Chapter 18. Aliran Waktu
.
Sai hanya bisa terduduk lemas, sementara matanya membelalak, begitu Hikaru menyelesaikan ceritanya.
"Hamba … telah meninggal seribu tahun lalu … dan menghantui Paduka?" ulangnya, nanar.
Sedikit rasa bersalah menyelusup di benak Hikaru, tapi di titik ini ia benar-benar tak bisa mundur lagi. "Benar," katanya. "Dan kini saat kau tahu aku bukan Hikaru Genji seperti yang kau sangka, kuharap kau bisa benar-benar berhenti memanggilku 'Paduka' atau 'Hikaru no kimi' atau semacamnya, seperti yang sudah kukatakan berulang kali."
"Tapi, Hikaru-sama..."
"Ah, ah, Hikaru-sama juga tidak boleh!"
Sai tampak menelan ludah. "Hikaru," katanya akhirnya. "Tolong katakan ini mimpi. Setidaknya, tolong katakan ini tidak benar!"
"Maafkan aku, Sai..."
"Tapi...," Sai menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Ini tidak mungkin! Ini benar-benar mustahil! Tidak mungkin hamba pernah menjadi hantu..."
"Sayangnya begitu nyatanya, Sai..."
"Tapi ini...," ia menatap tangannya. "Hamba bisa menyentuh benda-benda, hamba bisa berjalan, hamba bisa melihat bayangan hamba di air... Apakah hamba berada di alam sesudah kematian? Apa ini nirwana?" Ia mengangkat kepalanya, menatap Hikaru. "Apa Hikaru adalah … semacam dewa?"
"Sayangnya bukan," geleng Hikaru. "Kau masih di dunia manusia."
"Lalu apa? Apa hamba … bereinkarnasi? Tapi mengapa hamba masih mengingat kehidupan masa lalu hamba dengan begitu jelas? Dan mengapa … hamba tidak mengingat kehidupan kedua hamba?"
"Jujur, aku tidak tahu jawabannya, Sai. Yang jelas seperti tadi kukatakan: benar, kau telah meninggal seribu tahun lalu dan menghantui goban kakekku. Kau mengajariku go sewaktu aku masih kecil. Lantas begitu aku jadi pro, kau menghilang begitu saja. Aku mencarimu selama ini, aku benar-benar menyerah, mengira kau memang sudah pergi ke dunia lain. Baru belum lama ini aku mendapat kabar bahwa mendadak ditemukan kembali di Sungai Yodo, enam tahun lalu," ia merekap seluruh ceritanya dalam sejam terakhir.
"Tapi … tapi..."
"Aku tahu ini sulit sekali dipercaya. Aku tak punya cara untuk membuktikannya, tapi aku sepenuhnya jujur soal ini."
"Lantas mengapa … hamba tak bisa mengingat masa-masa ketika bersama Hikaru?" ia memegang kepalanya. "Sekeras apapun hamba berusaha, hamba masih tak dapat mengingatnya. Shuusaku-sama dan Touya-sama yang disebutkan Hikaru ... Hamba ... sama sekali tidak ..."
"Sai?"
Baru pertama kali dalam seumur hidupnya, bahkan semasa Sai menjadi hantu, Hikaru melihat Sai sefrustrasi itu. Ia tak lagi memegang kepalanya, ia menjenggutnya kini, dan ada kerung dalam di antara kedua matanya. Lantas begitu saja, tahu-tahu kedua bola matanya berputar ke atas, dan ia terjatuh ke belakang.
"SAI!" teriak Hikaru, untungnya tepat waktu menangkap tubuh Sai sebelum ia menghantam tanah. Dengan dada berguruh kencang, disadarinya bahwa napas Sai putus-putus, dan ketika ia memberanikan diri mengecek, hanya bagian putih bola matanya yang terlihat di balik kelopak mata Sai yang terpejam.
Teriakan Hikaru, untungnya, menarik perhatian sepasang cantrik yang baru saja keluar dari Phoenix Hall. Segera saja, kedua cantrik tersebut berlari melintasi jembatan merah yang menghubungkan Phoenix Hall dengan tepian sungai.
Sebuat mereka menggotong tubuh Sai kembali ke kediaman Gen'an-sensei, pikiran Hikaru hanya bisa membisikkan frasa pendek, "Bertahanlah, Sai. Kumohon..."
.
.
Meskipun tidak ada rumah sakit di dekat sana, kuil itu, syukurlah, memiliki fasilitas kesehatan yang lumayan memadai. Hikaru tahu beberapa kuil juga merangkap sebagai tempat terapi alternatif untuk kasus medis maupun non-medis, dan kendati Byodo-in tidak termasuk dalam kategori tersebut, setidaknya mereka berpengalaman untuk sekadar menangani kasus orang pingsan.
Segera setelah sadar, hal pertama yang diminta Sai adalah Hikaru. Awalnya Gen'an-sensei tidak mengizinkan—Hikaru tahu biksu itu menyalahkannya atas perkembangan Sai belakangan, ia tidak bilang tapi hal itu tersirat dari tatapan matanya—tapi manalah berani ia menolak permintaan Sai? Akhirnya, dengan sedikit kode peringatan, Hikaru pun diperkenankan untuk menemui Sai di kamarnya.
"Hikaru," sapa Sai ketika Hikaru membuka pintu geser dan mempersilakan dirinya sendiri masuk. Mantan bangsawan itu berusaha mengangkat dirinya dari atas futon, tapi Hikaru lekas menghambur ke arahnya untuk menahannya bangkit.
"Kau tiduran saja," ujarnya, memaksa kembali tubuh Sai agar kembali berbaring. "Tadi Gen'an-sensei menyuruhmu banyak istirahat, kan?"
"Hamba tidak apa-apa, hamba sudah baikan!"
Memang tak ada gunanya berdebat. Berdasarkan pengalaman, gurunya itu bukan cuma egois, tapi juga keras kepala.
"Maafkan hamba, membuat Hikaru khawatir," ucap Sai. Saking seringnya diucapkan, Hikaru sampai bosan dengan kata maaf. Kalau mau jujur, harusnya malah ia yang meminta maaf. Karena ia kurang perhitungan dalam menimbang perasaan Sai-lah, Sai menjadi seperti ini. "Maafkan hamba juga, meninggalkan Hikaru tanpa pesan sedikitpun..."
Kalimat itu membangkitkan harap di benak Hikaru. "Sai! Apa kau ingat?"
Sayangnya, Sai hanya menggeleng. "Tidak, sama sekali..."
"Oh…"
Sang mantan bangsawan itu menunduk. Tangannya mempermainkan ujung selimut yang menutupi tubuhnya.
"Hikaru, bisakah Hikaru menceritakan pada hamba lebih jelas lagi? Bagaimana kita bertemu? Apa yang kita lakukan bersama? Bagaimana hamba meninggalkan Hikaru?"
"Tu-tunggu, Sai, aku tak bisa menjawab semua itu sekaligus."
Hikaru mengambil tempat duduk di sisi Sai dan mulai bercerita. Ekspresi Sai berubah-ubah sepanjang cerita, yang kadang membuat Hikaru tersenyum dalam hati. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia meringis, dan sesekali juga ia menyiratkan bersit perih.
Bersama cerita Hikaru, terbuka pula beribu pertanyaan. Sosok seperti apa dia. Bagaimana kesehariannya bersama Hikaru. Bagaimana ia pergi. Bagaimana perasaan Hikaru ketika ia pergi. Siapa yang menjadi inangnya sebelum Hikaru. Bagaimana perkembangan dunia dalam seribu tahun ini.
Hikaru berusaha menjawab sedikit demi sedikit. Tak ada gunanya memberi tahu Sai seluruhnya, seharusnya ia memanggil ingatannya sendiri, bukan disuapi oleh Hikaru. Ditambah, terlalu banyak asupan justru mungkin akan terasa berlebihan bagi Sai, seperti sudah digarisbawahi Gen'an-sensei, ia tak ingin hal ini justru menjadi kontraproduktif bagi perkembangan Sai. Dan tampaknya Sai juga tak berkeberatan, bahwa Hikaru tak menjawab begitu saja semua pertanyaannya sekaligus. Masih ada begitu banyak waktu, demikian pikir Hikaru. Waktu seribu tahun tak harus dirangkum hanya dalam sehari.
Kisah Hikaru mengenai Sai mengalir bersama aliran formasi batu-batu go yang ia tempatkan di atas goban, di beranda kediaman Gen'an-sensei pada sore hari, ditemani dengan secangkir teh dan latar belakang detak suara batu membentur papan. Kisah Hikaru mengenai Sai mengalir bersama percakapan mereka, di antara langkah mereka di atas bebatuan yang menghampari jalan setapak dan jembatan yang melintang di atas danau, tatkala Hikaru mengajak Sai berjalan-jalan di halaman Byodo-in yang luas. Kisah Hikaru mengenai Sai mengalir bersama lantunan nada dari ryuteki fue Sai, tatkala mereka berbincang di bawah naungan pohon rindang di tepi danau. Kisah mereka mengalir bersama juga dengan aliran waktu, yang kendati bergemericik tapi tak pelak mengalir pasti.
Mereka punya begitu banyak waktu. Tidak ada perlunya terburu-buru.
Karena di sana, di bawah rentang sayap burung api yang melindungi mereka dari kejamnya dunia, aliran waktu seakan berhenti.
.
.
"Benar kata Gen'an-sensei, di sini benar-benar indah, ya...," ujar Hikaru, sembari mendayung sampannya mengikuti aliran sungai yang tenang.
Sore itu sama seperti sore-sore biasanya dalam beberapa minggu terakhir. Bedanya adalah Hikaru dan Sai mendapat izin Gen'an-sensei untuk keluar Byodo-in, walau masih berada di wilayah sekitar situ, dan pergi bersampan menikmati petang. Sai mengatakan bahwa dahulu para bangsawan acap bersampan di sana—termasuk dia, sebelum jabatannya meningkat dan hubungannya dengan Michinaga menjadi lebih tegang—jadi tentu saja Hikaru ingin mencoba pengalaman itu. Terlebih, dengan upaya penerimaan diri ditambah bermain di tepi danau nyaris setiap hari, Sai telah dapat mengatasi fobianya terhadap air, sehingga Hikaru berani menjajakkan kaki di sungai itu.
Walau ini adalah kali pertama ia mencoba, tidak butuh waktu lama bagi Hikaru untuk mencerna arahan Sai dan menavigasi sampannya membelah sungai. Lagipula tidak sulit, permukaan air benar-benar tenang, sama sekali tidak ada arus sedikitpun. Hikaru bahkan hanya perlu sesekali mendayung, selebihnya membiarkan aliran air membawa mereka.
Sepanjang perjalanan, keduanya tak banyak bicara. Hikaru asyik menikmati aliran sungai beserta pemandangan indah barisan pepohonan yang menudungi sisi kanan dan kiri sungai. Atap merah Hou-ou-do menyembul dari baliknya, kontras dengan dedaunan yang hijau. Suara derik jangkrik dan serangga musim panas lain mengalun dari balik rerumputan dan rapat pepohonan, menyajikan simfoni sebagai pengiring perjalanan mereka.
Saat itu sudah minggu kedua Agustus, yang artinya sudah enam minggu Hikaru dan Sai menetap di Byodo-in. Waktu sudah bergulir memasuki puncak musim panas. Bersama dengan itu, prospek gembira mengenai perkembangan kesehatan Sai membuat dada Hikaru menggembung dengan rasa bungah dan harapan. Sebentar lagi Sai akan melewati dua bulan masa percobaan dan pengawasan rutinnya, yang artinya setelah asesmen final dua minggu lagi, jika lancar, Sai akan bisa hanya menjalani rawat jalan sebulan sekali.
Itu juga berarti Hikaru akan bisa menjadi wali Sai, dan membawanya keluar dari Byodo-in untuk hidup di tengah-tengah masyarakat, hal yang menurutnya justru akan lebih memicu perkembangan mental Sai. Ia sudah punya rencana mengenai hal ini. Proyeksi masa depan yang jelas, bahkan.
"Kalau kau sembuh nanti, kita akan keluar dari Byodo-in, dan pergi ke Osaka. Bagaimana menurutmu, Sai? Aku akan meminta transfer ke Kansai Ki-In, dan kau juga bisa ikut ujian pro."
Sai—yang tengah merunduk di atas sampan, sebelah tangannya yang terjulur keluar sampan tercelup di permukaan air, menyaring aliran air—mengangkat kepalanya dan memandang Hikaru.
"Ujian pro?"
"Ah, itu cuma tes kecil supaya kau bisa jadi profesional."
"Profesional?"
"Ah, itu adalah sebutan untuk orang yang bermain dan mengajar go secara profesional, maksudnya kita mendapat bayaran untuk itu." Dipikir-pikir, Sai adalah guru go untuk Kaisar, jadi bisa dibilang dia juga pro pada masanya.
"Apa itu artinya hamba bisa kembali ke Heian-kyo?" tanya Sai penuh harap.
Ah, bagaimana menjelaskannya, ya? "Ah, tidak, tidak. Kita tidak akan mengajar Kaisar, Sai," terang Hikaru, berusaha menghindari penjelasan mengenai ketidakberadaan Heian-kyo sekarang. Mungkin itu bisa jadi penjelasan untuk lain waktu.
"Jika tidak mengajar Kaisar, apa kita akan mengajar para kuge?""
"Kuge? Ah, tidak, tidak. Beberapa mungkin, ya…," Hikaru agak mengerung, di kepalanya berputar beberapa sosok teman-teman dan langganannya yang nama keluarganya pernah ia lihat bertebaran di sana-sini sewaktu ia melakukan riset di Byodo-in guna melacak keberadaan Sai dalam sejarah. Ochi, contohnya. Apa ia tahu kalau ia adalah keturunan bangsawan Korea?
Ah, tidak perlu tahu pun, ia sudah arogan.
"Kalau tidak mengajar kuge, lantas mengajar siapa? Hamba dengar, rakyat biasa tidak bermain go…"
"Um… Zaman sudah berubah, Sai. Go sekarang bisa dimainkan siapa saja."
Memang tak bisa disangkal bahwa walau sudah seribu tahun berlalu dan go tak lagi menjadi monopoli kaum tertentu, tetap saja dunia go profesional dipenuhi nama-nama yang tak asing dalam sejarah. Mungkin karena mendalami go secara serius tak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga uang. Di luar seminar umum, orang-orang yang mampu membayar profesional sepertinya untuk shidougo privat hanyalah orang berduit. Mungkin Hikaru bisa dikatakan sangat beruntung. Dalam situasi normal, berapa yang harus keluarganya keluarkan untuk mendapatkan les privat setiap malam (sepanjang hari, bahkan) dari seorang go-pro sekelas Sai, coba?
Mata Sai agak berkilat cerah mendengar kata 'siapa saja'. "Ah, kalau begitu, apakah Hikaru juga … um … pu-pu…"
"Go-pro? Ah, aku belum bilang, ya? Benar, aku bekerja sebagai go-pro, ah, itu istilah untuk pemain go profesional," tambahnya melihat kebingungan di wajah Sai. "Aku bahkan memiliki beberapa gelar. Salah satunya adalah gelar yang pernah kaumiliki, Sai, Honinbou."
Membicarakan mengenai gelar, khususnya Honinbou, mau tak mau membuat batin Hikaru teriris. Bukannya ia tidak sadar mengenai aliran waktu dan apa konsekuensinya bagi dirinya, tepatnya bagi gelarnya. Sekitar Juli-Agustus biasanya adalah waktu penyelenggaraan pertandingan perebutan gelar Honinbou. Meski ia mungkin masih dapat mempertahankan gelar Gosei-nya entah hingga kapan—berhubung Akira sebagai penantangnya bersikukuh tak mau mengambil alih gelar itu hingga Hikaru kembali, sebelum Ki-In bosan dan memaksanya mengambil alih gelar dengan alasan politis, tentu—tidak demikian halnya dengan Honinbou. Di turnamen itu, Akira sudah tersingkir dari Liga. Menurut kabar terbaru, yang Hikaru tahu ketika ia tidak bisa menahan diri untuk melihat sekilas halaman depan Weekly Go yang dilanggan Gen'an-sensei—ia menghindari membaca koran itu ataupun browsing mengenai turnamen go—Ochi dan Kurata sama-sama lolos dari klasemennya untuk memperebutkan kursi penantang sekitar sebulan lalu. Dengan alpanya Hikaru, kemungkinan besar final Liga langsung dilangsungkan seperti pertandingan perebutan gelar—best 4 of 7—dan kini salah satu dari mereka sudah dikukuhkan sebagai Honinbou.
Terus terang, sebagian batin Hikaru merasa sesak dengan kemungkinan itu. Bagaimanapun Honinbou adalah gelar yang ia incar sejak awal—mungkin benar kata Akira, ia terfiksasi dengan gelar itu. Tapi kalau memang begitu kenyataannya, apa yang bisa ia lakukan? Itu adalah konsekuensi yang harus ia hadapi, karena jujur saja jika ia harus kembali ke Ki In dan menghadapi Akira (dan apapun konsekuensi yang harus ia hadapi berkenaan dengan insiden Akira), ia lebih memilih berada di sini dan kehilangan semuanya.
Apa itu menjadikannya pengecut? Dan menjadikan urusan Sai sebagai tameng agar tak harus menghadapi akibat perbuatannya? Entahlah. Yang jelas ia tak ingin mempertanyakan hal itu kini.
Yang harus ia hadapi cepat atau lambat, sebenarnya. Bahkan walaupun ia berencana untuk meminta transfer, ia pasti perlu menjelaskan ke mana ia selama ini dan alasannya untuk pindah. Kemungkinan pihak Kansai Ki-In juga takkan begitu saja menerimanya tanpa penjelasan, terlebih dengan fakta bahwa ia mengabaikan begitu saja semua turnamen dan seminarnya dalam tiga bulan terakhir. Jika rencananya pindah ke Kansai gagal, mungkin ia harus menjalankan Rencana B untuk pindah ke China atau Korea. Mereka mungkin akan memintanya untuk mengikuti ujian ulang, entahlah. Yang jelas, kalau itu pun gagal, ia toh masih bisa menuruti jejak Touya-sensei untuk berlaga di turnamen amatir.
Itu, kalau ia memang masih punya tempat di dunia go.
"Honinbou?" pertanyaan Sai memecah rentetan pikiran Hikaru. Mengerjap, Hikaru mengusir kegundahannya jauh-jauh dan memasang senyum.
"Itu gelar yang diambil dari nama keluarga master go legendaris dari zaman Edo, Honinbou Shuusaku. Kau ingat, Sai? Dahulu ia menjadi inangmu, sekitar seabad sebelum kau bertemu denganku."
"Honinbou ... Shuusaku?" ia tampak makin tersesat. "Kalau tak salah, Hikaru pernah menyebut nama itu sebelumnya. Siapakah gerangan ia?"
"Nama aslinya Kuwabara Torajirou. Kalian bertemu waktu ia masih kecil, kalau tak salah. Aku tidak tahu persis bagaimana, sayangnya, kau tidak pernah cerita bagian itu padaku. Lalu kau membantunya menjadi pemain go terbaik sepanjang masa. Ia diangkat sebagai penerus nama Honinbou menggantikan gurunya."
"Hamba juga ... mengajari seseorang sebelum Hikaru?"
"Tidak bisa dikatakan mengajari, sih... Lebih seperti ... dia menjadi medium untukmu."
"Medium?"
"Dia menjadi perantara sehingga kau dapat bermain go, seperti itulah."
"Hamba merasuki Torajirou-sama dan menggerakkannya untuk bermain go?"
"Yah, seperti itulah...," angguk Hikaru terhadap terjemahan kasar Sai. "Kalian melawan banyak orang, bahkan bermain di istana. Sayangnya, ia meninggal dalam usia muda, dan meninggalkanmu terperangkap di dalam goban, sebelum aku menemukanmu."
Mata Sai tampak terbelalak, dan ia menangkupkan tangan ke mulutnya.
Tak memperhatikan reaksi Sai, Hikaru meneruskan, "Kau tahu? Dulu aku pernah cemburu sekali dengan Torajirou. Kau selalu memandang dia baik sekali, sedang aku selalu dibilang kejam. Wajar sih, dia membiarkanmu bermain dan sebagainya, sedangkan aku hanya menyimpanmu untuk diriku sendiri dan nyaris tak pernah membiarkanmu bermain dengan orang-orang hebat di luar sana. Aku bahkan tak pernah menghargaimu seperti seharusnya."
Sampan mengalir tenang di atas permukaan air, dan Hikaru masih melanjutkan, kali ini dengan nada mengawang.
"Kau hebat sekali, Sai...," ucapnya. "Kifu Shuusaku masih tetap dipelajari hingga saat ini, itu adalah karenamu. Sayang sekali aku baru menyadari kejeniusanmu setelah kau pergi. Tapi sejak detik itu, aku berjanji bahwa jika kau kembali padaku, aku pasti akan membawamu menuju Kami no Itte. Seperti impianmu!"
Mata Sai menatapnya dalam ekspresi yang tak dapat dibaca. Bahkan setelah satu setengah bulan berlalu, belum ada perkembangan dalam memori Sai, ia masih tampak selalu hilang arah setiap kali Hikaru bicara apapun mengenai masa lalu. Tapi Hikaru bertekad takkan kalah.
"Kau tahu, dulu aku pernah ke pulau tempat kau pernah bersama Torajiro, Innoshima," lanjut Hikaru. "Waktu itu musim panas, tapi katanya di sana akan indah sekali kalau musim gugur. Kau pasti kangen dengannya, jadi nanti kita ke sana, ya..."
Sai tak menjawab, malah mengalihkan wajahnya dan memandang kosong ke riak air yang tercipta di permukaan sungai. Helai-helai bagian depan rambutnya yang menjuntai menutupi wajahnya dari pandangan.
Setelah pindah ke Byodo-in, Sai kembali memanjangkan rambutnya. Rambutnya sudah mencapai bahu sekarang, lurus dan menjuntai bak air terjun. Bukan karena di Byodo-in tidak ada tukang cukur, tentu. Mungkin karena di sini tidak ada pihak medis yang memaksanya memotong rambut dengan alasan kehigienisan dan kemudahan perawatan, atau alasan nostalgia, Hikaru tak begitu paham. Yang jelas tidak ada yang berkeberatan, malah kalau Hikaru mau jujur, ia lebih suka melihat Sai dengan rambut panjang. Rasanya seperti ia mendapatkan kembali Sai-nya yang dulu.
Sai mengangkat sebelah tangan untuk menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, dan sesaat, wujud Sai di hadapannya bertumpang tindih dengan seseorang yang lain. Hikaru terhentak, dan tanpa sengaja perahu yang mereka tumpangi oleng. Untungnya, Sai bertindak cepat dan berhasil menyeimbangkan perahu sebelum keduanya terlempar ke sungai.
"Hikaru tidak apa-apa?" tanya Sai, kelihatan agak panik, sementara Hikaru berusaha keras meredakan debar jantungnya.
"Tidak apa-apa," jawab Hikaru, meletakkan dayungnya dan duduk di sampan untuk menenangkan diri. Seakan menyadari sesuatu, ia berpaling pada Sai, memperhatikan reaksi fisik sang guru. "Kau sendiri tidak kenapa-kenapa?" tanyanya, mengingat bahwa kejadian kecil tadi mungkin lebih berdampak pada Sai ketimbang dirinya.
Sai, untungnya, menggeleng, dan barulah Hikaru bisa bernapas lega. Ini bagaimanapun adalah percobaan pertama Sai turun ke air di alam bebas. Walau setenang dan sedangkal apapun, sungai tetaplah sungai, dan Hikaru sungguh tak dapat memaafkan dirinya jika insiden kecil tadi men-trigger sesuatu yang tak seharusnya.
"Kalau begitu, kita sudahi sampai di sini dan pulang, ya?"
Ia bisa melihat roman kecewa di wajah Sai, tapi mantan bangsawan itu mengangguk. Sama kecewanya, Hikaru bangkit dan mengayuh kembali sampannya melawan aliran air.
.
.
"Hamba ingin ke Izumo," begitu kata Sai mendadak, dalam salah satu sesi permainan mereka di beranda kediaman Gen'an-sensei.
Hikaru mengangkat tangannya dari batu yang ia letakkan di titik persilangan strategis antara dua kluster kecil Sai, langkah yang ia harap bisa memotong upaya Sai untuk mengklaim bagian tengah goban sebagai teritorinya. "Izumo?"
"Benar, ke kampung halaman hamba. Tepatnya, ke Itsukashi no kami no miya."
Ingatan Hikaru untuk hal-hal di luar formasi go agak payah, tapi lamat-lamat ia mengingat cerita Sai mengenai masa kecilnya. Kalau tak salah, ia menyebut Izumo-taisha, sebuah kuil Shinto yang dikatakan sebagai salah satu kuil tertua di Jepang, sebagai tempat ia dibesarkan.
"Ibunda hamba dahulu menetap di sana," terang Sai. Agak aneh, mendengar Sai menyebut masa lalunya sebagai sesuatu yang jauh, meskipun memang begitu kenyataannya. "Jadi mungkin di sana pula beliau dikebumikan."
Sai menjawab langkah Hikaru dengan menguatkan formasinya di pojok kanan. Ini langkah yang tidak biasa untuk ukuran Sai. Mengapa ia menghindari konfrontasi di area tengah? Di titik ini, seharusnya Hikaru bisa mengklaim teritori Sai dalam sepuluh langkah.
"Hamba diharapkan untuk dapat membawa ibunda hamba ke istana," lanjut Sai sendu, seraya menempatkan batunya di titik yang sudah diprediksi Hikaru, "tapi jangan kata membahagiakan beliau, setelah dikirim ke Komatsu, hamba tak pernah bertemu dengan ibunda hamba lagi. Hamba selalu berpikir waktunya belum tepat, kedudukan hamba belum cukup baik, hamba belum dapat menjamin kedudukan Ibunda di istana. Bahkan hingga akhir, hamba belum dapat menunaikan kewajiban hamba. Entah bagaimana perasaan Ibunda, ketika menerima kabar mengenai hamba. Ketika hamba mendapatkan kesempatan kedua seperti ini, setidaknya hamba ingin mengunjungi makam beliau dan memohon maaf..."
Hikaru menempatkan batu berikutnya. "Apa kau yakin di sana makam ibumu, Sai? Siapa sebenarnya nama keluarga ibumu? Mungkin kita bisa pergi ke makam keluarganya..."
"Hamba ... tidak begitu paham mengenai keluarga ibunda hamba," ujar Sai pelan. "Sebelum mengandung hamba, beliau adalah seorang miko, sedangkan kakenda hamba hanyalah seorang pejabat kecil di bawah Izumo-kokuso."
"Kalau begitu, bagaimana kita bisa mencari makam ibumu?"
Sai menundukkan kepalanya. "Bahkan hanya berkunjung ke kuil dan berdoa pun tak mengapa... Tentu, hamba sadar bahwa permintaan ini begitu merepotkan, jadi hamba takkan memaksa. Hamba sudah cukup bahagia tinggal di sini."
Mata Hikaru mengekor Sai yang meletakkan batunya di tempat yang tidak seharusnya. Apakah ini jebakan, atau kesalahan? Tidak biasanya langkah Sai begitu mudah diprediksi, bahkan bisa dibilang terlalu lemah. Mungkin memang jebakan, pikirnya kemudian, mengerahkan lebih banyak konsentrasinya untuk memprediksi taktik Sai.
Diam-diam ia mengangkat kepalanya, memperhatikan Sai. Mata mantan bangsawan itu terpusat pada goban, tapi Hikaru sudah terlalu kenal dirinya untuk tahu bahwa perhatiannya tidak ada di sana.
Setelah Hikaru membuka masa lalunya bersama Sai, ada perubahan pada diri mantan bangsawan itu, Hikaru memperhatikan. Bukan perubahan semacam ia lebih sering termenung dan seakan tidak ada di tempat—itu sangat bisa Hikaru prediksi. Ini adalah perubahan lain yang sesungguhnya sangat mengkhawatirkan, karena merusak hakikat keberadaan Sai hingga ke dasarnya. Ini adalah masalah Sai dan cintanya pada go.
Go, go, dan go selalu adalah satu-satunya fokus Sai, jiwanya, cintanya, inti keberadaannya. Atau setidaknya begitu impresi Hikaru terhadap gurunya. Dulu. Semasa ia menjadi hantu. Ia tak pernah bicara mengenai apapun yang lain. Keluarganya. Hobinya selain go. Asal usulnya.
Tapi Sai ini berbeda. Hikaru seakan melihat Sai yang tidak ia kenal sebelumnya. Belakangan ia lebih sering menyendiri, memainkan ryuteki fue-nya dalam nada-nada melankolis yang menyayat. Dan sungguh, Hikaru tidak tahu apa yang terjadi.
Mungkinkah karena hantu hanyalah berkas jejak keinginan yang tersisa ketika seseorang meninggal, sehingga keinginan itu tak hanya menjadi satu-satunya hal yang mengikatnya pada dunia, tetapi juga membentuk inti eksistansinya dan meniadakan aspek-aspek dirinya yang lain? Mungkinkah hanya sebatas itu Sai yang ia kenal, hanya kepingan penyesalan dan ambisi yang tak tergenapi? Seperti juga hantu orang yang mati karena dibunuh mungkin hanya akan hadir untuk balas dendam, maka arwah penasaran orang yang mati karena go hadir hanya untuk go? Dan kini, ketika arwah tersebut terlahir kembali, mendadak ia memiliki segala yang semula tak ia punya—bukan cuma tubuh, tapi juga keinginan lain?
Ataukah Hikaru yang selalu melihat segalanya dalam perspektif yang salah? Mungkinkah ia selalu hanya melihat satu sisi dari seseorang, lantas menganggap satu sisi tersebut adalah keseluruhan orang itu, dan meniadakan yang lain? Seperti ketika ia menyangka seluruh inti keberadaan Akira adalah go-nya, dan ia kesulitan untuk mengikuti bahwa Akira juga punya hasrat lain, harapan lain, yang tidak harus selalu berawal dan berakhir pada go. Seperti itu jugakah Sai?
Setelah kegagalannya untuk menggenapi keinginan dan harapan Akira, akankah ia juga menegasi keinginan Sai?
Mungkin karena perih dalam nada suara Sai yang jelas sekali terdengar, atau mungkin juga karena rasa bersalahnya, yang akhirnya mendorong Hikaru untuk menyanggupi.
"Baik, nanti kita ke Izumo," janji Hikaru.
"Terima kasih, Hikaru," jawab Sai, menempatkan batu berikutnya, membuat Hikaru mengerang. Sai menjebaknya dalam pertarungan ko yang tak bisa ia menangkan.
.
.
Menyanggupi permintaan Sai mungkin mudah, perkara mewujudkannya adalah perkara lain lagi. Gen'an-sensei—mendadak berubah menjadi orangtua protektif semenjak jelas bahwa Hikaru tak bisa bertanggung jawab atas Sai—menentang hal tersebut, mengatakan perjalanan itu terlalu beresiko. Dari Uji ke Izumo mungkin hanya makan waktu 4,5 jam naik mobil (karena dengan kondisi Sai, naik transportasi umum jauh lebih beresiko), tapi siapa yang akan bertanggungjawab atas Sai selama itu? Perjalanan ke Izumo dari Kyoto dengan berjalan kaki hanya makan waktu 3 hari, kemungkinan 5-6 hari dengan mengingat medan dan cara perjalanan di masa lalu, jadi terbuka kemungkinan dahulu Sai tengah dalam perjalanan pulang ke Izumo sewaktu ia diserang dan bunuh diri. Bagaimana jika perjalanan ini justru akan berdampak buruk bagi kondisi psikologis Sai?
Kekhawatiran Gen'an-sensei jelas sangat beralasan. Waktu Sai baru beberapa hari di Byodo-in, ia sudah bersimbah air mata tiga kali dan pingsan sekali—semua gara-gara Hikaru. Bukan tak mungkin di titik ini, Gen'an-sensei mempertimbangkan akan menuntut hak wali atas Sai atau mengembalikan Sai ke unit psikiatri, apapun untuk menjauhkan Hikaru dari sang mantan bangsawan itu. Bayangkan jika ia harus melepas Sai dalam perjalanan panjang bersama pemuda tersebut.
Kadang Hikaru bingung sendiri mengenai bagaimana dan sejak kapan otoritas ini berubah. Bukankah ia, Hikaru, yang sejak semula diniatkan untuk menjadi wali Sai? Gen'an-sensei, bagaimanapun, hanyalah sebagai alat untuk membantu tujuan Hikaru untuk mengeluarkan Sai dari rumah sakit. Tapi mengapa setelah mengenal Sai, lebih lagi setelah mengetahui latar belakang Sai, ia menjadi protektif terhadap pemuda itu? Ia tak hanya menjaga karena menganggap Sai sebagai salah seorang anggota klannya, atau menghormatinya karena darah bangsawannya, Gen'an-sensei bahkan kelihatan menyayangi Sai bak putra sendiri. Apakah karena ia menggunakan identitas keponakannya sebagai persona Sai, ia jadi terlarut menjadikan Sai sebagai pengganti keponakannya yang hilang?
Benar, Fujiwara Shigenobu yang identitasnya ia pakai untuk Sai adalah manusia nyata, bukan fiktif. Ia benar-benar putra tunggal dari kakak Gen'an-sensei, yang berarti seharusnya menjadi kepala kuil Byodo-in menggantikan ayahnya kelak. Namun, seperti sudah dikatakan Gen'an-sensei pada Murakami, pemuda itu menolak menjadi biksu dan malah bergabung dengan rombongan Noh lantas pergi dari kuil. Yang tidak disampaikan Gen'an-sensei adalah bahwa pemuda itu kabur bersama kekasihnya, yang merupakan pemain kabuki ternama, bukan Noh seperti ceritanya dulu, dan tak kedengaran lagi kabar beritanya sejak sekitar delapan tahun lalu. Ayahnya menjadi stress lantas jatuh sakit dan meninggal, sehingga status kepala kuil jatuh ke tangan Gen'an-sensei.
Mungkin takdir memang bergerak dengan cara yang aneh, karena bukankah delapan tahun lalu, kurang-lebih, adalah waktu ketika Hikaru bertemu Sai?
Hikaru sudah melihat foto Shigenobu—yang asli, bukan foto Sai hasil rekayasa yang diberikan Gen'an-sensei pada Murakami-sensei, yang kemungkinan besar dibuat berdasarkan hasil hacking ke data rumah sakit, entah bagaimana caranya. Walau secara detail mereka tidak benar-benar mirip, beberapa fitur wajahnya mengingatkannya pada Sai, seperti garis wajahnya yang halus dan matanya yang teduh. Jika hal ini membuat nostalgia dan kerinduan Gen'an-sensei terhadap keponakannya membangkitkan insting protektifnya, ia sungguh bisa mengerti.
Sesungguhnya ini adalah hal yang bagus. Tidak berhenti dari sekadar melepaskannya dari penjara bernama rumah sakit jiwa, Gen'an-sensei memberi tak hanya tempat tinggal, tapi juga keluarga bagi sang mantan bangsawan malang itu. Masalahnya, kini Hikaru merasa justru hal ini berbalik melawannya.
Soal Gen'an-sensei yang menatapnya dengan mata penuh tuduhan, ketika mereka kembali dengan membawa tubuh Sai yang tak sadarkan diri, bisa ia terima, bahkan sudah dapat ia perkirakan pada batas tertentu. Masalahnya, sungguh ia tak menyangka bagaimana itu mempengaruhi rencana masa depannya bersama Sai.
Namun, tentu saja, Gen'an-sensei tak dapat menolak jika Sai sendiri yang memohon. Gurunya itu pada dasarnya melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Hikaru untuk memaksanya bermain—menyembah, memohon, dan menangis—bedanya hanyalah bahwa alih-alih merengek dan berguling-guling (atau membuat lawannya muntah, dalam kasus Hikaru) ia berakting sedih dan rapuh yang membuat biksu itu iba. Aksinya kurang dramatis tanpa adanya ia membiarkan rambut panjang serta jubahnya menghampar di lantai, sementara ia terpuruk tersedu-sedu membasahi lengan kariginunya, memang—tapi bukan berarti meniadakan efektivitasnya. Bagaimana Sai mampu memaksa orang tunduk dengan berlagak lemah sembari tetap mempertahankan keanggunannya sungguh tak bisa Hikaru mengerti, tapi itu kenyataan yang sudah sekian lama tak lagi ia pertanyakan.
Akhirnya Gen'an-sensei memberinya izin dengan dua syarat: bahwa mereka harus memakai mobil pribadi dan Hikaru harus meminta izin Murakami-sensei. Untuk alasan pertama Hikaru bisa mengerti, ia sudah melakukan browsing untuk mencaru rute transportasi umum yang paling memungkinkan, dan hasilnya malah naik transportasi umum ke sana terlalu menyusahkan. Masalahnya, kenapa juga harus memberitahukan Murakami-sensei? Jelas ini adalah skema untuk memaksanya membatalkan janjinya pada Sai.
Tapi Hikaru bertekad takkan kalah. Sai yang dulu tak pernah meminta apapun selain bermain go, dan Sai yang ini bahkan tak pernah meminta apapun sama sekali sebelumnya. Hikaru pernah bersumpah pada Kami bahwa jika diberikan kesempatan kedua, ia akan berusaa melakukan yang terbaik untuk Sai. Jadi dengan tekad itu, ia melakukan segala daya upaya untuk membujuk Murakai-sensei. Untungnya, dokter itu menganggap perkembangan Sai belakangan—minus seminggu pertama—tergolong baik, sehingga dengan catatan bahwa perjalanan mereka harus ditemani seorang tenaga medis, ia pun memberi izin.
Gen'an-sensei memberi bantuan untuk bagian ini dengan menyiapkan seorang biksu sebagai supir, yang selain berpengalaman dalam navigasi, juga punya latar belakang medis. Ia sendiri akan ikut dalam rombongan, sehingga Hikaru tak perlu khawatir akan merasa canggung.
Perjalanan mereka dilakukan pada Senin pagi, demi menghindari waktu ramainya kuil karena kunjungan turis. Sai tertidur di bahu Hikaru nyaris sepanjang perjalanan, dan Hikaru tak tega mengubah posisinya karena takut membangunkannya. Ia bisa merasakan pandangan Gen'an-sensei yang mencuri-curi lihat ke arahnya di tengah perbincangannya dengan sang supir sepanjang perjalanan, tapi untungnya sang biksu tak bicara apa-apa, sehingga ia bisa berpura-pura tak menyadarinya.
Gen'an-sensei curiga ada hubungan antara ia dan Sai, itu sudah pasti. Sang biksu tak pernah bertanya apalagi menentang, sehingga ia tak perlu menjelaskan, tapi itu juga berarti ia tak punya kesempatan untuk menyangkal. Ia tahu seperti itu juga pandangan para biksu lain—yang tak bisa ia salahkan sebenarnya, jika ia berada pada posisi mereka. Masalahnya, mereka semua tahu siapa dia, dan karena mereka lumayan up to date dengan perkembangan dunia go (Gen'an-sensei melanggan Weekly Go, oh Kami!), jadi kemungkinan mereka juga tahu mengenai kasusnya dengan Akira dan kaburnya ia dari dunia go. Mereka tak pernah usil apalagi menghakimi, memang, tapi tak urung itu membuatnya tak enak. Seolah memang benar ia adalah tukang selingkuh, yang kabur dari tunangannya demi bersama pria lain dan menjadikan Byodo-in sebagai tempat persembunyian mereka. Sejauh ini, hanya sedikit biksu yang tahu mengenai siapa dan apa sesungguhnya Sai, jadi wajar jika itu kesimpulan yang mereka ambil. Untunglah para biksu itu benar-benar melepaskan diri dari dunia sehingga menyimpan apapun kecurigaan mereka (jika memang ada) untuk diri mereka sendiri, karena kalau tidak, sudah pasti sekarang ini rumor sudah menyebar dan sepasukan reporter sudah menyerbu Byodo-in.
Tak terasa perjalanan mereka telah mencapai akhir. Hikaru tanpa sengaja tertidur di setengah jalan, dan baru terbangun ketika sang supir menghentikan kendaraan dan mengumumkan bahwa mereka sudah sampai. Lepas dari jerat alam mimpi, ia menggoyang pelan tubuh Sai untuk membangunkannya. Sang mantan bangsawan itu mengucek mata dan kelihatan agak bingung, tapi ketika melihat gerbang Izumo-taisha dari balik kaca jendela, seketika itu juga matanya melebar.
Selintas, begitu lirih hingga Hikaru nyaris tak bisa menangkapnya, ia mendengar Sai berbisik, "Ibu … aku pulang…"
.
.
Notes:
Maafin aku lama banget baru update... Ini aku bikin ternyata malah kepanjangan, jadi chapter ini aku bagi 2. Chapter berikutnya bakal tayang bentar lagi, kok.
Terus terang aku deg-degan sama 2 chapter ini. Aku tadi sempet kepikiran buat ngubah ceritanya. Masalahnya endingnya udah aku tulis. Ternyata susah ya nyocokin cerita sama endingnya hahaha
Oya, soal timeline... Awalnya kan setting cerita ini 2007 (Hikaru 20 tahun jalan 21), soalnya aku berpatokan sama Hikaru no Go Timeline di Live Journal (katanya disadur dari Toriyama World) yang bilang kalo Ujian Pro itu tahun 2000 (Hikaru 14 tahun), Sai pergi tahun 2001, Hokuto Cup tahun 2002. Tapi aku baru sadar kalo di Chapter 79 ditulis Ujian Pro tahun 2001. Karena itu, setting waktu di cerita ini berubah jadi 2008, dan beberapa penyesuaian terpaksa dilakukan. Harap maklum, dan tolong kasi tau kalo masih ada yang salah ya...
