Chapter 12. Akira dan Sai

.

Hokuto Cup yang dinanti akhirnya tiba. Ini debut Hikaru sebagai ketua tim, sekaligus kesempatan terakhirnya untuk naik panggung dengan nama Shindou, walaupun tidak bermain. Ia mempersiapkan segalanya sebaik mungkin, termasuk pidato yang akan ia berikan pada pembukaan dan penutupan Hokuto Cup (berjaga-jaga seandainya timnya menang).

Acara Hokuto Cup dilangsungkan selama tiga malam dua hari di sebuah hotel yang untungnya masih di wilayah Tokyo. Akira masih sibuk dengan persiapan terakhir pernikahan dan pertandingan penentuan challenger Turnamen Gosei, sehingga ia tidak bisa menghadiri seluruh rangkaian kegiatan. Tetapi ia berjanji akan datang menjemput sesudah penutupan, yang kalau melihat jadwal, akan jatuh sekitar pukul 7 atau 8 malam.

Calon suaminya itu luar biasa cerah belakangan ini. Pagi hari sebelum keberangkatan Hikaru saja, ia masih sempat membuatkan sarapan spesial untuk mereka berdua, setelah malam sebelumnya habis-habisan mengebor Hikaru untuk apa yang ia katakan sebagai "kesempatan terakhir bercinta sebelum menaiki bahtera pernikahan". Sebelum berangkat, tak lupa ia mengecup Hikaru seraya berkata dengan manis, "Doakan nanti aku membawa berita gembira bahwa aku akan menjadi penantangmu, ya, Anata." Kata terakhir itu, yang masih ditambah kedipan manja, jujur saja membuat Hikaru bergidik. Semoga saja Akira tidak memperpanjang panggilan itu sebagai sebuah kebiasaan setelah mereka menikah nanti.

Pernikahan mereka akan diselenggarakan keesokan paginya. Jadi rencananya, setelah Hokuto Cup, mereka akan langsung ke Kanagawa, menyusul keluarga mereka yang sudah bermalam sejak beberapa hari sebelumnya. Walau berangkat bersama ke Kanagawa, mereka akan memesan kamar hotel terpisah—syarat yang diajukan ibunya, katanya tidak baik kedua calon mempelai bermalam bersama sebelum pernikahan. Tradisi yang aneh, memang, mengingat siapapun tahu mereka hidup bersama, belum lagi memboroskan uang. Tapi berhubung bukan Hikaru yang mengeluarkan uang untuk posko pengeluaran ini, ia tidak banyak ribut.

Setelah upacara di kuil, rencananya akan ada resepsi kecil-kecilan ala garden party di hotel. Biar dibilang kecil, kelihatannya cukup menyusahkan, mengingat Akira, Nase, dan Akari sering sekali berkumpul untuk mengurus persiapannya. Jujur saja, Hikaru tidak terlalu menanti-nantikannya. Yang penting, selama ia tidak harus mendadak mengenakan gaun di sisi Akira yang ber-tuxedo, ia sudah cukup senang.

Soal baju, sepertinya sudah oke. Mereka toh masih punya montsuki kimono yang dipakai sewaktu pernikahan Waya untuk upacara di kuil. Berhubung Akira ingin acara siangnya bergaya Barat, mereka juga sudah memesan jas berekor warna putih dengan vest bermotif kotak-kotak yang agak menyerupai motif pada goban. Mereka melakukan nigiri untuk menentukan warna dasi. Hikaru mendapat warna hitam, dan Akira putih. Sambil bercanda, Hikaru mengatakan syukurlah mereka menggunakan upacara tradisional ala Jepang untuk akad nikah mereka, karena kalau menggunakan gaya Barat, itu berarti ia harus jalan duluan di lorong (yang menjadikannya berada di posisi 'pengantin pria'). Tersenyum balik, Akira mengatakan bahwa dasi putihnya memberinya keuntungan 6,5 komi ... dan apa yang harus Hikaru berikan sebagai kompensasi hal itu? Huh, serahkan pada Akira untuk membuat urusan dasi menjadi sesuatu yang terdengar ... um, kinky?

Acara resepsi mereka bertema Romantic White Party (Hikaru sempat nimbrung bilang ingin pestanya bertema Go, atau setidaknya Black & White, tapi ia langsung diusir dan tidak pernah diperkenankan dekat-dekat kalau tiga orang itu sedang rapat). Menyerasikan dengan kostum putih yang mereka pakai—membuat mereka jadi seperti pesulap, menurut persepsi Hikaru, masih untung ia tak harus memakai topi tinggi—seluruh dekorasi juga kelihatannya akan serba putih. Hikaru mendengar sendiri bagaimana Akira ribut dengan pihak florist untuk memesan lily, mawar putih, baby breath, dan entah apa lagi. Bahkan para pengiring mereka juga akan memakai busana putih! Akira, Nase, dan Akari menghabiskan tiga hari mengurus detail gaun groomsmaids dan groomsmen (seolah mereka masih butuh itu, upacara pernikahan mereka kan sudah diadakan paginya!). Tak kurang, ia bahkan memaksa Waya, Isumi, dan Ashiwara untuk ikut dengannya ke tailor dalam rangka memesan jas yang sedianya akan mereka pakai di acara resepsi. Setidaknya, Hikaru bersyukur bahwa dengan tema putih itu, artinya mereka tak perlu memesankan jas baru untuk Ogata.

Melihat betapa berdedikasinya Akira mengurus detail pernikahan, sebenarnya Hikaru agak khawatir. Hikaru tahu benar Akira perfeksionis, bahkan punya kecenderungan OCD. Walau dibantu Nase dan Akari, ia turun tangan menangani nyaris semua tetek-bengek pernikahan termasuk dekorasi, katering, undangan, musik, dan lain sebagainya. Ia bahkan mengajari Hikaru berdansa (Hikaru baru tahu Akira bisa dansa, tapi ia memang lulusan Kaio, jadi ya sudahlah). Bukan cuma masalah ia takut stamina Akira tidak bisa menandingi semangatnya. Dengan beban harapan yang terlalu tinggi, ia juga takut jika ada satu hal kecil saja yang salah, Akira akan mengamuk bak puting beliung. Hiiiih, mudah-mudahan saja semuanya berjalan lancar.

Akira sudah merencanakan liburan seminggu di Kepulauan Pasifik untuk bulan madu mereka. Rencananya, mereka akan jalan-jalan ke beberapa pulau. Dari semua agenda di daftar acara pernikahan mereka yang disusun secara hati-hati oleh Akira, ini bagian yang paling dinanti Hikaru: scuba diving dan jet ski! Ia sudah membayangkan serunya bermain air di bawah matahari khatulistiwa. Pulang-pulang nanti, ia berniat memamerkan kulit tan-nya. Pasti Waya cemburu.

.


.

Seruan bahagia para anggota Tim Jepang menggema, ketika mereka berhasil mengantongi kemenangan atas Tim Korea 2-1 pada pertandingan hari kedua. Pada pertandingan hari pertama, mereka juga menang tipis dari China, sehingga ini berarti Jepang memenangkan Hokuto Cup untuk ketiga kalinya. Tidak bisa tidak, Hikaru meneteskan air mata dengan perasaan membuncah. Ini juga hari terakhir ia akan dikenal sebagai Shindou Hikaru, jadi dengan tekad untuk menutup lembaran terakhir namanya sebaik-baiknya, Hikaru menegakkan tubuh dan mengantarkan pidato penutupan dengan penuh digdaya.

Selesai menerima ucapan selamat dari sana-sini, para anggota tim kembali ke kamar, walau Hikaru tidak yakin mereka akan tidur. Bocah-bocah itu meminta izin untuk pergi ke karaoke merayakan berakhirnya Hokuto Cup dengan bocah-bocah dari tim lain, dan walaupun Hikaru agak khawatir (Oka tidak ikut, bilang tidak enak badan, dan Rui menungguinya di kamar), ia tidak mau merusak malam terakhir mereka. Ia sendiri harus segera merapikan barang-barangnya sebelum Akira menjemput.

Namun ketika ia sedang mencari-cari kartu RFID di depan pintu elevator, tahu-tahu bahunya ditepuk oleh Ogata.

"Hikaru, ada waktu sebentar?"

"Hikaru-Hikaru... Hhhhh, kenapa juga kau mulai sok-akrab memanggilku Hikaru, Ogata-sensei?"

"Biasakanlah. Aku toh tidak bisa memanggilmu Touya juga, kan? Terlalu banyak Touya, yang ada nanti malah salah paham."

Hikaru menggerutu, "Apa salahnya dengan 'Shindou'?" tapi ia tidak mengutarakannya keras-keras. Patut diakui Ogata ada benarnya. Beberapa jam lagi ia akan resmi menanggalkan namanya, lebih baik ia membiasakan diri.

Ogata memberi isyarat agar ia mengikuti ke kamarnya. Jujur saja Hikaru malas, ia masih paranoid dengan frase 'diajak ke kamar Ogata', berhubung yang terakhir ditandai dengan pertandingan antara Ogata dan Sai yang mengantar pada menghilangnya Sai. Tapi, berhubung ia juga belum menemukan kartu RFID-nya, yang artinya belum bisa mengajaknya ke kamarnya sendiri, ia pun menuruti Ogata.

Begitu sampai, Ogata langsung menutup pintu. "Nah, aku akan mengatakan informasi rahasia ini padamu saja. Tapi kau harus tutup mulut, karena Akira akan marah besar jika tahu aku membocorkannya."

"Jika ini soal cerita konyol Aki-chan zaman masih TK..."

"Kenapa juga aku harus menceritakan hal seperti itu? Aku bukan Ashiwara. Tidak, ini jauh lebih penting. Ini mengenai Sai."

Sai?

"Tenang, aku tidak akan mencecarmu soal Sai," ujar Ogata, mungkin karena melihat Hikaru sudah siap-siap mau kabur, "Ini murni informasi. Kau tahu beberapa waktu lalu Akira memintaku mencari tahu mengenai Sai, bukan? Ia juga bilang kalau Sai dulu adalah difabel dan ia sudah meninggal, atau setidaknya kau berada dalam impresi bahwa ia sudah meninggal. Nah, aku mengerahkan semua channel yang kupunya untuk mencari bukti keberadaan Fujiwara Sai. Dan aku menemukan setidaknya 1000 orang dengan nama serupa, atau memiliki elemen nama yang sama. Dari situ aku melakukan eliminasi berdasarkan informasi acak yang Akira kumpulkan darimu, seperti panjang rambut, perawakan, gender, rentang usia, dan yang paling penting adalah kemampuannya dalam go. Hasilnya adalah 25 orang ini, tujuhbelas di antaranya masih hidup," ia mengacungkan sebuah USB flashdisk. "Apa kau tertarik melihatnya?"

Hikaru mendengus. "Huh, tak ada gunanya. Sudah kukatakan Sai sudah tiada."

"Yakin? Kau takkan menyesal?

"Yakin!"

"Ah, sayang sekali... Beberapa catatan ini menarik sekali, lho," ia mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. "Fujiwara Saizaburou, 27, tinggal di Asakura, mantan pemain biola dengan IQ 175 yang juga menguasai delapan bahasa. Pernah menjadi juara pada beberapa turnamen amatir catur, go, dan shogi. Mengalami kecelakaan pada Juli 1998, sempat beberapa kali dioperasi, namun hingga kini masih belum bisa pulih. Sekarang menjadi pemilik sebuah sanggar musik. Fujiwara Shinnosuke, tapi akrab dipanggil Sai-sensei, 38, tinggal di Innoshima, seorang seniman keramik yang pernah meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional maupun internasional. Dikenal juga karena kecakapannya dalam seni klasik seperti go, musik, dan kaligrafi. Mengalami kecelakaan pada April 1999 karena roda putar keramiknya lepas, yang membuatnya kehilangan tangan. Mau kulanjutkan?"

Hikaru mendesah. Tapi Ogata tidak memperhatikan dan tetap melanjutkan membaca nama-nama dari daftar.

"Fujiwara Akihiro, 36, tinggal di Kyoto. Mantan go-pro dari Kansai Ki-In, Dan-7. Sempat dikatakan menjadi calon kuat untuk gelar Honinbou dan Meijin, namun mengalami kecelakaan pada usia 24 yang membuatnya tidak bisa melihat. Sejak itu berubah haluan menjadi sastrawan dengan menulis novel dan puisi dibantu oleh muridnya. Saat ini menggunakan nama pena Shimasai. Fujiwara Saitama, 33, asal Kanagawa. Lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Teitou pada usia 20. Menempuh pendidikan spesialis dokter bedah kemudian meraih gelar Ph.D ketika usianya 25. Pernah menjadi insei sewaktu usianya 10 hingga 12 tahun, tetapi memilih untuk mengejar cita-cita sebagai dokter. Ia juga dikenal sebagai jenius dalam musik, khususnya piano. Mengalami kelumpuhan akibat ALS sejak usia 27, saat ini tengah dalam perawatan di Amerika. Fujiwara Saito, 29. Putra dari Fujiwara Tsukishiro dan Karen Amstrong, keduanya adalah grandmaster catur internasional. Meski didiagnosis dengan autisme savant, berhasil meraih Ph.D. dari Harvard pada usia 23 di bidang matematika dan dari Yale pada usia 26 di bidang teknik informatika. Saat ini bekerja sebagai consultant programmer dari kediamannya di Ottawa, Kanada. Tengah terlibat dalam pengembangan pemrograman piranti lunak boardgame tradisional, khususnya shogi dan go, berbasis artificial intellegence. Fujiwara Sai, sekitar pertengahan 20-an..."

"Percuma saja, Ogata-sensei..."

"Ditemukan di Sungai Yodo pada Mei 2002 tanpa identitas. Setelah menjalani perawatan selama dua tahun, pada 2004 bangun dari koma. Menderita post-traumatic amnesia sekaligus halusinasi. Menyebut dirinya sebagai Fujiwara no Sai, seorang instruktur go untuk kaisar pada masa Heian. Saat ini menjalani perawatan psikiatrik di rumah sakit jiwa."

Mendengar hal yang terakhir, Hikaru—yang semula sudah mau memutar kenop pintu—berhenti di tempat dan berbalik begitu cepat. Terlambat ketika ia menyadari, roman mukanya pasti sudah memberitahukan semuanya, karena Ogata mendengus menang.

"Hm, sepertinya aku menemukan Sai. Di antara semua jenius itu, Sai yang sebenarnya adalah seorang skizofrenik? Tidak mengherankan kalau muridnya setengah gila. Oh, tunggu, sepertinya aku menyimpan fotonya di pon..."

Kata-kata Ogata, bagaimanapun, tidak selesai karena Hikaru keburu menarik kemejanya dan mendorongnya ke dinding.

"Di mana Sai?" geramnya.

"Uh, sabar, Shindou. Bukankah aku bilang aku punya data mengenai dia?" Ogata mengacungkan USB flashdisk tadi, "Aku juga bilang akan memberikannya padamu, kau tak perlu bertindak kasar."

Tanpa basa-basi, juga tanpa mengucapkan terima kasih, ia mengambil (merampas) flashdisk itu dari tangan Ogata. Ia baru sampai ambang pintu, ketika ia menyadari sesuatu dan berbalik pada Ogata.

"Mengapa kau memberi tahu ini padaku?" ujarnya curiga.

Masih bersandar di tembok, Ogata merapikan pakaian dan membetulkan posisi kacamatanya. Nada suaranya agak menggurui, dan ada senyum yang jelas tampak di ujung bibirnya ketika menjawab, "Seorang pria harus mengetahui seperti apa sesungguhnya calon suaminya sebelum menikah, bukan?"

Hikaru agak mengerung dengan kata-kata itu, tapi ia memilih tidak peduli dan bergegas pergi. Sekarang urusannya adalah cara mengakses data di flashdisk itu. Ia tidak membawa laptop, tapi panitia penyelenggara Hokuto pasti memiliki komputer kan?

Sial sekali, ketika ia sedang menunggu elevator turun, tahu-tahu elevator sebelahnya terbuka dan keluarlah Akira.

"Hikaru!" tunangannya itu tampak gembira melihatnya. "Kebetulan sekali, aku mencarimu! Selamat..."

Pintu elevator yang ditunggu Hikaru terbuka. Tanpa banyak basa-basi, Hikaru menarik tangan Akira, menggereknya masuk ke elevator dan memepetnya ke dinding. Tak lupa ia menekan tombol tahan agar tak ada yang menginterupsi mereka.

"Uh, Hikaru..." bisik Akira dengan napas tersegal. Hikaru bisa merasakan panas napasnya dan debar jantungnya. Jelas, sikap agresif Hikaru yang tak biasa membuatnya libidonya naik. "Di ... di sini?"

"Akira...," ada bara di mata Hikaru ketika ia menyebut menyebut nama Akira dengan nada rendah, nyaris menggeram, memberi tekanan pada setiap suku kata.

"Ah, i-iya...," detak jantung Akira makin meningkat, membuatnya nyaris mencericit. Wajahnya bersemburat merah.

"Kenapa kau menyembunyikan soal Sai dariku?"

Mata Akira yang setengah berkabut langsung membelalak, dan Hikaru bisa merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia mendorong tubuh Hikaru yang menekan tubuhnya, membuat Hikaru mundur selangkah.

"Apa maksudmu, aku menyembunyikan soal Sai?" ia merapikan pakaiannya, kelihatan berusaha menenangkan debar jantungnya.

"Tidak usah pura-pura! Aku dengar dari Ogata, bahwa kau memintanya mencari tahu keberadaan Sai! Tapi kau juga yang melarangnya untuk mengatakannya padaku. Kenapa, Akira?"

"Aku tidak melakukan itu!" Akira mencoba berkelit.

"Jangan bohong!" Hikaru kembali menekan. "Aku punya buktinya!" ia melambaikan flashdisk di tangannya. Akira tampak pucat, dan berusaha meraihnya, namun Hikaru lekas menariknya kembali dan memasukkannya ke saku celana. "Aku cuma ingin tahu, kenapa kau melakukan ini, Akira? Kenapa kau berusaha menyembunyikan Sai dariku?"

Akira sepertinya sadar ia sudah terpojok, dan ia tak lagi berusaha menyangkal. "Apa pentingnya? Kau sendiri yang bilang bahwa gurumu sudah wafat, kan? Info apapun yang dibawa Ogata..."

"Tapi Sai masih hidup!" seru Hikaru.

Kerung tampak di antara kedua mata Akira, dan sesaat keraguan terbersit di dada Hikaru. Apa Akira memang benar-benar tidak tahu?

"Sa-Sai ... masih ... hidup...?"

'Hidup lagi', satu suara dalam benaknya mengoreksi, tapi itu tidak penting kini.

"A-apa kau yakin, Hikaru?" Akira tampak terbata, "A-Apa ... apa itu ... benar-benar Sai?"

"Ogata mengatakan informasi tentangnya yang hanya aku yang tahu, jadi sudah pasti itu dia! Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia di luar sana... Selama ini, aku mencarinya ke mana-mana, dan ia di sana! Kau tahu aku mencarinya. Kenapa kau tidak bilang, Akira?"

"Hi-Hikaru, aku benar-benar tidak tahu... Ogata-san baru memberikan data itu dua minggu yang lalu, a-aku bahkan belum melihatnya! Kalaupun aku melihatnya, aku mana bisa tahu yang mana Sai! Kau nyaris tidak pernah memberikan detail apapun mengenai Sai padaku."

Fokus Hikaru hanya pada satu frase. "Dua minggu? Kau tahu hal ini sudah dua minggu, dan kau tidak mengatakan apa-apa?"

Dua minggu... Apa yang bisa terjadi dalam unit psikiatri itu selama dua minggu? Mereka menganggap Sai gila... Mereka sudah menganggap Sai gila sejak 2004, artinya sudah 4 tahun! Dan Sai bukan orang dengan emosi yang stabil juga, pada dasarnya. Dulu Hikaru tidak menyadarinya, tapi sekarang ia terbuka pada kemungkinan bahwa Sai bipolar. Oh, ia bahkan dengan mudahnya bunuh diri hanya karena satu kekalahan, demi Tuhan! Oke, hal ini mungkin sangat berat karena Sai tak hanya kalah, ia juga dipermalukan dan diusir oleh Kaisar (yang merupakan saudara ipar atau setidaknya sepupunya sendiri, kalau ia tidak salah memahami silsilah keluarga Fujiwara). Mungkin juga orang menilai terlalu tinggi harga diri sehingga menanggapi rasa malu dan kekalahan dengan cara yang berlebihan pada masa itu. Tapi tetap saja!

Beribu kemungkinan buruk muncul di benak Hikaru. Bagaimana jika Sai disuntikkan entah-apa yang merusak otaknya? Sai sangat sensitif, bagaimana jika mereka bersikap kasar padanya? Bagaimana jika Sai depresi lantas bunuh diri lagi? Bagaimana jika Sai...

Ia bisa merasakan berat flashdisk di sakunya. "Aku akan pergi menemui Sai!" deklarasinya. "Sekarang ketika aku tahu Sai masih hidup, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menemuinya!"

Wajah Akira di hadapannya tampak aneh, tapi ia mengangguk. "Uh, baik... Aku akan menemanimu. Mungkin dua-tiga hari sepulang kita bulan madu..."

"Maksudku sekarang!"

"A-apa?"

"Menurut apa yang kudengar dari Ogata, situasi Sai rumit sekarang. Orang-orang itu tidak memahaminya! Dia pasti diperlakukan tidak baik. Aku harus segera menemui Sai!"

"Ta-tapi, besok pernikahan kita!"

"Siapa peduli pernikahan! Sai mungkin dalam bahaya!"

Mungkin itu sesuatu yang salah diucapkan, karena sesaat Akira membeku. Kemudian ia berujar, nyaris seperti menangis, "'Siapa peduli'? Jadi begitu, kau menganggap pernikahan kita tidak berarti?"

"Akira, jangan egois!"

"Aku egois? Aku?!"

"Ini urusan prioritas! Sudah kubilang keadaannya genting! Sai..."

"Sai, Sai, Sai! Selalu tentang Sai! Siapa sebenarnya Sai bagimu, Hikaru?"

"Kau tahu Sai sangat berarti bagiku!"

"Ya, tentu saja aku tahu. Aku sangat tahu! Semua tentangmu adalah tentang Sai! Cita-citamu, go-mu! Setiap kau bicara mengenai Shuusaku, aku tahu kau bukan bicara mengenai dia. Setiap kau bermain gaya Shuusaku, itu bukan karena kau sekadar terinspirasi olehnya. Ketika kau membela Shuusaku, aku tahu kau tidak hanya membelanya. Ini semua tentang Sai, Sai, Sai. Aku bosan kau terus memuja Sai seolah aku tidak berarti bagimu!"

"Apa maksudmu, Akira? Kau cemburu pada Sai? Sai?!"

"Apa maksudmu aku tak bisa cemburu? Aku tahu ia dekat denganmu. Oh, brengsek, aku bahkan tahu ia tinggal denganmu, kau pernah menyebut namanya waktu aku membangunkanmu. Kau bilang 'lima menit lagi, Sai'. 'Lima menit lagi, Sai'? Apa itu kalau bukan kau tinggal dengannya?"

"I-itu... Itu bisa berarti apa saja, Bodoh!"

"Kau memanggil Sai dalam tidurmu! Kau memanggil Sai ketika kau mabuk! Kau kadang salah menyebutku sebagai Sai! Oh, brengsek, kau bahkan pernah menyebut nama Sai ketika tidur, setelah bercinta denganku!"

Hikaru menganga. "Tidak! Aku tidak pernah begitu!" sangkalnya keras.

"Mana mungkin kau tahu! Kau tidak sadar!" teriak Akira sama kerasnya. "Selama ini aku diam, aku menahan diri, karena kaubilang dia sudah tiada! Apapun dia untukmu, itu sudah tidak berarti lagi. Tapi sekarang..."

Gemetar mulai tampak di ujung-ujung jemari Hikaru. "Ja-jangan bicara seolah aku... Seolah aku... Seolah Sai..."

"Seolah apa? Seolah kau memandangnya lebih dari sekadar guru? Apa selama ini memang hanya Sai di hatimu? Sai, bukan aku?"

"Hentikan! Hubunganku dengan Sai benar-benar bukan sesuatu yang bisa kaukategorikan semudah itu!"

Rupanya itu ditafsirkan dengan cara yang berbeda oleh Akira, karena ada perih di matanya yang jelas terlihat. "Oh, terima kasih," katanya sinis. "Kau mengakui hubunganmu dengan Sai, kalau begitu?"

"Akira!" peringat Hikaru.

Kelihatannya Akira tidak menyadari nada awas pada suara Hikaru, atau ia terlalu bodoh untuk menantang macan yang sedang terancam, karena ia masih melanjutkan.

"Apa? Aku benar kan? Aku tahu ia bersamamu sejak kau masih 12. Berapa usianya saat itu, hah? 20? 25? 30? Jadi apa kau mau bilang bahwa Sai itu pedo..."

Merah menguasai ruang mata Hikaru. Ia bahkan tidak benar-benar sadar ketika tangannya melayang...

Plakkk!

"Jangan katakan hal buruk tentang Sai!" serunya, merasakan panas yang menjalar di tangannya, di dadanya, di seluruh tubuhnya. "Kau bisa bicara apa saja tentangku, tapi jangan katakan hal buruk tentang Sai! Kaupikir kau siapa?!"

Secepat kata itu terlontar dari mulutnya, secepat itulah kesadaran menghantam Hikaru. Dalam nanar dilihatnya sosok yang terluka di hadapannya. Akira, yang menatapnya dengan mata membeliak tak percaya. Akira, yang menatapnya seolah melihat alien. Akira; tubuhnya yang ringkih tersuruk di pojok elevator, tangannya memegang sebelah pipinya. Ia bisa melihat warna merah membayang di balik tangan itu, memandang padanya dengan tatapan menuduh. Dan setitik merah di ujung bibirnya...

Satu sisi dalam dirinya—yang anehnya terdengar seperti Sai—berteriak, menghardik, memaki, menghujat. Memaksanya untuk segera berlutut, menyembah, memohon ampun. Akira adalah kekasihnya! Oh, Akira adalah calon suaminya, demi Tuhan! Besok seharusnya ia mengucapkan sumpah di hadapan Kami dan orangtua Akira untuk selalu setia padanya, melindunginya, menjaganya dengan sepenuh jiwa raga.

Kau tidak seharusnya berlaku kasar pada suamimu, Hikaru!

Tapi ada satu sisi lain yang menahannya. Sisi yang dengan penuh keangkuhan menjustifikasi tindakannya. Bahwa ia sepenuhnya tidak salah. Bahwa Akira pantas mendapatkan apa yang ia dapatkan. Sosok di depannya inilah yang telah menghalanginya dari Sai! Ia dengan sengaja menutupi informasi penting darinya! Ia telah mengkhianatinya!

Tidak hanya itu, dia juga telah menghina Sai!

"Sial!" geram Hikaru, melampiaskan frustrasinya dengan menghantam dinding. Ia tidak kuat berada di tempat itu lagi, atau kerusakan yang ia sebabkan bisa lebih dari ini. Menggemeretakkan gigi, dengan kasar ia menekan tombol untuk membuka pintu elevator. Pintu terbuka tanpa suara. Ia bisa mendengar Akira berteriak padanya dengan nada antara sakit dan amarah, tapi ia tak peduli—tak ingin peduli—dan melangkah keluar. Namun belum sampai dua langkah meninggalkan elevator, tahu-tahu ia merasa tubuhnya ditarik dari belakang. Dunia berputar dan ia terjerembap menghantam lantai.

Satu hantaman keras mengenai rahangnya, membuat telinganya berdenging. Dalam kondisi setengah sadar, Hikaru merasakan sesuatu menindih tubuhnya, menekannya ke lantai. Bayang wajah Akira yang tak pernah ia kenal memasuki retinanya. Ia bak Kongorikishi, dewa penjaga yang siap menghukum manusia durjana dengan petir di tangannya, yang patungnya ia lihat di Kuil Todaiji. Matanya membakar penuh amarah. Lisannya meneriakkan makian dan tuntutan. Tinjunya melayang di udara...

Instingtif, Hikaru memejamkan mata rapat-rapat. Namun pukulan yang dinanti tak kunjung tiba. Entah bagaimana, ia merasa bobot di atas tubuhnya terangkat, dan ketika Hikaru memberanikan diri membuka mata, ruang kecil di depan elevator tak lagi kosong. Tampak beberapa orang berusaha menahan Akira, yang masih meronta dan berteriak kesetanan bak binatang terluka. Ia bisa melihat Ogata sebagai salah satunya, memandangnya dengan nyalang antara menuduh dan ingin ikut menghantamnya.

Menampik tangan yang berusaha membantunya, Hikaru menekankan tinjunya ke lantai untuk berdiri. Rahang dan punggungnya terasa sakit, tetapi dadanya lebih lagi.

Kenapa, kenapa mereka harus bertengkar, lagi dan lagi? Mengapa mereka harus berkelahi? Mengapa semua menjadi tak terkendali seperti ini?

Ia pengecut, ia tahu. Satu sisi dalam dirinya memaki, ketika ia menekan tombol elevator, membalikkan badan dan melarikan diri. Ia bisa melihat sosok Akira, yang demi menyadari kepergiannya, kian berusaha melepaskan diri dari kekangan Ogata—serta Ogata yang terobek antara ingin mengejarnya dan berusaha menahan Akira. Ia tak ingin peduli. Ia hanya ingin pergi dari tempat terkutuk itu.

.


.

Entah ini keberuntungan atau apa, flashdisk itu tidak rusak atau terlempar dalam semua keributan itu. Hikaru sempat membuka isinya di sebuah warnet tak jauh dari hotel, memasukkan seluruh data ke cloud drive agar ia bisa mengaksesnya dengan ponsel, dan mengeprint data mengenai Sai. Ia pergi begitu saja dengan meninggalkan seluruh bawaannya di hotel—yang bahkan kartu RFID-nya belum ketemu—jadi ia juga merasa sangat beruntung karena kali ini ia masih mengantongi dompet di sakunya. Hanya karena itu, ia bisa segera melaju ke stasiun dan memesan keberangkatan terdekat.

Sayangnya, ia tidak merasa begitu dengan ponselnya—yang sialnya terbawa dan tidak rusak, hanya sedikit retak, kemungkinan besar ketika Akira menjatuhkannya ke lantai. Ponselnya terus-menerus berdering. Rui, Oka, Ogata, Waya, Isumi, nomor-nomor tak dikenal yang kemungkinan besar pihak penyelenggara Hokuto atau pers... Hingga akhirnya ia lelah dan mematikan ponsel sial itu.

Tinggal tunggu waktu hingga Touya-sensei mendengar semua ini, dan selamanya ia tak hanya akan terusir dari keluarga Touya, tapi juga dari dunia go.

Haruskah ia peduli?

Getar pelan memenuhi ruang kesadarannya, tatkala ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela di samping tempat duduknya. Di luar masih gelap, ia tak bisa melihat apapun selain sekilas kelebatan sinar tanpa rupa dan bentuk. Shinkansen yang ia tumpangi melaju meninggalkan Tokyo, meninggalkan kehidupan yang selama ini ia jalani, dengan segala kerumitan dan kepalsuannya.

.


.

Notes:

Tau ga? Flashdisk tempat aku nyimpen data ilang dong... padahal tugas UTS termasuk proposal macem-macem ada di situ semua. Sebel banget, padahal biasanya aku simpen semua data di cloud drive, tapi berhubung kemaren koneksi internet lagi ga bener, aku ga sempet back up. Plus, laptop ak error jadi aku pinjem laptop, alhasil ga ada back up datanya. Kesel bangeeettttt...

Jadi untuk melampiaskan kekesalan, aku update fic lagi deh. Abis ini aku mau tulis ulang proposal buat UTS. Hhhhhh...

Review?