Chapter 13. Hanyut
.
Ia sampai ketika matahari sudah sepenggalah naik. Bangunan besar berwarna putih itu tampak berkilau di bawah sinar matahari pagi bulan Mei, berdiri dengan anggunnya di tengah hamparan rerumputan dan deretan sakura yang mulai berguguran. Seharusnya itu pemandangan yang indah, jika Hikaru tidak terlalu merana untuk menikmati seluruh keindahan itu.
Seorang suster memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki ketika ia mendatangi resepsionis, menanyakan bagaimana ia bisa mendapat ijin untuk mengunjungi salah satu pasien. Ia tahu apa yang ada di pikiran wanita itu—ia sendiri mungkin tampak seperti calon pasien, dengan wajah dan pakaiannya yang kusut. Ia masih memakai setelan jas dan kemeja kemarin, tanpa dasi, dan ada setitik darah di kerah kemejanya. Ia tidak sempat membeli persalin di stasiun, sama sekali tidak berpikir soal itu bahkan, dan langsung meluncur ke lokasi begitu sampai.
"Fujiwara Sai...," suster itu menjalankan tangannya menggerakkan tetikus, mencari nama tersebut di deretan data pasien di komputer. "Maaf, tidak ada nama tersebut."
"Saya mohon tolong cek sekali lagi!" paksa Hikaru. "Mungkin ia terdaftar dengan nama lain. Ia pasien yang ditemukan di Sungai Yodo enam tahun lalu dan menderita amnesia."
"Maaf sekali, tapi..."
"Ada apa ini?"
Hikaru dan sang suster menoleh ke sumber suara. Seorang dokter—kelihatannya, jika melihat pakaian yang ia kenakan—menghampiri mereka, kelihatannya tertarik melihat seorang pemuda bertampang lusuh pagi-pagi sudah menginterogasi sang suster. Mungkin ia bersiap-siap akan memanggil sekuriti untuk meringkus Hikaru juga. Ia toh menyadari bahwa ia kelihatan setengah gila.
"Oh, Dokter Suzuki," sang suster memberi salam. "Pria ini mencari pasien bernama Fujiwara Sai."
"Fujiwara Sai?" ada kerung di kening dokter paruh baya itu. "Dan Anda..."
"Shindou Hikaru," Hikaru menunduk memperkenalkan diri, sebisa mungkin menampakkan sikap profesional sebelum si dokter benar-benar menganggapnya gila dan melemparkannya ke ruang isolasi.
Mata si dokter membelalak. "Shindou ... Shindou Hikaru Honinbou?" serunya, yang membuat Hikaru mengerang dalam hati. Dunia go adalah dunia yang kecil, kenapa juga seorang dokter jiwa mengenalnya?
"Ah, iya..." ia menegakkan diri dengan gugup. Tolong, tolong jangan katakan berita perkelahiannya dengan Akira entah bagaimana sudah masuk media, dan setelah ini ia akan segera ditangkap untuk dijebloskan ke penjara atas tuduhan menyerang sang pangeran emas dunia go. Atau lebih buruk lagi, dikirim kembali ke Tokyo untuk menghadapi murka Touya-sensei.
"Sensei, saya penggemar Anda!" seru sang dokter dengan wajah sumringah. "Mari, mari, silakan ke kantor saya. Saya punya goban di ruangan. Mohon Anda sudi memberikan saya sedikit shidougo..."
Astaga, apa dokter ini juga setengah gila?
"Uh, maaf," Hikaru berusaha menggaris batas, "Saya kemari untuk menjenguk seseorang. Fujiwara Sai, apakah Anda kenal?"
Ia sudah menyebut nama itu tiga kali, tapi kelihatannya tidak ada tanda-tanda siapapun mengenalnya. Apa data yang diberikan Ogata salah?
"Kabarnya ia ditemukan di Sungai Yodo, tahun 2001. Transferan dari Rumah Sakit Yodogawa. Penderita skizofrenia yang mengaku sebagai guru go dari era Heian," ia mengutip kata-kata Ogata dengan hati perih. Ia tak ingin mengatakan ini, seolah ia mengakui bahwa Sai benar-benar gila. Tapi tak ada cara lain, atau selamanya ia hanya akan menemui jalan buntu.
"Oh, Sai-sensei!" seru Suzuki-san. "Tentu, tentu saya mengenalnya. Silakan, silakan ikut saya," dan ia membimbing Hikaru untuk mengikutinya, seraya memberi kode pada sang suster untuk mengizinkan Hikaru masuk.
Tak urung Hikaru merasa awas. Apa arti kode itu? Apa setelah ini ia akan diringkus? Tapi merasa tak punya pilihan lain, ia pun mengikuti sang dokter.
"Ia adalah pasien kolega saya, Murakami Reika," jelas sang dokter. "Hampir semua orang di sini mengenalnya. Jika kondisinya sedang baik, ia sering memberikan shidougo kepada para pasien lain, bahkan kepada para dokter dan perawat. Tapi karena ia masuk dengan nama anonim, nama yang Anda sebutkan tidak ada di data pasien. Jika boleh tahu, apa hubungan Anda dengannya?"
Uh. "Di-dia guru saya," jawab Hikaru.
"Guru?" mata sang dokter membelalak. "Saya kira Anda tidak punya guru, Shindou-sensei?"
Sampai sejauh mana informasi mengenai dia tersebar di dunia go, sih? "Dia guru saya sewaktu masih kecil," jawab Hikaru. "Saya kehilangan dia segera setelah saya menjadi pro."
Sang dokter manggut-manggut. "Dan Anda mendapat informasi mengenai keberadaan Sai-sensei di sini dari...?"
Haruskah Hikaru mengatakannya? Apakah Ogata mendapatkannya dari jalur yang legal? "Salah satu rekan saya pernah mengunjungi kerabatnya di sini," ia berdoa agar kebohongannya setidaknya bisa dipercaya. Apakah institusi ini terbuka untuk umum? "Kabarnya ia melihat guru saya di antara para pasien..."
Sang dokter kembali menganggukkan kepala, walaupun Hikaru melihat ada sedikit kesangsian. "Rupanya ia memang benar seorang pro... Sebenarnya kami sempat menghubungi beberapa cabang keluarga Fujiwara, juga Nihon Ki-In dan Kansai Ki-In, tapi tidak ada yang mengaku mengenalnya..."
Menghubungi Nihon Ki-In? Kapan? Mengapa ia tidak tahu? Siapa yang mereka hubungi? Ribuan pertanyaan berseliweran di benak Hikaru, tapi ia tidak mengutarakannya. Bisa gawat kalau dokter ini malah balik bertanya macam-macam. Bisa-bisa ia ditendang sebelum bahkan bertemu Sai.
Mereka memasuki halaman dalam rumah sakit. Hikaru bisa melihat beberapa orang dengan seragam putih mundar-mandir. Ia harus segera melakukan sesuatu sebelum si dokter menginterogasinya lebih lanjut.
"Anu, apakah saya dapat menemuinya?" ujarnya cepat, berusaha menangkap sosok Sai di antara orang yang lalu lalang.
"Sayangnya tidak. Saat ini Murakami-san belum datang. Sesuai prosedur, saya tidak bisa membiarkan siapapun menemui pasien tanpa persetujuan dokter yang bersangkutan. Tapi silakan Anda menunggu sebentar di kantor saya. Saya akan mencari tahu apa yang bisa saya lakukan," ujarnya, menggiring Hikaru menuju kantornya yang terletak di sisi barat taman.
"Uh, iya...," ia merasa tak ada gunanya memberontak. Jikapun ini merupakan jebakan untuk menangkap dan menjebloskannya ke salah satu sel psikiatri, justru makin besar kemungkinan baginya untuk bertemu dengan Sai. "Jika boleh, saya ingin meminjam kamar kecil..."
"Oh ya, silakan, silakan," dengan ramah sang dokter membukakan pintu kantornya dan mempersilakan Hikaru masuk. "Anda bisa menggunakan toilet pribadi saya. Toilet umum di sana sedang diperbaiki."
"Ah, terima kasih."
.
Bau steril yang lebih menyengat menyergapnya begitu memasuki toilet, membuatnya pusing. Hikaru membasuh muka dan memperhatikan bayangannya di cermin. Uh, ia benar-benar terlihat kacau. Bekas tonjokan Akira menyisakan lebam merah-biru di tulang pipinya. Ia tak tahu bagaimana si ringkih itu beroleh kekuatan untuk menghajar dan menjatuhkannya segala. Secara fisik, di luar goban dan ranjang. Tapi kalau mengingat bagaimana mengerikannya ia kalau sudah berubah menjadi oni...
Mungkin ini balasan yang layak untuknya. Bagaimanapun, ia yang terlebih dahulu menampar Akira.
Tak urung, ia mengingat kejadian tiga tahun lalu, ketika di depan matanya, ayahnya memukul istrinya sendiri ketika sang ibu mencecarnya perihal kekasih gelap sang ayah. Ia langsung naik pitam saat itu, menjadikan dirinya tameng untuk melindungi ibunya dan memukul balik sang ayah. Sang ayah memakinya, mengatainya bocah tak tahu adat, berandalan, homo laknat (padahal saat itu ia belum jadian dengan Akira), dan sejuta cacian lain, sebelum Hikaru dengan segenap keberanian menyuruhnya angkat kaki dari rumahnya sendiri.
Terus terang saja, rumah itu secara teknis bukan lagi milik Shindou Masao, setelah sang ayah mengagunkannya ke bank entah untuk tujuan apa, dan Hikaru menggunakan separuh tabungannya untuk menebusnya. Setelah Masao pergi, Hikaru membalik nama rumah itu atas nama ibunya, sehingga setidaknya ia tak perlu merasa asing tinggal di rumah yang bukan miliknya. Shindou Mitsuko, sayangnya, menolak menggunakan kembali nama gadisnya bahkan walau mereka bercerai, pun ia menolak menikah lagi, sehingga Hikaru masih menyandang nama Shindou.
Ia nyaris tak pernah mendengar apapun dari ayahnya setelah orang itu pergi. Shindou Heihachi, yang memang sejak awal lebih dekat pada menantunya ketimbang anaknya sendiri, begitu marah hingga mencoret Masao dari koseki dan daftar ahli warisnya, tapi entah Masao masih menyandang nama keluarganya atau tidak. Yang Hikaru tahu, ia sudah menikah lagi dengan selingkuhannya itu, entah mereka punya anak lagi atau tidak.
Sekali-kalinya ia mendengar sesuatu dari ayahnya adalah setelah pertandingan untuk mempertahankan gelar Honinbounya dari Akira tahun kemarin, ketika ia akui ia agak gegabah pamer kemesraan di muka publik. Itu sebenarnya cuma kejadian biasa; ia membisiki Akira sesuatu pada acara resepsi di malam penganugerahan gelar—ia bahkan sudah lupa apa topik pembicaraan mereka—dan Akira tertawa. Akira tertawa, itu saja masalahnya! Akira tertawa lepas dengan pipi bersemburat pink setelah kalah 3-4 dalam pertandingan perebutan gelar, sementara Hikaru membisikinya, dengan sebelah tangannya berada dalam genggaman tangan Hikaru. Kosemura sial itu mengambil foto mereka tanpa sepengetahuannya, dan selama beberapa hari Weekly Go (beserta beberapa koran dan tabloid gosip lain) dihiasi rumor mengenai hubungannya dengan Akira. Foto itu seakan menjadi konfirmasi atas rumor tidak jelas mengenai status hubungan mereka yang mulai berseliweran sejak Hokuto Cup kedua. Terlebih, tak sampai empat bulan sebelumnya, Akira pindah ke apartemennya. Ia dan Akira memilih tidak berkomentar ketika pers mencecar mereka, begitu pun keluarga Touya dan teman-teman Hikaru, tapi tentu saja itu malah membuat rumor yang ada semakin menjadi.
Ayahnya menghubunginya saat itu, mengatakan bahwa ia sangat malu dengannya, dan menyuruhnya segera putus dengan Akira. Hikaru benar-benar naik pitam saat itu, mempertanyakan apa hak Masao bicara begitu, secara ia sudah bukan lagi ayahnya sejak memilih wanita lain dan menyakiti ibunya. Ia membanting telepon setelah mengatakannya, lantas merosot dan menangis.
Ia begitu membenci sikap kasar sang ayah, mengutuknya bahkan. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, pada ibunya, pada Sai, pada Kami, untuk tidak pernah menempuh jalan yang sama. Ironisnya, justru ia dengan tangannya sendiri merusak sumpah itu.
Jika Sai tahu, ia akan memarahinya habis-habisan, ia yakin. Mungkin menghukumnya. Atau malah memecatnya jadi murid. Sai, dengan rasa keadilannya yang tinggi...
Bagaimana ia bisa memperbaiki semua ini dan kembali pada Akira? Astaga, masih adakah jalan untuknya kembali pada Akira?
Dipandangnya jam yang tergantung di dinding kamar mandi. Pukul 9. Seharusnya saat ini ia dan Akira melangsungkan upacara di kuil. Seharusnya, detik ini ia resmi menjadi Touya Hikaru. Ia tak tahu bagaimana reaksi keluarga Touya mengetahui ia meninggalkan Akira sebelum mereka mencapai altar. Astaga, ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi seluruh Ki-In. Benar, mereka tidak mengumumkan rencana pernikahan mereka besar-besaran, tapi lingkaran mereka tahu, dan mereka adalah orang-orang berpengaruh di dunia go. Ogata-sensei adalah pemegang kekuasaan tertinggi di dunia go Jepang saat ini, dan pasti ia akan bersisian dengan Akira. Sudah jelas, ia akan segera menjadi paria. Mungkin setelah ini ia akan dipecat, seluruh gelarnya akan dicabut. Masih untung kalau ia masih diperbolehkan bertanding di kancah amatir dalam maupun luar negeri. Kalau melihat betapa mereka memandang tinggi keluarga Touya, rasanya bahkan sudah tak ada tempat baginya di manapun di dunia go.
Mengenyahkan segala perasaan buruk itu, Hikaru membasuh mukanya sekali lagi. Ia selalu menyebut dirinya ksatria Sai, jadi ini saatnya ia bersikap ksatria. Ia akan menerima konsekuensi atas apapun kerusakan yang ia perbuat, tekadnya. Jikapun Touya-sensei memerintahkannya untuk melakukan seppuku, ia akan lakukan.
Tapi sebelumnya, ada hal yang harus ia dahului.
Bertekad menunaikan kewajiban yang ada di depan mata, ia berusaha sebaik-baiknya memperbaiki penampilannya. Tak banyak yang bisa ia lakukan, sebenarnya, ia tak bisa menyembunyikan matanya yang hitam dan lebam di pipinya. Ia menarik dasinya dari saku dan memasangnya dengan tangan gemetar, kemudian berusaha menyisir rambutnya yang kusut dengan jemari. Menepuk pipinya beberapa kali, ia menarik napas dalam-dalam, dan melangkah keluar ruangan.
.
Sudah ada seorang wanita berusia sekitar 40-an di depan meja Suzuki-san ketika ia membuka pintu toilet. Ia juga mengenakan jas dokter. Kacamata yang membingkai wajahnya, dan tatapannya yang tajam menjadikannya agak mengintimidasi. Apakah ini dokter Sai?
"Ah, Shindou-sensei," seru Suzuki-san, bangkit dari kursinya begitu melihat Hikaru. "Perkenalkan, ini Murakami Reika-san, dokter yang menangani Sai-sensei. Murakami-san, ini Shindou-sensei, go-pro dari Nihon Ki-In."
Hikaru mengucapkan salam, yang dibalas dengan mata curiga. Astaga, apa lagi ini?
"Jadi Anda yang mengaku sebagai murid Sai? Jujur saja, saya tidak begitu memahami dunia go. Tapi kami sempat menanyakan perihal Sai pada Nihon Ki-In dan Kansai Ki-In sewaktu Sai masuk beberapa tahun lalu, dan tidak ada yang mengonfirmasi identitasnya. Maafkan ketidaksopanan saya, tetapi sebagai dokter, saya tidak dapat begitu saja memberikan informasi mengenai pasien saya ataupun memperkenankan orang asing menemuinya tanpa identitas dan hubungan yang jelas."
"Murakami-san!" peringat Suzuki-san. "Dia benar-benar Shindou-sensei, aku sering melihat fotonya di Weekly Go! Tidak mungkin seorang Honinbou berbohong!"
Murakami Reika tidak membalas, hanya mendaratkan pandangannya yang penuh tuduhan pada Suzuki-san, mungkin menghardiknya karena bisa-bisanya memberikan informasi pasien begitu saja pada orang luar, Honinbou sekalipun. Orang yang disebut belakangan tampak mengkeret, mungkin menyadari kesalahannya. Hikaru merasa ini saatnya ia turun tangan.
"Tidak apa, Suzuki-sensei," ujarnya. "Maafkan saya, datang begitu saja tanpa pemberitahuan. Saya sudah lama kehilangan kontak dengan guru saya, saya berusaha mencarinya tetapi sama sekali tidak ada kabar. Baru belum lama ini saya mendapatkan informasi mengenai keberadaannya, dan saya langsung meluncur kemari. Mengenai status Sai, setahu saya ia memang bukan profesional, sehingga wajar jika Ki-In tidak punya catatan mengenainya."
"Bukan profesional?" ada kerung di dahi sang dokter.
"Benar."
"Lantas bagaimana ia bisa mengajar jika ia bukan profesional?"
Hikaru mati-matian berusaha menjaga nada suaranya tetap normal. "Banyak pemain go yang juga memiliki kemampuan, tetapi tidak tergabung dalam Ki-In. Saya tidak merasa status Sai sebagai amatir mereduksi kemampuannya untuk mengajar."
"Bagaimana Anda bertemu dengannya, jika saya boleh tahu?"
Nah, ini bagian yang sulit. "Kami bertemu lewat internet sewaktu saya berusia 12. Ia mengajar saya selama dua setengah tahun."
"Oh, apakah ia Sai, Saint of NetGo yang dulu sempat terkenal itu?" Suzuki-san kelihatan benar-benar antusias, tetapi pandangan tajam Murakami-san membungkamnya.
Hikaru merasa tak ada gunanya menghindar, dan dalam hati berdoa agar ia tidak menggali lubang kubur sendiri. "Benar, tapi saya harap Anda berkenan merahasiakannya. Sejak dahulu pun, Sai selalu bersikukuh untuk menutupi hal ini, meski saya tidak tahu alasannya."
"Jika Anda bertemu melalui internet, apakah Anda tidak pernah bertemu dengannya secara langsung? Bagaimana Anda tahu Sai yang ini adalah benar guru Anda, kalau begitu?"
"Te-tentu saja kami pernah bertemu langsung," jawab Hikaru. Astaga, yakin dokter ini bukan pemain go? Mengapa ia terus memojokkannya?
"Oh, di mana?"
"Di Tokyo," Hikaru memutuskan untuk tidak mengelaborasi lebih jauh.
"Apakah ada orang lain yang bisa mengonfirmasi cerita Anda atau identitas Sai? Ah, bukankah Anda mengatakan bahwa ada rekan Anda yang mengaku melihat Sai di sini? Bolehkah saya meminta data mengenai orang tersebut, agar saya dapat mengonfirmasinya langsung?"
Ah, atari! Bukan, ia terjebak dalam tangga! Bagaimana cara agar ia bisa menghindar?
Melihat Hikaru tak bisa menjawab, ia melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. "Lalu bagaimana dengan keluarganya? Apakah Anda tahu sesuatu?"
"Umm, saya hanya tahu ia bermarga Fujiwara, namun secara lebih detail..."
"Ah, Murakami-san, bagaimana jika kau sedikit melonggarkan peraturan kali ini?" Suzuki-san angkat bicara, mungkin karena melihat Hikaru sudah berkeringat dingin. "Eh, bu-bukan karena ia Honinbou," tukasnya melihat mata sang dokter koleganya itu sudah memicing mengerikan. "Shindou-sensei mungkin punya alasan mengapa ia tidak bisa bicara banyak mengenai Sai-sensei. Kalau dipikir-pikir, mereka bertemu ketika Shindou-sensei masih terlalu muda, mungkin banyak hal yang tidak diberitahukan gurunya. Dan lagi, Sai-sensei butuh lawan yang hebat dan mengenal dirinya. Siapa tahu, jika diberi kesempatan bertemu, akan ada perkembangan bagus."
Dalam hati Hikaru bersorak, tapi ia menahan diri untuk tidak terlalu menampakkan kegembiraannya. Dokter di hadapannya tampak menekur, kelihatannya terobek antara putus asa karena tidak ada perkembangan menjanjikan atas kondisi pasiennya dalam enam tahun terakhir (pasti begitu kan, kalau Sai masih di sini) dan ingin mencoba cara apapun, atau ingin menendang Hikaru keluar karena tidak bisa memberi keterangan yang jelas mengenai hubungannya dengan sang pasien. Akhirnya, setelah sekitar dua menit yang menegangkan, akhirnya ia menghela napas.
"Baiklah, saya akan mengizinkan Anda bertemu dengan Sai. Dengan syarat saya akan mengawasi dari dekat interaksi Anda berdua. Jika saya mendapati bahwa Anda memiliki niat tidak baik, atau pertemuan Anda berdua membawa dampak buruk pada perkembangan Sai, saya harap Anda segera meninggalkan tempat ini."
"Murakami-san!" wajah dan telinga Suzuki-san tampak merah mendengar ultimatum tadi. "Uhm, Shindou-sensei, mohon maafkan kekasaran kolega saya. Saya yakin ia tidak bermaksud buruk atau tidak sopan..."
"Uh, tidak apa, Suzuki-sensei, Murakami-sensei, saya mengerti. Saya juga tidak ingin jika kedatangan saya malah berdampak buruk pada perkembangan Sai."
"Baiklah, jika begitu, silakan Anda mengurus beberapa prosedur terlebih dahulu, seperti mengisi formulir dan lainnya. Seharusnya Anda bisa mendapatkan formulirnya di resepsionis di depan. Harap nanti Anda membawa formulirnya ke kantor saya, agar saya bisa menandatanganinya. Apa ada yang Anda perlu tanyakan?"
"Uhm, iya... Apa saya bisa langsung bertemu Sai setelah mengurus administrasi? Dan ... uh, berapa lama dan seberapa sering saya bisa bertemu Sai?"
"Untuk pertanyaan pertama, saya perlu melihat kondisi Sai dahulu. Menjenguk pasien di unit psikiatri berbeda dengan di rumah sakit biasa, kami tidak bisa memberi kepastian seseoraang dapat dikunjungi bahkan dalam waktu besuk. Mengenai pertanyaan kedua, jawabannya pun sama. Kita akan lihat bagaimana hasil hari ini, baru saya bisa memberi Anda kepastian. Apakah jelas?"
Hikaru mengangguk, meski jantungnya berdegup keras. Jadi semua ditentukan hari ini...
"Jika begitu, saya pamit dulu. Saya akan menunggu formulir Anda di kantor saya. Jika saya tidak ada di tempat, Anda dapat menitipkannya pada sekretaris saya. Permisi, Shindou-san, Suzuki-san."
Begitu sang dokter mengerikan itu pergi, Suzuki-san, yang kelihatannya merasa tidak enak, langsung berusaha memperbaiki keadaan. "Maafkan dia, Shindou-sensei. Ia memang kelihatan tegas dan galak, tetapi hatinya baik. Ia sudah merawat Sai-sensei selama empat tahun, mungkin sudah menganggapnya bak anak sendiri. Di bawah perawatannya, ada banyak kemajuan, sebenarnya. Ia sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi, atau mencoba bunuh diri seperti pada tahun pertama. Ia begitu sopan, lembut, sabar, dan juga sangat cerdas. Ia dengan telaten mengajarkan go pada semua orang, tidak pernah membeda-bedakan pasien atau dokter. Kalau mengesampingkan halusinasinya yang tak kunjung teratasi, orang mungkin mengira ia sudah pulih."
"Saya mengerti...," ucap Hikaru, tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Anda perlu tahu, kondisi Sai-sensei sangat buruk sewaktu ia ditemukan. Sepertinya ia dianiaya dan ditenggelamkan ke sungai. Kondisinya sangat parah hingga ia sampai koma selama dua tahun. Polisi sempat berusaha melakukan penyelidikan, tetapi nyaris tidak ada bukti dan saksi. Ketika Sai-sensei siuman, para polisi mengira mereka dapat menemukan titik terang, namun ternyata ia mengalami skizofrenia dan amnesia. Akhirnya, penyelidikan pun dihentikan."
Tak bisa tidak, napas Hikaru tercekat. "Dianiaya dan ditenggelamkan?" Bukankah Sai bunuh diri?
"Ya. Ia ditemukan dalam keadaan penuh luka. Polisi menyelidiki beberapa kelompok kabuki dan noh, karena ia mengenakan kariginu yang compang-camping, tapi tak ada hasil. Diagnosis awal menyatakan ia trauma akibat penganiayaan dan pemerkosaan yang terjadi padanya, karenanya alam bawah sadarnya berusaha untuk menghapus pengalaman buruk itu dengan menciptakan ilusi identitas..."
Penganiayaan ... dan ... "Pemerkosaan?"
Kelihatannya si dokter baru sadar ia tak seharusnya mengatakannya, karena ekspresinya langsung berubah pucat. "Ah, saya bicara terlalu banyak. Maafkan saya, Shindou-sensei, seharusnya saya tidak menceritakannya."
"Tidak apa-apa, Sensei, saya mengerti," balas Hikaru, meskipun mendung menggantung di matanya.
Ia tak ingin lama-lama di kantor itu, tahu ada yang lebih penting ia kerjakan. Tapi ketika ia pamit untuk mengambil formulir di resepsionis, dokter yang baik itu menahannya.
"Ah, Shindou-sensei, saya ada permintaan. Jika Anda bertemu dengan Sai-sensei, mohon Anda tidak memperlihatkan rasa iba, atau memperlakukannya seolah Anda tahu apa yang telah terjadi padanya."
"Eh, kenapa?"
"Sai-sensei menderita post-traumatic dan retrograde amnesia. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian saat itu, juga kehidupannya yang sebenarnya sebelum kejadian. Ia mengganti seluruh memori dan identitasnya yang asli dengan delusi mengenai jati dirinya sebagai guru go era Heian. Masih butuh waktu dan proses yang sangat panjang baginya untuk bisa menerima diri dan masa lalunya, jadi saya harap Anda bisa mengerti."
Mengangguk, Hikaru buru-buru permisi dan melangkah keluar, berusaha mengenyahkan informasi tadi dari kepalanya, setidaknya untuk saat ini. Ia harus memperlihatkan wajahnya yang cerah di hadapan Sai.
.
.
Notes:
Berhubung kemarin ini minggu UTS, mohon maaf banget atas keterlambatan update chapter ini. Plus chapternya pendek pula. Dalam sekitar 3-4 chapter ini, fokusnya bakal sedikit beralih dari Hikaru/Akira jadi Hikaru/Sai, tapi tetep kok pairing utamanya sih... Hahaha...
Btw, aku baru sadar aku salah nulis nama ayahnya Hikaru, jadi aku edit deh...
Oke, R&R?
