Chapter 8. Perpisahan
.
Lewat konsultasi dengan Paduka Yang Mulia Mahaguru Google, Hikaru berhasil mengingat dua nama penulis terkenal era Heian yang juga merupakan dua dari beberapa wanita bangsawan yang pernah disebutkan Sai: Murasaki Shikibu dan Sei Shonangon. Keduanya tinggal di Heian-kyo pada awal milenium kedua, sehingga dalam cakupan waktu itulah Hikaru memfokuskan diri. Murasaki Shikibu, ia tahu kemudian, adalah juga merupakan contoh keturunan Fujiwara berdarah murni—baik ayah maupun ibunya berasal dari klan Fujiwara—namun tidak tergolong sebagai bangsawan kelas atas di Heian-kyo. Ini juga yang meyakinkan Hikaru untuk mengecek kitab silsilah dari tiga cabang Fujiwara yang kurang berpengaruh, beserta beberapa buku lain yang memuat daftar anggota keluarga Fujiwara yang memegang peran minor sebagai pejabat daerah.
Ya, Sai mungkin memiliki jabatan yang lumayan tinggi pada masa itu. Pakaian yang ia kenakan—tate eboshi-nya, khususnya, Hikaru baru memperhatikan—adalah pakaian untuk para denjoubito, bangsawan dengan ranking level 5 ke atas yang memiliki hak untuk bertemu Kaisar (tentu saja, dengan menimbang bahwa ia adalah guru go). Tapi level itu masih tergolong menengah. Dengan kedudukannya, bisa dibilang sebenarnya peran Sai juga tidak sesignifikan jabatan lain, Menteri misalnya, ataupun cukup berpengaruh sehingga memungkinkan keluarganya untuk menuntut ketika ia diusir. Dengan sendirinya, hal itu sedikit mengeliminasi kemungkinan ia berasal dari cabang besar seperti Hokke. Jadi, kemungkinan besar ia berasal dari keluarga Fujiwara yang kurang berpengaruh.
Namun sayangnya, bahkan dengan data tersebut, tidak banyak yang bisa Hikaru dapatkan dari hasil perjalanannya ke Uji tersebut. Meski sudah mengubek-ngubek kitab silsilah, ia masih juga belum menemukan yang ia cari. Atau tepatnya, ia menemukan tidak hanya satu, tapi beberapa nama Sai. Namun begitu disilangkan dengan data pejabat era Heian, belum ada titik temu yang sesuai, sehingga identitas Sai masih dipertanyakan.
Hikaru ingin sekali tinggal barang beberapa hari lagi, sayangnya ia sudah keburu janji dengan Akira untuk pulang malam itu juga. Bukan apa-apa, sumpah ia takut dengan murka Akira. Begini saja, ia sudah pasti akan dijuteki, apalagi jika ia berani-beraninya mengundur jadwal kepulangannya. Akhirnya, dengan merepotkan Gen'an-sensei yang harus mencarikan taksi, karena sudah terlalu malam sehingga tidak ada lagi kereta ke Kyoto, ia bisa juga mengejar shinkansen terakhir ke Tokyo.
Sialnya, di tengah jalan ia baru ingat belum membeli teh Uji, yang sedianya akan ia pakai sebagai tanda maaf. Entah bagaimana murka sang oni yang harus ia hadapi tanpa sesajen yang layak. Hikaru hanya bisa pasrah dan berdoa pada Kami agar ia masih diperkenankan melihat matahari terbit besok pagi.
.
.
Sesampainya di Tokyo, tanpa pulang dulu ke apartemennya, ia langsung melipir menuju rumah keluarga Touya yang terletak di daerah suburban. Ia tiba ketika malam sudah larut. Gerbang kayu sudah dikunci, tapi untungnya Hikaru sudah dititipi kunci oleh Touya-san berbulan-bulan lalu, sehingga ia bisa masuk dengan mudah.
Ketika memasuki halaman, amat terkejut ia, melihat dua pro yang menjadi muridnya, Rui dan Oka, sedang berciuman di beranda. Parahnya lagi, itu sama sekali bukan ciuman inosens! Dengan horor, dilihatnya tangan Rui merayap masuk ke balik kaos Oka. Dan tangan Oka...
"Hei," gebraknya, membuat dua bocah itu langsung melompat dan menjauh satu sama lain. "Kalian dua bocah kecil berani melakukan hal tidak senonoh di sini!"
"Uh," Oka, pemain pertama Tim Jepang dalam Hokuto Cup tahun ini, bocah yang selama ini ia pandang bertanggung jawab dan dapat dipercaya itu, tampak menunduk dengan muka bak udang rebus. Tapi bocah satunya lagi, si berandal Rui, malah balik menatapnya dengan mata menantang.
"Bukan salah kami. Tempat ini sepi tadi sebelum Sensei mendadak datang!"
"Lalu karena sepi, jadi kalian pikir bisa berbuat mesum di sini?"
"Kami juga sering memergoki kau dan Touya-sensei berciuman di sini, di apartemen, di taman, di Ki-In. Kami tidak pernah protes!"
Ugh. "Itu beda! Aku dan Akira sudah cukup umur! Berapa umur kalian, hah? 15 kan?
"16! Hanya karena kau dan Touya-sensei lambat dewasa, bukan berarti..."
"Apa katamu? Lambat dewasa?! Kalian yang..."
"Ada apa ribut-ribut?"
Perdebatan mereka, bagaimanapun, terhenti ketika satu sosok tampak di muka lorong. Akira, tentu saja. Ia kelihatannya sudah tidur sebelum mendengar keributan mereka. Yukata yang ia pakai agak lecek, dan rambut panjangnya yang dikuncir di bawah tengkuk juga agak berantakan. Di belakangnya, tampak dua bocah lain menyusul, menguap lebar dengan tampang kusut.
"Uh, aku pulang," salam Hikaru, berusaha menampakkan senyumnya yang menyedihkan. Sial, ia lupa bahwa waktu sudah lewat jam 12 dan Akira pasti sudah tidur. Semengerikan-mengerikannya Akira di depan goban, lebih mengerikan lagi saat ia terganggu tidurnya.
"Shindou...," urat-urat tampak di kening Akira. "Datang malam-malam, membuat ribut di rumah orang..."
Shindou, katanya? Jelas bukan pertanda bagus!
"Bukan salahku!" Hikaru membentengi dirinya sendiri. "Aku menangkap basah dua bocah di bawah umur ini sedang berbuat tak senonoh di beranda!" ia menunjuk dua orang yang gemetar ketakutan begitu Akira si Raja Iblis muncul. "Ini lagi! Rui!" serunya pada si bocah berambut acak-acakan. "Kau kan bukan anggota tim. Ngapain kau di sini?"
"Uh...," bocah itu tampak tak berkutik.
"Rui-kun ada di sini untuk menjadi asisten saya, Shindou-sensei. Dia menjadi lawan tanding untuk Oka-kun," jawab Akira formal. Uh, benar-benar bukan pertanda bagus. "Mungkin kalau Anda sebagai pelatih resmi mereka datang sesuai jadwal, saya tidak perlu repot-repot mencari pemain keempat. Anda tahu saya juga punya kesibukan lain, sehingga tidak bisa mengawasi mereka berlatih seharian. Dan apa yang mereka lakukan di luar jadwal latihan sama sekali bukan urusan siapapun. Saya yakin mereka mampu bertanggung jawab, tidak seperti seseorang."
Huh, apa maksudnya?
Oke, kalau Akira ingin bermain seperti ini, ia juga bisa.
Hikaru menunduk dalam-dalam. "Terima kasih, Touya-sensei, telah menangani tugas saya selama saya tidak ada. Mohon maaf kami mengganggu Anda. Mulai saat ini, saya akan mengambil alih kembali tanggung jawab atas anak didik saya. Mohon Anda tidak turut campur mengenai disiplin yang akan saya terapkan pada mereka."
Tidak hanya bocah-bocah yang sudah kenal betul Hikaru seperti apa, bahkan Akira pun membelalak tak percaya. Tapi tak makan waktu lama sebelum ia mendengus.
"Huh, tanggung jawab dan disiplin? Saya penasaran tanggung jawab dan disiplin macam apa yang bisa Anda terapkan, Shindou-sensei, ketika Anda tidak memahami arti kata itu."
"Oh, saya tidak akan ada di sini jika saya tidak menerapkan tanggung jawab dan disiplin bagi diri saya sendiri, Touya-sensei."
"Oh, begitukah? Aneh sekali, saya sama sekali tidak melihat penerapan dua kata itu dalam situasi saat ini."
Hikaru tidak tahan lagi. "Hei, Akira..."
"Ah, di mana sopan santun saya?" Akira mundur. Tipikal. "Tentu saja sebagai tuan rumah, saya menyambut dan menerima Anda dengan tangan terbuka, Shindou-sensei. Anda dapat menggunakan ruang tidur tamu, tentu Anda tahu di mana tempatnya. Sekarang, perkenankan saya untuk undur diri. Selamat beristirahat, Shindou-sensei, Rui-kun, Oka-kun, Takahashi-kun, Satoshi-kun," ia menghormat dengan anggun dan berbalik kembali ke kamarnya. Meninggalkan Hikaru yang berusaha keras menahan diri untuk tidak mengejar, serta para anggota tim Hokuto yang menganga, tidak tahu harus berkata apa.
"Kalian ... putus ya?" tanya Rui, mewakili yang lain.
Sungguh Hikaru tidak ingin tahu jawabannya.
.
.
"Kau payah, Sensei...," komplain Rui, ketika mereka sudah aman berada di atas futon masing-masing yang digelar di ruang go.
Berhubung rumah sebesar itu cuma punya dua kamar tidur tamu yang tidak begitu luas, Hikaru mengatur agar semua anak laki-laki (termasuk dirinya) tidur di ruang go. Kamar tamu hanya diperuntukkan bagi satu-satunya anak perempuan di tim, Satoshi Ayumi Dan-2. Kalau ia bisa tidur di kamar Akira seperti seharusnya, ia bisa saja mengatur agar tiga bocah sisanya sekamar bertiga (ia jelas tidak bisa membiarkan Rui dan Oka tidur sekamar berdua saja). Masalahnya, dengan situasi seperti sekarang ini, cari mati kalau ia mengetuk pintu kamar Akira. Jadilah ia mengalah, dan menggelar kasur di antara Rui dan Oka.
"Diam kau," ujar Hikaru. "Jangan ikut campur urusan orang dewasa!"
"Kalau aku jadi kau, Sensei, aku langsung kejar Touya-sensei dan berlutut di depannya, memohon-mohon sampai ia bosan dan terpaksa memaafkanku."
Seolah Hikaru belum melakukan itu!
"Kau tidak tahu seperti apa Akira, jadi diam saja."
"Lagipula apa sih masalahnya, sampai Touya-sensei marah begitu? Kau pasti berbuat salah lagi. Apa kau salah mencampur cucian berwarna dengan cucian putih seperti waktu itu lagi? Oh, aku tahu, kau pasti memasukkan kemeja sutera Touya-sensei ke dalam mesin cuci, kan? Atau kau terlalu banyak menyiram kaktusnya dengan teh basi?"
"Hhhh... berisik!"
Hikaru berguling dan menutupi kepalanya dengan bantal. Tapi percuma. Si Rui sial ini masih mencerocos.
"Hhhh, kalian sudah kenal berapa lama sih? Kau masih juga tidak bisa mengenal sifat Touya-sensei. Kukira kemarin kalian berlibur, kok pulang-pulang malah putus, sih? Apa jangan-jangan kau flirting dengan cowok lain, makanya Touya-sensei memutuskanmu?"
"Cukup!" Hikaru tidak tahan lagi, melempar selimut dan membentak Rui. "Sudah kubilang urusan orang dewasa bukan urusanmu!"
"Masalahnya itu urusan kami juga," Oka di sampingnya ikut buka suara. "Kita kan memakai rumah Touya-sensei."
Hikaru berdecak. "Ya sudah, pagi nanti kemasi barang-barang kalian. Kita pindah ke apartemen!"
"Eeeeeeeehhh?!" tiga bocah itu memprotes bersamaan.
"Apa sih, kan tadi kalian sendiri yang keberatan kita memakai rumah Akira!"
"Bukan keberatan, cuma menggarisbawahi!" koreksi Oka.
"Intinya kita sedang butuh rumahnya, jadi kau tidak bisa bertengkar dengan Touya-sensei!" sambung Rui.
"Ya itu sih aku juga tahu. Makanya aku suruh kalian pindah ke apartemen."
"Tapi kau berpikir tidak, mengapa Touya-sensei membiarkan kita tinggal di sini, padahal dia sedang bertengkar denganmu? Kalau aku jadi dia, jangan kata membiarkanmu memakai rumahnya, melihatmu saja aku takkan sudi!" tegas Takahashi ikut-ikutan. Kelihatannya, walau ia bukan anggota Gerombolan Touya-Shindou, ia juga awas mengenai hubungan mereka.
"Wah, terima kasih lho, Takahashi..."
"Intinya, dia pasti menunggu kau mengajak baikan," Oka mengambil alih sebelum pembicaraan menjadi tidak jelas. "Dia masih berharap dan memberi kesempatan, itu yang kutangkap. Masalah bisa tambah runyam kalau kita mendadak pindah. Bisa-bisa dia mengamuk dan tidak mau bertemu denganmu lagi."
"Huh, bicara sih mudah...," Hikaru mendesah dan kembali tiduran dengan menjadikan tangannya sebagai bantal. "Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya..."
"Yang jelas kau harus melakukan sesuatu. Kalau suasananya tidak enak begini, kami mana bisa belajar. Yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan kalian, tapi juga masa depan Tim Jepang!" dengan patriotik Rui menambahkan.
Hikaru tidak menjawab, menatap langit-langit.
.
.
Paginya, Hikaru dan anak-anak didiknya berkumpul di ruang go, siap memulai latihan pertama mereka. Hikaru sampai pada kesimpulan bahwa langkah pertama dalam berbaikan dengan Akira adalah memberi impresi bahwa ia bisa melatih Tim Hokuto dengan baik, jadi ia bertekad akan pamer keahliannya mengajar di depan Akira.
Di lain pihak, Akira kelihatannya memutuskan bahwa hal pertama yang ingin ia lakukan untuk menghukum Hikaru adalah membuatnya menderita secara emosional, spiritual, maupun seksual. Cuma itu alasannya memakai yukata untuk berkeliaran, padahal biasanya di dalam rumah pun ia memakai kemeja atau sweter. Rambut panjangnya yang halus dan lurus dikuncir di tengkuk, dengan indahnya menjurai di salah satu bahunya. Ia duduk anggun di depan goban di salah satu pojok ruang go, bermain sendiri dengan tenang sementara Hikaru mengajar anak-anak. Tapi Hikaru tahu, sejatinya ia ingin memprovokasi dan memecah konsentrasi Hikaru.
Karena satu-satunya anak yang ia kenal dengan baik adalah Oka, langkah pertama dalam menu latihan intensif hari itu adalah mengetes kemampuan anak-anak lain. Takahashi rupanya lemah dalam pertahanan, sedangkan Satoshi, wakil dari Kansai tahun ini, terlalu terbiasa menundukkan lawannya di chuuban sehingga lemah dalam yose.
Ia memberikan sedikit tips pada mereka, sementara dalam hatinya menyusun agenda untuk memperbaiki kelemahan sekaligus memperkuat kelebihan mereka. Menyebalkannya, keberadaan Akira di pojok benar-benar memecah konsentrasinya. Benar, ia hanya duduk, sama sekali tidak berkomentar pada apapun masukan dan kritikan Hikaru, bahkan tampak memperhatikan pun tidak. Tapi justru karena itu, Hikaru jadi kelewat perhatian pada hal-hal tak penting. Perbedaan ketukan biji go di goban ketika ia memberikan saran, misalnya, atau jeda yang terlalu lama antarlangkah ketika ia memberikan kritik.
Jelas, tak mungkin memprotes Akira saat ini—dia toh tidak melakukan apapun.
Situasi yang sama berlanjut selama tiga hari. Pada hari keempat, Hikaru memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru.
"Oke, kalian sudah lihat menu latihan yang kuberikan pada kalian. Itu dinamakan Menu Latihan Spesial ala Shindou Hikaru, a.k.a. latihan yang kulakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian pro. Aku tahu Rui sudah familiar dengan bentuk latihan ini, tapi kalian bertiga belum kan? Latihan ini terbukti efektif untuk meningkatkan performaku dalam waktu singkat. Asal kalian tahu saja, aku bermula dari ranking 7 Insei saat ujian kualifikasi, yang lolos hanya karena keberuntungan, menjadi lulusan tahun itu hanya dengan tiga kekalahan, yang salah satunya adalah karena aku sakit perut. Ya, ada apa, Takahashi?"
"Sensei, kami semua sudah dengar soal legenda zaman insei-mu. Aku tidak akan menggugat klaimmu bahwa latihan seperti ini efektif untuk meningkatkan kemampuan, masalahnya apa untungnya untuk persiapan Hokuto Cup?"
Oke, jadi si Takahashi ini kritis. Ia akan catat untuk latihan selanjutnya.
"Nomor satu, aku memberi kalian variasi metode latihan agar kalian tidak bosan. Waktu latihan kita panjang, aku tidak mau waktu hari pertandingan nanti, kalian sudah muak dengan go. Kedua, aku ingin kalian meningkatkan kemampuan kalian pada masing-masing bidang yang terkait dengan go. Oh ya, jangan lupa, kesehatan fisik sama pentingnya dengan kemampuan berpikir, jadi aku juga memasukkan menu senam pagi dan siang, juga olahraga lapangan setiap minggu."
Deklarasinya yang terakhir, sialnya, tidak memunculkan reaksi yang ia harapkan. Cuma Rui saja yang kelihatannya antusias, padahal dia bukan anggota tim.
"Sensei, kami tahu kau tidak seperti stereotip pemain go pada umumnya yang nerd dan lemah dalam olahraga, tapi kami iya...," ujar Takahashi, menunjuk kacamatanya.
"Makanya itu, aku akan membuatmu tidak lemah! Olahraga akan membuat staminamu meningkat dan pikiranmu lebih segar. Karena aliran darah ke otakmu lebih lancar, kau juga bisa bermain lebih baik. Lihat Ochi, dia dulu lulus dengan skor lebih baik daripada aku, tapi sekarang dia tidak pernah menang melawanku. Itu karena dia jarang olahraga dan refreshing, makanya bukan saja staminanya parah, pikirannya juga sumpek. Kalau kalah rungsing sendiri. Sama sekali tidak bisa santai sedikit saja. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit cemburu, sedikit-sedikit menuntut ini-itu. Kalau sudah marah tidak ada manis-manisnya. Ujung-ujungnya bikin kesal," di titik itu ia sudah tidak tahu bicara tentang siapa.
Rupanya hal yang sama juga dirasakan Akira, karena ia membanting biji go-nya keras sekali hingga membuat semua orang di situ tersentak, termasuk Hikaru. Ketika ia melihat ke arah pacarnya—"mantan", "pacar dengan status menggantung", "pacar tapi pisah", apapunlah—dilihatnya mata Akira yang merah membara menatapnya.
Akira sepertinya sadar ia tidak seharusnya mendengarkan, karena ia mengerjap. "Uhm, maaf," ujarnya, "tanganku selip. Silakan lanjutkan."
Ia kembali pada apapun yang sedang ia kerjakan di goban, tapi bagaimanapun satu sisi bentengnya telah runtuh. Hikaru tersenyum, tahu bagaimana ia dapat memanfaatkan kelemahan Akira.
"Nah, jelas ya. Besok pagi-pagi kita bangun dan senam. Sabtu besok, kita main sepak bola. Asal kalian tahu, waktu SD aku ini kapten, lho. Aku membawa tim sekolahku menjuarai Piala Antarsekolah di daerah Kanto. Top scorer, pula! Saat ini aku seharusnya sudah masuk timnas, jika bukan karena satu makhluk tukang paksa menyeretku ke dunia go."
Dari ujung matanya, dilihatnya Akira sudah mulai berasap, tapi ia masih kelihatan bisa mengendalikan diri. Tersenyum simpul dalam hati, Hikaru melanjutkan.
"Tiga hari ini kita sudah berlatih dengan metode standar, jadi hari ini aku ingin mencoba sedikit variasi. Oka, kemari!" ia memerintahkan sang pemain pertama maju dan mempersilakannya duduk di depan goban. Namun, alih-alih menyuruhnya melakukan nigiri (dia tidak pernah mau memberi handicap pada pemain pro, enak saja!), dia malah memberikan kedua goke pada anak itu.
"Eh?" Oka tampak bingung.
"Aku pegang putih, kau pegang hitam. Aku akan menunjukkan langkah biji putih dengan kipasku, kau pasang bijiku di titik itu. Selama permainan, kau harus bisa mengikuti alur berpikirku. Hari ini aku akan memainkan seluruh langkah, tapi besok, jika aku mengetukkan kipasku ke sisi goban, itu tandanya kau harus menebak dan memainkan langkahku. Jika salah, aku akan memukul tanganmu. Jelas?"
"Sensei!" protes Oka.
"Harus ada sedikit hukuman," cengir Hikaru.
"Tapi kan tidak harus memukul!"
"Oke, oke, aku akan mengetukkan kipasku dua kali, dan kau harus memindahkannya ke tempat yang benar. Ini akan makan waktu, jadi kau harus menebak dengan benar. Oke?"
Oka mendesah. Hikaru tahu apa yang ada dalam pikirannya, serta pikiran dua orang lain. Akira saja, yang setiap hari main dengannya, bilang strateginya sulit diprediksi. Mungkin saat ini, selain Akira, satu-satunya orang yang bisa menjegal Hikaru dengan pola permainannya yang penuh jebakan adalah Isumi.
"Oke? Nah, sementara aku main dengan Oka, kalian berdua juga coba main dengan cara ini. Terserah teknisnya seperti apa. Setelah ronde ini, kita akan bertukar pemain. Rui, kau tidak ada kerjaan kan? Bikin teh sana!"
Rui bangkit dengan bersungut-sungut, sementara dua teman lainnya mengambil posisi dan melakukan nigiri. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan baki berisi termos teh. Setelah meletakkan termos itu di lantai, ia pun duduk di samping goban Hikaru dan Oka, menonton pertandingan mereka. Itu, sebelum Akira berbelas kasih dan mengundangnya bermain melawannya.
Permainan berlangsung hingga sore, hanya dengan selingan makan dan senam siang seperti yang Hikaru janjikan.
"Kita akan mulai latihan 'membaca pikiran lawan' yang sebenarnya besok, oke?" ujar Hikaru yang disambut erangan para muridnya. "Apa? Ini benar-benar efektif, tahu! Dulu aku mulai belajar dengan hanya menempatkan biji go untuk guruku, dan setelah aku mampu merasakan alur permainan, baru aku mencoba bermain sendiri."
Tak hanya mata keempat orang di hadapannya yang membulat, ia bahkan bisa merasakan telinga Akira mencuat di belakangnya.
"Maksudmu Morishita-sensei?" tanya Rui, kelihatan bingung.
"Tidak, guruku yang pertama," jawabnya. "Ia yang mengenalkanku pada go."
"Lho? Semua bilang kau belajar sendiri!" protes Rui lagi.
"Aku punya seorang guru," akunya. "Tapi ia punya semacam ... keterbatasan, yang membuatnya tidak bisa bermain sendiri."
"Semacam ... ALS?" tanya Takahashi.
Bukan cuma Hikaru, tiga bocah lain juga kelihatan bingung.
"Itu lho... Amyotropic Lateral Schlerosis, seperti Stephen Hawking," Takahashi memamerkan pengetahuannya. Rupanya dia tipe Akira juga, tahu hal-hal di luar go. Dasar nerd.
Jujur saja, Hikaru tidak tahu apa atau siapa ALS dan Hawking itu. "Intinya, karena alasan itu juga, ia tak bisa menjadi pro. Dan tidak, Rui, aku juga tidak bisa mengatakan siapa dia. Perkaranya sangat rumit," terangnya, melihat bocah itu kelihatan sudah akan bertanya. "Karena itu pula, kalian tidak usah bilang-bilang pada orang lain, khususnya Waya dan orang-orang Weekly Go. Biar ini menjadi rahasia kita."
Wajah-wajah di depannya kelihatan tidak puas.
"Pokoknya, jika ia bisa membuatku, bocah yang bahkan tidak tahu cara memegang biji go, menjadi pro hanya dalam waktu dua tahun, tidak ada alasan aku tidak bisa meningkatkan kemampuan kalian, para pro muda terbaik Jepang, dalam waktu enam minggu menggunakan metode yang sama. Mengerti?"
Terdengar seruan dari para muridnya, dan Hikaru tersenyum puas. Latihan malam itu selesai, jadi ia mempersilakan mereka keluar untuk menyiapkan makan malam.
Hikaru bangkit dan melirik pada Akira yang masih duduk di depan gobannya, terlihat menunduk menatap goban tapi tak kelihatan masih bermain. Ia baru akan keluar ketika terdengar suara darinya.
"Sai adalah seorang difabel, begitu jawabanmu?"
"Ada yang salah dengan itu?"
"Tentu saja!" bentak Akira, bangkit untuk mengonfrontasinya. "Difabilitas seharusnya tidak membuat Sai bersembunyi. Yang ada justru seharusnya ia mendapat lebih banyak perhatian! Apalagi ia seorang Fujiwara!"
"Apa kau tidak berpikir justru karena ia Fujiwara, maka mereka akan menyembunyikannya atau semacamnya?"
"Karena menganggapnya sebagai aib? Jangan bodoh, Shindou! Kau hidup di abad berapa?! Ada begitu banyak contoh seniman, ilmuwan, olahragawan jenius yang justru makin dikenal karena mereka berbeda! Aku bisa memberikan satu contoh yang ada di ruangan ini!"
"Brengsek, Akira! Aku bukan idiot savant, bagaimanapun kalian menyebutku!" teriak Hikaru, mengepalkan tinjunya begitu kuat. "Cuma karena aku lebih bodoh darimu di semua bidang selain olahraga, dan kebetulan bagus dalam go, bukan berarti aku idiot!"
"Kau idiot karena kau bertingkah seperti itu dengan semua kebohonganmu!" balas Akira. "Sai difabel, dan karenanya tidak bisa menjadi pro... Huh. Itu sangat melecehkan bagi semua difabel dan juga bagi Ki-In! Apa kaupikir Ki-In tidak akan memfasilitasi para calon profesional berkebutuhan khusus, apalagi jika mereka sekaliber Sai? Apa kau tidak punya alasan yang lebih masuk akal, hah?"
"Apa maksudmu tidak masuk akal? Aku yang lebih mengenal guruku!"
"Dan aku juga mengenal keluargamu! Memangnya ibumu tidak pernah cerita soal kau waktu kecil? Tidak ada ia cerita soal kau punya guru difabel atau semacamnya!"
"Karena ibuku tidak pernah tahu apa yang kulakukan seharian! Jangan selalu memandangku dari kacamatamu yang buram sebelah, Akira! Tidak semua yang kukatakan soal Sai adalah kebohongan!"
"Ha! Artinya kau mengakui sebagian adalah kebohongan! Mayoritas adalah kebohongan! Kau tahu apa? Aku sudah muak dengan kebohonganmu, dengan semua rahasiamu!"
"Dan aku juga benci, benci sekali dengan sifatmu yang selalu curiga dan suka memaksa!" seru Hikaru. "Cih," ia menjalankan jemari menyisir kepalanya, menarik ke belakang poni pirangnya. "Kau tahu apa? Aku rasa memang kami tidak sebaiknya memanfaatkan kebaikan Anda lebih dari ini, Touya-sensei. Malam ini juga aku akan kembali ke apartemen. Mulai besok latihan akan dilangsungkan di tempatku, sehingga Anda tidak perlu terganggu dengan kehadiran kami. Terima kasih banyak. Selamat malam!" Dengan itu ia membungkuk tegas dan keluar ruangan dengan langkah-langkah kasar, tak lupa membanting pintu geser.
Melewati ruang dapur, dilihatnya Takahashi dan Satoshi, yang kebagian tugas menyiapkan makan malam, memandangnya dengan khawatir. Ia tidak peduli, dan langsung kembali ke kamar. Ketika ia sedang merapikan baju-bajunya ke koper, tahu-tahu pintu kamar dibuka dengan keras. Mengiringi teriakan, "Sensei!", Rui dan Oka menyerbu masuk, langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kau bertengkar lagi dengan Touya-sensei?" tuntut Rui.
"Kau ingin pergi?" tanya Oka.
"Ya," ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari apa yang sedang ia kerjakan. "Kalian juga cepat bereskan barang-barang kalian. Aku tidak mau berada di tempat sial ini lagi!"
"Tapi, Sensei...," rengek Rui.
"Bagaimana dengan rencana merayu Touya-sensei agar kalian baikan?"
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan si makhluk arogan pemarah menyebalkan itu! Dia bukan urusanku sekarang! Fokusku adalah melatih kalian menghadapi Hokuto Cup, bukan berurusan dengan apapun masalah Touya denganku," ia menutup kopor dan menguncinya dengan kasar. "Kalian jadi ikut tidak?"
"Uhm, Sensei... Mungkin sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik...," ujar Oka. "Pergi saat kepala panas takkan menyelesaikan masalah..."
"Ya. Silakan katakan itu pada Touya, dia yang terlebih dahulu kabur begitu saja dari pertengkaran. Dua kali," Hikaru mendesis. "Oke, terserah kalian mau pergi sekarang atau besok. Yang jelas besok kutunggu kalian di tempatku, jam biasa!"
Dengan itu, ia menggerek kopernya keluar dari rumah terkutuk itu, bahkan tanpa terlebih dahulu memesan taksi. Dan ponselnya juga tertinggal di dalam! Malas kembali, ia memutuskan berjalan kaki ke perempatan tempat ia lebih punya kesempatan untuk mendapatkan taksi.
Sialnya, di saat begini, justru hujan turun. Dengan kesal, Hikaru menyeret kopernya ke halte terdekat untuk berteduh.
Dingin membuatnya menggigil, dan air hujan membasahi wajahnya. Tidak, ia tidak menangis. Ia tidak akan menyia-nyiakan air matanya untuk Akira.
Ia menutupi wajah dengan telapak tangan, menahan teriakannya.
.
.
Notes:
Oke, hari ini double update...
Please review...
