Chapter 7. Wisteria

.

Benar kata Gen'an-sensei, jarak ke Uji terlalu dekat untuk ditempuh dalam waktu dua hari. Mereka hanya membutuhkan waktu beberapa belas menit naik kereta, lalu beberapa belas menit naik taksi dari stasiun terdekat ke Byodo-in. Empat jam berjalan kaki, demikian kata Gen'an-sensei. Sekarang jalanan begitu mudah dilalui, berbeda dengan seribu tahun lalu. Dahulu orang hanya bisa berjalan kaki atau naik joli, harus pula melalui medan hutan dan jalanan yang tidak rata. Kendati demikian, Hikaru sangsi dahulu Sai baru mencapai Uji setelah dua hari.

Tapi bukankah Sai bilang ia bunuh diri dua hari setelah diusir dari Heian-kyo, bukan setelah dua hari berjalan dari Heian-kyo? Bagaimanapun, detail mengenai pengusiran ini sangatlah absurd. Hikaru tidak bisa membayangkan sehina-hinanya seorang guru go terusir dari istana, ia harus keluar dengan berjalan kaki tanpa ditemani pelayan dan pengawal. Tidak mungkin juga hanya karena go, ia harus pergi tanpa boleh membawa apa-apa. Jadi bagaimana juga dengan barang bawaan Sai, jika ia harus mengangkuti semua sendirian? Pastilah ia membawa pelayan. Kalau begitu aneh, jika ia bisa bunuh diri begitu saja tanpa diselamatkan siapapun.

Kalau begitu kemungkinannya dua. Pertama, Sai kembali ke rumah keluarga Fujiwara (yang terdekat yang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari dua hari), namun karena di sana pun berita mengenai kekalahan (dan kecurangannya) sudah menyebar, ia tak diterima dan terpaksa pergi. Kedua, ia dirampok dalam perjalanan menuju rumah keluarganya yang lebih jauh—entah oleh bajing lompat atau malah para pelayan dan pengawalnya sendiri—kemudian ditinggalkan begitu saja. Dalam keadaan sangat putus asa itulah ia bunuh diri.

Ya, kalau sekadar dituduh yang bukan-bukan dan diusir dari ibukota, Sai dapat saja meminta bantuan keluarganya untuk membuktikan bahwa ia tak bersalah, untuk kemudian meraih kembali posisinya. Bagaimanapun ia seorang Fujiwara, apa artinya seluruh kekuatan yang dimiliki kerabatnya—entah siapa Fujiwara no Michinaga ini bagi Sai, tapi secara teknis ialah yang mengendalikan seluruh istana—kalau ia tak bisa membebaskan Sai dari tuduhan. Bahkan kalau ia masih tak bisa mendapatkan kembali posisinya dan dihinakan, Sai bisa mendapatkan cara lain untuk memulai hidup baru. Ia tidak tahu apa yang bisa diperbuat seorang guru go di kalangan rakyat jelata masa itu yang hanya bisa bekerja kasar, tapi Sai bisa menjual keahliannya yang lain, misalnya menjadi pemusik. Tapi jika ia merasa harga dirinya sudah benar-benar lenyap, jika ia tak melihat secercah pun harapan...

Bagaimana jika...

Hikaru menggeleng keras, berupaya mengenyahkan pikirannya masuk ke wilayah yang gelap. Apa artinya bagi Sai? Apa artinya bagi memorinya tentang Sai? Apa artinya bagi misinya untuk dapat memahami Sai, agar ia bisa melepasnya—benar-benar melepasnya—untuk beristirahat dengan tenang?

.


.

"Ah, sebentar lagi kita sampai," ujar Gen'an-sensei, membuyarkan lamunan Hikaru, yang sedari tadi mengarahkan perhatiannya ke luar jendela—memperhatikan kelebatan pohon dan bangunan yang bergerak cepat tanpa ia bisa tangkap bentuknya. Hikaru mengerjap, berusaha memfokuskan perhatiannya pada apa yang tampak di depannya.

Ujung atap kompleks Byodo-in yang menyembul dari balik ranting-ranting pepohonan menyapanya. Warna merahnya kontras dengan dunia sekitarnya, membuatnya makin menonjol di tengah ranting-ranting pohon kering yang baru dihiasi kuncup-kuncup bunga yang menandakan awal musim semi.

"Itu Hou-ou-do, alias Phoenix Hall," tunjuk Gen'an-sensei, menunjuk pada bangunan megah bertiang dan beratap merah yang berada tepat di sisi sungai. "Bangunan tertua di kompleks ini, yang dikembangkan dari rumah peristirahatan yang dibangun oleh Michinaga. Meskipun pernah terbakar, kami merenovasinya sesuai dengan aslinya. Dengan kata lain, itu satu-satunya bangunan yang masih mempertahankan arsitektur era Heian."

Seharian kemarin, pulang dari Koufukuji, Hikaru menyempatkan diri browsing mengenai kuil itu, tapi tak ada foto manapun yang sanggup menangkap keindahan aslinya. Kemegahannya, kontras dengan alam sekitarnya... Keseluruhan kompleks kuil itu terleyak di pinggiran Sungai Uji, dengan Phoenix Hall sebagai bangunan utamanya. Berdiri tepat di atas danau yang tenang, bangunan yang tersusun atas struktur kayu berwarna merah dengan atap melengkung itu bak teratai yang merekah di atas kolam.

"Ini benar-benar dari era Heian?" Hikaru menahan napas. Bahkan bangunan istana yang ada di Kyoto saja tidak berasal dari era itu. Seluruh struktur bangunan Heian-kyo yang terbuat dari kayu terbakar habis, kalau tidak salah begitu yang Hikaru baca semalam.

"Ya," angguk Gen'an sensei. "Lihat hiasan di atapnya? Itu berbentuk sepasang phoenix, karenanya disebut Phoenix Hall. Yang itu hanya replika, yang asli sekarang disimpan di museum."

Mereka berjalan memutar melewati jembatan yang terbentang di atas sungai menuju bagian sayap Phoenix Hall. Setelah berjalan-jalan sejenak (Hikaru mengambil banyak sekali foto), Gen'an-sensei mengajaknya memasuki ruang bawah tanah, yang katanya difungsikan sebagai museum. Ia melarang Hikaru membeli tiket, dan dengan sedikit senyum pada sang penjaga tiket, Hikaru bahkan mendapat setumpuk brosur dan buku.

Koleksi harta karun di bawah sangat impresif, tapi itu persepsi Hikaru sebelum Gen'an-sensei mengajaknya memasuki ruangan lain, yang biasanya tidak terbuka untuk umum.

"Di sini tersimpan harta Byodo-in yang sebenarnya," ucap Gen'an-sensei, membimbing Hikaru melihat-lihat rak kaca demi rak kaca yang mengelilingi ruangan tanpa jendela itu. "Beberapa barang antik di sini berusia lebih dari seribu tahun. Beberapa bahkan berasal dari era Jomon," ia menunjuk sebuah keramik berukir indah. "Ini sesungguhnya hanya sebagian kecil dari apa yang tadinya dimiliki kuil. Sebagian besar hilang atau rusak pada bencana kebakaran yang lalu."

Pandangan Hikaru terhenti pada sebuah goban. Berbeda dengan goban yang ia punya, atau bahkan goban Sai yang katanya berasal abad ke-19, goban ini memiliki rupa yang sangat berbeda. Warna aslinya yang merah kelihatannya sudah pudar. Bagian tepinya dihiasi ukir-ukiran indah.

"Sudah saya duga, Anda akan tertarik pada goban itu," ucap Gen'an-sensei, "Ya, itu berasal dari era Heian. Kalau tidak salah, kami mendapatkannya untuk disucikan. Goban itu tadinya berhantu."

Mendengar kata 'hantu', tentu saja antena Hikaru langsung mencuat.

"Tidak, ini tidak seperti kasus yang terjadi pada Anda," Gen'an-sensei langsung menampik. "Ini benar-benar kasus roh jahat. Legendanya, seorang guru go bunuh diri dan kemudian menjadi roh penasaran, menghantui seseorang dan menjadikannya gila. Setelah orang itu juga bunuh diri, ia sering menampakkan diri di istana, bahkan sampai merasuki orang dan membuatnya gila juga. Abe no Seimei, seorang onmyouji kenamaan pada masanya, dipanggil khusus untuk menangani kasus ini, namun sang roh jahat sudah terlalu kuat untuk dapat dikalahkan dengan mudah. Lewat semacam trik, saya juga tidak jelas apa, Abe no Seimei berhasil menjebak roh jahat itu dan mengurungnya dalam sebuah pohon kaya di pinggir danau tempatnya menenggelamkan diri."

Pikiran Hikaru terfokus pada satu titik dalam cerita itu.

"Sebanyak apa sebenarnya kasus guru go bunuh diri dan menjadi hantu?"

Ia selalu mengira go adalah permainan (baca: olahraga) yang damai dan aman. Duduk statis berjam-jam, seberat-beratnya gerakan hanyalah mengangkat biji go dan menempatkannya ke goban... Bahkan kini setelah ia menjadi pro dan tahu betapa intensnya permainan, betapa besarnya hal yang harus dipertaruhkan dalam setiap langkah, ia masih tak bisa menganggap pertaruhan fisik bahkan nyawa seperti di olahraga lain akan mungkin terjadi dalam go. Tapi sejauh ini, ia tahu ada satu orang yang menderita serangan jantung dalam permainan, dan dua orang yang bunuh diri... Apakah go benar-benar olahraga yang aman?

Menyebalkannya, Gen'an-sensei kelihatan tidak punya jawaban. "Sesungguhnya, kita tidak pernah tahu sesering apa orang bunuh diri, atau saling membunuh demi harga diri dan kehormatan pada masa itu. Biar kata masa Heian dianggap sebagai masa yang damai, dibandingkan dengan masa-masa selanjutnya, sejatinya istana adalah tempat yang sangat berbahaya. Terlalu banyak intrik politik dan kepentingan. Saling tikung dan tikam, yang berujung kematian, sama sekali bukan hal baru."

Mau tak mau Hikaru setuju.

"Apa Anda tahu, siapa pemilik goban ini?" tanyanya.

"Saya juga tidak begitu jelas. Salah seorang kerabat Permaisuri, saya rasa. Ada sebuah syair panjang yang kabarnya ditulis oleh sang Permaisuri, menyayangkan saudara sepupunya yang malang dan bernasib buruk. Syair ini sangat unik karena alih-alih bersifat melankoli, Sang Permaisuri juga menyebutkan beberapa kata yang hanya bisa dimengerti dalam konteks sang sepupu menjadi roh jahat yang meneror istana. Berhubung syair itu ditulis pada masa yang sama dengan asal goban ini, mungkin sekali sepupu yang ia sebutkan adalah orang yang sama dengan yang ada dalam kisah Abe no Seimei."

"Sepupu Permasuri ... apa itu berarti ia seorang Fujiwara?"

"Besar kemungkinan begitu," jawab Gen'an-sensei yang membuat dada Hikaru mengguruh.

"Lalu, apa yang terjadi? Pada guru go itu?"

"Di akhir syair itu, Permaisuri menyebutkan 'lepas dari jerat takdir yang tidak adil' dan 'mencapai kedamaian'. Legenda mengenai goban berhantu ini mengatakan Abe no Seimei menangkap dan mengurungnya, tapi jika dihubungkan dengan kisah sang Permaisuri, sangat mungkin roh itu disucikan."

"Disucikan?"

"Ah, ada beberapa sihir yang terkait dengan onmyoudo. Sebenarnya saya bukan ahli di bidang ini; meski banyak elemennya diambil dari Taoisme, Buddhisme, dan Shintoisme, onmyoudo berkembang menjadi satu disiplin tersendiri yang terpisah dari Buddhisme. Tapi kalau tidak salah, roh jahat dapat ditangkap dan dikurung, dihancurkan, atau disucikan. Yang terakhir berarti ia dibantu untuk dapat melepaskan diri dari hasrat jahatnya, agar bisa bereinkarnasi. Tentu saja, semua tergantung pada sang roh sendiri, serta seberapa berat kerusakan yang ia sebabkan. Roh yang terlalu banyak berbuat kerusakan biasanya tak dapat disucikan lagi, sehingga pilihannya adalah melenyapkannya atau mengurungnya."

"Berarti jika ia dikurung, ia tidak disucikan? Yang membuatnya tidak bisa bereinkarnasi?"

"Mengenai hal itu, saya tidak bisa menjawab."

"Jika, katakanlah, ia terperangkap dalam suatu benda, dan benda itu berubah wujud, apakah ia akan menghantui benda yang baru?"

"Kemungkinan besar, ya."

"Mungkinkah, bagi seorang roh untuk berubah sifat? Misalnya, entahlah, ia ditangkap dan sang onmyouji memutuskan bahwa ia tidak terlaku berbahaya sehingga cukup dikurung dan tak usah dimusnahkan... Atau ia disucikan, tapi karena satu dan lain hal, itu tidak membawanya menuju reinkarnasi... Mungkinkah, jika begitu kejadiannya, ketika ia terbebas lagi, ia tidak lagi menjadi roh jahat?"

Hikaru tahu benar ke mana ia mengarahkan pertanyaannya. Kelihatannya hal tersebut tak luput dari perhatian Gen'an-sensei, karena ia berkomentar, "Ah, Anda beranggapan bahwa roh ini adalah roh yang sama dengan guru Anda..."

Ia mengetatkan genggamannya atas kipas di tangannya, "Ada begitu banyak kebetulan. Mereka sama-sama guru go, bunuh diri dengan menenggelamkan diri, dan juga seorang Fujiwara... Belum lagi, roh tersebut dikurung dalam pohon kaya..."

"Oh, apakah itu berarti, roh guru Anda menghantui sebuah goban?"

Hikaru mengangguk. "Goban yang tadinya dimiliki Torajirou," ujarnya. "Meski ya, patut saya akui, saya tidak tahu bagaimana ia bertemu Torajirou, atau mungkinkah ia menempati sesuatu yang lain sebelum dilepaskan oleh Torajirou. "

Anehkah, bahwa ia begitu lancar menceritakan rahasia yang dipendamnya selama bertahun-tahun pada seseorang yang baru beberapa hari ia kenal? Sedangkan ia tak pernah bisa mengatakannya pada Akira?

"Torajirou?" sang biksu tampak merenung, "Ah, apakah maksud Anda Kuwabara Torajirou? Honinbou Shuusaku?" ada nada keterkejutan dalam suaranya.

Kembali Hikaru mengangguk, yang membuat mata sang biksu terbelalak.

"Maksud Anda, sebelum Anda, Sai-sama juga menjadi mentor Shuusaku?"

Bukan menjadi mentor, tapi bermain atas nama Shuusaku. Tapi rasanya kebenaran ini tidak perlu diutarakan, jadi ia hanya mengangguk.

"Pantas saja Anda disebut-sebut sebagai ahli Shuusaku termuda dalam sejarah, kalau begitu," Gen'an-sensei kelihatan kagum. Yang agak aneh, sebetulnya. Kalau jadi dia, dihadapkan pada absurditas semacam itu, Hikaru pasti akan bersikap skeptis dan memberondong dengan pertanyaan. Atau setidaknya, Akira akan mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang bahkan tak terpikirkan oleh Hikaru.

Ah, kenapa juga nama itu muncul di benaknya saat ini?

"Tadi Anda mengatakan soal menenggelamkan diri, apa itu yang terjadi pada guru Anda?"

"Benar," jawab Hikaru. Merasa perlu mengelaborasikan lebih jauh, ia pun mulai menjelaskan, "Katanya seorang saingannya yang iri padanya, sesama guru go untuk Kaisar, mencuranginya dalam sebuah permainan. Orang itu balik menuduh ialah yang berbuat curang, membuatnya hilang fokus dan berujung pada kekalahannya. Kaisar yang murka padanya mengusirnya dari istana. Ia menenggelamkan diri dua hari sesudahnya."

"Pantas saja...," Gen'an-sensei menekur, tampak berpikir. Pasti ini berhubungan dengan entah bagaimana ia menyebut kata 'air' pada pertemuan pertama mereka. "Yang saya herankan, mengapa ia bisa sampai terusir? Jika benar ia Fujiwara, bukankah seharusnya ia memiliki back up yang kuat?"

Nah, itu dia justru yang ingin Hikaru tanyakan.

"Uh, saya ... tidak banyak bertanya mengenai masa lalu Sai," tunduk Hikaru penuh sesal. "Saya ... hanya terfokus pada go, dan ... uhm..."

Tanpa sadar, ia meremas tangannya. Mungkin hal itu tak luput dari perhatian biksu itu, karena ia berkomentar dengan lembut, "Tentu saja, Shindou-sensei. Maafkan saya menanyakan hal itu, sama sekali bukan salah Anda jika Anda tidak tahu banyak mengenai guru Anda. Anda baru 12 tahun waktu itu, bukan? Roh penasaran umumnya hanya terfokus pada satu hal saja yang ia rasa belum tergenapi, hal yang membuatnya masih terikat pada dunia. Saya rasa tidak mungkin Sai-sama akan menjembrengkan masa lalunya begitu saja, apalagi jika itu menyakitkan."

Apakah itu mengimplikasikan bahwa ada hal lain yang terjadi? Tak ingin memikirkannya, Hikaru mengalihkan pandangannya kembali ke goban (yang tadinya) berhantu itu.

Masa lalu yang menyakitkan?

Benar kata orang, makin kita berusaha untuk tidak memikirkan sesuatu, makin kuat akar-akar pikiran itu menjalar, mencengkeram kepala dan berdenging riuh sehingga tak mungkin lagi lepas dari jeratnya.

Tak bisa tidak, pikiran Hikaru mengembara ke tempat lain. Sai sangat tampan, dan juga sangat lembut. Ia bangsawan, seharusnya ia mengerti sedikit cara mengayunkan pedang, tapi Hikaru tidak begitu yakin akan hal ini. Sai jelas bukan samurai, di masanya golongan aristokrat sepertinya kemungkinan besar tidak menekuni ilmu perang. Jika ia dirampok oleh banyak orang, Sai takkan punya kesempatan. Apakah ada hal buruk lain yang terjadi, yang mungkin juga mendorongnya bunuh diri—sesuatu yang mungkin tak ingin diceritakan Sai pada dirinya yang baru berusia 12 tahun? Bagaimana jika benar dugaannya, bahwa Sai dirampok dalam perjalanannya pergi dari ibukota? Bagaimana jika ia tidak hanya dirampok, tapi juga diperkosa beramai-ramai, misalnya, dan kemudian ditinggalkan dalam kondisi terluka, terhina, ternoda, dan tanpa sekeping pun uang?

Sai yang ia kenal selalu tampak ceria, sangat kekanak-kanakan, dan hanya terfokus pada go. Hikaru tidak pernah membayangkan kemungkinan sepahit itu pernah terjadi pada Sai.

Tapi ia juga tidak bisa membayangkan Sai—yang selalu optimis, positif, dan dengan obsesinya yang menggebu-gebu—akan bisa semudah itu menenggelamkan diri. Tapi nyatanya, itulah yang terjadi.

Untuk kesekian ribu kalinya dalam enam tahun terakhir, penyesalan yang sama kembali menyelinap. Mengapa ia selalu terfokus pada dirinya sendiri? Mengapa ia tak pernah berusaha menggali lebih dalam dari sekadar obsesi Sai terhadap go? Mengapa ia tidak pernah berusaha mengenal Sai lebih dalam?

"Ah, Shindou-sensei," Gen'an-sensei membuyarkan lamunannya, mungkin menyadari aura hitam yang mulai melingkupinya. "Apa ada hal lain yang bisa saya bantu? Saya tahu mungkin kenangan mengenai guru Anda begitu menyakitkan, tapi jika ada yang bisa saya lakukan... Apapun..."

Apa ia bicara tentang penyucian diri? Oh, sebelumnya pun, ia melihat entah apa di diri Hikaru dan mengatakan soal 'air' bukan? Air, media yang dipilih Sai untuk bunuh diri... Apa bayangan air itu menggayutinya?

Oh, Minamoto-san mengatakan ia masih melihat jejak Sai dalam dirinya, dan mengatakan bahwa ia perlu melepaskan... Ia tahu beberapa orang dengan kemampuan khusus dapat melihat aura orang lain, dapat mengetahui jika seseorang sedang atau pernah ditumpangi makhluk astral. Apakah jejak Sai itu, yang mungkin berhubungan dengan air, tidak hanya meninggalkan bekas, tetapi juga merusak dirinya?

Apakah ... jika ia disucikan, ia akan kehilangan seluruh jejak Sai pada dirinya—apapun itu?

"Uhm, saya ingin mempelajari masa lalu Sai, jika bisa...," ucap Hikaru. "Saya tahu ini sulit, saya tidak tahu dari mana ia berasal, siapa orang tuanya, tidak tahu apakah ia sudah menikah... Uhm, saya..."

"Tentu," senyum penuh pengertian terkembang di wajah lembut biksu itu. "Benar kata Anda, ini mungkin agak sulit, tapi saya coba lihat apa yang saya bisa lakukan."

Ia membimbing Hikaru melewati deretan rak, dan masuk ke ruangan khusus dengan alat pengatur suhu. Dari sebuah lemari di dekat pintu, ia mengeluarkan semacam kappogi, sarung tangan, masker, serta penutup kepala, kemudian menyerahkannya pada Hikaru.

"Ini adalah ruang arsip," katanya seraya mengenakan perlengkapan itu, mencontohkan Hikaru untuk mengenakannya juga. "Beberapa buku, gulungan kertas, dan perkamen di sini sudah sangat tua dan rapuh, sehingga tidak dipertontonkan untuk umum. Harap Anda memperlakukannya dengan hati-hati. Oh, untuk mengebet kertas, mohon Anda menggunakan ini," ia mengambil setangkai pinset dari lemari.

Dipersenjatai seperti itu, tentu saja Hikaru menjadi grogi.

"Kita mulai dari mana, ya? Ah, mungkin data mengenai para menteri dan pejabat kerajaan era Heian? Di dalamnya juga ada data mengenai jabatan-jabatan lain, termasuk guru go..."

"Uh, saya sudah pernah mengeceknya..."

"Anda pernah?"

"Mmm... Setelah Sai menghilang, saya sempat bertanya ke guru sejarah saya, yang bertanya lagi pada profesornya di universitas... Katanya tidak ada nama Fujiwara no Sai yang menjabat sebagai guru go Kaisar... Lagipula, Sai bertanding dengan jabatannya sebagai taruhan, kemudian dinyatakan curang dan diusir dari istana... Mungkin saja seluruh catatan tentangnya dihapus."

"Ah," bersit paham muncul di wajah Gen'an-sensei. "Sulit juga ya... Tapi tak ada salahnya mencoba, saya rasa. Ah, bagaimana jika saya mengecek data pejabat kerajaan, sementara Anda mengecek silsilah keluarga Fujiwara? Apa Anda mungkin punya sedikit saja petunjuk yang berhubungan dengan asalnya, atau tahun kelahirannya?"

"Saya hanya tahu ia telah tinggal di dalam goban selama sekitar seribu tahun, saat saya bertemu dengannya. Oh, dan Sai kelihatannya berusia sekitar 20-an ketika meninggal, mungkin..." Nah, soal ini ia tidak tahu pasti. Sai sama sekali tidak pernah bicara soal usianya. Kalau mau jujur, melihat sifatnya, ia tidak pantas berusia 20-an. Mungkin lebih tepat dikatakan bocah 5 tahun yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.

Ah, tapi bukankah katanya orang zaman dulu cepat dewasa? Para lelaki masa itu menikah di usia belasan, bukan? Sai kemungkinan besar belum menikah, secara dia tidak pernah bicara soal wanita, dan sumpah Hikaru tidak bisa membayangkan bagaimana urusannya makhluk kekanak-kanakan itu bisa punya istri (atau kekasih, atau apapunlah yang tidak berhubungan dengan go). Apa jangan-jangan Sai kelihatannya saja sudah dewasa, padahal usianya belum sampai 20?

Gen'an-sensei menekur. "Ketika Anda 12 tahun, ya? Kapan itu, sekitar pertengahan 1990-an?"

"1998," koreksi Hikaru.

"Berarti sekitar akhir milenium pertama hingga awal milenium kedua, ya? Era kekuasaan Fujiwara no Michinaga..."

Biksu itu menelusuri deretan berkas dan buku tua berlabel campuran kode kanji, alfabet, dan angka di lemari kaca, sebelum akhirnya membuka salah satu pintu kaca dan mengeluarkan beberapa bundel buku tua dari dalamnya dan menaruhnya di meja. "Ini adalah catatan silsilah keluarga Fujiwara," ujarnya, membuka lembar pertama dan menunjukkan deretan nama yang tersusun dalam rangkaian cabang dan ranting. "Waktu itu saya menyebut bahwa Hokke alias keluarga utara adalah cabang klan terbesar pada masa Heian, tapi bukan berarti cabang klan lain juga tidak menempati posisi-posisi minor di ibukota. Jadi selain silsilah cabang Hokke," ia menunjuk satu bundel yang paling tebal di antara buku-buku lain, "ini juga ada silsilah cabang Nanke alias keluarga selatan, Shokke, dan Shikike," ia menunjuk bundel-bundel lain. Selanjutnya, ia menjelaskan beberapa sistem pembacaan standar—garis pernikahan, keturunan, anak dari selir, tahun kelahiran, kematian, keterangan tambahan seperti jabatan dalam pemerintahan ibukota atau provinsi, dan lain-lain—kemudian meninggalkan Hikaru dengan bundel buku tersebut dan beralih mencari buku lainnya.

Dada Hikaru berdebar penuh antisipasi ketika membuka lembaran pertama. Sepertinya buku silsilah ini adalah salinan, bukan dibuat pada masa itu (syukurlah), karena beberapa keterangannya dibuat dalam bahasa Jepang dengan aksara kanji yang agak lebih modern. Karena ia tidak bisa menggerakkan pena, Sai tidak pernah menunjukkan seperti apa cara ia menulis pada masanya, tapi setidaknya Hikaru tahu bahwa para pria bangsawan masa itu menulis catatan resmi dengan bahasa Tionghoa. Meski begitu, terkadang ia agak kesusahan memahami beberapa karakter yang kurang familiar.

Di saat seperti itulah, Hikaru agak menyesalkan tiadanya Akira di sisinya. Akira jago dalam sejarah dan literatur, bahkan dia sempat mengambil Sastra Jepang Klasik sewaktu kuliah di Todai dulu, meski cuma setahun. Pastilah perbendaharaan kanjinya jauh lebih luas ketimbang Hikaru. Huh, Sai pasti tambah kagum dengan Akira kalau ia tahu ini, apalagi kalau ia tahu tulisan tangan Akira sangat bagus. Sai, yang selalu menghina tulisan cakar ayam Hikaru...

Untunglah ia cuma membaca silsilah, dan bukannya syair...

Omong-omong soal Akira, jujur saja Hikaru masih agak pahit soal bagaimana mungkin Akira bisa lulus SMA dengan nilai nyaris sempurna, lulus ujian masuk Tokyo Daigaku yang super-sulit-mayoritas-orang-bertumbangan itu, serta mendapat gelar Meijin pada tahun yang sama. Tapi sudahlah, tidak semua orang diberkahi kemampuan lebih di satu bidang—Akira toh payah sekali soal olahraga dan pop-culture (juga musik, Hikaru ingat satu kesempatan ketika Waya memaksa mereka karaoke bareng dan Akira bahkan tidak bisa menyanyikan lagu Doraemon). Hikaru cukup puas masih bisa lulus SMP dengan nilainya yang pas-pasan, secara dia sering bolos karena ujian pro dan urusan Sai dan macam-macam lagi.

Nah, kalau begitu bagaimana bisa si Akira lulus sebagai peringkat terbaik ketiga di angkatannya, dong? Dia kan lebih sibuk daripada Hikaru...

Ah, masa bodoh. Akira memang sejak awal punya kekuatan setara oni... Tidak heran kalau dia diagung-agungkan di sana-sini, belum lagi digandrungi baik cewek maupun cowok...

Dan siapa itu yang akhirnya berhasil menarik perhatian dan menggaet sang pangeran? Dia kan? Hahaha...

Yah, meskipun sekarang hubungan mereka tidak seromantis seharusnya...

Hikaru menampar dirinya sendiri. Kenapa pikirannya jadi malah ke mana-mana? Berusaha menyatukan kembali konsentrasinya, ia mengembalikan perhatiannya kembali ke kitab silsilah di hadapannya.

Benar kata sang biksu, keluarga Fujiwara memang memiliki pengaruh sangat besar dalam pemerintahan masa itu, bahkan bisa dikatakan merekalah yang memegang pemerintahan, bukan Kaisar. Sejauh yang Hikaru baca, secara sistematis kepala keluarga Fujiwara menikahkan putri mereka dengan Kaisar, beberapa malah menjadikan beberapa putri mereka sebagai selir di samping Permaisuri, dan dengan demikian memastikan darah mereka mengalir di tubuh Kaisar selanjutnya. Hebatnya lagi, Kaisar selanjutnya juga dinikahkan dengan putri Fujiwara lain. Ia juga bisa melihat beberapa Fujiwara saling menikah satu sama lain. Hikaru tahu menikahi sepupu atau sepupu tiri (atau bahkan bibi dan kemenakan) bukanlah sesuatu yang aneh apalagi tabu pada masa itu. Tapi sungguh, kekusutan galur ini membuatnya pusing. Ah, belum lagi ada sistem poligami, yang memungkinkan percabangan yang begitu banyak hingga ia hampir tak bisa merunut lagi apa hubungan seseorang dengan orang lain. Rupanya memang benar memori Hikaru hanya bagus dalam mengingat formasi go, karena belum sampai dua jam saja, ia sudah merasa kepalanya tercerai-berai.

Huh, memalukan sekali untuk seseorang yang dikatakan jenius.

Memutuskan untuk mengabaikan upayanya mengerti galur silsilah keluarga Fujiwara, Hikaru memilih jalan yang lebih mudah—yang seharusnya ia lakukan dari awal, sebenarnya—yakni langsung mencari nama Sai. Rupanya itu pun tidak semudah kedengarannya, karena 'akhir milenium pertama dan awal milenium kedua'—tentu saja ia tidak bisa benar-benar presisi dengan kata '1000 tahun' yang disebutkan Sai—rupanya mencakup begitu banyak generasi, belum lagi percabangan keluarga, lebih dari yang Hikaru sangka. Huh, terkutuklah para bangsawan zaman dahulu dan hobi mereka kawin muda.

Seandainya saja ia tahu sesuatu yang lebih pasti untuk membatasi pencarian... Ah, kalau tak salah, Sai pernah bicara tentang para wanita bangsawan yang sempat bermain dengannya di masanya, kan? Siapa itu ... Kalau tak salah, mereka bahkan lebih terkenal daripada Sai, karena rasanya ia pernah melihat nama mereka di sampul buku literatur klasik di rak Akira... Oh, bahkan rasanya ia pernah mendengar nama itu di salah satu film klasik yang ia tonton bersama Akira (baca: dipaksakan Akira untuk ia tonton) di salah satu sesi kencan mereka, waktu masih masa-masa pendekatan dulu (yang berlangsung selama 3 tahun, terima kasih banyak).

Oke, coret pernyataannya tadi soal Sai tidak pernah bicara soal perempuan. Dia pernah bicara soal banyak perempuan, dengan nada agak menerawang pula, kalau ia tak salah ingat. Hikaru 12 tahun yang masih lugu dan polos memang tidak menaruh perhatian lebih soal ini, tapi kalau dipikir-pikir... Wah, jangan-jangan pada masanya, Sai ini playboy... Menarik perhatian para gadis bangsawan dengan kemampuannya bermain go, lantas...

Ah, ke mana lagi pikirannya ini?

Jangan berpikir macam-macam, Hikaru! Ia menjitaki kepalanya. Sai tidak mungkin begitu. Cinta sejatinya itu hanya go. Lagipula, mungkin lebih dari setengah perempuan di istana adalah saudaranya...

Tapi hubungan darah (apalagi jauh) tidak menghalangi seseorang untuk memadu kasih, atau malah menikah pada masa itu.

Dan sekali lagi, lelaki dan perempuan masa itu menikah di usia muda.

Tapi Sai itu sangat kekanakan! Mana mungkin dia ... dan perempuan ... ugh.

Oke, ini bukan masalah karena ia gay, lantas ia mengira Sai (yang jauh lebih feminin dibanding Akira—oh, malah ia lebih feminin dibanding seluruh perempuan yang pernah Hikaru kenal!) juga gay... Ia tahu urusan pernikahan di masa lalu lebih bicara mengenai keturunan dan politik ketimbang urusan cinta. Orang zaman dahulu mungkin tidak punya kesempatan untuk memikirkan apa sebenarnya orientasi seksualnya, karena urusan adat dan kewajiban dan lain sebagainya, atau malah menganggap hal itu tidak penting sama sekali dan bereksplorasi sebebas-bebasnya.

Ah, kalau begitu, apa Sai ... uh, pernah...

Aaaaaaah, kenapa pula ia jadi memikirkan urusan siapa yang pernah tidur dengan Sai! Apa pentingnya juga itu dengan semua ini!

Kelihatannya Gen'an-sensei sadar ia mulai rungsing, atau ia tanpa sadar mengacak-acak rambutnya, karena ia bicara dari kursinya di meja sebelah, "Oh, apa Anda sudah lelah, Shindou-sensei? Apa perlu kita jeda? Mungkin Anda mau makan siang dulu?"

Hikaru menurunkan tangan dari kepalanya. Ah, kelihatannya memang benar ia mengacak-acak rambut.

"Ah, tidak usah, Sensei, terima kasih."

"Tidak apa, memang sudah jam makan siang, kok. Saya rasa makan siang sudah disiapkan."

Hikaru ingin menolak, tapi rupanya perutnya yang tidak tahu malu memutuskan ini saatnya ikut memberi sumbangsih dalam percakapan. Tertawa kecil, Gen'an-sensei bangkit dari duduknya untuk melepas perlengkapan yang ia pakai dan mengembalikannya ke lemari, diikuti oleh Hikaru yang wajahnya merah bak udang rebus.

.


.

Mereka makan siang di salah satu bangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal. Sepanjang makan siang, Gen'an sensei banyak bertanya (menginterogasi) Hikaru mengenai masa lalunya dengan Sai. Anehnya, entah karena merasa bicara dengan keluarga Sai, atau karena aura menenangkan yang keluar dari sang biksu tersebut, Hikaru merasa tak sungkan apalagi takut untuk bercerita.

"Jadi Sai-sama menghuni goban antik milik Honinbou Shuusaku yang tersimpan di loteng milik kakek Anda?" Gen'an-sensei merekap cerita Hikaru. "Apa Anda tahu bagaimana goban itu bisa sampai ke tangan kakek Anda?"

Dengan menyesal, Hikaru menggeleng. "Kakek memang pemain go amatir, dan lumayan ngefans dengan Suusaku, tapi bukan kolektor barang antik... Ia bahkan tidak tahu itu tadinya milik Shuusaku. Mungkin seseorang memberinya, atau ia jadi tertarik dan membelinya karena ia tahu goban itu berhantu."

"Ia tahu goban itu berhantu?"

"Katanya. Ia pernah bilang ia menyimpannya di loteng karena takut pada cerita penampakan hantu lelaki bertopi tinggi. Yang aneh, menurutku. Kalau kakekku takut pada cerita itu, kenapa juga ia membelinya? Berarti yang mungkin ia mendapatkannya dari orang lain atau mewarisinya. Kakek tidak pernah cerita detail soal ini...," ia menambahkan bagian terakhir dengan sedikit nada sesal.

Gen'an-sensei manggut-manggut. "Lantas, apa ia pernah membawanya ke pendeta atau semacamnya?"

Hikaru kembali menggeleng. "Saya tidak tahu..."

"Lalu, apa Anda mungkin ada suatu kaitan dengan Shuusaku?"

Kaitan dengan Shuusaku? "Rasanya tidak."

"Tapi sungguh suatu kebetulan. Mungkin bisa dikatakan takdir, bahwa Kami-sama mempertemukan Sai-sama dengan salah seorang keturunan samurainya untuk melestarikan warisannya..."

Eh?

"Maaf, apa yang barusan Anda katakan? Keturunan samurainya?"

"Oh, apa Anda tidak tahu? Saya sadar ketika ingat cara penulisan nama Anda. Partikel terakhir pada kata Shindou adalah karakter 'dou', bukan? Partikel itu juga ada pada partikel pertama dari nama keluarga kami, 'fuji' yang berarti wisteria."

Ah ya, Hikaru tahu itu. Kebetulan yang aneh yang ia anggap sebagai takdir yang digariskan Kami. Nah, apa urusannya dengan statusnya sebagai keturunan samurai keluarga Fujiwara, kalau begitu? Perasaan dia berasal dari kelas menengah, sama sekali bukan keluarga aristokratik seperti Touya...

Seakan menyadari kebingungannya, sang biksu menjelaskan dengan lembut, "Pada akhir era Heian, para samurai yang bekerja di bawah klan Fujiwara mendapatkan kanji tersebut untuk disematkan pada nama keluarga mereka. Mungkin Anda tahu, karakter yang sama juga tersemat pada nama lain seperti Katou, Kudou, Satou..."

Tak bisa tidak, Hikaru menganga pada detail ini. Ia tidak pernah tahu ia keturunan samurai, tapi waktu berjalan begitu jauh sejak akhir era Heian, bukannya tidak mungkin sesudah masa damai, detail semacam itu terlupakan.

Tapi lebih dari itu, hal ini memberinya satu perspektif baru dalam memandang hubungannya dengan Sai, juga apa yang ia lakukan selama ini.

Ia adalah ksatria Sai. Selama ia menyandang nama Shindou, ia membela keberadaan Sai di dunia go.

Hikaru kembali ke ruang arsip museum dengan determinasi baru.

.


.

Notes:

Sumpah, chapter ini susah betul aku tulis. Awalnya aku sama sekali ga ada ide, terus waktu nulis malah jadi ga selesai-selesai. Plus aku rasanya ga bisa nangkep suasana Byodo-in dengan baik, jadilah begini... Tapi aku pengen move on ke chapter selanjutnya, jadi aku post aja deh. Kalo misalnya sempet nanti aku coba benerin dikit2.

R&R please