Chapter 10. Atari

.

Berita bahwa Isumi menang dengan skor 2-0 melawan Ogata dalam perebutan gelar Jyudan menjadi headline Weekly Go minggu itu, serta menjadi pembicaraan panas di nyaris setiap sudut Ki-In dan salon go yang Hikaru tahu. Terlebih, Ogata sudah 6 tahun menduduki gelar tersebut, menendang jauh-jauh setiap penantang yang berani-berani mencoba menyentuhkan tangan di takhtanya. Akira dua kali menjadi penantang dan dua kali juga kalah. Hikaru sempat disebut-sebut sebagai penantang yang paling berpotensi untuk merebut gelar itu darinya, terlebih setelah sebelumnya berhasil merebut Honinbou dan Ouza, tetapi ia pun harus menelan pil pahit kekalahan. Tahun ini adalah kali kedua Isumi berhadapan dengan Ogata dalam perebutan gelar, tapi berbeda dengan dua tahun lalu ketika ia langsung didepak begitu saja dengan skor 3-0, kali ini sepertinya ia sangat berpotensi untuk bisa menjadi Jyudan baru.

Waya, sebagai ketua kampanye 'Isumi untuk Jyudan 2008', mengundang Hikaru untuk minum-minum menyambut kemenangan kedua Isumi di sebuah pub kecil dekat apartemen Isumi. Meski September tahun kemarin sudah menginjak 20, Hikaru belum pernah minum-minum apalagi ke pub—riwayat minum alkoholnya sangat terbatas pada secangkir sake pada makan malam tahun baru dan hanami bersama keluarga Touya tahun lalu, setengah kaleng bir yang dipaksakan Waya pada ulang tahunnya yang ke-20, serta beberapa gelas wine dalam upayanya untuk merayu Akira ke tempat tidur. Tapi karena ini demi Isumi, ditambah tidak ada Touya si cerewet itu, ia pun menyanggupi memenuhi undangan Waya.

Huh, serahkan pada Waya yang masih sempat-sempatnya menyelenggarakan acara minum-minum, padahal istrinya tengah hamil enam bulan.

Berhubung acaranya di pub, pesta malam itu hanya dihadiri oleh para pro yang sudah cukup umur di lingkaran mereka, yang berarti tidak ada Ochi dan Fuku. Selain Isumi, Waya, dan Hikaru, hanya ada Nase, Kurata, dan Saeki. Dan di mana ada Saeki, di situ juga ada Ashiwara.

Saeki dan Ashiwara adalah Romeo dan Juliet dalam skema perseteruan sepihak antara kelompok Morishita dan Touya—selain Hikaru dan Akira, tentu—kecuali bahwa mereka straight. Um, Saeki straight, sepertinya, sedangkan Ashiwara agak tidak jelas. Oke, dipikir-pikir, mungkin keduanya memang agak tidak jelas. Hikaru mendengar bahwa Ashiwara pernah punya cewek, tapi familiaritasnya dengan Akira agak-agak mencurigakan, hingga Hikaru kadang ingin menonjoknya. Tentu saja, setelah Hikaru dan Akira jadian, Ashiwara menghormati batas lingkaran yang mereka bangun, tapi jujur saja, Hikaru kadang masih cemburu dengan betapa akrabnya ia memanggil putra gurunya hanya dengan nama kecil.

Karena posisinya yang unik itulah, Ashiwara sering menjadi informan dalam atas apapun yang terjadi di kelompok Touya. Termasuk kali ini. Bahkan sebelum ditanya, Ashiwara sudah menceritakan gosip terbaru dan terpanas mengenai Akira.

Tidak, ini bukan soal perpisahan 'pasangan emas' Touya-Shindou. Atau seperti tajuk berita Weekly Go edisi terbaru, di halaman empat setelah berita tentang kemenangan Isumi: "Retaknya Aliansi Dua Pangeran Go: Persitegangan antara Touya Meijin dan Shindou Honinbou".

Serius, koran itu sudah jadi tabloid gosip sekarang.

"Jadi, rencananya mulai minggu depan, Akira akan ikut ayahnya ke China," Ashiwara memulai reportasenya.

Minggu depan?

"Kalau tidak salah, Touya masih ada Penyisihan Ketiga Tengen dan Kisei kan? Juga ada Liga Honinbou dan Gosei. Masa iya ia mau berlibur di saat begini?" bukan Hikaru yang mengatakannya, melainkan Waya.

"Tidak, tidak, bukan berlibur," Ashiwara mengibaskan tangan di depan hidungnya. "Dia memang akan pindah ke China. Kabarnya sih, ia akan mengundurkan diri dari Ki-In."

"Mengundurkan diri?!" Bukan cuma Hikaru, yang lain juga sama kagetnya. Waya bahkan sampai menyemburkan bir yang sedang ditegaknya.

"Apa maksudnya mengundurkan diri?!" seru Waya.

"Apa bisa dia mengundurkan diri begitu saja? Bukannya ia harus mempertahankankan gelar Meijin?" tanya Kurata.

"Bagaimana dengan posisinya di Liga?" Saeki ikut bicara.

"Kalau soal gelar, dulu sewaktu Touya-sensei pensiun, Ki-In memperbarui sistem untuk menentukan pemegang gelar baru jika pemegang gelar lama pensiun atau meninggal kan? Nah, Akira bilang toh ia hanya memegang satu gelar, jadi seharusnya tidak banyak masalah. Ayahnya saja dulu memegang empat gelar, tapi ia tetap bisa pensiun. Kalau soal pertandingannya di Liga, tentu saja ia bisa dianggap kalah WO."

"Tapi, mengapa?" tanya Nase.

"Dia bilang, ia sudah tidak lagi punya alasan dan motivasi untuk ada di Jepang. Jika sudah begitu, go-nya jadi tak bermakna. Tak ada alasan lagi untuk meneruskan karir di sini, dia ingin pergi untuk mencari go-nya yang baru."

Ashiwara jelas menujukan ucapannya itu pada Hikaru, tapi Hikaru berpura-pura tidak menyadari. Memasang tampang tak peduli, ia menyibukkan diri menuang minuman ke gelasnya.

Ia bisa merasakan pandangan tak hanya Ashiwara, tapi juga semua orang di meja itu. Hubungan mereka, baik sebagai rival maupun kekasih, sudah menjadi rahasia umum bahkan sebelum mereka resmi jadian. Kini ketika Akira mendadak berniat pergi dan Hikaru menampakkan sikap apatis, sudah pasti mereka mencium ada sesuatu yang salah.

Dan tentu saja, mereka pasti sudah membaca Weekly Go. Sial sekali, mana ia tahu Kosemura si penguntit itu sedang ada di dekat kafe waktu Akira terang-terangan menyatakan di hadapan ayahnya—dan seluruh pengunjung kafe, yang mungkin sekali beberapa adalah orang Ki-In—bahwa ia dan Hikaru memang sedang ada masalah? Belum lagi, Hikaru mendengar dari Waya, bahwa ia muncul di ruang tonton untuk mencari ayahnya, dan begitu tahu ayahnya pergi bersama Hikaru, ia langsung menggemeretakkan gigi dan berlari keluar dengan wajah tegang. Itu kan bisa menimbulkan prasangka macam-macam, terlebih ada Kosemura di sana. Jelas, Akira-lah yang mengundang Kosemura, meski tidak secara langsung, hingga reporter yang tadinya sedang meliput pertandingan Isumi vs Ogata itu berakhir meliput gosip soal mereka.

Huh. Meijin bodoh!

"Lalu apa rencananya jika mengundurkan diri dari Ki-In?" Isumi dengan baik hati menyelamatkannya dari pandangan semua orang. Isumi memang kouhai-nya yang terbaik.

"Entahlah. Mungkin bergabung dengan China ... atau malah Korea."

"Berarti ia harus ikut ujian lagi?" Nase terdengar agak bingung.

"Bagaimanapun namanya sudah dikenal, mungkin China atau Korea akan tertarik merekrutnya. Tidak pun, ia toh masih 20. Kalaupun tidak menjadi pro, aku yakin Akira bisa mengikuti jejak ayahnya dengan memperlebar sayap di dunia go amatir internasional. Aku dengar ia mempertimbangkan untuk melanjutkan studinya."

"Di Todai? Bukannya dia drop out?" kerung Waya.

"Dia baru berhenti kuliah tahun lalu, jadi mungkin masih dianggap cuti. Tidak pun, dengan nilai-nilainya, dia bisa masuk universitas manapun. Apalagi kalau ia mencantumkan seluruh prestasinya di curriculum vitae. Sebenarnya ada begitu banyak pilihan...," Ashiwara mengakhiri kalimatnya dengan batas tak jelas antara kepastian dan ketidakpastian yang aneh.

"Enak ya, jadi orang pintar dan kaya...," gumam Nase, setengah berangan.

Betul. Akira punya segudang prestasi, di dunia go maupun akademik. Masa depannya sebenarnya tidak terbatas pada lingkung dunia kecil bernama go, terlebih dunia go Jepang. Dia bisa dengan mudah melenggang masuk Harvard atau Cambridge kalau dia mau.

Tidak ada yang bisa menahannya di Jepang.

"Tapi mana bisa seorang pro mengundurkan diri seenaknya begitu!" Waya kelihatan marah. "Ujian pro itu sangat sulit dan ketat! Apalagi dia seorang pemegang titel! Seharusnya ia menunjukkan integritas dan dedikasi, bukan seenaknya mundur lalu melompat ke negara lain begitu saja!"

Patut diakui Waya ada benarnya. Ia berjuang mati-matian untuk sampai ke posisinya sekarang. Di matanya, Akira si anak emas itu dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan, lalu semudah itu juga melepaskannya ketika ia sudah bosan. Pantas saja dulu Waya benci sekali dengan Akira. Mungkin sekarang masih.

Bahkan ia pun benci Akira, pada titik ini.

"Lalu apa kata Touya-sensei?" tanya Isumi.

"Pada dasarnya Touya-sensei mendukung apapun keputusan putranya, asalkan itu masuk akal."

"Lalu ini? Memangnya ini masuk akal?" Waya menggerutu.

"Kalau Akira sendiri bilang ia sudah tidak punya motivasi untuk bermain go di sini lagi, itu sudah final, kan?"

"Huh... motivasi...," gumam Hikaru, untuk pertama kali bicara dalam diskusi tidak jelas mengenai masa depan mantannya itu. "Sudah, biarkan saja dia pergi. Benar kata Waya, dia tidak punya integritas dan dedikasi. Dia cuma anak manja yang banyak omong, tapi nyatanya nol besar. Jepang tidak butuh orang seperti dia."

Sejauh ini ia percaya, bahwa sepanjang mereka masih berada di tempat kerja yang sama, Akira takkan bisa menghindarinya terus. Akira juga pasti memikirkan hal ini juga. Tapi kalau di sisi Hikaru, ini adalah harapan dan optimisme, Akira memandangnya sebagai masalah.

Jadi ini jawaban Akira? Keluar dari Ki-In? Keluar dari Jepang?

Cih.

Terserah. Kalau ia tidak mau menantang Hikaru di satu pun gelarnya, tak masalah. Ki-In toh masih punya stok pro yang jauh lebih ambisius untuk merebut gelarnya. Salah satu dari mereka pasti bisa memberinya permainan yang menarik, kan? Salah satu dari mereka pasti bisa membawanya menuju Kami no Itte. Pemain pro yang hebat itu bukan cuma Akira.

Lagipula, ini juga akan membuatnya lebih mudah meraih ambisinya untuk merebut semua gelar. Dengan tiadanya Akira, anggap saja nanti ia akan mendapatkan gelar Meijin dengan cuma-cuma, ya kan?

Di sisi sana, DJ mengganti musik yang ia mainkan. Dentum-dentum ritmik bercampur elektro memenuhi ruangan, mengalir di antara pancaran warna-warni sinar laser. Tubuh-tubuh penuh keringat berkelojotan di bawah pengaruh alunan mantra dan tabuhan perkusi dunia baru.

"Ah, rasanya aku mau turun. Kalian mau ikut? Tidak? Ya sudah."

Hikaru menuang minuman ke gelasnya penuh-penuh dan menghabiskannya dalam sekali tenggak. Panas mengalir memasuki kerongkongan, membakar dadanya. Panas, panas, panas. Ia menanggalkan kemejanya, hanya menyisakan tank top kuning yang dibenci Akira, dan melompat ke lantai dansa. Dibiarkannya tubuhnya terbakar dalam paduan alkohol, musik, dan adrenalin. Mungkin dengan itu, ia bisa melupakan Akira.

.


.

"Shindou, Shindou!" guncangan di bahunya membangunkannya.

"Uh... Isumi?"

"Kau kelihatannya sudah teler. Sini kemarikan kuncimu, aku akan mengantarkanmu pulang," ujarnya.

"Tidak," Hikaru menepis tangan Isumi. "Aaaah, aku bisa sendiri, Isumiiii... Aku bukan anak keciiiiiillll..."

Dengan itu itu ia berusaha berdiri, tapi dunia seakan berputar dan berputar dan berputar... Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh lagi ke sofa.

"Lihat kan? Mana bisa kau menyetir begitu? Sini kuncimu!" ujar Isumi tegas.

Mau tak mau, walau sambil memberengut, Hikaru mengodok saku dan memberikan kuncinya pada sang Calon Jyudan. Tak urung, ia mengedarkan pandang ke sekitarnya, dan menyadari bahwa teman-temannya sudah tidak ada.

"Ke mana ... uh, yang lain?" Tadi siapa saja yang bersamanya, ya? "Waya dan ... uh, Nase, dan..."

"Nase dan yang lainnya sudah diantar Saeki pulang. Waya masih di toilet."

"Oh..."

"Bisa berdiri?"

Isumi memapahnya berjalan meninggalkan ruang pub menuju mobil sport kuningnya yang terparkir di lantai basement. Tak lama Waya menyusul, duduk di jok depan bersama Isumi, sementara ia membaringkan diri di jok belakang, berselimutkan kemejanya sendiri. Isumi mengantar Waya terlebih dahulu, kemudian mengantarnya ke apartemen.

"Kau tak apa sendiri?" tanya Isumi setelah membuatkannya secangkir teh ginseng.

"Uh, iya..."

"Kalau begitu aku pamit dulu. Selamat istirahat, Shindou. Terima kasih untuk pestanya."

Sepeninggal Isumi, Hikaru menghempaskan diri di sofa. Apartemennya kosong—ini weekend, bocah-bocah muridnya itu sedang kembali ke rumahnya masing-masing untuk mencuci baju dan entah apa lagi. Bahkan Satoshi pun menginap di rumah bibinya.

Baru kali ini, kekosongan ini terasa begitu mencekam.

Adrenalinnya belum terbakar seluruhnya, sepertinya, karena ia tidak bisa duduk diam, apalagi tidur dalam semua keheningan ini. Ia mencoba menyetel televisi, tapi tak ada yang menarik. Teh ginseng yang dibuatkan Isumi sudah habis. Di kulkas hanya ada sebutir apel dan sekerat bir yang ditinggalkan Waya, dan kotak obatnya kosong, sama sekali tak ada sesuatu yang bisa menetralkan efek alkohol di tubuhnya.

Mungkin ada sesuatu di mini market 24 jam di bawah, pikirnya, dan setelah menimbang-nimbang bahwa ia cukup kuat hanya untuk turun 17 lantai menggunakan elevator, ia pun meninggalkan kamarnya. Sayangnya, begitu sampai, ia baru sadar bahwa ia tidak bawa dompet, dan ia malas untuk naik ke lantainya kemudian turun lagi. Merasa mungkin udara segar dapat menghalau sejenak kekusutan kepalanya, Hikaru memutuskan berjalan-jalan sejenak di luar apartemen.

Di luar dingin ternyata, dan selain dompet, Hikaru baru sadar bahwa ia juga meninggalkan kemejanya di atas. Tubuhnya hanya berbalut jeans dan tank top. Mungkin pengaruh alkohol di tubuhnya sudah berkurang, atau memang dinginnya terlalu menggigit hingga mengalahkan panas alkohol, sehingga ia merasa agak menggigil. Memeluk dirinya sendiri rapat-rapat, Hikaru menapaki trotoar di depan apartemen.

Sudah lewat tengah malam, mungkin beberapa jam lagi fajar akan menyingsing, ia menilai dari ketinggian bulan sebagaimana pernah diajarkan Sai.

Untuk menghalau dingin, Hikaru memasukkan tangannya ke dalam kantong. Ketika itu, ia merasakan sesuatu yang dingin di sakunya. Oh, uang koin! Kebetulan sekali! Mungkin kalau ia bisa mencari sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya...

Perhatiannya tertumbuk pada sebentuk vending machine di muka sebuah toko. Di antara kegelapan jalanan, vending machine itu tampak hidup dengan lampu-lampunya yang berkilauan, seolah menariknya mendekat. Ah, ia toh sudah mabuk. Satu atau dua kaleng bir tidak akan membuatnya mabuk lebih dari ini.

Berjalan menjauh dengan dua kaleng bir kesukaan Ogata di tangan, ia melangkah pergi meninggalkan vending machine itu. Jujur saja, ia masih tidak suka rasa alkohol di lidahnya, tapi ia bisa menghargai rasa hangat yang membasuh dadanya, adrenalin yang membanjiri tubuhnya, dan rasa ringan di kepalanya. Pantas saja Ogata jadi alkoholik.

Ia takkan mencoba menjadi alkoholik, tentu saja. Akira bisa mengamuk nanti.

Ah, tapi Akira tidak ada di sini. Ke mana dia? Oh, mau pergi ke China, katanya. Di Jepang sudah tidak ada motivasi untuknya.

Di Jepang sudah tidak ada lawan yang ia rasa bisa membuatnya menjadi lebih baik.

Di Jepang sudah tidak ada siapapun yang bisa membuatnya merasakan passion saat bermain go.

Di Jepang sudah tak ada siapapun...

"Akira bodoh!" teriaknya.

Semua itu bohong! Tidak ada motivasi, huh? Itu cuma alasannya untuk menghindar dari Hikaru!

Dan ia bisa dengan mudah menanggalkan titelnya? Membuang semua usahanya untuk meraih puncak, hanya karena sedikit masalah percintaan?

Apa artinya semua yang ia lakukan selama ini? Berlatih, berlatih, berlatih... Apa ia sama sekali tidak menganggap semua orang yang telah ia tumbangkan, ia jadikan pijakan untuknya menggapai puncak itu? Go bukan permainan sedamai yang terlihat di permukaan. Di balik ketenangan dan kesunyian pada pertandingan, ada riak bahkan ombak yang bergolak. Ada yang berdarah-darah dalam upayanya mengejar dan mendaki puncak. Apa Akira tidak menghargai semua itu?

Hanya karena sedikit masalah percintaan, yang bahkan tidak jelas juntrungannya!

Rupanya ia salah menilai Akira.

Dan apa artinya baginya, jika Akira pergi? Jika Akira meninggalkannya? Jika Akira tidak lagi menganggapnya ada?

Ia ada demi Akira! Dahulu, ia ada di dunia go demi mengejar Akira. Sekarang pun, walau kelihatannya mereka sejajar, ia masih mengejar Akira. Ia harus terus berusaha lebih baik dan lebih baik lagi, agar Akira tetap melihat padanya. Akira adalah motor baginya. Jika tidak ada Akira, bagaimana ia akan bisa mencapai tujuan akhirnya?

Hikaru mendongakkan kepalanya, berusaha menuangkan tetes terakhir minuman dari kaleng di tangannya. Uh, betul-betul sudah habis. Dengan kesal ia menjatuhkan kaleng itu dan menendangnya. Kaleng tersebut terlontar, dan memantul setelah membentur dinding. Akira pasti marah kalau ia melihat hal ini. Pasti ia bilang, "Jangan buang sampah sembarangan!" atau "Bagaimana kalau kalengmu mengenai orang?"

Hah, siapa peduli! Dia juga tidak peduli padanya, kan?

Di depan, Hikaru melihat ada satu vending machine lagi. Di sakunya masih ada beberapa keping uang logam. Tentunya tidak akan melukai siapapun, kalau ia minum sekaleng lagi kan?

Apa sebenarnya salahnya, hingga semua orang sepertinya senang sekali meninggalkannya? Sai, ayahnya, dan kini Akira... Ia telah melakukan semua yang terbaik... Dulu ia menganggap Sai merepotkan, tapi ia menuruti permintaan Sai.

Tapi tidak, satu bagian dari batinnya menolak. Ia tidak melakukan yang terbaik. Ia acap menelantarkan Sai, tidak menggenapi keinginannya. Ia telah mengecewakan Sai.

Dan kini, ia juga mengecewakan Akira.

Apa yang diinginkan Akira? Agar mereka menikah. Itu saja kan? Akira menginginkan masa depan bagi mereka berdua. Akira ingin bersamanya!

Sai juga ingin bersamanya.

Ia ingin bersama Sai. Ia ingin bersama Akira. Tapi mengapa ia justru membuat mereka pergi?

Mengapa ia tidak bisa memberikan sedikit saja apa yang diinginkan orang lain darinya? Mengapa ia harus begitu egois?

Apa yang harus ia lakukan? Oh Kami-sama, apa yang harus ia lakukan?

Dunia berputar, berputar, berputar... Dan ia jatuh dalam pusarannya.

.


.

Notes:

Karena aku telat update, aku langsung update 2 chapter deh... Hehehe... lagian ini chapter pendek, kok. Aku pengen buru-buru kelarin ini biar aku bisa fokus sama kuliah hahaha...

Review?