Chapter 14. Sai
.
Setelah mengurus administrasi yang merepotkan, ditambah satu jam menunggu hingga Sai dikatakan 'siap menerima kunjungan', baru ketika matahari sudah tinggi, Hikaru diperbolehkan menemui Sai. Hanya dengan ditemani si dokter mengerikan itu, Hikaru diantar (digiring) melewati lorong-lorong rumah sakit menuju tempat yang ia sebut 'kelas go Sai'.
Ruangan yang disebut sebagai 'kelas go' sejatinya adalah sebuah beranda kecil. Tidak seperti salon go, di sana hanya ada beberapa meja dan kursi yang ditata seadanya, masing-masing memuat goban yang kelihatannya sudah usang. Sama sekali jauh dari ruang go di rumah Akira, lebih lagi apa yang Hikaru bayangkan mengenai paviliun tempat Sai mengajar di masa Heian dulu. Ruang itu sepi. Satu-satunya penghuni ruang itu hanyalah satu sosok yang tengah bermain sendiri dalam diam di pojok, membelakangi Hikaru.
Sang dokter berjalan mendekati sosok itu. Sikapnya jauh berubah dari kesan kejam dan tegas yang ia perlihatkan pada Hikaru, tatkala ia bicara dengan lembut, "Sai, hari ini kau kedatangan tamu."
Sosok yang ia panggil Sai menoleh dan tersenyum padanya dengan sopan. Saat itulah, Hikaru merasa kenyataan menghantamnya bak palu godam.
Sebagian diri Hikaru, yang masih sangat naif dan berkubang dalam memori masa lalunya bersama Sai, berharap ia akan dapat melihat sosok anggun dengan rambut panjang lembutnya yang berwarna hitam keunguan. Mungkin ia juga berharap akan melihat sosok bangsawan dengan kariginu putihnya. Sayangnya, bukan itu yang ia dapatkan.
Jika ia tidak pernah melihat foto Sai di data yang diberikan Ogata, mungkin ia takkan mengenalinya. Di luar fakta bahwa ia tidak mengenakan kariginu dan tate-eboshi-nya, penampilannya kini jauh sekali berbeda. Ia sudah kehilangan rambut panjangnya, dan kini saat Hikaru untuk pertama kali melihatnya tanpa lapis demi lapis jubah sutranya, ia baru menyadari betapa kurus dan ringkihnya Sai.
Tapi lebih dari apapun, yang sangat menusuknya adalah bagaimana sikap dan pandangan Sai terhadapnya. Bahkan tatkala mata mereka bertemu, pria muda berambut hitam pendek dengan yukata polos putih itu menatapnya seperti menatap sesuatu yang asing—sopan dan penuh kehati-hatian. Sai sama sekali tidak mengenalnya!
Ia memutuskan menjembatani jarak di antara mereka, dengan hati-hati menyapa, "Sai, apa kau mengenalku? Ini aku, Hikaru."
Mendengar namanya, tiba-tiba Sai merosot dari kursinya. Namun belum lagi Hikaru mendekat untuk membangunkannya, tahu-tahu Sai sudah mengambil sikap formal dan menyembah.
"Sujud sembah hamba, Hikaru no kimi. Sungguh suatu kehormatan tak terperi bagi hamba yang hina ini, bahwa Duli Paduka Yang Mulia berkenan menampakkan dirinya yang agung di hadapan manusia rendah sebagaimana hamba ..."
Nah lho, apa yang terjadi? Kenapa belum-belum, Sai sudah begini? Apa ini bisa dikatakan 'kemunduran' dalam perkembangan kondisi Sai? Apa belum-belum, ia sudah akan ditendang dan takkan bisa bertemu Sai lagi?
Dengan khawatir, Hikaru melirik pada si dokter yang diam memperhatikan dengan bersandar pada salah satu tiang. Apakah ia akan segera digerek keluar? Semoga saja tidak, jika melihat sang dokter tampaknya tengah mengamati dan mencatat interaksi mereka pada notepadnya.
"Sai, sudah cukup, bangunlah," ia berusaha mengangkat Sai, tapi belum lagi ia menyentuh bahunya, Sai beringsut menjauh dan makin merunduk melingkarkan dirinya bak kutu kayu saat terancam.
"Ah, hamba telah begini kotor! Beribu ampun, Yang Mulia, tapi mohon Yang Mulia tidak lebih jauh menodai tangan dengan menyentuh hamba!"
"Uh, Sai..."
Air mata sudah mengancam di sudut-sudut mata Hikaru. Astaga, apa yang terjadi dengan Sai?
Lebih dari itu, sekarang apa yang harus ia lakukan?
Ia melirik Murakami-san, berusaha meminta petunjuk. Sayangnya, dokter itu kini hanya berperan sebagai peneliti non-partisipatoris, seolah Hikaru dan Sai adalah tikus percobaan di laboratorium. Bahkan walau Hikaru menunjukkan wajah memelas, ia sama sekali tidak memberikan respon, malah asyik mencatat. Putus asa, Hikaru mengedarkan pandangannya, dan saat itu matanya lekas menangkap sebentuk goban di atas meja.
"Ah ya, go! Sai, aku sudah lama tidak bermain denganmu. Ayo main!"
Ketegangan di bahu Sai kelihatan agak melemas. "Baik, Paduka. Suatu kehormatan bagi hamba..." Ia pun bangkit dari sikap menyembahnya, namun tidak bangun, masih ber-seiza di lantai dengan kepala tertunduk.
"Uh, Sai, goban ini tidak ada kakinya, jadi ayo bangun, kita duduk di kursi."
Baru setelah Hikaru mengatakan hal itu, Sai bangkit perlahan dan duduk di kursinya. Biar tak lagi menunduk, ia memusatkan pandangannya pada goban seakan tidak berani menatap wajah Hikaru. Mereka melakukan nigiri, yang jujur saja membuat Hikaru agak berdebar. Ini adalah pertama kalinya Hikaru memegang biji putih ketika melawan Sai.
"Ah, komi baru 6,5 moku... Kau tahu ini kan, Sai?" tanya Hikaru, agak tidak yakin sejauh mana Sai yang ini, yang sepertinya terjebak dalam ingatannya tentang masa lalu, memahami konsep go modern.
Sai mengangguk. "Para dokter yang baik hati di sini memastikan hal tersebut tak luput dari pemahaman sempit hamba. Rupanya seperti itulah kebiasaan di luar Heian-kyo."
Apa Sai juga tidak tahu bahwa Heian-kyo sudah tidak ada lagi?
Mereka saling bertukar salam dan memulai permainan. Sai, seperti biasa mengawali permainan dengan salah satu fuseki favoritnya (yang sebenarnya fuseki favorit Hikaru juga). Hikaru berusaha keras menahan debaran jantungnya, yang bercampur antara antusiasme dapat bermain dengan Sai lagi, dan antisipatif akan jalannya permainan. Mereka sudah terpisah selama enam tahun, ia yakin ia sudah banyak berkembang. Jika Sai sepenuhnya tidak mengingat segala yang terjadi dalam seribu tahun ini, mungkinkah ia juga sudah melupakan semua pelajaran yang didapatnya dari perkembangan go di abad 19 hingga 21? Terlebih, dalam empat tahun terakhir, Sai hanya bermain shidougo bersama para dokter dan pasien. Apakah itu berarti ia bisa mengalahkan Sai?
Langkah-langkah Sai, pada awalnya, terkesan kuno—terlalu kuno hingga bahkan langkah Shuusaku saja terlihat sangat modern—sehingga Hikaru dapat menguasai jalannya pertandingan. Tapi kemudian secara bergradual, biji hitam makin adaptif dengan gaya modifikasi modern Shuusaku yang dibawakan Hikaru. Dalam sepertiga akhir chuuban, Sai berhasil mengejar hingga membuat Hikaru nyaris kehabisan napas. Pada akhir pertandingan, ia hanya dapat mengalahkan Sai dengan selisih enam setengah moku, itu pun setelah memperhitungkan komi.
"Yang Mulia sungguh tangguh, Hikaru no kimi. Hamba yang rendah ini sama sekali bukan tandingan Paduka. Hamba mengaku kalah," tunduk Sai.
Saat ini, batin Hikaru. "Kau juga berkembang sangat pesat hanya dalam satu pertandingan, Sai," ujarnya, mengucapkan terima kasih dan bergerak untuk merapikan biji-biji go. "Tidak akan makan waktu lama hingga kau dapat melampauiku."
"Eh? Apa itu berarti Yang Mulia akan sering mengunjungi hamba untuk bermain?"
Ada antusiasme yang Hikaru kenal dari Sai—Sai-nya—yang membuatnya mengangkat pandangannya dari goban. Tampak olehnya mata Sai yang berbinar-binar ceria dengan sorot kekanakan menatapnya. Wajahnya tampak cerah, bahkan ada semburat merah di pipinya yang tak pernah ia lihat sewaktu Sai masih menjadi hantu dulu. Baru saat ini ia melihat senyum Sai yang terkembang di bibirnya yang berwarna pink jernih, bukan ungu bak orang kedinginan, dan oh, betapa indahnya semua itu.
Sai, sayangnya keburu sadar diri, dan lekas menurunkan pandangan.
"Mohon ampun, hamba telah bicara lancang..."
"Ah, tidak..." Hikaru mempercepat pekerjaannya merapikan biji go, menyembunyikan pipinya yang memerah di balik poni pirangnya. "Tentu, tentu aku akan sering datang, Sai. Setiap hari, setiap saat aku akan bermain denganmu."
"Hamba tidak ingin menyusahkan. Yang Mulia tentu memiliki banyak kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan hanya untuk menemani seseorang seperti hamba."
Kewajiban apa? Dia toh sudah pasti akan ditendang dari dunia go, batin Hikaru. Dan ya, mungkin ia tidak seharusnya berjanji, siapa tahu kan setelah ini sang dokter mengerikan itu akan menilainya tidak layak menemui Sai?
Mungkin seharusnya ia memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik-baiknya, kalau begitu.
"Hei, Sai, bagaimana kalau main satu ronde lagi?"
.
Satu ronde berkembang menjadi dua ronde, dan sadar-sadar, matahari sudah nyaris tenggelam. Pertandingan mereka bukan pertandingan yang panjang, tapi tidak bisa dikatakan hayago juga, jadi tentu saja lumayan makan waktu. Untungnya Sai sudah makan siang sebelumnya, tapi berhubung waktu sudah petang, sang dokter turun tangan meminta agar pertandingan dihentikan.
"Sedikit lagi, Murakami-sama," rayu Sai dengan senyumnya yang bahkan sanggup melelehkan besi. "Setelah ini, saya akan segera makan dan makan obat, bagaimana? Oh, saya berjanji akan menghabiskan makan malam."
Tipikal Sai. Merajuk, merayu, menjebak hingga orang lain melakukan apa yang dia inginkan... Hikaru sudah tahu semua itu. Ia bahkan tahu jurus Sai yang lebih parah—menangis berguling-guling, terpuruk berhari-hari hingga merusak moodnya, bahkan sampai membuatnya muntah saking sedihnya. Karenanya ia sama sekali tidak heran ketika setan mengerikan berjubah dokter di hadapannya melunak.
"Hanya ini saja ya?"
Sai mengangguk antusias, dan segera mengembalikan perhatiannya ke goban.
Patut diakui Sai sama sekali tidak kehilangan sentuhan emasnya. Entah karena ia berkembang begitu pesat, atau Hikaru yang mulai lelah, kekalahannya dari Hikaru terus menipis pada setiap permainan yang mereka lakukan. Jika pada permainan pertama ia kalah 6,5 moku, pada permainan kedua ia hanya kalah 4,5 moku. Pada akhir permainan ketiga, ia bahkan hampir menyusul Hikaru hanya dengan kekalahan 1,5 moku saja.
Selesai permainan, malam sudah menebarkan tirainya. Lampu beranda menghadirkan kilau keunguan pada rambut Sai yang selalu Hikaru rindukan. Memisahkan biji-biji go dan mengembalikannya ke goke, Hikaru berusaha membaca raut muka Sai. Ia bahagia, jelas, tapi ada sesuatu yang lain, yang seolah menodai kebahagiaan itu.
"Beribu terima kasih, Hikaru no kimi," tunduk Sai dalam-dalam. "Dapat bermain dengan seseorang setangguh Yang Mulia, hamba benar-benar bersyukur."
Hikaru tidak menjawab. Oh ia sama sekali tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia ingin sekali memeluk Sai, berkata ia benar-benar kangen, bahwa ia sudah menanti-nanti kesempatan seperti ini selama enam tahun dan tolong, tolong, bisakah ia membawa Sai pergi dari tempat ini, kembali ke tempat seharusnya Sai berada—selalu di sisi Hikaru?
Seorang suster datang untuk menjemput Sai kembali ke kamarnya, dan Hikaru mengantar kepergian gurunya dengan perasaan bercampur aduk. Murakami-san memanfaatkan kesempatan tidak adanya Sai untuk bicara empat mata dengan Hikaru.
"Saya masih belum yakin kehadiran Anda dapat bermanfaat bagi perkembangan kesembuhan Sai," ia membuka pembicaraan dengan kalimat yang langsung membuat Hikaru lemas. "Tapi mungkin Suzuki-san benar, melawan seseorang dengan kemampuan go yang tinggi bisa jadi berguna."
"Berguna?"
"Halusinasi yang diderita Sai sangat spesifik: Grandiose delusion, ketika seseorang mengira dirinya adalah suatu entitas yang agung, seperti Yesus atau Buddha. Ini sama sekali bukan sesuatu yang baru di dunia psikiatri. Yang unik adalah bahwa ia tidak menjadikan identitas barunya itu sebagai sesuatu yang agung dan besar, seperti pada kasus-kasus lain. Yang ada, ia menganggap dirinya telah jatuh, bagai malaikat yang terpotong sayapnya, seperti tadi Anda lihat. Tak hanya percaya bahwa dirinya adalah guru go pada era Heian, dia juga percaya musuhnya telah menjebaknya dalam sebuah permainan sehingga Kaisar mengusirnya. Sekarang ia sudah jauh lebih baik, tadinya ia bahkan menderita Cotard Syndrome, yang membuatnya mengira bahwa ia sudah mati akibat bunuh diri, akibat tak kuat menanggung malu setelah diusir dari istana. Pada awal-awal masuk ke sini, ia beberapa kali mencoba bunuh diri, mengira dunia yang ia tinggali sekarang bukanlah yang sesungguhnya, dan bahwa ia akan kembali ke dunianya jika ia mati di dunia ini."
Itu sama sekali bukan delusi, pikir Hikaru, tapi ia tidak mungkin mengatakannya.
"Dan 'Hikaru no kimi', apa itu? Kenapa ia memanggilku begitu?"
"Hikaru no kimi adalah nama panggilan Hikaru Genji, tokoh utama dalam kisah Genji no Monogatari, kisah yang ditulis oleh Murasaki Shikibu, seorang sastrawati dari era Heian."
"Dia mengira saya ... tokoh fiktif?"
"Saya rasa Sai memang tidak bisa memisahkan fiksi dan nyata. Dari tindak-tanduknya, sangat jelas ia terpelajar, dan ia juga memiliki pengetahuan yang luas mengenai era Heian. Entah ia memang mendalaminya, atau sebelum kejadian ia terobsesi dengan era tersebut. Bahkan menurut pihak rumah sakit sebelum ditransfer ke sini, ia ditemukan dengan mengenakan baju era Heian dan berambut sangat panjang, hingga mereka harus memotongnya karena menyusahkan pada perawatan. Anda seharusnya melihat bagaimana ia bicara dengan bahasa dan dialek Jepang Klasik saat pertama kali masuk ke sini, sungguh melelahkan," sang dokter menarik napas panjang.
Ia menjeda paparannya, jadi inilah saat bagi Hikaru untuk berkomentar, atau bahkan bertanya. Tapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, tanpa nantinya memancing pertanyaan atau bahkan kecurigaan macam-macam. Jelas ia takkan mungkin bilang, "Oh, memang dia dari era Heian", kan? Tapi bagaimana jika "Ya, Sai memang dari dulu terobsesi dengan era Heian" membuat dokter itu merasa diagnosisnya terkonfirmasi, dan itu justru membuatnya memberi Sai suatu obat yang ia pikir akan menyembuhkannya tapi malah memperparah keadaannya. Itu kalau Sai memang belum diberi obat macam-macam...
Pikiran bahwa Sai selama ini diberi obat yang tidak sesuai dengan penyakit yang dideritanya membuat Hikaru bergidik. Jangan-jangan, kondisi Sai bisa sampai begini adalah karena salah diagnosis...
Tak mendapatkan respon, sang dokter melanjutkan, "Ia menginternalisasi identitas ini sebagai realitas alternatif untuk melarikan diri dari trauma yang ia alami. Anda tentu tahu dari Suzuki-san, apa yang terjadi pada Sai?" Murakami meliriknya, dan dengan menelan ludah, Hikaru mengangguk. Tersenyum aneh, ia pun melanjutkan. "Namun sayangnya pada proses itu, batas antara fiksi dan nyata menjadi sangat pudar. Pada saat bertemu saya untuk pertama kali, ia mengira saya adalah Murasaki Shikibu, dan menanyakan apakah ia berada di biara tempat saya menjadi biksuni. Jika Anda tidak tahu, pada akhir ceritanya, Fujitsubo-sama, yang dianggap sebagai perwujudan sang penulis, keluar dari Heian-kyo untuk menjadi biksuni akibat skandalnya dengan sang pangeran."
"Lalu, mengapa Anda mengatakan bahwa saya berguna?"
"Anda tentu tahu, Sai memiliki kemampuan bermain go yang sangat tinggi. Di sini, ia mengajar semua orang bermain go, yang tentu saja hanya akan menyediakan bahan bakar bagi delusinya. Jika ia disadarkan bahwa ia bukannya tidak terkalahkan, saya berharap ilusinya akan terkikis sedikit demi sedikit."
Nah, itu masalahnya.
"Tapi Sai adalah guru saya," sahut Hikaru. "Saya takkan bisa mengalahkannya."
"Anda mengalahkannya barusan."
"Karena ia kelihatannya melupakan apa yang ia pelajari ketika ia mengajar saya dulu," jelas Hikaru. "Tapi ia berkembang sangat pesat hanya dalam tiga permainan. Saya tidak yakin saya akan bisa terus menang."
"Wah, sayang sekali. Tadinya saya pikir Anda bisa membantu Sai. Tapi jika begitu kenyataannya, apa boleh buat."
"Maksud Anda?"
"Tadinya saya mendapat ide untuk menjadikan permainan Anda dengannya sebagai terapi, atau minimal sebagai eksperimen untuk melihat sejauh mana terapi go ini bisa berhasil. Tapi jika menurut Anda, Anda takkan bisa mengalahkan Sai lagi, apa boleh buat."
Kelebihan Hikaru yang selalu ia banggakan, walau orang selalu menganggapnya sebagai kekurangan, adalah selalu bisa menyaring informasi dari kalimat panjang yang diucapkan oleh orang lain, dan hanya fokus pada satu informasi (yang menurutnya) benar-benar penting.
"Maksud Anda, Anda akan membiarkan saya bermain dengan Sai, setiap hari?"
"Jika Anda tidak keberatan, tentu."
Hikaru cepat-cepat menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Tentu, tentu saya akan bermain."
"Tapi Anda harus mengikuti program yang saya rancang."
"Tidak masalah!"
"Bukankah Anda seorang pro? Jika saya tidak salah tangkap, Anda harus mengikuti pertandingan dan lain sebagainya, bukan?"
Hikaru menutup matanya sejenak.
Entah bagaimana, Kami telah mengabulkan doanya dengan mengembalikan Sai, walau tidak seutuh yang Hikaru inginkan. Ia tak tahu apa rencana Kami kali ini, tapi setelah semua yang ia lalui, tak ada yang ia inginkan lebih daripada kembalinya Sai dalam hidupnya, dalam keadaan sempurna seperti seharusnya. Namun, itu sepertinya butuh waktu, usaha, dan kerja keras yang tak mungkin ia dapatkan jika ia masih memprioritaskan hal lain. Dan jika itu berarti ia harus melepaskan hidupnya sebagai pro…
Ah, apa lagi yang ia ributkan? Setelah semua yang terjadi, apakah kehidupan itu masih ada untuknya sekarang? Siapkah ia menghadapinya, dengan segala komplikasinya?
Sejak awal pun, tak pernah ada pilihan antara Sai dan kehidupannya sebagai pro.
Membuka mata, ia mengucapkan kalimat berikutnya tanpa ragu. "Guru saya, yang mengantar saya menjadi seorang pro, sedang berada dalam kondisi seperti ini. Menurut Anda, murid macam apa saya, jika saya memalingkan wajah darinya?"
.
.
Notes:
Ya, akhirnya Sai muncul juga. Sumpah aku tegang dengan seluruh chapter Sai ini, soalnya mendekati final nih... Btw itu si Hikaru pengecut ya hahaha...
Tolong review dong, biar aku bisa tau nih gimana pikiran kalian... Apa emang jangan-jangan ga ada yang baca lagi nih?
