Chapter 6. Takdir

.

Rupanya ia tertidur dalam keadaan duduk, karena begitu ia tersadar, seisi ruangan sudah dipenuhi cahaya dari pintu geser ruang duduk yang terbuka lebar. Pintu kamar terbuka. Dan tidak ada Akira. Di manapun. Begitu juga kopernya.

"Touya-sensei?" kerung nyonya pemilik penginapan ketika ia menanyainya soal kepergian Akira, tatkala ia datang untuk membawakan sarapan. "Ah, saya memang bertemu dengannya pagi-pagi sekali. Ia sudah membawa koper dan menanyakan jalan ke stasiun. Saya pikir ia ada urusan, sehingga cepat-cepat pulang?"

Hikaru langsung lemas.

"Saya juga agak mendengar suara gaduh semalam. Apa Anda berdua bertengkar?"

Oh!

Hikaru lekas menegakkan duduknya dan membungkuk. "Maaf jika kami membuat keributan," ujarnya.

"Tidak apa," pemilik penginapan tersenyum ramah. "Sudah biasa bagi pasangan suami-istri untuk bertengkar, dan bagi sang istri untuk melangkah pergi dari pertengkaran. Bisa dibilang itu sebenarnya langkah yang baik. Konon jarak bisa meredam emosi dan memberi waktu untuk berpikir, sehingga pertengkaran tidak tambah besar. 'Mendinginkan suasana', kata orang."

Batin Hikaru mengerang. Uh, sudah jelas si pemilik penginapan ini pemerhati kolom gosip di Weekly Go. Tapi kenapa juga ia mengira Akira adalah 'istri' dalam hubungan mereka? Serius, stereotip mengenai relasi antara tampilan fisik dan peran dalam hubungan sesama jenis kadang membuatnya gila.

"Uhm, Akira bukan suami saya," Hikaru menggarisbawahi kata 'suami'. "Kami hanya ... um, rekan..."

Si pemilik penginapan tampaknya tak mendengar, atau pura-pura tak mendengar, dan dengan tenang menyajikan sarapan di atas meja. Dalam hati Hikaru mengeluh, tapi sama seperti sikapnya pada para kolumnis gosip dan keluarga mertuanya—dan seluruh Ki-In, sebenarnya—ia merasa tak ada gunanya mendebat.

"Um, Fujiwara-san?"

"Ah, Anda dapat memanggil saya Minamoto, Shindou-sensei. Fujiwara adalah nama gadis saya," ujar sang pemilik penginapan.

"Ah, iya, Minamoto-san. Mengenai biksu semalam, Fujiwara Genji-san ... eh, Gen'an-sensei…"

"Oh, ya, ada apakah?"

"Beliau mengundang pada saya untuk berkunjung ke Byodo-in. Apakah mungkin ... bagi seseorang seperti saya..."

"Ah ya, Genji-ani mengatakan sesuatu semalam tentang Anda. Mendiang guru Anda adalah seorang Fujiwara, apa benar?"

Hikaru mengangguk, tidak melepaskan pandangan dari pola di tatami.

"Kalau begitu, Anda tak perlu khawatir. Anda mendapat undangan langsung dari calon kepala kuil. Lagipula, jika Anda adalah murid salah satu dari kami, berarti Anda bukan orang lain."

"Uhm, Anda tidak menganggap saya berbohong kan?"

"Berbohong? Untuk apa?"

"Entahlah. Mendapatkan akses ke kuil, misalnya."

"Bagaimana caranya? Bukankah Anda bertemu Genji-ani secara kebetulan? Penginapan ini tidak menyandang nama Fujiwara, jadi tidak mungkin Anda sengaja ke sini untuk mencari akses ke kuil yang berada di Uji. Kedua, untuk apa? Benar, kuil kami memiliki banyak relik dan artefak kuno. Tapi saya yakin seorang Honinbou tidak mungkin melakukan hal serendah itu," jelasnya panjang-lebar. "Lagipula selama ini Anda selalu menutupi mengenai guru Anda, dan baru sekarang mengungkapkannya pada orang yang tak ada sangkut-pautnya dengan dunia go. Pasti ada suatu alasan. Jika alasannya adalah seperti dugaan Genji-ani, maka semua itu bisa dimengerti."

Di titik itu Hikaru membelalak, sama sekali tidak mengira obrolan kecil mereka akan berbelok ke arah situ.

"Anda ... tahu?"

"Saya mungkin hanya seorang istri pemilik penginapan, tetapi saya lahir dan besar di Byodo-in. Firasat saya tidak sekuat Genji-ani, tapi saya juga bisa merasakannya, sejak Anda melangkah memasuki penginapan. Hanya saja, semula saya tidak mengaitkannya dengan leluhur kami."

"A-apakah ia ...," ia merasa tak perlu menjabarkan siapa yang dimaksud dengan 'ia', "masih..."

"Tidak, tetapi jejak yang ditinggalkannya masih terasa. Ini bukan karena energinya yang masih begitu kuat mengikat Anda, tetapi Anda sendiri yang menahannya. Anda masih belum dapat melepaskannya."

Ia ... belum dapat melepas Sai...

"A-apakah... apakah itu mempengaruhinya?" bisiknya hati-hati. "Apakah itu membuatnya tidak bisa pergi ke nirwana, atau bereinkarnasi?"

Sang nyonya pemilik penginapan tidak langsung menjawab. Entah karena ia tidak tega menjawabnya, atau karena ia tidak bisa menjawabnya. Hikaru takut itu adalah yang pertama.

Ia tahu, setelah bertahun-tahun, dia telah dapat menerima kepergian Sai dan melangkah melanjutkan hidupnya. Tapi ia tak pernah dapat melupakan Sai, melupakan keanehan sikap Sai pada hari-hari terakhir, melupakan keegoisannya yang tak bisa menggenapi permintaan Sai, melupakan semua sikap buruknya kepada Sai. Sai adalah seorang bangsawan, guru, jenius go, tapi ia memperlakukan Sai bak serangga parasit. Di titik itu, apa bedanya ia dengan si bajingan musuh Sai dulu, yang merampas go dari Sai—merampas seluruh hidupnya?

Sai adalah arwah penasaran. Tentu saja ia tidak bahagia. Di balik semua tawa dan sikap ringannya, ia memiliki penyesalan dan keinginan yang belum dapat ia genapi.

Jika saja ia bisa memberi Sai sesuatu yang lebih baik...

Hanya itu yang membuatnya bertahan, berjuang mati-matian di dunia go. Karena ini adalah mimpi Sai, keinginan terbesar Sai yang tak sempat ia wujudkan. Sai telah memberinya tongkat estafet, dan di sinilah ia harus memperjuangkan harga diri Sai. Menunjukkan pada semua orang keberadaan seorang jenius bernama Fujiwara no Sai.

Dan mungkin, ia berharap, di alam sana, Sai akan tersenyum dan akhirnya, akhirnya, akhirnya merasa bahagia.

Apakah itu artinya ia tidak benar-benar dapat melepaskan Sai?

"Shindou-sensei?" panggil si nyonya pemilik penginapan. "Maafkan jika saya lancang. Anda memilih penginapan ini dan bertemu dengan Genji-ani, itu adalah kebetulan, bukan?"

Hikaru mengangguk.

"Dalam hidup ini, ada yang namanya takdir. Anda bisa bertemu dengan mendiang guru Anda, dan juga bertemu kami, ini adalah takdir. Takdir hadir karena ada yang menggerakkan, bahwa ada tujuan dari sesuatu.

"Tapi takdir tidak mendefinisikan siapa kita, takdir tidak serta-merta mendikte hidup kita. Adalah kita sendiri, yang memilih menerima takdir itu atau menolaknya. Yang jelas, ketika takdir itu hadir, jangan sampai ia memporak-porandakan apa yang ada di kehidupan kita, apa yang kita anggap penting.

"Anda bisa bertemu Genji-ani, mungkin karena memang ada sesuatu yang perlu Anda selesaikan dengan masa lalu Anda. Mungkin, artinya ini saatnya bagi Anda untuk menerima takdir yang telah terjadi dan melepaskannya. Untuk kemudian melanjutkan takdir Anda berikutnya."

Minamoto-san lekas undur diri, meninggalkan Hikaru dalam harapannya untuk menemukan keping Sai yang tersisa.

.


.

Hari itu, Hikaru pergi ke Kuil Todaiji dengan harapan bisa menemui Gen'an-sensei. Sayangnya, hiruk-pikuk festival membuatnya sulit menemukan biksu itu. Ketika ia bertanya pada salah seorang biksu yang sedang mengurus persiapan Otaimatsu malam itu, sang biksu mengatakan bahwa para biksu delegasi dari berbagai kuil sedang melakukan meditasi, dan tidak bisa diganggu.

Duduk di bawah sebatang pohon besar, jauh dari keriuhan festival, Hikaru mencoba mengecek ponselnya. Akira sama sekali tak menjawab pesan, mengangkat telepon, apalagi menelepon balik, sehingga Hikaru agak khawatir. Ia ingin menelepon Waya, tapi di titik ini, yang ada Waya malah akan memarahinya dan menyuruhnya segera pulang. Dan ia tidak ingin pulang, tidak setelah ia begitu dekat dengan salah satu keping Sai yang tersisa.

Setidaknya dua hari... Ya, lusa setelah ke Uji ia akan langsung pulang. Ia akan melontarkan dirinya di depan Akira, bersujud dan memohon. Mereka toh pasti bertemu, karena Hikaru sudah menetapkan Training Camp akan dilaksanakan di rumah keluarga Touya.

Ah, mungkin kalau ia bisa merayu Akira dengan membawakan oleh-oleh khas Uji yang kira-kira membuat Akira senang, ia akan luluh. Dengar-dengar, teh Uji sangat terkenal, bukan? Kebetulan, Akira senang sekali minum teh, ia bahkan lebih suka teh daripada kopi.

Waktu dua hari takkan membawa dampak buruk terlalu besar pada hubungan mereka, kan?

Benar, kan?

Memutuskan tak ada gunanya rungsing sendiri, Hikaru memutuskan mengirimkan pesan singkat berisi permintaan maaf dan janji akan segera pulang, kemudian bangkit untuk berjalan-jalan menikmati festival. Tapi anehnya, ia tak bisa menikmati keindahan festival yang ia tunggu-tunggu sejak menyusun rencana perjalanannya ke Kyoto. Bahkan ketika malam turun dan obor-obor besar dinyalakan di beranda, ia merasa hampa. Tatkala percikan api mengguyur tubuhnya, bukan penyucian jiwa yang ia rasakan, melainkan kekosongan.

.

Kembali ke ryokan malam itu, Hikaru berharap bisa menemui sang biksu, tetapi nyonya pemilik penginapan mengatakan bahwa kakaknya tidak kembali malam itu, kemungkinan mengurus persiapan Memorial Genjou yang akan diadakan besok di Kuil Koufukuji.

Hasil browsing di internet melalui ponselnya mengatakan bahwa Genjou adalah biksu dari era Dinasti T'ang di China, yang membawa ajaran Buddha dari India ķe Cina pada sekitar abad ke-7. Tokoh yang dalam budaya Tionghoa bernama Xuanzhang ini lebih dikenal sebagai biksu yang mengepalai perjalanan dari Timur ke Barat mencari kitab suci dalam legenda Kera Sakti. Salah satu murid tingkat ke-sekian-nya membawa ajaran yang ia bawa ke Jepang, dan dengan begitu mengembangkan salah satu sekte Buddha di Jepang, yang dianut oleh Kuil Koufukuji.

Memutuskan untuk datang ke Koufukuji keesokan harinya, Hikaru tidur cepat—setelah mengirim pesan pada Akira sekali lagi, tentu. Ia tidak tahu apakah Akira sempat membaca pesannya atau langsung dihapus begitu saja. Yang jelas ia berharap dengan mengirim pesan secara rutin, setidaknya Akira paham bahwa ia masih memiliki itikad baik dengan hubungan mereka.

.


.

Esoknya, pagi-pagi ia sudah siap dan berangkat ke kuil. Hikaru memutuskan untuk tidak membuang waktu, dan menggunakannya untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya mengenai keluarga Fujiwara. Ia savant, katanya, tapi sayangnya itu tidak berlaku pada hal-hal di luar go, karena baru sebentar saja, otaknya sudah serasa mau meledak.

Berjalan-jalan di kompleks kuil yang berarsitektur khas Heian, Hikaru serasa kembali ke masa lalu. Kuil ini berusia sekitar dua abad lebih tua daripada kuil di Uji, demikian terang salah satu biksu yang menemaninya, dan merupakan salah satu tujuan ziarah para bangsawan pada masanya. Dengan kata lain, Sai—jika ia merupakan pemeluk Buddha—kemungkinan besar pernah datang ke sini.

Menapaki tangga-tangga kuil menuju bangunan demi bangunan, Hikaru berusaha meresapi perjalanan Sai pada masa itu. Apakah ia melihat apa yang Hikaru lihat sekarang? Apakah ia merasakan apa yang Hikaru rasakan sekarang?

Ia menghabiskan sisa pagi sampai siang main go di salah satu bangunan kuil bersama seorang biksu yang kebetulan diijinkan tidak ikut persiapan memorial demi melayani sang Honinbou. Hikaru tadinya menolak diperlakukan khusus, toh ia datang sebagai peziarah dan bukan tamu agung. Tapi rupanya Gen'an-sensei—yang menangkap keberadaannya di muka kuil, sedang celingukan bak anak ayam kesasar—begitu antusias dengan kedatangannya, dan segera mengumumkannya pada para biksu lain. Ia tidak tahu bahwa ia punya fanbase bahkan di kalangan biksu, dan belum-belum saja ia sudah dapat antrian tawaran main go.

Acara sembahyang dalam rangka Memorial Genjou diadakan beberapa kali, dan Hikaru memutuskan untuk ikut sesi siang, hanya untuk menghindar dari matahari. Matahari awal Maret tidak cukup panas, itu pun masih disaring oleh keteduhan rindang pepohonan di seantero kuil, tapi Hikaru entah mengapa sedang tak ingin berada di bawah sinar matahari yang biasanya merupakan sahabatnya.

Ketika sedang khusyuk-khusyuknya bersembahyang, tahu-tahu ponsel di sakunya bergetar. Mengutuk dirinya sendiri yang lupa mematikan ponsel, tapi masih bersyukur ia sudah memindahkan deringnya ke nada getar, Hikaru bangkit dari duduknya dan dengan penuh kata maaf berusaha membelah barisan para peziarah, kabur keluar aula.

Setelah berhasil menemukan sudut yang sepi dan tersembunyi di halaman kuil, dengan dada berdebar-debar, Hikaru membuka ponselnya. Ada dua missed call, dan sangat kecewa hatinya mendapati bahwa keduanya dari Waya. Oh, ada juga satu pesan, rupanya, hanya dengan kalimat singkat: Di mana kau?

Mengutuk Waya yang kelihatannya tidak mendapat memo kalau ia sedang cuti—dan apapun yang membuat si pengantin baru itu buru-buru menyudahi bulan madunya padahal baru dua minggu—Hikaru lekas menekan nomor kontak Waya. Tahu sifat sahabatnya, ia akan terus mengganggu sampai Hikaru mengangkat telepon, dan Hikaru jelas tak ingin mengganggu prosesi upacara.

"Shindou!" terdengar sapaan khas Waya—dengan nada agak membentak—di ujung sana.

"Hei, Waya... Apa kabar bulan madumu?"

"'Apa kabar bulan madu' gundulmu!" bentak Waya lagi, yang membuat telinga Hikaru pengang. "Di mana kau?"

"Uhm, di Kuil Koufukuji..."

"Koufukuji?"

"Eh, di Nara."

"Ngapain kau jauh-jauh di Nara?!"

Betul kan? Memang sepertinya Waya tidak tahu ia sedang liburan. "Aku sedang sembahyang. Ada upacara Memorial Genjou di sini dan..."

"Sembahyang? Sejak kapan kau jadi beriman?"

Uh, jawabannya sejak dulu. Mana mungkin ia tidak percaya pada Kami dan kehidupan setelah kematian, kalau semasa kecil ia dikuntit roh penasaran? Jelas ia tak bisa mengatakan itu pada Waya.

"Ah, tidak penting itu. Yang penting, sedang apa kau di Nara? Kudengar kau dan Touya sedang bulan madu, tapi tadi kulihat Touya di Ki-In."

Ia ingin mengoreksi soal 'bulan madu', tapi merasa tak ada gunanya. "Uh, ada sedikit masalah... Akira marah padaku, lagi, dan pulang duluan."

"Kalian bertengkar lagi?! Ngapain sih, kau! Sudah kubilang kau seharusnya mengambil hatinya, bukannya malah bikin masalah!"

Kenapa belum-belum, ia sudah dimarahi?

"Memangnya itu kemauanku!" kelit Hikaru. "Dia saja yang sedikit-sedikit marah, aku benar-benar bingung!"

"Memangnya kenapa kali ini?"

"Entahlah," jawab Hikaru, memutuskan tak ada gunanya ia bicara soal 'Akira main go dengan biksu yang ternyata keluarga Sai, yang kemudian mengundangnya ke kuil keluarga mereka di Uji karena tahu ia adalah murid leluhurnya'. Waya, lebih dari siapapun, adalah fans berat s a i, dan makin repot kalau Waya mencecarnya macam-macam. "Sepertinya ia masih marah karena aku menolak lamarannya."

"Lho? Bukannya masalah itu sudah selesai?"

"Belum," jawab Hikaru. "Rupanya ia dalam impresi aneh kalau aku mengajaknya ke Nara untuk melamarnya, atau apapunlah. Aneh, aku tidak pernah bilang begitu. Ia saja yang berpikir kejauhan."

Terdengar suara decakan Waya di ujung sana. Hikaru bisa melihat wajah kesal Waya, serta gerutuan standarnya, "Dasar Honinbou tolol!" Jujur, kali ini ia sedang tidak mau berurusan dengan semua itu.

"Jadi salah paham lagi? Kalau begitu kenapa kau masih di situ? Cepat ke sini dan bereskan urusan kalian!"

"Tidak bisa, besok aku mau ke Uji. Tapi sesudah itu, aku langsung pulang pakai shinkansen."

"Uji?"

"Aku mau ke Kuil Byodo-in."

"Byodo-in?!" suara Waya langsung naik. "Ada urusan apa lagi di Byodo-in?"

"Ziarah," ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.

"Ziarah?!" kadang Hikaru tidak tahu berapa oktaf suara Waya bisa meninggi. Serius, harusnya ia mempertimbangkan karir di dunia opera. "Tadi kaubilang sembahyang dan sekarang ziarah?! Oke, entah apa yang membuatmu merasa menemukan agama dan mendadak jadi saleh, tapi lekas pulang! Suamimu itu sudah mondar-mandir dengan tampang seram seharian, tahu, padahal tidak ada pertandingan."

"Ngapain Akira di Ki-In?"

"Mana kutahu! Setahuku Penyisihan Ketiga Tengen maupun Kisei belum dimulai."

Akira berambisi untuk mengincar Kisei dan Tengen tahun ini, setelah dengan mengenaskan kalah dari Hikaru di semifinal Liga Jyudan tahun ini serta terlempar dari Liga Kisei atas kekalahannya berturut-turut dari Morishita, Ichiryuu, dan Kurata di Klasemen A tahun lalu. Saat ini, ia merupakan kandidat terkuat (dan favorit, kalau menurut jajak pendapat Weekly Go) untuk menjadi penantang Hikaru di Perebutan Gelar Honinbou, Gosei, dan Ouza. Sayangnya, ia masih belum dapat menembus benteng Penyisihan Ketiga Tengen, tempat biasanya ia dijegal oleh lawan-lawan kuat seperti para senior plus Hikaru, Ochi, dan Isumi. Sudah tradisi bagi Hikaru dan Akira untuk saling bunuh di Penyisihan Turnamen Tengen dan Kisei serta Liga Jyudan, membuat para saingan mereka senang karena setidaknya tidak harus menghadapi dua setan sekaligus.

Yang paling parah dari Akira kalau kalah adalah dia langsung berubah jadi menyebalkan. Sayangnya, bukannya jadi ganas dan melampiaskan frustrasinya dengan berusaha menundukkan Hikaru di atas ranjang—atau di permukaan manapun, Hikaru tidak pilih-pilih dalam hal ini—yang ada dia malah larut dalam sifat OCD-nya. Dia akan menggosok lantai dapur dan kamar mandi hingga lalat pun terpeleset, mereproduksi permainan yang sama berulang kali, serta memaksa Hikaru mereview permainannya berikut seluruh variasi kemungkinan langkah hingga Hikaru bosan. Atau, seperti ide jenius terbarunya untuk melampiaskan kegetiran akibat kekalahannya pada Liga Kisei tahun lalu: membombardir Hikaru soal pernikahan. Huh, Ochi dan kebiasaannya mengetuk pintu kamar mandi masih jauh, jauh, jaaaaaaaauuuuuuuuhhhhh lebih baik. Hikaru sendiri tahun ini harus merangkak kembali dari Penyisihan Kedua Liga Kisei dan Tengen, setelah habis dibantai Akira tahun kemarin. Tapi ia tidak pernah sepahit Akira.

Kadang Hikaru bingung sendiri mengapa ia bisa jatuh cinta pada Akira.

"Pokoknya kau cepat pulang!" tandas Waya. "Ini berbahaya bagi kami semua, tahu! Tampangnya itu seperti ronin yang mau menantang semua orang, serius! Kasihan para dan bawah..."

Dalam hati Hikaru mengerang.

"Ah, Waya, sudah dulu ya. Aku mau meneruskan sembahyang. Tidak enak ini, aku sudah dipelototi peziarah lain," ujarnya berbohong.

"Eeeeh, tunggu, tunggu..."

Hikaru langsung menutup telepon. Huh, merepotkan saja memang si Akira itu. Tiba-tiba marah dan pulang sendiri saja sudah menyusahkan, ini masih pula menampakkan muka garangnya di Ki-In! Bukannya ia sendiri yang biasanya menyuruh Hikaru untuk bersikap sopan, jaga ekspresi, pasang poker face, dan lain sebagainya? Kenapa juga ia tidak menunggu hingga lusa untuk datang ke Ki-In, padahal tidak ada pertandingan? Kalau memang ia ingin menenangkan diri dengan mencari lawan main, tidak bisakah ia pergi ke salon saja? Bisa kacau jadinya kalau timbul gosip yang bukan-bukan.

Berusaha menguatkan hatinya, ia menghubungi nomor Akira. Sudah ia duga, setelah beberapa kali dering, teleponnya langsung ditolak. Menghela napas, ia mengirim pesan singkat, entah akan dibaca atau tidak.

Besok malam aku pulang, Akira. Aku sudah kangen sekali padamu.

Love,

Hikaru XXX

Tidak lupa mematikan getar, ia kembali ke aula. Setidaknya, ia berharap agar Kami menaruh belas kasih padanya dan memberinya sedikit saja ketenangan hati.

.


.

Notes:

Halo... Hari ini sesuai jadwal, aku post chapter 6, hahaha...

Chapter ini tadinya pecahan dari chapter 5, yang dipindahin ke sini gara-gara kebanyakan... Makanya dibanding chapter lain, ini agak sedikit.

Nah, chapter 7 belum selesai (hahaha) tapi chapter 8-13 sebenernya udah kelar. Aku malah tadi bikin chapter penutupnya hihihihi... Emang kerja aku rada ngacak sih, semoga masih enak dibaca

Oke, R&R please...