Chapter 9. Asing
.
Ia bangun ketika didengarnya suara bel di pintu apartemennya. Mengucek mata, ia lekas keluar kamar tanpa membereskan tempat tidur, menuju sumber suara. Masa bodoh, tak ada Touya di sini, tidak ada yang akan memarahinya hanya karena ia tidak melipat selimut. Beginilah rasanya kebebasan!
Ponselnya yang terjulur dari tangan Rui menyambutnya ketika ia membuka pintu. Keempat anak itu sudah berdiri di depan pintu apartemennya, dengan koper dan ransel masing-masing.
"Kau sengaja meninggalkannya, Sensei? Ponselmu bunyi semalaman, kami sampai harus meredamnya di bawah tumpukan futon."
"Terima kasih," ia mengambilnya dari tangan Rui. "Seharusnya kau cukup mematikan atau mencopot baterainya. Ah, kaulempar juga tidak apa-apa, sih. Biar makhluk itu tahu rasa," gerutunya. "Lagipula dia harusnya tahu kalau ponselku tertinggal, jadi dia tidak perlu menelepon terus."
"Dia kan tinggal di ujung lorong, mungkin terlalu jauh jadi tidak kedengaran," tunjuk Rui, menekankan pada kata 'dia' seolah mengejek Hikaru, seraya memimpin teman-temannya memasuki apartemen. "Omong-omong, Touya-sensei juga bangun pagi ini dengan mata bengkak. Pasti ia juga menyesal dan menangis semalaman."
"Siapa peduli dia mau menangis kek, mau guling-guling kek... Mau terjun ke sungai juga aku tidak peduli!" seru Hikaru.
"Yakin?"
"Tentu saja aku yakin! Aku tidak ingin namanya disebut! Aku sudah tidak mau kenal dengannya lagi!"
"Sensei..."
"Kenapa juga kalian malah mengurusi makhluk sial itu? Kalian kan kemari untuk latihan! Ayo sana siap-siap! Satoshi, berhubung satu makhluk tidak penting mengubah kamar tamu jadi gudang buku, kau bisa taruh kopermu di kamarku. Kalian cowok-cowok bisa taruh koper di ruang buku. Rui, kau dan aku nanti tidur di sofa bed, soalnya futon di ruang go hanya ada dua. Jangan harap aku akan membiarkanmu tidur sekamar dengan Oka!"
"Um... Kalau kau masih merasa kurang enak, kau bisa istirahat, Sensei..." ujar Oka sok perhatian.
"Dan membiarkan kalian membolos? Enak saja!"
"Kami bisa kok berlatih sendiri..."
"Lalu apa gunanya ada aku sebagai pelatih? Nanti kalian bilang-bilang lagi ke Ki-In, dan si makhluk reseh satu itu akan mengataiku tidak profesional dan tidak bertanggung jawab, blablabla..."
Keempat anak itu tampak berpandangan dengan khawatir, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Aku siap-siap dulu. Kalian segera siapkan goban!" perintahnya, yang dibalas anggukan lesu tidak bersemangat.
.
Hari ini sepertinya air conditioner sedang rusak, panas dan tekanan yang ia rasakan sama sekali tidak mengenakkan. Sudah begitu, ditambah lagi anak-anak bermain sangat buruk. Mereka tidak bisa menebak sama sekali alur strateginya. Hikaru dengan kesal mengetuk-ngetukkan kipasnya ke goban, memaksa mereka merevisi langkahnya berkali-kali.
Hal yang sama terus terjadi berulang-ulang. Pada hari ketujuh latihan intensif mereka, ia sudah merasa tidak sabar lagi.
"Kau itu bagaimana, sih!" teriaknya. "Mana mungkin aku jalan di situ, itu kan langsung membiarkanmu memotong areaku sendiri!"
"Sensei, kami belum selevel denganmu, mohon sedikit menahan diri...," ujar Satoshi agak mengkeret.
"Apa maksudnya tidak selevel?"
"Anu..."
"Jangan biarkan apapun, termasuk gelar, mengintimidasi kalian! Go itu permainan mental! Mau melawan Honinbou kek, Kisei kek, Meijin sialan kek, semua pro itu setara!" tegasnya.
Sambil berdecak, ia kembali mengetukkan kipasnya ke goban, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Satoshi melonjak, dengan gemetar memindahkan biji putih.
"Kalian sebut diri kalian pro, dan kalian tidak bisa melawan idiot sepertiku? Menyedihkan! Begini masa depan go Jepang? 15-4!" serunya tak sabar, melihat Satoshi meletakkan biji putih di tempat yang salah untuk keempat kalinya.
Satoshi tampak pucat dan langsung menyerah detik itu juga, yang jelas membuat Hikaru makin meradang.
"Bodoh, belum saatnya kau menyerah!" ia menjangkau ke sisi lain goban, mengambil kedua goke dan menata biji-bijinya secara bergantian di papan. "Lihat, jika kau jalan di sini, dalam 50 langkah kau bisa menyudutkanku! Jika kau jalan di sini sebelum langkah ke-20, kau juga bisa menjebakku di sini dan mengklaim teritoriku. Jika ternyata aku maju di sini, kau bisa menahanku dengan atari di sini." Ia masih memainkan beberapa variasi dengan kedua batu. "Jelas?"
"Uh..."
"Apa itu maksudnya 'uh'? Memangnya kau tidak kepikiran?"
"Sensei, kumohon jangan lampiaskan kemarahanmu pada Touya-sensei pada kami...," ujar Oka, memberanikan diri mengutarakan aspirasi teman-temannya.
"Aku tidak melampiaskan apapun!" kilah Hikaru. "Dan sudah kubilang jangan sebut-sebut nama orang itu di hadapanku!"
Ia menyortir biji-biji go di atas papan dan mengembalikannya ke tempatnya, menepis pelan tangan Satoshi ketika gadis itu mencoba membantunya. Ia butuh berpikir.
"Sudah jelas metode ini tidak seberhasil yang aku bayangkan, jadi kita akan coba cara lain," ujarnya. "Kita akan break dulu. Kebetulan besok kalau tidak salah ada pertandingan Jyudan Isumi versus Ogata. Kita akan ke Ki-In untuk menonton, siapa tahu kalian bisa belajar satu-dua hal."
Para muridnya berpandangan, tapi mereka tidak bicara apa-apa.
.
.
Waya dan Isumi, sang penantang Jyudan, melambai padanya dari ruang tunggu Ki-In ketika melihat pintu elevator terbuka. Hikaru bergegas keluar dari kotak besi itu, meninggalkan anak-anak yang menguntit di belakangnya, jelas kelihatan sangat gugup.
"Wow, Isumi Jyudan! Keren sekali!" pujinya.
"Ini baru pertandingan kedua...," senyum Isumi. "Setelah ini masih ada tiga pertandingan lagi."
"Satu, kalau kau menang yang ini dan berikutnya. Sudah saatnya memang si Ogata itu turun takhta! Tolong menangkan ini, Isumi! Soalnya tahun depan aku akan merebutnya darimu!"
"Wow, sungguh kata-kata penyemangat yang bagus, Shindou," Isumi tertawa. "Jangan-jangan kau sengaja mengumpankanku melawan hiu supaya kau bisa merebut Jyudan dengan mudah tahun depan?"
"Kalau aku bisa mengalahkanmu," kekeh Hikaru. Ia sudah tidak getir lagi dengan kekuatan baru Isumi, terlebih setelah ia mendengar dari Waya betapa keras upaya Isumi untuk meningkatkan kemampuan agar dapat melawannya. Tak lain, ia berguru pada program komputer kreasi Yang Hai, yang kabarnya dikembangkan berdasarkan kifu pertandingan s a i di internet.
Yang berarti ia dan Isumi adalah saudara seperguruan, kalau begitu. Hahaha, beginilah rasanya menjadi seorang senpai!
Saat itu bel elevator kembali berdenting, membuat mereka menoleh ke sumber suara. Pintu membuka, memperlihatkan tak lain tak bukan, sang Meijin.
Waya mengangkat tangan. "Oi, Tou..."
Makhluk itu membelalak melihat Hikaru, dan seperti Hikaru duga, ia langsung menekan tombol untuk kabur dari pertarungan. Pintu elevator menutup dengan denting menyebalkan.
Elevator kembali bergerak membawa si pengecut itu pergi, meninggalkan Hikaru yang mendengus kesal serta Waya dan Isumi yang bertampang bingung. Tangan Waya masih setengah terangkat.
"Kalian bertengkar lagi ya?" adalah Isumi yang pertama kali memecah kebekuan.
"Masalah yang sama?" tanya Waya.
"Yah, biasalah...," gumam Hikaru. "Sama sekali tak perlu kaupikirkan, Isumi. Yang penting kau harus kalahkan Ogata hari ini, oke? Kita harus buktikan pada kelompok Touya bahwa kita tidak akan pernah kalah melawan mereka!"
Isumi yang kelihatan bingung berpandangan dengan Waya. Tentu saja, Isumi tahu mengenai persaingan sepihak antara kelompok Morishita dan Touya—Morishita-sensei, bagaimanapun, masih menganggap Hikaru bagian dari mereka dan makin besar kepala setelah Hikaru berhasil mengumpulkan lebih banyak gelar ketimbang rivalnya. Tapi masalahnya, siapa yang Hikaru maksud dengan 'kita'? Isumi jelas bukan bagian dari kelompok Morishita. Dan walaupun Isumi dan Waya acap hadir di study group Touya-Shindou, secara teknis, yah, itu adalah kelompok Touya-Shindou.
"Omong-omong, kok Yang Hai tidak datang?" Hikaru memandang berkeliling, mencari wajah si maniak komputer pacar Isumi itu.
"Ia sibuk," jawab Isumi. "Tapi ia berjanji akan melihat pertandingan ketigaku kalau aku menang hari ini. Oh ya, ia titip salam untukmu. Katanya ia mau kau mencoba versi beta programnya, barangkali kau punya masukan."
"Oh, ia akan membolehkanku melawan Sai?" Hikaru langsung antusias.
"Sai?"
Hikaru menunduk malu. "Yah, Waya bilang kan program go Yang Hai dikembangkan dari kifu s a i, jadi..."
"Hmmm... SAI... Superior, atau mungkin Supreme Artificial Intelligence... Bagus juga," tekur Isumi. "Oke, akan kusampaikan pada Yang Hai."
"Ah, betul juga!" Hikaru tiba-tiba menepukkan tinjunya ke telapak tangan. "Bagaimana kalau kaurayu Yang Hai agar mengijinkan murid-muridku menjadi beta-tester?" ia menunjuk pada rombongannya, yang sedari tadi hanya diam di belakang dengan kikuk.
Disebut untuk pertama kali di hadapan para pro kelas atas, keempat muridnya langsung membungkuk memberi salam.
"Oh, para anggota Hokuto Cup!" seru Waya. "Oka, Takahashi, dan ... Satoshi, bukan? Nah, Rui, ngapain kau di sini? Bukannya kau kalah di penyisihan?"
Rui menjawab dengan ceria, "Aku pemain cadangan," sementara Hikaru menukas, "Dia kutugaskan membuat teh!"
Waya terkekeh. Di grup mereka, sudah bukan barang baru bahwa Rui selalu dijadikan kacung. Hikaru dan Waya senang sekali bersikap seolah-olah mereka mem-bully-nya, di bawah hidung Akira yang menentang keras segala bentuk per-bully-an. Bukan karena Rui paling lemah, tentu, justru sebaliknya. Karakter Rui yang seenaknya sendiri, kadang kasar, dan selalu ceria sering mengingatkan Hikaru pada dirinya sendiri. Diam-diam, ia menganggap Rui sebagai adik yang tak pernah ia dapatkan.
"Intinya, kau ikut latihan intensif untuk menghadapi Wakajishisen, ya? Wah, yang lain harus hati-hati, nih!" ujar Waya.
Wakajishisen terasa bagai memori yang begitu jauh. Di kelompok mereka, justru Waya yang setahun lebih tua dari Hikaru-lah yang paling lama ikut dalam ajang tersebut, mengingat ia baru mencapai Dan-6 pada usia 21. Ia bahkan sempat menjuarai ajang itu dua kali. Hikaru saja hanya sempat menjuarai ajang itu sekali, tahun 2004, itu pun gara-gara Akira sang juara bertahan tiga tahun berturut-turut dinyatakan tidak berhak ikut karena keburu mencapai level Dan-6.
Berkat sistem baru yang diberlakukan sejak 2003, pada 2005, Hikaru dipromosikan sebagai Dan-7 berkat keikutsertaannya dalam Liga, menyusul Akira yang mendapatkan promosi yang sama tahun sebelumnya. Untuk Akira yang memang langganan menjuarai turnamen-turnamen yang lebih kecil, promosi itu tidak begitu signifikan, mengingat ia sendiri sudah mencapai Dan-6 saat itu. Tapi bagi Hikaru yang melompat tiga tingkat sekaligus, promosi itu lumayan menghebohkan. Tahun itu pula, Akira merebut gelar Meijin, yang membuat levelnya kembali dinaikkan menjadi Dan-9. Hikaru harus puas hanya menjadi Dan-8 sebagai challenger di Turnamen Honinbou, tapi ia merasa bahagia bisa membalas Akira dengan melambai-lambaikan dua gelar tahun berikutnya.
"Hmmm, Shindou, soal beta-tester tadi... Aku tidak yakin bisa sih," Isumi mengembalikan pokok pembicaraan yang sudah melantur, selagi mereka berjalan ke ruang pertandingan. "Apalagi kalau kaubilang untuk persiapan Hokuto. Kau tahu, Yang Hai juga menjadi pelatih untuk Tim China, jadi..."
"Maksudmu ia menggunakan SAI untuk melatih Tim China? Apa-apaan itu, aku tidak setuju!"
Wajah Isumi jelas-jelas mengatakan, "Siapa kamu?" tapi karena ia orang yang sopan, ia hanya menunjuk, "Program itu kan buatannya..."
"Tapi Sai itu orang Jepang! Jepang! Kalau ia mau pakai programnya untuk melatih timnya, kenapa ia tidak pakai kifu salah seorang shifu go dari negaranya saja?"
Tak terasa mereka sudah mendekati Yugen no Ma. Beberapa aparatur pertandingan sudah tiba dan tengah bersiap-siap, rupanya. Di antara mereka, tampak musuh hari itu, Ogata Kisei-Tengen-Jyudan, sedang asyik berbincang bersama—tak lain tak bukan—Akira. Dengan suram, Hikaru menyadari bahwa Ogata adalah "kakak seperguruan"—uh, "mantan kecengan pertama"—Akira, jadi tentu saja ia datang untuk mendukung sang musuh.
Hikaru ingin berdecih. Kelihatan benar Akira ingin menghindarinya, kan? Tadi langsung kabur pakai elevator, pastinya ia kembali lagi pakai tangga darurat. Rasakan, biar saja ia kecapaian. Ia toh tahu seperti apa stamina cowok yang olahraganya cuma mengangkat batu go dan push-up di atas ranjang itu.
Ogata dan Akira tampaknya sadar akan kehadirannya, karena mereka berhenti berbincang dan menoleh ke arahnya. Ogata menampakkan seringainya yang menyebalkan, sementara Akira langsung membuang muka.
"Oh, siapa lagi kalau bukan sang Honinbou dan kawanannya? Standar, pagi-pagi sudah berisik," salam Ogata. Hikaru tidak membalas. Tatapannya tajam pada Ogata. Apa yang mereka bicarakan tadi?
Ogata tidak terpengaruh pada tatapan intens Hikaru, atau ketidaksopanannya, dan beralih pada anggota rombongan lain yang seharusnya menjadi bintang hari ini.
"Ah, Isumi-san," salamnya.
"Ogata-sensei, selamat pagi," Isumi membungkuk, diikuti yang lain kecuali Hikaru. "Semoga sukses untuk pertandingan hari ini."
"Semoga yang terbaik menang," balas Ogata dengan nada arogannya yang biasa.
Jujur, Hikaru sudah sama sekali tidak asing dengan sikapnya yang setengah mengintimidasi itu. Makin ia mengintimidasi orang, makin ia menganggap orang itu berharga. Kalau sikapnya pada Isumi sama seperti sikapnya pada Hikaru, artinya ia mengakui kemampuan Isumi.
"Oh, Shindou," Ogata kembali bicara padanya, "aku sudah dengar mengenai Fujiwara-san. Turut berduka cita, sayang sekali aku tidak berkesempatan melawannya."
Brengsek si Akira itu! Kenapa ia membocorkannya pada Ogata?
Hikaru mengalihkan pandangannya pada Akira dengan mata menantang. Untungnya, orang itu masih tahu diri untuk menunduk.
"Ah, Ogata-san, aku harus pergi," Akira tampak jengah dengan pelototan Hikaru dan memutuskan memakai jurus paten langkah seribunya. "Semoga sukses untuk pertandingan hari ini. Permisi, Ogata-san, Isumi-san, Morishita-san, Takahashi-kun, Rui-kun, Oka-kun, Satoshi-chan," ia membungkuk sebelum undur diri, melewati Hikaru begitu saja seolah ia tidak ada di situ.
Apa maksudnya, mendata semua orang tapi melewatkan dirinya? Brengsek.
Ia sudah akan berbalik untuk mengejar Akira, tapi tahu-tahu Ogata berdiri begitu dekat padanya, bicara dengan suara berbisik, "Aku sudah menyuruh orang-orangku mencari informasi mengenai Fujiwara-san. Sebaiknya orang ini non-fiktif dan sesuai dengan apa yang kausampaikan. Karena kalau tidak, atau lebih parah lagi, kalau ia masih hidup dan kau berusaha menyembunyikannya..."
Ia membiarkannya ancamannya menggantung, dan segera undur diri untuk memasuki ruangan. Isumi kelihatan menyadari keanehan ini, tapi ia tak membiarkan itu mengganggunya di depan sebuah pertandingan penting. Diiringi ucapan semoga sukses, ia memasuki ruangan dengan tenang, tapi dengan mata penuh determinasi.
Waya memimpin rombongan kecil mereka menuju ruang menonton. Walau pertandingan kali itu adalah pertandingan kedua perebutan gelar, yang cukup menegangkan karena pertandingan pertama dimenangkan oleh Isumi, rupanya tak banyak orang di ruangan itu. Hanya ada Amano, Kosemura, dan Kurata, yang dikalahkan Isumi di perempat final.
"Shindou!" seru Kurata begitu melihatnya, memberikan kode agar ia duduk di hadapannya di muka goban. "Bagaimana menurutmu Isumi?" tanpa basa-basi, ia bertanya begitu Hikaru mengambil tempat duduk yang ia tunjukkan.
"Brilian."
Meski ia meniatkannya sebagai pernyataan yang penuh antusiasme, entah mengapa itu keluar dengan datar. Pasti itu diartikan sebagai kegetiran karena ia gagal menjadi challenger tahun ini, karena Kurata berujar, "Jangan khawatir, Shindou. Masih ada Tengen dan Kisei. Yah, itu kalau kau masih bisa bertahan melawan aku dan Touya. Oh, aku juga berniat untuk merebut kembali Gosei darimu," seperti biasa ia masih terlalu percaya diri.
Seperti apa jika seorang pemegang titel tumbang? Apa ia harus menempuh kembali Penyisihan Pertama, atau bertanding merebut kursi penantang di Liga? Mungkin Hikaru harus mencari tahu tentang hal ini, mengingat sangat mungkin Akira akan berusaha berkali lipat untuk menjatuhkannya tahun ini.
Terserah, kalau Akira masih bersikukuh menghindarinya, setidaknya ia harus berada dalam satu ruangan selama sekian jam bersamanya kalau mau merebut titelnya. Kalikan itu dengan jumlah pertandingan dan jumlah titel. Rasakan! Oh, belum lagi perebutan gelar Honinbou berlangsung dua hari per pertandingan. Rasakan pangkat dua!
Oh, jangan harap ia takkan berusaha untuk merebut gelar Meijin juga. Mungkin juga kan mereka akan bertemu di Penyisihan Tengen dan Kisei?
Sepanjang mereka masih berada di tempat kerja yang sama, Akira takkan mungkin bisa menghindarinya terus.
Kurata masih mencerocos panjang lebar mengenai kekagumannya pada perkembangan Isumi. Kalau tidak tahu benar, mungkin Hikaru akan menyangka Kurata naksir Isumi. Yang agak tidak terbayangkan, kalau mau jujur. Kurata tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada siapapun, perempuan ataupun laki-laki, selain dirinya sendiri. Dia penderita narsisme akut yang seharusnya ada di institusi mental, bukan di institut go.
Ah, mungkin ini akan berhasil.
"Ah, Kurata," Hikaru memotong di saat yang tepat sebelum Kurata mulai mencerocos lagi. "Kau tahu tahun ini aku melatih Tim Jepang untuk Hokuto Cup kan? Yah, karena kau terlalu sibuk dengan liga dan lain sebagainya..."
Itu terdengar seolah-olah Kurata adalah pilihan pertama kan?
Kurata mengangguk.
"Nah, anak-anak ini," ia menunjuk pada empat bocah yang duduk di meja sebelah, "amat menanti-nanti bisa bertemu dengan orang yang ada di balik kemenangan Tim Jepang secara berturut-turut dua dan tiga tahun lalu. Kau tahu, orang yang melatih-ku," ia menekankan.
Lubang hidung Kurata kelihatan mengembang. Nah, bagus.
"Kalau ada waktu, bagaimana kalau kau memberi mereka sedikit saran? Yah, mungkin kalau mereka bisa berlatih tanding dengan orang yang lebih berpengalaman sepertimu, mereka bisa mendapat satu dua pelajaran..."
"Wah, boleh juga," Kurata tampak tertarik. "Biar kulihat jadwalku ya..."
"Nah, aku juga punya beberapa ide soal metode latihan..."
Pembicaraan mengalir masuk ke urusan latihan persiapan menghadapi Hokuto Cup, di sela-sela pembahasan mengenai langkah Isumi dan Ogata yang disaksikan lewat layar televisi. Pada duapuluh langkah memasuki chuuban, Hikaru berhasil mengantongi nama dua orang yang akan membantunya menggantikan Akira menjadi lawan tanding anak-anak: Kurata dan Waya.
Mungkin nanti ia bisa melobi Isumi, Nase, dan Fuku.
Tersenyum senang, Hikaru mengembalikan perhatian ke layar. Isumi kelihatannya berhasil mengintegrasikan pola permainan Sai untuk menguatkan pola permainannya sendiri, dan ia merajai chuuban. Dalam hati Hikaru turut bangga pada kouhai-nya itu.
Tahun ini, ia yakin Ogata akan tumbang.
.
.
Pertandingan tengah mencapai puncak ketika pintu terbuka, dan satu sosok tampak di ambangnya. Para anggota tim Hokuto beserta empat orang dewasa yang ada di situ lekas memberi salam dengan heboh, sementara Hikaru hanya bisa terpana. Dadanya berguruh kencang.
"Shindou-san," suara Touya Meijin Ad Honorem mengguruh dalam ruang kecil itu. "Kalau ada waktu, bisa bicara sebentar?"
Sedang apa Touya-sensei di sini? Sejak kapan ia datang? Kok ia tidak pernah dengar ia akan datang, bukankah ia seharusnya ada di China? Mengapa ia ingin bicara dengannya? Di sini, di Ki-In? Apa ia sudah dengar dari Akira bahwa mereka putus? Huh, apa ia dan Akira sudah putus?
Dengan sejuta pikiran berkecamuk, Hikaru mengangguk lamat-lamat, kemudian bangkit dan mengekor Touya-sensei. Semua orang di situ tampak bingung, Waya malah kelihatan was-was, tapi tak ada yang berkomentar apapun.
Mantan ayah mertuanya itu—atau masih, atau malah memang pada dasarnya belum, ia tidak terlalu mengerti masalah teknis di sini—mengajaknya keluar Ki-In, menyusuri toko-toko yang berderet di gedung sebelahnya, kemudian duduk di halaman depan sebuah kafe. Oh ya, sudah hampir jam makan siang, Hikaru terlambat menyadari. Seharusnya, di dalam juga, pertandingan sebentar lagi akan dijeda.
Sang Meijin memesan secangkir kopi, sementara Hikaru yang terlalu tegang tidak tahu harus memesan apa, dan berujung pada menu yang sama. Padahal ia tidak suka kopi, kalau mau jujur.
"Kudengar kau dan Akira berpisah?"
Serahkan pada sang Meijin untuk langsung ke intinya.
Brengsek Akira! Mengapa juga ia pakai mengadu pada ayahnya?
"Uhm," Hikaru merasa tangannya berkeringat. "Saya ... masih tidak begitu jelas," akunya, tak berani memandang mata Touya-sensei. "Saya ... belum bicara lagi dengan Akira sejak ... uhm..." Tiga hari? Seminggu? Apa definisi 'bicara' di sini?
"Apa kau memang ingin berpisah dengan Akira?"
Ia makin menunduk. Apa ia ingin berpisah dengan Akira? Apa ia ingin kembali bersama Akira?
"Saya masih mencintai Akira..." jawab Hikaru. "Tapi... Semua ini... Rasanya..."
Touya-sensei kelihatannya sudah tidak sabar dengan ketidaktegasan menantunya itu, karena pertanyaan berikutnya langsung menyodok keras ke titik yang paling sensitif.
"Hikaru, tolong jawab dengan jujur. Apa ada orang ketiga?"
Orang ketiga?
"Tidak!" serunya, mengangkat kepalanya begitu cepat. "Sama sekali tidak ada orang ketiga. Saya takkan melakukan itu pada Akira!"
"Lalu apa sebenarnya masalah antara kau dan Akira?"
Di situ Hikaru bingung untuk menjawab. Apa sebenarnya masalahnya dengan Akira? Apa sebenarnya masalah Akira dengannya?
"Apa ini karena apa yang kukatakan pada makan malam tahun baru? Apa ini karena permintaanku agar kalian menikah? Jika memang benar begitu, aku minta maaf."
Hikaru mengetatkan kepalan tangan di pangkuannya—oh, ia bahkan tidak sadar tangannya terkepal. Tidak ada jalan lain, ia harus mengatakannya.
"Touya-sensei, maafkan saya. Saya..."
Justru di titik itu, tiba-tiba terdengar seruan, "Ayah!" dari ujung jalan. Akira, seperti biasa tidak peduli jika ia menjadi tontonan orang, berlari mendekati mereka dengan langkah-langkah panjang dan memburu. Begitu tiba, masih dengan napas tersegal-segal, ia memandang dari ayahnya ke Hikaru, dengan cepat berusaha menilai situasi.
Tiba-tiba Akira membungkuk dengan sikap sangat formal, hingga Hikaru saja kaget.
"Ayah, masalah antara aku dan Shindou, biarlah menjadi urusan kami. Aku berterima kasih atas perhatian Ayah, tapi mohon untuk tidak campur tangan dalam hal ini. Kami berdua sudah sama-sama dewasa, dan aku bukan anak gadis perawan yang harus Ayah lindungi."
Akira kembali menegakkan tubuhnya, dan memandang lurus pada ayahnya. Matanya sama penuh determinasinya seperti yang ia perlihatkan di atas goban. Kedua ayah dan anak itu saling berpandangan dengan intens, berkomunikasi tanpa kata-kata yang hanya mereka sendiri pahami isinya, sebelum akhirnya Touya-sensei menyerah.
"Baiklah. Benar katamu, aku tidak seharusnya ikut campur."
"Terima kasih, Ayah!" jawab Akira tegas.
"Kalian berdua adalah putraku. Aku hanya berharap kalian menangani masalah ini dengan bijaksana. Aku tidak mau kalian merusak diri kalian masing-masing."
"Baik, Ayah."
Dengan itu Touya-sensei mengucapkan selamat siang padanya dan undur diri. Akira berpaling padanya dan membungkukkan badan, bicara dengan nada tak kalah formal seperti nadanya pada sang ayah.
"Shindou-san, maaf telah mengganggu waktumu. Kami mohon diri," ujarnya.
Hikaru merasa ini saatnya. Hanya ini saatnya, atau tidak sama sekali.
"Akira, tunggu!" serunya, ketika Akira sudah berbalik dan hampir meninggalkannya, lagi. "A-Akira ... uhm, kapan kau akan kembali ke rumah? Aku ... uh, aku... Uhm, tanaman kaktusmu hampir mati, aku tidak tahu cara merawatnya. Dan... "
Dan apartemen kita tidak lagi terasa seperti rumah, kini saat kau tidak ada. Aku harus berbagi sofa dengan Rui yang suka mengorok dan menendangku tengah malam ke lantai. Aku terus-terusan merasa kesepian dan ketakutan. Akira, aku butuh kau dalam hidupku.
Akira tidak menjawab. Hikaru ingin sekali menggamit tangannya, memeluknya, apapun untuk membuatnya tetap di sini, berpaling padanya, memeluknya kembali dengan intensitas seperti dulu. Kemudian terdengar tarikan napas, dan Akira berujar bahkan tanpa menoleh padanya, "Aku sudah kembali ke rumah," lantas bergegas pergi menyusul ayahnya.
Hikaru tersuruk di kursinya. Hatinya begitu perih bagai ditikam dengan pisau beracun.
.
.
Notes:
Hai, aku update lagi...
Dari kemarin aku susah banget update, jadi baru hari ini bisa. Kalo ada yang bingung soal cerita hari ini, yup, Akira dan Hikaru lagi berantem, tapi apa mereka pisah? Nah, kayaknya Hikaru sendiri ga yakin tuh... Menurut kalian gimana? Apa Hikaru lebay? Ato Akira yang lebay? Komen yah...
Review please?
