Chapter 11. Pertunangan
.
Sekian lama ia berdiri, berjalan, berlari, berputar-putar dalam kegelapan, hingga satu titik cahaya terlihat di kejauhan. Ia berlari menuju titik cahaya itu. Namun titik cahaya itu bukanlah sesuatu yang diam. Ia membesar, membesar, mendekatinya bagai gelombang berkecepatan tinggi, dan kemudian menelannya bulat-bulat.
Ia berusaha memicing dalam lingkup cahaya yang mengelilinginya, tapi di sana, di antara gelombang cahaya itu , ia bisa melihat satu sosok. Rambut panjangnya yang menjuntai lurus bagai air terjun... Tubuhnya yang tersembunyi dalam kariginu yang panjang dan mengembang...
Ia mengenal sosok itu di manapun.
"Sai!" panggilnya. Tapi alih-alih menyambut panggilannya, sosok itu malah menjauh.
"Sai!" Hikaru kembali berteriak, kali ini berusaha mengejarnya. Tubuhnya, anehnya, merasakan sentuhan sesuatu yang dingin dan basah. Gelombang cahaya itu makin kuat menerpanya. Kian terang dan membutakan...
"SAI!"
Ia terlonjak bangun. Ruangan di sekitarnya tampak tidak asing, dan dipenuhi cahaya. Dan ia tidak sendiri. Dari ujung matanya, ia bisa menangkap sosok seseorang di sisinya. Rambutnya yang panjang...
"Sai!" Hikaru berpaling begitu cepat dengan sejuta harapan yang mendadak meluap memenuhi dadanya. Dan ia tidak tahu apa yang ia rasakan, ketika yang tampak di hadapannya adalah justru ... "A-Akira?"
Akira, dengan rambut digerai dalam balutan yukata tidurnya, tampak mengerjap di sisinya. Raut wajahnya berubah dari terkejut, kecewa, marah ... dan kemudian ... apa itu? Ia berpaling, menutupi wajahnya dari pandangan Hikaru, tapi sekilas Hikaru dapat melihat bersit aneh pada matanya.
"Akira?" bisiknya.
Ia tidak mendapat jawaban. Terdengar suara kucuran air dari sisinya, dan ketika Hikaru menoleh, ia baru menyadari apa yang sedari tadi Akira lakukan, serta apa sensasi dingin yang tadi ia rasakan.
Selesai memeras washlap di tangannya, Akira menyentuhkannya di kulit Hikaru. Sensasi dingin yang sama kembali terasa, dan ia mengejit dibuatnya. Tapi dibiarkannya Akira menjalankan kain basah itu untuk membasuh lengan dan dadanya.
Akira bekerja dalam diam. Rambutnya masih terurai menutupi wajahnya, ekspresinya benar-benar tak terbaca, tapi Hikaru bisa merasakan emosi dalam sentuhan lembut Akira, dalam tangan Akira yang bergetar, dalam rasa dingin yang menjalari permukaan kulitnya. Dada Hikaru berdebar keras, tapi ia tak bisa mengutarakan satu kata pun.
Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Bentuk-bentuk yang familiar menyapanya. Shouji dengan frame kayu, jendela bertirai bambu, dinding kayu yang dihiasi deretan piala dan piagam, meja pendek yang hanya berisikan laptop dan mug, rak buku di salah satu sudut ruang, fotonya dan Akira tampak di salah satu hambalannya.
Ia menunduk memandang dirinya sendiri. Kelihatannya Akira telah mengganti bajunya, karena alih-alih jeans dan tank top yang ia kenakan semalam, tubuhnya kini berbalut yukata. Rasa panas menjalari wajahnya dalam kesadaran itu. Benar, tak ada bagian manapun dari dirinya yang belum pernah dilihat Akira. Tapi sekarang ... bukankah mereka ... sudah...
"Uhm, kenapa aku... ada di sini?" ia memberanikan diri bertanya.
"Semalam kau datang dalam kondisi sangat mabuk, menggedor-gedor pintu gerbang dan berteriak-teriak, lalu muntah dan tertidur di depan gerbang," jawab Akira seraya mencelupkan washlap ke baskom. "Aku dan Ayah menggotongmu masuk."
Ia datang ke rumah Touya? Tapi bagaimana mungkin, ia benar-benar tidak ingat!
Oh, sebentar, ada yang lebih penting. Apa tadi kata Akira? Dia dibawa masuk oleh ... Akira dan ... Touya-sensei?
Hikaru mengerang dan membenamkan mukanya ke kedua belah telapak tangannya. Tidak hanya membuat keributan, ia bahkan pingsan dan membuat Touya-sensei menggotongnya! Oh, ia sungguh ingin mati!
Rupanya Akira itu seperti bendungan. Dia akan menyimpan emosinya hingga menumpuk, kemudian ketika dindingnya retak sedikit saja, ia akan langsung jebol.
"Simpan rasa malumu. Kalau kau malu, aku lebih lagi. Aku harus menghadapi ceramah ibuku, yang menanyakan kenapa kau sampai begini. Ia menyalahkanku, tahu! Katanya aku tidak becus mengurus rumah tangga, beginilah, begitulah... 'Tidak seharusnya kau menggantung pakaian kotor di pagar rumah, Akira-san...'," ia menggerutu, menirukan ucapan ibunya dalam sikap yang sama sekali tidak sesuai dengan imejnya selama ini. "Belum lagi omongan tetangga...," ia berdecak. "Kalau begini perasaan seorang istri ketika suaminya pulang dalam keadaan mabuk dan membuat keributan, aku bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki," tambahnya.
Bukan Hikaru namanya kalau fokusnya tidak jatuh pada tempat yang paling aneh. "Apa kau ... menyebutku ... 'suami'?"
Sesaat Akira tampak nanar, seakan menyadari kesalahannya.
"Ma-maaf," ujarnya terbata, kembali berpaling hingga rambutnya menutupi wajahnya dari Hikaru. "Tolong jangan dipikirkan. Aku hanya kelepasan omong."
Beberapa menit selanjutnya hanya diisi sesekali oleh suara kucuran air. Akira masih dengan telaten mengelap tubuhnya. Ia sempat mengatakan permisi ketika akan mengelap bagian yang vital, tapi selebihnya, ia tak banyak omong. Ia bahkan melakukannya tanpa ekspresi. Hikaru sampai bertanya-tanya apa Akira memang sudah sama sekali tak tertarik padanya.
"Kau ... sungguh-sungguh akan pergi?" ia memecah kesunyian.
Gerakan di punggungnya terhenti, dan ketika Hikaru berbalik, dilihatnya Akira terkesiap. "Bagaimana kau tahu?" tanyanya, tapi kemudian ia kelihatan sadar dan menjawab pertanyaannya sendiri, "Ah, Ashiwara..."
"Jadi benar?"
Akira hanya mengangguk kecil. Hikaru kembali membalikkan tubuh, menunduk memandangi jari-jari tangannya di pangkuan.
"Begitu mendadak?"
"Mau bagaimana lagi? Mau ditunda pun, apa gunanya? Kita rekan satu tempat kerja, tak mungkin bisa terus saling menghindar. Kita akan bertemu dan bertengkar, lagi dan lagi. Tidak di rumah, tidak di Ki-In. Lama-kelamaan situasi ini akan berdampak buruk pada performa dan citra kita. Aku toh sudah mendengar bagaimana kau menangani Tim Hokuto. Aku sendiri tidak yakin akan bisa bermain bagus dengan kondisi ini. Seseorang harus menjauh."
"Dan kau yang memilih menjauh?"
"Aku mencoba berpikir logis. Aku memiliki lebih banyak pilihan, dan aku juga memiliki lebih sedikit titel, lebih sedikit kewajiban. Aku bisa lebih mudah membangun kehidupan yang baru."
Kehidupan yang baru...
Kehidupan tanpanya...
"Lalu aku?" bisiknya pilu. "Bagaimana denganku?"
"Kau juga pasti akan bisa membangun kehidupan yang baru. Aku yakin kau akan jauh lebih bahagia tanpaku."
"Apa maksudmu?"
"Shindou, sekuntum bunga seharusnya tahu diri dan tak perlu bertanya mengapa kumbang tak menginginkannya. Karenanya, sang kumbang pun tak seharusnya bertanya, tatkala sang bunga menutup kelopaknya untuknya. Terlebih jika di luar sana ada bunga yang jauh lebih indah, lebih manis madunya..."
"Apa maksudmu kumbang, bunga ... aku tidak mengerti! Apa kau mau mengejekku lagi karena aku cuma lulusan SMP?"
"Aku tidak pernah mengejekmu untuk urusan itu! Apa pentingnya itu untuk pekerjaan kita?" tukas Akira, tapi kemudian nadanya melunak, lelah dan kalah. "Aku sedang tidak ingin mengajak bertengkar, Shindou... Kumohon..."
"Aku juga tidak," tegas Hikaru.
Akira menghela napas panjang, kemudian memutuskan untuk memberi penjelasan menggunakan kalimat yang lebih mudah dimengerti.
"Kau yang menolakku, Shindou. Kau tidak seharusnya bertanya padaku mengapa, ketika aku memutuskan untuk move on... Aku juga menginginkan kebahagiaan untuk diriku sendiri, bahkan walau tanpamu..."
Kembali mereka berkubang dalam keheningan, sebelum akhirnya Hikaru memberanikan diri bertanya, dengan mati-matian menahan perih di dadanya, "Apa kau bisa lebih bahagia ... tanpaku?"
"Mungkin..."
"Apa aku bisa lebih bahagia ... tanpamu?
"Pasti."
"Dari mana kau tahu?"
"Aku tahu," jawab Akira, yang sebenarnya tidak menjawab apa-apa. Tapi Hikaru tak bertanya, tak ingin bertanya. Karena apapun, itu tak mengubah fakta yang ada.
Akira tidak bahagia bersamanya.
Ia tidak bisa membuat Akira bahagia.
Ia telah mengecewakan Akira, sama seperti ia telah mengecewakan Sai.
Akira tampaknya selesai dengan urusan menyeka tubuh Hikaru, karena ia menggantung washlap yang sudah diperas di pinggiran baskom. Itu juga adalah kode bagi Hikaru untuk mengenakan kembali yukatanya. Ia sudah bangkit dan pergi membawa baskom berisi air bekas basuhan, ketika Hikaru memanggilnya.
"Akira, jika aku setuju untuk menikahimu, apakah kau akan batal pergi?"
Kata-kata Hikaru membuat Akira berbalik. Matanya menatap Hikaru tak percaya.
"Jika memang begitu, aku sudah memutuskan. Jawabannya ya, aku akan menikah denganmu."
"Kau ... akan menikah ... denganku?"
"Benar."
Hening sesaat sebuat Akira berusaha memproses situasi. Namun kemudian, harga dirinyalah yang menang. Air mukanya tampak keras, jelas merasa terhina, kala menukas dengan ketus, "Lupakan saja, Shindou! Aku tidak butuh belas kasihanmu!"
"Tidak, ini bukan belas kasihan, Akira. Justru aku yang memohon. Aku yang meminta belas kasihanmu."
Hikaru mendorong selimutnya, kemudian mengubah duduknya ke sikap seiza. Mata Akira membulat ketika Hikaru menundukkan kepalanya dan menyembah dalam-dalam.
"Akira, kumohon, aku tak ingin kau pergi. Jika itu satu-satunya hal yang harus kulakukan untuk membuatmu tinggal, maka baik, aku akan menikahimu. Aku akan menanggalkan namaku. Aku akan menjadi Touya atau apapun yang kaumau. Apapun, Akira. Apapun asalkan kau tidak pergi."
"Kau ... sungguh-sungguh?"
"Ya. Kau sangat berharga untukku, aku baru sadar ketika kau tak ada. Aku benar-benar mencintaimu, Akira. Keberadaanku di dunia go adalah demi dirimu. Kumohon..."
Ia tak berani mengangkat kepala, dan poninya sungguh-sungguh menghalangi pandangan. Tapi di sana, ia bisa mendengar suara tap pelan dan keclak air ketika Akira meletakkan baskom air di tangannya di lantai. Dadanya berdegup kencang ketika merasakan tapak-tapak kaki mendekat. Sosok Akira yang berlutut di hadapannya memasuki ruang pandangnya.
"Kau akan melakukan apapun?" suaranya terdengar tak percaya.
"Apapun..."
Lantas hening.
Hikaru memberanikan diri mengangkat kepala. Hal yang pertama tampak adalah sosok Akira yang mengambil duduk seiza, kedua tangannya bertumpu di lutut. Sikapnya seolah menyatakan bahwa yang ada di hadapannya adalah semacam strategi lawan yang harus ia hadapi dengan hati-hati, bukannya seorang jenderal yang kalah perang dan menyatakan ketertundukannya. Menggeser pandangannya sedikit ke atas, ada gerak jakun di leher Akira, tanda ia menelan ludah. Setetes keringat mewujud di pektoralnya yang tak tertutup kerah yukata yang ia kenakan. Bibirnya sedikit terbuka, sorot matanya tampak ragu dan seakan penuh tanda tanya, sebelum kemudian berubah menjadi determinasi. Perlahan, tangan Akira terjulur, hati-hati menggapainya, seakan mengukur kedalaman air. Hikaru merasa tak ada gunanya memperpanjang waktu, toh ia telah kalah dalam permainan ini. Lebih baik memberikan Akira hadiah yang selayaknya ia dapatkan, bukan begitu?
Disambutnya tangan Akira, dan diciumnya dalam-dalam. Dibiarkannya Akira menjembatani jarak di antara mereka berdua. Dibiarkannya Akira melepaskan satu-satunya lembar pakaian yang ia kenakan. Dibiarkannya bibir dan jemari Akira menjelajahi tubuhnya, mengklaim setiap jengkal area yang dapat ia kuasai. Tatami terasa dingin ketika bersentuhan dengan kulitnya, tapi panas yang menguar dari tubuh Akira menghalau rasa dingin itu. Dibiarkannya panas itu membakarnya dari dalam, mengisi kekosongan dalam jiwanya.
Namun ketika erangan dan lenguhannya memuncak menjadi teriakan, dan panas Akira mengalir memasuki dirinya, membanjiri seluruh tubuhnya, ia tak jua merasa penuh. Kekosongan itu justru makin meluas, menyaputi seluruh dirinya, menelan seluruh keberadaannya. Ia bergetar bagai selembar daun di musim gugur, sebelum lepas dari dahan tempatnya berpegang dan jatuh, jatuh, jatuh dalam kehampaan.
Api Akira membakarnya, dan ia merasa dirinya lenyap tanpa sisa.
.
.
Akira langsung menyampaikan berita pertunangan mereka hari itu juga pada kedua orangtuanya, ketika Hikaru merasa sudah cukup enakan untuk menghadiri makan malam. Touya-san tampak begitu senang dan langsung bangkit untuk memeluk keduanya, sementara Touya-sensei hanya mengucapkan kata selamat dengan pendek. Hikaru bisa melihat bersit tanda tanya dan kekhawatiran dari wajah pria itu, tapi ia memilih pura-pura tidak menangkap dan melarutkan diri pada obrolan antara Akira dan Touya-san mengenai detail pernikahan.
Reaksi Shindou Mitsuko juga sama antusiasnya. Ia memeluk Akira erat sekali, mengatakan terima kasih mau-maunya mendampingi anaknya yang bodoh dan tak berguna, kemudian menangis tersedu-sedu di pelukan Akira. Ia menarik Hikaru ke ruang duduk malam itu, jauh dari telinga awas Akira, lantas memberi ceramah panjang lebar mengenai "kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami yang baik dan suportif" hingga Hikaru mengerang merana dibuatnya.
Mengakhiri ceramahnya, sang ibu melangkah ke lemari bufet dan menarik salah satu lacinya, mengangkat sebuah kotak berdebu dan meletakkannya di meja.
"Ini adalah benda warisan keluarga ibuku, yang diberikan padaku sebelum aku menikah," katanya seraya membuka kotak tersebut, menyingkap sebuah sisir antik berhiaskan ukiran untaian bunga wisteria yang membuat Hikaru terkesiap.
Sagarifuji, ia mengenal bentuk kamon itu di manapun.
"Sisir ini diwariskan secara turun temurun dari ibu kepada anak gadisnya. Sayangnya aku tidak punya anak gadis. Aku tidak ingin melukai maskulinitasmu, tapi aku ingin memberimu sesuatu sebelum melepasmu menjadi menantu keluarga lain. Hikaru, kumohon kau mau menerima ini."
Dengan tangan bergetar, Hikaru menyentuh sisir gading itu. Permukaannya yang dingin sedikit mengejutkan, karena Hikaru tak pernah mengira apapun yang terbuat dari bagian tubuh makhluk hidup bisa sedingin itu. Kondisinya masih sangat baik, meskipun sedikit retak-retak di beberapa bagian tubuhnya dan hilangnya beberapa gigi sisir menunjukkan betapa tua usianya. Warnanya kuning gading, dengan sedikit sentuhan keemasan di beberapa titik. Bagian tengahnya berhiaskan dua untai bunga wisteria yang disusun membentuk lingkaran, dengan tiga lembar daun menghadap atas bertakhta bak mahkota di puncaknya. Sagarifuji, kamon keluarga Fujiwara...
Dengan hati-hati, ia mengangkat sisir itu dari kotaknya dan mendekapnya erat. Dadanya terasa aneh—pilu, sesak, haru menjadi satu. Mungkin air matanya menetes.
"Terima kasih, Ibu...," bisiknya. "Akan kujaga baik-baik..."
.
.
Setelah keluarga mereka, yang berikutnya tahu adalah Waya dan Isumi.
"Kalian akan menikah? Serius?" mata Waya membesar selebar mangkuk, ketika ia (dan Akira) mengabari Waya dan Isumi pada acara makan malam sesudah pertandingan ketiga Isumi dan Ogata, yang kali ini menghambat langkah Isumi untuk segera mengklaim titel Jyudan.
"Ssssh, jangan kencang-kencang!" Hikaru masih agak-agak paranoid dengan paparazzi bernama Kosemura, dan dengan panik melirik ke seantero ruangan. Akira tampak menahan kikikannya di sebelahnya. "Aku tidak ingin seantero Ki-In, atau malah seisi Jepang tahu."
"Hhh, seolah kalian cukup pintar untuk bisa discreet," decak Waya. Yang tidak salah, sebenarnya. Meskipun Akira dan Hikaru tak pernah mengumumkan secara terbuka bahwa mereka adalah sepasang kekasih, semua orang sudah berasumsi. "Lagipula, walaupun kalian menikah diam-diam, tinggal tunggu waktu semua orang tahu ketika kau mengganti namamu menjadi Touya, kan?"
"Iya sih..."
"Hhh... kita akan punya dua Touya Meijin dan satu Touya Honinbou. Repot benar," gerutu Waya.
"Tenang, masalah itu tidak akan ada lagi jika aku berhasil mengklaim Kisei," ujar Akira ringan, yang justru membuat Waya mengerang.
Setelah Hikaru menerima lamarannya, Akira berubah. Benar-benar berubah. Di depan goban, tentu saja ia masih segarang biasanya, tapi sikap kakunya tidak memanjang ke kehidupan sehari-hari. Ia menjadi jauh lebih riang, matanya terlihat bersinar dan hidup, ia lebih sering bercanda dan tersenyum ramah pada semua orang. Tak heran jika klub penggemarnya, yang biasanya terdiri atas gadis-gadis muda yang sering mendadak mangkal di depan Ki-In pada hari-hari pertandingan Akira, mengalami peningkatan jumlah anggota secara pesat. Mereka hobi berteriak-teriak histeris kalau Akira lewat, yang membuat kesal Hikaru. Beberapa malah memberanikan diri menguntit sampai apartemen dan memberikan Akira bunga. Lebih parah lagi, keberadaan Hikaru di sisi Akira—yang jelas menyatakan bahwa Akira bermain untuk tim lain, sehingga tak mungkin membalas perasaan mereka—sepertinya tidak efektif menghalau gadis-gadis itu. Yang ada, mereka justru malah tambah heboh.
"Jadi, kapan acara pernikahannya?" Isumi melakukan tugasnya seperti biasa—mengembalikan pokok pembicaraan yang melantur.
"6 Mei."
"Sehari setelah Hokuto Cup?!" Waya membelalak. "Apa tidak terlalu mendadak?"
"Uh, sebenarnya aku ingin 5 Mei...," jawab Hikaru seraya menunduk. "Tapi aku harus memberikan pidato dan mendampingi anak-anak, entah mereka menang ataupun tidak."
"Lebih cepat lebih baik, sebenarnya," senyum Akira. "Tapi kami tidak bisa mem-booking tempat sebelum bulan Mei, dan Hikaru masih harus melatih. Aku juga masih ada beberapa pertandingan."
Waya mendadak mendengus menahan tawa, dan Hikaru sadar apa yang ada di pikirannya. Pasti seru, kalau di pertandingan perebutan gelar Gosei nanti, yang dilangsungkan sebulan setelah pernikahan mereka, tertulis Touya Akira vs Touya Hikaru. Kosemura pasti bahagia sekali.
Isumi menyodok Waya, memaksanya berhenti tertawa. Waya berdehem, dan melanjutkan pertanyaan berikutnya dalam daftar. "Lalu, di mana acaranya? Kami diundang, kan?"
"Tentu saja! Tenang, acaranya di Jepang, kok. Akira menemukan sebuah kuil Shinto yang bersedia menikahkan pasangan sejenis. Namanya... Ka... Ka... uhm, apa, Akira?"
"Kuil Kanamara, di Kawasaki."
"Ah ya, Kuil Kanamara. Awas kalau kalian tidak datang!"
"Ah, Kanagawa kan?... Dekat, tenang saja! Kami pasti datang," janji Waya. "Nah, jadi, pesta bujangnya..."
.
.
Waya mengangkat diri sebagai ketua panitia "Pesta Bujang Shindou & Touya" yang diselenggarakan sebulan sebelum hari pernikahan mereka. Berhubung Hikaru memveto penyelenggaraan pesta bujang secara terpisah—selain gerombolan Waya, Akira tidak punya teman yang sepantaran, dan Hikaru agak enggan jika Akira harus menyelenggarakan pesta tanpanya dengan mengundang Ogata—ataupun pesta bujang di pub seperti rencana Waya, mereka mengadakannya di taman bersamaan dengan acara hanami.
Acara itu dihadiri secara lengkap oleh lingkaran mereka, plus bocah-bocah Tim Hokuto dan Ogata. Yep, Ogata, makhluk tak diundang yang merasa berhak ikut hanya karena ia termasuk kelompok Touya, padahal jelas-jelas Hikaru bilang ia tidak usah repot-repot datang.
Si mafia itu masih terlihat getir setelah kalah pada pertandingan keempat, dan terpaksa menyerahkan titel Jyudan pada seorang Isumi Shinichirou yang sebelumnya tak pernah ia perhitungkan. Alhasil, tentu saja ia melampiaskannya dengan minum banyak sekali, dan sudah terkapar di bawah pohon bahkan sebelum acara mencapai puncak.
Akira dan hanami memang paduan yang serasi, batin Hikaru, seraya menerima secangkir sake yang dituangkan oleh calon suaminya itu. Akira tampak sangat ceria hari itu, lebih dari biasanya. Warna biru muda kimononya tampak serasi berpadu dengan latar belakang warna pink dan putih, benar-benar menyiratkan citarasa musim semi. Ia mengikat rambutnya dalam kuncir ekor kuda, dan senyum yang tak henti tampil di wajahnya membuatnya terlihat lebih muda dan lebih menawan ketimbang biasa. Ochi—yang sudah sedari dulu ia curigai diam-diam naksir Akira tapi tidak mau mengakuinya—sampai merah padam dibuatnya, sehingga Hikaru harus menggariskan batas dengan memelototi pemuda itu.
"Tahu tidak, waktu usiamu 11 tahun, dan kami menggodanya mengenai tipe menantu idamannya, Touya-sensei pernah mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkanmu menikah kecuali dengan seseorang yang begitu hebat dalam go hingga setidaknya memegang tiga gelar," umum Ashiwara dengan wajah bak udang rebus. Ia kelihatannya sudah minum terlalu banyak dan memulai sesi celotehan mabuknya yang ngawur—yang lebih ngawur daripada biasa.
"Ayah bilang begitu?" semburat pink muncul di wajah Akira.
"Ya. Nah, berhubung Ogata-san baru saja kehilangan satu gelarnya, satu-satunya orang di angkatan kita yang memenuhi syarat itu hanya Shindou! Sumpah ayahmu terpenuhi, Akira!" serunya yang disambut sorakan semua orang.
"Intinya, kau tidak boleh menyerahkan gelarmu pada siapapun, termasuk pada Akira, atau Touya-sensei akan memecatmu sebagai menantu," sambut Saeki yang dibalas delikan Hikaru. Apa-apaan Saeki, ikut-ikutan memanggil Akira sok-akrab begitu? "Bagaimana? Cukup menjadi motivasi?" tambahnya yang kembali membuat semua orang tertawa.
"Wah, tapi kalau begitu, artinya Touya-sensei bisa melihat masa depan. Hebat sekali!" komentar Kurata.
"Atau dia sudah mengira kalau kau gay," ujar Waya pada Akira, yang disambut sodokan Isumi. "Apa? Memang benar kan? Secara jarang ada cewek pemegang gelar..."
Di seberang Waya, Nase mendelik terang-terangan, tapi memilih tak berkomentar apa-apa.
"Dia cuma orang tua posesif yang tidak mau melepas anaknya," terdengar suara getir dari belakang.
"Huh, Ogata-sensei? Sudah selesai tidur siangnya?" tanya Nase ramah, yang segera berubah ketika Ogata menjulurkan tangan melewatinya dan mengambil sekaleng bir yang dibawa Waya. "Ah, Anda mau minum lagi? Tapi..."
"Tenang, aku bisa menangani minumanku, tidak seperti anak kecil di sini," ia jelas-jelas menujukan ejekannya pada Hikaru. "Aku sudah dengar dari Akiko. Nanti kalau kau benar-benar jadi menantu keluarga Touya, jangan lakukan hal begitu lagi! Bikin malu saja!"
Hikaru sudah akan membalas dengan mengatakan sesuatu yang tak kalah sinis, tapi sayangnya keburu didahului Akira.
"Ah, Ogata-san, mengenai koseki..."
"Aku akan mengurusnya," Ogata melemparkan kaleng bir yang belum apa-apa sudah kosong ke plastik sampah. "Anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan."
"Terima kasih, Ogata-san."
Pria itu tidak menjawab, hanya melambai ringan, dan lekas pergi tanpa mengatakan apapun, membuat Hikaru menggerutu dalam hati. Apa-apaan, datang tanpa diundang dan pulang pun tanpa permisi. Dasar mafia!
"Kenapa juga kau harus minta tolong dia?" gerutu Hikaru. "Kan jadinya kita berhutang budi padanya."
"Keluarga Ogata itu pengacara, dia juga punya banyak channel di pemerintahan," jelas Akira tenang yang membuat Hikaru melongo. "Kenapa?"
"Eh tidak, kukira dia dari keluarga yakuza atau mafia..."
Jawaban inosens Hikaru membuat yang lain di kelompok mereka tersedak dan tertawa, membuat Hikaru sebal. Bukan salah dia kan? Salah Ogata selalu memberi impresi bak orang jahat dari sejak ia masih kecil! Menyeretnya, mendorongnya ke dinding, menginterogasinya soal Sai... Bahunya sampai memar-memar waktu itu!
Ah, omong-omong soal Sai...
Ogata waktu itu mengatakan akan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari tahu keberadaan Sai, dan mengancamnya jika Sai tidak ditemukan. Jika Ogata punya channel di pemerintahan... Dalam hati Hikaru bergidik.
"Oh, omong-omong, bagaimana rencana kalian setelah menikah?" tanya Nase, dengan manisnya beringsut mendekat dan mencondongkan tubuh pada Akira. Huh, apa Nase sudah terlalu mabuk hingga berusaha menggoda Akira? Tapi tadi sepertinya ia belum banyak minum. Hikaru berusaha memberi kode agar Nase menjauh, tapi walau sadar Hikaru memelototinya, Nase tidak menggubris.
"Hmmm, aku mungkin ingin bulan madu beberapa hari di tempat yang baru dan romantis. Aku belum tahu di mana," Akira sepertinya tidak sadar ia tengah digoda, dan dengan entengnya menjawab.
"Eh, Touya, jika kau butuh ditemani untuk mengurus persiapan pra-nikah, hubungi aku saja. Aku kebetulan berteman dengan teman masa kecil Hikaru, Fujisaki Akari... Apa kau kenal?"
"Ah, ya, aku tahu Fujisaki-san," senyum Akira. "Mantanmu kan, Hikaru?" godanya yang membuat Hikaru mendelik. Heran, sejak kapan Akira hobi menggodanya? "Kenapa ia tidak datang hari ini?"
"Sudah kuundang. Dia menolak," jawab Hikaru pendek.
"Dia ada kuliah," koreksi Nase. "Nah, omong-omong, saat ini dia sedang kuliah di jurusan desain interior. Mungkin kami bisa membantu merencanakan pestamu..."
Di titik itu Hikaru menganga. Nase tidak mendekati Akira karena ia ingin merayu Akira. Ia mendekati Akira karena dia berpikir Akira adalah 'calon mempelai wanita' dalam hubungan mereka! Apa dia sudah gila?
Hah, pasti setelah ini Nase bakal dikuliti. Dipotong-potong. Dilumat. Diuleni. Dibanting-banting. Digulung. Dibalut tepung. Digoreng. Disajikan panas-panas dengan saus cabai. Ha, rasakan! Mana mungkin Akira akan membiarkan begitu saja maskulinitasnya diinjak-injak?
Karena itu, Hikaru berasa mendapat serangan jantung ketika Akira justru tersenyum dan menjawab dengan suara sangat-manis yang tak pernah ia dengar sebelumnya, "Boleh... Kapan kalian ada waktu? Aku sedang berpikir untuk menerapkan tema tradisional, tapi aku juga ingin sesuatu yang agak romantis. Bagaimana menurutmu jika...," dan seterusnya dia asyik berbincang dengan Nase mengenai tetek-bengek pernikahan. Hikaru tidak begitu menangkap dengan jelas, tapi rasanya dia mendengar kata 'bunga', 'dansa', dan 'sepasang merpati'.
Akira. Tidak. Bicara. Go. Dengan. Go-Pro.
Dunia ini pasti sudah gilaaaaaaaaa!
.
.
Akira menghabiskan waktu di sela-sela jadwal pertandingan dan mengajarnya yang padat untuk mengurus tetek-bengek pernikahan bersama ibu dan (calon) ibu mertuanya. Tahun ini, kesibukan Hikaru tidak separah Akira. Ia jelas tidak harus bermain di empat Liga, dan sudah tersingkir di Babak Penyisihan Ketiga Kisei—tebak oleh siapa: Akira! Tapi rupanya Akira tidak mempercayai Hikaru untuk campur tangan dalam mengurus pernikahannya sendiri. Ia bahkan tidak memperbolehkan Hikaru membelikannya cincin!
"Kau fokus melatih Tim Hokuto dan belajar saja. Kalau tidak, nanti bisa-bisa kau kehilangan satu gelarmu. Aku tidak mau menduda hanya setelah sebulan menikah," katanya dengan sinar usil yang jarang-jarang tampak di matanya.
Kalau begitu sebaiknya kau tidak usah berusaha menantangku segala, bisik hati Hikaru, tapi jelas ia tidak akan mengatakannya. Sebelum status sebagai kekasih, atau bahkan suami, status mereka yang pertama dan utama adalah sebagai rival, dan ia berniat mempertahankannya sampai mati.
Bagusnya, kini setelah hubungan Hikaru dan Akira membaik, perkembangan kemampuan Tim Hokuto juga meningkat pesat. Hikaru berhasil menarik teman-temannya, termasuk Akira, untuk ikut melatih—strategi yang ternyata sangat baik untuk perkembangan kemampuan maupun mental para pemain muda itu. Kini ketika Hikaru sudah tidak lagi rungsing, nyata ia lebih mudah memberikan arahan yang bisa mereka mengerti. Kelihatannya masa depan Tim Jepang akan cerah tahun ini.
Hikaru mempertimbangkan untuk berkunjung lagi ke Kuil Byodo-in sebelum mereka menikah. Setidaknya, kini setelah ia tahu ke mana ia bisa menarik silsilahnya dari galur ibunya, ia merasa ikatannya dengan Sai makin kuat. Tidak hanya sebagai guru, tapi juga sebagai leluhur, tentu ia harus meminta restu Sai.
Itu kalau ia bisa melarikan diri dari Akira. Terus terang, dengan kejadian tempo lalu, ia masih takut untuk mengajak Akira bicara apapun yang terkait dengan Sai atau Fujiwara, lebih lagi mengajak Akira ke Byodo-in.
Ah, mungkin setelah mereka menikah nanti, segalanya akan jauh lebih baik. Siapa tahu ia akan bisa bicara bebas mengenai Sai, serta mengajak Akira bersamanya berziarah ke Innoshima dan Uji.
Sai takkan marah jika ia tak meminta restunya lebih dulu, kan? Ia akan mengerti. Sai selalu mengerti.
.
.
Notes:
Udah beberapa malem aku bergadang ngerjain UTS, terus baru tadi pagi aku inget harus pake baju putih-hitam buat tes beasiswa, plus aku ga pernah nyimpen baju begituan di lemari. Hebohlah tadi siang... Belum tidur, ditambah belum makan juga, alhasil nilai tes TPA aku agak ga jelas begitu deh ... wkkwkwkwkw cuma dapet 75%, dengan nilai tes logika yang bener-bener puarrrraaaaaahhhhhhh huahahahahahahaha... asa pengen nangis hahahaha. Ditambah apa-apaan tuh tes, kok ga ada tes spasial sih hahaha...
Demi mengobati kekesalan hati, aku update fic deh hahaha...
