Chapter 5. Fujiwara
.
Sialnya, sesi shidougo Akira minggu ini dan minggu depan tidak bisa dibatalkan, sedangkan Hikaru juga terjebak dalam beberapa rapat melelahkan menyangkut persiapan Hokuto Cup bulan Mei nanti. Ia tidak akan ikut bertanding, tentu, tapi statusnya sebagai veteran pemain Hokuto Cup selama 4 tahun berturut-turut, dua di antaranya sebagai pemain pertama, ditambah tiga gelarnya yang mentereng (ditambah satu Shinji-O, tapi ia sudah tidak ikut turnamen itu lagi semenjak mendapatkan gelar Honinbou) membuatnya terpilih menjadi pelatih tim. Sejak penyelenggaraan Hokuto Cup yang kedua, Ki-In memutuskan untuk mempersiapkan anggota tim jauh-jauh hari, agar tidak ada lagi kejadian anggota tim yang mati kutu gara-gara demam panggung seperti Hikaru dan Yashiro dulu. Alhasil, pada akhir Februari, akan diadakan pertandingan penyisihan untuk memilih anggota tim, dilanjutkan dengan latihan intensif selama dua bulan.
Itu juga yang membuat Hikaru ingin cepat-cepat liburan. Jika ia sudah terjebak melatih para berandal itu, sudah tidak mungkin baginya untuk mengajak Akira rekreasi sebelum Hokuto Cup berakhir. Padahal hubungan mereka masih berada dalam status Siaga 1.
Butuh usaha sangat keras untuk meyakinkan pihak manajemen Ki-In bahwa ia benar-benar butuh liburan, dan tidak, waktu latihan intensif untuk anggota Hokuto Cup yang sedianya delapan minggu tidak akan membawa dampak lebih baik daripada waktu tujuh minggu yang ia tawarkan. Yang ada, bocah-bocah tersebut malah akan bosan dan lelah. Sebagai kompensasi kepergiannya, Hikaru bahkan menjanjikan Training Camp tersebut dapat dilakukan di rumah keluarga Touya, dengan sang Meijin sendiri akan ikut melatih.
Setelah memohon-mohon dan serangkaian birokrasi menyebalkan, akhirnya bisa juga mereka mendapatkan liburan selama tiga hari di awal Maret, segera setelah Penyisihan Hokuto Cup. Hikaru senang sekali, sampai menghormat dalam-dalam. Kalau bisa, malah ia ingin menyembah.
Tak menunggu waktu lama, mereka segera angkat koper begitu anggota Tim Jepang ditentukan, Tempat pertama diisi oleh salah satu murid mereka, jadi Hikaru menugaskannya untuk mengkoordinasikan teman-teman lainnya sehingga mereka dapat berlatih sebelum Training Camp. Bocah yang baru berusia 15 tahun itu tentu saja senang karena waktu latihan mereka dipangkas seminggu, dan dengan menyebalkannya berani menyarankan pada Hikaru untuk memperpanjang "bulan madu" mereka.
Akira setuju untuk jalan-jalan ke Kyoto. Memang menyebalkan mereka dapat liburan di awal Maret, terlalu cepat untuk melihat bunga plum ataupun sakura bermekaran. Tapi setidaknya cuaca mulai menghangat, dan karena belum masuk high season, mereka bisa menikmati suasana kota tua tanpa perlu berdesak-desakan dengan turis. Hikaru sudah mengecek banyak travel blog, sebelum memutuskan bahwa dalam rentang waktu liburan mereka, atraksi yang kelihatannya menarik adalah Festival Omizutori di Kuil Todaiji, Nara, jadi ke sanalah mereka menuju. Mereka mungkin tidak sempat melihat puncak festival yang diselenggarakan tanggal 12 Maret, tapi setidaknya mereka bisa melihat obor-obor raksasa dinyalakan di balkon Aula Nigatsudo dalam acara Otaimatsu. Kalau bisa, ia juga ingin mengunjungi Distrik Ganrinin, sebuah hanamachi di Nara yang—kendati kalah tenar dengan tempat pelesir lain di Kyoto—terkenal dengan okiya dan geishanya.
Berhubung Akira ingin suasana yang tenang, mereka memesan paviliun kecil di sebuah ryokan di Nara. Sesuai dengan apa yang diiklankan, tempat itu sangat indah dan juga romantis. Tamannya yang tertata dengan begitu artistik dapat dinikmati dari ruang duduk di kamar mereka, dan dari balik atap yang melengkung, mereka bisa melihat ujung ranting-ranting pohon dengan kuncup-kuncupnya yang mulai menyembul. Jika sudah masuk musim semi, pasti pemandangan ini akan cantik sekali, batin Hikaru, dan ia berjanji dalam hati akan mengajak Akira ke sana lagi suatu saat.
Setelah menginap semalam untuk menghilangkan rasa lelah di perjalanan, hari pertama diisi dengan seks, seks, seks, sampai-sampai Hikaru merasa tubuhnya patah jadi dua. Berhubung waktu liburan mereka tinggal dua malam dua hari lagi, Hikaru menyarankan agar mereka langsung jalan pagi berikutnya agar tidak tergoda untuk menghabiskan waktu seharian di ryokan. Akira terkapar tak sanggup bangun lagi setelah tenaganya diperas habis-habisan sebanyak delapan ronde berturut-turut, jadi ia tidak banyak ribut.
Akira menolak mengunjungi Ganrinin malam itu, memilih tidur di bawah protes Hikaru yang mengatakan apa gunanya mereka ke Kyoto kalau tidak bisa makan malam bersama maiko. Menggerutu, tapi tak bisa protes lebih jauh—Hikaru tahu sebagiannya adalah kesalahannya juga memaksa Akira melayaninya, walau tahu stamina Akira tidak sebaik dirinya—Hikaru meninggalkan Akira untuk memanjakan diri di onsen terdekat.
Ia kembali dengan mengira Akira sudah lelap bergelung dalam selimutnya, karenanya ia sangat heran melihat lampu ruang duduk di paviliunnya masih menyala. Dari beranda, dilihatnya Akira bukannya tidur, malah main go dengan seorang pria botak berusia sekitar 30 tahun.
Tipikal Akira. Katanya terlalu lelah untuk jalan-jalan, tapi bukannya istirahat, malah main go.
"Aku pulang," katanya, memutar lewat pintu samping dan memanjat beranda.
"Oh, selamat datang, Shindou-san," balas Akira, mengalihkan perhatiannya dari goban. "Ini Gen'an-sensei, biksu dari Kuil Byodo-in di Uji. Sensei, ini rekan saya di Nihon Ki-In, Shindou Hikaru."
Seorang biksu? Penasaran, ia pun ikut duduk dan memberi salam.
"Ah, tentu saja saya mengenal Shindou Honinbou," Gen'an-sensei membungkuk dengan hormat, membalas salam Hikaru. "Maafkan kelancangan saya mengganggu malam-malam. Kami dari Byodo-in datang untuk Omizutori di Kuil Todaiji, dan menginap di sini. Kebetulan, saya dengar dari saudari saya, yang merupakan pengelola penginapan ini, bahwa Touya Meijin dan Shindou Honinbou juga sedang menginap, jadi saya datang untuk memberi salam. Saya tidak bisa menahan diri untuk memohon Touya Meijin memberi saya satu-dua pelajaran, walau bagaimanapun..."
"Ah, tidak..."
"Gen'an-sensei terlalu merendah," sambar Akira, tahu Hikaru paling payah dalam soal basa-basi dan lekas mengambil alih keadaan. "Go Anda sangat solid, saya rasa justru saya yang belajar banyak dari Anda."
"Ah, tidak, Touya Meijin. Sayalah yang belajar banyak..."
Mereka masih bertukar beberapa kalimat, sehingga Hikaru mengambil kesempatan untuk meneliti susunan go di atas goban. Permainan ini tampaknya bukan shidougo. Gen'an-sensei memegang biji hitam, sedangkan Akira memegang biji putih. Mereka sudah melampaui chuuban dan memasuki yose, tapi masih terbilang jauh dari kata selesai untuk menjeda pertandingan dengan basa-basi segala. Sejauh yang ia lihat, Gen'an-sensei lumayan kuat. Tidak sekuat Akira, tentu, lebih lagi Sai. Tapi level ini jelas bukan level amatir.
Akira dan biksu itu kelihatannya sudah puas dengan sesi percakapan basa-basi mereka, dan meneruskan permainan. Hikaru menahan diri untuk bertanya ataupun berkomentar apapun, menunggu dengan sabar hingga permainan selesai. Permainan dimenangkan oleh biji putih, tentu saja, tetapi itu adalah hasil yang sedikit mengagetkan mengingat Akira hanya menang 3,5 moku setelah komi. Akira memang tidak pernah serius melawan orang yang baru ia kenal di luar pertandingan, tapi tetap saja...
Mereka membereskan biji-biji go untuk memulai sesi diskusi, dan Hikaru yang sudah gatal ingin bertanya tak bisa lagi menahan lidahnya.
"Sensei, apakah Anda pemain profesional?"
"Oh tidak," pria itu tersenyum. "Kami para biksu bermain go di antara meditasi dan membaca sutera. Bagi kami, go sama pentingnya dengan kaligrafi."
"Jika benar begitu, Anda sangat berbakat, Sensei," puji Akira. "Hane di sini, misalnya..."ia menunjuk satu langkah di awal chuuban yang tengah ia rekonstruksi. Pembicaraan mengalir masuk ke sesi diskusi, dengan Hikaru sesekali ikut menimpali atau memberikan saran alternatif.
Diam-diam, Hikaru memperhatikan biksu itu. Ia masih cukup muda, dari sisi sini, mungkin masih di awal 30-an. Yang membuatnya kelihatan lebih tua adalah karena ia tak berambut. Ia pernah mendengar bahwa biksu Buddha di Jepang tidak berselibat. Kalau begitu, apa Gen'an-sensei ini sudah berkeluarga?
"Jika boleh tahu, kapan Anda berdua akan kembali ke Tokyo?" tanya sang biksu, begitu mereka menyelesaikan sesi diskusi dan mengembalikan seluruh biji ke goke.
"Rencananya dua hari lagi," jawab Akira.
"Begitu cepat?"
"Ah, ya... Kami harus melatih anggota tim untuk Hokuto Cup, jadi..."
"Ah, benar juga... Pertandingan internasional U-18 ya? Kalau tidak salah, dua tahun lalu Anda berdua menjadi anggota tim, dan berhasil memangkas habis Korea dan China?"
"Benar. Saya lihat Anda juga memperhatikan perkembangan dunia go, Sensei?"
"Hanya sekadarnya," biksu itu tersenyum. "Tapi sayang sekali Anda berdua harus pulang cepat-cepat. Dua hari lagi akan dilangsungkan memorial terhadap Genjou di kuil keluarga kami di dekat sini, Kuil Koufukuji. Tadinya saya berniat mengundang, tetapi jika Anda berdua sibuk..."
Melihat Hikaru kelihatan bingung, Akira turun tangan untuk menjelaskan. Tidak seperti Hikaru, Akira bagaimanapun adalah lulusan SMA. Dia bahkan sempat kuliah setahun—di Todai, bayangkan!—sebelum merasa fokusnya pada pelajaran di kampus nyaris membuatnya tertinggal dari Hikaru. Oleh karena itu, pengetahuannya untuk hal-hal di luar go lebih bisa diandalkan. "Kuil Koufukuji adalah kuil keluarga Fujiwara. Benar begitu, Sensei?"
Kuil keluarga Fujiwara?
Sinapsis di otak Hikaru, yang biasanya lambat terbentuk kecuali di depan goban, tersambung dengan bunyi 'klik'.
"Oh, apakah itu berarti Anda bermarga Fujiwara?"
Sang biksu tersenyum. "Benar, saya lahir dengan nama Fujiwara Genji. Namun, selama saya mempelajari dharma, saya mengambil nama Gen'an."
Hikaru mungkin menganga saking terpesonanya. Ia bertemu dengan seorang Fujiwara! Seorang biksu pula! Dan keluarga Sai memiliki kuil! Sai tidak pernah bilang bahwa keluarganya penganut Buddha…
"Oh, Sensei," Hikaru memberanikan diri bertanya, "bukankah tadi kalau tidak salah Anda berasal dari Kuil Byodo-in di Uji?"
"Benar," angguk pria itu.
"Apakah itu ... uhm, kuil keluarga Fujiwara juga?"
"Betul, tapi tempat itu baru difungsikan sebagai kuil pada pertengahan abad ke-11. Sebelumnya, itu adalah rumah keluarga Fujiwara."
Rumah Fujiwara?
"Saya kira, klan Fujiwara tinggal di Heian-kyo?"
"Oh ya, memang banyak leluhur kami yang menetap di ibukota pada era Heian. Tapi klan Fujiwara juga memiliki banyak cabang di berbagai daerah. Pada era Heian saja ada empat cabang, dan yang dianggap sebagai cabang terkuat adalah Hokke di Hiraizumi, di utara Honshu. Rumah di Uji sebenarnya semula hanya rumah peristirahatan, bukan rumah klan, dan tergolong baru. Fujiwara no Michinaga membangunnya di akhir milenium pertama, setengah abad sebelum Yoritomo menjadikannya kuil."
"Dan para pembesar istana yang berasal dari keluarga Fujiwara... apakah mereka berasal dari cabang-cabang ini?"
"Ya, sebagian besar, meski tentu saja yang mengisi jabatan penting datang dari Hokke."
Sai tak pernah bercerita banyak mengenai keluarganya, mungkin juga karena Hikaru kecil tak ingin tahu jadi tak pernah bertanya. Tapi jika memang kedudukan Sai bukan cuma sebagai guru go, tetapi juga ada hubungannya dengan upaya keluarga Fujiwara untuk meneguhkan pengaruhnya di istana, sangat wajar jika ia mengundang musuh.
Namun, mengingat bahwa ia bisa diusir dari istana hanya karena satu permainan go, apakah berarti ia berasal dari cabang yang lebih kecil dan kurang berpengaruh?
"Anda tertarik dengan sejarah keluarga Fujiwara, Shindou-sensei?"
"Ah, eh, sedikit... Uhm, guru saya juga adalah seorang Fujiwara, jadi..."
"Oh?" Gen'an-sensei kelihatan antusias. "Siapakah gerangan, barangkali saya kenal?"
Di sisi sana, bukan hanya sang biksu, Akira pun tampak menegakkan telinganya. Hikaru menelan ludah.
"Fujiwara no ... uhm, Fujiwara Sai," jawabnya.
"Fujiwara Sai?" sang biksu tampak menekur. "Kakek saya bernama Saizo, dan kepala pendeta dari salah satu kuil Shinto di Kyoto juga bernama kecil Saizaburou, tapi..."
"Uhm, saya rasa mungkin ia tidak berasal dari keluarga pendeta ataupun biksu...," ujar Hikaru, setengah menunduk.
"Ah, benar. Keluarga kami adalah keluarga tua dan saat ini tersebar di seluruh Jepang, sangat mungkin saya tidak mengenal guru Anda. Tadinya saya pikir ia adalah biksu atau pendeta, karena setahu saya tidak ada profesional go baik di cabang Tokyo maupun Kansai yang bermarga Fujiwara. Tapi mungkin saya salah. Ah, meski demikian saya turut merasa terhormat, bahwa Anda sempat belajar dari salah satu dari kami," ia kembali menghormat.
"Kehormatan adalah milik saya, Sensei," balas Hikaru dengan sedikit kikuk.
"Jika berkenan, mungkin satu saat saya ingin mendapat kesempatan untuk bertemu dengan guru Anda?"
"Uh." Bagaimana menjelaskannya? "Saya rasa itu sudah tak mungkin, Sensei."
Mungkin saat mengatakannya, rona kesedihan membayang di wajah Hikaru, karena Gen'an-sensei tampak paham dan kembali merunduk.
"Saya turut berduka cita atas kehilangan Anda, Shindou-sensei."
Terdengar seseorang menahan napas dari sisi sana, tapi Hikaru tidak bisa berkonsentrasi untuk mengetahui bagaimana roman wajah Akira mendengar informasi yang tak pernah keluar darinya itu. Pikirannya tersaput kabut, dan tanpa terasa air membayang di matanya.
Pertama kali, ini adalah pertama kalinya seseorang menyatakan berduka cita atas kepergian Sai. Ini adalah pertama kalinya ia menyebutkan tentang kepergian Sai, dan tak lain tak bukan kepada satu-satunya keluarga Sai ... keturunan Sai ... yang ia temui dalam delapan tahun terakhir. Entah mengapa, rasanya seperti membuang abu jenazah ke laut. Rasanya...
"Uh, maaf," Hikaru menyeka air matanya. "Sai ... uh, sangat berarti bagi saya. Ia mengajarkan semua yang saya tahu. Ia begitu sabar dan telaten menghadapi saya, sedangkan saya ... uh... Saya selalu bersikap tidak sopan, tidak menghargainya sama sekali, bahkan kadang membentaknya dan mengatakan hal yang tidak sepantasnya. Bahkan saat kepergiannya pun...," air matanya kembali mengancam. Hikaru mengerjap, berusaha menghalaunya. "Ah, maaf, saya sangat cengeng. Jika Sai melihat saya sekarang ini..."
"Saya rasa guru Anda pasti akan sangat bangga dengan Anda," ucap Gen'an-sensei seraya tersenyum.
Mau tak mau Hikaru ikut tersenyum, sementara dadanya dipenuhi melankoli. Nostalgia masa lalu seakan menyergapnya begitu tiba-tiba. Kenangan tentang Sai dan persistensinya akan go yang kadang menyebalkan, tapi kadang pula begitu menarik. Semua tentang Sai yang membuatnya tertarik pada go ... dan pandangan Sai yang membentuk dirinya.
Sai bukan sekadar seorang guru. Ia adalah sosok kakak, pelindung, ayah...
"Air..."
—Eh?
Kata yang mendadak keluar dari bibir biksu itu membuat Hikaru tersadar dari rentetan memorinya tentang Sai. Mengangkat kepala, dilihatnya sang biksu tengah menatapnya dengan intens, dengan pandangan yang nyaris sama dengan Sai di depan goban. Rasanya seperti menatap Sai... Tanpa sadar ia merinding.
"Ah, maaf," Gen'an-sensei mengerjap, dan ilusi itu menghilang. "Shindou-sensei, permisi, apakah saya boleh melihat telapak tangan Anda?
Ragu-ragu, Hikaru memberikan telapak tangannya, sementara di benaknya berkecamuk ribuan pertanyaan. Ada apa ini? Mengapa seseorang dari keluarga Fujiwara ingin melihat tangannya? Apa ia mengira Hikaru berbohong? Tapi sejak kapan orang bisa mendeteksi seseorang berbohong hanya dari telapak tangan?
Tapi kemudian ia mengingat bahwa orang di hadapannya bukan cuma orang biasa, melainkan juga seorang biksu.
Biksu, yang juga bertalian darah dengan Sai, jadi mungkin lebih sensitif dengan apapun yang terkait dengan salah satu nenek moyangnya.
Biksu, yang mungkin juga dapat mendeteksi jejak suatu kekuatan supranatural...
Jejak yang mungkin ditinggalkan Sai...
Refleks, Hikaru lekas menarik tangannya. Jika Gen'an-sensei dapat mendeteksi suatu keanehan dari reaksi Hikaru, ia tidak menyatakannya secara langsung. Tidak ada yang berubah dari ketenangan pria itu, tidak juga ketika ia mengutarakan pertanyaan berikutnya.
"Shindou-sensei, maaf jika saya bertanya. Di manakah Anda bertemu dengan guru Anda, jika boleh tahu?"
"Uhm," Hikaru merasa tak ada gunanya menghindar, terlebih di bawah tatapan mata elang Akira yang sepertinya tidak melewatkan satu pun reaksi anehnya. "To-Tokyo..."
"Dan ia berasal dari dekat sini?"
"Uhm, sepertinya ... Ia selalu menyebut He... uhm, Kyoto, tapi saya tidak terlalu pasti mengenai asalnya. Saat itu saya masih berusia 12 tahun ketika bertemu dengannya."
"Dan Anda ... uhm, bersama guru Anda, selama berapa tahun, jika saya boleh tahu?"
"Dua tahun lima bulan, kurang lebih."
"Begitukah?" ada kerung di dahi pria itu. "Waktu yang cukup singkat..."
"Uh, kenapa?"
"Tidak," Gen'an-sensei tersenyum. "Untuknya, dapat pergi sejauh itu... dan meninggalkan jejak impresi yang begitu mendalam... Pasti butuh kekuatan tekad yang teramat besar..."
Tidak salah lagi, dia tahu tentang Sai!
"Shindou-sensei, jika Anda berkenan, saya harap Anda sudi menerima undangan saya untuk berkunjung ke kuil kami di Uji. Seperti saya katakan sebelumnya, lusa saya harus menghadiri Memorial Genjou, tapi jika Anda bisa, esoknya kita bisa berangkat ke Uji."
Meski diucapkan dengan ramah dan lembut, tak urung Hikaru dapat mendeteksi nada setengah memaksa dalam suara sang biksu, yang membuatnya terpana.
Uji...
"Ah, terima kasih atas undangan Anda, Sensei," Akira yang angkat bicara. "Tapi sayangnya kami terpaksa menolak. Seperti tadi saya sampaikan, kami harus pulang ke Tokyo lusa."
"A-apakah...," tidak mengindahkan Akira, Hikaru memberanikan diri bertanya. "Apakah ke Uji memakan waktu dua hari perjalanan lewat darat dari Kyoto, jika berjalan kaki?"
Pertanyaannya aneh, jelas, tapi biksu itu seakan mampu menyelam ke dalam benaknya, dan menjawab dengan tenang. "Saya rasa tidak, Uji hanya berada di pinggiran Kyoto. Mungkin sekitar empat jam berjalan kaki. Tapi tentu saja, semua tergantung pada kecepatan perjalanan, dan kondisi medan pada saat itu."
"La-lalu...," Hikaru merasa tenggorokannya kering. Pertanyaan berikutnya teramat berat baginya. "A-apakah ada danau ... atau sungai di Uji?"
"Ah ya, ada Sungai Uji, bagian dari Sungai Yodo," biksu itu tampak berpikir-pikir. "Kalau tidak salah, sungai ini mendapatkan sumber airnya dari Danau Biwa di Perfektur Shiga, mengalir melewati Kyoto sebagai sungai Seta, dan setelah melewati Uji bercabang dua. Sungai ini juga melewati Byodo-in, Anda bisa melihat keindahan warna-warni daun di seberang sungai jika berkunjung di musim gugur. Bangunan utama Byodo-in, Phoenix Hall, juga dibangun di atas danau."
"A-apakah ... sungai ... dan danau ini cukup dalam?" Cukup dalam untuk menenggelamkan diri?
"Kalau danau, saya rasa tidak terlalu. Sungai Uji juga terbilang dangkal dan lebar, meski cukup dalam di beberapa titik. Anda tentu tahu, di masa lalu, sungai ini terkenal sebagai salah satu destinasi para bangsawan Heian, bahkan diceritakan dalam Genji Monogatari. Jika Anda ke sana, kami bisa mengantar Anda berjalan-jalan, bahkan bersampan di sungai. Ah, jika Anda tertarik, kami juga menyimpan beberapa relik dari masa itu. Berhubung ini juga tadinya adalah rumah keluarga, kami juga memiliki beberapa artefak seperti alat musik dan keramik, juga silsilah klan Fujiwara. Semua ini tidak dipertontonkan untuk umum, tapi jika Anda sudi, kami bisa memperlihatkannya untuk Anda."
"Terima kasih atas kebaikan Anda," ujar Akira. "Sayangnya kami..."
"Kami akan datang!" sergah Hikaru sebelum Akira menyelesaikan kalimatnya.
"Shindou!" desis Akira, tapi Hikaru masih tidak memedulikannya.
"Kami akan datang, Gen'an-sensei," deklarasi Hikaru sekali lagi, kali ini dengan nada lebih tegas. "Mohon bantuan Anda," ia menunduk dalam-dalam di tempat duduknya, nyaris menyembah.
Segera setelah sang biksu undur diri, karena malam ternyata sudah sedemikian larut, Akira langsung memprotes.
"Apa maksudmu kau mau ke Uji? Gen'an-sensei bilang dia baru bisa mengantar hari setelah lusa! Itu tiga hari lagi! Kita hanya mendapat libur tiga hari, Hikaru!"
"Uji tidak jauh dari Kyoto, kalau kita mengambil penerbangan malam atau shinkansen, kita akan bisa sampai di Tokyo sebelum tengah malam."
"Tetap saja artinya membolos satu hari!"
"Tidak apa-apa, kan? Kau toh tidak ada pertandingan."
"Tapi kau harus melatih tim Hokuto! Kau sudah meminta jadwal latihan dikurangi seminggu! Kau mau menunda satu hari lagi?"
"Satu hari tidak akan berdampak banyak. Aku percaya Oka-kun bisa mengarahkan rekan-rekannya untuk berlatih sebelum kita datang."
"Bukan masalah itu. Ini masalah profesionalisme, Hikaru! Kau sudah dipercaya, kau harus bertanggung jawab menjalankannya!"
"Pasti akan kujalankan, Akira! Aku sudah merancang menu latihan, dan aku juga akan memberikan latihan khusus sesuai dengan kekuatan mereka masing-masing. Aku hanya butuh waktu sehari..."
"Untuk mengunjungi sebuah kuil di Uji?"
"Kita ke sana untuk memenuhi undangan Gen'an-sensei. Kita takkan ke sana kalau kau tidak mengundangnya masuk untuk main go!"
"Oh, menyalahkan aku sekarang? Kupikir kau akan cukup jantan untuk mengatakan bahwa kau ke sana hanya karena kau tahu kuil itu tadinya rumah klan Fujiwara!"
"Nah, kau tahu itu! Kenapa juga kau harus menggugatku?"
"Oh, oke. Jadi setelah Shuusaku, sekarang kau juga terobsesi dengan klan Fujiwara. Coba kutebak, pasti itu ada hubungannya dengan gurumu, yang selama ini kau lupa mengatakan padaku nama keluarganya!"
"Apa pentingnya juga itu untukmu?"
"Oh ya, tentu saja itu tidak penting untukku, karena kau tidak pernah menganggap aku cukup penting untuk tahu apapun mengenai Sai! Terlebih karena kau tidak pernah punya niat untuk menepati janjimu!"
"Aku bilang waktu itu aku akan menceritakan padamu. Aku tidak pernah bilang batas waktu kapan aku akan menceritakannya! Itu tidak bisa dibilang tidak menepati janji!"
"Lima tahun, Hikaru! Lima tahun!"
"Aku bilang tidak ada batas waktu! Aku akan mengatakannya kalau aku siap."
"Oh, tidak usah repot-repot. Aku yakin kau akan tetap menggantungku sama seperti kau menggantung lamaran ayahku! Yang sampai sekarang masih belum kaujawab, omong-omong, walau sudah nyaris dua bulan!"
"Apa urusannya lamaran ayahmu dengan semua ini!" teriak Hikaru frustrasi. "Kau sebenarnya marah soal apa, sih! Rencanaku ke Uji, janjiku untuk memberitahumu soal Sai, atau soal lamaran ayahmu? Yang sudah kujawab, sebenarnya, kecuali kalau kau sudah hilang ingatan soal malam pernikahan Waya sebelum kita bertengkar!"
Kalimat terakhir itu kelihatannya menyambar Akira bagai geledek, karena ia tampak membeku. Matanya membelalak dan mulutnya menganga, seolah apapun yang dikatakan Hikaru adalah mimpi buruk baginya.
"Begitu?" katanya dengan nada sendu, ketika akhirnya bisa lepas dari kebekuannya. "Jadi jawabanmu tetap sama?"
Hikaru tak mengerti harus mengatakan apa.
"Kupikir semua sikapmu yang berubah selama ini... Makan malam dan liburan dan sebagainya, adalah karena kau berubah pikiran. Kupikir kau punya rencana ... untuk...," ia tampak sulit mengendalikan napasnya. "Astaga, bodohnya aku, sudah melambung memikirkan macam-macam... Tentu saja kau tidak akan mau menikahiku. Aku bukan siapa-siapa. Sudah jelas tidak bisa dibandingkan dengan Sai-oujisama-mu itu..."
"Akira...," Hikaru berusaha menggamit tangannya, tapi seperti yang sudah-sudah, Akira menepisnya dengan kasar.
"Kau tahu apa? Kalau kau mau ke Uji, silakan saja! Tidak usah pedulikan aku, besok aku pulang pagi-pagi!"
Dengan kalimat itu, Akira meninggalkan Hikaru dengan langkah penuh amarah. Belum lagi Hikaru menyusulnya, ia sudah masuk ke kamar dan menarik pintu geser dengan kasar hingga Hikaru nyaris takut pintu itu akan terlepas dari relnya. Pintu tertutup dengan suara "brak" keras diiringi bunyi "klik" yang menandakan pintu itu dikunci dari dalam.
Hikaru bahkan tidak sadar pintu geser itu bisa dikunci!
Lebih lagi, ini artinya lagi-lagi Hikaru diusir dari kamar.
"Akira, kumohon jangan begitu...," Hikaru berusaha merayu.
Tidak ada jawaban.
"Akira, ayolah... Kita bicarakan ini, ya? Aku yakin ini hanya salah paham."
Masih belum ada jawaban.
"Akira, kumohon... Masa kausuruh aku tidur di luar? Di tatami? Yang benar saja, Akira!"
Terdengar suara gedebak-gedebuk di dalam, kemudian pintu dibuka. Hikaru sudah senang, namun semuanya langsung berubah ketika Akira hanya mengalihtangankan selembar futon dan bantal, kemudian kembali membanting pintu tepat di depan hidung Hikaru.
"Akiraaaaaaaaaaaa..."
Akira masih tidak memedulikannya, walau Hikaru merayu, meminta maaf, memohon-mohon, mengutarakan argumen logis, bahkan sampai merengek segala di pintu. Lelah, ia merosot dan duduk di lantai tatami dengan tubuh bersandar pada tembok di sisi pintu.
"Aku tidak mengerti, Akira... Mengapa kau kesal, mengapa kau marah padaku, mengapa kau menuntut hal-hal yang belum siap kulakukan. Kau tahu aku cinta padamu, kan? Kumohon..." bisiknya merana.
Entah mengapa di pelupuk matanya, dua bayangan itu mulai bertumpang-tindih. Akira ... dan Sai. Akankah ia mengulang kesalahan yang sama, tidak memberi reaksi yang tepat pada saat yang genting, dan akhirnya kehilangan orang yang paling berarti baginya?
"Kau yang kupunya sekarang... Kumohon jangan pergi... Jangan tinggalkan aku lagi..."
.
.
Notes:
Ketemu lagi di chapter 5! Akhirnya sampai chapter ini juga... Hahaha...
R&R guys?
