

"Yakin kau merengek begini bukan karena kau sedang frustrasi soal seks?" tanya Waya dengan mata memicing.

Hikaru kembali mengerang.

"Pasti Touya juga merasa begitu, makanya ia jadi tambah uring-uringan," tunjuk Waya. "Mungkin kalau kau bisa merayunya untuk sedikit melepas ketegangan, ia akan melunak padamu."

"Bagaimana caranya? Jangan kata kusentuh, berada dalam ruangan yang sama denganku saja dia tak mau!"

"Tapi dia masih kembali ke apartemenmu, kan? Mungkin itu artinya dia masih ingin memberimu kesempatan."

"Huh, kesempatan apa? Semalam saja aku diusir, padahal aku sudah meminta maaf."

"Mungkin maafmu terlihat tidak serius?"

"Enak saja! Aku sudah mau mengelus rambutnya dan mengecup dahinya, ia menepisku! Ah, seandainya saja aku bisa merayunya untuk membiarkanku memberinya blow job... Padahal sekarang masalah gag reflex-ku sudah teratasi..." ia menyayangkan tersia-sianya pencapaian terbarunya dengan nada muram.

"Aaaaa, Shindou! Aku tidak perlu sedetail itu, serius!" Waya menutup telinganya, berteriak 'la-la-la-la-la'. "Lagipula mana bisa kau memberinya apapun, kau sendiri yang bilang ia mengusirmu dari kamar!"

"Itu dia...," Hikaru terlihat makin merana.

"Tapi aku tidak menduga, Touya marah karena kau tidak mau menikah dengannya," Waya mengembalikan obrolan pada jalurnya. "Maksudku, apa bukan harusnya kau yang merengek-rengek minta dinikahi?"

"Makanya, aneh kan?"

"Padahal itu sebenarnya asyiknya jadi kalian, tidak usah menikah... Ck, menikah itu pemborosan uang!" Waya mengomplain. "Uang tabunganku enam tahun ludes, des des. Ditambah lagi aku harus memikirkan biaya untuk anakku nanti."

"Kau masih beruntung. Morishita-sensei pasti akan mendukung untuk biaya persalinan. Kau juga tidak perlu mencari rumah baru. Kalian jadi pindah ke kediaman Morishita kan?"

Waya memandangnya dengan tatapan memicing.

"Apa?"

"Cih, kaupikir enak, tinggal dengan mertua. Aku tidak bisa bebas sama sekali, tahu! Ini sama seperti tinggal dengan orang tua, tapi lebih parah karena aku dituntut untuk menjadi menantu yang sempurna!"

Dalam kepala Hikaru, membayang memori ketika Touya-san menegurnya soal Akira yang menangis, serta Touya-sensei yang memandang curiga padanya sepanjang makan siang. Padahal urusan pernikahan itu masih wacana. Bagaimana jika ia benar-benar menjadi menantu keluarga Touya?

Diam-diam ia bergidik.

"Tapi aneh sekali," Waya masih merenung. "Kalau cuma urusan kau belum mau menikah, kan seharusnya dia tidak semarah itu. Maksudku, kalian kan masih 20. Masih ada begitu banyak waktu. Touya-sensei juga tidak memberinya ultimatum untuk lekas menikah atau ia akan dinikahkan dengan orang lain, kan? Aku yakin pasti ada sesuatu yang lain," ia berpikir-pikir sejenak. "Memang sejak kapan dia begitu?"

"Sejak Touya-sensei mengajakku bicara, sekitar dua minggu setelah tahun baru. Ah, tapi ia sudah aneh sejak tahun baru."

"Tahun baru? Maksudku waktu aku mengatakan bahwa aku akan menikah? Apa menurutmu itu alasannya?"

"Bahwa ia merasa 'tersaingi' kau menikah dan ia belum?" Hikaru memberi tanda kutip pada kata 'tersaingi', siapapun tahu betapa kompetitifnya Akira.

"Bahwa ia sadar pernikahan adalah salah satu tonggak pencapaian yang biasanya dilakukan orang-orang seusia kita, Bodoh!"

"Tonggak pencapaian?"

"Tahap-tahap yang menandakan kita sukses dalam hidup. Kau tahu: lulus – bekerja – menikah – punya rumah dan pendapatan tetap – punya anak – mengantar anak jadi orang sukses – punya cucu. Ekspektasi masyarakat, kau tahu."

"Aku tidak tahu," jawab Hikaru polos. "Kata siapa itu?"

"Ya semua orang juga tahu, itu kan common sense. Memangnya apa tonggak pencapaianmu?"

"Hmmm... mencapai Kami no Itte?"

"Di luar go, Bodoh!"

"Uhm... " Bertemu lagi dengan Sai. Tentu saja ia tidak akan mengatakan itu.

"Intinya," Waya berdehem, sadar ia takkan ke mana-mana dengan pola pikir Hikaru yang terlalu lurus. "Dia merasa ada sesuatu yang kurang dari hidupnya. Dan ia merasa ia bisa mendapatkannya lewat pernikahan."

"Aku tidak yakin," ucap Hikaru. "Hidup kami sempurna sebelum ada segala urusan pernikahan ini. Kurasa juga bukan omongan soal pernikahanmu yang jadi alasannya. Ia sudah menangis sejak pagi, tahu. Aku tidak tahu alasannya."

"Hmmmm, pernikahan adalah masalah komitmen," Waya kembali menekur. "Apa ia merasa kau kurang berkomitmen dengannya? Merasa masa depannya denganmu tidak pasti, misalnya?

"Aku sudah sangat berkomitmen!" tegas Hikaru, "Aku tidak akan meninggalkan Akira! Kami kan rival abadi!"

"Atau jangan-jangan kau selingkuh, Shindou?"

"Hah, yang benar saja! Mana mungkin aku selingkuh!"

"Mungkin ia ingin mengikatmu dalam pernikahan untuk memastikan supaya kau tak selingkuh."

"Pernikahan kan tidak menjamin orang tidak selingkuh!"

"Memang iya sih..."

"Nah! Makin tidak jelas, kan?"

"Memangnya, kau sendiri ... mengapa kau tidak ingin menikahi Touya?"

"Aku...," Hikaru memalingkan wajah, "um, tidak siap..."

Waya tampaknya tahu ada sesuatu yang salah, tapi ia memilih diam. "Sulit," nilainya. "Di satu sisi kau sudah merasa puas dengan apa yang ada sekarang dan tak mau berubah, di sisi lain Touya tidak puas dan ingin lebih. Kalian tidak memiliki visi yang sama mengenai hubungan itu sendiri."

"Lalu?"

"Kalau kau tidak siap, Touya juga tidak bisa memaksamu. Tapi jika kau tidak memenuhi apa yang ia harapkan, ia tidak akan bahagia. Apa gunanya hubungan jika salah satu pihak tidak bahagia? Satu-satunya cara adalah kau harus menunjukkan padanya bahwa ada hal lain yang bisa kauberikan, walau tidak melalui pernikahan."

"Apa?"

"Entahlah, hanya kau dan Touya yang tahu apa yang kalian butuhkan. Kalian harus bicara."

"Aku sudah mencoba bicara! Dia selalu menutup pintu!"

"Hmmm, sulit juga ya," Waya menekur. "Ah, pokoknya jalan ke hati laki-laki itu cuma dua: seks dan makanan. Nah, berhubung kau tidak bisa melakukan yang pertama, kau harus membuka jalan dengan melakukan yang kedua dulu."

"Maksudmu?"

"Entahlah, buat makan malam yang romantis, misalnya. Atau kau bisa sekalian mengajaknya berlibur, hanya berdua. Ini juga caramu untuk menunjukkan padanya bahwa kau peduli. Setelah itu kau bisa mengajaknya ke tempat tidur dan ... bingo! Aku yakin, seratus persen, esoknya hubungan kalian akan jauh lebih baik!"

.


.

Jujur, Hikaru masih agak sangsi dengan rencana Waya. Candle light dinner, menurut Waya, adalah hal paling romantis yang diinginkan semua pasangan. Yah, Waya memang mendasarkan idenya dari apa yang ia lakukan dengan Shigeko, jadi mungkin ia terlalu menggeneralisasi dengan kata 'semua' itu. Tapi berhubung ia juga tidak punya rencana lain, tak ada salahnya mencoba. Untungnya Akira ada jadwal mengajar di rumah salah satu kliennya dan belum akan pulang hingga sekitar jam 8 malam, jadi setelah makan sore bersama Waya, ia lekas pulang untuk mempersiapkan segalanya.

Pada dasarnya Hikaru bisa memasak, tapi berhubung ia ingin sesuatu yang spesial, ia pun memesan masakan enak dari restoran Prancis kelas atas yang sepertinya disukai Akira. Ia menarik meja makan kecil mereka ke samping jendela, memasang lilin dan rangkaian bunga. Kuntum-kuntum mawar yang merah merekah juga menghiasi hampir setiap titik yang terpikirkan, mulai dari meja teh di ruang keluarga, foyer tempat Akira memajang foto-foto mereka, rak buku, hingga nakas di kamar. Oh, tidak lupa ia memasang aromaterapi dan menaburkan kelopak mawar di atas tempat tidur, yang menurut Waya dapat 'membangkitkan mood'. Ia juga sudah memasang CD musik jazz lembut yang direkomendasikan Waya di CD player. Saat waktunya tiba, ia tinggal menekan tombol remote control dan ... voila, suasana romantis tercipta! Sempurna!

Sebagai bagian yang sangat penting, ia juga membersihkan tubuh luar-dalam serta mengenakan kemeja yang dibelikan Akira pada ulang tahunnya September lalu, dress shirt warna teal dengan potongan pas badan yang belum pernah ia pakai sekali pun. Baru ia sadari bahan lembut kemeja formal itu begitu nyaman dipakai, dan potongannya yang pas badan menonjolkan lekuk tubuhnya, khususnya memberikan aksentuasi pada dadanya yang bidang dan bahunya yang tegap. Pantas saja Akira senang sekali memakai baju semacam ini. Tak lupa ia membuka dua kancing teratas, memastikan leher, tengkuk, dan sebagian dadanya terekspos. Biasanya Akira senang sekali menyerang leher dan dadanya, jadi lebih baik mengingatkan padanya apa yang selama ini hilang—dan apa yang bisa ia dapat. Ah, tidak ketinggalan parfum!

Dengan semua persiapan ini, Hikaru merasa ketampanannya naik beberapa tingkat. Pasti Akira takkan bisa menolak pesonanya.

Ah, selanjutnya tinggal menunggu Akira.

.

Hikaru sudah setengah tertidur di sofa ketika didengarnya pintu depan terbuka. Ia buru-buru bangun dan mengucek mata. Ah, sial, kemejanya kusut! Ia baru akan meluncur ke kamar, mungkin masih ada waktu berganti kemeja sementara Akira membuka sepatu, ketika dilihatnya sosok Akira membeku di ambang ruang keluarga.

"Uhm, Akira," ia lekas memperbaiki sikap, sebisanya memasang tampang 'seksi dan elegan' seperti latihannya tadi sore dengan Waya, "selamat datang."

"Ah, aku pulang," Akira mengerjap sadar dari kebekuannya, memandang ke sekeliling ruangan. Hikaru bisa melihat roda di kepalanya berputar, memproses apa yang Hikaru lakukan dengan bunga dan lilin dan lain sebagainya yang membanjiri ruang apartemen. "Uhm..." ujarnya kikuk.

Hikaru sadar ia harus melakukan sesuatu sebelum semua rencana ini malah berbalik arah melawannya.

"Aku sudah menunggumu, Akira," ia bicara dengan suara yang menurut Waya 'lebih seksi dan dewasa'. Agak sedikit lebih berat dari suaranya sehari-hari yang masih agak cempreng, walau usianya sudah 20 tahun. "Bagaimana shidougonya?"

"Uh, baik," Akira kelihatan bingung. Mungkin merasa aneh dengan sikap Hikaru. Tapi ia juga tidak memprotes, jadi Hikaru meneruskan aktingnya dan mendekati Akira, sebisa mungkin bergerak dengan langkah yang menurut Waya 'maskulin dan menggoda'.

Kalau ini tidak berhasil, ia akan membunuh Waya.

"Kau pasti capek," ia melangkah ke belakang Akira dan membantunya melepaskan jaket. "Aku sudah menyiapkan makan malam," katanya, mempersilakan Akira menuju meja makan di dekat jendela.

Langkah Akira benar-benar canggung ketika menurutinya menuju meja makan yang dipenuhi bunga dan lilin, tapi semburat merah yang tampak di wajahnya, ditambah ketiadaan protes, membuat Hikaru merasa rencananya lumayan berhasil sejauh ini. Masalah berikutnya muncul ketika Akira sudah di depan meja makan. Waya bilang ia harus bersikap gentleman dan menarikkan kursi, tapi tidak apa-apakah? Akankah itu melukai 'maskulinitas' Akira, apapun itu?

Akira hanya berdiri di samping meja dengan wajah tertunduk. Ah, apakah ia menunggu Hikaru menarikkan kursi untuknya? Merasa tak ada gunanya berlama-lama, Hikaru menelan ludah dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, lantas menunggu Akira duduk sempurna sebelum mendorong kursi kembali dengan lembut.

"Terima kasih," ucap Akira lirih.

Ah, apa selanjutnya? Rasanya ada yang salah?

Dengan panik Hikaru melihat sekeliling. Ah ya, lilin! Seharusnya ia menyalakannya sebelum mengantar Akira duduk! Bodoh, bodoh! Menahan diri untuk tidak memukul dirinya sendiri, ia memutuskan untuk beranjak ke tahap selanjutnya.

"Apa kau ingin aku menghidangkan wine?" tanyanya lembut, memanfaatkan kesempatan untuk menyalakan lilin, kemudian pergi untuk mematikan lampu dan menyalakan CD player. Musik jazz lembut memenuhi ruangan, berpadu dengan pencahayaan temaram lilin dan aroma memabukkan aromaterapi, menciptakan suasana syahdu nan romantis.

Ia kembali dengan sebotol wine dan dua gelas berkaki tinggi. Waya bilang, hidangkan dulu wine sebelum appetizer, lalu main course, dan dessert. Setelah itu, buat Akira setengah mabuk dengan wine lagi, dan rayu dia ke tempat tidur. Ah, pastikan ia tidak terlalu mabuk sehingga masih bisa melakukan performa yang baik di babak berikutnya. Mudah.

Apa ia hanya salah lihat di bawah sinar temaram lilin, ketika ia kembali, dilihatnya rona merah membayang di wajah Akira, dan tatapan matanya terlihat ... um, berharap? Oh, apa Akira juga menanti-nanti situasi seperti ini? Baiklah kalau begitu. Ia akan pastikan malam ini sempurna.

Malam itu, dengan Akira bergerak di atasnya, melingkupi dirinya, melingkungi seluruh keberadaannya, di tengah desahan dan erangan yang berakumulasi menjadi teriakan pembebasan, ia hanya bisa berpikir satu hal.

Terima kasih, Waya.

.

Hikaru bangun keesokan harinya dengan suasana hati yang benar-benar bagus. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana, tapi perasaannya begitu ringan. Ah, ini seperti pagi setelah malam pertamanya dengan Akira, Valentine tahun lalu, jika tidak bisa dibilang jauh lebih baik. Saat itu, mereka berdua sama-sama belum berpengalaman. Butuh waktu lama sekali bagi Akira untuk mempersiapkannya, dan sangat sedikit waktu untuk bertahan berada di dalam tubuhnya. Ditambah, semua persiapan itu sama sekali tidak berguna karena Hikaru tetap saja merasa sakit. Mereka beberapa kali bergantian peran sejak saat itu, sebelum si pemalas Hikaru no Kimi memutuskan ia lebih suka tidur-tiduran saja bak kaisar pemilik harem, sementara Akira bekerja keras memuaskannya. Teknik bercinta mereka mengalami kemajuan signifikan sejak saat itu, tapi tak ada yang bisa mengalahkan kenangan akan malam pertama mereka dari segi emosional maupun spiritual.

Kecuali hari ini.

Mungkinkah karena ia sudah berinvestasi begitu besar dengan makan malam dan lain sebagainya, hingga kini ia mendapatkan dividen lebih besar? Ataukah Akira begitu terpesona dengan sisi lain dari Hikaru yang sama sekali baru, sehingga membuatnya lebih bergairah? Atau ... seperti kata Waya, ketiadaan aktivitas seksual maupun romansa selama dua bulan membuat segalanya lebih menggetarkan, lebih mendebarkan, lebih panas ... dan karenanya jauh lebih memuaskan? Rasanya ia menjadi diri yang baru.

Akira, tumben-tumbennya, juga masih bergelung di sisi Hikaru dengan sebelah tangan memeluk pinggangnya. Wajahnya begitu tenang, dengan rambut terurai lepas menghampar di bantal. Ia begitu ... tampan, nyaris cantik. Setelah menginjak 20 tahun, Akira sudah kehilangan bentuk pipi membulat yang membuatnya kelihatan imut, dan mata sangarnya yang makin tajam menusuk di atas goban membuat lawannya yang manapun mimpi buruk berhari-hari. Tapi saat tidur begini, wajahnya begitu tenang dan inosens, nyaris bak malaikat.

Dan rambut panjangnya ... seandainya saja ia memiliki shade dan highlight yang sedikit berbeda...

Jika Hikaru tak tahu benar, dengan bakatnya, mungkin ia akan mengira Akira adalah reinkarnasi Sai.

Hah, bodoh sekali.

Hikaru merunduk untuk mengecup kening kekasihnya. Akira mengerang bangun, wajahnya begitu manis hingga Hikaru tak tahan untuk mencium bibirnya. Namun Akira lekas menutup mulut, menyibak bedcover, dan melarikan diri meninggalkan Hikaru. Sesaat kemudian, terdengar bunyi air mengalir dari toilet, membuat Hikaru mendengus.

Dasar Akira, pasti ia kelewat sadar diri bahwa mulutnya bau minuman. Ah, kalau begitu, apa sebaiknya ia juga menggosok gigi dulu?

Turun dari tempat tidurnya yang nyaman untuk mengikuti aktivitas Akira di kamar mandi jelas bukan keinginan terbesar Hikaru saat ini, tapi ia tak punya pilihan lain. Akhirnya, setelah cuci muka, bercukur, menggosok gigi, dan kumur-kumur sambil saling bercanda, mereka keluar dari toilet dengan wajah segar dan napas wangi peppermint. Sayangnya, di titik itu, keduanya sudah terlalu segar untuk kembali ke tempat tidur, dan memutuskan untuk sarapan saja.

Menyesalkan hilangnya momen berharga saling bercumbu mesra setelah bangun tidur di pagi hari sembari masih dilingkungi afterglow, Hikaru menarik kursi bar dan berusaha mengalihkan rasa frustrasinya dengan mengupas apel. Hari ini seharian ia tidak ada pertandingan—begitu juga Akira, ia sudah mengecek. Mungkin sebaiknya ia menghubungi murid-muridnya untuk membatalkan study group, toh Waya juga tidak akan hadir karena mau berangkat bulan madu.

Akira menyorongkan roti panggang dan sirup maple kesukaan Hikaru, sementara menarik kursi untuk mengambil tempat duduk di hadapannya. Benar kata Waya, jalan ke hati laki-laki adalah seks dan makanan. Buktinya, sikap Akira sekarang jauh lebih baik. Bahkan ia tersenyum dan menatap Hikaru dengan teduh dan penuh cinta.

"Jika kau ada waktu, bagaimana kalau minggu ini kita berlibur?" usul Hikaru, maju ke menu berikutnya dalam list '20 Langkah Menaklukkan Si Oni Touya Akira' yang disusunnya bersama Waya.

"Berlibur? Tapi bagaimana dengan jadwal mengajarku?"

"Kan kau bisa ijin ke Ki-In, kita juga tidak ada jadwal seminar dan pertandingan kan? Setidaknya mencari suasana baru... Lagipula aku butuh menenangkan diri, setelah dipecundangi Isumi... Lagi."

Akira tersenyum dan mengangguk, jadi sepertinya rencana ini juga akan sukses besar.

"Kita bisa ke gunung atau..." satu ide cemerlang muncul di otaknya. "Bagaimana kalau kita ke Innoshima?"

"Innoshima?"

"Pulau yang indah! Di sana ada makam dan museum Shuusaku. Oh, kita juga bisa berkunjung ke kuil tempat Shuusaku pernah mengajar. Kau pasti akan suka, deh. Suasananya sangat tenang, airnya juga sejuk. Di museum, kita bisa melihat goban yang ditandatangani oleh Torajirou dan lain sebagainya. Petugas museum sudah mengenalku, jadi kita bahkan bisa melihat beberapa barang yang tidak dipajang. Nanti di kuil, aku akan mengatur supaya kita bisa masuk ke area yang biasanya tertutup untuk orang lain. Oh, nanti juga..."

Hikaru sibuk mencerocos dengan antusias, sehingga tidak dilihatnya wajah Akira perlahan berubah. Baru ketika ia mendorong piringnya, dan tanpa sengaja mengenai piring Hikaru, ia baru sadar dan berhenti bicara.

"Hei Akira, kenapa? Apa kau masih hangover? Atau kau sakit?" ia mengangkat tangan untuk meraba kening kekasihnya, tapi tepisan kasar Akira membuat dadanya mencelos.

Padahal tadi semuanya baik-baik saja. Kenapa...

"A-Akira..."

"Maaf," ujar Akira pelan, memalingkan wajahnya dari Hikaru. "Kuharap kau menahan diri untuk bicara mengenai Shuusaku di depanku."

Eh?

"Ke-kenapa, Akira?"

"Aku hanya ... tidak tahan..."

"Kau tidak suka aku bicara tentang Shuusaku?"

"Kau terdengar begitu mengagumi Shuusaku...," bisiknya lirih.

"Ummm, memang...," Hikaru sungguh tidak tahu apa masalahnya.

"Kau tahu segalanya tentang Shuusaku. Kau bisa membedakan tulisan asli Shuusaku dengan yang palsu. Kau menghabiskan begitu banyak waktu mempelajari dan membongkar gayanya. Gaya bermainmu cerminan darinya. Bahkan kau begitu ingin menjadi pewaris namanya."

"Lalu apa salahnya? Kan kau tahu dari dulu. Ugh, semua orang juga tahu aku Shuusaku-otaku. Aku bahkan dapat pekerjaan dari situ!"

"Bahkan fans berat pun takkan segitunya. Kau seakan menempatkan Shuusaku pada pedastal. Kau bukan cuma kagum, tapi terobsesi padanya."

"Aku masih tidak melihat ada yang salah..."

Akira tidak menjawab atau membalas, tapi malah ganti menatapnya. Lama sekali ia tak bicara. Hikaru bisa melihat di bayang wajahnya: seratus, seribu pikiran yang berkecamuk di kepalanya, namun tak ada yang keluar dari lisannya.

"Akira..."

"Maaf," Akira sepertinya memutuskan tak ada gunanya pembicaraan searah yang hanya ia sendiri pahami itu—lebih karena ia mengatakannya dalam pikirannya sendiri, tanpa berbagi pada Hikaru. Astaga, apa Akira sadar bahwa tak ada jaringan telepati apapun di antara mereka berdua? "Ini terlalu konyol."

"Uh, apapun itu, bisakah kita bicara, Akira?" Hikaru meniti langkah dengan hati-hati. Ini seperti berjalan di atas seutas tali yang terbentang di atas kawah gunung api. Entah ia tergelincir dan jatuh ditelan magma, atau semburan panasnya akan menghanguskan tali itu beserta dirinya sebelum ia sampai ke ujung.

"Ini masalahku, tak ada hubungannya denganmu."

"Tentu ada. Ini menyangkut hubungan kita!"

"Maaf," ujar Akira final. "Aku tahu kau sedang berusaha keras memperbaiki hubungan kita, Hikaru. Maafkan aku."

Ia berulang kali berkata maaf seperti itu, maka apalah daya Hikaru untuk memaksanya mengatakan apapun jika Akira sendiri merasa tak ingin bicara? Maka ia turun dari kursinya, memutari meja bar untuk mendekati Akira dan mencium keningnya.

"Apapun itu, kau tahu aku mencintaimu kan, Akira?"

Akira tidak langsung menjawab, lama ia memandang ke kedalaman mata Hikaru. Namun akhirnya ia tersenyum dan mengangguk.

"Aku juga," balasnya.

Mungkin saat ini, itu cukup.

.


.

Notes:

Hai teman-teman, ketemu lagi nih...

Episode ini niatnya sih cuma 2000-an kata, tapi kok motongnya ga enak, jadilah 4000 lagi. Mudah-mudahan masih enak dibaca.

Btw ga ada yang ripiu nih? Sedihnyaaaaa TT_TT

Please tinggalin jejak ripiu ya...