Chapter 17. Masa Depan
.
Hikaru bangun dengan kepala sangat kusut. Jika bisa, ia ingin tatami di bawahnya merekah sehingga ia bisa mengubur dirinya di bawah tanah, tak pernah keluar lagi. Setidaknya, tolong biarkan ia tak usah keluar kamar, karena sungguh ia tak bisa bertemu muka dengan siapapun—Sai dan Gen'an-sensei, terutama.
Ia menyebut nama kedua sebagai orang yang tak ingin ditemuinya bukan tanpa alasan. Ia tak begitu sadar karena ia begitu terburu-buru dan fokusnya entah ada di mana, tapi semalam ketika ia melarikan diri dari Sai, rasanya ia berpapasan dengan seseorang di lorong. Bukan tak mungkin, tidak, besar kemungkinan bahwa orang itu adalah Gen'an-sensei.
Entah apa yang ada di benak Gen'an-sensei—ia yang terburu keluar dari kamar Sai malam-malam, dengan yukata berantakan... Penerangan di lorong memang agak remang-remang, tapi dengan kondisi yukatanya, bukan tak mungkin Gen'an-sensei juga melihat kondisi bagian tubuh lain Hikaru yang ... sama sekali tidak pantas. Pria itu memang tidak mengetuk kamarnya setelahnya, tapi besar kemungkinan ia pergi untuk mengecek kondisi Sai. Mengingat dalam wujud seperti apa ia meninggalkan Sai semalam, sudah pasti ia menarik kesimpulan yang salah.
Hikaru membalikkan badan, membenamkan kepalanya ke futon dan berteriak.
.
.
Meski ia ingin mengubur diri, ia tak bisa melakukannya dengan alasan kewajiban. Bagaimanapun Sai ada di bawah tanggung jawabnya, dan ia punya setumpuk PR dari Murakami-sensei terkait dengan kondisi Sai—seperti mencatat apa yang dilakukannya setiap hari, bagaimana kondisi hatinya, apa yang ia bicarakan, dan lain sebagainya. Yang agak membuat Hikaru bingung, sebenarnya. Bagaimana teknisnya ia bisa menyebutkan 'Sai berinisiatif untuk melakukan hubungan seks denganku, setelah ia salah paham mengira aku cemburu karena ia bertunangan dengan putri Kaisar', coba?
Hari itu, Sai tampak diam. Ia memang melakukan aktivitas yang dicontohkan dan ditawarkan Gen'an-sensei (sarapan, berdoa, berjalan-jalan di sekitaran kuil, melihat-lihat koleksi museum, kaligrafi, makan siang, lantas main go hingga sore) tapi tak ada antusiasmenya yang kemarin. Lebih lagi, ia tampak menghindari Hikaru. Atau setidaknya, sama sekali tak mau melihat padanya. Oh, bahkan dengan cerdik ia mengajak beberapa cantrik main go, sehingga tidak perlu bermain melawan Hikaru. Malamnya, mereka masih tidur terpisah. Hikaru ingin menarik lepas poninya saking frustrasinya, tapi tak ada yang dapat ia lakukan. Jika Sai sampai salah paham lagi dan membahayakan kondisi psikisnya, entah apa yang akan terjadi.
Pada hari keenam sejak kedatangan Sai di Byodo-in, atau hari keempat setelah ia lepas dari pengawasan si perawat, utusan dari rumah sakit datang untuk melakukan pemeriksaan. Untungnya, dia bukan Murakami Reika, melainkan seorang dokter muda yang sepertinya asisten Murakami. Hikaru tidak tahu asesmen macam apa yang ia lakukan—setahunya, dokter muda itu hanya main-main, mengajak Sai berjalan-jalan, dan mengobrol dengan Sai, sebelum pulang dengan memberikan obat beserta setumpuk wejangan pada Hikaru. Kondisi Sai agak mundur, katanya, ia kembali merasakan gejala depresi, tetapi untungnya itu tidak membahayakan nyawanya. Sayangnya, Sai tidak mau terbuka. Ia meminta Hikaru untuk mengawasi Sai, serta memberi kontak pribadinya untuk berjaga-jaga. Sang dokter muda itu tidak menginap di Byodo-in, katanya, tapi masih akan ada di Nara selama tiga hari, sehingga Hikaru tidak perlu sungkan menghubunginya.
Tak bisa tidak, Hikaru menyalahkan dirinya. Sai baik-baik saja beberapa hari yang lalu, bahkan ia sempat bercerita banyak mengenai masa lalunya. Ya, sebelum Hikaru... Yah, sebelum kejadian itu. Ah, tapi bagaimana ia dapat memperbaiki kesalahannya?
.
.
Sial sekali, sepulangnya si dokter itu, Hikaru malah bertemu dengan orang yang paling tak ingin ditemuinya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Gen'an-sensei?
Setelah bicara berputar-putar untuk hal-hal tidak jelas, akhirnya Gen'an-sensei masuk ke pertanyaan inti yang saat ini tak ingin didengar Hikaru.
"Shindou-sensei, maaf, jika boleh tahu, bagaimana rencana Anda menyangkut Sai-sama?"
Pertanyaan itu masih pertanyaan no.2 terburuk dari pertanyaan yang mungkin ia ajukan, memang. Pertanyaan pertama adalah, "Apa yang Anda lakukan pada Sai beberapa hari lalu? Apa Anda memang punya niat buruk dengan memanfaatkan kondisi Sai?" Tapi tetap saja, Hikaru tak ingin mendengarnya. Setidaknya sekarang, saat seluruh rencananya terlontar begitu saja keluar jendela.
Tentu saja, rencana awalnya (yang membuatnya mengeluarkan Sai dari rumah sakit) adalah membawa Sai ke Tokyo. Jika bisa, malah ia ingin mengajukan agar Sai bisa dirujuk pada psikiater di Tokyo. Nanti jika Sai pulih, ia berharap bisa menempatkan Sai di tempat seharusnya dia berada: di jajaran atas para go-pro. Takkan sulit bagi Sai untuk lulus ujian, terlebih kini ia memiliki identitas resmi yang jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai lulusan SMA berusia 25 tahun. Masa bodoh jika itu adalah identitas palsu, jelas-jelas Sai terdaftar dalam koseki keluarga Fujiwara dan hanya itu yang ia butuhkan untuk melenggang melewati tahap administrasi. Selanjutnya? Ha, katakan saja, ia sudah tahu siapa yang akan memegang 7 Titel setidaknya 2 tahun mendatang.
Dan ia takkan merasa pahit, sungguh.
Tapi sekarang barulah ia menyadari kebodohan rencana itu. Setidaknya, ada tiga hal yang harus ia pertimbangkan, yang sebelumnya luput ia lihat.
Pertama adalah kondisi Sai. Dengan adanya status Sai yang masih berada dalam pengawasan pihak rumah sakit, sulit bagi untuk sepenuhnya menjadi wali Sai, atau membawanya keluar dari Byodo-in, lebih lagi Kyoto. Setidaknya hingga Murakami-sensei menyatakan Sai siap untuk menjalankan prosedur rawat jalan sebulan sekali. Semula ia sangat optimis kondisi ini hanya sementara. Tapi siapa yang tahu? Bagaimana jika kondisi mental Sai diperparah oleh apapun terapi dan obat yang ia konsumsi dalam beberapa tahun terakhir? Bagaimana jika Sai akan terus ada dalam kondisi ini? Bagaimana jika Ki-In mensyaratkan screening mental (jujur, Hikaru tidak tahu jika hal ini ada) dan memutuskan Sai tidak layak menjadi go pro hanya karena ia (mantan) penderita psikosis?
Itu, kalau ia memang jadi membawa Sai ke Tokyo. Karena jujur saja, dengan kejadian belakangan, Hikaru mempertanyakan kembali rencananya untuk kembali ke Tokyo, atau bahkan kembali menjadi go-pro di bawah Ki-In. Yang mengantarnya pada permasalahan kedua, tak lain tak bukan adalah urusan Akira. Dengan segala masalah di antara mereka, ditambah kecemburuannya pada Sai, membawa Sai ke apartemennya, lebih lagi membuatnya menjadi go-pro, jelas hanya akan melontarkan obor ke minyak. Jika memang ia dan Akira benar-benar putus, tentu tak ada lagi hak Akira untuk tinggal di situ. Masalahnya mereka toh rekan satu tempat kerja, jadi tak mungkin juga menghindari Akira. Bayangkan betapa ruwetnya semua ini, jika ia, Akira, dan Sai berada dalam satu atap. Sudah pasti malah berkembang gosip yang makin memperkeruh suasana.
Mungkin solusinya adalah pindah, baik dari Tokyo maupun Nihon Ki-In. Mungkin ia bisa meminta agar ditransfer ke Kansai Ki-In. Sai juga bisa menjalankan ujian profesional di sana. Setidaknya itu solusi yang lebih baik, ketimbang jika Akira yang pergi. Itu kalau Akira masih mau bertahan di Nihon Ki-In. Karena jujur saja, dengan adanya Hikaru meninggalkannya, berarti perjanjian mereka batal, kan? Bisa jadi Akira kembali pada rencananya untuk pergi dari Jepang.
Tapi dua masalah itu, sejujurnya, masih di awang-awang. Karena bahkan ia belum dapat menyelesaikan masalah ketiga yang sejujurnya adalah masalah utamanya saat ini. Apa lagi kalau bukan kesalahpahaman yang terjadi antara ia dan Sai kemarin?
Jadi, bagaimana ia harus menjawab Gen'an-sensei?
"Sejujurnya, saya belum tahu," jawab Hikaru, merasa di saat ini, kejujuran adalah langkah terbaik. "Saya berniat membawa Sai ke Tokyo, tapi saya rasa situasinya tidak tepat saat ini. Jadi saya bertanya-tanya, apa mungkin jika saya membawa Sai ke Kyoto atau Osaka?"
Gen'an-sensei kelihatannya menangkap maksudnya, "Maksud Anda, menjadikan Sai sebagai go-pro di bawah Kansai Ki-In?"
"Benar," angguk Hikaru. Dalam pikirannya terbayang wajah Yashiro. Yashiro akan membantunya untuk urusan ini, kan?
"Kansai Ki-In tidak jauh dari Uji. Jika begitu, apa Anda dan Sai-sama akan tetap tinggal di sini, atau bagaimana?"
Di titik itu, Hikaru baru menyadari ke mana sebenarnya Gen'an-sensei membawa pembicaraannya.
"Uhm, apakah kehadiran kami ... uhm, memberatkan atau..."
"Oh, tidak, tidak," biksu itu lekas menggeleng. "Jangan salah paham, Shindou-sensei. Tentu saja Anda berdua sangat diterima di sini. Saya merasa terhormat jika Anda merasa tempat ini dapat memberikan kesembuhan bagi Sai-sama, dan jika begitu kenyataannya, tentu tak masalah berapa lama pun waktu yang Anda berdua butuhkan. Bahkan, jika memang perlu, kami sama sekali tak berkeberatan jika Anda berdua menetap permanen di sini."
"Terima kasih, Gen'an-sensei."
"Tapi bagaimanapun, saya khawatir dengan Sai-sama. Beliau tak mengatakannya pada saya, tentu, tapi saya tahu beliau memikirkannya. Tempat ini, bagaimanapun, semula adalah milik Michinaga. Pada masa kehidupan Sai-sama, ini adalah rumah peristirahatannya, dan walaupun sudah berubah menjadi kuil, secara teknis tempat ini masih menjadi milik keturunannya."
Hikaru tersentak. "Maksud Anda, Anda tak ingin menerima Sai, karena ia adalah anak musuh Michinaga? Tapi itu sudah terjadi satu milenium lalu! Tidak bisakah..."
"Kumohon jangan salah paham, Shindou-sensei. Seperti tadi saya katakan, saya menerima Sai-sama dengan tangan terbuka. Bagaimanapun, yang terjadi pada Sai-sama adalah kesalahan leluhur kami. Jika kini Sai-sama ada di sini, tak lain adalah campur tangan takdir. Saya justru bersyukur, karena ini adalah jalan bagi leluhur kami untuk menebus dosa. Tapi saya khawatir, bukan begitu yang ada di benak Sai-sama."
"Apa maksud Anda?"
"Ketika kita menjemput beliau, Sai sama menanyakan apakah ayahandanya telah mengampuninya. Tentu di pikirannya, kita akan membawanya kembali ke Heian-kyo, atau setidaknya ke Dazaifu, tempat ayahnya menjabat sebagai gubernur. Tentu Anda dapat membayangkan perasaannya, ketika ia justru dibawa ke tempat yang ia pikir merupakan milik Michinaga. Sebuah biara, tak lain..."
"Sai mengira ia dipaksa menjadi biksu?"
"Sebenarnya menjadi biksu bukan lagi merupakan hukuman pada masa Heian," koreksi Gen'an-sensei, kelihatannya bisa mendeteksi kengerian Hikaru. "Tapi dari sudut pandang Sai-sama..." biksu itu tak melanjutkan, tapi Hikaru sudah bisa memahami maksudnya secara garis besar.
Tentu saja, Hikaru tahu bahwa pada masa Heian, kekuatan di bidang agama dianggap setara dengan kekuatan di bidang pemerintahan ataupun militer. Cabang-cabang keluarga Fujiwara, sebagaimana keluarga penting lain, secara sistematis mendelegasikan anak-anak mereka untuk mengisi posisi di setiap sektor tersebut. Menimbang betapa pentingnya peran di sektor keagamaan, merupakan suatu kehormatan untuk menjadi biksu atau pendeta, dan orang-orang yang dipersiapkan untuk mengisi jabatan tersebut telah dipilih dan dididik sejak dini. Kalau mendengar penuturan Gen'an-sensei, beberapa putra Takaie—yang artinya saudara-saudara Sai—juga menjadi biksu, padahal mereka berasal dari keluarga militer.
Masalahnya, tidak sepenuhnya salah jika dikatakan bahwa menjadi biksu merupakan suatu bentuk hukuman. Hikaru pernah membaca bahwa beberapa orang yang semula memegang jabatan di ibukota dipaksa turun dari jabatannya dan menjadi biksu. Ada juga yang karena masalah pertikaian antarpewaris, lantas harus menanggalkan statusnya dan masuk biara. Jelas, masuk biara berarti meninggalkan istana dengan segala kehidupan sekularnya, termasuk peran di lingkup politik, terkecuali bagi para mantan Kaisar yang justru memerrintah di balik layar setelah menjadi Insei (insei di sini artinya adalah mantan Kaisar yang masuk biara, bukan insei Asosiasi Go). Bahkan walau para biksu masih dapat menikah (seperti misalnya Gen'an-sensei), keturunan mereka juga tak lagi memasuki kancah pemerintahan.
Dan Sai bukan sekadar guru go di ibukota. Oh, ia bukan hanya hampir menjabat sebagai Chunagon, demi Kamisama, dia bahkan diharapkan menjadi Nindaijin! Sangat wajar, bukan, jika ia merasa ini adalah bentuk lain pengasingan? Terlebih, ia mengira dirinya akan dijadikan biksu bukan di kuil tempat saudara-saudaranya menetap, seperti Enryaku-jii dan Mii-dera, melainkan di kuil milik orang yang kendati juga merupakan kerabat dekatnya, jelas-jelas sangat memusuhinya.
Kalau begitu, tindakannya malam itu menjadi semakin bisa dimengerti. Pastilah ia merasa ketakutan, mengira dirinya telah tanpa sengaja menjelek-jelekkan nama Michinaga di depan keluarganya sendiri. Apakah ia merasa Gen'an-sensei telah mengujinya, dan ia tidak lolos? Dan Hikaru-lah yang membawanya ke sini. Jika Sai melakukannya bukan sebagai tanda terima kasih, tetapi sebagai tanda ketertundukan, karena mengira Hikaru menginginkannya? Atau hanya karena ia ingin berada pada daftar baik Hikaru, semacam upaya untuk membuat hidupnya lebih aman di sarang macan ini?
Dan Sai telah mengalami sesuatu yang pahit sebelumnya, demi Tuhan! Atau setidaknya begitu menurut hasil visum. Laporan resmi rumah sakit menyatakan bahwa amnesia Sai juga mencakup kejadian itu, tapi Sai sendiri pernah menyatakan bahwa dirinya 'kotor', jadi setidaknya walaupun ia tak ingat, alam bawah sadarnya masih menginternalisasi kejadian tersebut. Para dokter di rumah sakit jiwa telah mewanti-wanti Hikaru untuk tak mengungkit apapun menyangkut insiden tersebut, jadi entah bagaimana perasaan Sai, malam ketika ia menyerahkan dirinya hanya karena tak ingin ... Hikaru marah?
Masih jelas dalam benak Hikaru, tubuh Sai yang tertunduk di atas futonnya, ketika menyambut kedatangan Hikaru. Mata Sai yang tak pernah menatapnya... Tangannya yang bergetar ketika menarik lepas simpul obi dam menjatuhkan yukatanya... Gemetar bibir Sai ketika menawarkan dirinya... Dan tentu saja, sedikit kejitan di bahunya, tatkala ia mengira Hikaru menyuruhnya untuk...
Hikaru merasa sesuatu menggerayangi tengkuknya.
Astaga. Ia benar-benar harus mencari Sai dan menjelaskan duduk perkaranya, kalau begitu.
Ia tak membuang waktu. Tak hendak berlama-lama membicarakan hal tak jelas soal rencana masa depannya bersama Sai, Hikaru lekas pamit dan berlari mencari Sai. Tidak ada gunanya, lagipula.
Karena bukankah rencana masa depan takkan mungkin terlaksana jika tak ada masa kini?
.
.
Mengepalkan tangan, Hikaru mencari sang mantan bangsawan itu. Orang yang dicarinya tak ada di manapun yang biasa ia dan Hikaru datangi: tidak di kamar, tidak di beranda, tidak di taman sekitar kediaman Gen'an-sensei. Dengan agak panik, Hikaru bulak-balik mencari di nyaris di balik setiap pintu dan seluruh sudut kediaman Gen'an-sensei yang sangat luas itu, bahkan bertanya sana-sini pada para biksu yang kadang berlalu-lalang. Sayangnya, tak ada juga yang tahu ke mana Sai.
Astaga, bagaimana mungkin ia sampai kehilangan Sai, sih?
Mungkin ia sembahyang di Hou-ou-do, pikir Hikaru, meninggalkan rumah besar itu menuju Phoenix Hall. Ketika sedang melintasi taman luas yang memisahkan kediaman Gen'an-sensei dan Phoenix Hall itulah, sayup-sayup ia mendengar lantunan seruling bernada tinggi dari arah timur. Sadar bahwa itu sangat mungkin berasal dari ryuteki fue yang kerap dimainkan Sai, Hikaru lekas mengalihkan langkahnya ke asal suara.
Benar saja, orang yang dicarinya tengah duduk sendiri sembari memainkan serulingnya di bawah sebatang pohon di tepi danau di seberang Phoenix Hall.
Sai mendadak menghentikan alunan melodinya dan bangkit dari duduknya, melangkah mendekati danau dan berhenti tepat di bibir danau. Dari posisi Hikaru kini, ia tak bisa melihat ekspresi Sai, tapi ia kelihatan menatap entah apa di permukaan air yang tenang. Hikaru memandang sekeliling, mencari-cari tanda keberadaan orang lain yang menemani Sai, tetapi tak mendapati satupun. Dada Hikaru seketika mengguruh. Sai punya riwayat menenggelamkan diri, dan ia sudah mengatakan ini pada Gen'an-sensei. Mengapa tak ada seorang pun yang mengawasi Sai?
Ketakutan Hikaru terbukti ketika perlahan, Sai kembali melangkah memasuki air. Rasa takut mencengkeram Hikaru begitu rupa hingga bahkan sebelum otaknya memproses apa yang terjadi, ia sudah berlari ke arah Sai sembari meneriakkan namanya dengan panik. Tanpa banyak bicara, ia melompat dan menubrukkan dirinya pada Sai. Momentum yang ia ciptakan mendorong keduanya menjauh dari air, dan sukses membuat mereka jatuh dengan begitu tak elegannya ke tanah beralas rerumputan.
"A-aduh...," sosok di bawahnya mengaduh kesakitan karena dua hal: tubuhnya yang terbentur ditambah Hikaru yang menindihnya. "Hi-Hikaru ... no ... kimi? A-apa yang..."
Tapi Hikaru tak punya dasar apapun untuk merasa malu atas posisinya sekarang. Rasa takutnya masih mencengkeramnya begitu rupa hingga tak urung ia berteriak di wajah Sai, "Apa yang kaulakukan, Bodoh?"
"Ha-hamba..."
"Bunuh diri sama sekali bukan jawaban! Kau itu mau menempuh berapa kehidupan baru sadar, sih?"
Sai tampak mengerjap.
"Ah, hamba tidak...," ia memberi kode dengan lirikan matanya. "Hamba tengah menggubah syair, dan kertasnya jatuh ke danau... Jadi..."
Hikaru mengikuti arah mata Sai. Ah, benar juga, ia bisa melihat selembar kertas melayang di atas air. Tapi tak ada gunanya meraihnya memang, tulisan di atasnya sudah luntur.
"Oh," dengan wajah memerah, Hikaru bangkit dari tubuh Sai. "Maaf kalau begitu..," katanya, mengulurkan tangan untuk membantu Sai berdiri. "Aku hanya ... um, kelewat khawatir."
"Tidak apa, ampuni hamba telah membuat Paduka khawatir..."
Tahu ini takkan ada akhirnya, Hikaru tak menanggapi. Ia mengambil tempat dengan duduk berselonjor di sisi Sai, memandang permukaan danau yang mulai berkilat keemasan.
"Hikaru no kimi," setelah sekian lama hanya saling berdiam diri, Sai membuka pembicaraan dengan hati-hati.
"Aku harus bilang berapa kali agar kau tidak memanggilku begitu?" Hikaru masih terlalu tegang untuk dapat mengatur intonasi suaranya. Terlihat Sai mengejit, tapi untungnya kali itu ia tak langsung jatuh menyembah seperti yang lalu. Tapi tak urung, ia menunduk, seakan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Hikaru juga, sejujurnya, pada titik ini. Ia ingin bicara masalah kemarin, tapi ia tak tahu bagaimana cara mengucapkannya tanpa membuat situasi menjadi tak terkendali.
"Uhm, dengar, aku minta maaf mengenai ... uh, kejadian tempo hari, oke? Aku ... uh, tidak bermaksud kasar padamu, tapi..."
"Hamba takkan menyalahkan Paduka," mungkin Hikaru harus berhenti berharap Sai akan berhenti memanggilnya begitu. Meski sudah dibilang berkali-kali, ia tetap tak mendengar. "Hamba tahu diri ini sudah tidak suci lagi. Tidak mungkin Paduka menginginkan hamba yang telah begini kotor dan bernoda..."
"Tidak! Sai, bukan itu maksudku..."
"Hambalah yang sepatutnya memohon agar Paduka sudi kiranya mengampuni hamba. Semua yang terjadi lahir semata karena kebodohan hamba, yang telah salah menduga maksud Paduka. Rasanya di dunia ini tak ada kata maaf yang bisa menebus rasa malu hamba..."
"Tidak perlu bicarakan itu lagi," ujar Hikaru, mendadak merasa jengah dan kikuk. Oh, sungguh ia merindukan Sai, merindukan interaksi dan saat-saat bersamanya. Tapi Sai yang ia rindukan adalah Sai yang itu. Bukan yang ini. Sai ini adalah Sai yang sama sekali tak ia kenal.
Dalam beberapa bulan terakhir, mereka berinteraksi dengan adanya goban di tengah mereka. Ambil goban itu, dan yang muncul adalah kekakuan yang tak Hikaru mengerti bagaimana cara mencairkannya.
"Hikaru-sama, uhm, Hikaru," Sai merevisi panggilannya, ketika melihat Hikaru memelototinya, "Jika hamba boleh bertanya, hingga kapankah hamba akan tinggal di sini?"
"Selama yang kau mau, tentu, Sai!"
"Ah, maksud hamba, bilamanakah Kaisar akan memperkenankan hamba kembali ke Heian-kyo?"
Bagaimana menjawabnya?
Sai kelihatannya melihat kebimbangan pada tiadanya jawaban dari lisan Hikaru, karena pertanyaan berikutnya datang dalam nada yang lebih rendah, dan terdengar sendu, "Begitukah? Tak juakah Kaisar mengampuni hamba?"
"Sai..."
"Jika begitu, Dazaifu, barangkali?"
"Ayahmu sudah tak lagi menjadi gubernur di Dazaifu, Sai..."
"Hamba tahu, tapi Dazaifu pernah menjadi rumah keluarga hamba... Hamba sadar ini adalah permohonan yang berlebihan. Hamba tahu hamba tak berguna di medan perang, tapi hamba rela bahkan sendainya Kaisar menginginkan hamba terjun di garis depan..."
Ternyata memang hebat sekali Gen'an-osho, ia bisa menebak arah pikiran Sai yang Hikaru saja tak pernah terpikirkan. Mungkin memang ada untungnya juga Gen'an-sensei tadi sudah memperingatkannya. Begini saja, ia sudah nyaris tak tahu apa yang haris dilakukan, apalagi jika ia tak ada gambaran sama sekali mengenai kegalauan Sai.
"Apa kau tidak kerasan di sini?" tanyanya.
Hikaru bisa melihat Sai menegang, tapi ia menjawab dengan hati-hati, "Tentu hamba senang Tuanku membawa hamba ke sini... Suasana di sini sangat enak, begitu teduh dan menenteramkan. Hanya saja, hamba merasa tak enak hati terus-menerus menyalahgunakan kebaikan Gen'an-osho..."
"Tidak sama sekali, menurut Gen'an-sensei. Malah, ia merasa senang bisa menerima dan menjamumu."
"Gen'an-osho hanya terlalu baik," ujar Sai lirih. "Tapi bagaimanapun, ini adalah rumah peristirahatan Sesshou-sama. Apa jadinya bila beliau tahu bahwa hamba ada di sini, terlebih jika tanpa sepengetahuan beliau..."
Hikaru tak menjawab, karena sungguh ia tak tahu bagaimana menjawabnya.
"Ataukah hamba salah?" meski ia menyatakan demikian, Hikaru tak mendengar keterkejutan di dalamnya. Jelas, apapun itu, Sai telah memikirkannya dalam-dalam. "Apakah kehadiran hamba di sini adalah atas titah Sesshou-sama?"
"Sai..."
Kelihatannya kini Sai menganggap Hikaru tak lain adalah komplotan Michinaga, karena mendadak ia beringsut menjauh dan mulai menyembah.
"Ampuni hamba, Paduka. Hamba telah lancang, bicara tak sepantasnya, tak tahu kedudukan hamba sendiri. Mohon Paduka sudi menyampaikan pada Sesshou-sama bahwa hamba sama sekali tidak bermaksud menggugat kuasa beliau, hamba sama sekali tidak haus dengan jabatan. Hamba hanyalah anak kampung, sudah merupakan suatu kebanggaan dan berkah tak terkira bagi hamba jika hamba diperkenankan mengabdi, bahkan hanya sebagai pesuruh sekalipun."
"Sai, kumohon jangan begini lagi..."
Tapi Sai tetap bergeming.
"Hamba berjanji takkan melakukan apapun yang sekiranya membuat murka Sesshou-sama. Jika Sesshou-sama masih menganggap hamba sebagai ancaman, dengan sukarela hamba menerima jikalau hamba tak lagi diperkenankan mengabdi di ibukota. Biarlah hamba pergi ke Dazaifu ... atau pulang ke kampung halaman hamba di Izumo..."
"Sai! Sudah tak ada siapapun lagi di Dazaifu atau Izumo!"
Sungguh Hikaru tak tahu kenapa ia meneriakkannya, atau bahkan sempat berpikir apa yang mungkin terbit di benak Sai, ketika mendengar pernyataan itu keluar darinya. Hening menyelimuti ketika mata Sai mengembang nanar.
"Apa … saudara-saudara hamba... Ayahanda hamba... Ibunda hamba..."
Ia merasa tak ada jalan mundur kali ini. Sai toh satu saat harus tahu juga.
"Benar. Seluruh keluargamu sudah tiada, Sai..."
Sai di hadapannya tampak terpuruk. Air mata mengalir perlahan di pipinya.
"Ha-hamba … I-ini semua … salah hamba..."
"Tentu tidak, Sai."
"Apakah … seluruh keluarga hamba … dihukum mati … karena kesalahan hamba?"
"Bukan begitu, Sai... Dengar..."
"Tiadakah belas kasihan di hati Sesshou-sama? Kami bagaimanapun masih terikat darah dengan beliau..."
Hikaru merasa tidak tahan lagi. Tanpa basa-basi, ia mendekat, meraih bahu Sai dan mengguncangnya. "Sai, dengar! Kau tidak salah apapun, kau tidak membawa kehancuran pada keluargamu. Paham?" Tanpa ia sadari benar-benar konsekuensinya, ia pun mulai merapal informasi yang ia dapat dari hasil browsing di internet dalam beberapa hari terakhir, sejak ia tahu siapa keluarga Sai. "Ayahmu hidup hingga usia 60-an, bagaimanapun itu melebihi ekspektasi rata-rata usia pada masanya, kan? Sepeninggalmu, ia masih menjabat sebagai Chunagon, sebelum kembali ke Dazaifu dan menjadi jenderal ternama dalam pertempuran melawan invasi Toi. Setelah itu ia pulang ke Heian-kyo, dan menolak jabatan Chunagon demi memberi jabatan Sachiben pada putra keduanya, Fujiwara no Tsunesuke."
"Tsunesuke?" Sai mengerjap. "Adinda hamba Tsunesuke … menjadi Sachiben?"
Baru Hikaru sadar bahwa bahkan laki-laki yang disebut sebagai putra pertama Takaie, Fujiwara no Yoshiyori, berusia lebih muda ketimbang Sai. Berarti Sai seharusnya adalah putra tertua, pewaris ayahnya. Itu, kalau ia lahir dari istri sah, atau setidaknya Takaie mengakuinya sebagai anak.
Tapi bukankah menurut Sai, di masa-masa terakhir hidupnya, akhirnya Takaie mau mengakuinya? Kalau begitu, wajar jika ia merasa beban keluarga ada di pundaknya, dan merasa ketakutan bahwa kesalahan kecilnya menjadi sumber bencana bagi keluarganya.
"Benar," angguk Hikaru. "Ayahmu menolak beberapa jabatan, lantas ia pensiun sewaktu usianya 66 tahun. Saat itu ia menjabat sebagai Zen-Chunagon. Jelas, kan? Kau tidak menyebabkan keluargamu hancur."
Pastinya ia tak perlu bilang, bahwa ayah Sai tak pernah mencapai jabatan lebih dari Chunagon, lantas meminta izin pada Kaisar untuk pergi dari ibukota untuk kembali ke Dazaifu. Begitu kembali ke ibukota pun, selalu menolak jabatan yang diberikan padanya. Atau yang lebih mengherankan: bahwa ia pensiun dan wafat pada tahun yang sama. Atau bahwa semua itu kemungkinan besar ada hubungannya dengan insiden Sai.
"Tapi, bagaimana Paduka tahu? Ayahanda baru berusia 39 tahun ketika hamba mendapatkan … musibah itu. Dan waktu baru berlalu 6 tahun... Bagaimana mungkin Paduka tahu yang terjadi bertahun-tahun ke depan?"
"Kurasa aku memang tak bisa menyembunyikannya lagi," Hikaru menarik napas panjang. Ia sudah tak bisa kembali lagi kini. "Sai, dengar. Ada hal yang harus kuceritakan."
.
.
Notes:
Maaf aku baru update setelah sebulan, bulan kemaren itu UAS jadi aku sumpah ga sempet buat nulis lanjutan Kelopak Wisteria Gugur. Terus terang, sebenernya aku ga ada ide sih... Aku malah bikin beberapa fanfic Hunter x Hunter dan Hikaru no Go lain (beberapa belum sempet aku publish juga).
Omong-omong, makasih buat temen-temen yang udah setia ngikutin cerita ini, khususnya yang udah nyempetin kasi review (walo dikit hixhixhix). Kelopak Wisteria Gugur Part Hikaru udah hampir kelar. Sebenernya aku udah nyiapin Part Waya dan Part Akira, tapi jujur aja aku masih ragu buat postnya hehehe... Gimana ya?
