Chapter 16. Masa Lalu

.

Mereka sampai ke Byodo-in tepat sebelum matahari terbenam. Phoenix Hall tampak membara di bawah sinar matahari senja. Berpadu dengan permukaan danau yang mengilat keemasan, sungguh menciptakan kesan bak lampu teratai yang terlarung di sungai arwah, membawa roh menuju nirwana. Hikaru bisa merasakan napas Sai tercekat begitu melihat pemandangan itu. Setetes air mata mengalir di pipinya.

"Tempat ini sudah sangat berubah, padahal baru enam tahun...," bisiknya sembari melihat-lihat sekeliling, sementara memasuki gerbang, lantas melintasi taman luas di depan Phoenix Hall.

Di titik itu, Hikaru menegang. Ah, benar, ia belum mengatakan bahwa waktu sudah berlalu sekitar seribu tahun sejak Sai terakhir kali mencecap udara Uji. Untungnya saat itu waktu kunjungan sudah habis (atau mungkin memang hari ini Byodo-in ditutup untuk kunjungan turis, Hikaru tidak begitu paham), jadi setidaknya Sai tidak harus melihat orang-orang berpakaian modern berseliweran di tanah keluarganya, yang pasti membuat segalanya lebih runyam. Begini saja, ia sudah melihat kebingungan di wajah Sai tatkala melewati Phoenix Hall, dan menapaki jalan menuju kediaman pribadi Gen'an-sensei. Terlebih ketika ia melewati beranda, lantas melihat seorang wanita dewasa, seorang perempuan remaja, dua lelaki usia 20-an, dan seorang anak lelaki usia 7-8 tahun menyambut kedatangan mereka.

"Sai-sama, ini adalah keluarga saya," Gen'an-sensei memperkenalkan mereka. "Istri dan putri saya, Fujiwara Sachiko dan Fujiwara Meiko," dua perempuan berbusana tradisional memberi hormat. "Ini keponakan saya, saat ini menyandang nama Gekkou, dan adiknya, Funzou," dua lelaki berkepala botak yang berbusana cantrik ikut menghormat. "Dan ini putra bungsu saya, Fujiwara Seishoumaru," ia menunjuk seorang anak kecil yang mengenakan yukata sederhana.

Meski jelas ada tanda tanya di wajahnya, Sai kelihatan berusaha menyembunyikannya di balik senyumnya dan menunduk anggun, "Hamba Sai. Terima kasih telah berkenan menerima hamba."

Untungnya sesi perkenalan itu tidak lama, karena selanjutnya Gen'an-sensei menawarkan makan malam dan menganjurkan agar mereka lekas beristirahat malam itu. Sai dan Hikaru mendapat kamar yang terpisah, karena protokol rumah sakit mengharuskannya berada dalam pengawasan perawat sebelum dinyatakan dapat dilepas.

Sepanjang malam, Hikaru tidak bisa tidur. Ia hanya diam, memandang langit-langit. Bagaimana masa depan yang menunggu Sai, dan bisakah ia menghadapi ketika masa lalu dan masa depan bertabrakan? Dapatkah ia kuat demi Sai?

Bertekad takkan membiarkan dirinya sakit sebelum waktunya, Hikaru menarik selimut menutupi kepalanya dan memaksa dirinya tidur.

.


.

Sang perawat mengawasinya selama dua hari, sebelum menyatakan bahwa ia dapat melepaskan Sai di bawah tanggung jawab Hikaru. Setelah sang perawat kembali ke rumah sakit, Gen'an-sensei mengajak Sai dan Hikaru berjalan-jalan mengitari area kuil. Sai tampak antusias, namun anehnya ada sesuatu yang kurang—seakan ia menahan diri, atau semua antusiasmenya itu palsu. Hikaru lekas menganggap itu sebagai upaya Sai untuk membawakan diri dengan sopan dan anggun di depan Gen'an-sensei, meski sebagian batinnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Sayangnya, ia tak dapat menunjuk pasti apa itu.

Rutinitasnya sehari-hari setelah membawa Sai ke Byodo-in tak jauh beda dari waktu di rumah sakit. Bedanya adalah bahwa Byodo-in menyediakan suasana yang paling sesuai untuk memunculkan atmosfer era Heian, setidaknya sejauh yang bisa Hikaru dapatkan saat ini, yang ia harapkan dapat mempercepat penyembuhan Sai. Pagi hari sesudah sarapan, ia membawa Sai jalan-jalan mengitari kompleks kuil. Sai menyempatkan diri ikut sembahyang pagi bersama para biksu, tapi ia tidak memperpanjangnya hingga siang, sehingga Hikaru masih punya banyak waktu untuk berjalan-jalan atau sekadar duduk-duduk seraya bermain go. Setelah makan siang, ia mengajak Sai untuk melakukan aktivitas lain di luar go—membaca, menulis kaligrafi, atau bermain musik, misalnya. Sai, khususnya, senang sekali ketika Gen'an-sensei memberinya ryuteki fue, seruling bambu yang digunakan untuk memainkan gagaku, musik tradisional klasik yang identik dengan musik istana. Dulu ia sering memainkan seruling itu, katanya, dan sungguh memainkannya kembali membangkitkan banyak memori mengenai masa lalunya. Pada sore hari, mereka kembali bermain go di beranda kediaman Gen'an-sensei. Kadang Gen'an-sensei sendiri yang menjadi lawan Sai, di sela-sela waktu sembahyang dan meditasinya.

Permainan Gen'an-sensei melawan Sai adalah permainan santai, tentu, ia tak henti mengajak Sai berbincang-bincang selagi Sai sibuk berpikir—Hikaru curiga ini adalah taktik untuk membuat Sai terdistraksi. Jika Sai merasa terganggu karenanya, ia tak memperlihatkannya. Yang ada ia malah dengan senang menanggapi Gen'an-sensei, yang ia panggil dengan sebutan resmi Gen'an-osho. Mereka bicara banyak, dan yang paling sering adalah soal asal-usulnya.

Lewat perbincangan kecil mereka dalam beberapa hari terakhir, Hikaru jadi tahu sedikit detail mengenai masa lalu Sai. Rupanya ia adalah putra Fujiwara no Takaie, pemangku suatu jabatan di Provinsi Izumo. Takaie hanya berada di Izumo selama setahun, tapi dalam kurun waktu yang singkat itu, ia sempat mengambil seorang putri pembesar setempat sebagai selir. Dari wanita itulah Sai terlahir, tepatnya pada tahun Chotoku 3, atau 997 M, ketika Takaie baru berusia 19 tahun. Kelihatannya Takaie berasal dari ibukota, semula memegang suatu jabatan tinggi tetapi melakukan suatu kesalahan yang membuatnya dibuang ke Izumo, karena Sai menyebutkan bahwa pada tahun yang sama dengan kelahirannya, ayahnya 'diampuni' dan kembali ke Heian-kyo. Sang ayah beroleh kedudukan sebagai Hyoubu-kyou alias Menteri Perang pada tahun berikutnya, namun jangan kata membawa serta Sai kecil dan ibunya ke istana, ia bahkan tak pernah menghubungi mereka lagi.

Sai dibesarkan di sebuah kuil Shinto, Izumo-taisha, tempat saudara ibunya menjabat sebagai pendeta. Sepertinya ia diharapkan untuk menjadi semacam tiket masuknya sang ibu dan kakek ke lingkungan kerajaan, sehingga ia dididik dengan sangat keras. Sayangnya, Sai dinilai lemah dan sama sekali tidak berbakat dalam bidang militer, sehingga ketika ayahnya kembali mengunjunginya sewaktu usianya 11 tahun (saat itu ayahnya menjabat sebagai Azechi, alias Inspektur Pengawas Pemerintahan Provinsi), ayahnya begitu kecewa padanya hingga tak berminat untuk mengakuinya sebagai anak, lebih lagi membawanya ke ibukota.

Tak terbilang murka sang kakek, dan kesedihan sang ibu. Untungnya, sang paman berhasil menghubungi seorang Fujiwara yang menjadi biksu, Ryuen yang bergelar Komatsu Sozu, dan berhasil meyakinkannya untuk menerima Sai sebagai murid. Ryuen adalah adik kandung Takaie, sehingga jikapun Sai tidak bisa masuk istana, setidaknya ia bisa mendapat tempat dalam keluarga Fujiwara. Tahun itu pula, Sai dikirim ke Kuil Natadera di Komatsu, sebuah kuil Buddha, untuk mendalami dharma. Sayangnya, lagi-lagi, Sai dirasa kurang memiliki karakter yang tepat untuk menjadi biksu.

Alih-alih dalam militer atau agama, Sai justru menunjukkan bakatnya dalam go, musik, dan sastra. Hal ini tak luput dari perhatian pamannya, Korechika, yang saat itu menjabat sebagai Jun-Daijin di Heian-kyo. Dua tahun setelahnya, ketika usianya 13, Sai diangkat anak oleh Korechika. Di bawah asuhan Korechika-lah, Sai dipersiapkan untuk memangku jabatan dalam istana.

Meskipun berasal dari cabang Hokke, latar belakangnya membuat Sai tidak serta-merta beroleh kedudukan tinggi. Ia memasuki istana pada usia 14 tahun sebagai Shishou (Juru Tulis) dengan level Jugoi no Ge (Tingkat Kelima Yunior, strata rendah). Meski status itu hanya menjadikannya Meike, level kelima alias level terendah dalam klasifikasi kuge pada istana Heian, status itu masih termasuk dalam kelas denjoubito, yang membuatnya memiliki hak untuk bertemu dengan kaisar. Sayangnya, tahun itu pula Korechika meninggal dunia, sedangkan dengan posisinya sebagai Azechi, Takaie selalu berkeliling dan nyaris tak pernah tinggal di istana. Tak pelak, Sai harus berjuang sendirian di tempat yang sangat asing dan penuh intrik. Terlebih, tampaknya Michinaga sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di seluruh Jepang pada saat itu, yang sejatinya masih kerabatnya, terus-terusan mencurigai dan memandang miring padanya.

Untunglah, di samping kecerdasannya dalam go, ia juga dapat membawa diri. Perlahan tapi pasti, jabatannya meningkat. Pada usia 17, ia menjadi bagian dari kugyo, bangsawan tingkat tiga ke atas, dengan status Jusanmi (Tingkat Ketiga Yunior). Ia mendapat tempat dalam Shikibu-sho alias Kementerian Upacara, tepatnya dalam Daigaku-ryo alias Biro Pembelajaran, sebagai guru go kekaisaran, sehingga nama lengkapnya berikut gelar adalah Fujiwara no Sai Jidoku.

Ketika usianya 19, Sai memangku jabatan sebagai Sangi alias Wakil Penasihat di atas kertas. Walau begitu, pada kenyataannya ia lebih sering menjadi lawan main kaisar dalam go ketimbang mengurus tetek-bengek masalah kenegaraan.

Sayangnya, pada tahun yang sama, Istana Kekaisaran terbakar dua kali, sehingga Kaisar beserta seluruh anggota keluarganya mengungsi ke kediaman Michinaga. Hubungannya yang kurang baik dengan Michinaga membuat Sai mengungsi sementara ke Dazaifu, tempat ayahnya menjabat sebagai Gubernur. Di sana, ia berusaha menjalin hubungan baik dengan sang ayah. Ini adalah masa yang paling indah menurut Sai, karena ayahnya akhirnya mengakuinya sebagai anak, serta mengandalkannya untuk membantunya mengembalikan nama baik dan posisinya di istana. Ketika perbaikan istana rampung, dan baik Kaisar maupun para pengikutnya kembali, sang ayah juga kembali ke istana beserta beberapa istri dan saudara Sai yang sebelumnya tak pernah ia kenal.

Perlahan, kedudukan keluarganya pulih. Dengan status (dan popularitasnya, Hikaru menambahkan dalam hati) yang kian meningkat, pada tahun berikutnya, Sai dipromosikan ke level kedua untuk menjabat sebagai Chunagon alias Penasihat Tengah, jabatan yang sama dengan sang ayah sebelum terusir dari istana. Namun, hal itu pulalah yang mengantar pada kematiannya.

Lebih dari fakta mengenai kedudukan Sai, yang lebih mengagetkan Hikaru adalah bahwa Sai baru berusia 20 ketika ia bunuh diri. Dengan fakta bahwa pada zaman dahulu, begitu lahir, anak bayi langsung dianggap berusia 1 tahun, itu berarti dalam perhitungan modern, ia baru berusia 19!

Sejujurnya, bukan perkara Sai ditunjuk sebagai Chunagon di usia sangat muda yang merisaukan Hikaru. Ia tahu Sai sangat cerdas, bahkan di luar go, meski sifat naifnya rasanya membuatnya tidak cocok untuk ditempatkan di bidang itu. Lagipula, menjadi Chunagon di usia 20 sejatinya adalah perkembangan yang sangat lambat, mengingat Takaie menjabat posisi yang sama pada usia yang malah lebih muda—jika Sai lahir ketika usia sang ayah 19, dan ia menjabat Chunagon sebelum diusir, berarti itu sekitar usia 17-18 kan?

Ya, lebih dari urusan jabatan, yang lebih menggalaukan Hikaru adalah masalah yang lebih sepele, tapi baginya lebih pribadi, yakni usia. Sungguh Hikaru tak menyangka bahwa sewaktu mengajar dirinya dulu, secara teknis Sai masih berusia 19. Ditambah enam tahun yang dihabiskannya selama hidup kembali di dunia manusia, berarti ia sekarang berusia 25. Seperti juga semua orang zaman dahulu yang tidak jelas merekam tanggal kelahiran mereka, Sai hanya mengatakan ia lahir pada awal musim semi, yang berarti selisih usianya sekarang dengan Hikaru adalah sekitar empat setengah tahun.

"Lalu, Sai," ia tak tahan menanyakan hal yang sudah membuat tenggorokannya gatal, "Kau sudah menikah?"

"Ah...," jemari Sai yang tengah terkubur di goke berhenti bergerak. Ada sendu yang aneh di wajahnya ketika ia bicara, nyaris berbisik, "Sejujurnya, hamba sudah bertunangan."

"Bertunangan?!" mata Hikaru membesar sebesar piring. "Dengan siapa?"

"Onna ni no Miya," ucapnya pelan. "Ah, tapi itu sudah tidak masalah kini. Hamba yakin Kaisar membatalkannya begitu hamba diusir."

Di titik itu, Hikaru membeku. Mungkin mulutnya agak terbuka, karena ia merasa tenggorokannya kering. Sai ... sudah bertunangan ... dengan Putri Kedua? Apa itu? Semacam gelar? Apakah Sai rencananya akan menikah dengan kerabat dekat Kaisar?

"Ah, jika Paduka Kaisar menunangkan salah satu putrinya dengan seorang instruktur go, pasti ia begitu menyukai Anda," pernyataan Gen'an-sensei itu tidak datang sebagai pujian, sesungguhnya itu adalah pertanyaan.

"Ayahanda yang mengaturnya," jelas Sai, mungkin melihat tanda tanya dalam kalimat itu. "Beliau menginginkan hamba menjadi Nindaijin, sedangkan hamba tidak memiliki status maupun latar belakang yang cukup, karena itu..."

Hikaru tak menunggu Sai menyelesaikan kalimat untuk menyela, "La-lalu ... seperti apa Putri ini?"

"Sejujurnya, hamba belum pernah bertemu muka dengan beliau," Sai agak menunduk. Bak sakura mekar di musim salju, rona kemerahan membayang di wajahnya yang putih. Entah bagaimana, itu membuat perut Hikaru bergerak tak nyaman.

"Kau mau menikah dengan seseorang yang belum kaukenal?!"

"Jika itu Titah Kaisar, adalah kewajiban seorang hamba untuk menjalaninya...," ia bicara seakan itu adalah sesuatu yang wajar, sebelum meletakkan biji putihnya di goban.

'Kewajiban'? Yang benar saja!

"Lalu, selain dia, kau punya siapa lagi? Kau popular kan? Pasti kau punya banyak kekasih!"

"Shindou-sensei!"

Adalah peringatan Gen'an-sensei yang membuat Hikaru sadar bahwa ia sudah bangkit dari duduknya dan menunduk menatap Sai dengan tangan terkepal. Dan Sai, pemuda malang itu kelihatannya mendeteksi kemarahannya, karena ia tampak terpana, sebelum beringsut mundur dari tempat duduknya di depan goban dan mulai menyembah dengan bahu bergetar.

"Ampun, ham..."

"Aku akan kembali ke kamar!" Sebelum Sai menggenapi sujudnya, Hikaru sudah melangkah pergi, yang membuat mantan bangsawan itu membeku. Begitu melewati pintu geser, samar ia bisa mendengar isak tertahan pemuda itu, juga suara lembut Gen'an-sensei yang berusaha menenangkannya, tapi ia sungguh tak ingin berurusan dengan semua itu.

.

Suara ketukan pelan di pintu membangunkannya. "Shindou-sensei, boleh saya bicara?" terdengar suara pelan Gen'an-sensei.

Hikaru bangkit dari tatami. Baru ia sadar ia ketiduran, sejak kapan? Dengan agak malas, ia membuka pintu geser. Waktu sudah sore, rupanya. Matahari sudah menggelincir di ufuk barat, bias cahaya matahari yang kemerahan membasuh Byodo-in dalam suasana temaram. Gen'an-sensei mengajaknya duduk di beranda, memandang ikan koi yang berseliweran di kolam kecil di depan kamar Hikaru.

"Sai-sama sudah tenang," lapor sang biksu, setelah dengan anggun menempatkan dirinya dalam sikap seiza. "Ia sekarang sedang berdoa di Hou-ou-do."

Hikaru mengangguk. "Terima kasih, Gen'an-sensei."

"Mengenai apa yang tadi ia ceritakan, saya sudah mengecek setelah mengantar Sai-sama berdoa. Fujiwara no Takaie yang ia sebutkan tadi adalah Chunagon pada era Kaisar Ichijo dan Sanjo. Ia adalah putra Fujiwara no Michitada, kakak Michinaga yang pernah menjabat sebagai Sesshou pada era pemerintahan Kaisar Ichijo."

"Jadi, Sai masih terhitung ... cucu Michinaga?" Bukankah Michinaga ini yang Sai katakan tidak menyukainya?

"Cucu samping," koreksi Gen'an-sensei, "Yang justru makin memperumit kedudukan Sai-sama, sebenarnya. Mungkin Anda belum tahu, antara Michinaga dan keturunan Michitada ada semacam ketegangan politik. Mereka berebut kekuasaan dan pengaruh, keduanya bahkan menjadikan putri masing-masing sebagai istri Kaisar."

Sang biksu menarik napas sesaat sebelum mengelaborasi, "Michitada awalnya menunjuk Korechika, kakak Takaie, sebagai pewarisnya. Akan tetapi, klaimnya atas jabatan Sesshou ditentang Michinaga, yang juga berambisi menduduki jabatan tersebut. Korechika lebih popular di istana, tetapi menyusul skandal yang bisa jadi merupakan jebakan, kedua bersaudara ini terusir dari istana dan dipisahkan. Korechika dibuang ke Dazaifu, di Tsukushi, sekarang Kyushu, sementara Takaie dibuang ke Izumo. Mereka diampuni dan kembali setahun kemudian, namun Takaie selalu ditugaskan jauh dari ibukota, kemungkinan memang disengaja untuk menjauhkannya dari pusat kekuasaan dan sang kakak. Seperti tadi disebutkan, Takaie hanya sebentar menjabat sebagai Menteri Perang, sebelum ditugaskan menjadi Azechi selama tujuh tahun, kemudian ditunjuk sebagai Gubernur Dazaifu pada 1014. Ia sempat kembali ke ibukota selama 4 tahun pada era Kaisar Sanjo, namun meskipun statusnya perlahan membaik, ia tak pernah beroleh kedudukan yang kuat di istana. Pada 1019, ia memohon izin untuk kembali ke Dazaifu untuk mengisi posisi sebagai gubernur, yang demi mengingat Dazaifu adalah juga semacam pusat militer selain pusat pemerintahan, juga berarti mengisi kedudukan sebagai jenderal. Ia tokoh yang sangat terkenal dalam pertempuran melawan Invasi Toi, tapi kalau mendengar paparan Sai-sama, sepertinya hal ini terjadi sesudah kematiannya."

"Jadi ayah Sai tidak punya kedudukan stabil di ibukota?" tanya Hikaru. "Memang apa salahnya hingga ia diusir?" Selain karena perebutan kekuasaan, tentu.

"Ada semacam ... skandal," ucap Gen'an-sensei, kelihatan agak jengah. "Dikatakan bahwa Korechika melanggar hukum dengan melangsungkan suatu upacara yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh Kaisar. Ditambah, ibunda Kaisar Ichigo, Fujiwara no Senshi, tidak suka padanya. Upacara itu dikatakan untuk mengutuk Ibu Suri. Masyarakat Heian masa itu sangat percaya hal-hal mistis, sehingga tuduhan itu ditanggapi serius."

Ya, betul, ini sangat mencurigakan. Tak heran jika tadi Gen'an-sensei mengatakannya sebagai jebakan.

"Tapi tuduhan yang lebih berat adalah karena ia menyerang mantan Kaisar," ia menambahkan.

"Menyerang mantan Kaisar?"

"Selain tuduhan tadi, ada skandal yang lebih mengguncang, yang disebut sebagai Chotoku no hen. Kelihatannya Korechika dan mantan kaisar sebelumnya, Kaisar Kazan, memiliki wanita yang sama sebagai kekasih. Satu hari, ketika Korechika mengunjungi wanita tersebut, ia melihat ada pria lain dan memanahnya, tanpa tahu itu adalah mantan kaisar. Panahnya hanya menyerempet, kena saja tidak, tapi itu dianggap sebagai kejahatan."

"Karena itu ia dibuang setahun?" kening Hikaru berkerut.

"Saat itu mantan kaisar telah menjadi biksu, dan adalah kejahatan berat untuk menyerang seorang biksu. Bagaimanapun, latar belakang kasus ini, ditambah status Korechika sebagai saudara Permaisuri Teishi, tak memungkinkan untuk menghukum lebih dari itu, sehingga mereka hanya dibuang."

Hukuman buang adalah sesuatu yang wajar pada masa itu, kalau begitu? Apakah memang takdir, bahwa ayah dan anak menjalani hukuman yang sama? Tapi jika dibandingkan dengan alasan pembuangan Sai, rasanya alasan hukuman yang ditimpakan pada ayah dan paman Sai masih jauh lebih masuk akal.

"Semasa hidupnya, Takaie dikenal sebagai semacam penakluk wanita," lanjut Gen'an-sensei. "Ia memiliki sepuluh putra, enam di antaranya dari wanita yang tidak diketahui, dan salah satunya bahkan tak bernama. Putra tak bernama ini disebutkan mengabdi di istana sejak usia 14, namun tidak ada keterangan mengenai jabatannya atau kapan ia meninggal. Di daftar nama pejabat kerajaan, juga tidak ada namanya."

"Anda percaya bahwa putra ini adalah Sai?"

"Awalnya saya juga sangsi. Tapi lantas saya mendapati bahwa dua putra Takaie, Kosho dan Ryumyo, menjadi biksu di kuil Enryaku-ji dan Mii-dera, keduanya di Otsu. Saya menghubungi kedua kuil tersebut untuk mencari data mengenai putra-putra Takaie. Berbeda dengan kuil ini, yang sesungguhnya adalah milik Michinaga, kedua kuil itu memiliki hubungan yang lebih erat dengan keturunan Michitada, sehingga mungkin memiliki catatan yang lebih dapat dipercaya. Enryaku-ji mengabarkan bahwa memang, ada beberapa putra Takaie yang tidak tercatat pada sejarah resmi, dan salah satunya pernah mengabdi di istana. Kuil Mii-dera menambahkan bahwa seorang putra Takaie dicoret dari daftar keluarga karena melakukan suatu kesalahan besar."

"Sai...," bisik Hikaru.

Gen'an-sensei mengangguk. "Catatan lain juga menyebutkan suatu kejadian pada era Kaisar Sanjo, ketika seorang Chunagon yang baru ditunjuk dituduh berbuat curang. Michinaga begitu marah hingga memerintahkannya untuk seppuku."

"Seppuku?" dada Hikaru berguruh. Bukannya ia tak tahu apa artinya. Ia juga tahu bahwa selain sebagai tindakan untuk membela kehormatan dengan bunuh diri, pada zaman feodal, perintah seppuku juga seringkali menjadi semacam hukuman bagi para bangsawan dan samurai yang dianggap melanggar kode etik. Tapi hukuman seppuku ... hanya karena dituduh berbuat curang dalam permainan go...

Dan lagi, itu diperintahkan oleh Michinaga, katanya?

"Tapi bukankah Sai menenggelamkan diri?"

"Catatan itu juga menyebutkan bahwa Permaisuri memohon agar ia diampuni, sehingga ia hanya diberhentikan dari posisinya untuk menjalani hukuman pengasingan selama dua tahun, serta dibatalkan pertunangannya dengan kerabat inti Kaisar. Nasibnya setelah itu tidak jelas, ia hanya dikatakan tidak pernah kembali lagi. Meski demikian, tidak disebutkan apa posisinya sebelumnya, atau kecurangan dalam hal apa yang dituduhkan padanya. Tapi catatan itu menyebutkan mengenai Sugawara no Akitada, seorang guru go pada awal milenium kedua, yang menjadi gila karena 'gangguan supranatural'. Ia tewas karena minum racun."

Sepertinya memang benar, bahwa ialah tokoh dalam kisah sang permaisuri...

Sai tidak pernah menyebutkan sebelumnya, bahwa ia adalah kandidat penasihat kaisar. Mengapa ia mengatakan bahwa ia 'hanyalah' seorang instruktur go? Apakah Sai, setelah kematiannya, menganggap jabatan itu adalah sumber malapetaka baginya, dan berusaha melupakannya untuk terfokus pada masa-masa terbaik dalam hidupnya—ketika hidupnya lebih sederhana dan hanya terfokus pada go dan go? Apakah Sai, sebagai hantu, juga sama seperti Sai dalam wujud manusia sekarang ini—hanya terfokus pada fragmen-fragmen tertentu dalam hidupnya?

Tapi dipikir ulang, betapa tidak adilnya semua itu. Ayah dan paman Sai dihukum hanya setahun untuk menyerang mantan Kaisar, tapi Sai bisa dibilang 'dihukum mati' atas tuduhan berbuat curang dalam permainan go? Di mana pula hak istimewa Sai, bukankah ia tak hanya dekat dengan Kaisar, bahkan juga menjadi calon menantunya?

Oh, omong-omong soal itu...

"Lalu, putri yang ia katakan..."

"Jika Sai-sama mengabdi di istana pada era Kaisar Ichigo dan Kaisar Sanjo, kemungkinannya itu adalah Putri Bishi, yang sesungguhnya adalah sepupunya, atau Putri Shishi. Saya tak menemukan catatan pertunangan mereka dengan seorang Chunagon, tapi di kemudian hari Putri Shishi menikah dengan seorang Fujiwara pada usia yang terbilang dewasa."

Pertanyaannya: jika Sai begitu disayang hingga Kaisar sudi menunangkannya dengan putrinya, kenapa juga ia sampai terusir?

Ia tahu kini, kesalahan Sai adalah bahwa ia tak dapat menarik simpati satu-satunya orang yang disebut-sebut sebagai penguasa terkuat di seluruh Jepang: Fujiwara no Michinaga. Mungkin sekali kejatuhannya tidak disebabkan oleh keinginan klan lain untuk membersihkan Kekaisaran dari pengaruh keluarga Fujiwara. Kalau melihat situasinya, besar kemungkinan justru ini adalah intrik politik dalam keluarga Fujiwara sendiri.

Sudah jelas: ia merasa terancam dengan keberadaan Sai sebagai keturunan saingannya. Menanjaknya karir Sai jelas merupakan hal yang patut diwaspadai. Hikaru masih belum paham benar, tapi setidaknya ia tahu dari hasil mempelajari hierarki pejabat kerajaan dalam perjalanannya ke Uji tempo lalu, bahwa melompat dari sekadar Jidoku, salah satu jabatan menengah dalam Shikibu-sho, menjadi Sangi lantas Chunagon bukanlah perkara sepele. Apalagi jika ia menjadi calon menantu Kaisar. Bukan tidak mungkin, kan, di pandangannya, satu saat Sai akan menggantikannya atau merebut kedudukan yang ia ingin wariskan kepada keturunannya? Meski kalau melihat sifat Sai, rasanya itu tak mungkin, tapi siapa yang tahu pikiran orang yang sedang merasa terancam?

Ya, mengingat Michinaga bukannya menolong ketika Sai kalah, malah menyuruhnya seppuku...

Bisa jadi Sugawara adalah juga suruhan Michinaga, atau dikompor-kompori untuk menantang Sai, berhubung rasanya tak mungkin siapapun akan berani menentang anggota klan terkuat di Jepang jika tanpa back-up yang kuat. Mungkin sekali, urusan 'pertandingan go dengan taruhan jabatan' adalah bagian dari konspirasi untuk menjatuhkannya (atau malah mendiskreditkan nama baik keluarganya), bukan hanya didasari oleh keinginan sang musuh untuk mengklaim jabatan sebagai guru go untuknya semata. Bukankah jika Sai menjadi Chunagon, ia tidak seharusnya masih menjabat sebagai guru go?

Jadi itu sebenarnya alasan kematian Sai: ia terjebak dalam jaring-jaring perselisihan dalam keluarganya sendiri.

Lantas di mana ayahnya, saudara-saudaranya, ketika semua itu terjadi? Apa ayah Sai sama sekali tak punya daya untuk menentang pamannya?

Apakah karena Sai adalah anak dari istri tidak resmi, yang bahkan mungkin tidak memiliki status yang cukup hingga Takaie pun tak hendak membawanya ke istana? Sai bilang, ayahnya baru mengakuinya sebagai anak setelah ia meraih jabatan Sangi. Apakah setelah Sai tersandung masalah, ayahnya dengan mudah membuangnya seolah ia bukan apa-apa?

"Shindou-sensei," Gen'an-sensei buka suara. "Mengenai Sai-sama..."

"Saya tahu," Hikaru menunduk, sadar ke arah mana Gen'an-sensei ingin membawa pembicaraan. "Sikap saya tadi sungguh kekanakan dan kasar. Saya akan minta maaf padanya."

"Sai-sama menyalahkan dirinya serta amnesia yang dideritanya. Karena itu saya ingin bertanya, Shindou-sensei, meski saya tahu ini terdengar begitu tidak sopan. Apa sebenarnya hubungan Anda dengan Sai-sama?"

"Sudah saya bilang, saya adalah muridnya."

"Apa sungguh hanya itu?"

"Apa maksud Anda?"

"Maafkan atas kelancangan saya, Shindou-sensei. Saya mendengar dari adik saya rumor tentang hubungan Anda dengan Touya-sensei. Saya juga mendengar Sai-sama mengeluh bahwa ia 'begitu tidak peka', sehingga tak bisa tidak saya bertanya-tanya..."

Tidak bisa tidak, Hikaru meradang atas implikasi kalimat itu.

"Tidak!" seru Hikaru tegas. "Aku baru berusia 14 sewaktu Sai meninggalkanku. Tidak mungkin aku... Tidak mungkin Sai..."

"Saya hanya menyampaikan kebingungan Sai-sama, dan saya tidak ingin menghakimi apapun di sini. Usia Anda berdua toh tidak terpaut jauh, dan pada masa hidupnya, amat wajar untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang jauh lebih muda, atau memiliki hubungan lebih dari sekadar guru dan murid..."

"Tapi hubungan kami tidak seperti itu!"

"Jika memang demikian, sebaiknya Anda meluruskan kesalahpahaman dengan Sai-sama. Kita ada di sini, bukankah karena kita berharap akan kesembuhan beliau?"

.


.

Sai tidak hadir pada makan malam. Fujiwara-san mengatakan bahwa ia merasa kurang enak badan, dan mengundurkan diri untuk beristirahat di kamarnya. Yang membuat Hikaru khawatir, ia juga menolak ketika Fujiwara-san mengantarkan makanan ke kamarnya.

Tak ingin Sai sakit hanya sehari setelah menjadi tanggung jawabnya, setelah makan, ia pun mengambil alih baki makanan dari tangan Fujiwara-san dan membawanya ke kamar Sai.

"Sai," ia mengetuk pelan pintu geser, "Boleh aku masuk?"

Terdengar suara berkeresak dari dalam, kemudian ucapan pelan Sai, "Silakan, Hikaru no kimi."

Sai sudah siap dengan posisi bersujud di atas futonnya, ketika Hikaru menggeser pintu dan membiarkan dirinya sendiri masuk.

"Sai, sudah kubilang untuk tidak bersujud di depanku," ia mendesah, mendekat dan meletakkan baki berisi makanan di sisi futon. "Dengar, aku minta maaf untuk yang tadi, ya... Aku tidak tahu kenapa aku jadi mendadak bertingkah begitu. Masa lalumu sama sekali bukan urusanku."

Melihat dahi Sai masih menyentuh lantai, ia pun memposisikan dirinya berlutut di hadapan Sai. "Sai, kumohon lihat aku," ujarnya setengah merana.

Kepala Sai sedikit terangkat, dan Hikaru memanfaatkannya untuk menyentuh dagunya, memaksanya benar-benar melihatnya. "Aku tidak suka kau selalu begini setiap kali nada suaraku naik sedikit saja. Aku bukan Hikaru no kimi yang kaukira, Sai, tidak bisakah kita melupakan apapun batas kasta yang kaupikir ada?"

Bibir Sai tampak bergetar, dan ia akhirnya bicara, meski sangat pelan. "Ampuni hamba..."

Hikaru memaksakan diri tersenyum. "Tidak, ini salahku. Aku tidak seharusnya..."

Batinnya merasa agak lega ketika perlahan, sangat perlahan, Sai bangun dari sujudnya. Tapi matanya membelalak sebesar piring, ketika tangan Sai yang panjang dan halus meraih simpul obinya sendiri dan mengurainya perlahan. Menyusul terlepasnya obi itu, jemarinya pun bergerak untuk memerosotkan kerah yukata yang tersampir di bahunya. Lembaran putih itu jatuh ke futon tanpa suara, menyingkap seluruh tubuh Sai yang polos tanpa sehelai benang pun.

Seluruh sinapsis di otaknya memercikkan api, membuat seluruh neuronnya hangus terbakar seketika, menyisakan Hikaru yang membeku. Tak hanya otaknya yang menjadi debu, sepertinya separuh jiwanya juga ikut melesat meninggalkan raga.

Sai menundukkan wajah, tak berani menatap Hikaru. Rambut pendeknya tak mampu menutupi rona merah di wajahnya, kala berujar lirih, "Tiada yang bisa membalas segala kebaikan Paduka pada hamba, dan hamba pun tahu hamba tidak cukup layak untuk Paduka Yang Agung. Tetapi jika memang Paduka menghendaki, perkenankan hamba..."

Dalam kondisi vegetatifnya, retina mata Hikaru masih bisa menangkap citra tangan Sai yang bergerak menjangkau ujung simpul obi Hikaru dan mengurainya. Sisa-sisa neuron di otaknya yang masih belum terbakar menggeliat, berusaha keras menghasilkan akar-akar untuk membentuk sinapsis dengan neuron lainnya. Butuh usaha keras, hingga akhirnya sinapsis itu terbentuk. Bagai efek domino, satu sambungan itu mentrigger neuron lain untuk bangun dan membuat sambungan. Otak Hikaru yang tadinya dalam keadaan gelap gulita mulai memperlihatkan percik-percik cahaya, hingga membunyikan sirine peringatan dalam otaknya.

Kesadarannya perlahan menggeliat. Ia tidak hanya melihat, ia menyadari kini, dengan kengerian yang memuncak—bagaimana obinya telah terlepas dan teronggok di futon, bagaimana bagian depan yukatanya terbuka, bagaimana Sai merundukkan tubuhnya perlahan...

"Sai...," ia berusaha keras menghadirkan nada peringatan dalam suaranya. Tapi yang hadir malah suara yang lirih, seakan mencericit...

Dengan susah payah, otaknya memerintahkan tangannya untuk terangkat demi mendorong tubuh Sai. Kepalanya begitu berkabut, dan ia bahkan tak bisa memanggil tenaganya, karena alih-alih mendorong, ia malah meletakkan tangannya di bahu Sai.

Sai tampak agak mengejit dengan sentuhan di bahunya. Apapun itu, kelihatannya maksud Hikaru tak sampai padanya, karena bukannya mundur, ia malah kelihatannya menafsirkan tangan Hikaru sebagai isyarat agar ia segera melakukan ... sesuatu. Kepalanya terangkat, dan tangannya bergerak menjangkau, melingkari satu bagian tubuh Hikaru, membuat simpul saraf di otak primitif Hikaru mulai lagi memercikkan api. Dengan penuh kengerian, dilihatnya Sai membasahi bibirnya, lantas kembali merunduk, jelas mengarah pada sesuatu.

"Tidak!" ada sesuatu di alam bawah sadar Hikaru—atau malah alam sadar—yang berteriak panik, memaksa otaknya untuk tetap hidup. Sirine peringatan di otaknya berdering lebih keras.

"Sai, hentikan...," ia sanggup menciptakan kata yang bisa dimengerti. Tapi rupanya tidak oleh Sai, yang posisinya makin mengancam.

Sirine di kepalanya bukan lagi berdering, tapi meraung.

"SAI!" dengan segenap kekuatan yang ada padanya, Hikaru berteriak, mendorong tubuh Sai sekuat tenaga.

Ia bangkit. Matanya merah—benar-benar merah—dan ia tidak tahu dengan tatapan apa ia memandang Sai. Marah? Kaget? Ngeri? Pikiran maupun hatinya kacau balau, dan ia hanya bisa mengucapkan satu kalimat, pendek, "Aku tidak menginginkan ini darimu!" Berusaha keras meluruskan kepalanya, ia merapikan ikatan obinya dan bergegas pergi, meninggalkan Sai yang terpuruk di antara tumpukan selimut dan yukatanya, menatap Hikaru dengan wajah pasi.

.

Ia melesat bagai panah, tidak memedulikan apapun yang ada di lorong antara kamar Sai dan kamarnya. Sesampainya di kamar, ia menarik pintu geser dan melemparnya keras-keras, lantas membiarkan dirinya jatuh terduduk. Jantungnya berdebar keras seakan hendak melompat dari rongga, otaknya tidak bisa mencerna apapun, dan batinnya lebih kacau lagi.

Apa itu ... tadi? Sai, Sai, Sai...

Sai berusaha melakukan...

Sesuatu bangkit dan bergolak di perutnya, membuatnya ingin muntah. Kami, tolong katakan ini tidak terjadi. Sai...

Sai adalah gurunya, kakaknya, sosok pengganti ayahnya... Tidak mungkin Sai...

Tapi yang ia lakukan sebelum sampai ke titik itu... Sikapnya, ucapannya... Bagaimana ia bergerak, bagaimana nada suaranya... Sikap pasrahnya, yang juga menyimpan ketakutan...

Sai sama tak menginginkannya sebagaimana dirinya...

Atau ... benarkah?

Dalam horor yang menyelimuti dirinya, Hikaru baru menyadari bahwa ada sebagian dirinya yang bereaksi terhadap seluruh rangkaian kejadian tadi. Bagian yang dengan keras kepala justru menyesali keputusannya untuk melarikan diri, bagian yang begitu frustrasi dengan sentuhan lembut seorang pria hingga...

"Brengsek! Tolol! Tidak bermoral!" Hikaru memaki 'bagian' dirinya itu. Itu Sai! Sai! Pikirannya tidak lurus! Secara hukum, ia tidak bisa memberikan persetujuan untuk apapun! Melakukan itu dengan Sai sama artinya dengan memperkosanya, bahkan walau Sai yang berinisiatif duluan.

Soal inisiatif... Mungkin ia mengira Hikaru diam-diam menginginkannya, cemburu karena ia membuka masa lalunya di hadapan Hikaru, lantas berusaha memperbaiki keadaan dengan menyerahkan dirinya. Oh, brengsek, ia tidak tahu bagaimana jalan pikiran orang yang kondisi psikisnya terganggu seperti Sai. Bisa jadi ia menganggap Hikaru cemburu karena dulu ia dan Hikaru sempat punya hubungan, dan merasa bersalah karena ia tak mengingatnya. Atau ia mengira maksud Hikaru tidak tulus, bahwa ia menginginkan sesuatu sebagai balasan, dan Sai yang merasa hutang budi merasa perlu memberi bayaran...

Walau dengan terpaksa...

Betul, ia mengatakan bahwa ia menerima pertunangan dengan seseorang karena itu adalah Titah Kaisar. Sai, dengan pikirannya yang rusak, juga mengira Hikaru adalah junjungannya—ia akhirnya tahu siapa itu Hikaru Genji: seorang pangeran, tak kurang, dan juga dikenal sebagai playboy cap kapak—jadi mungkin ia merasakan beban kewajiban yang sama. Dan bahwa semua kekacauan ini bermula dari sikap Hikaru yang sedikit tidak terkendali ketika tahu Sai sudah bertunangan...

Masalahnya, kenapa? Kenapa ia hilang kendali dan berteriak pada Sai? Apa yang ia rasakan saat itu?

Astaga.

Bagian tubuhnya yang tidak punya akal sehat (dan moral) masih menuntut, berdenyut tak terkendali yang membuatnya merasa sakit—baik fisik maupun mental. Berusaha keras tidak memedulikannya, Hikaru menggelar futon dan membaringkan diri. Bergelung di dalam selimut, ia memaksa matanya terpejam erat, mengabaikan tuntutan keras hasrat dan tubuhnya.

.


Note:

Maaf lagi untuk keterlambatan upload. Btw sekarang aku di Mojokerto nih, lagi nyari data buat tugas kuliah hehehehe...

Semua data soal Fujiwara no Takaie (termasuk Chotoku no hen) juga struktur kuge dan kugyo era Heian aku dapetin dari Wikipedia. Aku iseng nyari siapa aja Fujiwara yang terkenal di jamannya Murasaki Shikibu dan Sei Shonagon (keduanya beneran disebutin Hotta-sensei, jadi ini mah canon bahwa Sai hidup sejaman sama mereka), tadinya aku mau bikin Sai anak ato cucunya Michinaga, tapi pas baca soal Korechika dan Takaie aku kok jadi dapet ide buat ngegarisbawahin ketegangan Michinaga dan Sai, yang ngebuat dia beneran ga dapet back-up pas kalah dan diusir. Soal Sai sebagai anak Takaie, tentu saja itu fiksi 😁