Chapter 15. Masa Kini
.
Wajah Sai benar-benar sumringah ketika ia diantar mendatangi kelas go pagi berikutnya, demi ditangkapnya sosok Hikaru yang sudah menunggu di sana. Ia langsung menjatuhkan diri begitu memasuki ambang beranda, menyembah seraya mengucapkan seribu untai kata terima kasih dan syukur dan entah apa lagi yang membuat Hikaru jengah.
"Sai, aku hanya akan bermain denganmu dengan satu syarat."
"Segala titah Paduka akan hamba junjung di atas batu kepala hamba."
Menahan reaksi normalnya yang ingin sekali meringis mendengarnya, Hikaru mengajukan perintah yang sudah ia latih berkali-kali semalam.
"Aku ingin kau berhenti memanggilku Paduka atau Yang Mulia, dan juga berhenti menyembah setiap kali bertemu denganku."
Ekspresi Sai tatkala mendengarnya sungguh tak terlukiskan. Ia bahkan tanpa sadar mengangkat wajahnya, memperlihatkan keterkejutannya yang luar biasa, sebelum sadar diri dan kian merunduk.
"A-ampun, Paduka. Ha-hamba tidak berani..."
"Di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Kita tidak sedang ada di Heian-kyo, jadi sebaiknya kau mengikuti adat yang berlaku di sini. Aku bukan Hikaru no kimi, dan kau juga bukan lagi seorang kuge."
Hikaru bisa mendengar suara napas tercekat dari sosok di hadapannya. Ia sama sekali bukan ahli era Heian, tapi setidaknya ia tahu seorang bangsawan seharusnya bisa menyembunyikan emosinya, walaupun katanya bangsawan era Heian dikenal karena kehalusan perasaan dan sensitivitasnya. Jika Sai dahulu pun begini ekspresif, tidak heran jika ia membuat satu-dua masalah.
"Hamba mengerti," sembah Sai sekali lagi, sebelum mohon izin untuk bangkit. "Lantas bagaimana hamba harus memanggil Pa ... uhm, Tuan hamba?"
"Hikaru, tentu saja, seperti dulu kau memanggilku."
"Hikaru-sama?"
"Hi-ka-ru!" tegas Hikaru lagi. "Tanpa embel-embel apapun!"
Sai kelihatan ngeri, tapi ia mengulang, walau ragu-ragu, "Hikaru..." Melihat senyum puas yang terkembang di wajah Hikaru, ia kembali hampir merunduk, untungnya ia sadar ketika melihat pelototan Hikaru.
"Nah, kalau urusan itu sudah beres, sekarang saatnya kita main!" seru Hikaru riang, membimbing gurunya mengambil salah satu kursi di depan goban. "Nigiri?"
.
.
Harus Hikaru akui, rutinitas ini begitu menghanyutkan, dan begitu menenteramkan pada saat yang sama. Ini adalah hal yang bisa ia mengerti, ketika segala sesuatu di sekitarnya hilang dan dunianya terfokus pada bidang 19×19. Lebih lagi, ia bisa bermain berhadapan dengan Sai, dengan Sai sendiri yang menempatkan bijinya! Itu terasa bagai mimpi yang ia tak pernah harapkan akan mungkin terjadi, hingga kadang Hikaru mempertanyakan apa mungkin semua ini benar-benar nyata.
Mungkinkah nyatanya ia tidak pernah sampai di rumah sakit ini? Mungkinkah ia sebenarnya mengalami kecelakaan dalam perjalanan, dan rohnya terjebak dalam limbo? Karena ia yakin seseorang yang penuh dosa sepertinya takkan mungkin mencapai nirwana.
Ah, seandainya saja ia bisa selamanya seperti ini...
Sudah sebulan Hikaru ada di rumah sakit itu, berperan menjadi semacam instrumen dalam terapi eksperimental yang dilakukan dr. Murakami Reika. Sejujurnya, ia tidak begitu mengerti detailnya, walaupun dokter itu telah menjelaskan padanya. Yang jelas ia tahu, ia harus bermain go dengan Sai setiap hari, sembari menyelipkan sedikit pembicaraan mengenai masa lalu mereka, atau memberikan strategi dan langkah yang kiranya bisa mentrigger memori Sai. Sementara itu, Murakami akan mengawasi dan mencatat interaksi mereka. Pada akhir sesi, Hikaru harus menceritakan kembali apa yang sudah mereka lakukan hari itu, dengan melibatkan Suzuki-sensei tentu, karena rupanya Murakami-sensei—walaupun mengerti dasar-dasarnya—kurang memahami go.
Secara konseptual, dua hal itu terdengar mudah, tapi nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Khususnya soal strategi go. Hikaru sudah terlalu sering bermain dengan Sai dan mengulang kifu Sai hingga seharusnya ia bisa memprediksi pola pikir lawannya, tapi itu Sai yang ia kenal, bukan Sai ini yang sepertinya kurang paham strategi modern. Betul, kelihatannya ia belajar selama empat tahun dari Weekly Go yang dilanggan Suzuki-sensei, tapi rupanya itu belum cukup. Seringkali Sai bergerak dengan langkah yang berbeda dengan langkah yang dulu (atau yang diprediksi Hikaru) sehingga upaya Hikaru untuk mentrigger memori Sai melalui go kadang membuat ia sendiri pusing.
Lebih repot karena upaya Hikaru untuk mengingatkan Sai pada fragmen-fragmen hidupnya ketika menjadi hantu sepertinya juga mengalami jalan buntu. Sai sama sekali tidak mengingat Turnamen Go di Kaio, atau gudang kakeknya, atau Ki-In, atau bahkan ikan plastik di akuarium yang selalu membuatnya tertarik. Ia bahkan tidak mengingat sedikitpun tentang Touya Kouyo, orang yang selalu ia sebut sebagai rival, dan karenanya Hikaru anggap memiliki impresi mendalam dalam benak Sai.
Tentu saja, ia pernah membaca satu artikel bahwa mengingatkan pasien amnesia mengenai hal yang membuatnya kehilangan memorinya dapat mentrigger kembalinya ingatannya, tapi jelas Hikaru tidak begitu bodoh untuk melakukannya. Terlebih, ia telah mendiskusikan hal ini dengan Suzuki maupun Murakami, dan keduanya melarang keras.
Alih-alih, ingatan Sai tentang masa lalunya di istana Heian-lah yang lebih mengemuka. Kadang ia bicara tentang untaian bunga wisteria yang menggantung dari atap paviliun di tempatnya mengajar, atau suasana Heian-kyo di senja hari. Pernah, ia mengatakan bahwa ia rindu ibunya, yang katanya sudah tak pernah ia temui lagi semenjak masuk istana. Ia menyatakan bahwa ia tak tahu apa ibunya mendapat kabar bahwa ia telah terusir, dan sungguh ia ingin kembali ke tempat ibunya, tapi tak berani karena merasa telah mencoreng nama keluarganya. Dengan penuh air mata, ia menanyakan mungkinkah Hikaru mendengar sesuatu mengenai ibunya. Apakah ayah dan seluruh saudaranya selamat setelah kesalahannya, apakah seseorang yang ia sebut 'Sesshou-sama' masih berbelas kasih membiarkan mereka semua hidup? Ia jatuh tersuruk dan menangis hebat sesudahnya, hingga permainan mereka harus dihentikan dan seorang suster membawa Sai kembali ke kamarnya.
Jujur saja, Hikaru ingin menggali lebih, barangkali ia menemukan sesuatu. Tapi Murakami dengan tegas mengatakan untuk tidak meninabobokan Sai dengan apa yang ia sebut 'realitas palsu', sedangkan seluruh pembicaraan mereka diawasi dan direkam, sehingga Hikaru berusaha menahan diri dari segala pembicaraan mengenai ingatan Sai sebelum menjadi hantu.
Jujur saja, setelah sekian kali bermain dengan Sai, satu pertanyaan menggelitik Hikaru: siapa sesungguhnya Sai yang ada di hadapannya ini? Apakah ia benar-benar Sai yang dibawa dari masa lalu, dengan tubuh dan kesadaran seribu tahun lalu? Ataukah masih ada, entah bagaimana, kepingan kesadaran dari Sai yang ia kenal, yang sudah menempuh seribu tahun di dalam goban? Bagaimana Kami mengembalikan Sai ke dunia ini? Ataukah ia benar-benar Sai dengan tubuh yang baru—reinkarnasi Sai yang ia kenal, misalnya?
Ia tak ingin mengurangi rasa syukurnya pada Kami atas kembalinya Sai, sungguh. Ia tahu hidup tak selalu adil, dan ia takkan mungkin mendapatkan semua sesempurna yang ia inginkan. Sai bisa kembali hadir di hadapannya, bahkan ketika ia kehilangan semua memorinya, itu sudah lebih dari apa yang pernah ia berani harapkan. Tapi tak urung ia bertanya-tanya, mengapa Kami mengembalikan Sai dalam keadaan seperti ini?
Segala sesuatu terjadi dengan alasan, demikian ia masih mengingat Minamoto-san pernah berkata. Kini saat ia berada hadapan Sai yang seperti ini, tak urung ia mempertanyakan putaran takdir yang menempatkannya di sini. Jika semua takdir itu menuntunnya untuk menemukan Sai, dan jika Sai ditakdirkan untuk kembali ke dunia demi tujuan utamanya: mencapai Kami no Itte, lantas apa perannya dalam seluruh skema itu?
Mungkin terlalu jauh jika ia berusaha mencari tahu apa rencana Kami dalam permainan ini. Tapi setidaknya satu yang ia tahu: bahwa tsumego pertama yang harus ia selesaikan adalah bagaimana mengembalikan ingatan Sai?
.
.
Hikaru melempar tubuhnya ke kasur di kamar penginapannya yang kecil, setelah seharian menghabiskan waktu di rumah sakit. Jika tubuhnya lelah, otaknya lebih lagi. Dengan muram, dialihkannya pandangannya ke kalender meja di nakas, yang penuh coretan silang merah untuk menandakan berlalunya waktu sejak ia ikut serta dalam terapi go Sai. Sudah lima minggu. Kapan kiranya ia bisa melihat perkembangan baik kondisi Sai?
Selama lima minggu ini, setiap hari ia bulak-balik penginapan-rumah sakit, pergi pagi dan pulang sore hari, kadang malah lewat senja, hingga ia merasa seolah-olah ia kerja kantoran. Tentu saja ia tidak menginap di rumah sakit, mana mungkin rumah sakit memberinya izin? Lagipula bagus begitu, bayangkan ia harus tinggal bersama para pasien, jangan-jangan dalam sebulan, ia sendiri yang harus mendapat penanganan psikiatrik. Begini saja, ia sudah merasa kewarasannya tinggal setengah.
Dalam lima minggu itu, cukup banyak yang ia pelajari mengenai Sai dan terapi yang diberikan padanya. Tentu saja, Murakami dan Suzuki meyakinkannya bahwa rumah sakit jiwa itu bukan sanatorium zaman Victorian, jadi tak ada prosedur berbahaya seperti electroshock alias terapi listrik, trepanasi alias pelubangan tengkorak, atau—lebih parah lagi—lobotomi a.k.a. perusakan lobus prefrontal pada otak. Mereka bahkan meyakinkannya bahwa mengetahui Sai trauma dengan air, jangan kata terapi direndam air dingin atau disemprot air seperti yang Hikaru pernah lihat di film, bahkan untuk mandi pun mereka memberlakukan prosedur khusus. Terapi yang dijalankan Sai sejauh ini sangat aman dan sesuai dengan perkembangan penelitian terbaru di bidang psikologi klinis, menurut mereka. Sayangnya, mereka tidak secara rinci menjelaskan apa saja terapi yang dilakukan pada Sai atau obat-obatan yang diberikan padanya.
Yang tidak dapat meyakinkan Hikaru kalau itu aman, boleh dibilang. Sejauh ini mereka salah melakukan diagnosis: Sai tidak mengalami retrogade amnesia, Grandiose delusion, atau malah Cotard syndrome. Sai melupakan masa ketika ia bersama Hikaru, masa sesudah kematiannya, bukan sebelum apa yang mereka sebut sebagai 'insiden'. Oh, mereka bahkan salah mengira Sai dilempar ke sungai setelah dianiaya, bukannya bunuh diri, walau begitu pengakuan Sai. Tentu saja, mereka pasti mengatakan itu dengan melihat bukti-bukti yang ada—yang hingga kini tak mau diperlihatkan para dokter itu padanya. Terlepas dari urusan detail penganiayaan (atau bahkan pemerkosaan) yang diterima Sai—serta apakah itu benar terjadi atau tidak—tetap saja, perbedaan antara dibunuh dan bunuh diri sangat mendasar, bahkan walaupun alasannya sama, yang pastinya berpengaruh pada diagnosis mereka.
Hikaru melakukan browsing sedikit di internet mengenai metode yang umum mengenai penyembuhan sakit jiwa. Jawabannya adalah psikoterapi, terapi behavioral kognitif, serta terapi obat. Kepala Hikaru langsung pening membaca nama-nama obat yang mungkin diberikan bagi penderita psikosis dan membandingkan efeknya, tapi yang jelas satu: jika mereka salah mendiagnosis penyakit Sai, bukankah sangat mungkin terapi yang mereka lakukan justru menghasilkan efek yang sebaliknya? Mungkinkah itu alasannya Sai tak juga sembuh setelah empat tahun? Ah, mungkinkah bahkan kondisi mentalnya tambah parah? Bagaimana jika Sai dibiarkan menjalani semua ini, dan nantinya ia akan benar-benar gila?
Masalahnya, bagaimana caranya ia mengatakan semua itu pada sang dokter? Yang ada justru ia yang akan disangka sakit jiwa dan dijebloskan ke ruang isolasi.
Tapi membiarkan Sai membusuk di sini juga bukan pilihan. Tak ada cara lain, Hikaru harus mengeluarkan Sai, entah bagaimanapun caranya.
Dan pada satu hari, entah bagaimana, ia mendapat ilham.
.
"Melepas Sai untuk tinggal bersama Anda?" tanya Murakami.
"Benar," angguk Hikaru tegas. "Saya yakin Sai akan meraih kemajuan pesat, jika ia hidup di tengah masyarakat biasa." Apapun selain di rumah sakit jiwa ini.
"Saya mengerti arah pikiran Anda. Jika kita membiarkan Sai bersosialisasi, mungkin dengan begitu pikirannya akan terbuka dan membuatnya sedikit demi sedikit menerima kenyataan," jawab sang dokter. "Tapi kami tidak bisa membiarkan hal itu. Kondisi Sai belum stabil dan masih butuh pengawasan."
"Apa maksudnya belum stabil? Bukankah ia sudah tidak lagi mencoba bunuh diri? Selanjutnya tinggal urusan amnesianya kan? Saya yakin tinggal bersama saya akan perlahan mengembalikan ingatannya. Bukankah Anda sendiri melihat perkembangannya dalam enam minggu belakangan?"
Perkembangan yang disebutkan Hikaru, pada dasarnya, sebenarnya nyaris tidak ada. Sai hanya tahu diri untuk tidak menyebut mengenai Heian, serta mampu menunjukkan giginya dalam melawan strategi modern Hikaru. Hikaru mengatakan hal yang terakhir adalah sebuah kemajuan dalam terapi go, bahwa Sai perlahan mengingat prinsip-prinsip go modern, walau sejujurnya ia yakin itu hanya menunjukkan kemampuan adaptasi Sai.
"Benar, tapi tanpa pengawasan profesional..."
"Saya bisa memastikan agar ia rutin dibawa ke psikiater untuk berobat jalan. Jika perlu, saya akan mengirimkan laporan rutin perkembangan Sai pada Anda."
Si dokter tampak berpikir. "Masalahnya bukan cuma itu," katanya akhirnya.
"Apa lagi?" Hikaru nyaris frustrasi. Sepertinya, lama-lama ia akan menjadi penghuni sel psikiatri juga.
"Ini masalah prosedur. Anda, bagaimanapun, bukan keluarga Sai."
"Saya muridnya! Saya bisa dibilang adalah 'keluarga' yang paling dekat dengan Sai saat ini."
"Benar, saya membiarkan Anda mengunjungi Sai secara rutin karena alasan tersebut. Tapi itu tidak cukup untuk membawanya pergi. Sekali lagi, ini masalah prosedur."
Satu ide mendadak muncul di benak Hikaru.
"Jika saya bisa membawa seorang Fujiwara ... tidak, maksud saya, jika saya bisa mengontak keluarga Sai dan mendapat persetujuannya, apa itu artinya Sai bisa keluar?"
Mata sang dokter langsung memicing. Hikaru bisa melihat kecurigaan dan tuduhan di balik lensa kaca mata wanita itu. "Anda bilang Anda tidak kenal keluarganya?"
Jika tatapan bisa membakar, Hikaru pasti sudah jadi debu sekarang. Tapi Hikaru sudah terbiasa dengan gertakan, jadi ia berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil kala menjawab, "Mereka keluarga jauhnya, bukan keluarga inti."
Sang dokter tak langsung menjawab. Matanya masih memandang Hikaru penuh selidik, seakan berusaha menelanjanginya, atau mungkin langsung menghanguskannya begitu menemukan setitik saja kebohongan. Hikaru bisa merasakan keringat dingin mulai menitik, tapi ia hanya bisa mempertahankan sikap tenangnya saat ini, dan menunggu ... menunggu ... berdoa...
Selang sekitar satu jam (atau mungkin seabad? Lima menit? Sepuluh detik? Sungguh Hikaru tidak punya ukuran yang jelas mengenai konsep waktu di sini?) hingga akhirnya wanita itu menghela napas panjang dan menjawab, masih setengah menekur, "Hmmm... Mungkin bisa, jika mereka memang kerabat Sai..."
Hikaru ingin berteriak, 'Sungguh?!', tapi ia tak hendak menolak rembulan yang entah bagaimana jatuh di depan mata, jadi ia berujar cepat, "Bagus! Kalau begitu saya akan coba mengontak mereka."
.
Itu sepertinya solusi, tetapi sebenarnya tidak juga. Pertama: bagaimana menceritakan soal Sai pada Gen'an-sensei? Kedua, bagaimana meyakinkan mereka untuk menampung Sai? Sai bukan siapa-siapa, dan lagi menderita psikosis... Bagaimana jika mereka curiga ia dan Sai adalah penipu, entah untuk tujuan apa? Merampok Byodo-in, misalnya, terlebih setelah sebelumnya Hikaru diajak masuk ke ruang bawah tanah dan tahu di sana penuh barang antik dan benda berharga.
Wajar kan? Setidaknya, jika ia adalah Gen'an-sensei, ia pasti akan berpikir ke sana.
Ah, ada masalah yang lebih urgen, sebenarnya. Bagaimana ia bisa mengontak Gen'an-sensei?
Berhubung mengontak kantor Byodo-in agak merepotkan (belum tentu ia bisa langsung terhubung dengan Gen'an-sensei), Hikaru memilih jalan memutar dengen menghubungi Penginapan Minamoto tempat dulu ia dan Akira menginap. Dengan sangat baik, nyonya pemilik penginapan itu mengatakan akan mengontak kediaman pribadi Gen'an-sensei secara langsung (sang biksu rupanya tidak punya ponsel, apa yang mengherankan dari hal itu?) dan meminta agar Hikaru menunggu.
Baru keesokan harinya, Hikaru mendapat telepon dari Gen'an-sensei. Merasa tak ada gunanya mengarang cerita, Hikaru menceritakan versi yang sedikit disensor mengenai bagaimana salah seorang rekan kerjanya melacak keberadaan semua Fujiwara Sai, dan bagaimana ia menemukan seorang di antaranya yang cocok dengan ciri-ciri Sai. Tentu saja, ia juga menceritakan kondisi Sai ketika ditemukan, dan di mana ia berada kini, yang mengantar pada satu permasalahan inti: dapatkah Gen'an-sensei membantunya untuk mengeluarkan Sai?
Hening yang mengemuka setelah Hikaru menyatakan kalimat terakhirnya mengonfirmasi ketakutan Hikaru: bahwa Gen'an-sensei mencurigai motifnya di balik semua ini.
"Anda tidak perlu menampungnya, cukup membantu saya mengeluarkannya saja," tambah Hikaru buru-buru, takut Gen'an-sensei keburu menganggapnya berniat mencuri atau menipu atau semacamnya, dan melaporkannya pada polisi. "Saya yang akan sepenuhnya bertanggung jawab mengurus Sai, Anda tidak perlu khawatir."
"Tidak, bukan masalah saya tidak mempercayai Anda, Shindou-sensei," suara sang biksu terdengar dari ujung sana. "Tolong biarkan saya menimbang hal ini beberapa hari. Saya akan segera menghubungi Anda kembali."
Hikaru merasa tak ada gunanya ia menuntut, jadi ia lekas berterima kasih dan menutup telepon.
.
.
Gen'an-sensei tak juga memberi kabar bahkan walau sudah tiga hari berlalu—hal yang sangat mengisruhkan hati Hikaru. Entah biksu itu sibuk, lupa, atau memang mencurigainya hendak menipu.
Hikaru tahu reputasinya tidak terlalu bagus belakangan. Ia lenyap begitu saja dari dunia go dan menelantarkan kewajibannya, itu sudah cukup buruk. Belum lagi tuduhan bahwa ialah yang turut andil dalam membuat sang pangeran emas dunia go terpuruk.
Sekitar tiga minggu lalu, ketika ia pergi ke kota untuk membeli beberapa kebutuhan standar, kebetulan ia menemukan beberapa edisi terbaru Weekly Go di etalase sebuah toko buku. Salah satu edisinya memberitakan menghilangnya sang Honinbou secara misterius dari dunia go, disertai pertanyaan apa yang terjadi padanya dan bagaimana masa depan tiga gelarnya. Ketika ia kembali ke rumah sakit, dengan tergopoh-gopoh Suzuki-sensei mengatakan bahwa menghilangnya ia masuk berita televisi. Tak lain tak bukan, mereka mewawancarai Akira.
Mantan tunangannya itu tampak kuyu dan berantakan, demikian kata Suzuki-sensei, dan kelihatannya belakangan performanya juga tidak begitu baik. Ia bahkan kalah WO dalam pertandingannya melawan Ochi di Liga Honinbou dan tersingkir dari babak final Penyisihan Kisei. Sama sekali tak aneh, ketika Suzuki-san mempertanyakan kaitan antara dua hal tersebut dan keberadaan ia di sini, yang Hikaru menolak menjawabnya.
Pernah, ketika Hikaru merasa benar-benar putus asa dengan keadaan Sai dan entah bagaimana mendadak merindukan sedikit ketenangan yang mungkin dapat diberikan 'rumah', ia menyalakan ponsel untuk memberikan kabar pada ibunya. Ponselnya langsung menolak bekerja dengan begitu banyaknya pesan, pemberitahuan telepon, serta pesan suara yang masuk. Hikaru ingin menghapus semua, tahu dari mana saja semua itu dan apa isinya, tapi tak bisa tidak, rasa penasarannya mengalahkan solusi sederhana itu. Tentu saja Waya, Ochi, Rui, Isumi, Ogata, ibunya, serta beberapa nomor tak dikenal yang sudah jelas wartawan dan orang Ki-In ada di daftar orang-orang yang mencecar keberadaannya. Tapi, di luar mereka, dadanya bergemuruh keras pada satu nama yang paling sering muncul. Siapa lagi kalau bukan Akira?
Pesan dari Akira meliputi spektrum yang sangat luas, mulai dari kemarahan, tuntutan ke mana ia, makian yang tak pernah ia sangka akan keluar dari bibir Akira, yang langsung disusul oleh permohonan maaf sekaligus pernyataan bahwa ia masih menunggu Hikaru datang sehingga mereka bisa menikah walaupun terlambat dari rencana, kemarahan lagi yang kini disertai kecurigaan dan makian terhadap Sai, hingga tangisan menyayat yang mempertanyakan apa salah dan kurangnya, hingga Hikaru mencampakkannya demi Sai. Yang terakhir diucapkan dengan suara tak jelas disertai latar belakang sangat riuh seolah-olah ia berada di pasar (atau bar, satu suara aneh di kepalanya memberi saran), sehingga mau tak mau Hikaru merasa khawatir. Hanya karena itu, kalau mau jujur, Hikaru memutuskan untuk mengontak Ki-In. Benar, ia menghubungi Ki-In untuk meminta izin cuti sekaligus memberitahukan ketidakhadirannya dalam turnamen, tapi berita itu pasti sampai pada Akira, bukan?
Sialnya, ketika sedang membaca dan mendengar pesan-pesan itu, mendadak datang telepon dari Akira. Pasti ia melihat bahwa pesannya yang setelah sekian lama dalam status 'mengirim' mendadak 'terkirim' atau bahkan 'terbaca', dan langsung menghubungi Hikaru. Hikaru begitu panik hingga tak hanya menolak telepon Akira, tetapi juga mematikan teleponnya. Sejak itu, ia begitu takut untuk menyalakan telepon. Ia bahkan membeli ponsel baru yang murah untuk menelepon Gen'an-sensei dan Ki-In, dengan nomor yang tidak terdaftar, berjaga-jaga seandainya Akira entah bagaimana mencoba melacaknya. Ia hanya memberikan nomornya pada Gen'an-sensei, satu-satunya orang luar yang ia ingin hubungi saat ini.
Bukan masalah Akira saja yang membuat reputasinya buruk. Dua minggu lalu seharusnya adalah jadwal pertandingan pertamanya dengan Akira untuk mempertahankan gelar Gosei. Ia tahu ia memberi kabar terlalu terlambat, dan pasti segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan acara sudah diurus terlebih dahulu. Karenanya ia sudah siap jika ia dinyatakan kalah WO, dan dengan suka hati menyerahkan gelarnya pada Akira. Masalahnya, Akira tidak mau menerimanya, demikian kata Ki-In ketika ia menelepon kembali hari berikutnya, malah memaksa Ki-In untuk menjadwalkan ulang pertandingan mereka ("Dasar merepotkan," ia bisa mendengar suara seseorang di latar belakang).
Alhasil, penundaan pertandingan ini menimbulkan tanda tanya besar, khususnya di kalangan pers dan para fans yang sudah menanti-nanti pertandingan mereka. Ia bahkan sempat membaca beberapa berita miring soal pertikaiannya dengan Akira, yang disangkutpautkan dengan menghilangnya ia, di sebuah koran gosip. Jelas, ia bukan lagi tokoh favorit dalam dunia go saat ini.
Tapi kalau masalah ini membuatnya sulit mencari orang yang bisa membantunya mengeluarkan Sai dari lubang ini...
Kelihatannya Sai bisa mendeteksi kegundahan hatinya, atau mood buruknya membuat permainannya begitu kacau, karena ia mengalihkan perhatiannya dari atas goban dan melirik Hikaru dengan hati-hati.
"Ah, Hikaru," katanya, "Apa Hikaru tidak enak badan? Apa perlu kita berhenti?"
"Tidak usah!" tolak Hikaru tegas. "Ayo cepat main, Sai! Ini giliranmu!"
Mungkin memang kekacauan hatinya tanpa sadar terefleksikan pada nada suaranya, atau si mantan bangsawan Heian itu terlalu sensitif, karena mendadak ia menggeser kursinya dan jatuh menyembah di kaki Hikaru.
"Apa yang..."
"Ampun, Paduka. Hamba yang rendah ini begitu tak berguna hingga tidak tahu apa gerangan yang menggundahkan hati junjungannya, tapi mohon Yang Mulia tidak menimpakan amarah pada hamba..."
"Ja ... jangan main-main! Sai! Bangun! Sudah kubilang jangan melakukan hal begini!"
Mungkin suaranya masih terlalu kasar, karena alih-alih bangkit seperti yang diperintahkan, Sai justru makin mengkeret. Hikaru bisa melihat getar di ujung-ujung bahunya. Melirik sedikit ke arah si dokter yang seperti biasa mengawasi mereka seolah ia tidak punya pasien lain, ia melihat ada ancaman di tajam mata wanita itu. Kalau ia dinilai tidak kompeten dalam menangani Sai, dan malah dianggap menyebabkan kemunduran dalam perkembangan Sai selama ini, habislah sudah.
Astaga.
Menarik napas panjang, Hikaru mendudukkan diri di hadapan Sai, dengan lembut menyentuh dagunya, memaksa Sai untuk mengangkat kepalanya. Sai lekas menurunkan pandangan—ia selalu berusaha menghindari menatap mata Hikaru langsung, Hikaru memperhatikan—tapi sedikit guncangan pada dagunya memaksanya membuka mata.
"Sai, aku tidak marah padamu," ujarnya lembut, menatap lurus ke kedalaman mata Sai. "Kumohon, bangunlah...," bujuknya.
Dengan serangkaian bujuk rayu, dan upaya untuk meyakinkannya bahwa ia tidak marah—dan tidak, ia tidak akan menghukumnya atau mengusirnya dari tempat itu seandainya Sai membuatnya marah—Sai akhirnya mau juga bangkit dan meneruskan permainan.
Permainan mereka berantakan hari itu, kalau mau jujur, dan akhirnya ia juga yang menyatakan bahwa permainan mereka harus dicukupkan sampai di situ. Sai tampak kecewa (dan agak takut), tapi ia mengangguk dan membantu Hikaru merapikan biji-biji go, sebelum diantar oleh Murakami-san kembali ke kamarnya.
Sepeninggal Sai, Hikaru mendesah berat dan menyurukkan dirinya di kursi. Semua yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir akhirnya terasa juga di tubuhnya. Ia merasa lelah baik fisik maupun mental. Lebih dari itu, ketidakpercayaan diri menyeruak. Faktanya sangat jelas: Sai memang sakit, dia memang butuh perhatian profesional. Apa memang keputusan yang tepat, jika ia mengeluarkan Sai dari sini? Bisakah ia bertanggung jawab atas Sai?
.
Baru tiga hari kemudian, Gen'an-sensei menghubunginya. Ia sedang di tengah permainannya dengan Sai waktu itu, dan ada tanda tanya di wajah sang mantan bangsawan ketika ia pamit dan pergi untuk mengangkat telepon.
"Shindou-sensei, maaf baru menghubungi, karena rupanya segala persiapannya makan waktu. Besok saya akan langsung ke sana, jika Anda berkenan."
Persiapan? Apa maksudnya dengan persiapan? Tapi ada hal yang lebih penting.
"Anda akan kemari?" tanyanya tak percaya. Apakah benar, Gen'an-sensei akan membantunya?
Ah, tapi ini bisa jadi ia hanya ingin terlebih dahulu melakukan konfirmasi. Sebaiknya ia tidak terlalu tinggi melambung, akan sakit kelak jika ia mendapati bahwa semua harapannya palsu dan ia terpaksa terhempas ke bumi.
"Terima kasih, Sensei. Saya nantikan kedatangan Anda," balasnya, berusaha menahan jantungnya yang ingin melompat dari rongga.
.
.
Benar saja, keesokan harinya ketika Hikaru tengah meladeni Sai untuk sesi permainan go pagi mereka, seorang suster datang untuk mengabarkan kedatangan Gen'an-sensei. Kelihatannya ia sudah ada janji, atau sudah bicara terlebih dahulu dengan Murakami-sensei—aneh sekali, karena Hikaru tidak tahu tentang hal ini—karena alih-alih pergi untuk menginterogasi pengunjung baru itu, dokter itu langsung mempersilahkan sang biksu untuk datang ke ruang go.
Reaksi Sai ketika diperkenalkan dengan biksu itu tak kalah unik dengan reaksinya ketika bertemu Hikaru. Dengan menitikkan air mata, ia menanyakan apakah mungkin Gen'an-sensei datang untuk membawakan kabar bahwa ayahnya sudah memberinya maaf dan menjemputnya pulang. Ketika melihat anggukan di wajah biksu itu, ia menangis (menangis!) dan menyembah berulang kali, serta bersumpah bahwa ia sudah belajar dari kesalahannya, bahwa ia akan lebih hati-hati dan bijak bersikap, bahwa ia takkan lagi mempermalukan nama Fujiwara, dan seterusnya hingga Hikaru takut Murakami-sensei akan menjatuhkan vonis bahwa ia kambuh lagi dan mengurungnya dalam semacam ruang isolasi.
Syukurlah, hal itu tidak terjadi. Setelah berhasil meyakinkan Sai bahwa ia tak perlu lagi menyembah, Gen'an-sensei meminta satu permainan—yang sepertinya merupakan semacam tes untuk menentukan apakah orang asing di depannya adalah benar Fujiwara no Sai, sang guru go untuk Kaisar, seperti dikatakan Hikaru. Untung sekali, melalui permainannya selama satu bulan setengah terakhir bersama Hikaru, Sai menunjukkan perkembangan yang sangat hebat. Hikaru sekarang nyaris selalu kalah atau menyerah, dan jika menang pun hanya dengan perbedaan moku yang sangat tipis. Setidaknya, jika ini benar merupakan tes, Sai punya kesempatan tinggi untuk menang.
Jam sudah hampir menunjukkan waktu makan siang ketika Gen'an-sensei menyerah. Ia memang kalah, tetapi kelihatannya ini kabar baik karena ia justru tersenyum puas. Menyusul Sai yang pergi dijemput seorang suster untuk makan siang, Murakami-sensei memberi kode agar Hikaru dan Gen'an-sensei menuju ke ruangannya.
Rupanya memang benar, Gen'an-sensei dan Murakami Reika memang sudah berkomunikasi entah dengan cara apa, karena mereka kelihatannya sudah melewati tahap perkenalan dan pembahasan mengenai penyakit Sai, dan langsung melompat ke prosedur check-out dan rawat jalan. Ketika Murakami memintanya menunjukkan bukti hubungannya dengan Sai, Hikaru menahan napas dan mulai merasa keringat dingin hadir di tengkuknya. Karenanya ia nyaris membelalak ketika dengan tenang Gen'an-sensei merogoh ke dalam tas yang ia bawa dan mengeluarkan selembar map berisi koseki—koseki!
"Sebagaimana sudah saya sebutkan di telepon, ia adalah putra dari mendiang kakak lelaki saya, Fujiwara Zenbu. Namanya aslinya Fujiwara Shigenobu, Saishou adalah nama dharma yang seyogyanya ia ambil jika menjadi biksu. Namun sayangnya, begitu lulus SMA, ia justru menolak untuk masuk biara seperti seharusnya setiap anak lelaki di keluarga kami, dan malah memutuskan untuk keluar rumah untuk berlatih sebagai aktor Noh. Sayangnya, ia tidak begitu akrab dengan kelompok Noh yang kami rekomendasikan, dan melarikan diri. Ia tidak pernah kembali ke rumah ataupun memberi kabar. Kemungkinan saat itulah ia justru pergi ke Tokyo dan bertemu dengan Shindou-sensei," ucapnya dengan lancar seolah sudah berlatih berulang kali. Pastinya cerita ini ditujukan pada Hikaru, karena kalau ia sudah mengatakannya di telepon, Murakami tak perlu lagi mendengarnya, bukan?
Beserta itu, ia juga memberikan beberapa berkas seperti catatan kepolisian, kartu identitas (kartu identitas!) dan ijazah (Sai adalah lulusan SMA di Uji?!)—lengkap dengan pas foto yang (kelihatannya) otentik. Beserta itu, dia juga memberikan sepucuk amplop tertutup dengan segel Sagarifuji berwarna merah membara. Entah apa isinya—setahu Hikaru, itu bisa apa saja mulai dari surat pengantar hingga surat perintah. Siapa yang tahu sejauh mana nama Fujiwara masih memiliki pengaruh di masa kini, kan?
"Kami sempat membuat laporan pada polisi, namun menariknya kembali karena kami percaya ia baik-baik saja," lanjut Gen'an-sensei, sementara Murakami melihat-lihat berkas itu. "Shigenobu adalah orang yang sangat keras kepala jika sudah menetapkan hati pada sesuatu, kami tak ingin hal itu justru membuatnya makin menjauh dari kami. Kami hanya bisa berharap satu saat ia akan kembali ketika sudah berhasil membuktikan dirinya. Kami tak mengira justru begini kejadiannya...," setitik air mata tampak di ujung mata sang biksu, yang ia lap menggunakan ujung lengan kimononya dengan cara yang sangat meyakinkan.
Seluruh dunia di kepala Hikaru serasa berputar. Astaga, apa yang terjadi? Kenapa kini muncul seseorang dengan bukti otentik mengenai eksistensi seseorang yang baru enam tahun ditemukan setelah dua tahun setengah menjadi hantu dan seribu tahun tewas? Apa kebenaran yang harus ia percaya?
Ia tak perlu mempertanyakan dari mana Gen'an-sensei memperoleh foto Sai. Jika Ogata bisa mendapatkan data yang sepertinya rahasia itu, tidak ada alasan Gen'an-sensei tidak bisa mendapatkan data yang lebih akurat dengan keterangan detail yang diberikan Hikaru. Masalahnya, dalam kartu identitas dan ijazah itu ia juga melihat foto Sai dalam versi yang lebih muda—dan tidak ada satu pun yang berambut panjang!
Untungnya, Murakami-sensei pergi untuk membuat fotokopi berkas-berkas itu, sehingga Gen'an-sensei memanfaatkan kesempatan itu untuk memberi kode akan menjelaskannya belakangan. Yang malah makin membuat Hikaru anemia, sebenarnya.
Pemalsuan dokumen! Ini sudah pasti pemalsuan dokumen! Ia tahu keluarga Fujiwara punya pengaruh di pemerintahan, tapi jika ia sampai memaksa seorang biksu untuk melakukan tindak kriminal dengan tujuan melepaskan seorang penderita psikosis dari rumah sakit jiwa...
Apapunlah. Jika itu berarti Sai bisa keluar dari sini bahkan walau hanya setahun atau bahkan sebulan, ia akan suka hati menyerahkan diri pada polisi dan menyatakan semua ini adalah salahnya, jika kebohongan ini terbongkar satu saat nanti. Oh, bahkan jika ia mati nanti, ia bahkan akan merelakan jiwanya terkurung dalam ketiadaan, selamanya tak bisa bereinkarnasi. Itu harga yang murah, kan?
Semoga saja Sai tidak kembali ditangkap dan dilempar ke sel psikiatri—atau lebih buruk: sel penjara—karenanya.
Untungnya, kelihatannya sejauh ini tidak ada masalah dengan surat-surat palsu yang dibawa Gen'an-sensei, meski kalau mau jujur, sebenarnya cerita sang biksu bisa dibilang mencurigakan. Mereka masih harus melewati serangkaian birokrasi menyangkut status wali untuk Sai dan prosedur rawat jalan dan lain sebagainya, sebelum akhirnya Murakami-sensei menyatakan bahwa mereka dapat membawa Sai.
"Kami akan melakukan pengecekan setiap tiga hari selama dua minggu, setelah itu setiap seminggu selama sebulan, dilanjutkan dengan setiap dua minggu selama sebulan setengah. Setelah itu, kalian bisa membawa Sai sebulan sekali ke psikiater yang ditunjuk untuk pengecekan rutin. Jika perkembangan Sai baik, bisa jadi setelah setahun, ia bisa cukup datang sesekali," ucap Murakami Reika, menandatangani surat pengantar. Hikaru bahagia sekali sampai rasanya ia ingin memeluk wanita itu.
Murakami-sensei menganjurkan agar mereka memakai ambulans rumah sakit, tapi Gen'an-sensei menyatakan ia membawa mobil sendiri, jadi menggunakan itulah mereka pulang. Meski begitu, mereka tak bisa menolak ketika Murakami-sensei menugaskan salah seorang perawat untuk mengawal mereka hingga Byodo-in.
Sai terlihat riang sekali. Mungkin dalam empat tahun terakhir, ini pertama kalinya ia naik mobil dalam keadaan tidak terbaring di bagian belakang ambulans, sehingga ia kelihatan begitu antusias menaiki apa yang ia sebut "joli yang melesat bak terbang", dan sepanjang jalan sibuk memperhatikan keajaiban jalanan dan pepohonan yang menghilang di balik jendela.
.
.
Notes:
Maaf atas keterlambatan update episode ini, minggu kemarin aku pergi ke Jawa Timur buat cari data tugas kuliah, jadi walau sebenernya chapter ini udah kelar dari kapan tau, aku ga bisa ngedit. Pengennya sih chapter ini aku bagi dua, tapi bingung gimana baginya euy...
Oke, selamat membaca, R&R yaaaa...
