.
Present
AKKG Fiction
.
Disclaimer
Chara : Kadokawa Games
Story : Spica Zoe
.
"Jika tak sanggup jatuh cinta, jangan banyak bicara."
Akagi
Perpustakaan
"Mamaaaa!"
Genggaman dari tangannya terlepas. Bocah perempuan itu langsung berlarian meninggalkannya. Melangkah menuju ke seorang wanita yang tengah duduk sambil berusaha menina-bobokan seorang batita dalam dekapannya. Apakah itu Ibunya? Dasar orang tua yang tak bertanggung jawab. Bisa-bisanya ia membiarkan anaknya berkeliaran seperti itu tanpa pengawasan.
Kaga tahu jika rumor mengatakan bahwa anak-anak pasti akan selalu ditemani oleh Malaikat penjaga yang senantiasa menjaga mereka dari marabahaya. Tapi bukan begini juga 'kan harusnya?
Kaga menyimpan desisan kesalnya. Wajahnya terlihat kesal ketika tahu-tahu ia sudah mendapati kursinya diduduki oleh seorang bocah lainnya. Dan Mochacinonya? Kaga meraih cangkirnya yang telah kosong sambil melirik ganas wajah seorang bocah laki-laki yang duduk dikursinya. Apa yang kau lakukan dengan minumanku? HAH! Ingin rasanya Kaga meneriakinya begitu sebelum Koungo menatapnya dengan senyuman-sialan.
"Tadi minumanmu tersenggol dan tertumpah." Seru Atago yang berusaha menangkap rasa tak senang Kaga-yang siapa saja pun bisa merasakannya. Kaga membuang napasnya konyol. Ia benar-benar ingin menghilang dari kerumunan Ibu-Ibu muda ini.
Andai saja ia punya alasan untuk berlalu dari sana.
Ia akan lakukan apapun.
Kaga masih ingin meraih kursi lain yang masih kosong. Ah sudahlah, tidak perlu terlalu pusing. Sebentar lagi malam ini akan berlalu. Dan Kaga hanya perlu bersabar sedikit lagi. Didudukannya dirinya disudut yang berbeda dari tempat duduk sebelumnya, tanpa Mochachino sipengalih perhatiannya. Karena untuk hal yang tidak ia mengerti, tiba-tiba saja pandangnya sudah tertahan pada seorang wanita yang sejak tadi masih berusaha menenangkan anaknya dalam pelukannya.
Ibu si bocah tukang pipis sialan itu.
"Akagi-san kalau memang anakmu rewel, pulang saja tidak apa. Sejak tadi kuperhatikan kau terlihat sibuk menina-bobokannya. Apa dia sedang tidak enak badan?"
Kaga mengalihkan pandangnya ketika Shoukaku bersuara. Ia tidak sadar jika ia duduk disamping perempuan berambut terang itu.
Ditatapnya wanita yang bernama Akagi itu sejenak. Sejak awal wanita ini memang tak terlalu kelihatan, tadi. Atau apa Kaga tidak menyadari keberadaannya ya? Kaga baru sadar dengan kehadiran Akagi ketika ia baru saja menemani anaknya (bocah sialan) ke kamar kecil.
Akagi?
Kaga berusaha mengingat. Apa ia punya teman yang bernama Akagi ketika sekolah dulu?
"Kau benar. Sejak tiba tadi, kau hanya fokus untuk menenangkannya. Harusnya kau menolak ikut jika anakmu sedang tidak enak badan." Sahut Yamato yang membuatnya kini merasakan hal yang sama dengan yang lain.
Akagi tersenyum tidak enak. Anaknya sebenarnya bukanlah tidak enak badan atau bagaimana. Hanya saja, anak lelakinya tidak terlalu suka dengan keramaian. Jadi, sejak tadi ia hanya bersembunyi dibalik dekap Ibunya. Dan menjadi rewel karena merasa terganggu dengan keramaian luar biasa yang sangat jarang ia alami.
"Maafkan aku." Ucap Akagi merasa bersalah. Tangannya masih tetap berada di kepala anak lelakinya yang memang sejak tadi menempel didedakapannya. Menyembunyikan wajahnya. Dan merengek kecil karena ketidaknyamanannya.
"Tidak apa. Apa suamimu akan menjemput?" tanya Shoukaku lagi untuk memastikan. Apa mungkin Akagi memang sejak tadi pun sedang menunggu suaminya menjemput?
"Tidak. Aku akan naik taksi nanti. Suamiku sedang bertugas di luar, tahun ini." Ucap Akagi sambil berusaha merapikan barang bawaannya yang terasa begitu merepotkan, dibenak Kaga. Bagaimana caranya ia pulang dengan keadaan seperti itu. Belum lagi anak perempuannya yang terlalu overactive. Sedang anak laki-lakinya, selalu menempel didada ibunya tanpa memberi ruang bagi wanita itu untuk leluasa bergerak.
Haruna bangkit berdiri membantu Akagi yang tampak kesusahan mengemas barang bawaannya. Belum lagi bibirnya-Akagi sambil berucap memanggil anak sulungnya yang masih berlarian kesana-kemari.
"Kau yakin bisa sendiri? Handa-chan sangat aktif sampai kau sendiri terlihat kewalahan menangani mereka berdua." Ucap Haruna, selesai merapikan. Diliriknya Handa, putri Akagi yang masih tak menuruti panggilan Ibunya.
"Aku bisa. Tidak terlalu buruk untuk melakukannya sendirian. Maaf karena aku mengganggu malam berharga ini dengan keegoisanku." Ucap Akagi tidak ingin. Tapi mau bagaimanapun ia tidak punya pilihan. Diraihnya tas jinjing miliknya. Dengan satu tangan, sedang tangan lainnya masih berusaha keras menjaga anak bungsunya dalam dekapan.
.
Melihat itu, Kaga merasa kesal dalam hatinya. Pilihan untuk menjadi seorang Ibu memang bukan hal yang mudah. Untung saja ia bukan tipe wanita yang ingin berumah tangga. Bisa gila ia jika memikirkan bagaimana harus pergi kemana-mana dengan membawa anak ikut serta.
"Mama, kita mau pulang?" tanya Handa yang tangannya sudah diraih oleh Ibunya. Akagi tersenyum berharap Handa mengerti maksudnya. "Yaaaahhh. Handa masih ingin main, Ma." Rengek Handa tidak suka. Akagi meraih puncak kepala putri sulungnya dan tersenyum sekali lagi. Kaga yang sejak tadi memandangi mereka, sedang menebak-nebak dalam hati. Masih bisa tersenyum didalam keadaan seperti ini? Benar-benar perempuan hebat.
"Akagi memang ibu yang baik ya." Ucap Shoukaku pelan, bebisik sendirian. Membuat Kaga mendengarkan apa yang baru saja ia bicarakan. "Membesarkan anaknya sendirian sepanjang hari. Juga, Handa yang begitu aktif. Benar-benar butuh kerja keras." Lanjutnya yang kini sudah mengalihkan pandangannya menatap Kaga. Yang ditatap mengerutkan keningnya dan membalas tatapan yang kini telah menuntutnya untuk merespon. Tapi, sebelum itu, ia benar-benar tidak ingat apa pernah memiliki teman bernama Akagi. Dan parasnya yang sangat asing membuat Kaga tak mampu mengeluarkan ingatan itu dari kepalanya.
"Apa aku mengenal wanita itu? Yang benama Akagi?" tanya Kaga agak bimbang pada Shoukaku. Mendengar pertanyaan Kaga, Koungo tersentak dan kini menatapnya tak percaya. Rupanya ia bisa mencuri dengar pembicaraan mereka berdua. "Kau tidak ingat Akagi? Sumpah?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya.
Kaga membatin. Diliriknya lagi wujud Akagi yang sudah berlalu dari pandangan mereka. Yang perlahan mulai menghilang. Hingga satu persatu perhatian teman-temannya kini beralih untuknya. Apalagi setelah Koungou bertanya seperti itu padanya.
Kaga memang merasa tak pernah punya ingatan yang berhubungan dengan Ibu muda tadi. Rasanya ia tidak pernah punya teman yang rupanya secantik-
"Akagi loh, Kaga-san. Akagi. Kau benar-benar tidak ingat dengannya?" tanya Ashigara yang mulai ikut-ikutan berekspresi seperti Koungo.
Tiba-tiba saja, detik itu juga, ada satu wajah yang kini tengah terlintas di benak Kaga. Sosok yang dulu pernah sangat dibencinya. Semua orang tahu bahwa Kaga selalu saja mengintimidasi sosok itu secara terang-terangan.
Gadis berkepang dua dan berkacamata-
"Akagi yang dulu selalu kau jahili." Sebut Nagato menambahkan.
.
Kaga tiba-tiba terdiam. Gadis yang dulu ia jahili? Apa ia pernah menjadi sosok sekejam itu pada murid lain? Memang sih, Kaga dulunya adalah murid paling populer di Sekolahan. Menyandang sebagai kapten dari club Voli yang mahir bernyanyi dan bermain musik sampai ia juga menjadi Vokalis di Band sekolahannya yang membuat ia semakin digilai siswi lainnya.
Kaga sedikit bangga pada prestasinya jaman sekolah dulu. Ia juga terkadang suka memamerkan kenangan indah itu pada rekan-rekannya hingga membuatnya sedikit besar kepala.
Tapi, tentang perundungan? Kaga tidak pernah ingat bahwa dulu ia pernah melakukannya. Yang benar saja. Ia tidak pernah menjadi orang serendah itu 'kan?
"Jangan pura-pura lupa akan keburukanmu jaman dulu, Kaga." Kesal Ashigara yang melihat ekspresi –aku tak tahu apapun- yang terpampang jelas di wajah Kaga.
Kaga tidak terima dengan tuduhan tak berdasar dari Ashigara. Ia benar-benar tidak mengingat apapun tentang dirinya dan masalah perundungan atau apapun itu. Kenapa seolah-olah ia harus mengakui apa yang tidak pernah dilakukannya? Apalagi hal yang tidak keren sama sekali.
"Dan bisakah kalian berhenti menatapku seperti itu?" kesal Kaga yang melihat ekspresi semua teman lamanya begitu mencekam memandangnya.
Yamato dan Nagato langsung mendesah dengan napas berat ketika Kaga terlihat menolak apapun tentang kenyataan masa lalunya dulu. Padahal, satu sekolah pun mungkin masih mengingat bagaimana kelakuan Kaga yang dulu sangat terang-terangan menjahili Akagi hanya karena-
"Lalu apa kau ingat dengan siswi berkacamata yang pernah menjadi Bendahara Dewan Siswa pada tahun kedua kita di sekolah?" kali ini Mutsu yang bersuara. Diiringi dengan tatapan lainnya. Mereka benar-benar penasaran akan ingatan tua Kaga. Padahal itu adalah momen paling berkesan pada semua siswi di tahun-tahun mereka bersekolah dulu.
"Gadis berkepang dua yang tidak sengaja mengabaikanmu pada saat kau ingin bertanya di Perpustakaan."
Tidak ada yang menyangka jika ucapan itu mampu melesat jauh bagai sengatan listrik disetiap oksigen yang mengisi ruang-ruang pikiran Kaga saat itu juga. "Sampai kau merasa kepopuleranmu diinjak-injak oleh seorang kutu buku-"
"Gadis berkacamata yang culun itu?!" bagai sedang menjawab pertanyaan dalam sebuah kuis berhadiah seharga satu planet
Shoukaku geleng-geleng kepala ditempatnya. Sedang yang lain mulai memandang Kaga kesal. Mereka melonggarkan pengawasan mereka yang tadi seperti ingin menghakimi Kaga saja. Akhirnya Kaga ingat siapa Akagi. Sungguh tidak punya perasaan. Padahal dulu, Akagi lah sosok yang setiap saat diintimidasinya.
"Sudah ingat? Perawan tua." Kesal Fusou yang mendesah sama seperti yang lainnya.
Kaga tidak menyangka.
"Bahkan kalian sampai dianggap pasangan serasi sejak dulu. Kau ingat? Yang satu si gadis populer, yang satu lagi si gadis kutu buku berkacamata yang memakai rok dibawah lutut. Seperti kisah di anime saja." Bisik Ashigara ikut menimpali.
Tidak mungkin, Kaga membenak. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan hinaan yang bahkan harus ia tanggung selama tiga tahun dimasa sekolahnya dulu.
.
Kaga memasuki sebuah tempat yang bahkan baru ini ia kunjungi. Jujur saja bahwa ia tidak pernah suka jika harus berhubungan dengan tempat yang orang sebut dengan Perpustakaan. Tempat terkutuk yang begitu sunyi. Yang seakan bisa menenggelamkannya. Tempat dimana kepopulerannya tiada arti. Kaga tidak suka pengabaian. Untuk itu ia sangat berusaha untuk menjadi orang yang sangat populer. Menjadi sosok yang selalu mendapat perhatian. Ia ingin selalu diakui. Dan hanya di Perpustakaan lah ia tidak akan mendapatkan riuh-riuh pujian untuknya.
Dan benar saja.
Langkah pertama membuat napas Kaga merasa sesak saat itu. Keheningan itu seakan mampu menekan dan membebaninya. Tidak ada pandangan mata meski ia berjalan-jalan diantara buku-manusia yang berada di sana. Sebab semua kepala mereka tengah tertunduk untuk menikmati dunia mereka masing-masing. Seperti ada tarian agung atau pemandangan Surga diantara huruf dan kata yang tersusun diatas kertas-kertas dihadapan mereka.
Tidak ada sanjungan dan tatapan ketagihan yang ia terima seperti di tempat lain yang bisa dengan percuma ia dapatkan.
Tapi mau bagaimana lagi. Kaga punya tugas untuk melakukan sesuatu di dalam perpustakaan ini. Jika tidak bukan untuk tugas yang Nagato berikan padanya, mungkin ia tidak akan pernah mau melunturkan harga dirinya untuk hal yang sangat tak menguntungkan ini.
Kaga mulai mengendap-endap diantara lorong dengan susunan buku yang berhubungan dengan sejarah dan kebudayaan. Ia harus mendapatkan satu buku dengan pengarang yang Nagato inginkan. Jika tidak, Nagato akan mempersulit ijin mengikuti kegiatan Band yang akan dilakukannya diluar kegiatan Sekolah.
Bagi Kaga, kepopuleran adalah hal yang nomor satu.
Kaga sudah mencari buku itu di beberapa tempat. Tapi ia tidak menemukan hasil. Fusuo bilang, mungkin ia bisa menemukan buku yang Nagato inginkan di dalam perpustakaan sekolah. Sebab dari yang Fusou tahu, perpustakaan sekolah mereka cukup lengkap untuk mengoleksi beberapa buku langka yang bahkan tidak ada di beberapa perpustakaan kota.
"Sebab, salah satu pengurus sekolah kita ini adalah seorang keturunan dari pengarang terkenal di zaman dulu." Kaga teringat akan kalimat teman sekelasnya itu ketika ia berusaha mengarahkan dirinya untuk pergi ke tempat hening ini.
Kaga masih bisa melihat sepasang-dua pasang mata yang tahu-tahu tengah memandangnya di sana. Ada raut kagum diantara senyum dan cekikian tertahan mereka kala Kaga yang tanpa sengaja berpapasan dengan mereka, memasang senyum. Tapi, lebih dari itu, tidak ada sambutan khusus untuk sang idola sekolah itu. Sebab ini adalah perpustakaan. Tidak mungkin mereka terpekik senang sambil menyebut namanya dengan indah.
Mustahil.
Gadis-gadis itu meninggalkan sosok Kaga sebelum hormon mereka bergejolak kesenangan akan adanya dirinya. Mereka tidak mau menanggung resiko tertegur oleh pengawas perpustakaan yang kali ini dijaga oleh siswi yang terkenal cukup menakutkan.
Kaga kembali menelusuri satu persatu buku yang tersusun rapi di raknya. Disentuhnya ujung-ujung buku itu dengan jarinya sambil membiarkan langkah kakinya bergerak perlahan. Semua telah ia jelajahi sampai membuang waktu berharganya yang percuma. "Nagato sialan. Apa mungkin ia sedang mengerjaiku?"
.
.
tbc . ..
NOTE : masih kita lanjutkan.
