Dahi Aomine berkerut menatap email dari mantan kaptennya ketika SMP.

"Berkumpul di Maji Burger pukul 4 sore. Tidak ada keterlambatan."

Aomine ingin mengutuk makhluk berambut api yang satu itu. Meski sifatnya sudah banyak berubah selepas Winter Cup ketika kelas sepuluh lalu, namun sifat suka memerintahnya masih tetap melekat. Aomine sebal, ingin ia membangkang tapi jujur saja dia tidak punya nyali menghadapi tekanan Akashi.

"Aomine-san, sumimasen mengganggu, sumimasen, tapi ayo ke gym, latihan akan dimulai." Sakurai Ryo, salah satu anak klub basket mengingatkan akan latihan harian klub olahraga itu. Biasanya bukan bocah itu yang mengajaknya, melainkan manager sekaligus teman Masa kecilnya, Momoi Satsuki. Tapi gadis itu tidak masuk hari ini, salah satu kerabat dekatnya sedang menikah.

Sekali lagi, Aomine berdecak. Latihan saja rasanya malas sekali apalagi harus menemui Akashi? Aomine mulai menyusun alasan agar dia bisa kabur dari kedua kegiatan itu. Bilang saja kalau mendadak terserang demam atau diare, misalnya.

"Ya, nanti aku ke sana." Pemuda berkulit gelap itu menjawab sekenanya pada Sakurai Ryo yang masih setia menunggu di ambang pintu.

Daiki dengan malas beranjak dari bangkunya, namun getaran ponsel di atas meja membuatnya tertarik.

Satu pesan masuk dari Akashi.

"Aku tidak menerima alasan apa pun atas ketidakhadiran, Daiki. Kalau kau belum membuka surat yang datang kepadamu, segera baca dan kau akan berubah pikiran."

Sekujur tubuh Aomine merinding. Akashi masih sama mengerikannya seperti dulu, bisa membaca pikiran dari jarak ratusan kilometer jauhnya. Memang, tadi pagi sebelum berangkat sekolah, ibunya bilang kalau ada surat yang dikirimkan kepadanya, datang pagi-pagi sekali katanya. Ia menanggapi dengan cuek, namun sang ibu terus memaksa untuk membawa surat itu dan menyuruh untuk membacanya di sekolah--berhubung Aomine hampir terlambat. Dan bila Akashi tidak mengingatkan, pasti Aomine lupa kalau ia punya surat yang harus dibaca.

Ia mengobrak-abrik tasnya, dan menemukan surat itu terlipat-lipat lusuh di antara tumpukan buku.

Matanya membulat ketika melihat nama pengirim. Dengan tidak sabar, Aomine membuka amplop dan melotot membaca isinya.

'Astaga... '

Keputusan pemuda itu sudah bulat.

"Hoi, aku tidak bisa ikut latihan, aku harus pulang!"

.

tbc